Nurseta Satria Karangtirta ; Bagian 14



"Auhh...!" Nenek itu menjerit dan terhuyung ke belakang.
Agaknya ia terkena tamparan tangan kakek itu. Akan tetapi kabut hitam menyelubungi tubuhnya dan ketika kabut itu lenyap, nenek itu pun sudah tidak ada lagi. Bhagawan Ekadenta berhenti bergerak, menghela napas panjang tiga kali lalu memutar tubuhnya menghadap ke arah semak belukar dan berkata lembut namun dengan nada memerintah.
"Keluarlah Andika dari balik semak!"
Nurseta tidak terkejut. Orang yang demikian sakti mandraguna, tidaklah mengherankan kalau dapat mengetahui bahwa ada orang bersembunyi di balik semak-semak. Maka dia pun cepat keluar dari balik semak-semak, menghampiri kakek itu dan langsung dia berjongkok dan menyembah depan kaki Bhagawan Ekadenta.
"Mohon seribu ampun, Eyang, bahwa saya telah lancang berani sembunyi dan mengintai dari balik semak-semak karena untuk keluar memperlihatkan diri saya tidak berani."
"Orang muda, Andika siapakah?"
"Nama saya Nurseta, Eyang."

Kakek itu tersenyum dan mengangguk-angguk sambil mengelus jenggotnya yang panjang. Teringat dia akan pertemuannya dengan Sang Empu Bharada, sahabat baiknya dan sama-sama tokoh yang setia kepada Kahuripan. Empu Bharada menceritakan tentang penglihatannya bahwa ada bahaya mengancam Kahuripan, dan sambil lalu Empu Bharada bercerita tentang seorang pemuda bernama Nurseta murid mendiang Empu Dewamurti yang menjadi sahabat baik Empu Bharada, yang dalam penglihatannya merupakan cahaya putih (Nur Seta) yang ikut mengusir kegelapan yang menyelubungi Kahuripan. Juga bahwa Nurseta telah berjasa ketika Kahuripan dilanda kemelut dengan adanya pemberontakan yang dilakukan Pangeran Hendratama dibantu oleh persekutuan para kerajaan kecil. Bahkan lebih dari itu, Nurseta yang telah menemukan dan mengembalikan Sang Megatantra, keris pusaka yang telah puluhan tahun hilang dari kerajaan Mataram. Dan kini, tanpa di sengaja, pemuda itu telah duduk bersimpuh dan menyembahnya.
"Kulihat engkau telah memiliki kekuatan sehingga tidak terpengaruh kekuatar sihir yang amat ganas yang dipergunakan Nini Bumigarbo tadi. Siapakah gurumu, Nurseta?" Bhagawan Ekadenta bertanya untuk memperoleh keterangan dari pemuda itu sendiri sungguhpun dia sudah mendapat keterangan dari Empu Bharada."Saya pernah mendapat bimbingan dari mendiang Eyang Guru Empu Dewamurti, Eyang."
"Mendiang Kakang Empu Dewamurti adalah Kakak seperguruanku, Nurseta. Aku mendengar bahwa beliau wafat setelah terluka oleh pengeroyokan lima orang datuk sesat dari kerajaan-kerajaan Siluman Laut Kidul, Wengker dan Wurawuri. Bagaimana hal itu dapat terjadi dan apakah engkau tidak membela gurumu?"
"Ampun, Eyang. Ketika pengeroyokan tu terjadi, saya sedang tidak berada di pondok sehingga saya tidak sempat membela Eyang Guru."
"Hemm, dan engkau sama sekali tidak mencari mereka yang membunuh gurumu untuk membalas dendam?"
Bhagawan ekadenta menguji.
"Tidak, Eyang. Mendiang Eyang Guru sudah menanamkan kesadaran kepada saya bahwa dendam kebencian merupakan racun bagi batin sendiri. Kalau saya mencari mereka dan membunuh mereka untuk membalas dendam, berarti saya telah mengingkari janji saya kepada Eyang Guru untuk menaati pesan terakhirnya."
Wajah Bhagawan Ekadenta berseri.
"Sadhu-sadhu-sadhu, beruntung sekali Kakang Empu Dewamurti mempunyai engkau sebagai muridnya! Dan lebih beruntung lagi Kerajaan Kahuripan mempunyai seorang kawula seperti engkau, Nurseta. Engkau memiliki jiwa satriya."
"Harap Eyang ketahui bahwa saya ini hanyalah seorang dusun dari desa Karang Tirta yang bodoh." kata Nurseta dengan rendah hati secara tulus, bukan berpura-pura. Melihat kakek ini tadi bertanding melawan Nini Bumigarbo, dia benar-benar merasa seperti seorang anak kecil yang lemah dan semua aji kanuragan yang di kuasai hanya sebagai mainan anak-anak belaka.
"Tidak Nurseta. Engkau adalah seorang satriya dan mendiang Kakang Empu Dewamurti telah memberi bimbingan yang baik sekali kepadamu. Mungkin hanya kurang polesan saja."
"Saya mohon petunjuk Eyang."
"Baik, engkau memang berhak menerimanya. Mari kuberi polesan selama tiga bulan kepadamu, Nurseta."

