Nurseta Satria Karangtirta ; Bagian 08


"Ah, Ibu....!"
"Itulah yang sebaiknya untuk Ayahmu, Dewi. Kalau dia melakukan anjuranku, berarti yang berkorban perasaan hanya aku seorang. Akan tetapi sebaliknya kalau dia memilih hidup bersamaku dan meninggalkan Dyah Mularsih dan kedudukannya, berarti yang berkorban dua orang, yaitu Dyah Mularsih dan calon anaknya yang ditinggal suami dan Ayah, juga Kakangmas Prasetyo sendiri yang selain berdosa meninggalkan anak isteri di tumenggungan, juga kehilangan kedudukannya yang baik. Aku terlalu mencinta Ayahmu, Dewi, tidak tega aku melihat dia sengsara dan berduka karena memilih hidup bersamaku."
“Aih, Ibu, engkau terlalu mulia...."
"Tidak, Dewi, aku hanya melakukan itu karena mencinta suamiku. Nah, setelah aku mengambil keputusan bercerai dari Ayahmu, muncul malapetaka lain yang disebabkan pula oleh apa yang dinamakan kecantikan itu. Seorang laki-laki putera demang yang memang sejak dulu agaknya jatuh cinta padaku, akan tetapi niatnya memperisteri aku gagal karena aku sudah menjadi isteri Ayahmu, ketika mendengar bahwa aku telah berpisah dari Ayahmu, lalu mencoba mendekati aku. Aku menolaknya karena selain aku tidak cinta padanya, aku juga sudah berjanji dalam hatiku bahwa aku tidak akan menikah lagi, akan hidup bersama engkau. Akan tetapi laki-laki itu menjadi penasaran dan hendak menggunakan paksaan. Dia datang bersama dua orang jagoannya dan hendak membawa aku dengan paksa. Ayahku melarangnya sehingga terjadi perkelahian dan tentu saja Ayahku tidak mampu melawan dua orang jagoan itu. Ayahku tertikam keris dan tewas..."
"Jahanam!" Puspa Dewi membentak dan mengepal tinju.
"Sabar dan tenanglah. Dewi, biar kulanjutkan. Setelah Ayahku roboh dan Si Darsikun, putera demang itu menyeret aku yang menggendong engkau yang baru berusia enam bulan, dibantu oleh dua orang jagoannya, hendak memaksa aku masuk ke dalam keretanya, tiba-tiba muncul Kakangmas Prasetyo."
"Ayahku....!"
"Ya, ternyata Ayahmu kadang-kadang masih menjenguk kita. Dia bahkan masih memikirkan kebutuhan kita walaupun sudah bukan menjadi suamiku yang resmi lagi. Melihat aku diseret-seret tiga orang dan Ayahku tewas ditangisi Ibuku, Kakangmas Prasetyo marah dan mengamuk. Putera Demang itu, Si Darsikun dan dua orang anak buahnya, dihajar sampai mati."
"Bagus! Aku ikut bangga, Ayah ternyata masih melindungi Ibu!"
"Akan tetapi kematian Ayahku itu membuat Ibuku berduka sekali sehingga ia jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia sekitar sebulan setelah Ayahku meninggal. Dan aku mendengar berita bahwa Kakangmes Prasetyo mendapat kemarahan dan teguran keras dari mertuanya. Tumenggung Jayatanu marah karena Ayahmu telah membunuh putera demang dan dua orang jagoannya itu, juga menegur aku karena pembunuhan itu dilakukan Kakangmas Prasetyo karena hendak membelaku. Aku tidak ingin menyusahkan Ayahmu, Dewi, maka setelah Ibuku meninggal aku lalu pergi meninggalkan desa Munggung. Aku tahu bahwa kalau aku masih tinggal di Munggung, tentu Kakangmas Prasetyo masih suka datang menjenguk kita dan hal ini tidak disuka oleh keluarga katumenggungan. Berarti aku akan mengganggu kebahagiaannya. Muka aku mengalah dan aku pergi meninggalkan Munggung tanpa pamit kepadanya."
"Ah, mengapa begitu, Ibu? Kasihan Ayah."
"Tidak, Dewi. Dia tadinya sudah disuruh memilih menceraikan aku atau menceraikan Dyah Mularsih. Dia memilih menceraikan aku karena berat meninggalkan kedudukannya. Dia sudah memilih dan dia harus bertanggung jawab dan berani menanggung akibat pilihannya itu. Aku lalu pergi merantau sampai jauh dan akhirnya setelah berpindah-pindah tempat selama belasan tahun, aku dan engkau tinggal di Karang Tirta."
"Apakah Ibu tidak pergi ke keluarga yang lain. Apakah Ibu tidak mempunyai saudara?"
"Tidak, Dewi. Aku adalah anak tunggal. Selama belasan tahun aku dapat mempertahankan janjiku untuk tidak menikah lagi. Aku sudah merasa berbahagia hidup berdua denganmu dalam keadaan miskin dan seadanya. Akan tetapi kemudian terjadilah malapetaka itu. Engkau diculik orang! Dunia terasa hancur bagiku, kebahagiaanku hilang dan aku merana, kehilangan pegangan dan bingung. Dalam keadaan seperti itu, datang uluran tangan Ki Lurah Suramenggala yang mengalami nasib yang sama, yaitu puteranya juga diculik orang. Dialah yang menghiburku, membantuku sehingga akhirnya aku dapat terbujuk dan menjadi selirnya. Akan tetapi engkau tahu, aku tidak pernah merasa berbahagia menjadi selirnya, apalagi setelah engkau pulang dan engkau kelihatan tidak suka melihat aku menjadi selir laki-laki yang kasar dan kejam itu."
"Memang aku merasa tidak suka, Ibu. Akan tetapi karena sudah terlanjur, maka aku pun tidak berani menyatakan ketidaksenanganku."
"Aku mengerti, Dewi. Kemudian engkau pergi lagi dan pada waktu engkau tidak ada, datang Ki Patih Narotama dan Ki Suramenggala dipecat oleh Ki Patih Narotama, kemudian dia diusir dari Karang Tirta. Kesempatan itu aku pergunakan untuk melepaskan diri darinya karena sebelumnya, aku tidak berani melepaskan diri. Nah, aku lalu mondok di sini, Dewi, dan keluarga Ki Pujosaputro sekeluarga menerimaku dengan baik."
"Ibu, kalau begitu.... mengapa Ayah meninggal dunia?"
"Tidak, Dewi. Setelah aku pergi meninggalkan Munggung, aku tidak pernah bertemu lagi dengan dia dan tidak pernah mendengar beritanya."
"Akan tetapi Ibu.... dulu selalu mengatakan bahwa Ayahku sudah meninggal?"
"Terpaksa aku berbohong padamu, Dewi, karena tidak mungkin kita pergi ke sana menemuinya, hal Itu akan mengganggu ketenteraman hidupnya."
"Jadi... dia masih hidup?" tanya Puspa Dewi setengah berteriak.
"Aku tidak tahu, Dewi. Mungkin dia masih hidup, akan tetapi tidak perlu kita membicarakan tentang dia. Tidak perlu mengganggu dia dan jangan sampai mengganggu kebahagiaan hidupnya."

