Nurseta Satria Karangtirta ; Bagian 06


Seperti biasa pada malam-malam pesta yang lalu, para penghuni istana kadipaten tertarik untuk nonton pesta itu, walaupun tidak hadir di ruangan itu. Tujuan mereka tertarik untuk menonton dan mendengarkan para penari yang berjoget sambil bertembang. Karena perhatian para pelayan dan pengawal tertuju ke arah ruangan pesta, maka suasana dalam istana itu menjadi sunyi. Tiba-tiba daun pintu kamar kedua orang pangeran muda itu terbuka dari luar. Linggajaya melompat masuk sambil membawa sebuah ruyung besar. Nyai Ranu terkejut dan menjerit. Akan tetapi hanya satu kali saja ia menjerit karena ruyung itu telah menyambar dan terdengar suara gaduh ketika kepalanya disambar ruyung dan tubuhnya terbanting ke atas lantai, tewas seketika! Dua orang pangeran kecil itu terbelalak lalu berloncatan berdiri dengan muka pucat. Melihat pengasuh mereka roboh mandi darah, mereka lalu menjerit minta tolong. Akan tetapi Linggajaya sudah bergerak cepat, ruyungnya menyambar-nyambar dan dua orang pangeran kecil itu pun roboh dengan kepala pecah dan tewas seketika. Setelah itu, Linggajaya cepat keluar, menyeret mayat Limantoko, setelah berada dalam kamar dia menaruh ruyung ke dalam tangan pengawal pribadi Sang Adipati itu dan dia sendiri berdiri dengan keris pusaka Candalamanik di tangan kanan!
Jeritan-jeritan itu memancing datangnya para pengawal dan pelayan. Mereka terkejut sekali ketika memasuki kamar Pangeran. Setelah mendengar dari Linggajaya bahwa Limantoko membunuh dua Pangeran dan pengasuh mereka, para pengawal segera lari melaporkan malapetaka ini kepada Sang Adipati Adahamapanuda. Mendengar laporan mengerikan itu, Sang Adipati dan tujuh orang selirnya berlari-lari menuju ke kamar itu. Tampak pula Sang Permaisuri Dewi Mayangsari keluar dari kamarnya dan ikut berlarian bersama mereka. Dua orang selir Sang Adipati, ibu kandung dua orang Pangeran itu, menjerit-jerit, menubruk mayat anak-anak mereka dan meraung-raung. Para selir lain dan para pelayan wanita juga ikut menangis sehingga suasana menjadi riuh dan menyedihkan.

