"Hemm, jawablah dulu, Senopati Linggawijaya! Seorang murid sudah semestinya menaati semua perintah gurunya. Nah, kalau Andika ingin menjadi muridku, siapkah Andika untuk menaati perintahku?"
Setelah diam meragu sesaat,
Linggajaya yang ingin sekali memperoleh aji kesaktian dari kakek ini, menjawab.
"Tentu saja, saya siap dan
bersedia menaati perintah Bapa Guru."
Dia langsung saja menyebut bapa guru.
"Bagus, kalau begitu perintahku
yang pertama adalah begini. Mulai saat ini, berhentilah menjadi Senopati
Kerajaan Wengker dan jangan lagi memusuhi Sang Prabu Erlangga."
Mendengar ini, Linggajaya bangkit
berdiri. Mukanya merah, alisnya berkerut dan pandang matanya berkilat penuh
kemarahan.
"Apa? Kiranya engkau adalah
seorang pembela Kahuripan?" teriaknya penasaran.
"Aku tidak mencampuri
permusuhan antara kerajaan. Aku hanya membela siapa saja yang benar, membela
keadilan dan kebenaran dan menentang yang jahat."
"Keparat, kiranya engkau pun
seorang pengkhianat, kawula Wengker akan tetapi membela Kahuripan!" Dengan
marah sekali Linggajaya lalu melompat ke depan dan mengerahkan seluruh
tenaganya, menghantam ke arah kepala kakek itu dengan Aji Gelap Sewu!
"Wuuuttt.... wirrr....!!!"
Tubuh Linggajaya terpental ke
belakang seolah diterbangkan angin taufan! Tadi dia memukul, akan tetapi
pukulannya seolah mengenai perisai lunak yang tidak kelihatan, yang membuat
tenaga pukulannya membalik dan tubuhnya terlempar ke belakang lalu terbanting
jatuh! Linggajaya terbelalak, merasa dadanya agak sesak. Dia cepat bangkit
berdiri, memandang ke arah kakek itu yang masih duduk bersila di atas rumput
dengan sikap tenang dan mulut tersenyum sabar.
Linggajaya bukan bodoh. Dia maklum
bahwa orang itu memiliki kesaktian luar biasa dan dia mengerti pula bahwa kalau
dia menyerang lagi dengan menggunakan senjata, tentu akibatnya akan semakin
parah baginya.
"Orang tua, aku yang muda
sekarang mengaku kalah. Akan tetapi katakan siapa namamu agar lain kali aku
dapat mencarimu untuk menebus kekalahan ini!"
Kakek setengah tua itu masih
tersenyum.
"Senopati Linggajaya, aku
adalah Bhagawan Ekadenta. Aku menasihati engkau agar tidak memusuhi Sang Prabu
Erlangga karena kalau engkau lanjutkan akibatnya akan buruk bagi dirimu
sendiri. Keangkara-murkaan hanya tampak unggul pada permulaannya saja, akan
tetapi pada akhirnya akan hancur. Camkanlah kata-kataku ini."
Akan tetapi Linggajaya tidak mau
mendengarkan lagi. Dia sudah melompat jauh dan melarikan diri menuju ibu kota
Wengker. Dia tidak akan melupakan nama Bhagawan Ekadenta. Biarpun orang sakti
mandraguna itu tidak mengaku sebagai pendukung atau pembela Kahuripan, namun
jelas dia tidak akan berpihak kepada Wengker kalau terjadi perang antara kedua
kerajaan itu. Berarti, Bhagawan Ekadenta termasuk jajaran orang-orang yang
tidak disuka dan harus dimusuhinya.
Kegagalan yang dialami persekutuan
para tokoh kerajaan Wengker, Wura-Wuri, Parang Siluman, dan Kerajaan Laut
Kidul, membuat Adipati Adhamapanuda, Raja Wengker, menjadi kecewa dan
kehilangan semangat untuk menentang Kahuripan. Dan untuk menghibur hatinya
karena kekecewaannya itu, hampir setiap hari Sang Adipati Adhamapanuda
mengadakan pesta untuk dirinya sendiri. Permaisurinya yang cantik genit
diperintahkan untuk mempersiapkan segala keperluan untuk bersenang-senang itu.
