Akan tetapi pada saat itu, Tri Kala dan Cekel Aksomolo sudah menghadangnya. Puspa Dewi memandang kepada empat orang itu dengan sinar mata berkilat.
"Minggir atau kubunuh juga
kalian!"
"Gusti Puteri," kata Kala
Muka yang cemberut.
"Harap paduka tidak menyusahkan
kami. Kami hanya melaksanakan perintah Gusti Adipati dan Gusti Puteri, Ibu
Paduka."
"Cukup! Pergilah dan jangan
ganggu aku lagi!"
"Heh-heh, agaknya puteri ini
hendak memberontak terhadap Kadipaten Wura-Wuri!" kata Cekel Aksomolo
dengan suara nya yang tinggi seperti suara wanita.
"Tri Kala Kalau aku tidak mau
ikut kalian ke Wura-Wuri, habis kalian mau apa?" Puspa Dewi menantang.
"Gusti Adipati memerintahkan
kami untuk membawa Paduka ke Wura-Wuri, baik Paduka mau atau tidak. Kalau
Paduka tidak mau, terpaksa kami mempergunakan kekerasan."
"Kalian kira aku takut terhadap
kalian berlima? Majulah kalian, tambah lagi kalau kurang banyak! Aku tidak akan
mundur selangkah pun!"
"Wah, galaknya! He-he-hi-hik!
Mari, kita gempur gadis sombong ini" kata Cekel Aksomolo sambil
memutar-mutar tasbeh hitam di tangannya sehingga terdengar bunyi berkeritikan
tajam menembus telinga. Bunyi biji-biji tasbeh yang diputar ini bukan
sembarangan karena dapat dipergunakan untuk menyerang lawan melalui
pendengarannya. Kalau lawan yang diserang tidak memiliki tenaga sakti yang
kuat, dia dapat roboh hanya karena diserang suara itu. Gendang telinganya dapat
pecah dan jantungnya terguncang. Dan untaian tasbeh itu pun dapat menjadi
senjata ampuh, bahkan biji-biji tasbeh itu dapat menjadi senjata rahasia yang
disebut Ganitri (biji tasbeh) dan dapat mengejar lawan seperti tawon-tawon yang
beracun.
Kala Muka juga sudah mencabut keris
nya. Kala Manik mempersiapkan klewang dan Kala Teja meloloskan ruyungnya. Ki
Gandarwo juga sudah siap siaga dengan pedangnya. Lima orang itu, dengan senjata
andalan masing masing di tangan, kini perlahan-lahan bergerak mengepung Puspa
Dewi.
Namun gadis yang baru berusia
sembilan belas tahun itu sama sekali tidak takut. Ia mencabut pedangnya dan
tampak sinar hitam berkelebat dengan suara berdesing. Ia melintangkan pedangnya
depan dada, berdiri tegak dan tidak bergerak sedikit pun. Tentu saja ia tidak
dapat melihat dua orang di antara lima pengeroyok itu yang mengepung di
belakangnya. Akan tetapi, perasaan dan pendengaran Puspa Dewi dapat
menggantikan penglihatannya. Ki Gandarwo, senopati muda Wura-wuri yang
bertindak sebagai pemimpin rombongan, dan pada saat itu sedang marah karena
tadi dia terpental dan terbanting roboh ketika beradu tenaga melawan Puspa
Dewi.
"Serang... !"
Dia memberi komando dan lima orang
itu sudah bergerak menyerang dari depan, kanan kiri dan belakang. Senjata
mereka menyambar-nyambar dengan ganasnya. Puspa Dewi menggerakkan tubuhnya dan
tampak sinar hitam bergulung-gulung di seputar dirinya ketika ia mainkan pedang
hitam itu. Puspa Dewi bukan hanya melindungi dirinya dengan perisai sinar
pedangnya, melainkan ia juga membagi-bagi serangan dengan pukulan jarak jauh,
yaitu Aji Guntur Geni. Aji pukulan ini memang dahsyat sekali, menyambar-nyambar
mengeluarkan hawa panas. Akan tetapi lima orang lawannya juga bukan orang-orang
lemah, terutama sekali Cekel Aksomolo dan Ki Gandarwo. Betapapun juga,
menghadapi amukan Puspa Dewi yang mengeluarkan seluruh kesaktiannya itu, mereka
kewalahan juga. Mereka sudah mencoba untuk mendesak, namun senjata mereka
selalu terpental apabila bertemu dengan gulungan sinar hitam itu. Selain itu,
mereka harus waspada dan cepat mengelak apabila dorongan telapak tangan kiri
Puspa Dewi yang mengandung hawa panas itu menyambar ke arah muka.
