Maka mereka lalu membawa senjata seadanya dan menyerbu kelurahan untuk melindungi Ki Lurah Pujosaputro yang mereka suka dan hormati karena lurah baru yang diangkat oleh Ki Patih Narotama itu ternyata merupakan seorang pemimpin yang adil, jujur, dan baik. Linggajaya yang sedang bertanding melawan Puspa Dewi dan belum juga dapat mendesak gadis yang ternyata amat tangguh itu, menengok dan terkejut melihat ratusan orang itu. Diam-diam dia merasa heran. Dahulu, ketika Ayahnya yang menjadi lurah, para penduduk itu bagaikan sekawanan domba yang jinak dan lemah, menurut saja digiring kemana, tak pernah ada yang berani menentang. Akan tetapi sekarang, mereka itu bagaikan sekawanan banteng yang siap menerjang siapa yang berani mengganggu kampung halaman mereka! Merasa terancam bahaya kalau harus melawan Puspa Dewi yang dibantu ratusan orang, Linggajaya lalu melompat jauh ke belakang dan dengan beberapa lompatan jauh dia sudah keluar dari pekarangan kelurahan dan cepat melarikan diri meninggalkan dusun Karang Tirta, menuju ke barat, untuk kembali ke Kerajaan Wengker. Kalau sudah tiba di sana, dia akan mengirim orang-orang untuk menyelidiki dan mencari kemana perginya Ayahnya dan sekeluarga ayahnya.
Wajah Linggajaya semakin muram dan
keruh. Dia merasa nelangsa, merasa betapa segala yang dia lakukan ternyata
menemui kegagalan. Usaha menjatuhkan Sang Prabu Erlangga dengan persekutuan
yang tadinya tampak kuat dan meyakinkan itu, ternyata gagal dan persekutuan ttu
diporak porandakan para pendukung Sang Prabu Erlangga sehingga mereka yang
lolos dari maut terpaksa harus melarikan diri, kembali ke kadipaten
masing-masing, termasuk dia yang harus kembali ke Kerajaan atau Kadipaten
Wengker. Kemudian, keinginannya untuk bertemu keluarga ayahnya dan mengajak
mereka pindah ke Wengker juga gagal. Bukan saja mendengar Ayahnya dipecat dari
kedudukan lurah dan diusir dari Karang Tirta, bahkan niatnya membunuh lurah
baru juga gagal karena Puspa Dewi melindungi lurah baru itu. Dia terpaksa
melarikan diri melihat Puspa Dewi hendak dibantu ratusan penduduk Karang Tirta!
"Sialan!" gerutunya dengan
jengkel.
Dia merasa lelah sekali karena
semenjak meninggalkan Karang Tirta, dia melakukan perjalanan siang malam dan
hanya berhenti untuk melewatkan malam gelap, Bahkan dia lupa makan selama
berhari-hari sehingga wajahnya yang tampan kelihatan agak kurus, matanya
cekung. Dia tiba di tepi Kali Watu. Air sungai itu penuh karena beberapa hari
ini hampir setiap malam turun hujan.
"Sialan!" gerutunya.
Kerajaan atau Kadipaten Wengker, ibu
kotanya, sudah tak berapa jauh lagi dan dia terhalang oleh sungai ini.
Tiba-tiba dia mendengar suara orang bertembang, suara seorang laki-laki,
suaranya biasa saja namun mengandung getaran yang menyentuh kalbu dan amat
menarik perhatian sehingga Linggajaya menghentikan langkahnya dan mendengarkan
penuh perhatian.
Tembang Dandang Gendis.
"Poma-poma, den gatekna kaki
Uripira ana ing ngalam donya
Saka Sibe Hyang jektine
mulo kono tan suwung
ing tumindak kang sarwa becik
srana panembahira
mring Hyang kang maha Gung
mula yekti nyatanira
maka Gusti yen mulih bali mring
Gusti mengkono
Karsanira."
Linggajaya tertegun. Bagaikan kilat
isi tembang itu menyusup ke dalam benaknya. Dia tahu arti kata-kata itu yang
kalau diterjemahkan kurang lebih begini :
"Camkan dan perhatikanlah, nak
hidupmu di dalam dunia ini
sesungguhnya berkat Kasih
Hyang Widhi
karena itu jangan kosongkan hidupmu
dari tindakan yang serba baik
(bajik)
disertai penyembahanmu
kepada Hyang Maha Agung
maka sungguh kenyataannya
datang dari Tuhan berpulang kepada
Tuhan
demikianlah kehendak-Nya."
Mulut Linggajaya menyeringai. Huh,
omong kosong orang-orang lemah, cemoohnya dan dia segera melangkah ke arah
datangnya suara. Akhirnya dia menemukan orang yang bertembang tadi. Dia seorang
laki-laki berusia sekitar lima puluh tahun lebih, Tubuhnya tinggi kurus namun
tampak sehat dengan kulitnya yang halus kemerahan. Wajahnya tampak lembut dan
terang tampak agung dan penuh wibawa dengan jenggotnya yang panjang. Rambutnya
digelung ke atas dan pakaiannya sederhana, seperti pakaian pertapa. Laki-laki
itu memegang sebatang walesan (tangkai pancing) dan duduk di atas perahunya
diam tak bergerak seperti patung.
