"Saya bersyukur sekali, Eyang.
Perkenankan saya mencari kayu-kayu, untuk membuat api unggun di waktu malam
pengusir nyamuk dan mimik (kutu terbang kecil yang suka menggigit), dan rumput
kering untuk tilam Eyang mengaso."
Gurunya mengangguk dan dari wajah
yang lembut itu dapat dilihat bahwa dia suka sekali kepada murid baru ini.
Puspa Dewi lalu pergi lagi. Tanpa mengenal lelah ia mengumpulkan kayu dan
rumput kering, lalu menggotongnya ke dalam guha. Kayu-kayu kering itu ia tumpuk
di ujung guha dan rumput kering yang sudah ia pilih, yang benar-benar kering
dan bersih dari tanah, ia tumpuk dan rapikan di atas bagian yang paling tinggi
dari lantai guha itu. Tempat itu memang yang paling enak untuk berbaring atau
duduk. Ia sendiri menaburkan rumput kering di sudut yang lain untuk tempat ia
mengaso. Setelah selesai, ia mempersilakan gurunya memasuki guha. Kakek itu
masuk ke dalam guha dan tersenyum-senyum melihat tumpukan kayu dan rumput
kering itu.
"Ini saya persiapkan untuk
tempat Eyang mengaso." katanya menunjuk ke arah tumpukan rumput di lantai
yang paling tinggi itu. Gurunya mengangguk-angguk, lalu naik dan duduk bersila
di atas tumpukan rumput kering.
"Nyaman di sini." katanya
memuji.
"Eyang, sekarang perkenankan
saya mencari semua kebutuhan untuk makan dan minum Eyang. Saya akan turun bukit
pergi ke dusun di bawah sana. Saudara-saudara di dusun itu pasti dapat
menyediakan semua kebutuhan kita."
"Hemm, bagaimana caranya engkau
akan mendapatkan dari mereka? Orang-orang dusun itu hidupnya sudah serba
sederhana bahkan kekurangan. Bagaimana mungkin mereka memberikan sebagian dari
milik mereka yang sedikit itu kepadamu?"
"Eyang, tentu saja saya tidak tega
minta kepada mereka. Akan tetapi saya mempunyai perhiasan-perhiasan dari emas
ini untuk ditukar dengan kebutuhan kita. Mereka dapat menjual emas ini di kota
dan dapat membeli keperluan mereka yang lebih banyak."
Puspa Dewi memperlihatkan
perhiasannya berupa gelang kalung, cincin dan lain-lain yang amat mahal
harganya kepada gurunya. Ia mendapatkan semua perhiasan yang amat indah dan
mahal itu dari Adipati Wura-Wuri ketika ia berada di istana Wura-Wuri sebagai
Sekar Kedaton.
Kakek itu mengangguk-angguk.
"Bagus, memang sepatutnya
begitu. Para saudara di dusun itu perlu diberi bantuan, bukan dimintai bantuan.
Akan tetapi jangan pergi sekarang, Puspa Dewi. Sebentar lagi malam tiba. Besok
saja pagi-pagi engkau cari semua kebutuhan itu. Yang penting sekarang cobalah
cari dimana adanya air jernih untuk membersihkan badan dari debu. Pergilah ke
sana." Kakek itu menunjuk dengan tangan kirinya ke arah selatan.
Puspa Dewi lalu keluar dari guha dan
menuju ke arah yang ditunjuk gurunya. Dan... belum jauh ia pergi, ia melihat
sumber air mancur dari sebuah batu besar. Sejenak ia berdiri tertegun memandang
air mancur itu, seolah terpesona dan tidak percaya. Dewakah kakek guru-nya itu?
Banyak keajaiban dilakukan kakek itu. Cara kakek itu membuat lima orang
penyerangnya melarikan diri ketakutan karena semua serangan membalik dan
memukul penyerangnya sendiri sebelum senjata penyerang itu menyentuh tubuhnya.
