Nurseta Satria Karangtirta ; Bagian 09


Akan tetapi pada saat itu, Tri Kala dan Cekel Aksomolo sudah menghadangnya. Puspa Dewi memandang kepada empat orang itu dengan sinar mata berkilat.
"Minggir atau kubunuh juga kalian!"
"Gusti Puteri," kata Kala Muka yang cemberut.
"Harap paduka tidak menyusahkan kami. Kami hanya melaksanakan perintah Gusti Adipati dan Gusti Puteri, Ibu Paduka."
"Cukup! Pergilah dan jangan ganggu aku lagi!"
"Heh-heh, agaknya puteri ini hendak memberontak terhadap Kadipaten Wura-Wuri!" kata Cekel Aksomolo dengan suara nya yang tinggi seperti suara wanita.
"Tri Kala Kalau aku tidak mau ikut kalian ke Wura-Wuri, habis kalian mau apa?" Puspa Dewi menantang.
"Gusti Adipati memerintahkan kami untuk membawa Paduka ke Wura-Wuri, baik Paduka mau atau tidak. Kalau Paduka tidak mau, terpaksa kami mempergunakan kekerasan."
"Kalian kira aku takut terhadap kalian berlima? Majulah kalian, tambah lagi kalau kurang banyak! Aku tidak akan mundur selangkah pun!"
"Wah, galaknya! He-he-hi-hik! Mari, kita gempur gadis sombong ini" kata Cekel Aksomolo sambil memutar-mutar tasbeh hitam di tangannya sehingga terdengar bunyi berkeritikan tajam menembus telinga. Bunyi biji-biji tasbeh yang diputar ini bukan sembarangan karena dapat dipergunakan untuk menyerang lawan melalui pendengarannya. Kalau lawan yang diserang tidak memiliki tenaga sakti yang kuat, dia dapat roboh hanya karena diserang suara itu. Gendang telinganya dapat pecah dan jantungnya terguncang. Dan untaian tasbeh itu pun dapat menjadi senjata ampuh, bahkan biji-biji tasbeh itu dapat menjadi senjata rahasia yang disebut Ganitri (biji tasbeh) dan dapat mengejar lawan seperti tawon-tawon yang beracun.
Kala Muka juga sudah mencabut keris nya. Kala Manik mempersiapkan klewang dan Kala Teja meloloskan ruyungnya. Ki Gandarwo juga sudah siap siaga dengan pedangnya. Lima orang itu, dengan senjata andalan masing masing di tangan, kini perlahan-lahan bergerak mengepung Puspa Dewi.