Sang Adipati Adhamapanuda yang setengah mabok itu berdiri dengan wajah pucat memandang ke arah mayat kedua orang puteranya, lalu kepada mayat Limantoko. Dia terhuyung akan roboh, akan tetapi Dewi Mayangsari cepat menangkap lengannya dan diajaknya suaminya itu keluar kamar. Ia menarik Sang Adipati duduk di atas bangku yang terdapat di luar kamar, lalu berteriak memanggil.
"Senopati Linggawijaya, Andika ke sinilah!" Sang Permaisuri memanggil.
Linggajaya yang sedang bercerita kepada para pengawal, cepat keluar dan menjatuhkan diri duduk bersila menghadap Sang Adipati. Akan tetapi, saking kaget dan sedihnya, Adipati Adhamapanuda tidak dapat bicara dan diam saja sambil memandang Linggajaya dengan bingung. Dewi Mayangsari yang bertanya kepada Linggajaya dengan suara lantang.
"Hei, Senopati Linggawijaya! Cepat ceritakan selengkapnya dengan jelas, apa yang telah terjadi di sini? Andika menjadi saksi tunggal, awas, jangan berbohong!"
Karena pertanyaan itu diajukan dengan suara lantang, semua orang mendengarnya dan kini mereka yang berada dalam kamar pun keluar untuk mendengarkan jawaban Senopati Linggawijaya.
Linggajaya lalu berkata dengan sikap hormat kepada Adipati Adhamapanuda.
"Maafkan hamba, Gusti Adipati dan Gusti Puteri, hamba sungguh menyesal sekali bahwa hamba terlambat dan tidak dapat menyelamatkan kedua orang Gusti Pangeran Alit (kecil) dari malapetaka yang membawa maut. Tadi hamba keluar dari kamar hamba dengan maksud menonton tarian. Akan tetapi hamba melihat berkelebatnya bayangan dan ketika hamba membayanginya, bayangan itu lenyap. Hamba menjadi curiga dan hamba kembali ke kamar untuk mengambil keris pusaka hamba. Ketika hamba keluar lagi dari kamar, hamba mendengar jeritan-jeritan dari kamar Gusti Pangeran ini, maka hamba cepat berlari ke sini. Ternyata hamba melihat Limantoko telah membunuh kedua orang Gusti Pangeran dan inang pengasuh mereka. Hamba segera menyerangnya dengan keris, lalu memukulnya dengan tangan kiri sehingga dia roboh dan tewas. Begitulah, Gusti, apa yang telah terjadi dan hamba menyesal sekali bahwa hamba terlambat menyelamatkan para Gusti Pangeran."
"Duh Jagad Dewa Bathara...!" Adipati Adhamapanuda mengeluh dengan suaranya yang biasanya besar itu menjadi semakin parau.
"Mengapa Limantoko dapat melakukan kekejian ini? Padahal, sudah lama dia menjadi pengawal pribadiku yang setial Mengapa dia lakukan ini? Apa dia sudah gila....?"

Resi Bajrasakti yang baru saja datang ke tempat itu, menghampiri Sang Adipati, menyentuh lengannya dan berkata dengan suaranya yang penuh wibawa.
"Harap Paduka tenang, Adimas Adipati. Kematian adalah hak Sang Yamadipati dan sudah ditentukan oleh para dewa. Saya dapat menduga mengapa Limantoko melakukan perbuatan ini."
"Mengapa, Kakang Resi? Mengapa dia membunuh putera-puteraku?”
“Tentu saja bukan keluar dari hatinya sendiri, tidak ada sesuatu yang menguntungkan dia dengan membunuh kedua orang putera Paduka. Maka jelaslah bahwa dia pasti dipengaruhi orang lain dan siapa orang yang begitu membenci Paduka sehingga tega melakukan pembunuhan ini? Hanya ada satu orang, yaitu Sang Prabu Erlangga! Kerajaan Wengker merupakan musuh bebuyutan Kahuripan, maka saya merasa yakin bahwa peristiwa ini pasti didalangi oleh Raja Kahuripan itu."
Hening sejenak. Lalu tiba-tiba Adipati Adhamapanuda mengeluarkan teriakan parau seperti seekor binatang buas terluka.
“Jahanam engkau Erlangga"
Setelah berteriak seperti itu, Adipati Adhamapanuda terkulai lemas dan jatuh pingsan. Dewi Mayangsari, dibantu para selir, segera mengangkat Sang Adipati ke dalam kamarnya. Sejak saat itu, Adipati Adhamapanuda jatuh sakit. Tidak ada dukun yang dapat mengobatinya. Makin hari penyakitnya semakin parah. Dewi Mayangsari, permaisurinya, turun tangan sendiri merawat Sang Adipati siang malam. Bahkan ia tidak memperbolehkan selir-selir Sang Adipati menggantikannya merawat suami mereka. Permaisuri ini merawat suaminya dengan penuh ketekunan dan tampaknya amat mencinta Sang Adipati.
Sementara itu, ketika Adipati Adhamapanuda sakit berat, yang menggantikannya untuk sementara menangani urusan pemerintahan kadipaten adalah penasihatnya, Sang Resi. Bajrasakti dibantu Senopati Muda Linggawijaya. Dan ternyata dua orang ini dapat melaksanakan tugasnya dengan baik sekali. Bahkan mengadakan perubahan-perubahan dan perombakan, terutama sekali ditujukan untuk memperkuat Kerajaan wengker. Menambah jumlah pasukan dengan menerima para sukarelawan, memperbesar upah para prajurit, menambah kesejahteraan mereka. Tentu saja tindakan Senopati Muda Linggawljaya itu mendapat sambutan gembira oleh pasukan Wengker dan dia memperoleh dukungan banyak pihak. Kurang lebih setengah bulan sejak terjadinya peristiwa pembunuhan itu, Sang Adipati Adhamapanuda meninggal dunia karena penyakitnya yang tak dapat disembuhkan oleh para dukun dan ahli pengobatan.

