Dia memandang dengan pandang mata mengandung iba. Sayang, pikirnya, gadis yang begini cantik jelita ternyata setengah gila?
"Sadarlah,
Nimas. Engkau salah masuk dan salah sangka. Mantu Gusti Tumenggung Jayatanu
bernama Senopati Yudajaya!"
Puspa Dewi
tertegun. Kelirukah dia? Ah, tidak mungkin.
"Paman,
tentu ada mantunya yang bernama Prasetyo."
"Tidak
ada! Mantunya hanya seorang saja karena puterinya memang hanya seorang dan nama
mantunya adalah Senopati Yudajaya. Ah, pergilah, Nimas, engkau menjadi tontonan
orang nanti. Pulanglah ke rumahmu." Kepala jaga itu membujuk.
"Kalau
begitu, aku ingin, bertemu dengan Senopati Yudajaya itu, Paman. Hadapkan aku
padanya!"
Ki Jiman
mengaruk-garuk belakang kepalanya yang tidak gatal. Dia menjadi serba salah
menghadapi gadis yang agaknya gendeng (idiot) ini! Kalau dia melapor kepada
Senopati Yudajaya dan mempertemukan Sang Senopati itu dengan seorang gadis
gila, tentu dia akan mendapat marah besar dan juga mendapat malu. Akan tetapi
kalau tidak, gadis ini agaknya nekat dan bagaimana kalau gadis gila ini
mengamuk?”
"Wah,
tidak begitu mudah, Nimas," dia membujuk.
"Tidak
mudah menghadap dan bertemu dengan Senopati Yudajaya. kami tidak berani
mengganggunya karena kami tentu akan mendapat marah!" Dia lalu membujuk
lagi.
"Karena
itu pulanglah saja, Nimas. Orang tuamu tentu sedang mencarimu."
Kesabaran
Puspa Dewi menipis, ia sudah mencoba untuk membujuk dan mendesak. Namun kepala
jaga ini agaknya kukuh tidak mau mempertemukannya dengan Senopati Yudajaya,
bahkan melihat sikap nya seolah meragukan kewarasan otaknya.
"Sudahlah,
kalau kalian tidak dapat menolongku, biar aku mencari dan menghadap
sendiri!" Setelah berkata demikian, Puspa Dewi lalu melangkah masuk dan
ingin pergi menyeberangi pekarangan menuju ke rumah besar itu.
"Hee!
Perlahan dulu!" Kepala jaga itu berseru dan dua belas orang perajurit itu
lalu menghadang dan melintangkan tombak mereka untuk mencegah Puspa Dewi
melangkah maju.
"Andika
tidak boleh masuk!" kata kepala jaga. Kini agak marah karena jengkel harus
melayani gadis yang jelas agak gila ini.
"Hemm,
kalian tidak mau melaporkan ke dalam, tidak mau menolongku dan ketika aku
hendak mencari dan menghadap sendiri, kalian menghalangi aku! Minggirlah
kalian!"
"Nimas,
lebih baik engkau keluar dan pulanglah, jangan membikin kekacauan di sini. Kami
tidak ingin bersikap kasar kepada seorang wanita. Keluarlah!" Kepala jaga
itu bersama teman-temannya, menggunakan tombak yang dilintangkan untuk memaksa
dan mendorong Puspa Dewi keluar dari dalam pintu gapura itu.
Melihat betapa
selusin orang itu berkeras hendak mendorongnya keluar, Puspa Dewi lalu
mendorongkan kedua tangannya yang menangkap tombak Ki Jiman yang didorongkan
kepadanya.
"Wuuuttt...!"
Bagaikan sekumpulan daun kering tertiup angin, dua belas orang perajurit itu
terlempar ke belakang dan berpelantingan. Tentu saja mereka terkejut bukan
main. Terdengar derap kaki kuda dan kuda putih itu sudah tiba di situ. Agaknya
tadi ketika mengitari pekarangan, gadis penunggang kuda itu melihat peristiwa
ini dan ia cepat melarikan kuda menghampiri.