Pesta itu diadakan hampir setiap malam, dengan menghidangkan bermacam-macam
masakan daging bermacam hewan, bukan saja daging hewan ternak, melainkan dia
memerintahkan agar dimasakkan daging binatang-binatang yang tidak umum dimakan
orang. Yang menjadi kesukaan Adipati Adhamapanuda adalah daging macan
dipanggang setengah matang, bahkan lebih mentah daripada matang, dengan darah
masih merah basah. Minum-minuman towak dan arak yang memabokkan juga menjadi
kegemarannya. Sambil makan minum dilayani Dewi Mayangsari, permaisuri yang
cantik genit, dibantu pula oleh tujuh orang selirnya, Adipati Adhamapanuda
nonton dan mendengarkan para waranggana berjoget dan bertembang. Joget para penari
di Kadipaten Wengker sungguh jauh bedanya dengan tarian para penari Kahuripan
yang tariannya lembut dan sopan. Tarian para penari Wengker ini kasar dan
gerakannya menggairahkan, penuh daya tarik membangkitkan berahi dengan
memutar-mutar pundak, perut dan pinggul. Kalau sudah makan kenyang dan minum
sampai mabok, Adipati Adhamapanuda lalu bersenang-senang dengan para selirnya.
Akan tetapi, keadaan ini amat tidak menyenangkan hati Dewi Mayangsari. Ialah
yang selalu mendesak suaminya agar menentang Kahuripan dan berusaha membunuh
Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama dari Kerajaan Kahuripan. Kini melihat
suaminya setelah persekutuan menentang Kahuripan itu gagal lalu setiap malam
bersenang-senang, sama sekali tidak ada semangat untuk menentang Kahuripan, ia
menjadi kesal dan marah. Ia selalu menolak kalau suaminya mengajaknya
bersenang-senang, tidak mau menanggapi kalau suaminya mengajaknya memadu kasih
dalam kamarnya. Ia mewakilkan kepada para selir muda untuk melayani Sang
Adipati.
Dewi Mayangsari berusia hampir tiga
puluh tahun, cantik jelita dengan tubuh padat langsing, tampak jauh lebih muda.
Dalam usia dua puluh tahun, ia menjadi permaisuri Adipati Adhamapanuda yang
ketika itu berusia tiga puluh tujuh tahun. Sekarang ia berusia sekitar dua puluh
delapan tahun. Delapan tahun menjadi permaisuri Adipati Adahamapanuda dan belum
mempunyai keturunan. Dewi Mayangsari sejak kecil mendapat pendidikan aji
kanuragan karena ia adalah puteri seorang tokoh warok yang sakti, yaitu Ki
Surogeni yang menjadi guru para warok di Wengker. Di antara para murid itu
adalah Ki Wirobento dan Wirobandrek. Akan tetapi, tingkat kepandaian Dewi
Mayangsari kini jauh lebih tinggi dibandingkan tingkat ayahnya sendiri! Hal ini
adalah karena selama tiga tahun ia mendapat guru baru. Gurunya itu adalah Nini
Bumigarbo yang di waktu mudanya bernama Ni Gayatri. Nini Bumigarbo ini seorang
datuk wanita yang sakti mandraguna.
Pada suatu malam, tiga tahun lebih
yang lalu, Nini Bumigarbo secara aneh tiba-tiba muncul dalam kamar Dewi
Mayangsari. Tentu saja permaisuri ini terkejut bukan main. Akan tetapi segera
ia mengerti bahwa nenek yang muncul secara aneh seperti setan ini adalah
seorang yang amat sakti yang memilih ia menjadi murid. Nini Bumigarbo mengambil
Dewi Mayangsari sebagai murid dengan syarat bahwa Dewi Mayangsari harus
berusaha sekuat tenaga untuk menggerakkan suaminya agar memerangi Kahuripan dan
berusaha membunuh Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama! Setelah digembleng
dengan tekun selama tiga tahun, Dewi Mayangsari menguasai ilmu-ilmu yang
dahsyat, juga pandai menggunakan ilmu sihir yang menyeramkan. Nini Bumigarbo
kembali mengulang pesannya agar muridnya ini berusaha membunuh Sang Prabu
Erlangga dan Ki Patih Narotama.
