Padahal, semua orang melihat bahwa tamparan itu belum sampai menyentuh dada kakek itu. Kakek itu tersenyum dan wajahnya yang bersih, tanpa jenggot tanpa kumis itu, tampak sabar.
"Shanti-shanti-shanti...,
Andika memetik buah perbuatan Andika sendiri, Ki Sanak."
Ucapan yang maksudnya menasihati itu
diterima oleh Kala Muka sebagai ejekan. Dia melompat berdiri dan kini dia
menyerang lagi, menggunakan kedua tangannya, memukul dengan dorongan penuh
tenaga sakti ke arah dada kakek itu. Akibatnya lebih parah lagi. Tubuh Kala
Muka terpental sampai tiga tombak dan terbanting keras. Padahal serangannya
tadi belum menyentuh dada lawannya! Kini tiga orang Kala itu maklum bahwa kakek
itu bukan orang biasa, melainkan seorang yang memiliki kesaktian. Maka, dengan
marah mereka bertiga mengeluarkan senjata masing-masing. Kala Muka mencabut
kerisnya, Kala Manik mengeluarkan klewangnya dan Kala Teja mengeluarkan ruyungnya.
Kakek ini harus dibunuh dulu agar jangan menjadi penghalang. Seperti dikomando,
ketiganya menerjang ke depan. Kala Muka menusukkan kerisnya ke arah perut, Kala
Manik membacokkan klewangnya ke arah leher dan Kala Teja menghantamkan
ruyungnya ke arah kepala. Kakek itu masih diam saja, berdiri santai dengan
mulut tersenyum. Semua orang merasa ngeri bahkan banyak yang memejamkan mata,
tidak tega melihat tubuh kakek itu menjadi bulan-bulanan tiga macam senjata
itu. Akan tetapi kembali mereka terbelalak heran ketika melihat betapa sebelum
senjata itu menyentuh tubuh kakek itu, Tri Kala terpental ke belakang dan
terbanting jatuh sampai terguling-guling. Melihat ini, lima orang itu terkejut
bukan main. Kini mereka menyadari sepenuhnya bahwa kakek itu bukan hanya sakti
biasa saja, melainkan sakti mandraguna.
"Orang tua, kalau Andika masih
menentang kami, terpaksa kubunuh wanita ini!" kata Gandarwo. Dia menekan
pedangnya lebih kuat ke leher Nyi Lasmi. Akan tetapi kakek itu menuding ke
arahnya dan tiba-tiba Ki Gandarwo terjengkang sehingga Nyi Lasmi terlepas dari
pegangannya. Nyi Lasmi berlari menghampiri Puspa Dewi, akan tetapi Cekel
Aksomolo menghadangnya dan hendak menangkapnya. Kembali kakek itu menudingkan
telunjuknya ke arah Cekel Aksomolo dan laki-laki yang seperti Pendeta Durna ini
terpelanting! Melihat semua ini, Kala Muka yang sudah mendapat pesan Adipati
Bhismaprabhawa bahwa kalau tidak dapat menangkap Puspa Dewi lebih baik gadis
itu dibunuh saja, lalu menggunakan kesempatan itu untuk membawa kerisnya dan
lari menghampiri Puspa Dewi, langsung menusukkan kerisnya ke arah lambung gadis
itu!
Biarpun kedua lengannya diikat ke
belakang tubuhnya, namun Puspa Dewi masih dapat bergerak dengan lincah. Ia
mengelak dari tusukan keris itu dengan loncatan ke samping, kemudian ia memutar
tubuhnya dengan cepat dan kakinya mencuat, merupakan tendangan kilat yang
menyambar ke arah tubuh Kala Muka.
"Wuuuttt... desss!" Tubuh
Kala Muka terlempar dan jatuh berdebuk di atas tanah. Melihat keadaan mereka
kini terancam bahaya, tanpa dikomando lagi lima orang itu segera melarikan diri
meninggalkan pekarangan dan sebentar saja mereka lenyap ditelan kegelapan
malam.