Puspa Dewi bangkit berdiri, mengerutkan alisnya dan matanya menyinarkan kemarahan.
"Ibu terlalu lemah, Ibu menyiksa diri sendiri! Ibu bodoh!" ia membentak-bentak saking penasaran dan marah kepada Ayah kandungnya.
"Dewi, Ibumu ini mencinta Ayah kandungmu dan cinta sejati memerlukan pengorbanan. Aku rela sengsara asal dia bahagia, Dewi."
"Tidak bisa! Mungkin saja Ibu begitu lemah dan bodoh. Akan tetapi apakah Ibu tidak ingat aku? Aku ini juga anaknya, anak Prasetyo itu! Apakah aku juga harus berkorban? Ibu berkorban hidup sengsara dan menyeret aku pula, sedangkan Prasetyo itu enak-enakan, hidup bersenang-senang di kota raja! Tidak benar ini, Ibu. Aku yang akan menegurnya, aku yang akan membuka matanya, menyadarkan betapa besar dosanya terhadap Ibu!"
“Dewi..!" Nyi Lasmi mengeluh dan menangis. Tiba-tiba terdengar suara orang dari luar rumah.
"Puspa Dewi, atas nama Gusti Adipati Bhismaprabhawa dan Gusti Puteri Dewi Durgakumala, kami perintahkan agar Andika keluar dan menyerah untuk kami tangkap dan kami hadapkan kepada beliau di Kerajaan Wura-Wuri!" Suara itu terdengar menggelegar karena diteriakkan dengan dorongan tenaga dalam yang kuat.
Mendengar suara ini, Puspa Dewi yang sedang marah karena cerita Ibunya, segera mendengus marah dan tubuhnya berkelebat keluar rumah.
"Dewi...!" Nyi Lasmi berseru penuh kekhawatiran lalu terhuyung-huyung mengejar keluar.

