Setelah Puspa Dewi berada di rumah Ki Lurah Pujosaputro di dusun Karang Tirta, ia banyak duduk diam melamun keadaan dirinya dan ibunya. Ibunya, ketika ia berusia lima tahun dan diculik Nyi Dewi Durgakumala, telah menjadi seorang janda muda. Ibunya tentu saja merasa berduka dan putus asa ketika ia hilang dan akhirnya karena membutuhkan perlindungan dan hiburan, ibunya terbujuk oleh Ki Lurah Suramenggala dan menjadi selir lurah yang wataknya kejam dan jahat itu. Kemudian, ketika Ki Suramenggala dipecat sebagai lurah oleh Ki Patih Narotama dan diusir dari Karang Tirta, Nyi Lasmi, ibunya itu, tidak mau ikut dan untuk sementara tinggal di rumah kelurahan yang kini dihuni lurah baru yang diangkat Ki Patih Narotama, yaitu Ki Lurah Pujosaputro. Berarti kini ibunya dan ia mondok di rumah Ki Pujosaputro itu. Ia sendiri mengalami banyak hal yang saling bertentangan dengan batinnya. Sejak lima tahun, ia diambil murid, bahkan kemudian diaku sebagai anak, oleh datuk wanita Nyi Dewi Durgakumala itu. Ia dilatih aji kanuragan, juga disayang oleh Nyi Dewi Durgakumala. Biarpun ia merasa benci kalau melihat gurunya itu berbuat kejam dan hina, menculik dan mempermainkan pria-pria muda, namun karena gurunya amat sayang kepadanya, ia tidak dapat berbuat apa-apa kecuali menegurnya. Saking sayang kepadanya, gurunya itu kadang-kadang menurut kalau ia tegur agar menghentikan perbuatannya yang jahat. Kemudian, ibu angkat atau gurunya itu menjadi permaisuri Sang Adipati Bhismaprabawa, Raja Wura-Wuri. Dengan sendirinya ia sebagai puteri permaisuri Wura-Wuri, lalu menjadi Sekar Kedaton (Bunga Istana) Kerajaan Wura-Wuri. Ketika Kerajaan Wura-Wuri ikut pula dalam persekutuan empat kerajaan kecil berusaha membantu Pangeran Hendratama memberontak terhadap Sang Prabu Erlangga, Adipati Bhismaprabawa mengangkat puteri angkatnya itu, Puspa Dewi menjadi utusan dan wakil Wura-Wuri. Sebetulnya dalam hatinya, Puspa Dewi tidak setuju dengan gerakan memusuhi Kahuripan ini, akan tetapi karena merasa berhutang budi kepada gurunya yang menganggap ia puterinya sendiri, terpaksa ia menerima tugas itu dan bergabunglah ia dengan persekutuan pemberontakan itu. Akan tetapi, pertemuan dan perkenalannya dengan Ki Patih Narotama dan Nurseta satria Karang Tirta murid mendiang Empu Dewamurti itu menambah kesadarannya bahwa dengan menjadi wakil Wura-Wuri berarti ia membantu pihak yang jahat dan bersalah. Sikap dan nasihat kedua orang itu menambah kuat keyakinannya bahwa tidak semestinya ia membela Wura-Wuri yang bersekutu dengan kerajaan-kerajaan lain yang dipimpin dan diwakili orang-orang jahat. Maka, dalam gerakan itu, ia membalik dan bahkan membantu pihak Kahuripan. La menyadari bahwa sebagai orang yang lahir di Karang Tirta wilayah Kahuripan, ia adalah kawula Kahuripan dan tidak semestinya ia membantu pihak jahat yang hendak memusuhi Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama yang arif bijaksana itu.
