"Ah, Ibu....!"
"Itulah yang sebaiknya untuk
Ayahmu, Dewi. Kalau dia melakukan anjuranku, berarti yang berkorban perasaan
hanya aku seorang. Akan tetapi sebaliknya kalau dia memilih hidup bersamaku dan
meninggalkan Dyah Mularsih dan kedudukannya, berarti yang berkorban dua orang,
yaitu Dyah Mularsih dan calon anaknya yang ditinggal suami dan Ayah, juga
Kakangmas Prasetyo sendiri yang selain berdosa meninggalkan anak isteri di
tumenggungan, juga kehilangan kedudukannya yang baik. Aku terlalu mencinta
Ayahmu, Dewi, tidak tega aku melihat dia sengsara dan berduka karena memilih
hidup bersamaku."
“Aih, Ibu, engkau terlalu
mulia...."
"Tidak, Dewi, aku hanya
melakukan itu karena mencinta suamiku. Nah, setelah aku mengambil keputusan
bercerai dari Ayahmu, muncul malapetaka lain yang disebabkan pula oleh apa yang
dinamakan kecantikan itu. Seorang laki-laki putera demang yang memang sejak
dulu agaknya jatuh cinta padaku, akan tetapi niatnya memperisteri aku gagal
karena aku sudah menjadi isteri Ayahmu, ketika mendengar bahwa aku telah
berpisah dari Ayahmu, lalu mencoba mendekati aku. Aku menolaknya karena selain
aku tidak cinta padanya, aku juga sudah berjanji dalam hatiku bahwa aku tidak
akan menikah lagi, akan hidup bersama engkau. Akan tetapi laki-laki itu menjadi
penasaran dan hendak menggunakan paksaan. Dia datang bersama dua orang
jagoannya dan hendak membawa aku dengan paksa. Ayahku melarangnya sehingga terjadi
perkelahian dan tentu saja Ayahku tidak mampu melawan dua orang jagoan itu.
Ayahku tertikam keris dan tewas..."
"Jahanam!" Puspa Dewi
membentak dan mengepal tinju.
"Sabar dan tenanglah. Dewi,
biar kulanjutkan. Setelah Ayahku roboh dan Si Darsikun, putera demang itu
menyeret aku yang menggendong engkau yang baru berusia enam bulan, dibantu oleh
dua orang jagoannya, hendak memaksa aku masuk ke dalam keretanya, tiba-tiba
muncul Kakangmas Prasetyo."
"Ayahku....!"
"Ya, ternyata Ayahmu
kadang-kadang masih menjenguk kita. Dia bahkan masih memikirkan kebutuhan kita
walaupun sudah bukan menjadi suamiku yang resmi lagi. Melihat aku diseret-seret
tiga orang dan Ayahku tewas ditangisi Ibuku, Kakangmas Prasetyo marah dan
mengamuk. Putera Demang itu, Si Darsikun dan dua orang anak buahnya, dihajar
sampai mati."
"Bagus! Aku ikut bangga, Ayah
ternyata masih melindungi Ibu!"
"Akan tetapi kematian Ayahku
itu membuat Ibuku berduka sekali sehingga ia jatuh sakit dan akhirnya meninggal
dunia sekitar sebulan setelah Ayahku meninggal. Dan aku mendengar berita bahwa
Kakangmes Prasetyo mendapat kemarahan dan teguran keras dari mertuanya.
Tumenggung Jayatanu marah karena Ayahmu telah membunuh putera demang dan dua
orang jagoannya itu, juga menegur aku karena pembunuhan itu dilakukan Kakangmas
Prasetyo karena hendak membelaku. Aku tidak ingin menyusahkan Ayahmu, Dewi,
maka setelah Ibuku meninggal aku lalu pergi meninggalkan desa Munggung. Aku
tahu bahwa kalau aku masih tinggal di Munggung, tentu Kakangmas Prasetyo masih
suka datang menjenguk kita dan hal ini tidak disuka oleh keluarga
katumenggungan. Berarti aku akan mengganggu kebahagiaannya. Muka aku mengalah
dan aku pergi meninggalkan Munggung tanpa pamit kepadanya."
"Ah, mengapa begitu, Ibu?
