Nurseta Satria Karangtirta ; Bagian 15


Dia memandang dengan pandang mata mengandung iba. Sayang, pikirnya, gadis yang begini cantik jelita ternyata setengah gila?
"Sadarlah, Nimas. Engkau salah masuk dan salah sangka. Mantu Gusti Tumenggung Jayatanu bernama Senopati Yudajaya!"
Puspa Dewi tertegun. Kelirukah dia? Ah, tidak mungkin.
"Paman, tentu ada mantunya yang bernama Prasetyo."
"Tidak ada! Mantunya hanya seorang saja karena puterinya memang hanya seorang dan nama mantunya adalah Senopati Yudajaya. Ah, pergilah, Nimas, engkau menjadi tontonan orang nanti. Pulanglah ke rumahmu." Kepala jaga itu membujuk.
"Kalau begitu, aku ingin, bertemu dengan Senopati Yudajaya itu, Paman. Hadapkan aku padanya!"

Ki Jiman mengaruk-garuk belakang kepalanya yang tidak gatal. Dia menjadi serba salah menghadapi gadis yang agaknya gendeng (idiot) ini! Kalau dia melapor kepada Senopati Yudajaya dan mempertemukan Sang Senopati itu dengan seorang gadis gila, tentu dia akan mendapat marah besar dan juga mendapat malu. Akan tetapi kalau tidak, gadis ini agaknya nekat dan bagaimana kalau gadis gila ini mengamuk?”
"Wah, tidak begitu mudah, Nimas," dia membujuk.
"Tidak mudah menghadap dan bertemu dengan Senopati Yudajaya. kami tidak berani mengganggunya karena kami tentu akan mendapat marah!" Dia lalu membujuk lagi.
"Karena itu pulanglah saja, Nimas. Orang tuamu tentu sedang mencarimu."
Kesabaran Puspa Dewi menipis, ia sudah mencoba untuk membujuk dan mendesak. Namun kepala jaga ini agaknya kukuh tidak mau mempertemukannya dengan Senopati Yudajaya, bahkan melihat sikap nya seolah meragukan kewarasan otaknya.
"Sudahlah, kalau kalian tidak dapat menolongku, biar aku mencari dan menghadap sendiri!" Setelah berkata demikian, Puspa Dewi lalu melangkah masuk dan ingin pergi menyeberangi pekarangan menuju ke rumah besar itu.
"Hee! Perlahan dulu!" Kepala jaga itu berseru dan dua belas orang perajurit itu lalu menghadang dan melintangkan tombak mereka untuk mencegah Puspa Dewi melangkah maju.
"Andika tidak boleh masuk!" kata kepala jaga. Kini agak marah karena jengkel harus melayani gadis yang jelas agak gila ini.
"Hemm, kalian tidak mau melaporkan ke dalam, tidak mau menolongku dan ketika aku hendak mencari dan menghadap sendiri, kalian menghalangi aku! Minggirlah kalian!"
"Nimas, lebih baik engkau keluar dan pulanglah, jangan membikin kekacauan di sini. Kami tidak ingin bersikap kasar kepada seorang wanita. Keluarlah!" Kepala jaga itu bersama teman-temannya, menggunakan tombak yang dilintangkan untuk memaksa dan mendorong Puspa Dewi keluar dari dalam pintu gapura itu.

