Nurseta Satria Karangtirta ; Bagian 10


Padahal, semua orang melihat bahwa tamparan itu belum sampai menyentuh dada kakek itu. Kakek itu tersenyum dan wajahnya yang bersih, tanpa jenggot tanpa kumis itu, tampak sabar.
"Shanti-shanti-shanti..., Andika memetik buah perbuatan Andika sendiri, Ki Sanak."
Ucapan yang maksudnya menasihati itu diterima oleh Kala Muka sebagai ejekan. Dia melompat berdiri dan kini dia menyerang lagi, menggunakan kedua tangannya, memukul dengan dorongan penuh tenaga sakti ke arah dada kakek itu. Akibatnya lebih parah lagi. Tubuh Kala Muka terpental sampai tiga tombak dan terbanting keras. Padahal serangannya tadi belum menyentuh dada lawannya! Kini tiga orang Kala itu maklum bahwa kakek itu bukan orang biasa, melainkan seorang yang memiliki kesaktian. Maka, dengan marah mereka bertiga mengeluarkan senjata masing-masing. Kala Muka mencabut kerisnya, Kala Manik mengeluarkan klewangnya dan Kala Teja mengeluarkan ruyungnya. Kakek ini harus dibunuh dulu agar jangan menjadi penghalang. Seperti dikomando, ketiganya menerjang ke depan. Kala Muka menusukkan kerisnya ke arah perut, Kala Manik membacokkan klewangnya ke arah leher dan Kala Teja menghantamkan ruyungnya ke arah kepala. Kakek itu masih diam saja, berdiri santai dengan mulut tersenyum. Semua orang merasa ngeri bahkan banyak yang memejamkan mata, tidak tega melihat tubuh kakek itu menjadi bulan-bulanan tiga macam senjata itu. Akan tetapi kembali mereka terbelalak heran ketika melihat betapa sebelum senjata itu menyentuh tubuh kakek itu, Tri Kala terpental ke belakang dan terbanting jatuh sampai terguling-guling. Melihat ini, lima orang itu terkejut bukan main. Kini mereka menyadari sepenuhnya bahwa kakek itu bukan hanya sakti biasa saja, melainkan sakti mandraguna.
"Orang tua, kalau Andika masih menentang kami, terpaksa kubunuh wanita ini!" kata Gandarwo. Dia menekan pedangnya lebih kuat ke leher Nyi Lasmi. Akan tetapi kakek itu menuding ke arahnya dan tiba-tiba Ki Gandarwo terjengkang sehingga Nyi Lasmi terlepas dari pegangannya. Nyi Lasmi berlari menghampiri Puspa Dewi, akan tetapi Cekel Aksomolo menghadangnya dan hendak menangkapnya. Kembali kakek itu menudingkan telunjuknya ke arah Cekel Aksomolo dan laki-laki yang seperti Pendeta Durna ini terpelanting! Melihat semua ini, Kala Muka yang sudah mendapat pesan Adipati Bhismaprabhawa bahwa kalau tidak dapat menangkap Puspa Dewi lebih baik gadis itu dibunuh saja, lalu menggunakan kesempatan itu untuk membawa kerisnya dan lari menghampiri Puspa Dewi, langsung menusukkan kerisnya ke arah lambung gadis itu!