Setibanya di pekarangan depan rumah kelurahan, Puspa Dewi berhadapan dengan lima orang laki-laki. Sinar lampu yang tergantung di depan pendopo menambah terangnya sinar bulan sehingga ia segera mengenal siapa lima orang itu. Tiga orang di antara mereka adalah senopati-senopati yang terkenal dari Kerajaan Wura-Wuri. Mereka terkenal dengan julukan Tri Kala (Tiga Kala) yang terdiri dari Kala Muka, berusia enam puluh tahun, tinggi kurus dengan muka meruncing seperti muka tikus, mulutnya cemberut wajahnya keruh, pakaiannya mewah seperti pakaian bangsawan. Orang ke dua adalah Kala Manik, berusia lima puluh lima tahun, tubuhnya gendut pendek, mulutnya tersenyum-senyum mengejek, di pinggangnya tergantung sebatang klewang (semacam golok), juga pakaiannya mewah. Orang ke tiga adalah Kala Teja berusia sekitar lima puluh tahun, kepalanya gundul, tubuhnya tinggi besar dan wajahnya bengis, di pinggangnya tergantung sebatang ruyung. Tri Kala ini adalah senopati-senopati Kerajaan Wura-wuri, terkenal sakti mandraguna. Akan tetapi tentu saja Puspa Dewi sama sekali tidak gentar terhadap mereka. Dulu, ketika ia ditugaskan oleh Adipati Bhismaprabhawa dan permaisurinya yang baru, yaitu Nyi Dewi Durgakmala yang menjadi gurunya, ia pernah diuji kedigdayaannya oleh Sang Adipati yang menyuruh Tri Kala ini menghadangnya. Dalam pertandingan itu, ia dapat mengalahkan tiga orang senopati ini. Maka, melihat mereka, Puspa Dewi memandang rendah. Akan tetapi, selain tiga orang senopati Wura-Wuri ini, ada dua orang lain menyertai mereka. Dua orang yang pernah bertemu dengannya, bahkan ia sempat bertanding melawan mereka. Puspa Dewi teringat akan pengalamannya sekitar setahun yang lalu ketika ia membantu Nurseta yang dikeroyok oleh tiga orang, yaitu Mayang Gupita yang menjadi Ratu Kerajaan Siluman Laut Kidul, Dibyo Mamangkoro, dan Cekel Aksomolo, dua orang datuk sesat yang sakti. Ia dan Nurseta berhasil mengalahkan dan mengusir mereka. Kini, seorang di antara dua orang yang datang bersama Tri Kala adalah satu di antara mereka itu, yaitu Cekel Aksomolo yang berusia sekitar tiga puluh tahun, berpakaian seperti pertapa, membawa seuntai tasbeh berwarna hitam. Tubuhnya tinggi kurus, agak bongkok dan mukanya mengingatkan orang akan tokoh penasihat Kurawa dalam cerita pewayangan yang bernama Bhagawan Durna. Adapun orang ke dua belum pernah dilihatnya. Dia seorang laki-laki berusia sekitar dua puluh delapan tahun, pakaiannya juga mewah, tubuhnya tinggi tegap dan wajahnya cukup tampan dan gagah, matanya yang tajam itu memandang Puspa Dewi penuh gairah dan sinar matanya seolah menggerayangi seluruh tubuh gadis itu, membuat Puspa Dewi mengerutkan alis dengan hati panas. Pria gagah ini adalah Senopati Gandarwo, seorang senopati muda yang baru diangkat menjadi senopati di Wura-Wuri. Biarpun dia senopati muda, namun tingkat kedigdayaannya melebihi Tri Kala! Ki Gandarwo ini adalah adik seperguruan Cekel Aksomolo, maka tentu saja dia sakti mandraguna. Setelah diangkat menjadi senopati muda di Wura-Wuri oleh Sang Adipati yang dibujuk oleh permaisurinya, Nyi Dewi Durgakumala, Ki Gandarwo mengundang kakak seperguruannya, Cekel Aksomolo untuk berkunjung ke Wura-Wuri dan membantu kerajaan itu. Ki Gandarwo ini adalah seorang yang wataknya mata keranjang dan dia memang diam-diam telah menjalin hubungan asmara gelap dengan Nyi Dewi Durgakumala.
"Hemm, kiranya Tri Kala yang datang membuat ribut!" kata Puspa Dewi dan suaranya yang merdu itu mengandung ancaman yang membuat Tri Kala merasa tergetar jantungnya dan gentar.
"Aku tadi mendengar ada yang hendak menangkap aku? Hemm, coba ulangi, siapa keparat yang berani hendak menangkap aku?"
"Ha-ha, akulah yang diutus Kanjeng Adipati Bhismaprabhawa dan Kanjeng Puteri Dewi Durgakumala untuk memanggil engkau menghadap beliau ke Kerajaan Wura-Wuri. Andika inikah yang bernama Puspa Dewi? Wah, ternyata Andika melampaui semua gambaran yang kudapatkan. Andika jauh lebih cantik jelita daripada yang dikabarkan orang. Puteri Puspa Dewi, karena Andika adalah sekar kedaton Wura-Wuri, maka kami persilakan Andika untuk bersama kami pulang ke Wura-Wuri, jangan sampai kami terpaksa harus menangkap Andika."

