Nurseta Satria Karangtirta ; Bagian 12


Puspa Dewi mengingat-ingat.
"Memang banyak hal yang membuat saya merasa penasaran karena saya melihat ketidak-adilan terjadi di mana-mana, Eyang. Saya melihat banyak rakyat, terutama di dusun-dusun yang termasuk wilayah Kerajaan Wura-Wuri, hidup di bawah garis kemiskinan. Pemerintah Kerajaan Wura-Wuri memungut pajak dan pungutan-pungutan lain yang besar kepada rakyat, menganjurkan rakyat Wura-Wuri agar hidup seadanya karena Wura-Wuri sedang membangun, yang katanya untuk kepentingan rakyat jelata pula. Akan tetapi apa yang saya lihat di istana Sang Adipati Bhismaprabawa dan juga gedung-gedung para pamong praja yang tinggi kedudukannya, kehidupan mereka serba mewah dan kaya raya. Rakyat tidak ada yang berani memprotes, karena perbuatan ini pasti mengakibatkan dia ditangkap, disiksa dan dihukum dituduh sebagai pemberontak. Eyang, bagaimana bisa terjadi seperti itu?"
Sang Maha Resi Satyadharma menghela napas panjang.
"Hal seperti itu selalu terjadi dalam kerajaan yang dipimpin orang-orang yang menjadi budak budak nafsunya sendiri, Nini. Nafsunya sendiri yang memperbudaknya sehingga dia tidak segan untuk menipu rakyat untuk memperkaya diri sendiri, menggunakan kekuasaannya sehingga sewenang-wenang, menerapkan aji mumpung (selagi ada kesempatan), menganggap diri sendiri yang paling berkuasa, lupa bahwa ada Yang Maha Kuasa yang menyaksikan setiap kejahatannya yang terselubung sikap manis membujuk bujuk itu. Lupa hahwa harta dan kekuasaan itu hanya merupakan embel embel sementara saja, sewaktu-waktu harta dan kekuasaan akan meninggalkannya atau dia yang akan meninggalkan harta dan kekuasaan itu dan mempertanggung jawabkan semua perbuatannya di depan Sang Hyang Widhi yang Maha Adil dan Maha Kuasa."
"Akan tetapi, Eyang. Mereka itu, dari yang paling tinggi kedudukannya sampai yang paling rendah, adalah orang-orang pandai! Bahkan saya melihat banyak orang-orang yang mengaku dirinya sebagai pendeta dan pertapa, ahli-ahli pengetahuan, ahli-ahli agama, melakukan banyak perbuatan yang buruk dan jahat. Tidak mungkin kalau mereka itu tidak tahu bahwa perbuatan mereka itu jahat. Bagaimana ini, Eyang?"
"Itulah kuatnya pengaruh nafsu daya rendah, Nini. Nafsu jauh lebih kuat daripada pengetahuan. Hal ini sudah terbukti di mana-mana. Bahkan di jaman dahulu, dalam cerita Ramayana, yang bernama Sang Prabu Rahwana atau Dasamuka itu adalah seorang maharaja yang juga terkenal sebagai ahli weda, pengetahuannya tentang agama sudah lengkap. Akan tetapi dia pun terkenal sebagai seorang yang jahat dan kejam. Apakah dia tidak tahu bahwa segala kekejamannya itu berdosa dan jahat, berlawanan dengan pelajaran dalam kitab-kitab Weda? Tentu saja dia tahu! Juga buktinya di jaman sekarang, apakah para pamong praja yang melakukan pemerasan, kesewenang-wenangan dan pencurian harta itu tidak tahu bahwa perbuatan mereka jahat? Apakah para maling tidak tahu bahwa mendiri itu jahat? mereka semua itu tahu belaka, akan tetapi nafsu daya rendah menguasai hati akal pikiran mereka. Nafsu memberi iming-iming (umpan penarik) berupa kesenangan, yang enak-enak dan kenikmatan sehingga manusia tidak kuasa melawan kuasa daya rendah yang digerakkan iblis itu. Bahkan nafsu daya rendah dengan pandainya menjadi pembela dan membenarkan semua perbuatan jahat itu dengan alasan-alasan yang kedengarannya masuk akal."
