Puspa Dewi mengingat-ingat.
"Memang banyak hal yang membuat
saya merasa penasaran karena saya melihat ketidak-adilan terjadi di mana-mana,
Eyang. Saya melihat banyak rakyat, terutama di dusun-dusun yang termasuk
wilayah Kerajaan Wura-Wuri, hidup di bawah garis kemiskinan. Pemerintah
Kerajaan Wura-Wuri memungut pajak dan pungutan-pungutan lain yang besar kepada
rakyat, menganjurkan rakyat Wura-Wuri agar hidup seadanya karena Wura-Wuri
sedang membangun, yang katanya untuk kepentingan rakyat jelata pula. Akan
tetapi apa yang saya lihat di istana Sang Adipati Bhismaprabawa dan juga
gedung-gedung para pamong praja yang tinggi kedudukannya, kehidupan mereka
serba mewah dan kaya raya. Rakyat tidak ada yang berani memprotes, karena
perbuatan ini pasti mengakibatkan dia ditangkap, disiksa dan dihukum dituduh
sebagai pemberontak. Eyang, bagaimana bisa terjadi seperti itu?"
Sang Maha Resi Satyadharma menghela
napas panjang.
"Hal seperti itu selalu terjadi
dalam kerajaan yang dipimpin orang-orang yang menjadi budak budak nafsunya
sendiri, Nini. Nafsunya sendiri yang memperbudaknya sehingga dia tidak segan
untuk menipu rakyat untuk memperkaya diri sendiri, menggunakan kekuasaannya
sehingga sewenang-wenang, menerapkan aji mumpung (selagi ada kesempatan),
menganggap diri sendiri yang paling berkuasa, lupa bahwa ada Yang Maha Kuasa
yang menyaksikan setiap kejahatannya yang terselubung sikap manis membujuk
bujuk itu. Lupa hahwa harta dan kekuasaan itu hanya merupakan embel embel
sementara saja, sewaktu-waktu harta dan kekuasaan akan meninggalkannya atau dia
yang akan meninggalkan harta dan kekuasaan itu dan mempertanggung jawabkan
semua perbuatannya di depan Sang Hyang Widhi yang Maha Adil dan Maha
Kuasa."
"Akan tetapi, Eyang. Mereka
itu, dari yang paling tinggi kedudukannya sampai yang paling rendah, adalah
orang-orang pandai! Bahkan saya melihat banyak orang-orang yang mengaku dirinya
sebagai pendeta dan pertapa, ahli-ahli pengetahuan, ahli-ahli agama, melakukan
banyak perbuatan yang buruk dan jahat. Tidak mungkin kalau mereka itu tidak
tahu bahwa perbuatan mereka itu jahat. Bagaimana ini, Eyang?"
"Itulah kuatnya pengaruh nafsu
daya rendah, Nini. Nafsu jauh lebih kuat daripada pengetahuan. Hal ini sudah
terbukti di mana-mana. Bahkan di jaman dahulu, dalam cerita Ramayana, yang
bernama Sang Prabu Rahwana atau Dasamuka itu adalah seorang maharaja yang juga
terkenal sebagai ahli weda, pengetahuannya tentang agama sudah lengkap. Akan
tetapi dia pun terkenal sebagai seorang yang jahat dan kejam. Apakah dia tidak
tahu bahwa segala kekejamannya itu berdosa dan jahat, berlawanan dengan
pelajaran dalam kitab-kitab Weda? Tentu saja dia tahu! Juga buktinya di jaman
sekarang, apakah para pamong praja yang melakukan pemerasan,
kesewenang-wenangan dan pencurian harta itu tidak tahu bahwa perbuatan mereka
jahat? Apakah para maling tidak tahu bahwa mendiri itu jahat? mereka semua itu
tahu belaka, akan tetapi nafsu daya rendah menguasai hati akal pikiran mereka.
Nafsu memberi iming-iming (umpan penarik) berupa kesenangan, yang enak-enak dan
kenikmatan sehingga manusia tidak kuasa melawan kuasa daya rendah yang digerakkan
iblis itu. Bahkan nafsu daya rendah dengan pandainya menjadi pembela dan
membenarkan semua perbuatan jahat itu dengan alasan-alasan yang kedengarannya
masuk akal."