Setelah perang usai dan persekutuan
pemberontak dapat dihancurkan oleh Kahuripan, tentu saja Puspa Dewi tidak
berani kembali ke Kerajaan Wura-Wuri. Ia tahu bahwa Adipati Wura-Wuri dan juga
gurunya yang menjadi permaisuri Wura-Wuri pasti marah sekali kepadanya. Karena
itu, setelah perang usai, ia kembali ke dusun Karang Tirta. Bukan main lega dan
girang hatinya mendapat kenyataan bahwa Nyi Lasmi, ibu kandungnya kini telah
melepaskan diri dari Ki Suramenggala dan ibunya mondok di rumah lurah baru yang
diangkat oleh Ki Patih Narotama. Ia memang tidak suka kepada Ki Suramenggala
itu, juga kepada putera sang lurah itu, ialah Linggajaya yang ia kenal sebagai
seorang pemuda yang berkelakuan buruk itu. Seperti telah diceritakan terdahulu,
Puspa Dewi telah berada di rumah Ki Lurah Pujosaputro dimana ibunya mondok
ketika Linggajaya menyerbu kelurahan itu Puspa Dewi melawannya dan Linggajaya
melarikan diri melihat ratusan orang penduduk mengancam hendak mengeroyoknya.
Puspa Dewi menghela napas panjang ketika teringat akan semua itu. Dua bulan
telah lewat semenjak Linggajaya menyerbu kelurahan. Ia merasa bosan berdiam
diri di rumah itu, juga merasa tidak enak. Ia dan ibunya mondok di rumah orang.
Apakah ibunya tidak mempunyai keluarga? Juga keluarga dari pihak ayahnya? Ia
sendiri sampai sekarang belum tahu siapa sebenarnya ayah kandungnya yang oleh
ibunya dahulu dikatakan telah tiada, telah meninggal dunia. Pasti ada keluarga,
baik dari pihak ibunya ataupun dari pihak ayahnya. Jauh lebih baik menumpang di
rumah keluarga sendiri daripada di rumah orang lain. Ia merasa, sungkan sekali
terhadap Ki Lurah Pujosaputro sekeluarga yang bersikap baik sekali.
"Dewi, mengapa engkau menghela
napas?" tiba-tiba suara Ibunya yang lembut menariknya keluar dari dunia
lamunannya.
"Oh, Ibu. Duduklah Ibu.
Kebetulan sekali, aku ingin bercakap-cakap dengan Ibu."
Puspa Dewi menggandeng tangan Ibunya
dan diajaknya duduk di atas bangku panjang yang berada di kamar mereka. Waktu
itu, malam dingin memasuki kamar menembus jendela kamar itu. Dari jendela yang
terbuka, mereka duduk menghadap keluar dan dapat melihat bulan tiga perempat
mengambang di langit yang cerah.
Dua orang wanita ini mempunyai wajah
yang mirip. Puspa Dewi yang berusia sekitar sembilan belas tahun itu bertubuh
padat ramping, dengan kulit yang putih kuning mulus seperti kulit ibunya.
Ibunya, Nyi Lasmi, juga masih cantik walaupun usianya sudah tiga puluh enam
tahun lebih. Bagi orang yang tidak mengenal mereka, melihat mereka duduk
berduaan itu pasti mengira bahwa mereka itu kakak dan adiknya, bukan ibu dan
puterinya.
"Ibu," kata Puspa Dewi
dengan hati-hati dan suaranya lirih,
"sejak tadi aku melamun dan
memikirkan keadaan kita, Ibu. Terus terang saja, aku merasa rikuh (sungkan)
sekali kepada Paman Lurah Pujosaputro dan keluarganya. Apakah kita akan mondok
seperti ini terus dan merepotkan mereka?"
Nyi Lasml merangkul anaknya dan
tersenyum.
"Tentu saja tidak, Dewi. Kalau
tadinya aku mondok di sini, itu adalah karena desakan Ki Lurah sekeluarga
mengingat bahwa aku hidup seorang diri. Setelah sekarang engkau pulang, tentu
saja kita akan mencari tempat tinggal lain dan tidak lagi mondok di sini
menyusahkan mereka. Akan tetapi aku masih bingung, Dewi. Kemana kita harus
pindah? Ketahuilah bahwa ketika melepaskan diri dari Suramenggala, aku tidak
membawa apa-apa. Selama ini, sandang pangan (pakaian dan makan) dan semua
keperluanku ditanggung oleh Ki Lurah sekeluarga."
Puspa Dewi menghibur Ibunya.