"Waduh, kalau begitu bagaimana baiknya bagi manusia untuk dapat menghindarkan diri dan mematikan nafsu daya rendah, Eyang?"
"Ha-ha-ha, menghindarkan diri dan mematikan nafsu daya rendah? Tidak mungkin, Puspa Dewi! Nafsu-nafsu daya rendah itu sudah disertakan kepada kita sejak kita lahir! Nafsu merupakan abdi yang melayani kehidupan kita di dunia ini, yang mendatangkan segala keindahan pada panca indera kita, mendatangkan segala kenikmatan hidup sehingga kita dapat bersyukur dan selalu Ingat akan Kasih-sayang Sang Hyang Widhi kepada kita. Akan tetapi, justeru pelayan kita yang amat berguna bagi hidup kita itu akan menjadi sumber kesesatan yang akan menyeret kita ke dalam dosa kalau Iblis mempergunakannya. Karena ingin mengejar kesenangan yang dijadikan umpan oleh Iblis, kita menjadi lemah dan diperbudak oleh nafsu kita sendiri. Citalah yang menjadi budak dan melakukan apapun juga demi memperoleh kesenangan yang kita kejar-kejar. Nafsu adalah sebagian dari diri kita, tidak mungkin kita hindarkan atau matikan. Nafsu harus tetap menduduki tempatnya yang semula dan wajar yaitu menjadi pelayan kita, barulah kehidupan kita dapat sesuai dengan kehendak Sang Hyang Widhi, yaitu berusaha untuk menyejahterakan dunia, bukan menyejahterakan diri pribadi, si-aku dan keluargaku, sahabatku, golonganku dan segala yang berbuntut dengan ku lainnya."
"Lalu, apakah dalam kehidupan ini kita tidak boleh merasakan kesenangan. Eyang?"
"Tentu saja boleh! Kesenangan itu merupakan berkat dari Sang Hyang Widhi. Sudah sejak lahir kesenangan itu dianugerahkan kepada kita, melalui panca indra kita dan diterima oleh hati sehingga kita merasa senang. Kesenangan yang wajar datangnya kita terima dengan penuh rasa syukur kepada Sang Pemberi rasa kesenangan itu. Akan tetapi kalau kita sudah mengejar-ngejarnya karena diiming-imingi rasa serba enak dan nikmat, kita terperangkap ke dalam jebakan iblis. Untuk mengejar kesenangan kita lalu menggunakan segala macam cara, tidak memakai lagi pertimbangan dan tidak sungkan melakukan kejahatan yang merugikan orang lain."
"Akan tetapi bagaimana caranya untuk dapat menundukkan nafsu daya rendah sehingga tetap menjadi pelayan kita dan tidak menjadi majikan kita, Eyang?"
"Dengan hati akal pikiran, akan teramat sulit untuk dapat menundukkan nafsu. Akan tetapi dengan berserah diri lahir batin sepenuhnya kepada Sang Hyang Widhi, yaitu Sang Maha Pencipta yang juga menciptakan nafsu daya rendah sebagai peserta kita, maka seperti juga Raden Werkudara yang membuka pintu hatinya dan membiarkan Sang Dewaruci (Roh Suci) bertahta dalam dirinya, maka kita akan dibimbingnya dan dengan sendirinya nafsu daya rendah akan tunduk dan menduduki tempatnya yang semula, yaitu menjadi hamba manusia."
"Terima kasih atas semua petunjuk Eyang. Akan tetapi ada satu hai lagi yang ingin saya ketahui, Eyang. Bagaimana caranya agar rakyat jelata hidup makmur?"