Biarpun kedua lengannya diikat ke belakang tubuhnya, namun Puspa Dewi masih dapat bergerak dengan lincah. Ia mengelak dari tusukan keris itu dengan loncatan ke samping, kemudian ia memutar tubuhnya dengan cepat dan kakinya mencuat, merupakan tendangan kilat yang menyambar ke arah tubuh Kala Muka.
"Wuuuttt... desss!" Tubuh Kala Muka terlempar dan jatuh berdebuk di atas tanah. Melihat keadaan mereka kini terancam bahaya, tanpa dikomando lagi lima orang itu segera melarikan diri meninggalkan pekarangan dan sebentar saja mereka lenyap ditelan kegelapan malam.
Nyi Lasmi berusaha untuk melepaskan ikatan pada kedua pergelangan tangan puterinya, akan tetapi, tidak berhasil. Ikatan itu kuat bukan main.
"Mari kubantu melepaskan ikatan itu," terdengar suara lembut. Nyi Lasmi menengok dan ia melihat kakek tadi sudah berdiri di dekatnya.
"Ah, terima kasih, Paman. Tolonglah, ikatan itu kuat bukan main dan saya tidak dapat membukanya."
Kakek itu tersenyum dan tangannya menyentuh ikatan sabuk lawe itu. Tiba-tiba saja ikatan itu putus dan kedua tangan Puspa Dewi bebas! Puspa Dewi tadi melihat kesaktian kakek iru, dan kini kembali memperlihatkan kesaktiannya. Ikatan yang demikian kuat sekali sentuh saja sudah putus! Maka tanpa ragu lagi ia lalu menjatuhkan diri berlutut di depan kaki orang tua itu dan menyembah.
"Kanjeng Eyang, banyak terima kasih atas pertolongan Eyang. Saya berhutang budi dan nyawa kepada Eyang. Saya mohon, sudilah kiranya Eyang menerima saya menjadi murid Eyang agar saya mendapat kesempatan untuk melayani Eyang."
"Sadhu-sadhu-sadhu...! Hanya Sang Hyang Widhi Maha Penolong dan hanya kepada Dia-lah kita mengucapkan syukur dan terima kasih. Shanti-shanti-shanti....'" Kakek itu lalu memutar tubuhnya dan melangkah pergi dari situ.
"Kanjeng Eyang....!" Puspa Dewi bangkit dan hendak mengejar.
"Dewi...!" Nyi Lasmi mengejar dan merangkul puterinya.
"Engkau hendak ke mana, Nak?"
"Ibu, Ibu melihat tadi betapa saktinya Kakek itu. Aku harus berguru kepadanya, Ibu, agar kelak dapat melawan orang-orang jahat itu. Sebaiknya Ibu tinggal di rumah Paman Lurah sini dulu dan menunggu sampai saya pulang. Saya harus berguru kepada Kakek itu lalu saya akan pergi mengunjungi Ayah Prasetyo!" Setelah berkata demikian, sekali melompat Puspa Dewi sudah lenyap ditelan kegelapan malam.
"Dewi....!"
Akan tetapi teriakan dan panggilan Nyi Lasmi itu tidak mendapatkan jawaban. Ki Lurah Pujosaputro dan keluarganya yang sejak tadi mengintai dan tidak berani keluar, kini berlari menghampiri Nyi Lasmi yang menangis. Mereka menghibur Nyi Lasmi dan mengajaknya masuk ke dalam rumah. Para penduduk juga bubaran dan kembali ke rumah masing-masing, tiada hentinya membicarakan peristiwa yang mereka tonton tadi.