"Hai, orang tua! Keluarlah dari
perahumu dan kesinilah, aku mau bicara denganmu!" kata Linggajaya,
suaranya terdengar memerintah.
Laki-laki setengah tua itu menoleh
dan tersenyum. Diam-diam Linggajaya terkejut melihat sepasang mata yang sekilas
mencorong seperti mata harimau di tempat gelap, akan tetapi segera berubah
lembut.
"Ada keperluan apakah dengan
aku orang muda?"
"Sudahlah, jangan banyak
bertanya. Keluarlah dari perahumu dan naiklah ke sini. Jangan banyak membantah
atau engkau kulemparkan ke air!"
Orang itu bangkit berdiri dan
melangkah keluar dari perahunya, melangkah ke darat lalu mendaki, meninggalkan
perahunya yang diikat pada batu di tepi sungai. Linggajaya memandang kepada
kakek yang kelihatan ringkih (lemah) itu, lalu tersenyum.
"Nah, engkau tunggu saja di
sini, aku mau memakai perahumu menyeberang."
Dia lalu melompat ke dalam perahu,
melepaskan ikatannya dan mendayung perahu ke tengah tanpa menoleh lagi kepada
kakek pemilik perahu yang ditinggalkannya itu. Karena arus air yang memenuhi
Kali Watu itu agak kuat, Linggajaya mengerahkan tenaganya untuk mendayung.
Akhirnya dia tiba di seberang dan tiba-tiba dia mendengar suara di belakangnya.
"Tinggalkan saja perahu itu,
biar aku yang akan mengikatnya pada batang pohon itu."
Linggajaya terkejut dan dia menoleh
ke belakang. Matanya terbelalak lebar ketika dia melihat kakek pemilik perahu
tadi berjalan mengikuti perahunya. Berjalan di atas air! Saking heran dan
kagetnya, dia melompat dari perahu itu ke darat. Dia melihat betapa dengan
tenang kakek itu menarik tali perahu dan mengikatkan perahunya kepada akar
sebatang pohon yang tumbuh di tepi sungai, lalu kakek itu melangkah ke darat.
Kini Linggajaya maklum bahwa dia berhadapan dengan seorang kakek yang sakti
mandraguna. Gurunya, Sang Resi Bajrasakti, pernah bercerita kepadanya bahwa di
nusantara itu terdapat beberapa orang yang demikian saktinya sehingga dapat
berjalan di atas air. Sekarang dia melihat dengan mata sendiri, maka tanpa
ragu-ragu lagi dia lalu menjatuhkan diri menyembah di depan kaki orang itu.
"Heh-heh, apa yang kaulakukan
ini orang muda?"
"Paman yang mulia, saya
Linggajaya mohon sudilah kiranya Paman menerima saya sebagai murid Paman."
"Hemm, Linggajaya, apa yang
ingin kau pelajari dari orang seperti aku ini?"
"Paman, saya ingin mempelajari
aji-aji kesaktian dari Paman."
"Aji kesaktian? Untuk apa?
Kulihat engkau seorang pemuda yang sakti mandraguna. Untuk apa engkau ingin
menambah kesaktianmu?"
"Untuk melawan mereka yang
pernah mengalahkan saya, Paman, Untuk dapat memenuhi cita-cita saya dan untuk
mencapai semua cita-cita itu, saya harus memiliki aji kesaktian yang tidak
dapat dikalahkan siapapun juga."
“Ha-ha-ha-ha!"
Kakek itu tertawa geli.
"Betapa pun saktinya seorang
manusia, dalam dunia ini kesaktian itu tiada lain hanya seperti permainan
kanak-kanak, Linggajaya. Tidak ada manusia paling sakti di dunia ini. Betapa
pun saktinya manusia tidak mampu menentang datangnya usia tua dan penyakit
yang datang dan membuat dia lemah,
juga tidak berdaya terhadap datangnya Sang Yama-dipati (Dewa Maut) yang
mengambil nyawanya. Linggajaya, untuk mengalahkan semua musuh di dunia ini,
caranya hanya satu."
"Apakah caranya itu,
Paman?"
"Mari kita duduk di sana agar
lebih santai kita bicara." Kakek itu mengajak Linggajaya duduk di atas
rumput tebal. Kemudian dia melanjutkan.
"Cara untuk mengalahkan semua
musuhmu hanya satu, yaitu engkau harus lebih dulu dapat mengalahkan dirimu
sendiri."
"Diri saya sendiri?"
"Ya, dirimu yang palsu, yang
mengaku-aku sebagai jati dirimu, yaitu hati akal pikiran berikut seluruh
anggota tubuhmu yang telah dikuasai nafsu-nafsu setan. Jasmanimu yang selalu
haus akan kenikmatan, lapar akan kesenangan yang menimbulkan dendam, kemarahan,
kebencian, iri hati, angkara murka. Nah, jasmanimu yang kotor berasal dari debu
itulah yang harus kau kalahkan lebih dulu. Dengan demikian, rohanimu yang
tumbuh, bersatu dengan Kekuasaan Sang Hyang Widhi sehingga segala tindakanmu
akan terbimbing oleh-Nya dan segala tindakan, ucapanmu, pikiranmu hanya menjadi
alat yang dipilih oleh-Nya untuk menyalurkan berkat kepada sesama hidupmu di
dunia ini."
