Nurseta Satria Karangtirta ; Bagian 05


Ia mengerahkan tenaga batinnya dan pengaruh aji pengasihan yang membuat tubuhnya panas dingin dan jantungnya berdebar-debar itu pun lenyap.
"Hemm, Senopati Linggawijaya. Biar digunakan seribu satu macam aji pengasihan, kalau aku menolak, siapa akan mampu memaksaku? Sebaliknya, tanpa aji pengasihan, kalau aku mau, siapa pula yang akan melarangnya?"
Wajah Linggajaya berubah kemerahan. Gurunya benar. Dia harus berhati-hati terhadap wanita ini. Jelas bahwa aji pengasihannya yang amat kuat itu dapat ditolaknya! Akan tetapi dia tidak putus asa, bahkan mendapatkan harapan baik. Bukankah permaisuri itu tadi juga mengatakan bahwa tanpa pengasihan sekalipun, kalau ia mau, siapa yang dapat melarangnya? Maka dia segera tersenyum manis dan membungkuk dengan sembah ke depan dada.
"Maafkan saya, Gusti Puteri. Kalau kehadiran saya mengganggu peristirahan Paduka, biarlah saya mengundurkan diri."
"Tidak, Linggajaya. Kebetulan engkau datang. Aku ingin mengajakmu bicara tentang Kahuripan."
"Ah, terima kasih, Gusti Puteri. Saya akan senang sekali kalau dapat menceritakan dengan jelas apa yang Paduka ingin ketahui." Setelah berkata demikian Linggajaya yang pandai mengambil hati itu lalu duduk di atas rumput di depan permaisuri.
"Nah, saya siap mendengarkan dan melaksanakan semua perintah Paduka."
"Ah, engkau adalah senopati muda kami. Tidak perlu merendahkan diri seperti seorang hamba sahaya, Linggajaya. Duduklah di bangku ini agar kita dapat lebih leluasa dan enak bicara."
"Saya tidak berani, Gusti Puteri."
"Hayolah, takut apa? Aku yang memerintahmu. Bangkit dan duduk di bangku ini."