"Waduh, kalau begitu bagaimana
baiknya bagi manusia untuk dapat menghindarkan diri dan mematikan nafsu daya
rendah, Eyang?"
"Ha-ha-ha, menghindarkan diri
dan mematikan nafsu daya rendah? Tidak mungkin, Puspa Dewi! Nafsu-nafsu daya
rendah itu sudah disertakan kepada kita sejak kita lahir! Nafsu merupakan abdi
yang melayani kehidupan kita di dunia ini, yang mendatangkan segala keindahan
pada panca indera kita, mendatangkan segala kenikmatan hidup sehingga kita
dapat bersyukur dan selalu Ingat akan Kasih-sayang Sang Hyang Widhi kepada
kita. Akan tetapi, justeru pelayan kita yang amat berguna bagi hidup kita itu
akan menjadi sumber kesesatan yang akan menyeret kita ke dalam dosa kalau Iblis
mempergunakannya. Karena ingin mengejar kesenangan yang dijadikan umpan oleh
Iblis, kita menjadi lemah dan diperbudak oleh nafsu kita sendiri. Citalah yang
menjadi budak dan melakukan apapun juga demi memperoleh kesenangan yang kita
kejar-kejar. Nafsu adalah sebagian dari diri kita, tidak mungkin kita hindarkan
atau matikan. Nafsu harus tetap menduduki tempatnya yang semula dan wajar yaitu
menjadi pelayan kita, barulah kehidupan kita dapat sesuai dengan kehendak Sang
Hyang Widhi, yaitu berusaha untuk menyejahterakan dunia, bukan menyejahterakan
diri pribadi, si-aku dan keluargaku, sahabatku, golonganku dan segala yang
berbuntut dengan ku lainnya."
"Lalu, apakah dalam kehidupan
ini kita tidak boleh merasakan kesenangan. Eyang?"
"Tentu saja boleh! Kesenangan
itu merupakan berkat dari Sang Hyang Widhi. Sudah sejak lahir kesenangan itu
dianugerahkan kepada kita, melalui panca indra kita dan diterima oleh hati
sehingga kita merasa senang. Kesenangan yang wajar datangnya kita terima dengan
penuh rasa syukur kepada Sang Pemberi rasa kesenangan itu. Akan tetapi kalau
kita sudah mengejar-ngejarnya karena diiming-imingi rasa serba enak dan nikmat,
kita terperangkap ke dalam jebakan iblis. Untuk mengejar kesenangan kita lalu
menggunakan segala macam cara, tidak memakai lagi pertimbangan dan tidak
sungkan melakukan kejahatan yang merugikan orang lain."
"Akan tetapi bagaimana caranya
untuk dapat menundukkan nafsu daya rendah sehingga tetap menjadi pelayan kita
dan tidak menjadi majikan kita, Eyang?"
"Dengan hati akal pikiran, akan
teramat sulit untuk dapat menundukkan nafsu. Akan tetapi dengan berserah diri
lahir batin sepenuhnya kepada Sang Hyang Widhi, yaitu Sang Maha Pencipta yang
juga menciptakan nafsu daya rendah sebagai peserta kita, maka seperti juga
Raden Werkudara yang membuka pintu hatinya dan membiarkan Sang Dewaruci (Roh
Suci) bertahta dalam dirinya, maka kita akan dibimbingnya dan dengan sendirinya
nafsu daya rendah akan tunduk dan menduduki tempatnya yang semula, yaitu
menjadi hamba manusia."
"Terima kasih atas semua
petunjuk Eyang. Akan tetapi ada satu hai lagi yang ingin saya ketahui, Eyang.
Bagaimana caranya agar rakyat jelata hidup makmur?"
