Dia telah bertemu dengan Senopati Sindukerta di kota raja. Senopati ini adalah kakeknya, ayah dari ibunya yang bernama Endang Sawitri. Ternyata dahulu, Senopati Sindukerta tidak setuju kalau puterinya itu menjadi isteri Dharmaguna, seorang sastrawan putera seorang pendeta miskin. Akan tetapi karena sudah saling mencinta, Endang Sawitri dan Dharmaguna melarikan diri berdua. Senopati Sindukerta menyuruh para perajurit mencari, namun tidak berhasil. Akhirnya suami isteri itu mempunyai seorang anak, yaitu dirinya. Mereka masih terus berpindah-pindah dalam pelarian mereka sampai akhirnya bersama Nurseta mereka tinggal di dusun Karang Tirta sampai dia berusia sepuluh tahun. Setelah dia menjadi dewasa dan menyelidiki, dia tahu bahwa orang tuanya pergi meninggalkan dia karena mereka dilaporkan oleh Ki Lurah Suramenggala yang jahat. Dia mendengar semua itu dari kakeknya, Senopati Sindukerta. Kini dia melakukan perjalanan untuk mencari ayah ibunya yang melarikan diri. Berbulan-bulan dia merantau, namun belum juga dia dapat menemukan mereka. Pada pagi hari ini, ketika lewat di kaki Gunung Arjuna, dia melihat pemandangan yang indah lalu teringat kepada mendiang Empu Dewamurti. Maka dia lalu mendaki gunung itu dengan santai sambil menikmati pemandangan alam yang dilewatinya. Tentu saja dia masih ingat akan jalan pendakian yang paling mudah karena dia sudah hafal. Selama lima tahun dia tinggal di lereng gunung itu dan seringkali naik turun melalui jalan pendakian itu.
Tiba-tiba pendengarannya yang tajam
menangkap suara melengking nyaring. Suara itu demikian tajam dan kuatnya
sehingga dia harus cepat mengerahkan tenaga saktinya karena suara itu menyerang
pendengarannya dan langsung menyerang jantung! Dia terkejut bukan main karena
maklum bahwa siapa pun orangnya yang mengeluarkan lengkingan yang membawa
getaran sehebat itu, tentu seorang sakti mandraguna! Dia lalu berlompatan
mendaki lereng Gunung Arjuna, ke arah suara melengking yang mengeluarkan gaung
panjang seolah suara setan penunggu jurang menyambut lengkingan tadi. Karena
dia mempergunakan Aji Bayu Sakti, maka tubuhnya seolah melayang cepat sekali
dan tak lama kemudian dia sudah mendekam di balik semak-semak memandang ke
depan dengan jantung berdebar. Di depannya terbentang lapangan rumput yang
landai dan di sana dia melihat dua orang saling berhadapan. Seorang kakek dan
seorang nenek. Kakek itu berusia sekitar lima puluh tiga tahun, tubuhnya tinggi
kurus, wajahnya masih memperlihatkan bekas ketampanannya. Jenggotnya panjang
dan pakaiannya yang hanya kain putih dibelit-belitkan di tubuhnya itu
menunjukkan bahwa dia seorang pertapa atau seorang pendeta. Gerak-geriknya
lembut dan mulutnya membayangkan senyum, akan tetapi pada saat itu, kedua
matanya mengeluarkan sinar berkilat yang ditujukan kepada nenek yang berdiri di
depannya dengan jarak kurang lebih lima tombak.
Nurseta kini memandang ke arah nenek
itu. Nenek itu berusia sekitar lima puluh satu tahun, masih tampak cantik,
rambutnya panjang dan masih hitam, agak berombak dibiarkan terurai di atas
kedua pundak dan punggungnya. Mulut yang bibirnya masih merah itu tersenyum
mengejek matanya mencorong liar. Pakaiannya serba hitam! Tiba-tiba nenek itu
membuka mulut dan terdengarlah lengkingan yang tinggi dan dahsyat sekali.