Linggajaya tidak membantah lagi lalu duduk di atas bangku, memilih di ujung sana. Tentu saja hatinya girang sekali akan tetapi dia tidak memperlihatkan kegembiraan itu dan bersikap sopan dan penuh hormat kepada permaisuri yang sedang dipikatnya itu.
"Linggawijaya, bagaimana menurut pendapatmu. Apakah Kerajaan Kahuripan yang dipimpin Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama itu benar-benar amat tangguh sehingga tidak mungkin ditalukkan?"
Linggajaya berpikir sejenak, lalu mengerutkan alisnya dan berkata,
"Menurut pendapat saya, Gusti Puteri, mereka itu juga manusia-manusia biasa saja dan pasukan Kahuripan tidaklah tangguh benar sehingga mereka itu pasti dapat ditalukkan!"
Suaranya mengandung ketegasan dan keyakinan.
"Hemm, kalau begitu, Senopati Linggawijaya, mengapa pemberontakkan Pangeran Hendratama yang didukung para tokoh yang mewakili Empat Kerajaan termasuk engkau sendiri, gagal sama sekali?"
"Kegagalan itu disebabkan oleh beberapa hal, Gusti Puteri. Pertama, Pangeran Hendratama itu tidak becus menghimpun laskar sehingga pasukan Kahuripan yang dapat dibujuk untuk mendukungnya hanya sedikit dan tidak setia sehingga ketika bertempur, banyak yang cepat menyerah dan melarikan diri. Kedua, di antara para wakil Empat Kerajaan ada yang berkhianat, yaitu Puspa Dewi, murid dan juga anak angkat Nyi Dewi Durgakumala yang menjadi Permaisuri Wura-Wuri. Ia berkhianat dengan berbalik membela Kahuripan dan lebih dari itu, ia sengaja mengirim laporan terlambat sehingga Wura-Wuri terlambat pula mengirim bantuan pasukan. Dan yang ke tiga, sungguh menggemaskan, dua orang puteri Parang Siluman itu, agaknya mereka yang telah menjadi selir-selir Sang Prabu Erlangga dan Ki patih Narotama...."
"Maksudmu Puteri Mandari dan Lasmini?"
"Benar, Gusti Puteri. Mereka itu menjemukan sekali, agaknya mereka tidak tega kepada raja dan patihnya itu, atau mungkin karena terlanjur mencinta mereka sehingga tidak melakukan usaha sungguh-sungguh, bahkan mereka melarikan diri lebih dulu kembali ke Parang Siluman. Kalau saja ketiga hal itu tidak terjadi, sudah pasti sekarang Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama telah dapat dibinasakan dan Kahuripan dapat ditalukkan."
"Ya, sayang sekali. Akan tetapi setelah usaha itu gagal, mengapa sama sekali tidak ada gerakan dari semua Empat Kerajaan?"
"Itulah yang membuat saya merasa jengkel dan juga menyesal, Gusti Puteri. Mereka itu mungkin ketakutan terhadap Kahuripan setelah kegagalan itu sehingga tidak ada yang perduli lagi. Bahkan ada yang bersembunyi di balik pelesir berfoya-foya, mungkin agar tidak diketahui bahwa di dalam hati, mereka itu sebenarnya ketakutan. Ah, maafkan saya, Gusti Puteri! Bukan maksud saya untuk... maksud saya... saya tidak menyinggung Gusti Adipati...."
Dewi Mayangsari tersenyum memandang wajah pemuda itu.
"Tidak, Senopati Linggawijaya, aku tidak menyalahkan engkau. Memang apa yang kaukatakan itu benar dan tepat sekali cocok dengan suara hatiku. Mereka itu memang orang-orang pengecut! Termasuk Adipati Adhamapanudal. Ketahuilah Linggawijaya, tidak ada orang yang merasa lebih penasaran, lebih benci dan muak, daripada aku sendiri melihat ulah Adipati Adhamapanuda yang setiap hari hanya berpesta pora, mabok-mabokan, sedikit pun tidak mempunyai semangat untuk menentang musuh besar kita Kahuripan. Sungguh aku merasa muak dan benci sekali padanya!"
"Maaf, Gusti Puteri. Kalau Paduka tidak pernah mengeluarkan isi hati seperti itu, tentu saya tidak akan berani mengusulkan ini. Akan tetapi kalau Paduka menderita batin melihat semua foya-foya yang menyakitkan hati itu, mengapa Paduka tidak memegang sendiri kendalinya?"
"Lingga.... apa maksudmu?"

