Ia mengerahkan tenaga batinnya dan pengaruh aji pengasihan yang membuat tubuhnya panas dingin dan jantungnya berdebar-debar itu pun lenyap.
"Hemm, Senopati Linggawijaya.
Biar digunakan seribu satu macam aji pengasihan, kalau aku menolak, siapa akan
mampu memaksaku? Sebaliknya, tanpa aji pengasihan, kalau aku mau, siapa pula
yang akan melarangnya?"
Wajah Linggajaya berubah kemerahan.
Gurunya benar. Dia harus berhati-hati terhadap wanita ini. Jelas bahwa aji
pengasihannya yang amat kuat itu dapat ditolaknya! Akan tetapi dia tidak putus
asa, bahkan mendapatkan harapan baik. Bukankah permaisuri itu tadi juga
mengatakan bahwa tanpa pengasihan sekalipun, kalau ia mau, siapa yang dapat
melarangnya? Maka dia segera tersenyum manis dan membungkuk dengan sembah ke
depan dada.
"Maafkan saya, Gusti Puteri.
Kalau kehadiran saya mengganggu peristirahan Paduka, biarlah saya mengundurkan
diri."
"Tidak, Linggajaya. Kebetulan
engkau datang. Aku ingin mengajakmu bicara tentang Kahuripan."
"Ah, terima kasih, Gusti
Puteri. Saya akan senang sekali kalau dapat menceritakan dengan jelas apa yang
Paduka ingin ketahui." Setelah berkata demikian Linggajaya yang pandai
mengambil hati itu lalu duduk di atas rumput di depan permaisuri.
"Nah, saya siap mendengarkan
dan melaksanakan semua perintah Paduka."
"Ah, engkau adalah senopati
muda kami. Tidak perlu merendahkan diri seperti seorang hamba sahaya,
Linggajaya. Duduklah di bangku ini agar kita dapat lebih leluasa dan enak
bicara."
"Saya tidak berani, Gusti
Puteri."
"Hayolah, takut apa? Aku yang
memerintahmu. Bangkit dan duduk di bangku ini."
Linggajaya tidak membantah lagi lalu
duduk di atas bangku, memilih di ujung sana. Tentu saja hatinya girang sekali
akan tetapi dia tidak memperlihatkan kegembiraan itu dan bersikap sopan dan
penuh hormat kepada permaisuri yang sedang dipikatnya itu.
"Linggawijaya, bagaimana
menurut pendapatmu. Apakah Kerajaan Kahuripan yang dipimpin Sang Prabu Erlangga
dan Ki Patih Narotama itu benar-benar amat tangguh sehingga tidak mungkin
ditalukkan?"
Linggajaya berpikir sejenak, lalu
mengerutkan alisnya dan berkata,
"Menurut pendapat saya, Gusti
Puteri, mereka itu juga manusia-manusia biasa saja dan pasukan Kahuripan
tidaklah tangguh benar sehingga mereka itu pasti dapat ditalukkan!"
Suaranya mengandung ketegasan dan
keyakinan.
"Hemm, kalau begitu, Senopati
Linggawijaya, mengapa pemberontakkan Pangeran Hendratama yang didukung para
tokoh yang mewakili Empat Kerajaan termasuk engkau sendiri, gagal sama
sekali?"
"Kegagalan itu disebabkan oleh
beberapa hal, Gusti Puteri. Pertama, Pangeran Hendratama itu tidak becus
menghimpun laskar sehingga pasukan Kahuripan yang dapat dibujuk untuk
mendukungnya hanya sedikit dan tidak setia sehingga ketika bertempur, banyak
yang cepat menyerah dan melarikan diri. Kedua, di antara para wakil Empat
Kerajaan ada yang berkhianat, yaitu Puspa Dewi, murid dan juga anak angkat Nyi
Dewi Durgakumala yang menjadi Permaisuri Wura-Wuri. Ia berkhianat dengan
berbalik membela Kahuripan dan lebih dari itu, ia sengaja mengirim laporan
terlambat sehingga Wura-Wuri terlambat pula mengirim bantuan pasukan. Dan yang
ke tiga, sungguh menggemaskan, dua orang puteri Parang Siluman itu, agaknya mereka
yang telah menjadi selir-selir Sang Prabu Erlangga dan Ki patih
Narotama...."