"Satu-satunya syarat agar
rakyat dapat hidup sejahtera adalah mutu para pemimpinnya. Sang Prabu Erlangga
dan Ki Patih Narotama telah menaati semua petunjukku. Mereka adalah pemimpin
Kerajaan Kahuripan yang bijaksana. Kalau rajanya bijaksana, pamong-pamongnya
tentu juga mengikuti tauladannya. Seorang raja dapat menjadi raja karena
dipilih rakyatnya. Tanpa rakyat, apa artinya raja, apa artinya penguasa? Karena
itu, seorang pemimpin harus menjadi suri tauladan. Kalau dia bijaksana,
bawahannya pasti tidak berani melakukan penyelewengan karena raja tentu akan
bertindak menghukumnya. Akan tetapi kalau rajanya sendiri menyeleweng,
bagaimana dia dapat menindak bawahannya yang melakukan penyelewengan? Raja yang
bijaksana otomatis membuat para pamong menjadi bijaksana pula dan kebijaksanaannya
itu juga dapat mengatur sehingga kehidupan rakyat menjadi sejahtera."
"Kalau begitu, tidak ada lagi
golongan rakyat yang kaya raya berlebihan dan tidak ada yang melarat dan miskin
sekali, Eyang?"
Kakek itu tersenyum. "Tentu
saja bukan begitu, Puspa Dewi. Sudah semestinya ada yang tinggi dan ada yang
rendah, ada yang berhasil dalam usahanya yang jujur dan wajar sehingga menjadi
kaya dan ada pula yang kurang berhasil. Akan tetapi kalau para pemimpin pandai
mengatur, tidak akan ada rakyat yang demikian melaratnya sehingga tidak
mendapatkan sandang pangan papan yang layak. Yang kaya harus mengangkat keadaan
yang miskin dan mempergunakan modalnya untuk membuka lapangan kerja, membagikan
sebagian keuntungannya kepada karyawannya sebagai imbalan karena itu merupakan
hak mereka, adapun yang tidak kaya dan menjadi karyawan dapat menyumbangkan
tenaga dan ketrampilannya untuk bekerja dengan jujur dan setia sehingga apa
yang diusahakan dari perpaduan ini akan mengalami kemajuan untuk keuntungan
mereka bersama. Kerajaan, seperti yang dilakukan Sang Prabu Erlangga, harus
mengerahkan segala kemampuan untuk berbuat atas dasar kebenaran dan keadilan,
mengangkat mereka yang lemah, membagi kesejahteraan secara adil sehingga semua
orang merasa diperlakukan dengan adil dan akibatnya, seluruh rakyat mendukung
pemerintah raja itu. Karena itu, bagi sebuah kerajaan, yang paling penting dan
harus diutamakan adalah pembangunan watak dan budi pekertinya, terutama di
kalangan para pamong prajanya. Kalau watak dan budi pekerti mereka sudah sehat,
pembangunan apapun juga yang dilakukan pemerintah, pasti akan berjalan mulus
dan baik tanpa ada gangguan. Mengertikah engkau, Puspa Dewi."
"Akan tetapi, semua orang
percaya akan Sang Hyang Widhi Wasa, semua orang beragama, akan tetapi mengapa begitu
banyaknya orang yang mengaku beragama masih melakukan kejahatan, Eyang?"
"Itulah, Nini, yang
memprihatinkan. Agama hanya menjadi bahan pemikiran dan perdebatan belaka,
hanya sampai dan berhenti di pikiran, tidak menyentuh jiwa. Bukan orang
beragama yang melakukan kejahatan, akan tetapi pelaku kejahatan itu adalah
seorang penjahat yang mengaku beragama' Kalau dia benar-benar beragama, menaati
semua petunjuk agamanya, sudah pasti dia tidak akan melakukan kejahatan karena
hal itu dilarang oleh agamanya. Maka, seperti telah kau rasakan sendiri setelah
engkau membuka pintu hatimu dan membiarkan Kekuasaan Hyang Widhi memasuki
sanubarimu, jiwamu terbimbing dan otomatis nafsu daya rendah akan tetap menjadi
peserta dan pelayan. Nah, kurasa sudahi cukup jelas bagimu. Kini sudah tiba
saatnya kita berpisah, Puspa Dewi."
"Sekarang, Eyang? Bukankah
besok pagi..."
"Tidak, sekarang juga, Nini.
Sudah tiba saatnya aku harus pergi. Jaga dirimu baik-baik." Kakek itu lalu
bangkit berdiri.
Sebelum Puspa Dewi sempal bicara lagi,
Sang Maha Resi Satyadharma berkata,
"Selamat tinggal dan selamat
berpisah, Nini!"