Melihat betapa selusin orang itu berkeras hendak mendorongnya keluar, Puspa Dewi lalu mendorongkan kedua tangannya yang menangkap tombak Ki Jiman yang didorongkan kepadanya.
"Wuuuttt...!" Bagaikan sekumpulan daun kering tertiup angin, dua belas orang perajurit itu terlempar ke belakang dan berpelantingan. Tentu saja mereka terkejut bukan main. Terdengar derap kaki kuda dan kuda putih itu sudah tiba di situ. Agaknya tadi ketika mengitari pekarangan, gadis penunggang kuda itu melihat peristiwa ini dan ia cepat melarikan kuda menghampiri.
"Apa yang terjadi di sini, Paman Jiman?"
Sambil merangkak bangun seperti juga teman-temannya yang tidak terluka, hanya terkejut saja, Ki Jiman berkata,
"Den Roro, gadis pengacau ini memaksa kami untuk melaporkan kepada Gusti Senopati Yudajaya bahwa ia ingin bertemu. Ia hendak nekad masuk dan ketika kami menghalanginya, la mendorong kami."
Gadis itu melompat turun dari atas punggung kudanya. Atas isarat gadis itu, seorang prajurit yang paling dekat segera melompat dan menerima kendali kuda. Dia segera membawa kuda itu menjauh. Sejenak gadis itu mengamati Puspa Dewi dari kepala sampai ke kaki. Tubuh mereka sama sintal padat, sama ramping. Wajah mereka juga sama-sama cantik jelita, walaupun bentuknya berlainan. Setelah cukup mengamati Puspa Dewi, gadis itu bertanya, suaranya dan sikapnya menunjukkan kebangsawanannya, anggun dan agak tinggi hati.
"Siapakah engkau dan mau apa engkau mencari Ayahku?"
"Ayahmu?"
"Senopati Yudajaya, dia adalah Ayahku. Mengapa engkau hendak bertemu dengan dia? Siapa engkau?"
Puspa Dewi tertegun dan kini ia yang mengamati gadis di depannya itu dari kepala sampai ke kaki penuh perhatian. Gadis ini puteri ayah kandungnya?
"Kau... kau puteri Senopati Yudajaya?" tanyanya dengan suara tidak percaya.
"Hemm, seluruh penduduk Kahuripan mengenal siapa aku. Aku adalah Niken Harni, puteri tunggal Senopati Yudajaya dan engkau agaknya tidak percaya? Manusia aneh, siapa sih engkau ini?"
"Aku... namaku Puspa Dewi." kata Puspa Dewi, agak bingung karena kini ia berhadapan dengan puteri ayahnya, berarti gadis ini adalah Adik tirinya, satu ayah berlainan ibu.

Inilah agaknya anak dari Dyah Mularsih seperti yang diceritakan ibunya. Dyah Mularsih puteri Senopati Jayatanu yang menjadi isteri ke dua ayahnya! Pada saat itu, terdengar derap kaki kuda dan seorang laki-laki berusia hampir enam puluh tahun, gagah dan tegak di atas kudanya, memasuki gapura dan melihat ribut-ribut, dia melompat turun. Gerakannya masih sigap dan melihat pakaiannya tentu dia seorang berpangkat.
"Hei, ada apa ribut-ribut ini? Niken, ada terjadi apakah?" tanya orang itu yang bukan lain adalah Tumenggung Jayatanu, Kakek dari Niken Harni.
Dengan suara manja Niken Harni mendekati kakek itu dan berkata sambil menudingkan telunjuknya ke arah Puspa Dewi.
"Gadis itu, Kanjeng Eyang, membikin kacau dan berkeras hendak menemui Ayah, namanya Puspa Dewi."
"Puspa Dewi....??" Senopati Tumenggung Jayatanu cepat memandang dan matanya terbelalak lebar ketika dia melihat Puspa Dewi, kemudian dia cepat mencabut kerisnya dan berseru.
"Benar! Ia Puspa Dewi, mata-mata Wura-Wuri yang dulu menyelundup ke istana dan menjadi pelayan pribadi selir Mandari yang berkhianat! Para pengawal, tangkap ia! Kalau melawan bunuh mata-mata ini, karena tentu ia berniat buruk terhadap kita!"
Seorang perajurit memukul kentungan dan dari dalam gedung datang berlarian belasan orang pengawal yang memegang senjata klewang atau tombak. Mendengar perintah Sang Tumenggung, mereka semua yang berjumlah sekitar dua puluh lima orang bersama regu penjaga, mengepung Puspa Dewi dengan senjata siap menyerang.
"Puspa Dewi, menyerahlah kami tangkap agar kami tidak perlu menggunakan tangan kejam membunuhmu!" bentak seorang perwira pengawal, lalu dia sendiri bersama dua orang memasuki kepungan dengan niat untuk menangkap Puspa Dewi. Dua orang perajurit itu lalu menjulurkan tangan hendak menelikung kedua lengan Puspa Dewi. Akan tetapi gadis ini hanya tersenyum saja dan sebelum tangan-tangan itu menyentuhnya, ia menggerakkan kedua tangannya dan dua orang itu bersama Sang Perwira terpelanting keras sampai terguling-guling!
Melihat ini. Tumenggung Jayatanu menjadi marah. Dia merasa yakin bahwa gadis yang dia dengar merupakan Sekar Kedaton Kerajaan Wura-Wuri itu tentu akan mengamuk dan melakukan pembunuhan-pembunuhan. Maka dia membentak memberi aba-aba.
"Serbu! Bunuh mata-mata Wura-wuri ini!"

