Nurseta Satria Karangtirta ; Bagian 04


"Hemm, jawablah dulu, Senopati Linggawijaya! Seorang murid sudah semestinya menaati semua perintah gurunya. Nah, kalau Andika ingin menjadi muridku, siapkah Andika untuk menaati perintahku?"
Setelah diam meragu sesaat, Linggajaya yang ingin sekali memperoleh aji kesaktian dari kakek ini, menjawab.
"Tentu saja, saya siap dan bersedia menaati perintah Bapa Guru."
Dia langsung saja menyebut bapa guru.
"Bagus, kalau begitu perintahku yang pertama adalah begini. Mulai saat ini, berhentilah menjadi Senopati Kerajaan Wengker dan jangan lagi memusuhi Sang Prabu Erlangga."
Mendengar ini, Linggajaya bangkit berdiri. Mukanya merah, alisnya berkerut dan pandang matanya berkilat penuh kemarahan.
"Apa? Kiranya engkau adalah seorang pembela Kahuripan?" teriaknya penasaran.
"Aku tidak mencampuri permusuhan antara kerajaan. Aku hanya membela siapa saja yang benar, membela keadilan dan kebenaran dan menentang yang jahat."
"Keparat, kiranya engkau pun seorang pengkhianat, kawula Wengker akan tetapi membela Kahuripan!" Dengan marah sekali Linggajaya lalu melompat ke depan dan mengerahkan seluruh tenaganya, menghantam ke arah kepala kakek itu dengan Aji Gelap Sewu!
"Wuuuttt.... wirrr....!!!"

Tubuh Linggajaya terpental ke belakang seolah diterbangkan angin taufan! Tadi dia memukul, akan tetapi pukulannya seolah mengenai perisai lunak yang tidak kelihatan, yang membuat tenaga pukulannya membalik dan tubuhnya terlempar ke belakang lalu terbanting jatuh! Linggajaya terbelalak, merasa dadanya agak sesak. Dia cepat bangkit berdiri, memandang ke arah kakek itu yang masih duduk bersila di atas rumput dengan sikap tenang dan mulut tersenyum sabar.
Linggajaya bukan bodoh. Dia maklum bahwa orang itu memiliki kesaktian luar biasa dan dia mengerti pula bahwa kalau dia menyerang lagi dengan menggunakan senjata, tentu akibatnya akan semakin parah baginya.
"Orang tua, aku yang muda sekarang mengaku kalah. Akan tetapi katakan siapa namamu agar lain kali aku dapat mencarimu untuk menebus kekalahan ini!"
Kakek setengah tua itu masih tersenyum.
"Senopati Linggajaya, aku adalah Bhagawan Ekadenta. Aku menasihati engkau agar tidak memusuhi Sang Prabu Erlangga karena kalau engkau lanjutkan akibatnya akan buruk bagi dirimu sendiri. Keangkara-murkaan hanya tampak unggul pada permulaannya saja, akan tetapi pada akhirnya akan hancur. Camkanlah kata-kataku ini."
Akan tetapi Linggajaya tidak mau mendengarkan lagi. Dia sudah melompat jauh dan melarikan diri menuju ibu kota Wengker. Dia tidak akan melupakan nama Bhagawan Ekadenta. Biarpun orang sakti mandraguna itu tidak mengaku sebagai pendukung atau pembela Kahuripan, namun jelas dia tidak akan berpihak kepada Wengker kalau terjadi perang antara kedua kerajaan itu. Berarti, Bhagawan Ekadenta termasuk jajaran orang-orang yang tidak disuka dan harus dimusuhinya.