Berdebar rasa jantung Linggajaya mendengar namanya disebut Lingga saja dan terdengar begitu mesra. Dia menatap wajah wanita itu dan sepasang matanya membayangkan kemesraan dan cinta yang jelas sekali tampak, apalagi oleh seorang wanita yang sudah hampir tiga puluh tahun usianya, sudah mengenal betul apa yang terpancar dari dalam hati pria melalui pandang matanya. Maka, permaisuri cantik itu pun segera mengetahui bahwa Sang Senopati muda ini tergila-gila kepadanya! Hal seperti ini tidak aneh baginya karena banyak sudah laki-laki yang memandang kepadanya seperti itu! Akan tetapi selama ini ia tidak pernah melayani para pria yang tergila-gila kepadanya. Pertama karena la harus memegang kehormatannya sebagai seorang prameswari yang dimuliakan orang, ke dua karena ia tidak merasa tertarik kepada seorang pun di antara para pengagumnya itu. Akan tetapi kini, sejak setahun yang lalu ketika Linggajaya dibawa Resi Bajrasakti menghadap Sang Adipati, ia sudah tertarik oleh ketampanan dan kegagahan pemuda itu. Bahkan ia yang mengusulkan kepada suaminya untuk mengangkat Linggajaya menjadi senopati dengan nama Linggawijaya. Dan kini, baru sekali ini mereka duduk bercakap-cakap berdua saja, ia semakin tertarik karena terdapat persamaan perasaan dan pendapat. Maka ketika pandang matanya bertemu dengan sinar mata yang terang-terangan menyatakan kekaguman dan cinta dari pemuda itu, ia merasa jantungnya berdegup tegang.
“Maksud saya, Gusti Puteri. Kalau Paduka yang memegang kendali atau memimpin langsung Kerajaan Wengker ini, maka kita dapat menghimpun kekuatan dan kerajaan kitalah yang akan mampu menghancurkan Kahuripan dan membinasakan Erlangga dan Narotama!"
"Kita...?" Permaisuri itu mendesak dan memandang tajam penuh selidik ke arah wajah Linggajaya.
"Ya, Paduka dan saya, kita ini. Saya akan membantu Paduka dengan setia dan saya rela berkorban nyawa untuk membantu Paduka!"
Dewi Mayangsari mulai terpikat. Linggajaya memang seorang pemuda yang ganteng dan tutur bahasanya juga lembut, sopan dan memikat. Ditambah lagi dengan sinar matanya yang mengandung daya meruntuhkan hati wanita, senyumnya yang menawan. Hati Dewi Mayangsari yang memang sedang jengkel melihat ulah suaminya, segera terpikat.
"Lingga, katakan terus terang, mengapa engkau rela berkorban nyawa untukku? Mengapa? Hayo jawab, Lingga."
Pemuda itu menundukkan mukanya, tampak rikuh.
"Saya.... saya tidak berani menjawab Gusti Puteri. Saya takut Paduka akan marah kepada saya."

Cuaca mulai gelap. Senja telah tua dan cuaca remang-remang, malam mulai menjelang. Ada sesuatu dalam suara pemuda itu yang menggetarkan jantung Dewi Mayangsari. Agar dapat melihat lebih jelas wajah dan sinar mata pemuda itu. Dewi Mayangsari menggeser duduknya mendekat dan ia memegang sebelah tangan Linggajaya. Jari-jari tangan mereka saling menggenggam dan keduanya merasa kehangatan yang menggairahkan menyelinap dari tangan itu ke seluruh tubuh. Melihat pemuda Itu diam saja seolah ketakutan, Dewi Mayangsari berkata lirih.
"Jangan takut, Lingga. Bagaimana aku dapat marah kepada engkau yang begini setia kepadaku? Katakan sajalah terus terang karena aku ingin sekali mengetahui. Mengapa engkau rela berkorban nyawa untukku?"
"Karena.... karena saya.... hemm, maafkan saya.... sesungguhnya saya mencinta Paduka dengan seluruh jiwa raga saya!"
Pernyataan cinta itu terdengar seperti bunyi gamelan dari sorgaloka bagi telinga Dewi Mayangsari. Betapa Indahnya! Dewi Mayangsari dibakar gairah berahi yang belum pernah ia rasakan sehingga sukar dikatakan siapa yang memulai lebih dulu, akan tetapi tahu-tahu dua orang itu saling rangkul dengan mesra. Dua orang itu tenggelam dalam gelora nafsu sehingga mereka lupa segala. Dewi Mayangsari lupa bahwa ia adalah seorang permaisuri, isteri Sang Adipati, sedangkan Linggajaya lupa bahwa dia seorang ponggawa, diangkat oleh Sang Adipati Adhamapanuda yang kini dia khianati. Selagi keduanya berasyik-masyuk seperti mabok sehingga kehilangan kewaspadaan, mereka tidak tahu kalau ada bayangan tinggi besar menghampiri mereka sampai dekat.
"Hordah!" orang bertubuh raksasa itu membentak.
"Siapa Andika, berani mencuri masuk tamansari?"
Dewi Mayangsari dan Linggajaya terkejut. Buaian asmara tadi membuat mereka mabok dan lengah. Mereka mengenal suara yang membentak itu. Suara Limantoko, pengawal pribadi Adipati Adhamapanuda yang bertubuh raksasa dan memiliki tenaga sekuat gajah. Akan tetapi jagoan ini pernah dikalahkan Linggajaya ketika pemuda itu baru datang di Wengker menghadap Sang Adipati kemudian dia diuji dan dihadapkan kepada raksasa ini. Karena selagi bermesraan tadi mereka ketahuan Limantoko, maka Dewi Mayangsari berbisik kepada kekasihnya.
"Lingga, bunuh dia!"