"Apa yang
terjadi di sini, Paman Jiman?"
Sambil
merangkak bangun seperti juga teman-temannya yang tidak terluka, hanya terkejut
saja, Ki Jiman berkata,
"Den
Roro, gadis pengacau ini memaksa kami untuk melaporkan kepada Gusti Senopati
Yudajaya bahwa ia ingin bertemu. Ia hendak nekad masuk dan ketika kami
menghalanginya, la mendorong kami."
Gadis itu
melompat turun dari atas punggung kudanya. Atas isarat gadis itu, seorang
prajurit yang paling dekat segera melompat dan menerima kendali kuda. Dia
segera membawa kuda itu menjauh. Sejenak gadis itu mengamati Puspa Dewi dari
kepala sampai ke kaki. Tubuh mereka sama sintal padat, sama ramping. Wajah
mereka juga sama-sama cantik jelita, walaupun bentuknya berlainan. Setelah
cukup mengamati Puspa Dewi, gadis itu bertanya, suaranya dan sikapnya
menunjukkan kebangsawanannya, anggun dan agak tinggi hati.
"Siapakah
engkau dan mau apa engkau mencari Ayahku?"
"Ayahmu?"
"Senopati
Yudajaya, dia adalah Ayahku. Mengapa engkau hendak bertemu dengan dia? Siapa
engkau?"
Puspa Dewi
tertegun dan kini ia yang mengamati gadis di depannya itu dari kepala sampai ke
kaki penuh perhatian. Gadis ini puteri ayah kandungnya?
"Kau...
kau puteri Senopati Yudajaya?" tanyanya dengan suara tidak percaya.
"Hemm,
seluruh penduduk Kahuripan mengenal siapa aku. Aku adalah Niken Harni, puteri
tunggal Senopati Yudajaya dan engkau agaknya tidak percaya? Manusia aneh, siapa
sih engkau ini?"
"Aku...
namaku Puspa Dewi." kata Puspa Dewi, agak bingung karena kini ia
berhadapan dengan puteri ayahnya, berarti gadis ini adalah Adik tirinya, satu
ayah berlainan ibu.
Inilah agaknya
anak dari Dyah Mularsih seperti yang diceritakan ibunya. Dyah Mularsih puteri
Senopati Jayatanu yang menjadi isteri ke dua ayahnya! Pada saat itu, terdengar
derap kaki kuda dan seorang laki-laki berusia hampir enam puluh tahun, gagah
dan tegak di atas kudanya, memasuki gapura dan melihat ribut-ribut, dia melompat
turun. Gerakannya masih sigap dan melihat pakaiannya tentu dia seorang
berpangkat.
"Hei, ada
apa ribut-ribut ini? Niken, ada terjadi apakah?" tanya orang itu yang
bukan lain adalah Tumenggung Jayatanu, Kakek dari Niken Harni.
Dengan suara
manja Niken Harni mendekati kakek itu dan berkata sambil menudingkan
telunjuknya ke arah Puspa Dewi.
"Gadis
itu, Kanjeng Eyang, membikin kacau dan berkeras hendak menemui Ayah, namanya
Puspa Dewi."
"Puspa
Dewi....??" Senopati Tumenggung Jayatanu cepat memandang dan matanya
terbelalak lebar ketika dia melihat Puspa Dewi, kemudian dia cepat mencabut
kerisnya dan berseru.
"Benar!
Ia Puspa Dewi, mata-mata Wura-Wuri yang dulu menyelundup ke istana dan menjadi
pelayan pribadi selir Mandari yang berkhianat! Para pengawal, tangkap ia! Kalau
melawan bunuh mata-mata ini, karena tentu ia berniat buruk terhadap kita!"
Seorang
perajurit memukul kentungan dan dari dalam gedung datang berlarian belasan
orang pengawal yang memegang senjata klewang atau tombak. Mendengar perintah
Sang Tumenggung, mereka semua yang berjumlah sekitar dua puluh lima orang
bersama regu penjaga, mengepung Puspa Dewi dengan senjata siap menyerang.
