"Auhh...!" Nenek itu
menjerit dan terhuyung ke belakang.
Agaknya ia terkena tamparan tangan
kakek itu. Akan tetapi kabut hitam menyelubungi tubuhnya dan ketika kabut itu
lenyap, nenek itu pun sudah tidak ada lagi. Bhagawan Ekadenta berhenti
bergerak, menghela napas panjang tiga kali lalu memutar tubuhnya menghadap ke
arah semak belukar dan berkata lembut namun dengan nada memerintah.
"Keluarlah Andika dari balik
semak!"
Nurseta tidak terkejut. Orang yang
demikian sakti mandraguna, tidaklah mengherankan kalau dapat mengetahui bahwa
ada orang bersembunyi di balik semak-semak. Maka dia pun cepat keluar dari
balik semak-semak, menghampiri kakek itu dan langsung dia berjongkok dan
menyembah depan kaki Bhagawan Ekadenta.
"Mohon seribu ampun, Eyang,
bahwa saya telah lancang berani sembunyi dan mengintai dari balik semak-semak
karena untuk keluar memperlihatkan diri saya tidak berani."
"Orang muda, Andika
siapakah?"
"Nama saya Nurseta,
Eyang."
Kakek itu tersenyum dan
mengangguk-angguk sambil mengelus jenggotnya yang panjang. Teringat dia akan
pertemuannya dengan Sang Empu Bharada, sahabat baiknya dan sama-sama tokoh yang
setia kepada Kahuripan. Empu Bharada menceritakan tentang penglihatannya bahwa
ada bahaya mengancam Kahuripan, dan sambil lalu Empu Bharada bercerita tentang
seorang pemuda bernama Nurseta murid mendiang Empu Dewamurti yang menjadi
sahabat baik Empu Bharada, yang dalam penglihatannya merupakan cahaya putih
(Nur Seta) yang ikut mengusir kegelapan yang menyelubungi Kahuripan. Juga bahwa
Nurseta telah berjasa ketika Kahuripan dilanda kemelut dengan adanya
pemberontakan yang dilakukan Pangeran Hendratama dibantu oleh persekutuan para
kerajaan kecil. Bahkan lebih dari itu, Nurseta yang telah menemukan dan
mengembalikan Sang Megatantra, keris pusaka yang telah puluhan tahun hilang
dari kerajaan Mataram. Dan kini, tanpa di sengaja, pemuda itu telah duduk
bersimpuh dan menyembahnya.
"Kulihat engkau telah memiliki
kekuatan sehingga tidak terpengaruh kekuatar sihir yang amat ganas yang
dipergunakan Nini Bumigarbo tadi. Siapakah gurumu, Nurseta?" Bhagawan
Ekadenta bertanya untuk memperoleh keterangan dari pemuda itu sendiri
sungguhpun dia sudah mendapat keterangan dari Empu Bharada."Saya pernah
mendapat bimbingan dari mendiang Eyang Guru Empu Dewamurti, Eyang."
"Mendiang Kakang Empu Dewamurti
adalah Kakak seperguruanku, Nurseta. Aku mendengar bahwa beliau wafat setelah
terluka oleh pengeroyokan lima orang datuk sesat dari kerajaan-kerajaan Siluman
Laut Kidul, Wengker dan Wurawuri. Bagaimana hal itu dapat terjadi dan apakah
engkau tidak membela gurumu?"
"Ampun, Eyang. Ketika
pengeroyokan tu terjadi, saya sedang tidak berada di pondok sehingga saya tidak
sempat membela Eyang Guru."
"Hemm, dan engkau sama sekali
tidak mencari mereka yang membunuh gurumu untuk membalas dendam?"
Bhagawan ekadenta menguji.
"Tidak, Eyang. Mendiang Eyang
Guru sudah menanamkan kesadaran kepada saya bahwa dendam kebencian merupakan
racun bagi batin sendiri. Kalau saya mencari mereka dan membunuh mereka untuk
membalas dendam, berarti saya telah mengingkari janji saya kepada Eyang Guru
untuk menaati pesan terakhirnya."
