Nurseta Satria Karangtirta ; Bagian 11



"Saya bersyukur sekali, Eyang. Perkenankan saya mencari kayu-kayu, untuk membuat api unggun di waktu malam pengusir nyamuk dan mimik (kutu terbang kecil yang suka menggigit), dan rumput kering untuk tilam Eyang mengaso."
Gurunya mengangguk dan dari wajah yang lembut itu dapat dilihat bahwa dia suka sekali kepada murid baru ini. Puspa Dewi lalu pergi lagi. Tanpa mengenal lelah ia mengumpulkan kayu dan rumput kering, lalu menggotongnya ke dalam guha. Kayu-kayu kering itu ia tumpuk di ujung guha dan rumput kering yang sudah ia pilih, yang benar-benar kering dan bersih dari tanah, ia tumpuk dan rapikan di atas bagian yang paling tinggi dari lantai guha itu. Tempat itu memang yang paling enak untuk berbaring atau duduk. Ia sendiri menaburkan rumput kering di sudut yang lain untuk tempat ia mengaso. Setelah selesai, ia mempersilakan gurunya memasuki guha. Kakek itu masuk ke dalam guha dan tersenyum-senyum melihat tumpukan kayu dan rumput kering itu.
"Ini saya persiapkan untuk tempat Eyang mengaso." katanya menunjuk ke arah tumpukan rumput di lantai yang paling tinggi itu. Gurunya mengangguk-angguk, lalu naik dan duduk bersila di atas tumpukan rumput kering.
"Nyaman di sini." katanya memuji.
"Eyang, sekarang perkenankan saya mencari semua kebutuhan untuk makan dan minum Eyang. Saya akan turun bukit pergi ke dusun di bawah sana. Saudara-saudara di dusun itu pasti dapat menyediakan semua kebutuhan kita."
"Hemm, bagaimana caranya engkau akan mendapatkan dari mereka? Orang-orang dusun itu hidupnya sudah serba sederhana bahkan kekurangan. Bagaimana mungkin mereka memberikan sebagian dari milik mereka yang sedikit itu kepadamu?"
"Eyang, tentu saja saya tidak tega minta kepada mereka. Akan tetapi saya mempunyai perhiasan-perhiasan dari emas ini untuk ditukar dengan kebutuhan kita. Mereka dapat menjual emas ini di kota dan dapat membeli keperluan mereka yang lebih banyak."
Puspa Dewi memperlihatkan perhiasannya berupa gelang kalung, cincin dan lain-lain yang amat mahal harganya kepada gurunya. Ia mendapatkan semua perhiasan yang amat indah dan mahal itu dari Adipati Wura-Wuri ketika ia berada di istana Wura-Wuri sebagai Sekar Kedaton.
Kakek itu mengangguk-angguk.
"Bagus, memang sepatutnya begitu. Para saudara di dusun itu perlu diberi bantuan, bukan dimintai bantuan. Akan tetapi jangan pergi sekarang, Puspa Dewi. Sebentar lagi malam tiba. Besok saja pagi-pagi engkau cari semua kebutuhan itu. Yang penting sekarang cobalah cari dimana adanya air jernih untuk membersihkan badan dari debu. Pergilah ke sana." Kakek itu menunjuk dengan tangan kirinya ke arah selatan.