Kasihan Ayah."
"Tidak, Dewi. Dia tadinya sudah
disuruh memilih menceraikan aku atau menceraikan Dyah Mularsih. Dia memilih
menceraikan aku karena berat meninggalkan kedudukannya. Dia sudah memilih dan
dia harus bertanggung jawab dan berani menanggung akibat pilihannya itu. Aku
lalu pergi merantau sampai jauh dan akhirnya setelah berpindah-pindah tempat
selama belasan tahun, aku dan engkau tinggal di Karang Tirta."
"Apakah Ibu tidak pergi ke
keluarga yang lain. Apakah Ibu tidak mempunyai saudara?"
"Tidak, Dewi. Aku adalah anak
tunggal. Selama belasan tahun aku dapat mempertahankan janjiku untuk tidak
menikah lagi. Aku sudah merasa berbahagia hidup berdua denganmu dalam keadaan
miskin dan seadanya. Akan tetapi kemudian terjadilah malapetaka itu. Engkau
diculik orang! Dunia terasa hancur bagiku, kebahagiaanku hilang dan aku merana,
kehilangan pegangan dan bingung. Dalam keadaan seperti itu, datang uluran
tangan Ki Lurah Suramenggala yang mengalami nasib yang sama, yaitu puteranya
juga diculik orang. Dialah yang menghiburku, membantuku sehingga akhirnya aku
dapat terbujuk dan menjadi selirnya. Akan tetapi engkau tahu, aku tidak pernah
merasa berbahagia menjadi selirnya, apalagi setelah engkau pulang dan engkau
kelihatan tidak suka melihat aku menjadi selir laki-laki yang kasar dan kejam
itu."
"Memang aku merasa tidak suka,
Ibu. Akan tetapi karena sudah terlanjur, maka aku pun tidak berani menyatakan
ketidaksenanganku."
"Aku mengerti, Dewi. Kemudian
engkau pergi lagi dan pada waktu engkau tidak ada, datang Ki Patih Narotama dan
Ki Suramenggala dipecat oleh Ki Patih Narotama, kemudian dia diusir dari Karang
Tirta. Kesempatan itu aku pergunakan untuk melepaskan diri darinya karena
sebelumnya, aku tidak berani melepaskan diri. Nah, aku lalu mondok di sini,
Dewi, dan keluarga Ki Pujosaputro sekeluarga menerimaku dengan baik."
"Ibu, kalau begitu.... mengapa
Ayah meninggal dunia?"
"Tidak, Dewi. Setelah aku pergi
meninggalkan Munggung, aku tidak pernah bertemu lagi dengan dia dan tidak
pernah mendengar beritanya."
"Akan tetapi Ibu.... dulu
selalu mengatakan bahwa Ayahku sudah meninggal?"
"Terpaksa aku berbohong padamu,
Dewi, karena tidak mungkin kita pergi ke sana menemuinya, hal Itu akan
mengganggu ketenteraman hidupnya."
"Jadi... dia masih hidup?"
tanya Puspa Dewi setengah berteriak.
"Aku tidak tahu, Dewi. Mungkin
dia masih hidup, akan tetapi tidak perlu kita membicarakan tentang dia. Tidak
perlu mengganggu dia dan jangan sampai mengganggu kebahagiaan hidupnya."
Puspa Dewi bangkit berdiri,
mengerutkan alisnya dan matanya menyinarkan kemarahan.
"Ibu terlalu lemah, Ibu
menyiksa diri sendiri! Ibu bodoh!" ia membentak-bentak saking penasaran
dan marah kepada Ayah kandungnya.
"Dewi, Ibumu ini mencinta Ayah
kandungmu dan cinta sejati memerlukan pengorbanan. Aku rela sengsara asal dia
bahagia, Dewi."
"Tidak bisa! Mungkin saja Ibu
begitu lemah dan bodoh. Akan tetapi apakah Ibu tidak ingat aku? Aku ini juga
anaknya, anak Prasetyo itu! Apakah aku juga harus berkorban? Ibu berkorban
hidup sengsara dan menyeret aku pula, sedangkan Prasetyo itu enak-enakan, hidup
bersenang-senang di kota raja! Tidak benar ini, Ibu. Aku yang akan menegurnya,
aku yang akan membuka matanya, menyadarkan betapa besar dosanya terhadap
Ibu!"