Tanpa diperintah dua kali, Linggajaya melompat dan bagaikan seekor harimau kelaparan, dia menerkam dan menerjang pengawal pribadi Sang Adipati itu. Karena dia menyerang untuk membunuh maka dia sudah mencabut kerisnya yang luk tiga belas, yaitu keris pusaka Kyai Candalamanik pemberian Resi Bajrasakti. Serangannya demikian tiba-tiba dan cepat datangnya sehingga Limantoko tidak sempat menghindar lagi.
"Capp....!" Keris pusaka yang mengandung racun itu memasuki rongga dada Limantoko dan mengenai jantungnya.
"Auggghhh....!" Limantoko terhuyung sambil mendekap luka di dada yang mengucurkan darah. Akan tetapi selagi dia hendak berteriak, Linggajaya sudah menyusulkan sebuah tamparan Aji Siung Naga ke arah kepalanya.
"Wuuutt... prakkk" Kepala itu pecah berantakan. Tubuh Limantoko terpelanting dan dia tewas seketika.
"Bagus, Lingga." Dewi Mayangsari memuji.
"Kebetulan sekali. Kelancangan Limantoko ini menguntungkan kita. Dengarkan baik-baik, Lingga. Kita harus segera lakukan Ini."
Dewi Mayangsari mendekati kekasihnya, merangkul pundaknya dan menempelkan mulutnya dekat telinga Linggajaya. Pemuda itu terkejut, akan tetapi hanya sebentar. Kecerdikan Mayangsari membuatnya kagum. Dia mencium bibir wanita itu dan berbisik.
"Akan kulakukan semua perintahmu, Dewi. Mari kita laksanakan seperti yang kaurencanakan itu." Kini sikap dan kata-kata Linggajaya terhadap Dewi Mayangsari sudah berubah sama sekail, bukan sikap seorang bawahan terhadap atasan atau junjungannya, melainkan sikap dan kata-kata seorang laki-laki terhadap kekasihnya!

Terjadi kesibukan di malam yang gelap itu. Sang Adipati Adhamapanuda sendiri masih tenggelam ke dalam pesta poranya, makan minum sepuasnya sambil menonton para penari menggoyang pundak dan pinggul sambil bernyanyi gembira. Seperti biasa, para selir Sang Adipati, tujuh orang jumlahnya, melayani suami mereka dan ikut pula makan minum dengan gembira. Dari permaisuri dan tujuh orang selirnya. Adipati Adhamapanuda hanya mempunyai dua orang putera yang dilahirkan dua orang selirnya. Dua orang puteranya itu bernama Rajendra dan Mahendra, berusia sepuluh dan delapan tahun. Karena dua orang kakak dan adik ini tidak mempunyai saudara lain, maka mereka akrab sekali dan tidur pun mereka minta agar sekamar. Mereka memiliki sebuah kamar sendiri, kamar yang cukup luas dan mewah. Dan mereka ditemani seorang inang pengasuh, seorang wanita setengah tua berusia empat puluhan tahun. Pada malam hari itu, seperti biasa, Raden Rajendra dan Raden Mahendra sudah berada dalam kamar mereka. Mereka memang tidak diperbolehkan ikut hadir dalam pesta Sang Adipati Adhamapanuda. Mereka bermain-main dalam kamar ditemani Nyai Ranu, sang inang pengasuh. Suara gamelan terdengar sampai ke kamar mereka.

<<< Bagian 04                                                                                         Bagian 06 >>>

No comments:

Post a Comment