Hati Puspa Dewi merasa girang karena akhirnya ia dapat melihat bayangan kakek itu. Untung bulan tidak terhalang mendung sehingga ia dapat melihat bayangan itu. la segera mengerahkan tenaganya untuk mengejar, tidak berani memanggil-manggil karena khawatir akan mendatangkan kesan lancang atau kurang ajar. Akan tetapi, Puspa Dewi tertegun dan membelalak-belalakkan kedua matanya untuk memandang lebih jelas menembus cuaca yang remang-remang itu. Ia mengerahkan tenaga saktinya untuk berlari cepat, diseling loncatan-loncatan jauh, akan tetapi sungguh aneh bukan main, karena jarak antara ia dan kakek itu tetap sama! Ia tidak pernah dapat mendekati, padahal ia mengerahkan ilmu berlari cepat dan kakek itu tampaknya hanya berjalan seenaknya, melangkah satu-satu. Puspa Dewi menjadi penasaran sekali dan terus melakukan pengejaran ke manapun bayangan kakek itu pergi. Ternyata kakek itu tidak pernah berhenti sejenak pun! Dia terus saja melangkah, tampak santai namun kenyataannya, Puspa Dewi yang mengerahkan tenaga sakti untuk berlari cepat sama sekali tidak pernah dapat menyusulnya. Puspa Dewi sudah merasa lelah sekali karena selama lebih dari setengah malam ia terus berlari cepat yang menggunakan banyak tenaga. Sampai matahari fajar mulai menyingsing, kakek itu tidak pernah berhenti, bahkan kini mendaki bukit-bukit dari Pegunungan Seribu. Makin payahlah Puspa Dewi melakukan pengejaran karena sekarang ia harus berlari mendaki bukit dan menuruni jurang! Setelah matahari naik agak tinggi, Puspa Dewi tidak kuat lagi dan ia pun roboh terguling. Ia bangkit lagi, akan tetapi terguling lagi karena kedua kakinya sudah tidak kuat lagi menyangga tubuhnya! Ia merasa nelangsa sekali, akan tetapi tidak berani memanggil kakek itu. Selain takut dianggap kurang ajar, ia pun mempunyai harga diri, bahkan ketinggian hati. Ia memang mohon dijadikan murid, akan tetapi untuk minta-minta, nanti dulu! Maka, ia kini merebahkan tubuhnya dan membiarkan tubuh yang berdenyut-denyut karena penat itu mengaso.

Alangkah nikmatnya rebahan beglni. Bau tanah terasa sedap harum, bahkan bau daun-daun yang membusuk terasa sedap. Dan sinar matahari yang terpecah-pecah oleh celah-celah daun pohon itu tampak amat indah.
"Sadhu-sadhu-sadhu....!"
Bagaikan mendapat semangat dan tenaga baru, Puspa Dewi bangkit duduk dan ternyata kakek tadi kini sudah berdiri di depannya sambil tersenyum lebar. Betapa ramah senyum itu, dan betapa sabar penuh pengertian sinar mata yang lembut itu!
Puspa Dewi lalu menyembah.
"Eyang, sekiranya Eyang berkenan, sudilah kiranya Eyang menerima saya sebagai murid."
"Bocah manis, sungguh besar sekali tekad dan semangatmu. Jarang ada seorang bocah, apalagi seorang wanita, memiliki tekad dan semangat seperti yang telah engkau perlihatkan. Aku akan menjadi seorang berhati keras dan kejam kalau tidak menuruti keinginanmu yang amat besar itu."
"Aduh Eyang, terima kasih.... terima kasih....!" Puspa Dewi menyembah-nyembah dan.... ia menangis saking girang hatinya.
Kakek itu lalu duduk di atas batu di bawah pohon, berhadapan dengan Puspa Dewi yang duduk bersimpuh di depannya. Semua rasa lelah tadi kini lenyap, tak terasa lagi oleh Puspa Dewi.
"Anak baik, siapakah namamu?"
"Nama saya Puspa Dewi, Eyang."
"Siapa orang tuamu dan di mana mereka? Apakah di dusun tadi?"
"Ibu saya bernama Nyi Lasmi dan tinggal di dusun Karang Tirta tadi, Eyang. Akan tetapi Ayah saya bernama Prasetyo dan tinggal di kota raja Kahuripan."