“Dewi..!" Nyi Lasmi mengeluh
dan menangis. Tiba-tiba terdengar suara orang dari luar rumah.
"Puspa Dewi, atas nama Gusti
Adipati Bhismaprabhawa dan Gusti Puteri Dewi Durgakumala, kami perintahkan agar
Andika keluar dan menyerah untuk kami tangkap dan kami hadapkan kepada beliau
di Kerajaan Wura-Wuri!" Suara itu terdengar menggelegar karena diteriakkan
dengan dorongan tenaga dalam yang kuat.
Mendengar suara ini, Puspa Dewi yang
sedang marah karena cerita Ibunya, segera mendengus marah dan tubuhnya
berkelebat keluar rumah.
"Dewi...!" Nyi Lasmi
berseru penuh kekhawatiran lalu terhuyung-huyung mengejar keluar.
Setibanya di pekarangan depan rumah
kelurahan, Puspa Dewi berhadapan dengan lima orang laki-laki. Sinar lampu yang
tergantung di depan pendopo menambah terangnya sinar bulan sehingga ia segera
mengenal siapa lima orang itu. Tiga orang di antara mereka adalah
senopati-senopati yang terkenal dari Kerajaan Wura-Wuri. Mereka terkenal dengan
julukan Tri Kala (Tiga Kala) yang terdiri dari Kala Muka, berusia enam puluh
tahun, tinggi kurus dengan muka meruncing seperti muka tikus, mulutnya cemberut
wajahnya keruh, pakaiannya mewah seperti pakaian bangsawan. Orang ke dua adalah
Kala Manik, berusia lima puluh lima tahun, tubuhnya gendut pendek, mulutnya
tersenyum-senyum mengejek, di pinggangnya tergantung sebatang klewang (semacam
golok), juga pakaiannya mewah. Orang ke tiga adalah Kala Teja berusia sekitar
lima puluh tahun, kepalanya gundul, tubuhnya tinggi besar dan wajahnya bengis,
di pinggangnya tergantung sebatang ruyung. Tri Kala ini adalah
senopati-senopati Kerajaan Wura-wuri, terkenal sakti mandraguna. Akan tetapi
tentu saja Puspa Dewi sama sekali tidak gentar terhadap mereka. Dulu, ketika ia
ditugaskan oleh Adipati Bhismaprabhawa dan permaisurinya yang baru, yaitu Nyi
Dewi Durgakmala yang menjadi gurunya, ia pernah diuji kedigdayaannya oleh Sang
Adipati yang menyuruh Tri Kala ini menghadangnya. Dalam pertandingan itu, ia
dapat mengalahkan tiga orang senopati ini. Maka, melihat mereka, Puspa Dewi
memandang rendah. Akan tetapi, selain tiga orang senopati Wura-Wuri ini, ada
dua orang lain menyertai mereka. Dua orang yang pernah bertemu dengannya,
bahkan ia sempat bertanding melawan mereka. Puspa Dewi teringat akan
pengalamannya sekitar setahun yang lalu ketika ia membantu Nurseta yang
dikeroyok oleh tiga orang, yaitu Mayang Gupita yang menjadi Ratu Kerajaan
Siluman Laut Kidul, Dibyo Mamangkoro, dan Cekel Aksomolo, dua orang datuk sesat
yang sakti. Ia dan Nurseta berhasil mengalahkan dan mengusir mereka. Kini,
seorang di antara dua orang yang datang bersama Tri Kala adalah satu di antara
mereka itu, yaitu Cekel Aksomolo yang berusia sekitar tiga puluh tahun,
berpakaian seperti pertapa, membawa seuntai tasbeh berwarna hitam. Tubuhnya
tinggi kurus, agak bongkok dan mukanya mengingatkan orang akan tokoh penasihat
Kurawa dalam cerita pewayangan yang bernama Bhagawan Durna. Adapun orang ke dua
belum pernah dilihatnya. Dia seorang laki-laki berusia sekitar dua puluh
delapan tahun, pakaiannya juga mewah, tubuhnya tinggi tegap dan wajahnya cukup
tampan dan gagah, matanya yang tajam itu memandang Puspa Dewi penuh gairah dan
sinar matanya seolah menggerayangi seluruh tubuh gadis itu, membuat Puspa Dewi
mengerutkan alis dengan hati panas. Pria gagah ini adalah Senopati Gandarwo,
seorang senopati muda yang baru diangkat menjadi senopati di Wura-Wuri. Biarpun
dia senopati muda, namun tingkat kedigdayaannya melebihi Tri Kala! Ki Gandarwo
ini adalah adik seperguruan Cekel Aksomolo, maka tentu saja dia sakti
mandraguna. Setelah diangkat menjadi senopati muda di Wura-Wuri oleh Sang
Adipati yang dibujuk oleh permaisurinya, Nyi Dewi Durgakumala, Ki Gandarwo
mengundang kakak seperguruannya, Cekel Aksomolo untuk berkunjung ke Wura-Wuri
dan membantu kerajaan itu. Ki Gandarwo ini adalah seorang yang wataknya mata
keranjang dan dia memang diam-diam telah menjalin hubungan asmara gelap dengan
Nyi Dewi Durgakumala.