Menurut kebiasaan atau peraturan yang sudah-sudah, kematian seorang raja atau adipati biasanya disusul dengan pengangkatan seorang adipati baru yang diambil dari seorang puteranya. Akan tetapi karena dua orang putera Adipati Adhamapanuda sudah meninggal dunia, maka kedudukannya dapat digantikan oleh permaisurinya, apalagi mengingat bahwa Dewi Mayangsari seorang yang sakti mandraguna. Akan tetapi, Dewi Mayangsari secara suka rela menyerahkan kedudukan adipati kepada Linggajaya. Usul Dewi Mayangsari ini disetujui dan didukung pula oleh Sang Resi Bajrasakti. Kalau dua orang yang tadinya memang telah merupakan orang-orang yang kekuasaannya hanya di bawah kekuasaan Sang Adipati mendukung pengangkatan Linggajaya sebagal Adipati baru di Wengker, siapa yang berani menentang? Akhirnya semua ponggawa menyetujui pengangkatan itu dan mulai hari itu, Linggajaya dinobatkan sebagai Adipati Wengker dengan nama Sang Adipati Linggawijaya! Penobatan sebagai adipati itu dirayakan oleh semua orang, dari para ponggawa, para perajurit dan juga rakyat Wengker. Akan tetapi malam harinya, tiga orang mengadakan pesta sendiri yang hanya dihadiri mereka bertiga. Mereka adalah adipati baru, Linggawijaya, Dewi Mayangsari, dan Resi Bajrasakti yang merasa gembira sekali. Siasat mereka berhasil dengan baik sekali. Tidak sukar bagi kita untuk menduga apa yang sebenarnya terjadi. Setelah Linggajaya dan Dewi Mayangsari membunuh Limantoko karena pengawal itu memergoki mereka bermain asmara, lalu Dewi Mayangsari dan Linggajaya melaksanakan siasat mereka yang amat kejam. Linggajaya membunuh dua orang pangeran kecil dan inang pengasuh mereka dengan menjatuhkan fitnah kepada Limantoko yang mayatnya dibawa ke kamar pangeran itu dan ruyungnya dipakai Linggajaya untuk melakukan pembunuhan. Kemudian tiba giliran Dewi Mayangsari yang mencampurkan racun dalam minuman Adipati Adhamapanuda. Sebagai murid Nini Bumigarbo tentu saja ia pandai menggunakan racun, apalagi dibantu oleh Resi Bajrasakti sehingga tidak ada seorang pun ahli pengobatan yang dapat mengetahui bahwa Sang Adipati sakit karena keracunan. Setelah Adipati Adhamapanuda tewas, giliran Resi Bajrasakti untuk mempergunakan pengaruh dan kekuasaannya sebagai penasihat adipati, untuk mendukung usul Dewi Mayangsari agar Linggajaya yang menggantikan kedudukan sebagai Adipati Wengker yang baru! Setelah Adipati Linggawijaya menjadi penguasa Kerajaan Wengker, dia lalu mengangkat Dewi Mayangsari menjadi permaisurinya. Kenyataan itu pun tidak mengherankan karena semua orang tahu bahwa biarpun usia wanita itu sudah dua puluh delapan tahun, namun ia masih amat cantik jelita dan tampaknya tidak lebih tua daripada Sang Adipati baru. Tidak ada seorang pun, kecuali para bekas selir Adipati Adhamapanuda, yang menentang pengangkatan Dewi Mayangsari ini. Tentu saja para bekas selir itu pun tidak ada yang berani berkutik.

