"....aduhh ... Lasmi... ampunkan aku.... ampunkan aku...." Laki-laki yang gagah petkasa itu menangis tanpa suara dan kedua pundaknya bergoyang-goyang, tubuhnya terguncang.
"Ayah....!"
Niken Harni menubruk ayahnya. Kemudian ia meloncat berdiri dengan muka merah
dan mata berkilat memandang kepada Puspa Dewi.
"Puspa
Dewi! Jangan sembarangan menuduh Ayahku! Kalau engkau hendak menghina dan membunuh
Ayahku, langkahi dulu mayatku!"
Dengan gagah
Niken Harni menantang Puspa Dewi, sungguhpun ia tahu benar betapa saktinya
gadis itu. Tumenggung Jayatanu maju menghampiri Puspa Dewi.
"Andika
keliru kalau menuduh Prasetyo seorang suami dan Ayah yang tidak bertanggung
jawab. Selama ini dia juga menderita dan sudah berusaha mencari Lasmi tanpa
hasil. Kalau mau mencari siapa yang bersalah, akulah yang bersalah."
Hati Puspa
Dewi seperti diremas-remas. Ia sudah merasa terharu dan kasihan melihat
laki-laki yang menjadi ayah kandungnya itu, menangis menyesali perbuatannya dan
minta ampun, ditambah lagi pembelaan adik tirinya yang menantang maut untuk
membela ayahnya, dan sikap Tumenggung Jayatanu yang mengakui bersalah. Tak
dapat ditahannya lagi, beberapa butir air mata mengalir turun dari sepasang
matanya, ia lalu melangkah menghampiri Prasetyo yang masih berlutut dan kepala
menunduk dan kedua tangan menutupi mukanya.
Niken Harni
dan Tumenggung Jayatanu mengikuti Puspa Dewi dengan khawatir, siap untuk
melindungi Prasetyo kalau-kalau akan diserang Puspa Dewi. Dalam jarak satu
tombak Puspa Dewi berhenti dan berdiri di depan ayahnya, memandang laki-laki
yang masih berlutut dan menangis tanpa suara itu. Air mata semakin deras keluar
dari kedua matanya, mengalir di atas kedua pipinya.
"Ayah...
bangunlah...." katanya lirih.
Prasetyo atau
Senopati Yudajaya menurunkan kedua tangannya, mengangkat mukanya yang pucat dan
basah air mata itu memandang kepada Puspa Dewi dan dengan kaki gemetar dia
bangkit berdiri. Ayah dan anak ini sejenak saling pandang.
"Engkau...
engkau Puspa Dewi, anak Lasmi.... kau.... anakku...."
"Ayah....!!"
Mereka saling tubruk dan saling rangkul, keduanya menangis. Prasetyo mendekap
kepala itu ke dadanya, menengadah dengan mata basah.
"Duh
Gusti.... terima kasih atas anugerah yang membahagiakan ini....! Puspa Dewi,
anakku, engkau mau memaafkan Ayahmu ini?"
Puspa Dewi
tidak dapat menjawab dengan suara karena keharuan serasa mencekik lehernya, ia
hanya mengangguk dalam rangkulan ayahnya.
"Ibumu di
mana?"
Sebelum Puspa
Dewi menjawab. Tumenggung Jayatanu berkata.
"Sebaiknya
kita masuk dan bicara di dalam. Tidak enak dan tidak leluasa bicara di
sini."
Prasetyo
teringat bahwa di situ banyak prajurit yang kini memandang ke arah mereka
dengan heran.
"Mari, Anakku,
kita bicara di dalam."
Puspa Dewi
tidak membantah dan membiarkan dirinya digandeng ayahnya memasuki gedung
tumenggungan itu. Tumenggung Jayatanu dan Niken Harni mengikuti dari belakang.
Hati kakek dan cucunya ini merasa lega bahwa Puspa Dewi tidak jadi mengamuk
seperti yang mereka kira.
Nyai
Tumenggung menyambut dan ketika ia mendengar bahwa gadis yang datang itu adalah
puteri Prasetyo dan Lasmi, ia memegang kedua tangan Puspa Dewi dan berkata
lembut.
"Ah,
Cucuku! Engkau Cucuku juga karena sudah lama Ayahmu mencari-carimu sehingga
kami juga merasa prihatin sekali."
Pada saat itu,
seorang wanita berusia sekitar tiga puluh enam tahun yang berwajah lembut
muncul. Ketika ia mendengar bahwa gadis itu adalah Puspa Dewi, ia merangkulnya
dan suaranya serak karena terharu ketika bicara.