"Harap Kanjeng Ibu Guru tidak
khawatir. Saya pasti akan memusuhi Kahuripan dan akan berusaha agar dapat
membunuh Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama. Tanpa perintah itu pun,
sejak dahulu memang Kerajaan Wengker menjadi musuh besar Kahuripan. Akan tetapi
mengapa Ibu Guru menghendaki kematian mereka berdua?"
Nini Bumigarbo menghela napas
panjang.
"Aku menaruh dendam sakit hati
kepada guru mereka, yaitu Resi Satyadharma. Karena membunuh resi yang amat
sakti mandraguna itu tidak mungkin dapat kulakukan, maka aku sudah puas kalau
dapat membunuh kedua orang muridnya itu."
"Akan tetapi Paduka memiliki
kesaktian demikian tinggi, mengapa tidak Paduka bunuh saja mereka berdua itu
sejak dulu?"
"Ah, kalau saja aku ada
kesempatan untuk itu. Akan tetapi, tidak, Dewi Mayangsari, aku tidak dapat
membunuh mereka dengan tanganku sendiri. Karena itulah maka aku memilih engkau
untuk mewakili aku membunuh mereka."
"Mengapa tidak dapat?"
"Itu merupakan rahasiaku.
Sudahlah, jangan banyak bertanya. Engkau sudah berjanji akan membunuh mereka,
dan dengan bantuan pasukan Wengker dan juga orang-orang pandai di Wengker
seperti Resi Bajrasakti, Senopati Linggawijaya dan lain-lain, engkau pasti akan
berhasil." Nini Bumigarbo tentu saja tidak mau menceritakan bahwa ia sudah
berjanji kepada Bhagawan Ekadenta untuk tidak membunuh raja dan patihnya itu,
maka ia tidak dapat turun tangan sendiri. Kemudian Nini Bumigarbo berpamit dan
meninggalkan istana Wengker. Demikianlah mengapa Dewi Mayangsari menjadi kesal
hatinya melihat suaminya agaknya tidak mau lagi menyerang Kahuripan dan kini
hanya bersenang-senang saja. Kalau pasukan Wengker tidak dikerahkan untuk
menyerang Kahuripan, bagaimana mungkin ia akan dapat memenuhi perintah gurunya
untuk membunuh Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama?.
Sore itu, seperti biasa, Adipati
Adhamapanuda yang berusia empat puluh lima tahun itu mulai dengan pesta
poranya. Kini Dewi Mayangsari tidak lagi melayaninya makan. Sudah beberapa hari
ia tidak mau ikut berpesta dengan suaminya. Bahkan sore itu ia keluar dari
istana memasuki tamansari yang indah. Matahari telah condong ke barat dan Dewi
Mayangsari duduk termenung di atas bangku taman. Sinar matahari yang kemerahan
mengelus wajahnya. Sepasang pipi yang berkulit halus dan putih kuning itu
menjadi kemerahan oleh sinar matahari. Alis yang hitam kecil melengkung itu
berkerut, bibir yang mungil kemerahan itu cemberut dan sinar matanya sayu,
terkadang menyinarkan kemarahan. Hidung yang kecil mancung itu berkali-kali
menarik napas panjang. Ia semakin muak dan benci kepada suaminya, Sang Adipati
Adhamapanuda. Dulu ia mau menjadi isterinya karena sebagai puteri seorang warok
ia menjadi permaisuri adipati, berarti naik derajatnya. Akan tetapi ia tidak
pernah dapat mencinta Adipati Adhamapanuda yang bertubuh tinggi besar, mukanya
penuh brewok dan tubuhnya berbulu seperti monyet, suaranya parau besar
menjemukan. Kini ia merasa kecewa, maka ia semakin muak dan benci kepada orang
yang menjadi suaminya itu. Suaminya itu mulai bermalas-malasan dan setiap malam
makan minum bersenang-senang dengan para selirnya setelah mendengar pelaporan
Linggajaya tentang kegagalan usaha persekutuan membantu pemberontak
menggulingkan Sang Prabu Erlangga.