"Hemm, kiranya Tri Kala yang
datang membuat ribut!" kata Puspa Dewi dan suaranya yang merdu itu
mengandung ancaman yang membuat Tri Kala merasa tergetar jantungnya dan gentar.
"Aku tadi mendengar ada yang
hendak menangkap aku? Hemm, coba ulangi, siapa keparat yang berani hendak
menangkap aku?"
"Ha-ha, akulah yang diutus
Kanjeng Adipati Bhismaprabhawa dan Kanjeng Puteri Dewi Durgakumala untuk
memanggil engkau menghadap beliau ke Kerajaan Wura-Wuri. Andika inikah yang
bernama Puspa Dewi? Wah, ternyata Andika melampaui semua gambaran yang
kudapatkan. Andika jauh lebih cantik jelita daripada yang dikabarkan orang.
Puteri Puspa Dewi, karena Andika adalah sekar kedaton Wura-Wuri, maka kami
persilakan Andika untuk bersama kami pulang ke Wura-Wuri, jangan sampai kami
terpaksa harus menangkap Andika."
Makin dalam kerut sepasang alis yang
hitam melengkung indah itu. Puspa Dewi merasa sebal melihat lagak dan gaya
pemuda itu.
"Kamu siapakah?" bentaknya
ketus.
"Ha-ha-ha, Andika belum
mengenal saya? Saya adalah seorang senopati baru, Ki Gandarwo namaku, aku masih
perjaka dan belum beristeri."
Puspa Dewi tidak mampu menahan
kemarahannya lagi.
"Jahanam busuk, mampus
kamu!" Gadis itu sudah melompat dan menerjang Ki Candarwo dengan aji
pukulan Guntur Geni. Tangan gadis itu tampak kemerahan seperti bara api ketika
tangannya menampar ke arah kepala Ki Gandarwo.
"Haiiittt...!" bentaknya
melengking.
Ki Gandarwo terkejut setengah mati
ketika merasa ada hawa panas menyambar dari tangan gadis itu. Akan tetapi dia
bukan orang lemah. Ki Gandarwo adalah adik seperguruan Cekel Aksomolo, maka
tentu saja dia sudah memiliki aji kanuragan yang cukup tinggi. Melihat
datangnya pukulan yang tidak dapat dielakkan lagi itu, dia mengangkat tangannya
untuk menangkis sambil mengerahkan tenaga saktinya.
"Syuuuttt... desss...." Ki
Gandarwo mengeluarkan teriakan kaget. Tubuhnya terpental dan terbanting ke atas
tanah karena terdorong tenaga yang amat kuat. Untung dia memiliki kekebalan dan
dengan menggulingkan tubuhnya dia menjauhkan diri agar jangan disusuli serangan
selanjutnya oleh Puspa Dewi.
Puspa Dewi memang mengejar dan
hendak memukul lagi. Ia amat benci kepada pemuda yang ceriwis dan banyak lagak
itu dan ingin membunuhnya.
No comments:
Post a Comment