"Puspa
Dewi, menyerahlah kami tangkap agar kami tidak perlu menggunakan tangan kejam
membunuhmu!" bentak seorang perwira pengawal, lalu dia sendiri bersama dua
orang memasuki kepungan dengan niat untuk menangkap Puspa Dewi. Dua orang
perajurit itu lalu menjulurkan tangan hendak menelikung kedua lengan Puspa
Dewi. Akan tetapi gadis ini hanya tersenyum saja dan sebelum tangan-tangan itu
menyentuhnya, ia menggerakkan kedua tangannya dan dua orang itu bersama Sang
Perwira terpelanting keras sampai terguling-guling!
Melihat ini.
Tumenggung Jayatanu menjadi marah. Dia merasa yakin bahwa gadis yang dia dengar
merupakan Sekar Kedaton Kerajaan Wura-Wuri itu tentu akan mengamuk dan
melakukan pembunuhan-pembunuhan. Maka dia membentak memberi aba-aba.
"Serbu!
Bunuh mata-mata Wura-wuri ini!"
Dua puluh
lebih orang itu segera menerjang dengan senjata mereka. Belasan batang tombak,
klewang dan keris menyambar-nyambar bagaikan hujan ke arah tubuh Puspa Dewi.
Akan tetapi Puspa Dewi tetap tenang dan tersenyum. Kalau saja dirinya dikeroyok
seperti itu setahun yang lalu, tentu dia akan marah dan mengamuk. Entah betapa
banyak pengeroyok yang akan roboh tewas. Akan tetapi sekarang ia tidak
membiarkan nafsu amarah mempengaruhinya. Apalagi para pengeroyok itu bukan
orang-orang jahat. Maka ia lalu mengerahkan tenaga saktinya dan menggerakkan
tubuhnya. Kedua tangannya berkelebatan dan dari kedua tangan itu menyambar
angin yang kuat sekali sehingga mereka yang berani mendekat tentu terpelanting
dan roboh dengan tubuh babak bundas (lecet-lecet) akan tetapi tidak ada yang
terluka berat, apalagi tewas. Namun, setelah dua puluh lima orang itu terpelanting
roboh, mereka merasa jerih dan maklum bahwa gadis itu memiliki kesaktian yang
hebat. Niken Harni yang sejak kecil sudah mempelajari aji kanuragan, melihat
semua perajurit berpelantingan, menjadi marah. Ia mencabut sebatang patrem
(keris kecil) dan melontarkannya ke arah Puspa Dewi. Melempar patrem ini
merupakan satu di antara keahlian gadis cantik ini. Pernah ia merobohkan seekor
harimau dengan lontaran patremnya yang tepat mengenai leher harimau itu. Pada
saat hamper berbareng, Tumenggung Jayatanu juga sudah melontarkan sebatang
tombak ke arah Puspa Dewi. Dua buah senjata itu meluncur dengan cepat, terutama
tombak itu mengeluarkan suara berdesing dan menyambar seperti kilat ke arah
perut Puspa Dewi, sedangkan patrem itu menyambar ke arah lehernya!
Puspa Dewi
tidak marah, ia dapat mengerti mengapa Tumenggung Jayatanu langsung saja
memusuhinya. Tentu Tumenggung Jayatanu tidak tahu bahwa dulu itu ia membela
Kahuripan dan masih saja dianggap sebagai Sekar Kedaton Wengker yang ikut dalam
persekutuan pemberontak. Yang tahu akan hal itu hanyalah Ki Patih Narotama,
Nurseta, dan Dyah Untari, selir Sang Prabu Erlangga. Agaknya Sang Prabu
Erlangga tentu mengetahui pula, mendengar dari laporan Dyah Untari. Selain
mereka, mungkin hanya beberapa orang senopati atau pejabat tinggi yang dekat
dengan raja dan patih itu yang mengetahuinya. Kalau hanya mendengar bahwa ia
adalah wakil Wura-Wuri dalam persekutuan pemberontak itu, tentu saja ia akan
dimusuhi, seperti sikap Tumenggung Jayatanu ini. Ketika patrem dan tombak itu menyambar
ke arahnya, kedua tangan Puspa Dewi bergerak dan ia sudah menyambar dan
menangkap dua buah senjata yang menyerangnya itu.
