Ki Lurah Pujosaputro sendiri tidak tampak karena dia berada di dalam. Empat orang laki-laki itu terkejut sekali ketika tiba-tiba ada bayangan berkelebat dan tahu-tahu di depan mereka, telah berdiri Linggajaya yang tentu saja telah mereka kenal dengan baik. Memang sejak Ki Lurah Suramenggala terusir dari Karang Tirta dan lurah dusun itu digantikan Ki Lurah Pujosaputro seperti telah ditentukan Ki Patih Narotama, seluruh penduduk Karang Tirta merasa lega dan senang. Kehidupan di dusun itu menjadi tenteram dan kehidupan gotong-royong dapat dilaksanakan dengan rela dan sepenuh hati karena tidak ada lagi penindasan yang dilakukan oleh yang berkuasa di dusun itu. Tidak ada lagi tekanan dan paksaan, tidak ada lagi pasukan jagabaya yang bertindak seperti tukang pukul. Akan tetapi di samping perasaan senang dan tenteram ini, tetap saja semua orang merasa gelisah kalau mereka teringat akan Linggajaya, putera Ki Suramenggala. Pemuda itu berwatak keras dan kejam, juga memiliki kesaktian. Mereka membayangkan betapa akan kacaunya kalau pemuda itu muncul dan mengamuk karena ayahnya dicopot dari kedudukannya sebagai lurah dan diusir dari dusun itu. Maka, dapat dimengerti betapa orang yang ditanyai Linggajaya menjadi ketakutan dan dia berlari cepat dan menceritakan pertemuannya itu dengan para penduduk. Demikian pula, empat orang petugas kelurahan itu gemetar dari muka mereka pucat begitu mereka mengenal siapa yang berdiri di depan mereka.
"Keparat, kalian sudah bosan
hidup berani mengambil alih rumah dan kedudukan Bapakku?" bentak
Linggajaya dengan suara mengguntur sehingga menggetarkan seluruh rumah itu.
"Bukan kami... Denmas.... kami
hanya... hanya melaksanakan perintah membantu Ki Lurah Pujosaputro..."
Seorang di antara mereka yang masih
ada sisa keberanian untuk bicara sedangkan tiga orang lainnya sudah berjongkok
dengan tubuh menggigil.
"Mana dia Pujosaputro? Suruh
dia keluar, akan kuremukkan kepalanya!"
Linggajaya lalu menggunakan kedua
tangan dan kakinya menampar dan menendangi meja kursi yang berada di ruangan
pendopo itu sehingga prabotan itu hancur berantakan dan mengeluarkan suara
hiruk pikuk. Seorang laki-laki berusia sekitar empat puluh tahun muncul dari dalam.
Pakaiannya tidak mentereng akan tetapi berbeda dengan pakaian para petani dan
sikapnya tenang.
"Anakmas Linggajaya, tenang dan
bersabarlah. Ada persoalan dapat diurus dan dibicarakan, tidak perlu
menggunakan kekerasan seperti itu."
Linggajaya memutar tubuh menghadapi
orang itu.
"Engkau yang bernama
Pujosaputro?"
"Benar, akulah Ki
Pujosaputro."
"Hemm, tidak ada yang perlu
dibicarakan lagi. Engkau telah berani mengambil-alih kedudukan Bapakku dan
mengusirnya dari rumah kami ini. Engkau keparat, harus mati di tanganku!"
"Nanti dulu, Anakmas."
kata Ki Lurah Pujosaputro yang walaupun tahu bahwa nyawanya terancam hebat, dia
masih bersikap tenang dan tidak takut karena merasa tidak bersalah.
"Semua ini bukan kemauanku.
Gusti Patih Narotama yang mencopot Kakang Suramenggala dan yang mengangkat aku
menjadi lurah di sini."
"Tidak perlu menggertak aku
dengan nama Ki Patih Narotama! Siapapun juga yang mengangkatmu, engkau harus
mati di tanganku!"
