Nurseta Satria Karangtirta ; Bagian 03


Maka mereka lalu membawa senjata seadanya dan menyerbu kelurahan untuk melindungi Ki Lurah Pujosaputro yang mereka suka dan hormati karena lurah baru yang diangkat oleh Ki Patih Narotama itu ternyata merupakan seorang pemimpin yang adil, jujur, dan baik. Linggajaya yang sedang bertanding melawan Puspa Dewi dan belum juga dapat mendesak gadis yang ternyata amat tangguh itu, menengok dan terkejut melihat ratusan orang itu. Diam-diam dia merasa heran. Dahulu, ketika Ayahnya yang menjadi lurah, para penduduk itu bagaikan sekawanan domba yang jinak dan lemah, menurut saja digiring kemana, tak pernah ada yang berani menentang. Akan tetapi sekarang, mereka itu bagaikan sekawanan banteng yang siap menerjang siapa yang berani mengganggu kampung halaman mereka! Merasa terancam bahaya kalau harus melawan Puspa Dewi yang dibantu ratusan orang, Linggajaya lalu melompat jauh ke belakang dan dengan beberapa lompatan jauh dia sudah keluar dari pekarangan kelurahan dan cepat melarikan diri meninggalkan dusun Karang Tirta, menuju ke barat, untuk kembali ke Kerajaan Wengker. Kalau sudah tiba di sana, dia akan mengirim orang-orang untuk menyelidiki dan mencari kemana perginya Ayahnya dan sekeluarga ayahnya.

Wajah Linggajaya semakin muram dan keruh. Dia merasa nelangsa, merasa betapa segala yang dia lakukan ternyata menemui kegagalan. Usaha menjatuhkan Sang Prabu Erlangga dengan persekutuan yang tadinya tampak kuat dan meyakinkan itu, ternyata gagal dan persekutuan ttu diporak porandakan para pendukung Sang Prabu Erlangga sehingga mereka yang lolos dari maut terpaksa harus melarikan diri, kembali ke kadipaten masing-masing, termasuk dia yang harus kembali ke Kerajaan atau Kadipaten Wengker. Kemudian, keinginannya untuk bertemu keluarga ayahnya dan mengajak mereka pindah ke Wengker juga gagal. Bukan saja mendengar Ayahnya dipecat dari kedudukan lurah dan diusir dari Karang Tirta, bahkan niatnya membunuh lurah baru juga gagal karena Puspa Dewi melindungi lurah baru itu. Dia terpaksa melarikan diri melihat Puspa Dewi hendak dibantu ratusan penduduk Karang Tirta!
"Sialan!" gerutunya dengan jengkel.
Dia merasa lelah sekali karena semenjak meninggalkan Karang Tirta, dia melakukan perjalanan siang malam dan hanya berhenti untuk melewatkan malam gelap, Bahkan dia lupa makan selama berhari-hari sehingga wajahnya yang tampan kelihatan agak kurus, matanya cekung. Dia tiba di tepi Kali Watu. Air sungai itu penuh karena beberapa hari ini hampir setiap malam turun hujan.
"Sialan!" gerutunya.

Kerajaan atau Kadipaten Wengker, ibu kotanya, sudah tak berapa jauh lagi dan dia terhalang oleh sungai ini. Tiba-tiba dia mendengar suara orang bertembang, suara seorang laki-laki, suaranya biasa saja namun mengandung getaran yang menyentuh kalbu dan amat menarik perhatian sehingga Linggajaya menghentikan langkahnya dan mendengarkan penuh perhatian.
Tembang Dandang Gendis.
"Poma-poma, den gatekna kaki
Uripira ana ing ngalam donya
Saka Sibe Hyang jektine
mulo kono tan suwung
ing tumindak kang sarwa becik
srana panembahira
mring Hyang kang maha Gung
mula yekti nyatanira
maka Gusti yen mulih bali mring Gusti mengkono
Karsanira."
Linggajaya tertegun. Bagaikan kilat isi tembang itu menyusup ke dalam benaknya. Dia tahu arti kata-kata itu yang kalau diterjemahkan kurang lebih begini :
"Camkan dan perhatikanlah, nak
hidupmu di dalam dunia ini sesungguhnya berkat Kasih
Hyang Widhi
karena itu jangan kosongkan hidupmu
dari tindakan yang serba baik (bajik)
disertai penyembahanmu
kepada Hyang Maha Agung
maka sungguh kenyataannya
datang dari Tuhan berpulang kepada Tuhan
demikianlah kehendak-Nya."