Kemudian ketika ia melakukan pengejaran, kakek yang jalan santai itu tidak
dapat ia susul padahal ia lari dengan pengerahan tenaga saktinya. Setelah itu,
ketika ia mencari guha dan menemukannya, tahu-tahu gurunya telah berada di
depan guha! Dan sekarang, gurunya itu seolah sudah tahu bahwa di sebelah
selatan guha, tidak jauh dari situ, terdapat air yang dibutuhkan. Segera ia
berlari memasuki guha dan menghadap gurunya,
"Eyang, betul terdapat sebuah
pancuran air jernih di sana!"
"Bagus, biar aku membersihkan
badan lebih dulu," kata kakek itu dan dia lalu bangkit berdiri dan
melangkah perlahan keluar dari guha menuju pancuran itu. Puspa Dewi duduk
termenung, masih terpesona oleh rasa kagum dan heran terhadap gurunya.
Tampaknya demikian ringkih, namun tubuh yang tampak ringkih itu ternyata
mengandung kekuatan yang amat hebat! Tak lama kemudian kakek itu memasuki guha
kembali. Wajahnya segar dan basah, demikian pula tangan dan kakinya. Dia
tertawa lembut kepada Puspa Dewi,
"Sekarang giliranmu
membersihkan badanmu, Puspa Dewi. Cepatlah sebelum keburu gelap."
Dengan hati gembira Puspa Dewi mandi
di pancuran. Biarpun ia tidak dapat berganti pakaian karena kepergian-nya
secara mendadak sehingga tidak sempat membawa pakaian pengganti, namun tubuhnya
terasa segar bukan main. Juga rasa lelahnya lenyap ketika ia minum air pancuran
yang amat jernih itu. Ketika ia kembali ke dalam guha, dalam keremangan cuaca
senja ia melihat gurunya duduk bersila di atas tumpukan rumput dengan kedua
mata terpejam. Puspa Dewi tahu bahwa kakek itu sedang tenggelam dalam samadhi,
maka ia tidak mau mengganggunya. Malam mulai gelap, bulan belum muncul. Ia membuat
api unggun di mulut guha, lalu duduk dekat api unggun yang menghangatkan badan
dan mengusir nyamuk. Puspa Dewi duduk melamun dekat api unggun. Karena melamun,
Puspa Dewi lupa akan waktu. Seperti biasa, kalau dilupakan, waktu melesat cepat
sekali tanpa terasa. Sesekali gadis itu menambah kayu kering agar api unggun
itu tidak padam, ia merasa perutnya menagih nasi, berkeruyuk seperti ayam hutan
bersahut-sahutan.
"Puspa Dewi, engkau
lapar?"
Puspa Dewi tersentak dan sadar dari
lamunannya. Cepat ia menengok dan gurunya sudah berdiri di situ. Ia cepat
bangkit berdiri dan mukanya terasa panas. Tentu mukanya berubah merah karena
malu mendengar pertanyaan gurunya. Apakah gurunya itu mendengar bunyi dari
dalam perutnya yang berkeruyuk tadi? Ia memandang wajah gurunya dan ikut
tersenyum lalu mengangguk.
"Benar, Eyang."
"Ha-ha-ha." kakek itu
tertawa lembut,
"Bagus sekali, Puspa Dewi.
Memang orang tidak perlu munafik menyembunyikan kelemahannya. Bukan engkau
saja, perutku ini pun menagih karena sudah tiga hari tiga malam tidak menerima
makanan. Akan tetapi, kita tahan malam ini lagi. Besok engkau boleh mencari
makanan untuk perut kita. Sekarang, padamkan api unggun itu. Sinarnya
mengganggu keindahan sinar bulan yang sudah muncul. Mari kita duduk di atas
batu depan guha."
Mereka berdua duduk berhadapan di
atas batu depan guha. Sejenak mereka berdiam diri dan sinar bulan membuat
suasana seperti dalam dongeng atau seperti dalam dunia lain, penuh keindahan
ajaib, mengandung rahasia keagungan yang meresap melalui udara yang sejuk
sampai ke tulang sumsum.
"Nah, sekarang kita sempat
bercakap-cakap, Puspa Dewi. Engkau belum menceritakan semua pengalamanmu sampai
engkau dikeroyok lima orang itu. Akan tetapi sebelum itu, adakah sesuatu yang
ingin kau tanyakan kepadaku?"