Bukan main girangnya hati Nurseta. Dia lalu membangun sebuah pondok sederhana di mana dulu pondok gurunya berada. Semenjak hari itu, selama tiga bulan lamanya Bhagawan Ekadenta memberi petunjuk oleh memoles dan mematangkan semua aji kesaktian yang telah dikuasai Nurseta. Bukan itu saja, akan tetapi dia juga mendengar tentang Nini Bumigarbo yang amat sakti itu akan memperkuat Kerajaan Wengker agar kerajaan itu dapat menjatuhkan Kahuripan. Bahkan nenek itu telah mengambil Dewi Mayangsari, permaisuri Wengker, menjadi muridnya.
"Karena itu, kalau engkau membela Kahuripan, waspada dan berhati-hatilah terhadap Kerajaan Wengker karena mungkin kerajaan itulah yang akan merupakan musuh yang paling berbahaya bagi Kahuripan di samping tentu saja Kerajaan Parang Siluman karena di sana terdapat banyak orang sakti, terutama Lasmini dan Mandari bekas selir Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama, dan Ki Nagakumala”.
Setelah menerima gemblengan selami tiga bulan, kesaktian Nurseta meningkat dengan pesat. Pada malam terakhir, ketika Nurseta masih tidur, dia mendengar suara lapat-lapat namun jelas.
"Nurseta, kita berpisah. Aku melanjutkan perjalananku.”
Itu adalah suara Bhagawan Ekadenta. Nurseta cepat melompat bangun, akan tetapi kakek itu sudah tidak berada dalam pondok itu lagi. Dia tahu bahwa percuma saja mencoba untuk mengejar atau mencari karena bagaimanapun juga, tingkat kepandaiannya masih jauh selisihnya dibanding tingkat Sang Bhagawan itu.