Nurseta yang bersembunyi sejauh sepuluh tombak itu merasa jantungnya terguncang
biarpun dia sudah melindungi dirinya dengan pengerahan tenaga saktinya. Akan
tetapi kakek berpakaian putih itu sama sekali tidak tampak terpengaruh walaupun
lengkingan itu merupakan serangan hebat yang langsung diarahkan kepadanya. Dia
malah tersenyum dan setelah suara melengking itu berhenti, tinggal gaungnya
saja yang menggema di bawah sana, kakek itu berkata, suaranya lembut namun
dapat terdengar jelas oleh Nurseta.
"Sudahlah, Gayatri, mengapa
selama puluhan tahun engkau masih memelihara kebencian di dalam hatimu? Mengapa
engkau membiarkan racun dendam itu merusak batinmu? Sadarlah bahwa kekuatan
Setan bagaimanapun hebatnya tidak akan mampu menandingi Kekuasaan Sang Hyang
Widhi. Pertentangan antara yang benar dan yang salah akhirnya akan dimenangkan
oleh yang benar karena Sang Hyang Widhi selalu membimbing mereka yang benar.
Sadar dan bertaubatlah, Gayatri, dan aku yakin bahwa Yang Maha Kasih dan Maha
Pengampun tentu akan mengampuni dan membimbingmu ke arah jalan yang
benar."
"Ekadenta manusia sombong!
Jangan mengira bahwa setelah aku kalah dahulu itu, aku tidak berani lagi
menantangmu. Selama ini aku terus memperdalam ajianku dan sekali ini aku pasti
akan dapat menebus semua kekalahanku yang sudah-sudah."
"Gayatri, semangatmu itu memang
mengagumkan. Engkau tidak pernah menyerah dan putus asa. Alangkah baiknya kalau
semua orang memiliki semangat seperti yang kau miliki. Hanya sayang sekali,
Gayatri, semangatmu itu kau pergunakan untuk tekadmu untuk membalas dendam yang
merupakan keangkara-murkaan!"
"Tidak perlu memberi wejangan
padaku, Ekadenta! Sekarang dengar omonganku. Aku tidak akan melanggar janjiku
yang dulu, yaitu aku pribadi tidak akan mengganggu Erlangga dan Narotama kalau
aku kalah olehmu. Sebaliknya kalau engkau yang kalah, aku dapat melakukan apa
saja sesuka hatiku!"
"Hemm, engkau tidak akan dapat
menang, Gayatri, karena nafsu dendam kemarahanmu meracuni dirimu sendiri dan
membuatmu lemah."
"Andaikata aku kalah juga, aku
masih dapat melampiaskan dendamku kepada Erlangga dan Narotama, dua orang murid
Resi Satyadharma itu! Aku akan mengajarkan ilmu-ilmuku kepada para pimpinan
Kerajaan Wengker, aku akan membentuk pasukan siluman yang akan menghancurkan
Kahuripan!"
"Engkau boleh mencobanya,
Gayatri. Engkau tidak akan dapat mengubah apa yang telah digariskan Sang Hyang
Widhi Wasa. Engkau akan menyesal kelak. Sadar dan bertaubatlah, Gayatri, aku
dengan senang hati akan membimbingmu dan menemanimu."
"Tidak! Kecuali kalau engkau
mau mengambil aku sebagai isterimu..."
"Gayatri, mengapa engkau masih
menginginkan hal itu? Kita bukan orang muda lagi."
"Huh, engkau selalu saja
menolak, karena itu sebelum dendamku kepada murid-murid Resi Satyadharma
terlaksana, aku akan selalu hidup dalam penasaran."
"Sekali lagi, sadarlah,
Gayatri. Yakinlah bahwa kasih sayangku kepadamu tidak pernah hilang."
"Kalau begitu mengapa engkau
tidak mau menjadi suamiku?"
"Bukan, bukan itu, Gayatri. Cintaku
kepadamu tidak dikotori nafsu."
"Huh, itulah yang diajarkan
oleh Resi Satyadharma sehingga engkau menolak menikah denganku. Sudahlah,
sambut ini, Ekadenta!"