Namun gadis yang baru berusia sembilan belas tahun itu sama sekali tidak takut. Ia mencabut pedangnya dan tampak sinar hitam berkelebat dengan suara berdesing. Ia melintangkan pedangnya depan dada, berdiri tegak dan tidak bergerak sedikit pun. Tentu saja ia tidak dapat melihat dua orang di antara lima pengeroyok itu yang mengepung di belakangnya. Akan tetapi, perasaan dan pendengaran Puspa Dewi dapat menggantikan penglihatannya. Ki Gandarwo, senopati muda Wura-wuri yang bertindak sebagai pemimpin rombongan, dan pada saat itu sedang marah karena tadi dia terpental dan terbanting roboh ketika beradu tenaga melawan Puspa Dewi.
"Serang... !"
Dia memberi komando dan lima orang itu sudah bergerak menyerang dari depan, kanan kiri dan belakang. Senjata mereka menyambar-nyambar dengan ganasnya. Puspa Dewi menggerakkan tubuhnya dan tampak sinar hitam bergulung-gulung di seputar dirinya ketika ia mainkan pedang hitam itu. Puspa Dewi bukan hanya melindungi dirinya dengan perisai sinar pedangnya, melainkan ia juga membagi-bagi serangan dengan pukulan jarak jauh, yaitu Aji Guntur Geni. Aji pukulan ini memang dahsyat sekali, menyambar-nyambar mengeluarkan hawa panas. Akan tetapi lima orang lawannya juga bukan orang-orang lemah, terutama sekali Cekel Aksomolo dan Ki Gandarwo. Betapapun juga, menghadapi amukan Puspa Dewi yang mengeluarkan seluruh kesaktiannya itu, mereka kewalahan juga. Mereka sudah mencoba untuk mendesak, namun senjata mereka selalu terpental apabila bertemu dengan gulungan sinar hitam itu. Selain itu, mereka harus waspada dan cepat mengelak apabila dorongan telapak tangan kiri Puspa Dewi yang mengandung hawa panas itu menyambar ke arah muka.
"Cring-cring-trangg...!"
Bunyi dentingan nyaring dari bertemunya pedang hitam di tangan Puspa Dewi dengan senjata para pengeroyoknya diikuti percikan bunga api membuat orang-orang yang datang merasa ngeri. Penduduk dusun yang mendengar akan adanya keributan di pekarangan Lurah Karang Tirta, berbondong-bondong datang menonton. Akan tetapi mereka hanya bergerombol di luar pekarangan, tidak berani masuk melihat betapa Puspa Dewi dikeroyok lima orang dan mereka bertanding dengan cepat sekali. Tubuh mereka berkelebatan, sukar diikuti pandang mata penduduk dusun itu.
"Puspa Dewi...!" tiba-tiba Nyi Lasmi yang sudah berada di ambang pintu depan berteriak, penuh kekhawatiran. Ia lalu berlari keluar dari pendopo, menghampiri medan perkelahian dengan nekat karena khawatir akan keselamatan puterinya.
"Ibu, jangan mendekat" teriak Puspa Dewi ketika melihat Ibunya mendekati tempat yang berbahaya bagi Ibunya itu.

Akan tetapi ia harus mencurahkan perhatiannya kepada para pengeroyoknya karena sedikit saja ia membagi perhatiannya tadi, nyaris pundaknya terkena sambaran ruyung di tangan Kala Teja. Cepat ia mengelebatkan pedangnya menangkis karena serangan ruyung itu diikuti tusukan keris di tangan Kala Muka.
"Trangg.... cringgg....!" Kala Teja dan Kala Muka terhuyung karena tangkisan pedang hitam itu kuat bukan main. Akan tetapi terdengar bunyi mendesing pedang Ki Candarwo sudah menyambar dengan bacokan ke arah lehernya dari belakang. Puspa Dewi memutar tubuh dan. karena pedangnya tidak keburu menangkis, ia menggunakan tangan kiri untuk menampar pedang yang menyambarnya itu.
"Wuuuttt.... plakk!" Ki Gandarwo juga terhuyung ke belakang.
"Rrrik-tik-tik-tik....!" Tasbeh di tangan Cekel Aksomolo kini menyambar ganas, diikuti tikaman klewang di tangan Kala Manik.
Puspa Dewi kini sudah sempat mengelebatkan pedangnya yang sekaligus menangkis dua senjata itu.
"Trakk-tranggg...!" Dua senjata lawan itupun terpental dan selagi Puspa Dewi hendak membalas serangan, tiba-tiba ia mendengar ibunya menjerit.
"Ouhhh...., lepaskan aku, keparat!"
Puspa Dewi cepat melompat ke belakang dan memutar tubuh memandang. Ia marah sekali melihat ibunya sudah diringkus Ki Gandarwo. Nyi Lasmi mencoba untuk melepaskan diri dengan meronta-ronta, akan tetapi tentu saja ia tidak mampu berkutik melawan Ki Gandarwo yang kuat, kedua tangan Nyi Lasmi ditelikung ke belakang dan pergelangan kedua tangannya dicengkeram tangan kiri Ki Gandarwo yang menggunakan pedang di tangan kanannya untuk mengancam Nyi Lasmi dengan menempelkan pedangnya di leher wanita itu. Sepasang mata Puspa Dewi berkilat. Suaranya terdengar mengandung kekuatan dahsyat.
"Jahanam pengecut! Lepaskan Ibuku!"
"Puspa Dewi, menyerahlah dan aku akan melepaskan Ibumu." kata Ki Gandarwo, tegang dan gentar hatinya beradu pandang mata dengan gadis itu.
"Lepaskan atau kubunuh kamu!" kembali Puspa Dewi membentak dan pedang hitam di tangannya sudah bergetar.
"Mungkin aku mati di tanganmu, akan tetapi Ibumu akan lebih dulu mati!" kata Ki Gandarwo sambil menempelkan pedangnya lebih ketat di leher Nyi Lasmi.
"Dewi, jangan mau menyerah! Tidak mengapa dia membunuhku. Ibumu tidak takut mati!" Nyi Lasmi berteriak. Ki Gandarwo tentu saja menjadi panik mendengar ini.
"Puspa Dewi, sekali lagi menyerahlah dan aku akan melepaskan Ibumu!"
Kala Muka lalu berkata,
"Gusti Puteri, sebaiknya Paduka menyerah saja dan membiarkan kami membawa Paduka menghadap Gusti Adipati."
Puspa Dewi merasa bingung dan tidak berdaya. Lalu la berpikir cepat. Yang terpenting sekarang adalah agar ibunya selamat. Biarlah ia menyerah dan ditangkap, karena kalau ibunya selamat ia sendiri nanti akan dapat mencari jalan untuk melepaskan diri.
"Baiklah, aku menyerah. Lepaskan Ibuku."
"Ho-ho-hi-hik, tidak mudah begitu saja Andika menipu kami, Puspa Dewi!" kata Cekel Aksomolo sambi! tertawa.
"Jangan lepaskan dulu wanita itu, Gandarwo. Kalau ia dilepaskan, Puspa Dewi tentu akan melawan lagi. Puspa Dewi, kalau benar engkau mau menyerah, lepaskan dulu pedangmu dan biarkan aku mengikat kedua tanganmu! Kalau engkau tidak menurut, terpaksa Ibumu kami bunuh dulu!"