Gadis itu melangkah santai memasuki gapura kota raja Kahuripan yang sudah dikenalnya dengan baik. Masih terbayang dalam ingatannya, seolah baru kemarin dulu terjadi, ketika ia diselundupkan ke istana Sang Prabu Erlangga dan diterima oleh Puteri Mandari, ketika itu masih menjadi selir Sang Prabu Erlangga. Sebagai wakil Kerajaan Wura-Wuri ia menyamar sebagai pelayan pribadi Puteri Mandari, namun akhirnya ia sadar dan membalik, membela Kahuripan dan menentang persekutuan pemberontak. Puspa Dewi menghela napas panjang. Ia teringat kepada ibunya dan kembali menghela napas. Kasihan ibunya, hidup menderita sejak berpisah dari ayahnya. Setelah berpisah dari Sang Maha Resi Satyadarma yang telah menggemblengnya selama tiga bulan, ia langsung saja pergi ke kota raja untuk melanjutkan keinginannya yang ia tunda selama tiga bulan. Keinginan itu adalah menemui ayah kandungnya dan menegurnya karena telah menyia-nyiakan ibunya. Akan tetapi hati Puspa Dewi sudah berubah sama sekali semenjak ia digembleng Sang Maha Resi Satyadharma. Kalau dulu ia merasa penasaran dan ingin memberi teguran kepada ayahnya, kini kemarahannya sudah tidak berbekas lagi. Ia hanya ingin bertemu dan melihat ayahnya, juga ia ingin menceritakan kepada ayahnya tentang penderitaan ibunya selama ini. Biarpun masih ada sisa ketegasan dalam sikap Puspa Dewi, jujur dan terbuka, namun sifatnya yang liar kini sudah berubah, la lembut dan suka tersenyum ramah, juga pandai dan kuat menahan gejolak perasaannya. Setelah bertanya-tanya, dengan mudah Puspa Dewi mendapat keterangan di mana gedung tempat tinggal Tumenggung Jayatanu, senopati Kahuripan. Juga ia mendapat keterangan bahwa Prasetyo kini telah menjadi seorang senopati pula, akan tetapi tetap tinggal di rumah mertuanya, yaitu Tumenggung Jayatanu. Prasetyo telah memperoleh kedudukan dan kini menjadi Senopati Yudajaya. Setelah mengetahui di mana tempat tinggal ayah kandungnya, yaitu Prasetyo yang kini bernama Senopati Yudajaya, ia segera mencari rumah itu. Tak lama kemudian ia sudah berdiri di tepi jalan, tepat di depan sebuah gedung besar yang bagian depannya memiliki pekarangan luas dan di belakang pintu gapura terdapat sebuah gardu di mana terdapat beberapa orang perajurit melakukan penjagaan.

Sampai lama Puspa Dewi berdiri di situ. Jantungnya berdebar tegang, akan tetapi juga merasa betapa janggalnya keadaan itu. Ayah kandungnya hidup di gedung yang besar dan megah ini sebagai seorang senopati yang memiliki kekuasaan, harta, dan kemuliaan. Rumah tempat tinggalnya saja dijaga selusin orang perajurit. Akan tetapi ibunya? Terlunta-lunta, miskin dan papa. Ibunya rela hidup sengsara, berkorban demi cintanya kepada pria yang namanya Prasetyo, yang kini menjadi Senopati Yudajaya. Panas juga rasa hatinya mengingat akan keadaan ibunya, akan tetapi sekali menarik napas panjang saja ia sudah menenangkan hatinya kembali. Matahari pagi telah naik cukup tinggi sehingga sinarnya menerangi pekarangan yang terhias hamparan rumput hijau sehingga tertimpa cahaya matahari tampak hijau indah dan menyegarkan pandang mata. Selusin orang perajurit penjaga itu agaknya juga terpengaruh kecerahan pagi yang mendatangkan kegembiraan dalan hati mereka sehingga mereka duduk bergerombol dan bercakap-cakap sambil tertawa-tawa, agaknya mereka bersenda-gurau di antara mereka.