Setelah berkata demikian, tangan
kirinya bergerak ke depan seperti melempar sesuatu. Terdengar suara
mendengung-dengung seolah ada banyak sekali tawon beterbangan dan tampak sinar
hitam menyambar ke arah Ki Lurah Pujosaputro. Serangan itu sesungguhnya dahsyat
sekali, merupakan ancaman maut yang mengerikan karena itu adalah Aji Bramara
Sewu (Seribu Lebah) berupa senjata rahasia pasir yang dilemparkan dengan tenaga
sakti diperkuat tenaga sihir. Kalau mengenai tubuh lawan, pasir pasir itu akan
menembus kulit memasuki daging dan meracuni tubuh sehingga lawan yang terkena
pasir itu akan tewas dengan tubuh gosong!
Pada saat yang amat gawat dan
berbahaya bagi keselamatan Ki Lurah Pujosaputro itu, tiba-tiba dari pintu dalam
tampak sesosok bayangan berkelebat dan begitu ia mendorong kedua tangannya
bergantian ke arah sinar hitam yang meluncur dari tangan Linggajaya, segenggam
pasir itu terpukul runtuh! Linggajaya terkejut dan memandang dengan sinar mata
mencorong marah. Kiranya yang muncul dan yang memukul runtuh pasirnya dengan
pukulan jarak lauh yang ampuh itu seorang gadis cantik jelita. Gadis itu masih
muda sekali, usianya sekitar delapan belas tahun. Tubuh yang sedang dan ramping
itu berkulit putih kuning mulus, dengan lekuk lengkung yang indah
menggairahkan, bagaikan setangkai bunga mawar yang sedang mekar semerbak harum.
Rambutnya yang hitam panjang itu digelung sederhana, menempel di tengkuk. Sinom
lembut melingkar-lingkar di sekitar atas dahi dan pelipisnya. Alisnya
melengkung kecil hitam, melindungi sepasang mata bintang yang jeli dan jernih.
Hidungnya mancung dan mulutnya memiliki bibir yang merah basah tanpa gincu dan
setitik hitam tahi lalat di dagu membuat wajah itu manis sekali. Akan tetapi
sinar mata yang jeli itu tampak mencorong membayangkan kekerasan hati dan saat
itu jelas ia tampak marah bukan main. Kedua matanya menatap wajah Linggajaya
dengan sinar berapi.
Linggajaya memandang heran dan
marah. Tentu saja dia mengenal baik gadis itu. Gadis itu adalah Puspa Dewi,
puteri Nyi Lasmi, seorang janda yang kemudian diambil sebagai selir oleh
Ayahnya sehingga Puspa Dewi termasuk Adik tirinya walaupun tidak ada hubungan
darah sama sekali di antara mereka karena ayah ibu mereka berlainan.
"Puspa Dewi!" Dia menegur
dengan marah.
"Engkau menentangku, membela
orang yang telah mengambil-alih kedudukan Ayah kita?"
"Linggajaya, Ki Suramenggala
Bapakmu itu bukan Ayahku lagi! Diantara kita tidak ada hubungan apa pun lagi,
kita adalah orang asing satu sama lain"
"Ngawur kau! Ibumu adalah selir
Bapakku, bagaimana engkau bisa berkata begitu? Engkau hendak murtad terhadap
Ibu kandungmu sendiri yang tentu membela Ayahku yang menjadi suaminya?"
Pada saat itu terdengar suara yang
lembut namun tegas.
"Linggajaya, aku tidak
mengikuti Ayahmu yang melarikan diri. Aku bukan isterinya lagi!"
Linggajaya menoleh dan melihat
seorang wanita berusia sekitar tiga puluh delapan tahun yang berwajah manis
berdiri di ambang pintu. Itu adalah Nyi Lasmi, ibu kandung Puspa Dewi yang
tadinya menjadi selir ayahnya selama beberapa tahun akan tetapi tidak mempunyai
anak.
"Bagus! Ternyata memang
keluargamu merupakan orang-orang yang tak mengenal budi, murtad, bankan menjadi
pengkhianat!"