"Wah, saya tidak mengerti,
Paman. Saya ini seorang manusia hidup, untuk apa kalau tidak mengejar
kebahagiaan hidup? Dan kebahagiaan hidup hanya dapat diperoleh kalau kita
mempunyai kedudukan tinggi, memiliki kekuasaan, memiliki harta benda berlimpah,
dan untuk mendapatkan itu, saya harus memiliki aji kesaktian yang tidak
terkalahkan untuk memusnahkan semua musuh dan saingan saya!"
Kakek itu menghela napas panjang.
"Jagad Dewa Bathara! Gusti,
segala Kehendak dan Rencana Paduka pasti terjadi, hamba tidak kuasa
mengubahnya." Ucapan ini dia keluarkan lirih seperti bicara kepada diri
sendiri. Kemudian dia memandang kepada Linggajaya.
"Linggajaya, ceritakan dulu
siapa dirimu dan apa kedudukanmu."
Karena dia menemukan kakek ini di
daerah Kadipaten Wengker, bahkan tempat itu pun sudah dekat dengan ibu kota
Wengker, tanpa ragu lagi Linggajaya lalu membuat pengakuan.
"Ketahuilah, Paman. Saya adalah
senopati muda Linggajaya Kerajaan Wengker, murid Sang Resi Bajrasakti yang
menjadi penasehat Sang Adipati Wengker. Baru-baru ini saya mengalami kegagalan
di Kahuripan dan saya ingin membalas kekalahan itu. Akan saya hancurkan dan
tundukkan Kerajaan Kahuripan, akan saya binasakan Sang Prabu Erlangga dan Ki
Patih Narotama, musuh-musuh besar saya. Untuk itu saya harus memiliki aji
kesaktian yang lebih tinggi daripada mereka. Maka, demi kejayaan Kerajaan
Wengker, bantulah saya, Paman. Terimalah saya menjadi murid Paman untuk
mempelajari semua aji kesaktian yang Paman kuasai!"
"Jagad Dewa Bathara...! Andika
telah keliru memahami hidup ini, Angger. Keliru, sungguh keliru kalau engkau
berpendapat bahwa kedudukan, kekuasaan dan harta benda menjadi sarana manusia
merasakan kebahagiaan hidup. Sarana kesenangan, mungkin. Akan tetapi apakah
artinya kesenangan? Kesenangan itu tipis dan rapuh sekali, orang muda. Saat
kepala atau sakit gigi saja sudah dapat mengusir semua kesenangan! Jenguklah
orang-orang yang berkuasa dan orang-orang yang kaya-raya. Betapa mereka itu
selalu dikejar rasa gelisah dan takut kehilangan kekuasaan, kedudukan atau
harta benda. Makanan mewah hanya terasa lezat dalam bayangan seorang yang tidak
mampu mengadakannya. Rumah dan istana mewah megah hanya terasa indah dan nyaman
dalam bayangan seorang yang rumahnya kecil dan sederhana. Tengok keadaan mereka
yang berkedudukan tinggi dan yang kaya-raya, dan lihatlah kenyataannya! Mereka
yang setiap hari mendapat hidangan yang serba mahal dan mewah, sama sekali
tidak merasakan kenikmatan hidangan itu, bahkan merasa bosan dan merindukan
hidangan sederhana yang biasa dimakan para petani sederhana! Mereka yang
tinggal dalam istana megah tidak lagi merasakan keindahannya, tidak merasakan
kenyamanannya karena mereka merasa jenuh, mungkin mereka merindukan lapangan
terbuka dimana mereka dapat bermandikan cahaya matahari, menghirup udara
pegunungan segar dan berteduh di bawah pohon yang rindang! Kenikmatan hanya
dapat dirasakan orang yang hatinya tenteram dan damai, Angger. Dan rasa
tenteram dan damai itu hanya dapat dirasakan orang yang setiap saat berserah diri
terhadap Kekuasaan Hyang Widhi. Penyerahan diri ini akan mendatangkan bimbingan
kepada kita sehingga apa pun yang kita pikirkan, ucapkan dan lakukan pasti
didasari Kasih yang datangnya dari Hyang Widhi Wasa dan kalau semua gerakan
hati akal pikiran dan tubuh ini didasari Kasih atas bimbingan-Nya, sudah pasti
benar dan baik. Kalau sudah begitu, ketenteraman dan kedamaian itu ada,
sehingga Kebahagiaan selalu berada bersama kita."
"Wah, Paman. Saya ingin berguru
kepada Paman mempelajari aji-aji kesaktian, bukan untuk mendengarkan
wejangan-wejangan yang memusingkan itu." kata Linggajaya sambil
mengerutkan alisnya dan suaranya terdengar penasaran dan hilang kesabarannya.
No comments:
Post a Comment