"Cring-cring-trangg...!"
Bunyi dentingan nyaring dari
bertemunya pedang hitam di tangan Puspa Dewi dengan senjata para pengeroyoknya
diikuti percikan bunga api membuat orang-orang yang datang merasa ngeri.
Penduduk dusun yang mendengar akan adanya keributan di pekarangan Lurah Karang
Tirta, berbondong-bondong datang menonton. Akan tetapi mereka hanya bergerombol
di luar pekarangan, tidak berani masuk melihat betapa Puspa Dewi dikeroyok lima
orang dan mereka bertanding dengan cepat sekali. Tubuh mereka berkelebatan,
sukar diikuti pandang mata penduduk dusun itu.
"Puspa Dewi...!" tiba-tiba
Nyi Lasmi yang sudah berada di ambang pintu depan berteriak, penuh
kekhawatiran. Ia lalu berlari keluar dari pendopo, menghampiri medan
perkelahian dengan nekat karena khawatir akan keselamatan puterinya.
"Ibu, jangan mendekat"
teriak Puspa Dewi ketika melihat Ibunya mendekati tempat yang berbahaya bagi
Ibunya itu.
Akan tetapi ia harus mencurahkan
perhatiannya kepada para pengeroyoknya karena sedikit saja ia membagi
perhatiannya tadi, nyaris pundaknya terkena sambaran ruyung di tangan Kala
Teja. Cepat ia mengelebatkan pedangnya menangkis karena serangan ruyung itu
diikuti tusukan keris di tangan Kala Muka.
"Trangg.... cringgg....!"
Kala Teja dan Kala Muka terhuyung karena tangkisan pedang hitam itu kuat bukan
main. Akan tetapi terdengar bunyi mendesing pedang Ki Candarwo sudah menyambar
dengan bacokan ke arah lehernya dari belakang. Puspa Dewi memutar tubuh dan.
karena pedangnya tidak keburu menangkis, ia menggunakan tangan kiri untuk
menampar pedang yang menyambarnya itu.
"Wuuuttt.... plakk!" Ki
Gandarwo juga terhuyung ke belakang.
"Rrrik-tik-tik-tik....!"
Tasbeh di tangan Cekel Aksomolo kini menyambar ganas, diikuti tikaman klewang
di tangan Kala Manik.
Puspa Dewi kini sudah sempat
mengelebatkan pedangnya yang sekaligus menangkis dua senjata itu.
"Trakk-tranggg...!" Dua
senjata lawan itupun terpental dan selagi Puspa Dewi hendak membalas serangan,
tiba-tiba ia mendengar ibunya menjerit.
"Ouhhh...., lepaskan aku,
keparat!"
Puspa Dewi cepat melompat ke
belakang dan memutar tubuh memandang. Ia marah sekali melihat ibunya sudah
diringkus Ki Gandarwo. Nyi Lasmi mencoba untuk melepaskan diri dengan
meronta-ronta, akan tetapi tentu saja ia tidak mampu berkutik melawan Ki
Gandarwo yang kuat, kedua tangan Nyi Lasmi ditelikung ke belakang dan
pergelangan kedua tangannya dicengkeram tangan kiri Ki Gandarwo yang
menggunakan pedang di tangan kanannya untuk mengancam Nyi Lasmi dengan
menempelkan pedangnya di leher wanita itu. Sepasang mata Puspa Dewi berkilat.
Suaranya terdengar mengandung kekuatan dahsyat.
"Jahanam pengecut! Lepaskan
Ibuku!"
"Puspa Dewi, menyerahlah dan
aku akan melepaskan Ibumu." kata Ki Gandarwo, tegang dan gentar hatinya
beradu pandang mata dengan gadis itu.