Wajah Bhagawan Ekadenta berseri.
"Sadhu-sadhu-sadhu, beruntung
sekali Kakang Empu Dewamurti mempunyai engkau sebagai muridnya! Dan lebih
beruntung lagi Kerajaan Kahuripan mempunyai seorang kawula seperti engkau,
Nurseta. Engkau memiliki jiwa satriya."
"Harap Eyang ketahui bahwa saya
ini hanyalah seorang dusun dari desa Karang Tirta yang bodoh." kata
Nurseta dengan rendah hati secara tulus, bukan berpura-pura. Melihat kakek ini
tadi bertanding melawan Nini Bumigarbo, dia benar-benar merasa seperti seorang
anak kecil yang lemah dan semua aji kanuragan yang di kuasai hanya sebagai
mainan anak-anak belaka.
"Tidak Nurseta. Engkau adalah
seorang satriya dan mendiang Kakang Empu Dewamurti telah memberi bimbingan yang
baik sekali kepadamu. Mungkin hanya kurang polesan saja."
"Saya mohon petunjuk
Eyang."
"Baik, engkau memang berhak
menerimanya. Mari kuberi polesan selama tiga bulan kepadamu, Nurseta."
Bukan main girangnya hati Nurseta.
Dia lalu membangun sebuah pondok sederhana di mana dulu pondok gurunya berada.
Semenjak hari itu, selama tiga bulan lamanya Bhagawan Ekadenta memberi petunjuk
oleh memoles dan mematangkan semua aji kesaktian yang telah dikuasai Nurseta.
Bukan itu saja, akan tetapi dia juga mendengar tentang Nini Bumigarbo yang amat
sakti itu akan memperkuat Kerajaan Wengker agar kerajaan itu dapat menjatuhkan
Kahuripan. Bahkan nenek itu telah mengambil Dewi Mayangsari, permaisuri
Wengker, menjadi muridnya.
"Karena itu, kalau engkau
membela Kahuripan, waspada dan berhati-hatilah terhadap Kerajaan Wengker karena
mungkin kerajaan itulah yang akan merupakan musuh yang paling berbahaya bagi
Kahuripan di samping tentu saja Kerajaan Parang Siluman karena di sana terdapat
banyak orang sakti, terutama Lasmini dan Mandari bekas selir Sang Prabu
Erlangga dan Ki Patih Narotama, dan Ki Nagakumala”.
Setelah menerima gemblengan selami
tiga bulan, kesaktian Nurseta meningkat dengan pesat. Pada malam terakhir,
ketika Nurseta masih tidur, dia mendengar suara lapat-lapat namun jelas.
"Nurseta, kita berpisah. Aku
melanjutkan perjalananku.”
Itu adalah suara Bhagawan Ekadenta.
Nurseta cepat melompat bangun, akan tetapi kakek itu sudah tidak berada dalam
pondok itu lagi. Dia tahu bahwa percuma saja mencoba untuk mengejar atau
mencari karena bagaimanapun juga, tingkat kepandaiannya masih jauh selisihnya
dibanding tingkat Sang Bhagawan itu.
Gadis itu
melangkah santai memasuki gapura kota raja Kahuripan yang sudah dikenalnya
dengan baik. Masih terbayang dalam ingatannya, seolah baru kemarin dulu
terjadi, ketika ia diselundupkan ke istana Sang Prabu Erlangga dan diterima
oleh Puteri Mandari, ketika itu masih menjadi selir Sang Prabu Erlangga.