"Krek-krek-krek...!"
Dengan tenang
saja kedua tangan gadis itu lalu mematah-matahkan patrem dan tombak itu,
demikian mudahnya seperti orang mematah-matahkan dua batang lidi saja! Tentu
saja Tumenggung Jayatanu dan cucunya, Niken Harni, terbelalak memandang dengan
muka pucat.
Pada saat itu,
tampak seorang laki-laki berusia sekitar empat puluh tahun, berwajah tampan dan
ganteng, berpakaian seperti seorang perwira, berlari cepat memasuki pintu
gapura itu. Dia melihat dua puluh lima orang perajurit yang masih tampak
ketakutan dan babak belur itu, lalu melihat Tumenggung Jayatanu dan Niken Harni
berdiri terbelalak dan muka mereka pucat memandang kepada seorang gadis cantik.
Dia segera maju menghampiri dan pandang matanya seperti melekat kepada Puspa
Dewi. Puspa Dewi juga memandang kepada laki-laki itu.
"Ayah,
perempuan ini datang mengacau dan mengancam kita!" kata Niken Harni kepada
laki-laki yang baru datang.
Akan tetapi
Senopati Yudajaya atau ketika dahulu bernama Prasetyo, seolah tidak mendengar
ucapan puterinya dan tetap memandang kepada Puspa Dewi seperti terpesona.
Setelah tiba di depan Puspa Dewi dalam jarak sekitar tiga tombak, dia berhenti
melangkah dan berdiri dengan mata tetap terbelalak.
“Lasmi....
engkau.... Lasmi...." dia berseru perlahan dan terputus-putus.
Hati Puspa
Dewi merasa terharu sekali, akan tetapi juga merasa penasaran dan kecewa.
"Hemm, masih ada orang yang ingat kepada Nyi Lasmi? Selama, sembilan belas tahun ia hidup terlantar, terlunta-lunta dan sengsara, akibat ulah seorang laki-laki kejam bernama Prasetyo!"
"Hemm, masih ada orang yang ingat kepada Nyi Lasmi? Selama, sembilan belas tahun ia hidup terlantar, terlunta-lunta dan sengsara, akibat ulah seorang laki-laki kejam bernama Prasetyo!"
Prasetyo, atau
Senopati Yudajaya, menjadi pucat wajahnya dan dia mengamati wajah dan bentuk
tubuh Puspa Dewi penuh selidik. Kini baru dia menyadari bahwa wanita di
depannya ini tidak mungkin Lasmi yang sekarang tentu jauh lebih tua.
"Andika....
siapakah? Di mana kini... Lasmi isteriku?"
"Prasetyo,
gadis ini adalah seorang telik sandi dari Wura-Wuri! Ia dahulu mewakili
Wura-Wuri dalam persekutuan pemberontak pimpinan Pangeran Hendratama. Ia ini
sekar Kedaton dari Wura-Wuri yang jahat!"
"Benar,
Ayah! Puspa Dewi ini jahat dan hendak membunuh Ayah!" kata Niken Harni.
Tubuh Prasetyo
gemetar dan wajahnya menjadi pucat ketika dia menatap Puspa Dewi dengan mata
terbelalak.
"Puspa
Dewi.... kau Puspa Dewi.... puteri dari Lasmi....?"
Puspa Dewi
tersenyum.
"Hemm,
Andika masih ingat kepada Ibu dan Anak yang telah Andika telantarkan, Andika
tinggal begitu saja dengan kejam karena Andika mabok kesenangan dan kedudukan?
Begitukah sikap seorang satriya, seorang suami dan Ayah yang bertanggung
jawab?"
Tubuh Prasetyo
gemetar seolah lumpuh semua urat dan syarafnya dan dia terkulai dan jatuh
berlutut, menutupi mukanya dengan kedua tangan.
No comments:
Post a Comment