Dua puluh lebih orang itu segera menerjang dengan senjata mereka. Belasan batang tombak, klewang dan keris menyambar-nyambar bagaikan hujan ke arah tubuh Puspa Dewi. Akan tetapi Puspa Dewi tetap tenang dan tersenyum. Kalau saja dirinya dikeroyok seperti itu setahun yang lalu, tentu dia akan marah dan mengamuk. Entah betapa banyak pengeroyok yang akan roboh tewas. Akan tetapi sekarang ia tidak membiarkan nafsu amarah mempengaruhinya. Apalagi para pengeroyok itu bukan orang-orang jahat. Maka ia lalu mengerahkan tenaga saktinya dan menggerakkan tubuhnya. Kedua tangannya berkelebatan dan dari kedua tangan itu menyambar angin yang kuat sekali sehingga mereka yang berani mendekat tentu terpelanting dan roboh dengan tubuh babak bundas (lecet-lecet) akan tetapi tidak ada yang terluka berat, apalagi tewas. Namun, setelah dua puluh lima orang itu terpelanting roboh, mereka merasa jerih dan maklum bahwa gadis itu memiliki kesaktian yang hebat. Niken Harni yang sejak kecil sudah mempelajari aji kanuragan, melihat semua perajurit berpelantingan, menjadi marah. Ia mencabut sebatang patrem (keris kecil) dan melontarkannya ke arah Puspa Dewi. Melempar patrem ini merupakan satu di antara keahlian gadis cantik ini. Pernah ia merobohkan seekor harimau dengan lontaran patremnya yang tepat mengenai leher harimau itu. Pada saat hamper berbareng, Tumenggung Jayatanu juga sudah melontarkan sebatang tombak ke arah Puspa Dewi. Dua buah senjata itu meluncur dengan cepat, terutama tombak itu mengeluarkan suara berdesing dan menyambar seperti kilat ke arah perut Puspa Dewi, sedangkan patrem itu menyambar ke arah lehernya!

Puspa Dewi tidak marah, ia dapat mengerti mengapa Tumenggung Jayatanu langsung saja memusuhinya. Tentu Tumenggung Jayatanu tidak tahu bahwa dulu itu ia membela Kahuripan dan masih saja dianggap sebagai Sekar Kedaton Wengker yang ikut dalam persekutuan pemberontak. Yang tahu akan hal itu hanyalah Ki Patih Narotama, Nurseta, dan Dyah Untari, selir Sang Prabu Erlangga. Agaknya Sang Prabu Erlangga tentu mengetahui pula, mendengar dari laporan Dyah Untari. Selain mereka, mungkin hanya beberapa orang senopati atau pejabat tinggi yang dekat dengan raja dan patih itu yang mengetahuinya. Kalau hanya mendengar bahwa ia adalah wakil Wura-Wuri dalam persekutuan pemberontak itu, tentu saja ia akan dimusuhi, seperti sikap Tumenggung Jayatanu ini. Ketika patrem dan tombak itu menyambar ke arahnya, kedua tangan Puspa Dewi bergerak dan ia sudah menyambar dan menangkap dua buah senjata yang menyerangnya itu.
"Krek-krek-krek...!"
Dengan tenang saja kedua tangan gadis itu lalu mematah-matahkan patrem dan tombak itu, demikian mudahnya seperti orang mematah-matahkan dua batang lidi saja! Tentu saja Tumenggung Jayatanu dan cucunya, Niken Harni, terbelalak memandang dengan muka pucat.