Nyi Lasmi berusaha untuk melepaskan
ikatan pada kedua pergelangan tangan puterinya, akan tetapi, tidak berhasil. Ikatan
itu kuat bukan main.
"Mari kubantu melepaskan ikatan
itu," terdengar suara lembut. Nyi Lasmi menengok dan ia melihat kakek tadi
sudah berdiri di dekatnya.
"Ah, terima kasih, Paman.
Tolonglah, ikatan itu kuat bukan main dan saya tidak dapat membukanya."
Kakek itu tersenyum dan tangannya
menyentuh ikatan sabuk lawe itu. Tiba-tiba saja ikatan itu putus dan kedua
tangan Puspa Dewi bebas! Puspa Dewi tadi melihat kesaktian kakek iru, dan kini
kembali memperlihatkan kesaktiannya. Ikatan yang demikian kuat sekali sentuh
saja sudah putus! Maka tanpa ragu lagi ia lalu menjatuhkan diri berlutut di
depan kaki orang tua itu dan menyembah.
"Kanjeng Eyang, banyak terima
kasih atas pertolongan Eyang. Saya berhutang budi dan nyawa kepada Eyang. Saya
mohon, sudilah kiranya Eyang menerima saya menjadi murid Eyang agar saya
mendapat kesempatan untuk melayani Eyang."
"Sadhu-sadhu-sadhu...! Hanya
Sang Hyang Widhi Maha Penolong dan hanya kepada Dia-lah kita mengucapkan syukur
dan terima kasih. Shanti-shanti-shanti....'" Kakek itu lalu memutar
tubuhnya dan melangkah pergi dari situ.
"Kanjeng Eyang....!" Puspa
Dewi bangkit dan hendak mengejar.
"Dewi...!" Nyi Lasmi
mengejar dan merangkul puterinya.
"Engkau hendak ke mana,
Nak?"
"Ibu, Ibu melihat tadi betapa
saktinya Kakek itu. Aku harus berguru kepadanya, Ibu, agar kelak dapat melawan
orang-orang jahat itu. Sebaiknya Ibu tinggal di rumah Paman Lurah sini dulu dan
menunggu sampai saya pulang. Saya harus berguru kepada Kakek itu lalu saya akan
pergi mengunjungi Ayah Prasetyo!" Setelah berkata demikian, sekali
melompat Puspa Dewi sudah lenyap ditelan kegelapan malam.
"Dewi....!"
Akan tetapi teriakan dan panggilan
Nyi Lasmi itu tidak mendapatkan jawaban. Ki Lurah Pujosaputro dan keluarganya
yang sejak tadi mengintai dan tidak berani keluar, kini berlari menghampiri Nyi
Lasmi yang menangis. Mereka menghibur Nyi Lasmi dan mengajaknya masuk ke dalam
rumah. Para penduduk juga bubaran dan kembali ke rumah masing-masing, tiada
hentinya membicarakan peristiwa yang mereka tonton tadi.
Hati Puspa Dewi merasa girang karena
akhirnya ia dapat melihat bayangan kakek itu. Untung bulan tidak terhalang
mendung sehingga ia dapat melihat bayangan itu. la segera mengerahkan tenaganya
untuk mengejar, tidak berani memanggil-manggil karena khawatir akan
mendatangkan kesan lancang atau kurang ajar. Akan tetapi, Puspa Dewi tertegun
dan membelalak-belalakkan kedua matanya untuk memandang lebih jelas menembus
cuaca yang remang-remang itu. Ia mengerahkan tenaga saktinya untuk berlari
cepat, diseling loncatan-loncatan jauh, akan tetapi sungguh aneh bukan main,
karena jarak antara ia dan kakek itu tetap sama! Ia tidak pernah dapat
mendekati, padahal ia mengerahkan ilmu berlari cepat dan kakek itu tampaknya
hanya berjalan seenaknya, melangkah satu-satu. Puspa Dewi menjadi penasaran
sekali dan terus melakukan pengejaran ke manapun bayangan kakek itu pergi.