"Lepaskan atau kubunuh
kamu!" kembali Puspa Dewi membentak dan pedang hitam di tangannya sudah
bergetar.
"Mungkin aku mati di tanganmu,
akan tetapi Ibumu akan lebih dulu mati!" kata Ki Gandarwo sambil
menempelkan pedangnya lebih ketat di leher Nyi Lasmi.
"Dewi, jangan mau menyerah!
Tidak mengapa dia membunuhku. Ibumu tidak takut mati!" Nyi Lasmi
berteriak. Ki Gandarwo tentu saja menjadi panik mendengar ini.
"Puspa Dewi, sekali lagi
menyerahlah dan aku akan melepaskan Ibumu!"
Kala Muka lalu berkata,
"Gusti Puteri, sebaiknya Paduka
menyerah saja dan membiarkan kami membawa Paduka menghadap Gusti Adipati."
Puspa Dewi merasa bingung dan tidak
berdaya. Lalu la berpikir cepat. Yang terpenting sekarang adalah agar ibunya
selamat. Biarlah ia menyerah dan ditangkap, karena kalau ibunya selamat ia
sendiri nanti akan dapat mencari jalan untuk melepaskan diri.
"Baiklah, aku menyerah.
Lepaskan Ibuku."
"Ho-ho-hi-hik, tidak mudah
begitu saja Andika menipu kami, Puspa Dewi!" kata Cekel Aksomolo sambi!
tertawa.
"Jangan lepaskan dulu wanita
itu, Gandarwo. Kalau ia dilepaskan, Puspa Dewi tentu akan melawan lagi. Puspa
Dewi, kalau benar engkau mau menyerah, lepaskan dulu pedangmu dan biarkan aku
mengikat kedua tanganmu! Kalau engkau tidak menurut, terpaksa Ibumu kami bunuh
dulu!"
Puspa Dewi maklum, bahwa percuma
saja berbantahan dengan mereka. Ia benar-benar ingin menolong ibunya, maka ia
melepaskan pedang Candrasa Langking sehingga pedang hitam itu jatuh ke atas
tanah. Kemudian ia merangkap kedua tangan di belakang tubuhnya, menyerah untuk
diikat!
Sambil terkekeh Cekel Aksomolo
berkata kepada adik seperguruannya.
"Gandarwo, hati-hati, jangan
sampai wanita itu terlepas sebelum Puspa Dewi kuikat kedua tangannya. Kalau ia
menyerang jangan ragu-ragu, bunuh saja Ibunya itu lebih dulu!"
Setelah berkata demikian, Cekel
Aksomolo melolos sebatang sabuk lawe kuning dari ikat pinggangnya dan mengikat
kedua pergelangan tangan Puspa Dewi di belakang tubuhnya. Puspa Dewi tidak
berdaya, tidak mau membahayakan keselamatan Ibunya. Akan tetapi ia juga merasa
bahwa tali yang dipergunakan mengikat kedua pergelangan tangannya itu bukan
tali biasa, melainkan sabuk lawe yang sudah dirajah, yaitu di-manterai dan
diisi dengan kekuatan sihir sehingga tidak akan mudah ia dapat melepaskan diri.
Setelah kedua tangannya terikat, Puspa Dewi berseru kepada Ki Gandarwo.
"Sekarang bebaskan Ibuku!"
Akan tetapi Ki Gandarwo tertawa.
“Ha ha ha, kami tidak mau terancam
bahaya engkau mengamuk lagi, Puspa Dewi. Ibumu akan kami bawa pula agar kalau
dalam perjalanan engkau membuat ulah, kami dapat membunuhnya!" Ki Gandarwo
lalu mendorong Nyi Lasmi.
"Hayo kau ikut dengan
kami!"
Nyi Lasmi lari menghampiri dan
merangkul Puspa Dewi.
"Ah, Dewi, mengapa engkau
menyerah? Kini malah kita berdua yang tertawan. Mereka ini orang-orang yang
licik dan curang!"