Sebagai wakil Kerajaan Wura-Wuri ia menyamar sebagai pelayan pribadi Puteri
Mandari, namun akhirnya ia sadar dan membalik, membela Kahuripan dan menentang
persekutuan pemberontak. Puspa Dewi menghela napas panjang. Ia teringat kepada
ibunya dan kembali menghela napas. Kasihan ibunya, hidup menderita sejak
berpisah dari ayahnya. Setelah berpisah dari Sang Maha Resi Satyadarma yang
telah menggemblengnya selama tiga bulan, ia langsung saja pergi ke kota raja
untuk melanjutkan keinginannya yang ia tunda selama tiga bulan. Keinginan itu
adalah menemui ayah kandungnya dan menegurnya karena telah menyia-nyiakan
ibunya. Akan tetapi hati Puspa Dewi sudah berubah sama sekali semenjak ia
digembleng Sang Maha Resi Satyadharma. Kalau dulu ia merasa penasaran dan ingin
memberi teguran kepada ayahnya, kini kemarahannya sudah tidak berbekas lagi. Ia
hanya ingin bertemu dan melihat ayahnya, juga ia ingin menceritakan kepada
ayahnya tentang penderitaan ibunya selama ini. Biarpun masih ada sisa ketegasan
dalam sikap Puspa Dewi, jujur dan terbuka, namun sifatnya yang liar kini sudah
berubah, la lembut dan suka tersenyum ramah, juga pandai dan kuat menahan
gejolak perasaannya. Setelah bertanya-tanya, dengan mudah Puspa Dewi mendapat
keterangan di mana gedung tempat tinggal Tumenggung Jayatanu, senopati
Kahuripan. Juga ia mendapat keterangan bahwa Prasetyo kini telah menjadi
seorang senopati pula, akan tetapi tetap tinggal di rumah mertuanya, yaitu
Tumenggung Jayatanu. Prasetyo telah memperoleh kedudukan dan kini menjadi
Senopati Yudajaya. Setelah mengetahui di mana tempat tinggal ayah kandungnya,
yaitu Prasetyo yang kini bernama Senopati Yudajaya, ia segera mencari rumah
itu. Tak lama kemudian ia sudah berdiri di tepi jalan, tepat di depan sebuah
gedung besar yang bagian depannya memiliki pekarangan luas dan di belakang
pintu gapura terdapat sebuah gardu di mana terdapat beberapa orang perajurit
melakukan penjagaan.
Sampai lama
Puspa Dewi berdiri di situ. Jantungnya berdebar tegang, akan tetapi juga merasa
betapa janggalnya keadaan itu. Ayah kandungnya hidup di gedung yang besar dan
megah ini sebagai seorang senopati yang memiliki kekuasaan, harta, dan
kemuliaan. Rumah tempat tinggalnya saja dijaga selusin orang perajurit. Akan
tetapi ibunya? Terlunta-lunta, miskin dan papa. Ibunya rela hidup sengsara,
berkorban demi cintanya kepada pria yang namanya Prasetyo, yang kini menjadi
Senopati Yudajaya. Panas juga rasa hatinya mengingat akan keadaan ibunya, akan
tetapi sekali menarik napas panjang saja ia sudah menenangkan hatinya kembali.
Matahari pagi telah naik cukup tinggi sehingga sinarnya menerangi pekarangan
yang terhias hamparan rumput hijau sehingga tertimpa cahaya matahari tampak
hijau indah dan menyegarkan pandang mata. Selusin orang perajurit penjaga itu
agaknya juga terpengaruh kecerahan pagi yang mendatangkan kegembiraan dalan
hati mereka sehingga mereka duduk bergerombol dan bercakap-cakap sambil
tertawa-tawa, agaknya mereka bersenda-gurau di antara mereka.
Pada saat itu
terdengar derap kaki kuda dan seekor kuda berbulu putih yang besar dan bagus
sekali muncul dari belakang, melalui sisi sebelah kiri gedung. Para perajurit
penjaga memandang dan mereka menghentikan percakapan, memandang kagum. Juga
Puspa Dewi memandang dengan kagum. Bukan hanya kagum kepada kuda yang indah itu
akan tetapi lebih kagum lagi melihat orang yang menunggang kuda itu. Penunggang
kuda putih itu seorang gadis yang usianya sekitar delapan belas tahun.