Ternyata kakek itu tidak pernah berhenti sejenak pun! Dia terus saja melangkah,
tampak santai namun kenyataannya, Puspa Dewi yang mengerahkan tenaga sakti untuk
berlari cepat sama sekali tidak pernah dapat menyusulnya. Puspa Dewi sudah
merasa lelah sekali karena selama lebih dari setengah malam ia terus berlari
cepat yang menggunakan banyak tenaga. Sampai matahari fajar mulai menyingsing,
kakek itu tidak pernah berhenti, bahkan kini mendaki bukit-bukit dari
Pegunungan Seribu. Makin payahlah Puspa Dewi melakukan pengejaran karena
sekarang ia harus berlari mendaki bukit dan menuruni jurang! Setelah matahari
naik agak tinggi, Puspa Dewi tidak kuat lagi dan ia pun roboh terguling. Ia
bangkit lagi, akan tetapi terguling lagi karena kedua kakinya sudah tidak kuat
lagi menyangga tubuhnya! Ia merasa nelangsa sekali, akan tetapi tidak berani
memanggil kakek itu. Selain takut dianggap kurang ajar, ia pun mempunyai harga
diri, bahkan ketinggian hati. Ia memang mohon dijadikan murid, akan tetapi
untuk minta-minta, nanti dulu! Maka, ia kini merebahkan tubuhnya dan membiarkan
tubuh yang berdenyut-denyut karena penat itu mengaso.
Alangkah nikmatnya rebahan beglni.
Bau tanah terasa sedap harum, bahkan bau daun-daun yang membusuk terasa sedap.
Dan sinar matahari yang terpecah-pecah oleh celah-celah daun pohon itu tampak
amat indah.
"Sadhu-sadhu-sadhu....!"
Bagaikan mendapat semangat dan
tenaga baru, Puspa Dewi bangkit duduk dan ternyata kakek tadi kini sudah
berdiri di depannya sambil tersenyum lebar. Betapa ramah senyum itu, dan betapa
sabar penuh pengertian sinar mata yang lembut itu!
Puspa Dewi lalu menyembah.
"Eyang, sekiranya Eyang
berkenan, sudilah kiranya Eyang menerima saya sebagai murid."
"Bocah manis, sungguh besar
sekali tekad dan semangatmu. Jarang ada seorang bocah, apalagi seorang wanita,
memiliki tekad dan semangat seperti yang telah engkau perlihatkan. Aku akan
menjadi seorang berhati keras dan kejam kalau tidak menuruti keinginanmu yang
amat besar itu."
"Aduh Eyang, terima kasih....
terima kasih....!" Puspa Dewi menyembah-nyembah dan.... ia menangis saking
girang hatinya.
Kakek itu lalu duduk di atas batu di
bawah pohon, berhadapan dengan Puspa Dewi yang duduk bersimpuh di depannya.
Semua rasa lelah tadi kini lenyap, tak terasa lagi oleh Puspa Dewi.
"Anak baik, siapakah
namamu?"
"Nama saya Puspa Dewi,
Eyang."
"Siapa orang tuamu dan di mana
mereka? Apakah di dusun tadi?"
"Ibu saya bernama Nyi Lasmi dan
tinggal di dusun Karang Tirta tadi, Eyang. Akan tetapi Ayah saya bernama
Prasetyo dan tinggal di kota raja Kahuripan."
Puspa Dewi sudah merasa bimbang apa
yang harus ia ceritakan kalau kakek itu bertanya mengapa ayah dan ibunya
berpisah. Akan tetapi agaknya kakek itu tidak hendak bertanya tentang hal itu.
"Puspa Dewi, aku melihat bahwa
engkau telah memiliki aji kanuragan yang cukup tangguh walaupun agak liar. Akan
tetapi syukurlah, sifat aji-ajimu itu tidak mempengaruhi jiwamu. Dari siapakah
engkau mempelajari semua ilmu itu?"
"Guru saya adalah Nyi Dewi
Durgakumala yang sekarang menjadi permaisuri di Kerajaan Wura-Wuri,
Eyang."
"Nyi Dewi Durgakumala?