Puspa Dewi sudah merasa bimbang apa yang harus ia ceritakan kalau kakek itu bertanya mengapa ayah dan ibunya berpisah. Akan tetapi agaknya kakek itu tidak hendak bertanya tentang hal itu.
"Puspa Dewi, aku melihat bahwa engkau telah memiliki aji kanuragan yang cukup tangguh walaupun agak liar. Akan tetapi syukurlah, sifat aji-ajimu itu tidak mempengaruhi jiwamu. Dari siapakah engkau mempelajari semua ilmu itu?"
"Guru saya adalah Nyi Dewi Durgakumala yang sekarang menjadi permaisuri di Kerajaan Wura-Wuri, Eyang."
"Nyi Dewi Durgakumala? Shanti-shanti-shanti....! Pantas ilmumu seperti itu sifatnya. Akan tetapi sungguh engkau patut bersyukur kepada Hyang Widhi bahwa watak Nyi Durgakumala tidak menurun kepadamu. Sekarang jawablah, mengapa engkau ingin sekali menjadi muridku7"
"Saya melihat Eyang seorang yang sakti mandraguna dan saya ingin mempelajari ilmu yang lebih tinggi agar kuat untuk menghadapi semua tantangan orang-orang yang jahat seperti yang tadi menyerang saya. Saya pun ingin menggunakan tenaga saya untuk berbakti kepada Kahuripan. Sesungguhnya, guru saya, Nyi Durgakumala telah mengakui saya sebagai puteri angkatnya dan saya bahkan diangkat menjadi Sekar Kedaton di Wura-Wuri. Akan tetapi karena saya melihat watak orang-orang Wura-Wuri yang sesat dan saya melihat kebijaksanaan Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama, maka saya mengambil keputusan untuk membela Kahuripan karena sebagai penduduk dusun Karang Tirta saya adalah kawula Kahuripan Eyang,"
“Memang engkau berjodoh dengan aku, puspa Dewi. Akan tetapi, melihat tingkat kepandaianmu, aku hanya ingin memoles saja dan mencoba untuk melenyapkan sisa-sisa sifat liar dari ilmumu. Dan untuk itu, aku hanya dapat membimbingmu selama tiga bulan dan selanjutnya, Sang Hyang Widhi sendiri yang dengan kemahakuasaan-Nya akan menjadi guru dan pembimbingmu"
“Terima kasih, Eyang. Saya akan menaati semua bimbingan dan petunjuk Eyang"
“Sekarang karena aku sedang melakukan perjalanan dan tidak mempunyai tempat tinggal, carikan sebuah tempat tinggal yang baik untuk kita berdua tinggal selama tiga bulan, yang terpencil dan tidak berdekatan dengan orang lain."
“Baik, Eyang. Silakan Eyang menunggu di sini, saya akan mencarikan tempat tinggal yang Eyang kehendaki itu."

Setelah berkata demikian, biarpun tadi kedua kakinya demikian lelahnya sampai berdiri pun ia tidak mampu, kini timbul semangat yang demikian besarnya sehingga semua kelelahan itu tidak terasa lagi dan Puspa Dewi lalu mencari-cari sebuah tempat yang baik seperti yang dikehendaki kakek itu. Sambil mencari-cari di sekitar bukit-bukit Pegunungan Kidul, Puspa Dewi masih merasa kagum dan heran akan kesaktian kakek itu. Baru teringat olehnya bahwa ia belum mengetahui siapa nama kakek yang kini menjadi gurunya itu. Nanti saja, pikirnya, sekarang yang terpenting mencari tempat tinggal yang dibutuhkan gurunya itu. Akhirnya setelah matahari mulai condong ke barat, ia menemukan sebuah guha yang cukup luas dan bersih, lantainya juga merupakan batu datar sehingga cukup enak untuk dijadikan tempat tinggal. Juga guha itu terletak di sebuah bukit yang jauh dari dusun karena dari atas ia hanya melihat sebuah dusun kecil di kaki bukit. Guha itu terletak sejauh bukit dari tempat di mana ia meninggalkan kakek itu. Dengan girang Puspa Dewi siap untuk kembali ke tempat tadi dan memberitahukan gurunya bahwa ia sudah menemukan tempat tinggal yang baik. Akan tetapi baru saja ia keluar dari dalam guha yang diselidikinya tadi, kakek itu telah duduk bersila di atas sebuah batu besar yang berada tepat di depan guha!
"Eyang Guru....!" Puspa Dewi berseru dengan girang, heran dan kagum sambil bersimpuh dan menyembah di depan batu yang diduduki kakek itu.
Kakek itu tersenyum dan wajahnya berseri,
"Bagus, Puspa Dewi, tempat yang kautemukan ini cukup indah, bersih dan hawanya sejuk sekali. Aku suka tempat ini, Puspa Dewi."

<<< Bagian 09                                                                                          Bagian 11 >>>

No comments:

Post a Comment