Kembali Puspa Dewi tertegun. Kakek
ini seolah dapat menjenguk isi hatinya. Memang sejak siang tadi ia ingin sekali
bertanya siapa adanya kakek yang luar biasa ini. Kini ia diberi kesempatan
bertanya, maka ia segera berkata.
"Mohon maaf, Eyang. Kalau saya
boleh bertanya, siapakah asma (nama besar) Eyang? Eyang datang dari mana dan
hendak ke mana? Maafkan kalau pertanyaan saya ini lancang."
"Ha-ha, sama sekali tidak
lancang, Puspa Dewi. Sudah sewajarnya seorang murid mengetahui nama gurunya.
Aku adalah Resi Satyadharma, pertapaanku di Gunung Agung, Bali-dwipa. Aku
sedang mengadakan perjalanan berkunjung ke Kahuripan dan kebetulan bertemu
denganmu, maka aku menunda kunjunganku selama tiga bulan untuk
membimbingmu."
Nama itu tidak berkesan apa-apa
dalam hati Puspa Dewi karena ia memang belum pernah mendengarnya. Ia tahu bahwa
di Nusa Bali memang terdapat banyak orang-orang sakti.
"Nah, sekarang ceritakanlah
tentang pengalamanmu dan mengapa engkau tadi dikeroyok orang-orang itu."
"Mereka berlima itu adalah para
senopati Wura-Wuri yang hendak memaksa saya kembali ke Wura-wuri, Eyang. Karena
saya telah bersalah terhadap Wura-Wuri dan saya tahu bahwa Guru saya Nyi Dewi
Durgakumala pasti marah dan tidak mau mengampuni saya, maka saya menolak ketika
diajak ke Wura-Wuri. Selain itu, juga saya telah mengambil kepastian untuk
memutuskan semua hubungan saya dengan Nyi Dewi Durgakumala dan Kerajaan
Wura-Wuri."
"Mengapa engkau dimusuhi
mereka, Puspa Dewi?"
"Karena saya telah mengkhianati
Kerajaan Wura-Wuri, Eyang."
Kakek itu tersenyum lebar. Dia
senang melihat betapa gadis itu amat jujur. Mudah dan enak saja mengakui bahwa
ia telah menjadi pengkhianat!
"Hemm, begitukah? Coba
ceritakan."
Puspa Dewi menceritakan betapa
sebagai anak angkat Nyi Dewi Durgakumala ia menjadi Sekar Kedaton di Wura-Wuri,
kemudian ia diberi tugas oleh Sang Adipati Bhismaprabhawa dan Nyi Dewi
Durgakumala untuk mewakili Wura-Wuri dalam persekutuan dengan para kadipaten
lain, membantu gerakan Pangeran Hendratama yang memberontak kepada Sang Prabu
Erlangga. Akan tetapi, setelah berhasil diselundupkan ke dalam istana Kerajaan
Kahuripan, Ia membalik, membantu Kahuripan dan menentang persekutuan yang
hendak menjatuhkan Sang Prabu Erlangga.
"Demikianlah, Eyang. Karena
saya telah mengkhianati Wura-Wuri, maka saya tidak mau kembali ke sana menerima
hukuman."
Kakek itu mengangguk-angguk setelah
mendengarkan cerita Puspa Dewi yang panjang lebar itu.
"Aku senang melihat
kejujuranmu, Puspa Dewi. Akan tetapi katakan, mengapa engkau mengkhianati
Wura-Wuri di mana engkau telah diangkat menjadi Sekar Kedaton?"
"Ampun, Eyang. Tadinya memang
saya hendak membela Wura-Wuri karena saya telah menjadi Sekar Kedaton. Akan
tetapi setelah berada di Kahuripan dan bertemu dengan Nurseta, Ki Patih
Narotama dan Sang Prabu Erlangga, saya menyadari akan kesalahan saya. Pertama,
saya sesungguhnya adalah kawula Kahuripan. Ke dua, saya melihat betapa para
pimpinan Kahuripan itu bijaksana sekali, sebaliknya saya melihat betapa
persekutuan itu terdiri dari orang-orang jahat. Ketiga, saya memang sejak dulu
selalu menentang perbuatan Nyi Dewi Durgakumala yang amat keji, walaupun ia
menjadi guru saya. Karena semua itulah saya lalu membalik, membela Kahuripan
dan menentang persekutuan jahat itu, Eyang."