Puspa Dewi maklum, bahwa percuma saja berbantahan dengan mereka. Ia benar-benar ingin menolong ibunya, maka ia melepaskan pedang Candrasa Langking sehingga pedang hitam itu jatuh ke atas tanah. Kemudian ia merangkap kedua tangan di belakang tubuhnya, menyerah untuk diikat!
Sambil terkekeh Cekel Aksomolo berkata kepada adik seperguruannya.
"Gandarwo, hati-hati, jangan sampai wanita itu terlepas sebelum Puspa Dewi kuikat kedua tangannya. Kalau ia menyerang jangan ragu-ragu, bunuh saja Ibunya itu lebih dulu!"
Setelah berkata demikian, Cekel Aksomolo melolos sebatang sabuk lawe kuning dari ikat pinggangnya dan mengikat kedua pergelangan tangan Puspa Dewi di belakang tubuhnya. Puspa Dewi tidak berdaya, tidak mau membahayakan keselamatan Ibunya. Akan tetapi ia juga merasa bahwa tali yang dipergunakan mengikat kedua pergelangan tangannya itu bukan tali biasa, melainkan sabuk lawe yang sudah dirajah, yaitu di-manterai dan diisi dengan kekuatan sihir sehingga tidak akan mudah ia dapat melepaskan diri. Setelah kedua tangannya terikat, Puspa Dewi berseru kepada Ki Gandarwo.
"Sekarang bebaskan Ibuku!"
Akan tetapi Ki Gandarwo tertawa.
“Ha ha ha, kami tidak mau terancam bahaya engkau mengamuk lagi, Puspa Dewi. Ibumu akan kami bawa pula agar kalau dalam perjalanan engkau membuat ulah, kami dapat membunuhnya!" Ki Gandarwo lalu mendorong Nyi Lasmi.
"Hayo kau ikut dengan kami!"
Nyi Lasmi lari menghampiri dan merangkul Puspa Dewi.
"Ah, Dewi, mengapa engkau menyerah? Kini malah kita berdua yang tertawan. Mereka ini orang-orang yang licik dan curang!"