Linggajaya marah sekali. Tanpa
adanya urusan ayahnya ini saja dia sudah merasa marah kepada Puspa Dewi. Gadis
ini telah diaku anak oleh gurunya sendiri, yaitu Nyi Dewi Durgakumala, seorang
datuk wanita yang sakti mandraguna dan biarpun usianya sudah lima puluh tahun
namun tampak cantik seperti baru berusia tiga puluh tahun saja. Belum lama ini,
kurang lebih setahun yang lalu, Nyi Dewi Durgakumala menjadi permaisuri dari
Raja Wura-Wuri bernama Adipati Bhismaprabhawa. Karena gurunya yang menjadi ibu
angkatnya menjadi permaisuri Wura-Wuri, maka otomatis Puspa Dewi menjadi sekar
kedaton (bunga, istana) Wura-Wuri, menjadi puteri Sang Adipati Bhismaprabhawa.
Nah, sebagai puteri istana Wura-wuri, Puspa Dewi menjadi utusan atau wakil
Kerajaan Wura-wuri untuk bergabung dan bersekutu dengan para kadipaten yang
menentang Kahuripan dan berusaha menjatuhkan Sang Prabu Erlangga dari tahtanya.
Akan tetapi apa yang terjadi? Puspa Dewi ini berkhianat! Ketika persekutuan itu
membantu Pangeran Hendratama yang hendak merebut kekuasaan Sang Prabu Erlangga,
Puspa Dewi berbalik membantu Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama,
menggagalkan usaha pemberontakan yang didukung para kadipaten itu.
Demikianlah, untuk perbuatan Puspa
Dewi yang dianggapnya berkhianat itu saja Linggajaya sudah marah sekali.
Apalagi sekarang gadis itu muncul dan menentang dia dan Ayahnya, bahkan ibu
Puspa Dewi sudah melepaskan diri dari Ayahnya. Tentu saja Linggajaya menjadi
marah dan membenci gadis yang tadinya digilainya itu karena memang Puspa Dewi
amat cantik jelita.
"Linggajaya tidak perlu engkau
membuka mulutmu yang busuk itu!"
Puspa Dewi yang galak itu membentak
marah karena Linggajaya mengatakan ia dan Ibunya tidak mengenal budi, murtad
dan pengkhianat.
"Semua tahu orang-orang macam
apa adanya keluargamu! Ayahmu adalah seorang yang kejam dan jahat sekali,
mengandalkan kedudukannya sebagai lurah dan memaksakan kehendaknya menindas
rakyat di Karang Tirta selama bertahun-tahun. Siapa tidak tahu akan hal itu?
Dan engkau sendiri, engkau adalah seorang muda yang jahat dan kejam. Engkau
bersekutu dengan Pangeran Hendratama yang memberontak terhadap Sang Prabu
Erlangga! Nah, siapakah yang menjadi pengkhianat? Bukankah engkau juga seorang kawula
Kahuripan?"
"Bocah sombong!"
Linggajaya segera menyerang dengan
melakukan pukulan jarak jauh. Pukulan Aji Gelap Sewu itu dahsyat bukan main,
mendatangkan angin yang amat kuat. Namun Puspa Dewi yang maklum akan
ketangguhan lawan, sudah siap sejak tadi dan segera menyambut dengan kedua kaki
membuat kuda-kuda depan belakang, lutut ditekuk dan kedua tangannya terpentang
seperti seekor burung terbang. Pada saat lawannya mendorongkan kedua tangan
kearahnya, ia pun menggerakkan tangan dari kanan kiri menyambut dengan dorongan
yang kuat. Itulah Guntur Geni yang tidak kalah dahsyatnya.
"Syuuuut.... blarrr....!!"