Nenek itu mendorongkan kedua
tangannya yang terbuka ke depan. Kedua tangannya dijulurkan ke arah kakek itu
dan dari kedua telapak tangan nenek itu meluncur sinar yang membawa bola-bola
api menyerang kakek itu. Nurseta yang menonton sambil bersembunyi di balik
semak belukar, terbelalak. Bukan main, serangan seperti itu hanya dapat
dilakukan orang yang sudah memiliki tenaga sakti yang tinggi sekali! Dia
melihat kakek itu masih berdiri tenang dan tersenyum. Setelah bola-bola api itu
meluncur dekat, dia pun menjulurkan kedua tangannya dan dari telapak tangan
kakek itu berkelebat sinar putih yang menyambar ke arah bola-bola api dalam
sinar merah itu.
"Darrr....! Darrr....!"
Dua bola api itu meledak dan padam,
sedangkan sinar merah itu terpental ke belakang dan kembali menghilang ke
telapak tangan nenek itu. Sinar putih juga berkelebat pulang ke telapak tangan
kakek itu. Nenek itu mengeluarkan teriakan melengking dan ia menggerak-gerakkan
lagi kedua tangannya yang didorong ke arah kakek itu. Kini bukan bola-bola api
yang keluar, melainkan asap hitam bergulung-gulung menyerbu ke arah kakek itu.
Nurseta cepat menutup hidungnya dengan tangan karena dia mencium bau yang amat
keras, amis dan tajam menusuk hidung, bau yang keluar dari asap hitam itu
sehingga dia tahu bahwa asap itu malah lebih berbahaya daripada bola-bola api
yang membakar itu. Asap hitam ini mengandung racun yang ganas!
"Shanti-shanti-shanti! Segala
macam ilmu sesat kau pelajari, Gayatri. Sungguh sayang!"
Kakek itu berkata lalu kembali kedua
tangannya mendorong ke depan dan dari telapak tangannya kini menyambar asap
putih. Terjadi "pertempuran" antara asap hitam dan asap putih.
Dorong-mendorong sehingga sebentar asap putih terdorong akan tetapi segera asap
hitam yang berbalik terdorong. Akhirnya, asap hitam terdorong terus sampai
kembali ke telapak tangan nenek itu. Sebelum asap hitam yang mendorong itu
menyentuh Si Nenek, kakek itu telah menyimpan kembali asap putih.
"Sudahlah, Gayatri, untuk apa
semua ini kita lakukan? Hanya akan menjadi buah tertawaan anak-anak saja."
Kata kakek itu membujuk dengan suara halus, sama sekali tidak marah atau mengejek.
Bahkan suaranya mengandung penuh kasih sayang seperti seorang kakak terhadap
adiknya.
"Aku belum kalah" Nenek
itu membentak galak, matanya mencorong liar. Ia lalu bersedakap (melipat kedua
lengan di depan dada) dan memejamkan kedua matanya, alisnya berkerut dan
mukanya ditundukkan, mulutnya berkemak kenuk membaca mantera.
Nurseta menonton dengan jantung
berdebar-debar. Tanpa disangka-sangka, dia diam-diam telah menjadi saksi
pertandingan adu kesaktian dari dua orang yang benar-benar sakti mandraguna.
Kini dia melihat ada uap hitam perlahan-lahan mengepul keluar dari kepala nenek
itu. Uap itu menjadi semakin tebal dan menjadi sebuah bentuk, makin lama
semakin jelas dan uap itu kini menjadi seekor harimau yang besar. Harimau
jadi-jadian itu mengaum dan menubruk ke arah kakek itu. Kakek yang bernama
Bhagawan Ekadenta itu juga melipat kedua lengannya ke depan dada, memejamkan
kedua matanya dan dari kepalanya keluar uap putih yang tidak membentuk apa-apa
hanya menjadi seperti segumpal awan menyambut tubrukan harimau hitam itu.