"Maksudmu Puteri Mandari dan
Lasmini?"
"Benar, Gusti Puteri. Mereka
itu menjemukan sekali, agaknya mereka tidak tega kepada raja dan patihnya itu,
atau mungkin karena terlanjur mencinta mereka sehingga tidak melakukan usaha
sungguh-sungguh, bahkan mereka melarikan diri lebih dulu kembali ke Parang
Siluman. Kalau saja ketiga hal itu tidak terjadi, sudah pasti sekarang Sang
Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama telah dapat dibinasakan dan Kahuripan
dapat ditalukkan."
"Ya, sayang sekali. Akan tetapi
setelah usaha itu gagal, mengapa sama sekali tidak ada gerakan dari semua Empat
Kerajaan?"
"Itulah yang membuat saya
merasa jengkel dan juga menyesal, Gusti Puteri. Mereka itu mungkin ketakutan
terhadap Kahuripan setelah kegagalan itu sehingga tidak ada yang perduli lagi.
Bahkan ada yang bersembunyi di balik pelesir berfoya-foya, mungkin agar tidak
diketahui bahwa di dalam hati, mereka itu sebenarnya ketakutan. Ah, maafkan
saya, Gusti Puteri! Bukan maksud saya untuk... maksud saya... saya tidak
menyinggung Gusti Adipati...."
Dewi Mayangsari tersenyum memandang
wajah pemuda itu.
"Tidak, Senopati Linggawijaya,
aku tidak menyalahkan engkau. Memang apa yang kaukatakan itu benar dan tepat sekali
cocok dengan suara hatiku. Mereka itu memang orang-orang pengecut! Termasuk
Adipati Adhamapanudal. Ketahuilah Linggawijaya, tidak ada orang yang merasa
lebih penasaran, lebih benci dan muak, daripada aku sendiri melihat ulah
Adipati Adhamapanuda yang setiap hari hanya berpesta pora, mabok-mabokan,
sedikit pun tidak mempunyai semangat untuk menentang musuh besar kita
Kahuripan. Sungguh aku merasa muak dan benci sekali padanya!"
"Maaf, Gusti Puteri. Kalau
Paduka tidak pernah mengeluarkan isi hati seperti itu, tentu saya tidak akan
berani mengusulkan ini. Akan tetapi kalau Paduka menderita batin melihat semua
foya-foya yang menyakitkan hati itu, mengapa Paduka tidak memegang sendiri
kendalinya?"
"Lingga.... apa maksudmu?"
Berdebar rasa jantung Linggajaya
mendengar namanya disebut Lingga saja dan terdengar begitu mesra. Dia menatap
wajah wanita itu dan sepasang matanya membayangkan kemesraan dan cinta yang
jelas sekali tampak, apalagi oleh seorang wanita yang sudah hampir tiga puluh
tahun usianya, sudah mengenal betul apa yang terpancar dari dalam hati pria
melalui pandang matanya. Maka, permaisuri cantik itu pun segera mengetahui
bahwa Sang Senopati muda ini tergila-gila kepadanya! Hal seperti ini tidak aneh
baginya karena banyak sudah laki-laki yang memandang kepadanya seperti itu!
Akan tetapi selama ini ia tidak pernah melayani para pria yang tergila-gila
kepadanya. Pertama karena la harus memegang kehormatannya sebagai seorang
prameswari yang dimuliakan orang, ke dua karena ia tidak merasa tertarik kepada
seorang pun di antara para pengagumnya itu. Akan tetapi kini, sejak setahun
yang lalu ketika Linggajaya dibawa Resi Bajrasakti menghadap Sang Adipati, ia
sudah tertarik oleh ketampanan dan kegagahan pemuda itu. Bahkan ia yang
mengusulkan kepada suaminya untuk mengangkat Linggajaya menjadi senopati dengan
nama Linggawijaya. Dan kini, baru sekali ini mereka duduk bercakap-cakap berdua
saja, ia semakin tertarik karena terdapat persamaan perasaan dan pendapat. Maka
ketika pandang matanya bertemu dengan sinar mata yang terang-terangan
menyatakan kekaguman dan cinta dari pemuda itu, ia merasa jantungnya berdegup
tegang.