Sebuah meja besar yang berada di
antara mereka pecah berantakan ketika dua tenaga sakti itu bertemu di udara dan
menghimpit meja itu dari kanan kiri! Baik Linggajaya maupun Puspa Dewi
terdorong mundur tiga langkah sebagai akibat pertemuan dua tenaga sakti yang
dahsyat itu. Linggajaya yang selalu menganggap diri sendiri paling hebat,
merasa penasaran sekali. Dia tahu bahwa Puspa Dewi adalah murid terkasih dari
Nyi Dewi Durgakumala yang sakti mandraguna yang merupakan seorang datuk berasal
dari Blambangan dan kini menjadi Permaisuri Kerajaan Wura-Wuri, maka tentu saja
gadis itu memiliki kepandaian tinggi. Akan tetapi dia merasa malu kalau kalah
oleh seorang gadis muda. Maka dengan marah dia sudah melolos senjata
andalannya, yaitu sebatang pecut yang tadinya dipergunakan sebagai ikat
pinggang. Begitu di lolos, dia menggerakkan pecut itu ke atas.
"Tar-tar-tar-tarrr...!"
Pecut itu meledak-ledak di atas
kepalanya dan tampaklah sinar berapi dan asap hitam seolah-olah ujung pecut itu
mengeluarkan percikan api ketika dilecutkan. Inilah pecut yang disebut Pecut
Tatit Geni, senjata yang ampuh dan berbahaya sekali bagi lawannya.
Namun Puspa Dewi sama sekali tidak
merasa gentar. Bibirnya yang tipis dan merah membasah itu bahkan tersenyum.
Tangan kanannya meraih ke punggung dan tampak sinar hitam berkelebat. Sebatang
pedang telah berada di tangan kanannya. Pedang itu mengeluarkan sinar hitam
yang menyeramkan. Itulah Pedang Candrasa Langking, pedang pusaka pemberian
gurunya yang juga mengakuinya sebagai anak, yaitu Nyi Dewi Durgakumala. Pedang
ini bukan saja tajam dan amat kuat karena terbuat dari baja hitam yang langka,
akan tetapi juga mengandung racun yang amat berbahaya. Tergores sedikit saja
oleh pedang ini, kalau lawan tidak memiliki obat penawar racun yang manjur,
lawan itu akan tewas. Kalau Linggajaya merasa penasaran kalau tidak dapat
mengalahkan Puspa Dewi, sebaliknya gadis jelita ini maklum akan ketangguhan lawan
dan tidak memandang ringan, maka sikapnya lebih hati-hati dan waspada
dibandingkan Linggajaya yang sombong dan dibakar kemarahan dan penasaran.
"Heeiiitt...
tar-tar-tarrr...!"
Linggajaya menyerang dengan
pecutnya. Sinar pecutnya yang kemerahan menyambar-nyambar dari atas, bagaikan
halilintar menyambar-nyambar ke arah kepala Puspa Dewi. Namun, gadis cantik
jelita yang sakti mandraguna ini pun menggerakkan pedangnya. Tampaklah sinar
hitam bergulung-gulung dan mengeluarkan bunyi berdengung-dengung. Terjadilah
perkelahian mati-matian di ruangan pendopo kelurahan itu. Orang-orang yang
menonton, termasuk Nyi Lasmi, ibu Puspa Dewi, tentu saja menjadi ngeri
menyaksikan sinar hitam dan sinar merah bergulung-gulung dan setiap kali ia
sinar mencuat dan mengenai meja atau kursi, perabot itu tentu terbelah! Di
antara gulungan kedua sinar itu terkadang diselingi bunyi berdencing dan tampak
bara api berpijar apabila kedua sennjata ampuh itu bertemu.
Tiba-tiba terdengar sorak-sorai dan
puluhan bahkan ratusan orang-orang menyerbu ke dalam pekarangan rumah kelurahan
itu. Mereka semua mengacung-ncungkan berbagai senjata tajam. Mereka adalah para
pria penduduk Dusun Karang Tirta! Laki-laki yang tadi dimintai keterangan oleh
Linggajaya ternyata memberitahukan kepada para pemuda yang segera mengumpulkan
semua pria yang berada di dusun. Mereka tahu bahwa tentu putera bekas lurah Ki
Suramenggala yang terkenal jahat itu akan mengganggu lurah yang baru.
No comments:
Post a Comment