Rambutnya hitam panjang sampai ke pinggul, agak berombak dan ketika diterpa
angin, berkibar dan sebagian rambutnya menyapu dan menutupi sebelah mukanya
yang berkulit putih. Wajah itu cantik jelita dan anggun, terutama sepasang
matanya yang seperti bintang dan bibirnya yang merah membasah. Tubuhnya sintal
padat dengan pinggang ramping. Kedua kaki yang telanjang dari betis ke bawah
itu putih dan halus mulus, tampak kekuningan ketika menempel ketat di kanan
kiri perut kuda berbulu putih itu. Pakaian..gadis Itu jelas menunjukkan bahwa
ia seorang gadis bangsawan. Akan tetapi cara ia menunggang kuda, memegang
kendali dengan sebelah tangan kiri dan tangan kanannya menepuk-nepuk punggung
kuda sambil bicara dengan suara nyaring.
"Hirr...
bagus, Nagadenta, hayo loncat.....!"
Kedua kakinya
menendang-nendang perut kuda di kanan kiri dan kuda putih besar yang terlatih
itu lalu berlari congklang setengah berlompatan di atas lapangan rumput di
pekarangan luas itu. Kuda itu dilarikan congklahg mengitari pekarangan. Tubuh
yang indah itu duduknya tegak, bergerak lentur mengikuti gerakan kuda,
menandakan bahwa gadis itu memang mahir menunggang kuda. Tampak serasi sekali
antara gadis dan kuda itu sehingga tampak indah sekali.
Puspa Dewi sendiri kagum melihatnya.
Puspa Dewi sendiri kagum melihatnya.
"Heii,
Nimas, mau apa Andika sejak tadi berdiri di situ? Harap segera tinggalkan
tempat ini karena sikap Andika dapat menimbulkan kecurigaan." kepala
pasukan jaga yang usianya sekitar empat puluh tahun menegur dengan suara halus
namun tegas.
Puspa Dewi
yang tadinya tertarik dan menonton gadis penunggang kuda itu melarikan kudanya
memutari pekarangan, kini menghadapi kepala jaga itu. Ia melihat betapa semua
perajurit jaga kini memandang dan memperhatikannya.
"Maaf,
Paman." kata Puspa Dewi halus dan orang yang setahun lalu mengenalnya akan
terheran menyaksikan sikapnya dan mendengar suaranya yang lembut ramah, tidak
seperti biasanya lincah dan galak.
"Saya
hendak mencari seorang laki-laki bernama Prasetyo."
"Prasetyo....?"
Kepala jaga itu mengerutkan alisnya, memejamkan matanya, mengingat-ingat. Lalu
dia membuka matanya kembali, memandang kepada Puspa Dewi dan menggeleng
kepalanya.
"Aku
tidak mengenal orang yang bernama Prasetyo. Hei, kawan-kawan, apakah kalian
mengenal seorang bernama Prasetyo?" Sebelas orang perajurif itu
berbisik-bisik lalu menggelengkan kepala mereka.
"Tidak
ada yang mengenal siapa Prasetyo itu, Kakang Jiman!" kata seseorang kepada
kepala jaga.
"Sayang
sekali, Ninmas. Kami tidak mengenal orang yang bernama Prasetyo itu. Di mana
rumahnya?"
Puspa Dewi
menuding ke arah rumah gedung itu.
"Rumahnya
di sini."
Para perajurit
itu saling pandang dan ada yang tertawa geli, bahkan ada yang mulai memandang
Puspa Dewi dengan alis berkerut, mengira bahwa gadis itu tentu tidak waras! Si
kepala jaga bernama Jiman itu pun mengerutkan alis dan memandang wajah Puspa
Dewi dengan aneh karena menduga gadis cantik itu agak miring ingatannya.
"Engkau
keliru, Nimas atau mungkin engkau sedang bingung! Semua orang di kota raja ini
tahu belaka bahwa gedung ini adalah milik Gusti Tumenggung Jayatanu, senopati
tua Kerajaan Kahuripan!"
"Ya-ya...
Tumenggung Jayatanu. Aku mencari Prasetyo, mantu Sang Tumenggung itu!"
Kepala jaga
itu semakin yakin bahwa gadis cantik di depannya ini memang agak miring alias
tidak waras ingatannya.
No comments:
Post a Comment