Sang Resi Bajrasakti tentu saja mendapat kedudukan yang terhormat, bukan saja sebagai penasihat agung, akan tetapi juga sebagai guru Sang Adipati. Tercapailah apa yang dikejar dan diinginkan tiga orang ini sehingga mereka mendapatkan kesenangan besar dalam hati mereka. Mereka merasa senang? Mungkin, akan tetapi seperti segala macam kesenangan di dunia ini, hanya sementara saja dan biasanya tidak bertahan lama. Kesenangan sebagai buah dari pohon (perbuatan) kejahatan seringkali menjadi kutukan yang mendatangkan penderitaan. Kesenangan duniawi hanya kesenangan jasmani dan apa yang menyenangkan jasmani biasanya disusul kebosanan karena hati akal pikiran segera mengejar yang lain lagi yang dianggap akan lebih menyenangkan daripada yang sudah diperoleh dan yang mulai membosankan itu. Kesenangan memang dapat dicari dari dikejar, didapatkan lalu mendatangkan kebosanan dan disusul pengejaran lagi kepada kesenangan yang lain. Demikian selanjutnya selama hidup. Manusia dipermainkan dan dipancing kuasa kegelapan dengan umpan berupa kesenangan dan kenikmatan, yang membuat kita mata gelap dan untuk mencapai kesenangan itu kita terjang apa saja yang menghalangi kita untuk mendapatkannya. Bahkan kita rela melakukan perbuatan sejahat apa pun. Padahal yang dikejar-kejar itu hanyalah kosong dan yang lambat laun membosankan. Kalau kita sudah dicengkeram dan dikuasai nafsu angkara murka ini, kita tidak dapat menikmati apa pun yang telah kita miliki dan selalu membayangkan bahwa apa yang belum kita dapatkan dan yang sedang kita kejar-kejar Itulah yang akan menyenangkan sekali! Hidup kita ini hanya akan menjadi serangkaian kesenangan semu, disusul kebosanan lalu keinginan mengejar kesenangan lain, kebosanan lagi dan demikian selanjutnya. Pengejaran ini mendatangkan persaingan, perebutan, permusuhan, penghalalan segala cara, semakin menebalnya si-aku yang menipiskan bahkan menghilangkan kasih terhadap sesama kita serta pelanggaran terhadap larangan-larangan yang difirmankan dalam agama-agama. Berbahagialah mereka yang dapat menerima apa pun yang mereka dapatkan, besar atau kecil, banyak atau sedikit, bahkan baik atau buruk, dengan puji syukur dan terima kasih kepada Sang Hyang Widhi karena hanya mereka inilah yang dapat apa yang disebut sebagai kebahagiaan itu. Lihatlah di sana, seorang buruh petani menghadapi nasi dengan ikan asin dan sambal yang dibawa isterinya, makan dengan lahap dan lezatnya sungguh pun hampir setiap hari makannya hanya itu-itu juga, berikut sekendi ari. Dan tak jauh di sana, si pemilik sawah, menghadapi nasi dan masakan daging ayam beberapa macam, berikut minuman kopi panas dan teh kental, bersungut-sungut ketika makan, sama sekali tidak dapat menikmati makanannya, mengomel kepada isterinya, mencela makanan itu mengapa lauknya daging ayam bukan daging kambing. Si juragan ini hampir setiap hari mengomel, tidak pernah dapat menikmati apa yang dihadapinya! Memang, syarat menikmati makanan adalah perut lapar, tubuh lelah, badan sehat. Akan tetapi yang lebih utama adalah hati akal pikiran yang tenteram dan ketenteraman itu hanya dapat dirasakan orang yang selalu berserah diri dan memanjatkan puji syukur dan terima kasih dalam hatinya kepada Sang Hyang Widhi atas semua Kasih dan Berkah yang diiimpahkan-Nya kepada kita.

<<< Bagian 05                                                                                         Bagian 07 >>>

No comments:

Post a Comment