Tiba-tiba puluhan orang dusun
penduduk Karang Tirta berduyun-duyun memasuki pekarangan itu sambil berteriak-teriak
menuntut agar Puspa Dewi dan Nyi Lasmi dilepaskan. Sikap mereka marah dan
mengancam, bahkan ada yang mengacung acungkan parang, pisau, tongkat dan
lain-lain. Melihat ini, Tri Kala menyambut mereka dengan tamparan dan
tendangan. Belasan orang kocar-kacir, berpelantingan dan yang lain menjadi
jerih lalu mundur. Akan tetapi ada seorang kakek yang tidak ikut mundur, bahkan
dia melangkah maju dengan tenang. Semua orang, termasuk Puspa Dewi, memandang
ke arah kakek itu. Sinar bulan ditambah sinar lampu dari pendopo cukup terang
sehingga Puspa Dewi dapat melihat wajah kakek itu dengan jelas. Kakek itu sukar
ditaksir berapa usianya, akan tetapi agaknya sudah lebih dari enam puluh tahun.
Tubuhnya tinggi tegap dan masih tegak, langkahnya juga tegap, walaupun lembut
dan perlahan. Pakaian kakek itu berupa jubah berwarna kuning yang potongannya
amat sederhana. Rambutnya panjang dan hampir putih semua, dibiarkan terurai di
atas pundak dan punggungnya, yang di atas dibelah tengah. Dahinya lebar, mata
seperti mata kanak-kanak, bening lembut dan mata itu juga tampak gembira,
sesuai dengan mulutnya yang selalu mengembangkan senyum. Wajah kakek ini
termasuk tampan dan gerak-geriknya lembut. Melihat ini, Puspa Dewi mengerutkan
alisnya. Kakek itu mencari mati, pikirnya, ia tidak mau kalau ada orang lain
sampai menjadi korban karena hendak membelanya. Maka ia cepat berseru dengan
lantang.
"Eyang, pergilah jangan
mendekat, jangan mencampuri umsanku. Berbahaya sekali bagimu. Pergilah,
Eyang!"
Kakek itu memandang kepadanya dan senyumnya
mengembang dan ketika pandang mata mereka bertemu, Puspa Dewi terkejut dan
tertegun. Ia pernah melihat pandang mata seperti itu dan ia teringat. Yang
memiliki pandang mata seperti itu adalah Ki Patih Narotama, Sang Prabu
Erlangga, dan Nurseta! Akan tetapi, pandang mata mereka, bahkan sinar mata Sang
Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama sekalipun, tidak sekuat dan sehebat sinar
mata kakek ini yang membuat ia tertegun dan seolah tidak dapat mengeluarkan
kata-kata lagi, hanya memandang dengan terbelalak. Kini kakek itu sudah tiba di
depan Tri Kala. Kala Muka membentak marah,
"Heh, pergi kamu! Apakah kamu
ingin pula kupukul?"
"Shanti shanti shanti...!"
Kakek itu berkata lirih namun
suaranya terdengar oleh semua orang, begitu jelas terdengar walaupun lirih,
bahkan terdengar oleh penduduk dusun yang berada di luar pekarangan.
"Aku tidak ingin dipukul, akan
tetapi kalau Andika ingin memukulku, silakan." Kata-katanya diucapkan
dengan lembut dan bukan merupakan tantangan, lebih seperti orang menyerah.
Mendengar jawaban ini, Kaia Muka
menjadi marah. Tadi dia tidak segera menampar atau menendang karena dia melihat
orang itu tampak ringkih dan pakaiannya bukan seperti orang dusun, lebih mirip
pakaian seorang pertapa atau pendeta. Kini, mendengar ucapan itu, dia melompat
ke depan dan melayangkan tangan kanannya untuk menampar dada orang itu sambil
membentak marah.
"Pergilah kamu!!"
Semua orang memandang dengan hati
tegang dan ngeri. Kakek itu tentu akan terpental dan terbanting keras seperti
mereka yang tadi terkena tendangan atau tamparan tiga orang itu. Akan tetapi,
semua orang terbelalak ketika melihat bahwa yang terjengkang bukan kakek yang
dipukul, melainkan Kala Muka sendiri!
No comments:
Post a Comment