"Untuk itu harap Ibu tidak
khawatir. Aku menyimpan banyak perhiasan yang lebih dari cukup untuk membeli
rumah dan pekarangan. Perhiasan itu kudapat dari Kerajaan Wura-Wuri di mana aku
dijadikan puteri istana. Akan tetapi, sudah kuceritakan kepada Ibu bahwa aku
tidak akan kembali ke sana karena aku pasti akan ditangkap dan dihukum berat.
Juga aku tidak ingin tinggal di Karang Tirta, Ibu. Aku ingin pergi bersama Ibu
dan pindah ke tempat yang jauh dari sini."
"Hemm, ke manakah,
Anakku?"
"Ibu, apakah Ibu tidak
mempunyai saudara? Kakak atau Adik, atau Paman dan Bibi? Juga orang tua Ibu
atau orang tua Ayah? Tidak mungkin kalau Ibu dan mendiang Ayahku tidak
mempunyai keluarga sama sekali. Mari kita ke sana, Ibu, ke rumah keluarga ibu
atau Ayah. Aku ingin mengenal keluarga orang tuaku, Ibu. Ibu, engkau
mengapa?"
Puspa Dewi merangkul Ibunya ketika
melihat betapa Nyi Lasmi menangis terisak-isak sambil menutupi muka dengan
kedua tangannya.
"Ibu, mengapa Ibu
menangis?" Gadis itu merasa heran sekali, juga khawatir karena tidak
biasanya Ibunya bersikap cengeng, apalagi menangis tanpa sebab. Nyi Lasmi
berusaha menahan tangisnya. Puspa Dewi membantunya menghapus air matanya yang
membasahi Kedua pipi Ibunya.
"Nah, tenangkanlah hatimu, Ibu.
Ceritakanlah kepadaku, Ibu, agar kalau ada hal yang membuat Ibu berduka aku
dapat ikut merasakannya."
Nyi Lasmi sudah dapat menghentikan
tangisnya. Ia kini telah lebih tenang dan ia memegang kedua tangan puterinya
seolah mencari perlindungan atau kekuatan.
"Anakku, Puspa Dewi, mendengar
engkau bertanya tentang Ayah kandungmu, tentang keluarga kami, aku menjadi
sedih. Maklumilah kelemahanku, Anakku, karena sejak bertahun-tahun ini aku
selalu menekan perasaan ini. Sekarang, setelah engkau dewasa dan engkau menjadi
seorang gadis yang sakti dan tangguh, kukira sudah tiba waktunya aku
menceritakan semuanya kepadamu."
"Ceritakanlah, Ibu. Ceritakan
tentang mendiang Ayahku." desak gadis itu.
"Nama Ayah Prasetyo, Ibu? Nama
yang bagus sekali. Tentu mendiang Ayahku seorang tampan dan gagah sekali!"
Nyi Lasmi menghela napas panjang.
"Sekarang akan kuceritakan
semuanya, Dewi, tidak ada yang perlu kurahasiakan lagi. Dengarlah baik-baik.
Dahulu sebagai seorang gadis berusia enam belas tahun aku tinggal di dusun
Munggung, sebelah timur ibu kota Kahuripan."
"Wah, aku dapat membayangkan.
Ibu tentu merupakan seorang gadis cantik jelita, menjadi kembang dusun
Munggung!"
"Yaahh, kecantikan yang bagi
seorang wanita terkadang lebih banyak mendatangkan godaan dan kesusahan
daripada kesenangan. Aku memang dianggap sebagai kembang dusun Munggung, dan
hal itulah yang mendatangkan kesengsaraan bagiku. Aku berkenalan dengan seorang
perwira pasukan pengawal yang masih muda, berusia dua puluh tahun dan kami
saling bertemu dan berkenalan ketika perwira itu mengawal Tumenggung Jayatanu
dari Kahuripan yang sedang berkunjung ke Munggung."
"Perwira itu tentu Prasetyo
yang gagah!" kata Puspa Dewi.
"Engkau benar. Kami saling
jatuh cinta dan setahun kemudian setelah kami berkenalan kami menikah dengan
restu orang tua kami masing-masing. Aku ikut suamiku tinggal di kota raja,
tinggal di rumah asrama yang disediakan Tumenggung Jayatanu untuk para perwira
pasukan pengawalnya. Akan tetapi ketika aku mengandung dan kandunganku sudah
delapan bulan, suamiku mengantar aku pulang ke Munggung agar kalau aku melahirkan,
ada Ibuku yang merawatku”
"Dan yang Ibu kandung itu
adalah aku, bukan?"