Kegagalan yang dialami persekutuan para tokoh kerajaan Wengker, Wura-Wuri, Parang Siluman, dan Kerajaan Laut Kidul, membuat Adipati Adhamapanuda, Raja Wengker, menjadi kecewa dan kehilangan semangat untuk menentang Kahuripan. Dan untuk menghibur hatinya karena kekecewaannya itu, hampir setiap hari Sang Adipati Adhamapanuda mengadakan pesta untuk dirinya sendiri. Permaisurinya yang cantik genit diperintahkan untuk mempersiapkan segala keperluan untuk bersenang-senang itu. Pesta itu diadakan hampir setiap malam, dengan menghidangkan bermacam-macam masakan daging bermacam hewan, bukan saja daging hewan ternak, melainkan dia memerintahkan agar dimasakkan daging binatang-binatang yang tidak umum dimakan orang. Yang menjadi kesukaan Adipati Adhamapanuda adalah daging macan dipanggang setengah matang, bahkan lebih mentah daripada matang, dengan darah masih merah basah. Minum-minuman towak dan arak yang memabokkan juga menjadi kegemarannya. Sambil makan minum dilayani Dewi Mayangsari, permaisuri yang cantik genit, dibantu pula oleh tujuh orang selirnya, Adipati Adhamapanuda nonton dan mendengarkan para waranggana berjoget dan bertembang. Joget para penari di Kadipaten Wengker sungguh jauh bedanya dengan tarian para penari Kahuripan yang tariannya lembut dan sopan. Tarian para penari Wengker ini kasar dan gerakannya menggairahkan, penuh daya tarik membangkitkan berahi dengan memutar-mutar pundak, perut dan pinggul. Kalau sudah makan kenyang dan minum sampai mabok, Adipati Adhamapanuda lalu bersenang-senang dengan para selirnya. Akan tetapi, keadaan ini amat tidak menyenangkan hati Dewi Mayangsari. Ialah yang selalu mendesak suaminya agar menentang Kahuripan dan berusaha membunuh Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama dari Kerajaan Kahuripan. Kini melihat suaminya setelah persekutuan menentang Kahuripan itu gagal lalu setiap malam bersenang-senang, sama sekali tidak ada semangat untuk menentang Kahuripan, ia menjadi kesal dan marah. Ia selalu menolak kalau suaminya mengajaknya bersenang-senang, tidak mau menanggapi kalau suaminya mengajaknya memadu kasih dalam kamarnya. Ia mewakilkan kepada para selir muda untuk melayani Sang Adipati.

Dewi Mayangsari berusia hampir tiga puluh tahun, cantik jelita dengan tubuh padat langsing, tampak jauh lebih muda. Dalam usia dua puluh tahun, ia menjadi permaisuri Adipati Adhamapanuda yang ketika itu berusia tiga puluh tujuh tahun. Sekarang ia berusia sekitar dua puluh delapan tahun. Delapan tahun menjadi permaisuri Adipati Adahamapanuda dan belum mempunyai keturunan. Dewi Mayangsari sejak kecil mendapat pendidikan aji kanuragan karena ia adalah puteri seorang tokoh warok yang sakti, yaitu Ki Surogeni yang menjadi guru para warok di Wengker. Di antara para murid itu adalah Ki Wirobento dan Wirobandrek. Akan tetapi, tingkat kepandaian Dewi Mayangsari kini jauh lebih tinggi dibandingkan tingkat ayahnya sendiri! Hal ini adalah karena selama tiga tahun ia mendapat guru baru. Gurunya itu adalah Nini Bumigarbo yang di waktu mudanya bernama Ni Gayatri. Nini Bumigarbo ini seorang datuk wanita yang sakti mandraguna.