"Sadhu-sadhu-sadhu,
bersyukurlah kepada Sang Hyang Widhi yang telah memberimu kesadaran itu, Puspa
Dewi sehingga engkau tidak terseret ke dalam kesesatan. Engkau telah berjasa
besar untuk Kahuripan, mungkin pertemuanmu dengan aku ini merupakan imbalan
jasamu. Ketahuilah, Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama yang telah kau
bantu itu, mereka adalah murid-muridku, Puspa Dewi."
"Ahhh....!" Puspa Dewi
menyembah.
"Sungguh merupakan anugerah
besar sekali Eyang sudi menerimaku sebagai murid." Gadis itu merasa girang
sekali. Pantas kakek ini demikian sakti mandraguna! Kiranya guru dari Sang
Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama yang amat sakti itu!
Pada keesokan harinya, Puspa Dewi
menuruni bukit dan mendapatkan semua kebutuhannya untuk makanan dan pengganti
pakaiannya. Juga ia mendapatkan pakaian untuk pengganti pakaian gurunya. Sejak
hari itu, Puspa Dewi mendapat gemblengan dari Sang Resi Satyadharma. Bukan
hanya semua aji kesaktiannya yang dipoles oleh Sang Resi itu sehingga hilang
sifat liar dan kejamnya, dan ia menerima pula aji pukulan yang dahsyat, latihan
menghimpun tenaga sakti. Akan tetapi lebih daripada itu, Puspa Dewi menerima
penggemblengan batin sehingga ia mampu menerima sentuhan kekuasaan Sang Hyang
Widhi Wasa. Sang waktu meluncur dengan cepat sekali sehingga tanpa dirasakan
dan disadari oleh Puspa Dewi, tahu-tahu tiga bulan telah lewat semenjak ia
tinggal di gua bukit Pegunungan Kidul itu bersama Maha Resi Satyadharma. Ia
baru menyadari ketika pada malam bulan purnama yang amat indah itu, Resi
Satyadharma mengajaknya duduk di luar guha.
"Nini, rupanya engkau tidak
menyadari bahwa sudah tiga bulan kita berada di tempat ini." kata Kakek
itu setelah mereka seperti biasa, duduk saling berhadapan di atas batu-batu
depan guha.
Hati Puspa Dewi terkejut sekali
menyadari bahwa saatnya tiba ia harus berpisah dari gurunya yang selama tiga
bulan ini telah memberi banyak sekali kepadanya. Bukan hanya aji-aji kesaktian,
akan tetapi terutama sekali kesadaran yang mengubah sama sekali keadaan
batinnya sehingga ia menyadari betapa selama ini ia berdekatan dengan segala
kesesatan yang dilakukan Nyi Dewi Durgakumala dan para tokoh lain. Akan tetapi,
kekejutan itu sama sekali tidak tampak pada wajahnya, juga tidak membuatnya
berduka karena ia menyadari sepenuhnya bahwa memang sudah seharusnya demikian.
Ketika gurunya menerimanya sebagai murid, gurunya telah mengatakan bahwa dia
hanya membimbingnya selama tiga bulan.
"Benar, Eyang. Saya hampir
melupakan waktu. Saya hanya mohon doa restu Eyang agar saya akan mampu
menerapkan dalam kehidupan saya selanjutnya apa yang telah Eyang ajarkan selama
ini."
"Bagus, Puspa Dewi. Sekarang,
pada saat terakhir kita berkumpul ini, aku ingin mengajakmu bercakap-cakap
tentang kehidupan ini. Kalau ada hal-hal yang merisaukan hati dan membuatmu
penasaran, tanyakanlah padaku, Nini. Aku akan mengajakmu bersama-sama meneliti,
mempertimbangkan dan menyelidiki sehingga semua hal itu akan dapat kita
mengerti dengan jelas."
No comments:
Post a Comment