"Satu-satunya syarat agar rakyat dapat hidup sejahtera adalah mutu para pemimpinnya. Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama telah menaati semua petunjukku. Mereka adalah pemimpin Kerajaan Kahuripan yang bijaksana. Kalau rajanya bijaksana, pamong-pamongnya tentu juga mengikuti tauladannya. Seorang raja dapat menjadi raja karena dipilih rakyatnya. Tanpa rakyat, apa artinya raja, apa artinya penguasa? Karena itu, seorang pemimpin harus menjadi suri tauladan. Kalau dia bijaksana, bawahannya pasti tidak berani melakukan penyelewengan karena raja tentu akan bertindak menghukumnya. Akan tetapi kalau rajanya sendiri menyeleweng, bagaimana dia dapat menindak bawahannya yang melakukan penyelewengan? Raja yang bijaksana otomatis membuat para pamong menjadi bijaksana pula dan kebijaksanaannya itu juga dapat mengatur sehingga kehidupan rakyat menjadi sejahtera."
"Kalau begitu, tidak ada lagi golongan rakyat yang kaya raya berlebihan dan tidak ada yang melarat dan miskin sekali, Eyang?"
Kakek itu tersenyum. "Tentu saja bukan begitu, Puspa Dewi. Sudah semestinya ada yang tinggi dan ada yang rendah, ada yang berhasil dalam usahanya yang jujur dan wajar sehingga menjadi kaya dan ada pula yang kurang berhasil. Akan tetapi kalau para pemimpin pandai mengatur, tidak akan ada rakyat yang demikian melaratnya sehingga tidak mendapatkan sandang pangan papan yang layak. Yang kaya harus mengangkat keadaan yang miskin dan mempergunakan modalnya untuk membuka lapangan kerja, membagikan sebagian keuntungannya kepada karyawannya sebagai imbalan karena itu merupakan hak mereka, adapun yang tidak kaya dan menjadi karyawan dapat menyumbangkan tenaga dan ketrampilannya untuk bekerja dengan jujur dan setia sehingga apa yang diusahakan dari perpaduan ini akan mengalami kemajuan untuk keuntungan mereka bersama. Kerajaan, seperti yang dilakukan Sang Prabu Erlangga, harus mengerahkan segala kemampuan untuk berbuat atas dasar kebenaran dan keadilan, mengangkat mereka yang lemah, membagi kesejahteraan secara adil sehingga semua orang merasa diperlakukan dengan adil dan akibatnya, seluruh rakyat mendukung pemerintah raja itu. Karena itu, bagi sebuah kerajaan, yang paling penting dan harus diutamakan adalah pembangunan watak dan budi pekertinya, terutama di kalangan para pamong prajanya. Kalau watak dan budi pekerti mereka sudah sehat, pembangunan apapun juga yang dilakukan pemerintah, pasti akan berjalan mulus dan baik tanpa ada gangguan. Mengertikah engkau, Puspa Dewi."
"Akan tetapi, semua orang percaya akan Sang Hyang Widhi Wasa, semua orang beragama, akan tetapi mengapa begitu banyaknya orang yang mengaku beragama masih melakukan kejahatan, Eyang?"
"Itulah, Nini, yang memprihatinkan. Agama hanya menjadi bahan pemikiran dan perdebatan belaka, hanya sampai dan berhenti di pikiran, tidak menyentuh jiwa. Bukan orang beragama yang melakukan kejahatan, akan tetapi pelaku kejahatan itu adalah seorang penjahat yang mengaku beragama' Kalau dia benar-benar beragama, menaati semua petunjuk agamanya, sudah pasti dia tidak akan melakukan kejahatan karena hal itu dilarang oleh agamanya. Maka, seperti telah kau rasakan sendiri setelah engkau membuka pintu hatimu dan membiarkan Kekuasaan Hyang Widhi memasuki sanubarimu, jiwamu terbimbing dan otomatis nafsu daya rendah akan tetap menjadi peserta dan pelayan. Nah, kurasa sudahi cukup jelas bagimu. Kini sudah tiba saatnya kita berpisah, Puspa Dewi."
"Sekarang, Eyang? Bukankah besok pagi..."
"Tidak, sekarang juga, Nini. Sudah tiba saatnya aku harus pergi. Jaga dirimu baik-baik." Kakek itu lalu bangkit berdiri.
Sebelum Puspa Dewi sempal bicara lagi, Sang Maha Resi Satyadharma berkata,
"Selamat tinggal dan selamat berpisah, Nini!"