Pada saat itu, tampak seorang laki-laki berusia sekitar empat puluh tahun, berwajah tampan dan ganteng, berpakaian seperti seorang perwira, berlari cepat memasuki pintu gapura itu. Dia melihat dua puluh lima orang perajurit yang masih tampak ketakutan dan babak belur itu, lalu melihat Tumenggung Jayatanu dan Niken Harni berdiri terbelalak dan muka mereka pucat memandang kepada seorang gadis cantik. Dia segera maju menghampiri dan pandang matanya seperti melekat kepada Puspa Dewi. Puspa Dewi juga memandang kepada laki-laki itu.
"Ayah, perempuan ini datang mengacau dan mengancam kita!" kata Niken Harni kepada laki-laki yang baru datang.
Akan tetapi Senopati Yudajaya atau ketika dahulu bernama Prasetyo, seolah tidak mendengar ucapan puterinya dan tetap memandang kepada Puspa Dewi seperti terpesona. Setelah tiba di depan Puspa Dewi dalam jarak sekitar tiga tombak, dia berhenti melangkah dan berdiri dengan mata tetap terbelalak.
“Lasmi.... engkau.... Lasmi...." dia berseru perlahan dan terputus-putus.
Hati Puspa Dewi merasa terharu sekali, akan tetapi juga merasa penasaran dan kecewa.
"Hemm, masih ada orang yang ingat kepada Nyi Lasmi? Selama, sembilan belas tahun ia hidup terlantar, terlunta-lunta dan sengsara, akibat ulah seorang laki-laki kejam bernama Prasetyo!"
Prasetyo, atau Senopati Yudajaya, menjadi pucat wajahnya dan dia mengamati wajah dan bentuk tubuh Puspa Dewi penuh selidik. Kini baru dia menyadari bahwa wanita di depannya ini tidak mungkin Lasmi yang sekarang tentu jauh lebih tua.
"Andika.... siapakah? Di mana kini... Lasmi isteriku?"
"Prasetyo, gadis ini adalah seorang telik sandi dari Wura-Wuri! Ia dahulu mewakili Wura-Wuri dalam persekutuan pemberontak pimpinan Pangeran Hendratama. Ia ini sekar Kedaton dari Wura-Wuri yang jahat!"
"Benar, Ayah! Puspa Dewi ini jahat dan hendak membunuh Ayah!" kata Niken Harni.
Tubuh Prasetyo gemetar dan wajahnya menjadi pucat ketika dia menatap Puspa Dewi dengan mata terbelalak.
"Puspa Dewi.... kau Puspa Dewi.... puteri dari Lasmi....?"
Puspa Dewi tersenyum.
"Hemm, Andika masih ingat kepada Ibu dan Anak yang telah Andika telantarkan, Andika tinggal begitu saja dengan kejam karena Andika mabok kesenangan dan kedudukan? Begitukah sikap seorang satriya, seorang suami dan Ayah yang bertanggung jawab?"

Tubuh Prasetyo gemetar seolah lumpuh semua urat dan syarafnya dan dia terkulai dan jatuh berlutut, menutupi mukanya dengan kedua tangan.

<<< Bagian 14                                                                                          Bagian 16 >>>

No comments:

Post a Comment