Shanti-shanti-shanti....! Pantas ilmumu seperti itu sifatnya. Akan tetapi
sungguh engkau patut bersyukur kepada Hyang Widhi bahwa watak Nyi Durgakumala
tidak menurun kepadamu. Sekarang jawablah, mengapa engkau ingin sekali menjadi
muridku7"
"Saya melihat Eyang seorang
yang sakti mandraguna dan saya ingin mempelajari ilmu yang lebih tinggi agar
kuat untuk menghadapi semua tantangan orang-orang yang jahat seperti yang tadi
menyerang saya. Saya pun ingin menggunakan tenaga saya untuk berbakti kepada
Kahuripan. Sesungguhnya, guru saya, Nyi Durgakumala telah mengakui saya sebagai
puteri angkatnya dan saya bahkan diangkat menjadi Sekar Kedaton di Wura-Wuri.
Akan tetapi karena saya melihat watak orang-orang Wura-Wuri yang sesat dan saya
melihat kebijaksanaan Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama, maka saya
mengambil keputusan untuk membela Kahuripan karena sebagai penduduk dusun Karang
Tirta saya adalah kawula Kahuripan Eyang,"
“Memang engkau berjodoh dengan aku,
puspa Dewi. Akan tetapi, melihat tingkat kepandaianmu, aku hanya ingin memoles
saja dan mencoba untuk melenyapkan sisa-sisa sifat liar dari ilmumu. Dan untuk
itu, aku hanya dapat membimbingmu selama tiga bulan dan selanjutnya, Sang Hyang
Widhi sendiri yang dengan kemahakuasaan-Nya akan menjadi guru dan
pembimbingmu"
“Terima kasih, Eyang. Saya akan
menaati semua bimbingan dan petunjuk Eyang"
“Sekarang karena aku sedang melakukan
perjalanan dan tidak mempunyai tempat tinggal, carikan sebuah tempat tinggal
yang baik untuk kita berdua tinggal selama tiga bulan, yang terpencil dan tidak
berdekatan dengan orang lain."
“Baik, Eyang. Silakan Eyang menunggu
di sini, saya akan mencarikan tempat tinggal yang Eyang kehendaki itu."
Setelah berkata demikian, biarpun
tadi kedua kakinya demikian lelahnya sampai berdiri pun ia tidak mampu, kini
timbul semangat yang demikian besarnya sehingga semua kelelahan itu tidak
terasa lagi dan Puspa Dewi lalu mencari-cari sebuah tempat yang baik seperti
yang dikehendaki kakek itu. Sambil mencari-cari di sekitar bukit-bukit
Pegunungan Kidul, Puspa Dewi masih merasa kagum dan heran akan kesaktian kakek
itu. Baru teringat olehnya bahwa ia belum mengetahui siapa nama kakek yang kini
menjadi gurunya itu. Nanti saja, pikirnya, sekarang yang terpenting mencari
tempat tinggal yang dibutuhkan gurunya itu. Akhirnya setelah matahari mulai
condong ke barat, ia menemukan sebuah guha yang cukup luas dan bersih, lantainya
juga merupakan batu datar sehingga cukup enak untuk dijadikan tempat tinggal.
Juga guha itu terletak di sebuah bukit yang jauh dari dusun karena dari atas ia
hanya melihat sebuah dusun kecil di kaki bukit. Guha itu terletak sejauh bukit
dari tempat di mana ia meninggalkan kakek itu. Dengan girang Puspa Dewi siap
untuk kembali ke tempat tadi dan memberitahukan gurunya bahwa ia sudah
menemukan tempat tinggal yang baik. Akan tetapi baru saja ia keluar dari dalam
guha yang diselidikinya tadi, kakek itu telah duduk bersila di atas sebuah batu
besar yang berada tepat di depan guha!
"Eyang Guru....!" Puspa
Dewi berseru dengan girang, heran dan kagum sambil bersimpuh dan menyembah di
depan batu yang diduduki kakek itu.
Kakek itu tersenyum dan wajahnya
berseri,
"Bagus, Puspa Dewi, tempat yang
kautemukan ini cukup indah, bersih dan hawanya sejuk sekali. Aku suka tempat
ini, Puspa Dewi."
No comments:
Post a Comment