Mulut Linggajaya menyeringai. Huh, omong kosong orang-orang lemah, cemoohnya dan dia segera melangkah ke arah datangnya suara. Akhirnya dia menemukan orang yang bertembang tadi. Dia seorang laki-laki berusia sekitar lima puluh tahun lebih, Tubuhnya tinggi kurus namun tampak sehat dengan kulitnya yang halus kemerahan. Wajahnya tampak lembut dan terang tampak agung dan penuh wibawa dengan jenggotnya yang panjang. Rambutnya digelung ke atas dan pakaiannya sederhana, seperti pakaian pertapa. Laki-laki itu memegang sebatang walesan (tangkai pancing) dan duduk di atas perahunya diam tak bergerak seperti patung.
"Hai, orang tua! Keluarlah dari perahumu dan kesinilah, aku mau bicara denganmu!" kata Linggajaya, suaranya terdengar memerintah.
Laki-laki setengah tua itu menoleh dan tersenyum. Diam-diam Linggajaya terkejut melihat sepasang mata yang sekilas mencorong seperti mata harimau di tempat gelap, akan tetapi segera berubah lembut.
"Ada keperluan apakah dengan aku orang muda?"
"Sudahlah, jangan banyak bertanya. Keluarlah dari perahumu dan naiklah ke sini. Jangan banyak membantah atau engkau kulemparkan ke air!"
Orang itu bangkit berdiri dan melangkah keluar dari perahunya, melangkah ke darat lalu mendaki, meninggalkan perahunya yang diikat pada batu di tepi sungai. Linggajaya memandang kepada kakek yang kelihatan ringkih (lemah) itu, lalu tersenyum.
"Nah, engkau tunggu saja di sini, aku mau memakai perahumu menyeberang."
Dia lalu melompat ke dalam perahu, melepaskan ikatannya dan mendayung perahu ke tengah tanpa menoleh lagi kepada kakek pemilik perahu yang ditinggalkannya itu. Karena arus air yang memenuhi Kali Watu itu agak kuat, Linggajaya mengerahkan tenaganya untuk mendayung. Akhirnya dia tiba di seberang dan tiba-tiba dia mendengar suara di belakangnya.
"Tinggalkan saja perahu itu, biar aku yang akan mengikatnya pada batang pohon itu."

Linggajaya terkejut dan dia menoleh ke belakang. Matanya terbelalak lebar ketika dia melihat kakek pemilik perahu tadi berjalan mengikuti perahunya. Berjalan di atas air! Saking heran dan kagetnya, dia melompat dari perahu itu ke darat. Dia melihat betapa dengan tenang kakek itu menarik tali perahu dan mengikatkan perahunya kepada akar sebatang pohon yang tumbuh di tepi sungai, lalu kakek itu melangkah ke darat. Kini Linggajaya maklum bahwa dia berhadapan dengan seorang kakek yang sakti mandraguna. Gurunya, Sang Resi Bajrasakti, pernah bercerita kepadanya bahwa di nusantara itu terdapat beberapa orang yang demikian saktinya sehingga dapat berjalan di atas air. Sekarang dia melihat dengan mata sendiri, maka tanpa ragu-ragu lagi dia lalu menjatuhkan diri menyembah di depan kaki orang itu.
"Heh-heh, apa yang kaulakukan ini orang muda?"
"Paman yang mulia, saya Linggajaya mohon sudilah kiranya Paman menerima saya sebagai murid Paman."
"Hemm, Linggajaya, apa yang ingin kau pelajari dari orang seperti aku ini?"
"Paman, saya ingin mempelajari aji-aji kesaktian dari Paman."
"Aji kesaktian? Untuk apa? Kulihat engkau seorang pemuda yang sakti mandraguna. Untuk apa engkau ingin menambah kesaktianmu?"
"Untuk melawan mereka yang pernah mengalahkan saya, Paman, Untuk dapat memenuhi cita-cita saya dan untuk mencapai semua cita-cita itu, saya harus memiliki aji kesaktian yang tidak dapat dikalahkan siapapun juga."
“Ha-ha-ha-ha!"
Kakek itu tertawa geli.
"Betapa pun saktinya seorang manusia, dalam dunia ini kesaktian itu tiada lain hanya seperti permainan kanak-kanak, Linggajaya. Tidak ada manusia paling sakti di dunia ini. Betapa pun saktinya manusia tidak mampu menentang datangnya usia tua dan penyakit
yang datang dan membuat dia lemah, juga tidak berdaya terhadap datangnya Sang Yama-dipati (Dewa Maut) yang mengambil nyawanya. Linggajaya, untuk mengalahkan semua musuh di dunia ini, caranya hanya satu."
"Apakah caranya itu, Paman?"
"Mari kita duduk di sana agar lebih santai kita bicara." Kakek itu mengajak Linggajaya duduk di atas rumput tebal. Kemudian dia melanjutkan.
"Cara untuk mengalahkan semua musuhmu hanya satu, yaitu engkau harus lebih dulu dapat mengalahkan dirimu sendiri."
"Diri saya sendiri?"
"Ya, dirimu yang palsu, yang mengaku-aku sebagai jati dirimu, yaitu hati akal pikiran berikut seluruh anggota tubuhmu yang telah dikuasai nafsu-nafsu setan. Jasmanimu yang selalu haus akan kenikmatan, lapar akan kesenangan yang menimbulkan dendam, kemarahan, kebencian, iri hati, angkara murka. Nah, jasmanimu yang kotor berasal dari debu itulah yang harus kau kalahkan lebih dulu. Dengan demikian, rohanimu yang tumbuh, bersatu dengan Kekuasaan Sang Hyang Widhi sehingga segala tindakanmu akan terbimbing oleh-Nya dan segala tindakan, ucapanmu, pikiranmu hanya menjadi alat yang dipilih oleh-Nya untuk menyalurkan berkat kepada sesama hidupmu di dunia ini."
"Wah, saya tidak mengerti, Paman. Saya ini seorang manusia hidup, untuk apa kalau tidak mengejar kebahagiaan hidup? Dan kebahagiaan hidup hanya dapat diperoleh kalau kita mempunyai kedudukan tinggi, memiliki kekuasaan, memiliki harta benda berlimpah, dan untuk mendapatkan itu, saya harus memiliki aji kesaktian yang tidak terkalahkan untuk memusnahkan semua musuh dan saingan saya!"
Kakek itu menghela napas panjang.
"Jagad Dewa Bathara! Gusti, segala Kehendak dan Rencana Paduka pasti terjadi, hamba tidak kuasa mengubahnya." Ucapan ini dia keluarkan lirih seperti bicara kepada diri sendiri. Kemudian dia memandang kepada Linggajaya.
"Linggajaya, ceritakan dulu siapa dirimu dan apa kedudukanmu."