Puspa Dewi lalu keluar dari guha dan menuju ke arah yang ditunjuk gurunya. Dan... belum jauh ia pergi, ia melihat sumber air mancur dari sebuah batu besar. Sejenak ia berdiri tertegun memandang air mancur itu, seolah terpesona dan tidak percaya. Dewakah kakek guru-nya itu? Banyak keajaiban dilakukan kakek itu. Cara kakek itu membuat lima orang penyerangnya melarikan diri ketakutan karena semua serangan membalik dan memukul penyerangnya sendiri sebelum senjata penyerang itu menyentuh tubuhnya. Kemudian ketika ia melakukan pengejaran, kakek yang jalan santai itu tidak dapat ia susul padahal ia lari dengan pengerahan tenaga saktinya. Setelah itu, ketika ia mencari guha dan menemukannya, tahu-tahu gurunya telah berada di depan guha! Dan sekarang, gurunya itu seolah sudah tahu bahwa di sebelah selatan guha, tidak jauh dari situ, terdapat air yang dibutuhkan. Segera ia berlari memasuki guha dan menghadap gurunya,
"Eyang, betul terdapat sebuah pancuran air jernih di sana!"
"Bagus, biar aku membersihkan badan lebih dulu," kata kakek itu dan dia lalu bangkit berdiri dan melangkah perlahan keluar dari guha menuju pancuran itu. Puspa Dewi duduk termenung, masih terpesona oleh rasa kagum dan heran terhadap gurunya. Tampaknya demikian ringkih, namun tubuh yang tampak ringkih itu ternyata mengandung kekuatan yang amat hebat! Tak lama kemudian kakek itu memasuki guha kembali. Wajahnya segar dan basah, demikian pula tangan dan kakinya. Dia tertawa lembut kepada Puspa Dewi,
"Sekarang giliranmu membersihkan badanmu, Puspa Dewi. Cepatlah sebelum keburu gelap."
Dengan hati gembira Puspa Dewi mandi di pancuran. Biarpun ia tidak dapat berganti pakaian karena kepergian-nya secara mendadak sehingga tidak sempat membawa pakaian pengganti, namun tubuhnya terasa segar bukan main. Juga rasa lelahnya lenyap ketika ia minum air pancuran yang amat jernih itu. Ketika ia kembali ke dalam guha, dalam keremangan cuaca senja ia melihat gurunya duduk bersila di atas tumpukan rumput dengan kedua mata terpejam. Puspa Dewi tahu bahwa kakek itu sedang tenggelam dalam samadhi, maka ia tidak mau mengganggunya. Malam mulai gelap, bulan belum muncul. Ia membuat api unggun di mulut guha, lalu duduk dekat api unggun yang menghangatkan badan dan mengusir nyamuk. Puspa Dewi duduk melamun dekat api unggun. Karena melamun, Puspa Dewi lupa akan waktu. Seperti biasa, kalau dilupakan, waktu melesat cepat sekali tanpa terasa. Sesekali gadis itu menambah kayu kering agar api unggun itu tidak padam, ia merasa perutnya menagih nasi, berkeruyuk seperti ayam hutan bersahut-sahutan.
"Puspa Dewi, engkau lapar?"
Puspa Dewi tersentak dan sadar dari lamunannya. Cepat ia menengok dan gurunya sudah berdiri di situ. Ia cepat bangkit berdiri dan mukanya terasa panas. Tentu mukanya berubah merah karena malu mendengar pertanyaan gurunya. Apakah gurunya itu mendengar bunyi dari dalam perutnya yang berkeruyuk tadi? Ia memandang wajah gurunya dan ikut tersenyum lalu mengangguk.
"Benar, Eyang."
"Ha-ha-ha." kakek itu tertawa lembut,
"Bagus sekali, Puspa Dewi. Memang orang tidak perlu munafik menyembunyikan kelemahannya. Bukan engkau saja, perutku ini pun menagih karena sudah tiga hari tiga malam tidak menerima makanan. Akan tetapi, kita tahan malam ini lagi. Besok engkau boleh mencari makanan untuk perut kita. Sekarang, padamkan api unggun itu. Sinarnya mengganggu keindahan sinar bulan yang sudah muncul. Mari kita duduk di atas batu depan guha."