Dan tiba-tiba ada halimun putih yang
menyelimuti tubuhnya sehingga dia tidak tampak lagi. Ketika halimun itu
melayang seperti terbawa angin malam, kakek itu sudah tidak berada di situ
lagi. Dengan hati terharu Puspa Dewi lalu menyembah penuh khidmat dan berbisik,
"Eyang Guru, selamat jalan dan
banyak terima kasih saya haturkan...."
Puspa Dewi menghormati kepergian
gurunya itu dengan duduk bersamadhi di situ sampai keesokan harinya. Barulah ia
membersihkan badan di pancuran, berganti pakaian lalu membawa buntalan
pakaiannya dan meninggalkan guha itu, meninggalkan semua kenangan selama tiga
bulan hidup bersama Sang Maha Resi Satyadharma di guha itu.
Pemuda itu berjalan dengan santai
mendaki Gunung Arjuna. Usianya sekitar dua puluh dua tahun. Wajahnya sederhana
namun ada sesuatu yang menarik hati dan menimbulkan rasa suka pada orang yang
memandangnya. Mungkin sinar mata yang lembut dan senyumnya yang ramah penuh
kesabaran itulah yang membuat orang tertarik. Tidak tampan seperti Arjuna, akan
tetapi juga tidak buruk. Kulitnya agak gelap akan tetapi bersih. Tubuhnya
sedang namun tegap dan jalannya tegak, lenggangnya seperti seekor harimau.
Pemuda ini adalah Nurseta. Dia mendaki gunung itu karena tertarik akan
keindahannya dan ingin sekali menikmati keindahan alam pegunungan itu. Dia
berjalan perlahan sambil mengenang semua pengalaman hidupnya yang penuh
liku-liku. Ketika kecil dia tinggal di dusun Karang Tirta bersama Ayah Ibunya.
Akan tetapi, ketika dia berusia sepuluh tahun, tiba-tiba saja Ayah dan Ibunya
pergi meninggalkan dia hidup seorang diri di dusun Karang Tirta. Dia hidup
sebagai kacung dan pelayan pada Lurah dusun Karang Tirta itu, baru kemudian dia
ketahui Ki Lurah itu jahat dan curang. Semua harta peninggalan orang tuanya
diambil lurah itu. Ketika dia berusia sekitar enam belas tahun, dia diambil
murid oleh seorang pertapa yang amat sakti, yaitu Empu Dewamurti dan diajak ke
lereng Gunung Arjuna yang kini dia daki. Selain ingin menikmati keindahan alam,
dia pun mengunjungi bekas tempat dia tinggal menjadi murid Empu Dewamurti
selama kurang lebih lima tahun. Nurseta melanjutkan kenangannya. Setelah Empu
Dewamurti wafat karena luka-luka setelah dikeroyok tiga orang datuk senopati
Wura-wuri bernama Tri Kala (Tiga Kala) yang terdiri dari Kala Muka, Kala Manik
dan Kala Teja, bersama Resi Bajrasakti datuk Kerajaan Wengker, dan Ratu Mayang
Gupita dari Kerajaan Siluman Laut Kidul, dia memperabukan jenazah gurunya dan
menyebarkan abunya di permukaan lereng Gunung Arjuna seperti yang dipesan
gurunya sebelum wafat. Akan tetapi gurunya itu wanti-wanti (dengan tegas)
meninggalkan pesan kepadanya agar dia jangan membalas dendam kepada orang-orang
dari kerajaan itu. Tentu saja dia boleh membela Kahuripan dan menentang tiga
kerajaan itu kalau mereka mengganggu Kahuripan dan boleh menentang mereka, akan
tetapi tidak berdasar balas dendam. Setelah itu dia mengalami banyak suka duka
dalam hidupnya, membela Kahuripan dan mengembalikan Keris Pusaka Megatantra,
yang dia temukan di tegal Karang Tirta, kepada Sang Prabu Erlangga yang berhak
karena keris itu adalah keris pusaka Mataram. Dia juga membela Kahuripan dari
pengeroyokan kerajaan-kcrajaan kecil yang bersekutu dengan pemberontak Pangeran
Hendratama sehingga semua pemberontak dan sekutunya dapat dipukul mundur.
No comments:
Post a Comment