Nurseta Satria Karangtirta ; Bagian 07


Setelah Puspa Dewi berada di rumah Ki Lurah Pujosaputro di dusun Karang Tirta, ia banyak duduk diam melamun keadaan dirinya dan ibunya. Ibunya, ketika ia berusia lima tahun dan diculik Nyi Dewi Durgakumala, telah menjadi seorang janda muda. Ibunya tentu saja merasa berduka dan putus asa ketika ia hilang dan akhirnya karena membutuhkan perlindungan dan hiburan, ibunya terbujuk oleh Ki Lurah Suramenggala dan menjadi selir lurah yang wataknya kejam dan jahat itu. Kemudian, ketika Ki Suramenggala dipecat sebagai lurah oleh Ki Patih Narotama dan diusir dari Karang Tirta, Nyi Lasmi, ibunya itu, tidak mau ikut dan untuk sementara tinggal di rumah kelurahan yang kini dihuni lurah baru yang diangkat Ki Patih Narotama, yaitu Ki Lurah Pujosaputro. Berarti kini ibunya dan ia mondok di rumah Ki Pujosaputro itu. Ia sendiri mengalami banyak hal yang saling bertentangan dengan batinnya. Sejak lima tahun, ia diambil murid, bahkan kemudian diaku sebagai anak, oleh datuk wanita Nyi Dewi Durgakumala itu. Ia dilatih aji kanuragan, juga disayang oleh Nyi Dewi Durgakumala. Biarpun ia merasa benci kalau melihat gurunya itu berbuat kejam dan hina, menculik dan mempermainkan pria-pria muda, namun karena gurunya amat sayang kepadanya, ia tidak dapat berbuat apa-apa kecuali menegurnya. Saking sayang kepadanya, gurunya itu kadang-kadang menurut kalau ia tegur agar menghentikan perbuatannya yang jahat. Kemudian, ibu angkat atau gurunya itu menjadi permaisuri Sang Adipati Bhismaprabawa, Raja Wura-Wuri. Dengan sendirinya ia sebagai puteri permaisuri Wura-Wuri, lalu menjadi Sekar Kedaton (Bunga Istana) Kerajaan Wura-Wuri. Ketika Kerajaan Wura-Wuri ikut pula dalam persekutuan empat kerajaan kecil berusaha membantu Pangeran Hendratama memberontak terhadap Sang Prabu Erlangga, Adipati Bhismaprabawa mengangkat puteri angkatnya itu, Puspa Dewi menjadi utusan dan wakil Wura-Wuri. Sebetulnya dalam hatinya, Puspa Dewi tidak setuju dengan gerakan memusuhi Kahuripan ini, akan tetapi karena merasa berhutang budi kepada gurunya yang menganggap ia puterinya sendiri, terpaksa ia menerima tugas itu dan bergabunglah ia dengan persekutuan pemberontakan itu. Akan tetapi, pertemuan dan perkenalannya dengan Ki Patih Narotama dan Nurseta satria Karang Tirta murid mendiang Empu Dewamurti itu menambah kesadarannya bahwa dengan menjadi wakil Wura-Wuri berarti ia membantu pihak yang jahat dan bersalah. Sikap dan nasihat kedua orang itu menambah kuat keyakinannya bahwa tidak semestinya ia membela Wura-Wuri yang bersekutu dengan kerajaan-kerajaan lain yang dipimpin dan diwakili orang-orang jahat. Maka, dalam gerakan itu, ia membalik dan bahkan membantu pihak Kahuripan. La menyadari bahwa sebagai orang yang lahir di Karang Tirta wilayah Kahuripan, ia adalah kawula Kahuripan dan tidak semestinya ia membantu pihak jahat yang hendak memusuhi Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama yang arif bijaksana itu.