Mereka berdua duduk berhadapan di atas batu depan guha. Sejenak mereka berdiam diri dan sinar bulan membuat suasana seperti dalam dongeng atau seperti dalam dunia lain, penuh keindahan ajaib, mengandung rahasia keagungan yang meresap melalui udara yang sejuk sampai ke tulang sumsum.
"Nah, sekarang kita sempat bercakap-cakap, Puspa Dewi. Engkau belum menceritakan semua pengalamanmu sampai engkau dikeroyok lima orang itu. Akan tetapi sebelum itu, adakah sesuatu yang ingin kau tanyakan kepadaku?"
Kembali Puspa Dewi tertegun. Kakek ini seolah dapat menjenguk isi hatinya. Memang sejak siang tadi ia ingin sekali bertanya siapa adanya kakek yang luar biasa ini. Kini ia diberi kesempatan bertanya, maka ia segera berkata.
"Mohon maaf, Eyang. Kalau saya boleh bertanya, siapakah asma (nama besar) Eyang? Eyang datang dari mana dan hendak ke mana? Maafkan kalau pertanyaan saya ini lancang."
"Ha-ha, sama sekali tidak lancang, Puspa Dewi. Sudah sewajarnya seorang murid mengetahui nama gurunya. Aku adalah Resi Satyadharma, pertapaanku di Gunung Agung, Bali-dwipa. Aku sedang mengadakan perjalanan berkunjung ke Kahuripan dan kebetulan bertemu denganmu,  maka aku menunda kunjunganku selama tiga bulan untuk membimbingmu."
Nama itu tidak berkesan apa-apa dalam hati Puspa Dewi karena ia memang belum pernah mendengarnya. Ia tahu bahwa di Nusa Bali memang terdapat banyak orang-orang sakti.
"Nah, sekarang ceritakanlah tentang pengalamanmu dan mengapa engkau tadi dikeroyok orang-orang itu."
"Mereka berlima itu adalah para senopati Wura-Wuri yang hendak memaksa saya kembali ke Wura-wuri, Eyang. Karena saya telah bersalah terhadap Wura-Wuri dan saya tahu bahwa Guru saya Nyi Dewi Durgakumala pasti marah dan tidak mau mengampuni saya, maka saya menolak ketika diajak ke Wura-Wuri. Selain itu, juga saya telah mengambil kepastian untuk memutuskan semua hubungan saya dengan Nyi Dewi Durgakumala dan Kerajaan Wura-Wuri."
"Mengapa engkau dimusuhi mereka, Puspa Dewi?"
"Karena saya telah mengkhianati Kerajaan Wura-Wuri, Eyang."
Kakek itu tersenyum lebar. Dia senang melihat betapa gadis itu amat jujur. Mudah dan enak saja mengakui bahwa ia telah menjadi pengkhianat!
"Hemm, begitukah? Coba ceritakan."

Puspa Dewi menceritakan betapa sebagai anak angkat Nyi Dewi Durgakumala ia menjadi Sekar Kedaton di Wura-Wuri, kemudian ia diberi tugas oleh Sang Adipati Bhismaprabhawa dan Nyi Dewi Durgakumala untuk mewakili Wura-Wuri dalam persekutuan dengan para kadipaten lain, membantu gerakan Pangeran Hendratama yang memberontak kepada Sang Prabu Erlangga. Akan tetapi, setelah berhasil diselundupkan ke dalam istana Kerajaan Kahuripan, Ia membalik, membantu Kahuripan dan menentang persekutuan yang hendak menjatuhkan Sang Prabu Erlangga.
"Demikianlah, Eyang. Karena saya telah mengkhianati Wura-Wuri, maka saya tidak mau kembali ke sana menerima hukuman."
Kakek itu mengangguk-angguk setelah mendengarkan cerita Puspa Dewi yang panjang lebar itu.
"Aku senang melihat kejujuranmu, Puspa Dewi. Akan tetapi katakan, mengapa engkau mengkhianati Wura-Wuri di mana engkau telah diangkat menjadi Sekar Kedaton?"
"Ampun, Eyang. Tadinya memang saya hendak membela Wura-Wuri karena saya telah menjadi Sekar Kedaton. Akan tetapi setelah berada di Kahuripan dan bertemu dengan Nurseta, Ki Patih Narotama dan Sang Prabu Erlangga, saya menyadari akan kesalahan saya. Pertama, saya sesungguhnya adalah kawula Kahuripan. Ke dua, saya melihat betapa para pimpinan Kahuripan itu bijaksana sekali, sebaliknya saya melihat betapa persekutuan itu terdiri dari orang-orang jahat. Ketiga, saya memang sejak dulu selalu menentang perbuatan Nyi Dewi Durgakumala yang amat keji, walaupun ia menjadi guru saya. Karena semua itulah saya lalu membalik, membela Kahuripan dan menentang persekutuan jahat itu, Eyang."
"Sadhu-sadhu-sadhu, bersyukurlah kepada Sang Hyang Widhi yang telah memberimu kesadaran itu, Puspa Dewi sehingga engkau tidak terseret ke dalam kesesatan. Engkau telah berjasa besar untuk Kahuripan, mungkin pertemuanmu dengan aku ini merupakan imbalan jasamu. Ketahuilah, Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama yang telah kau bantu itu, mereka adalah murid-muridku, Puspa Dewi."
"Ahhh....!" Puspa Dewi menyembah.
"Sungguh merupakan anugerah besar sekali Eyang sudi menerimaku sebagai murid." Gadis itu merasa girang sekali. Pantas kakek ini demikian sakti mandraguna! Kiranya guru dari Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama yang amat sakti itu!