Sementara itu, di bagian lain dari
bangunan istana itu, Linggajaya berunding dengan gurunya, Sang Resi Bajrasakti.
"Engkau benar, Linggajaya. Kerajaan
Wengker harus dijadikan sebuah kerajaan yang besar dan jaya dan sekarang inilah
saatnya. Aku mendukung rencanamu itu. Adipati Adhamapanuda sudah sepatutnya
disingkirkan. Dia lemah dan dibawah pimpinannya, tidak dapat diharapkan Wengker
akan dapat menjatuhkan Kahuripan. Rencanamu yang pertama dan kedua harus
kaulaksanakan sendiri dan engkau harus berhati-hati sekali karena Dewi
Mayangsari sekarang bukan seperti dulu lagi. Ingat, ia adalah murid Nini
Bumigarbo, walaupun aku sendiri belum tahu ajian apa saja yang ia dapatkan dari
datuk wanita itu, namun aku yakin ia tentu memiliki kepandaian tinggi sekarang.
Engkau harus pandai-pandai menarik dan menguasai hatinya. Nanti pada tahap ke
tiga dan terakhir, akulah yang akan membantumu dan memperkuat kedudukanmu."
"Terima kasih, Bapa Guru!"
kata Linggajaya girang.
"Harap jangan khawatir, rencana
kita pasti berhasil."
"Sudahlah, cepat berangkat dan
laksanakan!"
Sore itu, selagi Adipati
Adhamapanuda mulai dengan pestanya makan minum sambil mendengarkan alunan suara
pesinden dan menonton para penari bertubuh sintal memutar-mutar pinggul mereka,
Linggajaya atau Senopati Linggawijaya tahu bahwa Permaisuri Dewi Mayangsari
tidak ikut berpesta. Dia sudah tahu bahwa permaisuri cantik itu diam-diam tidak
suka dengan pesta pora yang dilakukan suaminya dan kini tengah duduk makan
angin sejuk di dalam taman.
Linggajaya telah mandi sehingga
tubuhnya segar, wajahnya yang tampan berseri. Dia mengenakan pakaian baru,
bersolek sehingga bertambah ganteng. Pakaiannya menyiarkan bau harum cendana.
Ketika memasuki taman dan melihat Sang Permaisuri duduk termenung seorang diri
di atas bangku taman yang panjang sambil memandang ke arah kolam di depannya,
di mana tumbuh bunga-bunga teratai merah dan putih, dan banyak ikan berwarna
hitam, putih, kuning dan merah berenang hilir mudik, Linggajaya menghampiri
dari belakang. Diam-diam dia berkemak-kemik membaca mantera Aji Pameletan
Mimi-Mintuna. Setelah membaca mantera, dia mengerahkan tenaganya dan meniup ke
arah tubuh Dewi Mayangsari dari belakang, dalam jarak satu tombak lebih. Dewi
Mayangsari yang sedang melamun merasa ada angin menghembus tengkuknya dan
hidungnya mencium harum cendana. Jantungnya berdebar dan ia merasa ada sesuatu
ketidak wajaran yang membuat tubuhnya terasa panas dingin dan jantungnya
berdegup kencang, ia lalu bangkit berdiri dan memutar tubuhnya. Dewi Mayangsari
tidak pantas menjadi murid Nini Bumigarbo kalau ia begitu mudah tunduk oleh aji
pengasihan.
Ia segera dapat menyadari bahwa
pemuda tampan yang berdiri di depannya ini tentu menggunakan aji pengasihan.
No comments:
Post a Comment