“Maksud saya, Gusti Puteri. Kalau
Paduka yang memegang kendali atau memimpin langsung Kerajaan Wengker ini, maka
kita dapat menghimpun kekuatan dan kerajaan kitalah yang akan mampu
menghancurkan Kahuripan dan membinasakan Erlangga dan Narotama!"
"Kita...?" Permaisuri itu
mendesak dan memandang tajam penuh selidik ke arah wajah Linggajaya.
"Ya, Paduka dan saya, kita ini.
Saya akan membantu Paduka dengan setia dan saya rela berkorban nyawa untuk
membantu Paduka!"
Dewi Mayangsari mulai terpikat.
Linggajaya memang seorang pemuda yang ganteng dan tutur bahasanya juga lembut,
sopan dan memikat. Ditambah lagi dengan sinar matanya yang mengandung daya meruntuhkan
hati wanita, senyumnya yang menawan. Hati Dewi Mayangsari yang memang sedang
jengkel melihat ulah suaminya, segera terpikat.
"Lingga, katakan terus terang,
mengapa engkau rela berkorban nyawa untukku? Mengapa? Hayo jawab, Lingga."
Pemuda itu menundukkan mukanya,
tampak rikuh.
"Saya.... saya tidak berani
menjawab Gusti Puteri. Saya takut Paduka akan marah kepada saya."
Cuaca mulai gelap. Senja telah tua
dan cuaca remang-remang, malam mulai menjelang. Ada sesuatu dalam suara pemuda
itu yang menggetarkan jantung Dewi Mayangsari. Agar dapat melihat lebih jelas
wajah dan sinar mata pemuda itu. Dewi Mayangsari menggeser duduknya mendekat
dan ia memegang sebelah tangan Linggajaya. Jari-jari tangan mereka saling
menggenggam dan keduanya merasa kehangatan yang menggairahkan menyelinap dari
tangan itu ke seluruh tubuh. Melihat pemuda Itu diam saja seolah ketakutan,
Dewi Mayangsari berkata lirih.
"Jangan takut, Lingga.
Bagaimana aku dapat marah kepada engkau yang begini setia kepadaku? Katakan
sajalah terus terang karena aku ingin sekali mengetahui. Mengapa engkau rela
berkorban nyawa untukku?"
"Karena.... karena saya....
hemm, maafkan saya.... sesungguhnya saya mencinta Paduka dengan seluruh jiwa
raga saya!"
Pernyataan cinta itu terdengar
seperti bunyi gamelan dari sorgaloka bagi telinga Dewi Mayangsari. Betapa
Indahnya! Dewi Mayangsari dibakar gairah berahi yang belum pernah ia rasakan
sehingga sukar dikatakan siapa yang memulai lebih dulu, akan tetapi tahu-tahu
dua orang itu saling rangkul dengan mesra. Dua orang itu tenggelam dalam gelora
nafsu sehingga mereka lupa segala. Dewi Mayangsari lupa bahwa ia adalah seorang
permaisuri, isteri Sang Adipati, sedangkan Linggajaya lupa bahwa dia seorang
ponggawa, diangkat oleh Sang Adipati Adhamapanuda yang kini dia khianati.
Selagi keduanya berasyik-masyuk seperti mabok sehingga kehilangan kewaspadaan,
mereka tidak tahu kalau ada bayangan tinggi besar menghampiri mereka sampai
dekat.
"Hordah!" orang bertubuh
raksasa itu membentak.
"Siapa Andika, berani mencuri
masuk tamansari?"