Pada saat itu terdengar derap kaki kuda dan seekor kuda berbulu putih yang besar dan bagus sekali muncul dari belakang, melalui sisi sebelah kiri gedung. Para perajurit penjaga memandang dan mereka menghentikan percakapan, memandang kagum. Juga Puspa Dewi memandang dengan kagum. Bukan hanya kagum kepada kuda yang indah itu akan tetapi lebih kagum lagi melihat orang yang menunggang kuda itu. Penunggang kuda putih itu seorang gadis yang usianya sekitar delapan belas tahun. Rambutnya hitam panjang sampai ke pinggul, agak berombak dan ketika diterpa angin, berkibar dan sebagian rambutnya menyapu dan menutupi sebelah mukanya yang berkulit putih. Wajah itu cantik jelita dan anggun, terutama sepasang matanya yang seperti bintang dan bibirnya yang merah membasah. Tubuhnya sintal padat dengan pinggang ramping. Kedua kaki yang telanjang dari betis ke bawah itu putih dan halus mulus, tampak kekuningan ketika menempel ketat di kanan kiri perut kuda berbulu putih itu. Pakaian..gadis Itu jelas menunjukkan bahwa ia seorang gadis bangsawan. Akan tetapi cara ia menunggang kuda, memegang kendali dengan sebelah tangan kiri dan tangan kanannya menepuk-nepuk punggung kuda sambil bicara dengan suara nyaring.
"Hirr... bagus, Nagadenta, hayo loncat.....!"
Kedua kakinya menendang-nendang perut kuda di kanan kiri dan kuda putih besar yang terlatih itu lalu berlari congklang setengah berlompatan di atas lapangan rumput di pekarangan luas itu. Kuda itu dilarikan congklahg mengitari pekarangan. Tubuh yang indah itu duduknya tegak, bergerak lentur mengikuti gerakan kuda, menandakan bahwa gadis itu memang mahir menunggang kuda. Tampak serasi sekali antara gadis dan kuda itu sehingga tampak indah sekali.
Puspa Dewi sendiri kagum melihatnya.
"Heii, Nimas, mau apa Andika sejak tadi berdiri di situ? Harap segera tinggalkan tempat ini karena sikap Andika dapat menimbulkan kecurigaan." kepala pasukan jaga yang usianya sekitar empat puluh tahun menegur dengan suara halus namun tegas.

Puspa Dewi yang tadinya tertarik dan menonton gadis penunggang kuda itu melarikan kudanya memutari pekarangan, kini menghadapi kepala jaga itu. Ia melihat betapa semua perajurit jaga kini memandang dan memperhatikannya.
"Maaf, Paman." kata Puspa Dewi halus dan orang yang setahun lalu mengenalnya akan terheran menyaksikan sikapnya dan mendengar suaranya yang lembut ramah, tidak seperti biasanya lincah dan galak.
"Saya hendak mencari seorang laki-laki bernama Prasetyo."
"Prasetyo....?" Kepala jaga itu mengerutkan alisnya, memejamkan matanya, mengingat-ingat. Lalu dia membuka matanya kembali, memandang kepada Puspa Dewi dan menggeleng kepalanya.
"Aku tidak mengenal orang yang bernama Prasetyo. Hei, kawan-kawan, apakah kalian mengenal seorang bernama Prasetyo?" Sebelas orang perajurif itu berbisik-bisik lalu menggelengkan kepala mereka.
"Tidak ada yang mengenal siapa Prasetyo itu, Kakang Jiman!" kata seseorang kepada kepala jaga.
"Sayang sekali, Ninmas. Kami tidak mengenal orang yang bernama Prasetyo itu. Di mana rumahnya?"
Puspa Dewi menuding ke arah rumah gedung itu.
"Rumahnya di sini."
Para perajurit itu saling pandang dan ada yang tertawa geli, bahkan ada yang mulai memandang Puspa Dewi dengan alis berkerut, mengira bahwa gadis itu tentu tidak waras! Si kepala jaga bernama Jiman itu pun mengerutkan alis dan memandang wajah Puspa Dewi dengan aneh karena menduga gadis cantik itu agak miring ingatannya.
"Engkau keliru, Nimas atau mungkin engkau sedang bingung! Semua orang di kota raja ini tahu belaka bahwa gedung ini adalah milik Gusti Tumenggung Jayatanu, senopati tua Kerajaan Kahuripan!"
"Ya-ya... Tumenggung Jayatanu. Aku mencari Prasetyo, mantu Sang Tumenggung itu!"
Kepala jaga itu semakin yakin bahwa gadis cantik di depannya ini memang agak miring alias tidak waras ingatannya.

<<< Bagian 13                                                                                          Bagian 15 >>>

No comments:

Post a Comment