Seperti biasa pada malam-malam pesta yang lalu, para penghuni istana kadipaten tertarik untuk nonton pesta itu, walaupun tidak hadir di ruangan itu. Tujuan mereka tertarik untuk menonton dan mendengarkan para penari yang berjoget sambil bertembang. Karena perhatian para pelayan dan pengawal tertuju ke arah ruangan pesta, maka suasana dalam istana itu menjadi sunyi. Tiba-tiba daun pintu kamar kedua orang pangeran muda itu terbuka dari luar. Linggajaya melompat masuk sambil membawa sebuah ruyung besar. Nyai Ranu terkejut dan menjerit. Akan tetapi hanya satu kali saja ia menjerit karena ruyung itu telah menyambar dan terdengar suara gaduh ketika kepalanya disambar ruyung dan tubuhnya terbanting ke atas lantai, tewas seketika! Dua orang pangeran kecil itu terbelalak lalu berloncatan berdiri dengan muka pucat. Melihat pengasuh mereka roboh mandi darah, mereka lalu menjerit minta tolong. Akan tetapi Linggajaya sudah bergerak cepat, ruyungnya menyambar-nyambar dan dua orang pangeran kecil itu pun roboh dengan kepala pecah dan tewas seketika. Setelah itu, Linggajaya cepat keluar, menyeret mayat Limantoko, setelah berada dalam kamar dia menaruh ruyung ke dalam tangan pengawal pribadi Sang Adipati itu dan dia sendiri berdiri dengan keris pusaka Candalamanik di tangan kanan!
Jeritan-jeritan itu memancing
datangnya para pengawal dan pelayan. Mereka terkejut sekali ketika memasuki
kamar Pangeran. Setelah mendengar dari Linggajaya bahwa Limantoko membunuh dua
Pangeran dan pengasuh mereka, para pengawal segera lari melaporkan malapetaka
ini kepada Sang Adipati Adahamapanuda. Mendengar laporan mengerikan itu, Sang
Adipati dan tujuh orang selirnya berlari-lari menuju ke kamar itu. Tampak pula
Sang Permaisuri Dewi Mayangsari keluar dari kamarnya dan ikut berlarian bersama
mereka. Dua orang selir Sang Adipati, ibu kandung dua orang Pangeran itu,
menjerit-jerit, menubruk mayat anak-anak mereka dan meraung-raung. Para selir
lain dan para pelayan wanita juga ikut menangis sehingga suasana menjadi riuh
dan menyedihkan.
Sang Adipati Adhamapanuda yang
setengah mabok itu berdiri dengan wajah pucat memandang ke arah mayat kedua
orang puteranya, lalu kepada mayat Limantoko. Dia terhuyung akan roboh, akan
tetapi Dewi Mayangsari cepat menangkap lengannya dan diajaknya suaminya itu
keluar kamar. Ia menarik Sang Adipati duduk di atas bangku yang terdapat di
luar kamar, lalu berteriak memanggil.
"Senopati Linggawijaya, Andika
ke sinilah!" Sang Permaisuri memanggil.
Linggajaya yang sedang bercerita
kepada para pengawal, cepat keluar dan menjatuhkan diri duduk bersila menghadap
Sang Adipati. Akan tetapi, saking kaget dan sedihnya, Adipati Adhamapanuda
tidak dapat bicara dan diam saja sambil memandang Linggajaya dengan bingung.
Dewi Mayangsari yang bertanya kepada Linggajaya dengan suara lantang.
"Hei, Senopati Linggawijaya!
Cepat ceritakan selengkapnya dengan jelas, apa yang telah terjadi di sini?
Andika menjadi saksi tunggal, awas, jangan berbohong!"
Karena pertanyaan itu diajukan
dengan suara lantang, semua orang mendengarnya dan kini mereka yang berada
dalam kamar pun keluar untuk mendengarkan jawaban Senopati Linggawijaya.
Linggajaya lalu berkata dengan sikap
hormat kepada Adipati Adhamapanuda.