Dewi Mayangsari dan Linggajaya
terkejut. Buaian asmara tadi membuat mereka mabok dan lengah. Mereka mengenal
suara yang membentak itu. Suara Limantoko, pengawal pribadi Adipati
Adhamapanuda yang bertubuh raksasa dan memiliki tenaga sekuat gajah. Akan
tetapi jagoan ini pernah dikalahkan Linggajaya ketika pemuda itu baru datang di
Wengker menghadap Sang Adipati kemudian dia diuji dan dihadapkan kepada raksasa
ini. Karena selagi bermesraan tadi mereka ketahuan Limantoko, maka Dewi
Mayangsari berbisik kepada kekasihnya.
"Lingga, bunuh dia!"
Tanpa diperintah dua kali,
Linggajaya melompat dan bagaikan seekor harimau kelaparan, dia menerkam dan
menerjang pengawal pribadi Sang Adipati itu. Karena dia menyerang untuk
membunuh maka dia sudah mencabut kerisnya yang luk tiga belas, yaitu keris
pusaka Kyai Candalamanik pemberian Resi Bajrasakti. Serangannya demikian
tiba-tiba dan cepat datangnya sehingga Limantoko tidak sempat menghindar lagi.
"Capp....!" Keris pusaka
yang mengandung racun itu memasuki rongga dada Limantoko dan mengenai
jantungnya.
"Auggghhh....!" Limantoko
terhuyung sambil mendekap luka di dada yang mengucurkan darah. Akan tetapi
selagi dia hendak berteriak, Linggajaya sudah menyusulkan sebuah tamparan Aji
Siung Naga ke arah kepalanya.
"Wuuutt... prakkk" Kepala
itu pecah berantakan. Tubuh Limantoko terpelanting dan dia tewas seketika.
"Bagus, Lingga." Dewi
Mayangsari memuji.
"Kebetulan sekali. Kelancangan
Limantoko ini menguntungkan kita. Dengarkan baik-baik, Lingga. Kita harus
segera lakukan Ini."
Dewi Mayangsari mendekati
kekasihnya, merangkul pundaknya dan menempelkan mulutnya dekat telinga
Linggajaya. Pemuda itu terkejut, akan tetapi hanya sebentar. Kecerdikan
Mayangsari membuatnya kagum. Dia mencium bibir wanita itu dan berbisik.
"Akan kulakukan semua
perintahmu, Dewi. Mari kita laksanakan seperti yang kaurencanakan itu."
Kini sikap dan kata-kata Linggajaya terhadap Dewi Mayangsari sudah berubah sama
sekail, bukan sikap seorang bawahan terhadap atasan atau junjungannya,
melainkan sikap dan kata-kata seorang laki-laki terhadap kekasihnya!
Terjadi kesibukan di malam yang
gelap itu. Sang Adipati Adhamapanuda sendiri masih tenggelam ke dalam pesta
poranya, makan minum sepuasnya sambil menonton para penari menggoyang pundak
dan pinggul sambil bernyanyi gembira. Seperti biasa, para selir Sang Adipati,
tujuh orang jumlahnya, melayani suami mereka dan ikut pula makan minum dengan
gembira. Dari permaisuri dan tujuh orang selirnya. Adipati Adhamapanuda hanya
mempunyai dua orang putera yang dilahirkan dua orang selirnya. Dua orang
puteranya itu bernama Rajendra dan Mahendra, berusia sepuluh dan delapan tahun.
Karena dua orang kakak dan adik ini tidak mempunyai saudara lain, maka mereka
akrab sekali dan tidur pun mereka minta agar sekamar. Mereka memiliki sebuah
kamar sendiri, kamar yang cukup luas dan mewah. Dan mereka ditemani seorang
inang pengasuh, seorang wanita setengah tua berusia empat puluhan tahun. Pada
malam hari itu, seperti biasa, Raden Rajendra dan Raden Mahendra sudah berada
dalam kamar mereka. Mereka memang tidak diperbolehkan ikut hadir dalam pesta
Sang Adipati Adhamapanuda. Mereka bermain-main dalam kamar ditemani Nyai Ranu,
sang inang pengasuh. Suara gamelan terdengar sampai ke kamar mereka.
No comments:
Post a Comment