Pada keesokan harinya, Puspa Dewi menuruni bukit dan mendapatkan semua kebutuhannya untuk makanan dan pengganti pakaiannya. Juga ia mendapatkan pakaian untuk pengganti pakaian gurunya. Sejak hari itu, Puspa Dewi mendapat gemblengan dari Sang Resi Satyadharma. Bukan hanya semua aji kesaktiannya yang dipoles oleh Sang Resi itu sehingga hilang sifat liar dan kejamnya, dan ia menerima pula aji pukulan yang dahsyat, latihan menghimpun tenaga sakti. Akan tetapi lebih daripada itu, Puspa Dewi menerima penggemblengan batin sehingga ia mampu menerima sentuhan kekuasaan Sang Hyang Widhi Wasa. Sang waktu meluncur dengan cepat sekali sehingga tanpa dirasakan dan disadari oleh Puspa Dewi, tahu-tahu tiga bulan telah lewat semenjak ia tinggal di gua bukit Pegunungan Kidul itu bersama Maha Resi Satyadharma. Ia baru menyadari ketika pada malam bulan purnama yang amat indah itu, Resi Satyadharma mengajaknya duduk di luar guha.
"Nini, rupanya engkau tidak menyadari bahwa sudah tiga bulan kita berada di tempat ini." kata Kakek itu setelah mereka seperti biasa, duduk saling berhadapan di atas batu-batu depan guha.
Hati Puspa Dewi terkejut sekali menyadari bahwa saatnya tiba ia harus berpisah dari gurunya yang selama tiga bulan ini telah memberi banyak sekali kepadanya. Bukan hanya aji-aji kesaktian, akan tetapi terutama sekali kesadaran yang mengubah sama sekali keadaan batinnya sehingga ia menyadari betapa selama ini ia berdekatan dengan segala kesesatan yang dilakukan Nyi Dewi Durgakumala dan para tokoh lain. Akan tetapi, kekejutan itu sama sekali tidak tampak pada wajahnya, juga tidak membuatnya berduka karena ia menyadari sepenuhnya bahwa memang sudah seharusnya demikian. Ketika gurunya menerimanya sebagai murid, gurunya telah mengatakan bahwa dia hanya membimbingnya selama tiga bulan.
"Benar, Eyang. Saya hampir melupakan waktu. Saya hanya mohon doa restu Eyang agar saya akan mampu menerapkan dalam kehidupan saya selanjutnya apa yang telah Eyang ajarkan selama ini."
"Bagus, Puspa Dewi. Sekarang, pada saat terakhir kita berkumpul ini, aku ingin mengajakmu bercakap-cakap tentang kehidupan ini. Kalau ada hal-hal yang merisaukan hati dan membuatmu penasaran, tanyakanlah padaku, Nini. Aku akan mengajakmu bersama-sama meneliti, mempertimbangkan dan menyelidiki sehingga semua hal itu akan dapat kita mengerti dengan jelas."

<<< Bagian 10                                                                                          Bagian 12 >>>

No comments:

Post a Comment