"Maafkan hamba, Gusti Adipati
dan Gusti Puteri, hamba sungguh menyesal sekali bahwa hamba terlambat dan tidak
dapat menyelamatkan kedua orang Gusti Pangeran Alit (kecil) dari malapetaka
yang membawa maut. Tadi hamba keluar dari kamar hamba dengan maksud menonton
tarian. Akan tetapi hamba melihat berkelebatnya bayangan dan ketika hamba
membayanginya, bayangan itu lenyap. Hamba menjadi curiga dan hamba kembali ke
kamar untuk mengambil keris pusaka hamba. Ketika hamba keluar lagi dari kamar,
hamba mendengar jeritan-jeritan dari kamar Gusti Pangeran ini, maka hamba cepat
berlari ke sini. Ternyata hamba melihat Limantoko telah membunuh kedua orang
Gusti Pangeran dan inang pengasuh mereka. Hamba segera menyerangnya dengan
keris, lalu memukulnya dengan tangan kiri sehingga dia roboh dan tewas.
Begitulah, Gusti, apa yang telah terjadi dan hamba menyesal sekali bahwa hamba
terlambat menyelamatkan para Gusti Pangeran."
"Duh Jagad Dewa
Bathara...!" Adipati Adhamapanuda mengeluh dengan suaranya yang biasanya
besar itu menjadi semakin parau.
"Mengapa Limantoko dapat
melakukan kekejian ini? Padahal, sudah lama dia menjadi pengawal pribadiku yang
setial Mengapa dia lakukan ini? Apa dia sudah gila....?"
Resi Bajrasakti yang baru saja
datang ke tempat itu, menghampiri Sang Adipati, menyentuh lengannya dan berkata
dengan suaranya yang penuh wibawa.
"Harap Paduka tenang, Adimas
Adipati. Kematian adalah hak Sang Yamadipati dan sudah ditentukan oleh para
dewa. Saya dapat menduga mengapa Limantoko melakukan perbuatan ini."
"Mengapa, Kakang Resi? Mengapa
dia membunuh putera-puteraku?”
“Tentu saja bukan keluar dari
hatinya sendiri, tidak ada sesuatu yang menguntungkan dia dengan membunuh kedua
orang putera Paduka. Maka jelaslah bahwa dia pasti dipengaruhi orang lain dan
siapa orang yang begitu membenci Paduka sehingga tega melakukan pembunuhan ini?
Hanya ada satu orang, yaitu Sang Prabu Erlangga! Kerajaan Wengker merupakan
musuh bebuyutan Kahuripan, maka saya merasa yakin bahwa peristiwa ini pasti
didalangi oleh Raja Kahuripan itu."
Hening sejenak. Lalu tiba-tiba
Adipati Adhamapanuda mengeluarkan teriakan parau seperti seekor binatang buas
terluka.
“Jahanam engkau Erlangga"
Setelah berteriak seperti itu,
Adipati Adhamapanuda terkulai lemas dan jatuh pingsan. Dewi Mayangsari, dibantu
para selir, segera mengangkat Sang Adipati ke dalam kamarnya. Sejak saat itu,
Adipati Adhamapanuda jatuh sakit. Tidak ada dukun yang dapat mengobatinya.
Makin hari penyakitnya semakin parah. Dewi Mayangsari, permaisurinya, turun
tangan sendiri merawat Sang Adipati siang malam. Bahkan ia tidak memperbolehkan
selir-selir Sang Adipati menggantikannya merawat suami mereka. Permaisuri ini
merawat suaminya dengan penuh ketekunan dan tampaknya amat mencinta Sang
Adipati.
Sementara itu, ketika Adipati
Adhamapanuda sakit berat, yang menggantikannya untuk sementara menangani urusan
pemerintahan kadipaten adalah penasihatnya, Sang Resi. Bajrasakti dibantu
Senopati Muda Linggawijaya. Dan ternyata dua orang ini dapat melaksanakan
tugasnya dengan baik sekali. Bahkan mengadakan perubahan-perubahan dan
perombakan, terutama sekali ditujukan untuk memperkuat Kerajaan wengker.