Setelah perang usai dan persekutuan pemberontak dapat dihancurkan oleh Kahuripan, tentu saja Puspa Dewi tidak berani kembali ke Kerajaan Wura-Wuri. Ia tahu bahwa Adipati Wura-Wuri dan juga gurunya yang menjadi permaisuri Wura-Wuri pasti marah sekali kepadanya. Karena itu, setelah perang usai, ia kembali ke dusun Karang Tirta. Bukan main lega dan girang hatinya mendapat kenyataan bahwa Nyi Lasmi, ibu kandungnya kini telah melepaskan diri dari Ki Suramenggala dan ibunya mondok di rumah lurah baru yang diangkat oleh Ki Patih Narotama. Ia memang tidak suka kepada Ki Suramenggala itu, juga kepada putera sang lurah itu, ialah Linggajaya yang ia kenal sebagai seorang pemuda yang berkelakuan buruk itu. Seperti telah diceritakan terdahulu, Puspa Dewi telah berada di rumah Ki Lurah Pujosaputro dimana ibunya mondok ketika Linggajaya menyerbu kelurahan itu Puspa Dewi melawannya dan Linggajaya melarikan diri melihat ratusan orang penduduk mengancam hendak mengeroyoknya. Puspa Dewi menghela napas panjang ketika teringat akan semua itu. Dua bulan telah lewat semenjak Linggajaya menyerbu kelurahan. Ia merasa bosan berdiam diri di rumah itu, juga merasa tidak enak. Ia dan ibunya mondok di rumah orang. Apakah ibunya tidak mempunyai keluarga? Juga keluarga dari pihak ayahnya? Ia sendiri sampai sekarang belum tahu siapa sebenarnya ayah kandungnya yang oleh ibunya dahulu dikatakan telah tiada, telah meninggal dunia. Pasti ada keluarga, baik dari pihak ibunya ataupun dari pihak ayahnya. Jauh lebih baik menumpang di rumah keluarga sendiri daripada di rumah orang lain. Ia merasa, sungkan sekali terhadap Ki Lurah Pujosaputro sekeluarga yang bersikap baik sekali.
"Dewi, mengapa engkau menghela napas?" tiba-tiba suara Ibunya yang lembut menariknya keluar dari dunia lamunannya.
"Oh, Ibu. Duduklah Ibu. Kebetulan sekali, aku ingin bercakap-cakap dengan Ibu."
Puspa Dewi menggandeng tangan Ibunya dan diajaknya duduk di atas bangku panjang yang berada di kamar mereka. Waktu itu, malam dingin memasuki kamar menembus jendela kamar itu. Dari jendela yang terbuka, mereka duduk menghadap keluar dan dapat melihat bulan tiga perempat mengambang di langit yang cerah.

Dua orang wanita ini mempunyai wajah yang mirip. Puspa Dewi yang berusia sekitar sembilan belas tahun itu bertubuh padat ramping, dengan kulit yang putih kuning mulus seperti kulit ibunya. Ibunya, Nyi Lasmi, juga masih cantik walaupun usianya sudah tiga puluh enam tahun lebih. Bagi orang yang tidak mengenal mereka, melihat mereka duduk berduaan itu pasti mengira bahwa mereka itu kakak dan adiknya, bukan ibu dan puterinya.
"Ibu," kata Puspa Dewi dengan hati-hati dan suaranya lirih,
"sejak tadi aku melamun dan memikirkan keadaan kita, Ibu. Terus terang saja, aku merasa rikuh (sungkan) sekali kepada Paman Lurah Pujosaputro dan keluarganya. Apakah kita akan mondok seperti ini terus dan merepotkan mereka?"
Nyi Lasml merangkul anaknya dan tersenyum.
"Tentu saja tidak, Dewi. Kalau tadinya aku mondok di sini, itu adalah karena desakan Ki Lurah sekeluarga mengingat bahwa aku hidup seorang diri. Setelah sekarang engkau pulang, tentu saja kita akan mencari tempat tinggal lain dan tidak lagi mondok di sini menyusahkan mereka. Akan tetapi aku masih bingung, Dewi. Kemana kita harus pindah? Ketahuilah bahwa ketika melepaskan diri dari Suramenggala, aku tidak membawa apa-apa. Selama ini, sandang pangan (pakaian dan makan) dan semua keperluanku ditanggung oleh Ki Lurah sekeluarga."
Puspa Dewi menghibur Ibunya.
"Untuk itu harap Ibu tidak khawatir. Aku menyimpan banyak perhiasan yang lebih dari cukup untuk membeli rumah dan pekarangan. Perhiasan itu kudapat dari Kerajaan Wura-Wuri di mana aku dijadikan puteri istana. Akan tetapi, sudah kuceritakan kepada Ibu bahwa aku tidak akan kembali ke sana karena aku pasti akan ditangkap dan dihukum berat. Juga aku tidak ingin tinggal di Karang Tirta, Ibu. Aku ingin pergi bersama Ibu dan pindah ke tempat yang jauh dari sini."
"Hemm, ke manakah, Anakku?"
"Ibu, apakah Ibu tidak mempunyai saudara? Kakak atau Adik, atau Paman dan Bibi? Juga orang tua Ibu atau orang tua Ayah? Tidak mungkin kalau Ibu dan mendiang Ayahku tidak mempunyai keluarga sama sekali. Mari kita ke sana, Ibu, ke rumah keluarga ibu atau Ayah. Aku ingin mengenal keluarga orang tuaku, Ibu. Ibu, engkau mengapa?"
Puspa Dewi merangkul Ibunya ketika melihat betapa Nyi Lasmi menangis terisak-isak sambil menutupi muka dengan kedua tangannya.
"Ibu, mengapa Ibu menangis?" Gadis itu merasa heran sekali, juga khawatir karena tidak biasanya Ibunya bersikap cengeng, apalagi menangis tanpa sebab. Nyi Lasmi berusaha menahan tangisnya. Puspa Dewi membantunya menghapus air matanya yang membasahi Kedua pipi Ibunya.
"Nah, tenangkanlah hatimu, Ibu. Ceritakanlah kepadaku, Ibu, agar kalau ada hal yang membuat Ibu berduka aku dapat ikut merasakannya."