Dan tiba-tiba ada halimun putih yang menyelimuti tubuhnya sehingga dia tidak tampak lagi. Ketika halimun itu melayang seperti terbawa angin malam, kakek itu sudah tidak berada di situ lagi. Dengan hati terharu Puspa Dewi lalu menyembah penuh khidmat dan berbisik,
"Eyang Guru, selamat jalan dan banyak terima kasih saya haturkan...."

Puspa Dewi menghormati kepergian gurunya itu dengan duduk bersamadhi di situ sampai keesokan harinya. Barulah ia membersihkan badan di pancuran, berganti pakaian lalu membawa buntalan pakaiannya dan meninggalkan guha itu, meninggalkan semua kenangan selama tiga bulan hidup bersama Sang Maha Resi Satyadharma di guha itu.

Pemuda itu berjalan dengan santai mendaki Gunung Arjuna. Usianya sekitar dua puluh dua tahun. Wajahnya sederhana namun ada sesuatu yang menarik hati dan menimbulkan rasa suka pada orang yang memandangnya. Mungkin sinar mata yang lembut dan senyumnya yang ramah penuh kesabaran itulah yang membuat orang tertarik. Tidak tampan seperti Arjuna, akan tetapi juga tidak buruk. Kulitnya agak gelap akan tetapi bersih. Tubuhnya sedang namun tegap dan jalannya tegak, lenggangnya seperti seekor harimau. Pemuda ini adalah Nurseta. Dia mendaki gunung itu karena tertarik akan keindahannya dan ingin sekali menikmati keindahan alam pegunungan itu. Dia berjalan perlahan sambil mengenang semua pengalaman hidupnya yang penuh liku-liku. Ketika kecil dia tinggal di dusun Karang Tirta bersama Ayah Ibunya. Akan tetapi, ketika dia berusia sepuluh tahun, tiba-tiba saja Ayah dan Ibunya pergi meninggalkan dia hidup seorang diri di dusun Karang Tirta. Dia hidup sebagai kacung dan pelayan pada Lurah dusun Karang Tirta itu, baru kemudian dia ketahui Ki Lurah itu jahat dan curang. Semua harta peninggalan orang tuanya diambil lurah itu. Ketika dia berusia sekitar enam belas tahun, dia diambil murid oleh seorang pertapa yang amat sakti, yaitu Empu Dewamurti dan diajak ke lereng Gunung Arjuna yang kini dia daki. Selain ingin menikmati keindahan alam, dia pun mengunjungi bekas tempat dia tinggal menjadi murid Empu Dewamurti selama kurang lebih lima tahun. Nurseta melanjutkan kenangannya. Setelah Empu Dewamurti wafat karena luka-luka setelah dikeroyok tiga orang datuk senopati Wura-wuri bernama Tri Kala (Tiga Kala) yang terdiri dari Kala Muka, Kala Manik dan Kala Teja, bersama Resi Bajrasakti datuk Kerajaan Wengker, dan Ratu Mayang Gupita dari Kerajaan Siluman Laut Kidul, dia memperabukan jenazah gurunya dan menyebarkan abunya di permukaan lereng Gunung Arjuna seperti yang dipesan gurunya sebelum wafat. Akan tetapi gurunya itu wanti-wanti (dengan tegas) meninggalkan pesan kepadanya agar dia jangan membalas dendam kepada orang-orang dari kerajaan itu. Tentu saja dia boleh membela Kahuripan dan menentang tiga kerajaan itu kalau mereka mengganggu Kahuripan dan boleh menentang mereka, akan tetapi tidak berdasar balas dendam. Setelah itu dia mengalami banyak suka duka dalam hidupnya, membela Kahuripan dan mengembalikan Keris Pusaka Megatantra, yang dia temukan di tegal Karang Tirta, kepada Sang Prabu Erlangga yang berhak karena keris itu adalah keris pusaka Mataram. Dia juga membela Kahuripan dari pengeroyokan kerajaan-kcrajaan kecil yang bersekutu dengan pemberontak Pangeran Hendratama sehingga semua pemberontak dan sekutunya dapat dipukul mundur.

<<< Bagian 11                                                                                           Bagian 13 >>>

No comments:

Post a Comment