Menambah jumlah pasukan dengan menerima para sukarelawan, memperbesar upah para
prajurit, menambah kesejahteraan mereka. Tentu saja tindakan Senopati Muda
Linggawljaya itu mendapat sambutan gembira oleh pasukan Wengker dan dia
memperoleh dukungan banyak pihak. Kurang lebih setengah bulan sejak terjadinya
peristiwa pembunuhan itu, Sang Adipati Adhamapanuda meninggal dunia karena
penyakitnya yang tak dapat disembuhkan oleh para dukun dan ahli pengobatan.
Menurut kebiasaan atau peraturan
yang sudah-sudah, kematian seorang raja atau adipati biasanya disusul dengan
pengangkatan seorang adipati baru yang diambil dari seorang puteranya. Akan
tetapi karena dua orang putera Adipati Adhamapanuda sudah meninggal dunia, maka
kedudukannya dapat digantikan oleh permaisurinya, apalagi mengingat bahwa Dewi
Mayangsari seorang yang sakti mandraguna. Akan tetapi, Dewi Mayangsari secara
suka rela menyerahkan kedudukan adipati kepada Linggajaya. Usul Dewi Mayangsari
ini disetujui dan didukung pula oleh Sang Resi Bajrasakti. Kalau dua orang yang
tadinya memang telah merupakan orang-orang yang kekuasaannya hanya di bawah
kekuasaan Sang Adipati mendukung pengangkatan Linggajaya sebagal Adipati baru
di Wengker, siapa yang berani menentang? Akhirnya semua ponggawa menyetujui
pengangkatan itu dan mulai hari itu, Linggajaya dinobatkan sebagai Adipati
Wengker dengan nama Sang Adipati Linggawijaya! Penobatan sebagai adipati itu
dirayakan oleh semua orang, dari para ponggawa, para perajurit dan juga rakyat
Wengker. Akan tetapi malam harinya, tiga orang mengadakan pesta sendiri yang
hanya dihadiri mereka bertiga. Mereka adalah adipati baru, Linggawijaya, Dewi
Mayangsari, dan Resi Bajrasakti yang merasa gembira sekali. Siasat mereka
berhasil dengan baik sekali. Tidak sukar bagi kita untuk menduga apa yang
sebenarnya terjadi. Setelah Linggajaya dan Dewi Mayangsari membunuh Limantoko
karena pengawal itu memergoki mereka bermain asmara, lalu Dewi Mayangsari dan
Linggajaya melaksanakan siasat mereka yang amat kejam. Linggajaya membunuh dua
orang pangeran kecil dan inang pengasuh mereka dengan menjatuhkan fitnah kepada
Limantoko yang mayatnya dibawa ke kamar pangeran itu dan ruyungnya dipakai Linggajaya
untuk melakukan pembunuhan. Kemudian tiba giliran Dewi Mayangsari yang
mencampurkan racun dalam minuman Adipati Adhamapanuda. Sebagai murid Nini
Bumigarbo tentu saja ia pandai menggunakan racun, apalagi dibantu oleh Resi
Bajrasakti sehingga tidak ada seorang pun ahli pengobatan yang dapat mengetahui
bahwa Sang Adipati sakit karena keracunan. Setelah Adipati Adhamapanuda tewas,
giliran Resi Bajrasakti untuk mempergunakan pengaruh dan kekuasaannya sebagai
penasihat adipati, untuk mendukung usul Dewi Mayangsari agar Linggajaya yang
menggantikan kedudukan sebagai Adipati Wengker yang baru! Setelah Adipati
Linggawijaya menjadi penguasa Kerajaan Wengker, dia lalu mengangkat Dewi
Mayangsari menjadi permaisurinya. Kenyataan itu pun tidak mengherankan karena
semua orang tahu bahwa biarpun usia wanita itu sudah dua puluh delapan tahun,
namun ia masih amat cantik jelita dan tampaknya tidak lebih tua daripada Sang
Adipati baru. Tidak ada seorang pun, kecuali para bekas selir Adipati
Adhamapanuda, yang menentang pengangkatan Dewi Mayangsari ini. Tentu saja para
bekas selir itu pun tidak ada yang berani berkutik.