Karena dia menemukan kakek ini di daerah Kadipaten Wengker, bahkan tempat itu pun sudah dekat dengan ibu kota Wengker, tanpa ragu lagi Linggajaya lalu membuat pengakuan.
"Ketahuilah, Paman. Saya adalah senopati muda Linggajaya Kerajaan Wengker, murid Sang Resi Bajrasakti yang menjadi penasehat Sang Adipati Wengker. Baru-baru ini saya mengalami kegagalan di Kahuripan dan saya ingin membalas kekalahan itu. Akan saya hancurkan dan tundukkan Kerajaan Kahuripan, akan saya binasakan Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama, musuh-musuh besar saya. Untuk itu saya harus memiliki aji kesaktian yang lebih tinggi daripada mereka. Maka, demi kejayaan Kerajaan Wengker, bantulah saya, Paman. Terimalah saya menjadi murid Paman untuk mempelajari semua aji kesaktian yang Paman kuasai!"
"Jagad Dewa Bathara...! Andika telah keliru memahami hidup ini, Angger. Keliru, sungguh keliru kalau engkau berpendapat bahwa kedudukan, kekuasaan dan harta benda menjadi sarana manusia merasakan kebahagiaan hidup. Sarana kesenangan, mungkin. Akan tetapi apakah artinya kesenangan? Kesenangan itu tipis dan rapuh sekali, orang muda. Saat kepala atau sakit gigi saja sudah dapat mengusir semua kesenangan! Jenguklah orang-orang yang berkuasa dan orang-orang yang kaya-raya. Betapa mereka itu selalu dikejar rasa gelisah dan takut kehilangan kekuasaan, kedudukan atau harta benda. Makanan mewah hanya terasa lezat dalam bayangan seorang yang tidak mampu mengadakannya. Rumah dan istana mewah megah hanya terasa indah dan nyaman dalam bayangan seorang yang rumahnya kecil dan sederhana. Tengok keadaan mereka yang berkedudukan tinggi dan yang kaya-raya, dan lihatlah kenyataannya! Mereka yang setiap hari mendapat hidangan yang serba mahal dan mewah, sama sekali tidak merasakan kenikmatan hidangan itu, bahkan merasa bosan dan merindukan hidangan sederhana yang biasa dimakan para petani sederhana! Mereka yang tinggal dalam istana megah tidak lagi merasakan keindahannya, tidak merasakan kenyamanannya karena mereka merasa jenuh, mungkin mereka merindukan lapangan terbuka dimana mereka dapat bermandikan cahaya matahari, menghirup udara pegunungan segar dan berteduh di bawah pohon yang rindang! Kenikmatan hanya dapat dirasakan orang yang hatinya tenteram dan damai, Angger. Dan rasa tenteram dan damai itu hanya dapat dirasakan orang yang setiap saat berserah diri terhadap Kekuasaan Hyang Widhi. Penyerahan diri ini akan mendatangkan bimbingan kepada kita sehingga apa pun yang kita pikirkan, ucapkan dan lakukan pasti didasari Kasih yang datangnya dari Hyang Widhi Wasa dan kalau semua gerakan hati akal pikiran dan tubuh ini didasari Kasih atas bimbingan-Nya, sudah pasti benar dan baik. Kalau sudah begitu, ketenteraman dan kedamaian itu ada, sehingga Kebahagiaan selalu berada bersama kita."
"Wah, Paman. Saya ingin berguru kepada Paman mempelajari aji-aji kesaktian, bukan untuk mendengarkan wejangan-wejangan yang memusingkan itu." kata Linggajaya sambil mengerutkan alisnya dan suaranya terdengar penasaran dan hilang kesabarannya.

<<< Bagian 02                                                                                         Bagian 04 >>>

No comments:

Post a Comment