Pada suatu malam, tiga tahun lebih yang lalu, Nini Bumigarbo secara aneh tiba-tiba muncul dalam kamar Dewi Mayangsari. Tentu saja permaisuri ini terkejut bukan main. Akan tetapi segera ia mengerti bahwa nenek yang muncul secara aneh seperti setan ini adalah seorang yang amat sakti yang memilih ia menjadi murid. Nini Bumigarbo mengambil Dewi Mayangsari sebagai murid dengan syarat bahwa Dewi Mayangsari harus berusaha sekuat tenaga untuk menggerakkan suaminya agar memerangi Kahuripan dan berusaha membunuh Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama! Setelah digembleng dengan tekun selama tiga tahun, Dewi Mayangsari menguasai ilmu-ilmu yang dahsyat, juga pandai menggunakan ilmu sihir yang menyeramkan. Nini Bumigarbo kembali mengulang pesannya agar muridnya ini berusaha membunuh Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama.
"Harap Kanjeng Ibu Guru tidak khawatir. Saya pasti akan memusuhi Kahuripan dan akan berusaha agar dapat membunuh Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama. Tanpa perintah itu pun, sejak dahulu memang Kerajaan Wengker menjadi musuh besar Kahuripan. Akan tetapi mengapa Ibu Guru menghendaki kematian mereka berdua?"
Nini Bumigarbo menghela napas panjang.
"Aku menaruh dendam sakit hati kepada guru mereka, yaitu Resi Satyadharma. Karena membunuh resi yang amat sakti mandraguna itu tidak mungkin dapat kulakukan, maka aku sudah puas kalau dapat membunuh kedua orang muridnya itu."
"Akan tetapi Paduka memiliki kesaktian demikian tinggi, mengapa tidak Paduka bunuh saja mereka berdua itu sejak dulu?"
"Ah, kalau saja aku ada kesempatan untuk itu. Akan tetapi, tidak, Dewi Mayangsari, aku tidak dapat membunuh mereka dengan tanganku sendiri. Karena itulah maka aku memilih engkau untuk mewakili aku membunuh mereka."
"Mengapa tidak dapat?"
"Itu merupakan rahasiaku. Sudahlah, jangan banyak bertanya. Engkau sudah berjanji akan membunuh mereka, dan dengan bantuan pasukan Wengker dan juga orang-orang pandai di Wengker seperti Resi Bajrasakti, Senopati Linggawijaya dan lain-lain, engkau pasti akan berhasil." Nini Bumigarbo tentu saja tidak mau menceritakan bahwa ia sudah berjanji kepada Bhagawan Ekadenta untuk tidak membunuh raja dan patihnya itu, maka ia tidak dapat turun tangan sendiri. Kemudian Nini Bumigarbo berpamit dan meninggalkan istana Wengker. Demikianlah mengapa Dewi Mayangsari menjadi kesal hatinya melihat suaminya agaknya tidak mau lagi menyerang Kahuripan dan kini hanya bersenang-senang saja. Kalau pasukan Wengker tidak dikerahkan untuk menyerang Kahuripan, bagaimana mungkin ia akan dapat memenuhi perintah gurunya untuk membunuh Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama?.

Sore itu, seperti biasa, Adipati Adhamapanuda yang berusia empat puluh lima tahun itu mulai dengan pesta poranya. Kini Dewi Mayangsari tidak lagi melayaninya makan. Sudah beberapa hari ia tidak mau ikut berpesta dengan suaminya. Bahkan sore itu ia keluar dari istana memasuki tamansari yang indah. Matahari telah condong ke barat dan Dewi Mayangsari duduk termenung di atas bangku taman. Sinar matahari yang kemerahan mengelus wajahnya. Sepasang pipi yang berkulit halus dan putih kuning itu menjadi kemerahan oleh sinar matahari. Alis yang hitam kecil melengkung itu berkerut, bibir yang mungil kemerahan itu cemberut dan sinar matanya sayu, terkadang menyinarkan kemarahan. Hidung yang kecil mancung itu berkali-kali menarik napas panjang. Ia semakin muak dan benci kepada suaminya, Sang Adipati Adhamapanuda. Dulu ia mau menjadi isterinya karena sebagai puteri seorang warok ia menjadi permaisuri adipati, berarti naik derajatnya. Akan tetapi ia tidak pernah dapat mencinta Adipati Adhamapanuda yang bertubuh tinggi besar, mukanya penuh brewok dan tubuhnya berbulu seperti monyet, suaranya parau besar menjemukan. Kini ia merasa kecewa, maka ia semakin muak dan benci kepada orang yang menjadi suaminya itu. Suaminya itu mulai bermalas-malasan dan setiap malam makan minum bersenang-senang dengan para selirnya setelah mendengar pelaporan Linggajaya tentang kegagalan usaha persekutuan membantu pemberontak menggulingkan Sang Prabu Erlangga.