Makin dalam kerut sepasang alis yang hitam melengkung indah itu. Puspa Dewi merasa sebal melihat lagak dan gaya pemuda itu.
"Kamu siapakah?" bentaknya ketus.
"Ha-ha-ha, Andika belum mengenal saya? Saya adalah seorang senopati baru, Ki Gandarwo namaku, aku masih perjaka dan belum beristeri."
Puspa Dewi tidak mampu menahan kemarahannya lagi.
"Jahanam busuk, mampus kamu!" Gadis itu sudah melompat dan menerjang Ki Candarwo dengan aji pukulan Guntur Geni. Tangan gadis itu tampak kemerahan seperti bara api ketika tangannya menampar ke arah kepala Ki Gandarwo.
"Haiiittt...!" bentaknya melengking.
Ki Gandarwo terkejut setengah mati ketika merasa ada hawa panas menyambar dari tangan gadis itu. Akan tetapi dia bukan orang lemah. Ki Gandarwo adalah adik seperguruan Cekel Aksomolo, maka tentu saja dia sudah memiliki aji kanuragan yang cukup tinggi. Melihat datangnya pukulan yang tidak dapat dielakkan lagi itu, dia mengangkat tangannya untuk menangkis sambil mengerahkan tenaga saktinya.
"Syuuuttt... desss...." Ki Gandarwo mengeluarkan teriakan kaget. Tubuhnya terpental dan terbanting ke atas tanah karena terdorong tenaga yang amat kuat. Untung dia memiliki kekebalan dan dengan menggulingkan tubuhnya dia menjauhkan diri agar jangan disusuli serangan selanjutnya oleh Puspa Dewi.
Puspa Dewi memang mengejar dan hendak memukul lagi. Ia amat benci kepada pemuda yang ceriwis dan banyak lagak itu dan ingin membunuhnya.

<<< Bagian 07                                                                                         Bagian 09 >>>

No comments:

Post a Comment