Nyi Lasmi sudah dapat menghentikan tangisnya. Ia kini telah lebih tenang dan ia memegang kedua tangan puterinya seolah mencari perlindungan atau kekuatan.
"Anakku, Puspa Dewi, mendengar engkau bertanya tentang Ayah kandungmu, tentang keluarga kami, aku menjadi sedih. Maklumilah kelemahanku, Anakku, karena sejak bertahun-tahun ini aku selalu menekan perasaan ini. Sekarang, setelah engkau dewasa dan engkau menjadi seorang gadis yang sakti dan tangguh, kukira sudah tiba waktunya aku menceritakan semuanya kepadamu."
"Ceritakanlah, Ibu. Ceritakan tentang mendiang Ayahku." desak gadis itu.
"Nama Ayah Prasetyo, Ibu? Nama yang bagus sekali. Tentu mendiang Ayahku seorang tampan dan gagah sekali!"
Nyi Lasmi menghela napas panjang.
"Sekarang akan kuceritakan semuanya, Dewi, tidak ada yang perlu kurahasiakan lagi. Dengarlah baik-baik. Dahulu sebagai seorang gadis berusia enam belas tahun aku tinggal di dusun Munggung, sebelah timur ibu kota Kahuripan."
"Wah, aku dapat membayangkan. Ibu tentu merupakan seorang gadis cantik jelita, menjadi kembang dusun Munggung!"
"Yaahh, kecantikan yang bagi seorang wanita terkadang lebih banyak mendatangkan godaan dan kesusahan daripada kesenangan. Aku memang dianggap sebagai kembang dusun Munggung, dan hal itulah yang mendatangkan kesengsaraan bagiku. Aku berkenalan dengan seorang perwira pasukan pengawal yang masih muda, berusia dua puluh tahun dan kami saling bertemu dan berkenalan ketika perwira itu mengawal Tumenggung Jayatanu dari Kahuripan yang sedang berkunjung ke Munggung."
"Perwira itu tentu Prasetyo yang gagah!" kata Puspa Dewi.
"Engkau benar. Kami saling jatuh cinta dan setahun kemudian setelah kami berkenalan kami menikah dengan restu orang tua kami masing-masing. Aku ikut suamiku tinggal di kota raja, tinggal di rumah asrama yang disediakan Tumenggung Jayatanu untuk para perwira pasukan pengawalnya. Akan tetapi ketika aku mengandung dan kandunganku sudah delapan bulan, suamiku mengantar aku pulang ke Munggung agar kalau aku melahirkan, ada Ibuku yang merawatku”
"Dan yang Ibu kandung itu adalah aku, bukan?"
"Benar, Anakku. Akan tetapi bersama dengan kelahiranmu yang mendatangkan kebahagiaan besar dalam hatiku, datang pula berita yang menghancurkan hatiku."