Sementara itu, di bagian lain dari bangunan istana itu, Linggajaya berunding dengan gurunya, Sang Resi Bajrasakti.
"Engkau benar, Linggajaya. Kerajaan Wengker harus dijadikan sebuah kerajaan yang besar dan jaya dan sekarang inilah saatnya. Aku mendukung rencanamu itu. Adipati Adhamapanuda sudah sepatutnya disingkirkan. Dia lemah dan dibawah pimpinannya, tidak dapat diharapkan Wengker akan dapat menjatuhkan Kahuripan. Rencanamu yang pertama dan kedua harus kaulaksanakan sendiri dan engkau harus berhati-hati sekali karena Dewi Mayangsari sekarang bukan seperti dulu lagi. Ingat, ia adalah murid Nini Bumigarbo, walaupun aku sendiri belum tahu ajian apa saja yang ia dapatkan dari datuk wanita itu, namun aku yakin ia tentu memiliki kepandaian tinggi sekarang. Engkau harus pandai-pandai menarik dan menguasai hatinya. Nanti pada tahap ke tiga dan terakhir, akulah yang akan membantumu dan memperkuat kedudukanmu."
"Terima kasih, Bapa Guru!" kata Linggajaya girang.
"Harap jangan khawatir, rencana kita pasti berhasil."
"Sudahlah, cepat berangkat dan laksanakan!"

Sore itu, selagi Adipati Adhamapanuda mulai dengan pestanya makan minum sambil mendengarkan alunan suara pesinden dan menonton para penari bertubuh sintal memutar-mutar pinggul mereka, Linggajaya atau Senopati Linggawijaya tahu bahwa Permaisuri Dewi Mayangsari tidak ikut berpesta. Dia sudah tahu bahwa permaisuri cantik itu diam-diam tidak suka dengan pesta pora yang dilakukan suaminya dan kini tengah duduk makan angin sejuk di dalam taman.
Linggajaya telah mandi sehingga tubuhnya segar, wajahnya yang tampan berseri. Dia mengenakan pakaian baru, bersolek sehingga bertambah ganteng. Pakaiannya menyiarkan bau harum cendana. Ketika memasuki taman dan melihat Sang Permaisuri duduk termenung seorang diri di atas bangku taman yang panjang sambil memandang ke arah kolam di depannya, di mana tumbuh bunga-bunga teratai merah dan putih, dan banyak ikan berwarna hitam, putih, kuning dan merah berenang hilir mudik, Linggajaya menghampiri dari belakang. Diam-diam dia berkemak-kemik membaca mantera Aji Pameletan Mimi-Mintuna. Setelah membaca mantera, dia mengerahkan tenaganya dan meniup ke arah tubuh Dewi Mayangsari dari belakang, dalam jarak satu tombak lebih. Dewi Mayangsari yang sedang melamun merasa ada angin menghembus tengkuknya dan hidungnya mencium harum cendana. Jantungnya berdebar dan ia merasa ada sesuatu ketidak wajaran yang membuat tubuhnya terasa panas dingin dan jantungnya berdegup kencang, ia lalu bangkit berdiri dan memutar tubuhnya. Dewi Mayangsari tidak pantas menjadi murid Nini Bumigarbo kalau ia begitu mudah tunduk oleh aji pengasihan.
Ia segera dapat menyadari bahwa pemuda tampan yang berdiri di depannya ini tentu menggunakan aji pengasihan.

<<< Bagian 03                                                                                         Bagian 05 >>>

No comments:

Post a Comment