Tiba-tiba puluhan orang dusun penduduk Karang Tirta berduyun-duyun memasuki pekarangan itu sambil berteriak-teriak menuntut agar Puspa Dewi dan Nyi Lasmi dilepaskan. Sikap mereka marah dan mengancam, bahkan ada yang mengacung acungkan parang, pisau, tongkat dan lain-lain. Melihat ini, Tri Kala menyambut mereka dengan tamparan dan tendangan. Belasan orang kocar-kacir, berpelantingan dan yang lain menjadi jerih lalu mundur. Akan tetapi ada seorang kakek yang tidak ikut mundur, bahkan dia melangkah maju dengan tenang. Semua orang, termasuk Puspa Dewi, memandang ke arah kakek itu. Sinar bulan ditambah sinar lampu dari pendopo cukup terang sehingga Puspa Dewi dapat melihat wajah kakek itu dengan jelas. Kakek itu sukar ditaksir berapa usianya, akan tetapi agaknya sudah lebih dari enam puluh tahun. Tubuhnya tinggi tegap dan masih tegak, langkahnya juga tegap, walaupun lembut dan perlahan. Pakaian kakek itu berupa jubah berwarna kuning yang potongannya amat sederhana. Rambutnya panjang dan hampir putih semua, dibiarkan terurai di atas pundak dan punggungnya, yang di atas dibelah tengah. Dahinya lebar, mata seperti mata kanak-kanak, bening lembut dan mata itu juga tampak gembira, sesuai dengan mulutnya yang selalu mengembangkan senyum. Wajah kakek ini termasuk tampan dan gerak-geriknya lembut. Melihat ini, Puspa Dewi mengerutkan alisnya. Kakek itu mencari mati, pikirnya, ia tidak mau kalau ada orang lain sampai menjadi korban karena hendak membelanya. Maka ia cepat berseru dengan lantang.
"Eyang, pergilah jangan mendekat, jangan mencampuri umsanku. Berbahaya sekali bagimu. Pergilah, Eyang!"
Kakek itu memandang kepadanya dan senyumnya mengembang dan ketika pandang mata mereka bertemu, Puspa Dewi terkejut dan tertegun. Ia pernah melihat pandang mata seperti itu dan ia teringat. Yang memiliki pandang mata seperti itu adalah Ki Patih Narotama, Sang Prabu Erlangga, dan Nurseta! Akan tetapi, pandang mata mereka, bahkan sinar mata Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama sekalipun, tidak sekuat dan sehebat sinar mata kakek ini yang membuat ia tertegun dan seolah tidak dapat mengeluarkan kata-kata lagi, hanya memandang dengan terbelalak. Kini kakek itu sudah tiba di depan Tri Kala. Kala Muka membentak marah,
"Heh, pergi kamu! Apakah kamu ingin pula kupukul?"
"Shanti shanti shanti...!"
Kakek itu berkata lirih namun suaranya terdengar oleh semua orang, begitu jelas terdengar walaupun lirih, bahkan terdengar oleh penduduk dusun yang berada di luar pekarangan.
"Aku tidak ingin dipukul, akan tetapi kalau Andika ingin memukulku, silakan." Kata-katanya diucapkan dengan lembut dan bukan merupakan tantangan, lebih seperti orang menyerah.

Mendengar jawaban ini, Kaia Muka menjadi marah. Tadi dia tidak segera menampar atau menendang karena dia melihat orang itu tampak ringkih dan pakaiannya bukan seperti orang dusun, lebih mirip pakaian seorang pertapa atau pendeta. Kini, mendengar ucapan itu, dia melompat ke depan dan melayangkan tangan kanannya untuk menampar dada orang itu sambil membentak marah.
"Pergilah kamu!!"
Semua orang memandang dengan hati tegang dan ngeri. Kakek itu tentu akan terpental dan terbanting keras seperti mereka yang tadi terkena tendangan atau tamparan tiga orang itu. Akan tetapi, semua orang terbelalak ketika melihat bahwa yang terjengkang bukan kakek yang dipukul, melainkan Kala Muka sendiri!

<<< Bagian 08                                                                                         Bagian 10 >>>

No comments:

Post a Comment