Puspa Dewi mengerutkan alisnya dan memandang wajah Ibunya dengan tajam penuh selidik.
"Berita apakah Itu, Ibu?"
"Berita bahwa... bahwa Kakangmas Prasetyo, Ayah kandungmu itu... dia terpaksa menikah dengan Dyah Mularsih..."
"Eh...?" Puspa Dewi mengerutkan alisnya dan sinar matanya mencorong.
"Siapa itu Dyah Mularsih, Ibu?"
"Dyah Mularsih itu anak tunggal dari Tumenggung Jayatanu,"
"Akan tetapi, mengapa Ayah terpaksa harus menikah dengannya?"
"Karena.... diam-diam Ayahmu, Kakangmas Prasetyo itu diam-diam memadu kasih dengan gadis bangsawan itu sehingga... Dyah Mularsih mengandung."
"Ah! Mengapa Ayah begitu. Ibu?"
"Aku tidak bisa menyalahkah Ayahmu. Dia seorang laki-laki muda yang gagah dan tampan. Sebetulnya puteri tumenggung itulah yang tergila-gila kepada Ayahmu dan selalu mengejarnya. Ayahmu ketika itu masih muda, dan aku sedang mengandung... maka tidak dapat aku menyalahkan kalau dia itu jatuh dan mengadakah hubungan sehingga Dyah Mularsih mengandung. Terpaksa dia harus bertang-gungjawab dan tidak dapat menolak ketika diharuskan menikah dengan gadis itu. Aku pun ketika itu menerima kenyataan dan menyabarkan hati, tidak merasa keberatan dimadu."
"Hmm, kalau begitu tidak ada persoalan lagi. Lalu mengapa Ayah meninggal dunia dalam usia muda, Ibu?"
"Nanti dulu, Dewi, biar kulanjutkan ceritaku. Setelah menjadi mantu Tumenggung Jayatanu, tentu saja Kakangmas Prasetyo lalu diboyong dan pindah tinggal di rumah gedung Tumenggung Jayatanu. Aku merasa malu untuk ikut ke sana, Dewi. Ayahmu memang datang dan hendak memboyong kita berdua ke rumah mertuanya, akan tetapi aku menolak. Aku malu, Anakku, membayangkan bahwa aku harus mondok dirumah maduku."
"Ibu benar! Kita orang kecil dan miskin tidak perlu menyembah-nyembah dan menjilati kaki orang-orang berpangkat dan berharta! Lalu bagaimana, Ibu?"
"Penolakanku itu membuat Sang Tumenggung marah. Ketika Ayahmu datang ke rumah kita, Sang Tumenggung menyusul datang dan di depan orang tuaku dan aku, Tumenggung Jayatanu memaksa Ayahmu untuk memilih. Dia tetap menjadi perwira dan mantu Sang Tumenggung dan tinggal di katumenggungan, menceraikan aku, atau dia memilih hidup bersama aku dan tidak diaku lagi sebagai mantu Sang Tumenggung dan bercerai dari Dyah Mularsih!"
"Hemm, pilihan yang tegas dan adil juga. Lalu bagaimana, Ibu? Ayah memilih yang mana?"
"Ayahmu bingung, Dewi. Kalau dia memilih hidup bersamaku, berarti dia dipecat dari pangkatnya sebagai perwira, padahal Ayahmu berkeinginan keras untuk meningkatkan pangkatnya sampai mendapat kedudukan tinggi. Pula dia harus meninggalkan Dyah Mularsih yang sedang mengandung. Dia bingung sekali dan aku merasa kasihan kepadanya, Dewi. Aku terlalu mencinta Ayahmu dan rela berkorban. Maka aku menganjurkan dia untuk meninggalkan kita dan melanjutkan pekerjaannya di kota raja."

<<< Bagian 06                                                                                        Bagian 08 >>>

No comments:

Post a Comment