Sang Resi Bajrasakti tentu saja
mendapat kedudukan yang terhormat, bukan saja sebagai penasihat agung, akan
tetapi juga sebagai guru Sang Adipati. Tercapailah apa yang dikejar dan
diinginkan tiga orang ini sehingga mereka mendapatkan kesenangan besar dalam
hati mereka. Mereka merasa senang? Mungkin, akan tetapi seperti segala macam
kesenangan di dunia ini, hanya sementara saja dan biasanya tidak bertahan lama.
Kesenangan sebagai buah dari pohon (perbuatan) kejahatan seringkali menjadi
kutukan yang mendatangkan penderitaan. Kesenangan duniawi hanya kesenangan
jasmani dan apa yang menyenangkan jasmani biasanya disusul kebosanan karena
hati akal pikiran segera mengejar yang lain lagi yang dianggap akan lebih
menyenangkan daripada yang sudah diperoleh dan yang mulai membosankan itu.
Kesenangan memang dapat dicari dari dikejar, didapatkan lalu mendatangkan
kebosanan dan disusul pengejaran lagi kepada kesenangan yang lain. Demikian
selanjutnya selama hidup. Manusia dipermainkan dan dipancing kuasa kegelapan
dengan umpan berupa kesenangan dan kenikmatan, yang membuat kita mata gelap dan
untuk mencapai kesenangan itu kita terjang apa saja yang menghalangi kita untuk
mendapatkannya. Bahkan kita rela melakukan perbuatan sejahat apa pun. Padahal
yang dikejar-kejar itu hanyalah kosong dan yang lambat laun membosankan. Kalau
kita sudah dicengkeram dan dikuasai nafsu angkara murka ini, kita tidak dapat
menikmati apa pun yang telah kita miliki dan selalu membayangkan bahwa apa yang
belum kita dapatkan dan yang sedang kita kejar-kejar Itulah yang akan
menyenangkan sekali! Hidup kita ini hanya akan menjadi serangkaian kesenangan
semu, disusul kebosanan lalu keinginan mengejar kesenangan lain, kebosanan lagi
dan demikian selanjutnya. Pengejaran ini mendatangkan persaingan, perebutan,
permusuhan, penghalalan segala cara, semakin menebalnya si-aku yang menipiskan
bahkan menghilangkan kasih terhadap sesama kita serta pelanggaran terhadap
larangan-larangan yang difirmankan dalam agama-agama. Berbahagialah mereka yang
dapat menerima apa pun yang mereka dapatkan, besar atau kecil, banyak atau
sedikit, bahkan baik atau buruk, dengan puji syukur dan terima kasih kepada
Sang Hyang Widhi karena hanya mereka inilah yang dapat apa yang disebut sebagai
kebahagiaan itu. Lihatlah di sana, seorang buruh petani menghadapi nasi dengan
ikan asin dan sambal yang dibawa isterinya, makan dengan lahap dan lezatnya
sungguh pun hampir setiap hari makannya hanya itu-itu juga, berikut sekendi
ari. Dan tak jauh di sana, si pemilik sawah, menghadapi nasi dan masakan daging
ayam beberapa macam, berikut minuman kopi panas dan teh kental,
bersungut-sungut ketika makan, sama sekali tidak dapat menikmati makanannya,
mengomel kepada isterinya, mencela makanan itu mengapa lauknya daging ayam
bukan daging kambing. Si juragan ini hampir setiap hari mengomel, tidak pernah
dapat menikmati apa yang dihadapinya! Memang, syarat menikmati makanan adalah
perut lapar, tubuh lelah, badan sehat. Akan tetapi yang lebih utama adalah hati
akal pikiran yang tenteram dan ketenteraman itu hanya dapat dirasakan orang
yang selalu berserah diri dan memanjatkan puji syukur dan terima kasih dalam
hatinya kepada Sang Hyang Widhi atas semua Kasih dan Berkah yang
diiimpahkan-Nya kepada kita.
No comments:
Post a Comment