Binatang jadi-jadian itu menggereng seperti kesakitan, masih mencoba untuk
menggigit, mencakar dan menubruk, namun sia-sia karena selalu terpental ke
belakang. Akhirnya harimau hitam itu kembali menjadi asap. Kini nenek yang
bernama Gayatri, yang sesungguhnya setelah tua kini disebut Nini Bumigarbo,
membaca mantram dengan suara agak keras dan uap hitam itu kini membentuk seekor
naga yang hitam dan amat menyeramkan bagi Nurseta yang menontonnya. Naga hitam
itu sepasang matanya seperti sinar menyilaukan, moncongnya terbuka dan
menyemburkan api bernyala-nyala!
"Om, shanti-shanti-shanti!
Nirboyo sedyo rahayu! Kembalilah ke asalmu'" Bhagawan Ekadenta berkata
lirih dan uap putih itu menyambar ke depan. Terjadi pertempuran yang lebih
dahsyat dari tadi. Agaknya ilmu sihir menjadikan naga ini lebih kuat daripada
harimau tadi. Nenek Bumigarbo dapat bertahan lebih lama sehingga sempat
Bhagawan Ekadenta berkeringat pada dahinya. Akan tetapi ketika dia meniup
dengan mulutnya ke arah naga jadi-jadian ini, seolah uap seperti mega putih itu
menjadi lebih kuat dan naga jadi-jadian itu pun terpukul dan lenyap. Nenek
Bumigarbo terengah-engah dan tampak marah sekali sehingga wajah yang tadinya
masih tampak cantik itu kini menjadi menyeramkan. Matanya berkilat, cuping
hidungnya kembang kempis, mulutnya agak terbuka dan menyeringai.
"Gayatri, mari kita sudahi saja
main-main yang tidak ada gunanya ini." kata Bhagawan Ekadenta.
Akan tetapi nenek itu agaknya
semakin penasaran. Ia mengeluarkan teriakan melengking-lengking dan disusul
pembacaan mantra dan begitu ada asap hitam mengepul, nenek yang cantik itu
berubah menjadi seorang raksasa wanita yang amat mengerikan. Ia telah berubah
menjadi Leak!
Matanya merah mencorong dan melotot,
giginya bertaring dan taringnya menonjol keluar, lidahnya terjulur keluar dari
mulutnya, panjang dan merah, menetes-neteskan air liur, payudaranya panjang
bergantungan, kedua tangan dan kedua kakinya berkuku panjang. Sungguh, baru
melihatnya saja orang biasa dapat jatuh pingsan saking takut dan ngerinya.
Nurseta yang mengintai, terbelalak
dan dia bergidik ketika mencium bau dupa yang wanginya memuakkan, seperti
bunga-bunga yang mulai membusuk. Sambil mengeluarkan teriakan-teriakan gemuruh,
Leak itu menerjang Bhagawan Ekadema! Amat cepat dan ganas gerakannya ketika
menyerang. Akan tetapi Sang Bhagawan tetap tenang dan dengan gerakan halus dia
dapat menghindarkan diri dari setiap serangan.
"Gayatri, sudahlah, aku sungguh
tidak ingin menyakitimu!" beberapa kali Bhagawan Ekadenta berseru dengan
suara memohon. Namun, Leak itu menyerang semakin ganas.
Nurseta menonton dengan hati tegang
dan hampir tak pernah berkedip saking kagumnya. Belum pernah dia menyaksikan
pertandingan aji kesaktian sehebat ini. Dia sendiri tidak takut andaikata
menghadapi nenek itu, akan tetapi dia ragu apakah dia akan mampu menandinginya.
Nenek itu memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi dan berbahaya sekali. Akan
tetapi kakek itu lebih hebat lagi, dan dia merasa amat kagum sungguhpun tidak
merasa heran karena kini dia mengetahui bahwa kakek dan nenek ini agaknya masih
ada hubungan persaudaraan seperguruan, maka tentu saja memiliki aji kesaktian
yang luar biasa.
Kini dua orang tua itu bertanding
dengan seru. Gerakan mereka makin lama semakin cepat sehingga yang tampak kini
hanya bayangan hitam dan putih yang saling sambar.
"Maafkan aku, Gayatri!"
terdengar suara kakek itu.
No comments:
Post a Comment