"Benar, Anakku. Akan tetapi
bersama dengan kelahiranmu yang mendatangkan kebahagiaan besar dalam hatiku,
datang pula berita yang menghancurkan hatiku."
Puspa Dewi mengerutkan alisnya dan
memandang wajah Ibunya dengan tajam penuh selidik.
"Berita apakah Itu, Ibu?"
"Berita bahwa... bahwa
Kakangmas Prasetyo, Ayah kandungmu itu... dia terpaksa menikah dengan Dyah
Mularsih..."
"Eh...?" Puspa Dewi
mengerutkan alisnya dan sinar matanya mencorong.
"Siapa itu Dyah Mularsih,
Ibu?"
"Dyah Mularsih itu anak tunggal
dari Tumenggung Jayatanu,"
"Akan tetapi, mengapa Ayah
terpaksa harus menikah dengannya?"
"Karena.... diam-diam Ayahmu,
Kakangmas Prasetyo itu diam-diam memadu kasih dengan gadis bangsawan itu
sehingga... Dyah Mularsih mengandung."
"Ah! Mengapa Ayah begitu.
Ibu?"
"Aku tidak bisa menyalahkah
Ayahmu. Dia seorang laki-laki muda yang gagah dan tampan. Sebetulnya puteri
tumenggung itulah yang tergila-gila kepada Ayahmu dan selalu mengejarnya.
Ayahmu ketika itu masih muda, dan aku sedang mengandung... maka tidak dapat aku
menyalahkan kalau dia itu jatuh dan mengadakah hubungan sehingga Dyah Mularsih
mengandung. Terpaksa dia harus bertang-gungjawab dan tidak dapat menolak ketika
diharuskan menikah dengan gadis itu. Aku pun ketika itu menerima kenyataan dan
menyabarkan hati, tidak merasa keberatan dimadu."
"Hmm, kalau begitu tidak ada
persoalan lagi. Lalu mengapa Ayah meninggal dunia dalam usia muda, Ibu?"
"Nanti dulu, Dewi, biar
kulanjutkan ceritaku. Setelah menjadi mantu Tumenggung Jayatanu, tentu saja
Kakangmas Prasetyo lalu diboyong dan pindah tinggal di rumah gedung Tumenggung
Jayatanu. Aku merasa malu untuk ikut ke sana, Dewi. Ayahmu memang datang dan
hendak memboyong kita berdua ke rumah mertuanya, akan tetapi aku menolak. Aku
malu, Anakku, membayangkan bahwa aku harus mondok dirumah maduku."
"Ibu benar! Kita orang kecil
dan miskin tidak perlu menyembah-nyembah dan menjilati kaki orang-orang
berpangkat dan berharta! Lalu bagaimana, Ibu?"
"Penolakanku itu membuat Sang
Tumenggung marah. Ketika Ayahmu datang ke rumah kita, Sang Tumenggung menyusul
datang dan di depan orang tuaku dan aku, Tumenggung Jayatanu memaksa Ayahmu
untuk memilih. Dia tetap menjadi perwira dan mantu Sang Tumenggung dan tinggal
di katumenggungan, menceraikan aku, atau dia memilih hidup bersama aku dan
tidak diaku lagi sebagai mantu Sang Tumenggung dan bercerai dari Dyah
Mularsih!"
"Hemm, pilihan yang tegas dan
adil juga. Lalu bagaimana, Ibu? Ayah memilih yang mana?"
"Ayahmu bingung, Dewi. Kalau
dia memilih hidup bersamaku, berarti dia dipecat dari pangkatnya sebagai
perwira, padahal Ayahmu berkeinginan keras untuk meningkatkan pangkatnya sampai
mendapat kedudukan tinggi. Pula dia harus meninggalkan Dyah Mularsih yang sedang
mengandung. Dia bingung sekali dan aku merasa kasihan kepadanya, Dewi. Aku
terlalu mencinta Ayahmu dan rela berkorban. Maka aku menganjurkan dia untuk
meninggalkan kita dan melanjutkan pekerjaannya di kota raja."
No comments:
Post a Comment