"Aduh,
Anakku! Kami semua bingung memikirkan Ibumu. Ayahmu selalu merasa menyesal dan
berduka kalau teringat kepada Ibumu dan engkau. Mengapa Mbakyu Lasmi tidak mau
tinggal di sini? Di mana adanya Mbakyu Lasmi sekarang dan mengapa ia tidak ikut
datang ke sini?"
Puspa Dewi
merasa terharu dan diam-diam ia harus mengakui bahwa keluarga Tumenggung
Jayatanu adalah orang-orang yang baik hati, tidak seperti yang semula ia duga.
Biarpun mereka adalah orang-orang bangsawan, namun sama sekali tidak angkuh,
bahkan ibu tirinya yang tadinya ia benci karena ia anggap wanita itu merebut
ayahnya dari samping ibunya, bersikap demikian ramah dan baik. Mereka kini
duduk mengitari sebuah meja bundar. Keharuan sudah mereda dan mereka dapat
bersikap biasa, bahkan Prasetyo kini sudah berseri wajahnya, jelas dia
berbahagia sekali dapat bertemu dengan puterinya. Tumenggung Jayatanu masih
merasa penasaran dan dia berkata.
"Wah, aku
telah salah sangka. Kukira tadi bahwa engkau adalah puteri Kerajaan Wura-Wuri
yang dulu membantu persekutuan pemberontak dan kini datang untuk melakukan
kekacauan!" katanya sambil tersenyum lebar.
"Tentu
hanya merupakan persamaan nama yang kebetulan saja."
"Eyang
tidak salah sangka. Memang sayalah Sekar Kedaton Wura-Wuri itu, Eyang."
"Apa...??"
Tumenggung Jayatanu berseru kaget sambil bangkit berdiri dari kursinya. Juga
Niken Harni, Dyah Mularsih, dan Nyai Tumenggung terkejut dan memandang kepada
Puspa Dewi dengan mata terbelalak. Akan tetapi Prasetyo atau Senopati Yudajaya
tetap tenang bahkan dia tertawa dan berkata.
"Kanjeng
Rama dan semua saja harap jangan kaget dan khawatir. Saya telah mendengar dari
Gusti Patih Narotama bahwa Puspa Dewi yang tadinya mewakili Wura-Wuri bersekutu
dengan pemberontak itu telah mengubah sikap, berbalik membela Kahuripan dan
menentang persekutuan pemberontak. Bahkan, Gusti Patih memerintahkan kepada
saya dan pasukan khusus untuk menyelidiki di mana adanya Puspa Dewi dan
mengundangnya ke istana karena Gusti Sinuhun berkenan ingin bertemu dengannya. Tadinya
saya mengira bahwa tentu Puspa Dewi yang dimaksudkan sebagai puteri Wura-Wuri
itu bukan anak saya, tentu hanya persamaan nama yang kebetulan saja. Akan
tetapi, baru saja Puspa Dewi mengaku bahwa Sekar Kedaton Wura-Wuri itu memang
ia orangnya! Nah, Puspa Dewi Anakku, engkau telah membuat kami semua menjadi
heran, bingung dan bertanya-tanya. Apakah... apakah..." wajah Prasetyo
berubah, jelas ia tampak rikuh dan segan mengajukan pertanyaan selanjutnya.
"Apakah
apa, Ayah?" Puspa Dewi mendorongnya.
"Apakah...
maaf, apakah Ibumu kini menjadi permaisuri di Wura-Wuri?"
Puspa Dewi
menggeleng kepalanya.
"Sebelum
aku memberi penjelasan dan menceritakan pengalaman Ibu dan saya, saya harap
Ayah suka menceritakan dulu bagaimana dan mengapa Ayah dan Ibu sampai berpisah."
Prasetyo
memandang kepada isterinya dan Dyah Mularsih berkata dengan lembut dan tenang.
"Kakangmas
Prasetyo, tidak perlu sangsi dan bimbang, ceritakan saja semuanya. Anakmu Puspa
Dewi memang berhak untuk mengetahui segalanya agar terhapus semua sangkaan yang
keliru."
"Benar
kata-kata isterimu itu. Keterbukaan itu penting sekali bagi sebuah keluarga
agar terdapat saling pengertian. Kesalahan yang terlanjur dilakukan dapat
ditebus dengan penyesalan dan pengakuan secara jujur." kata'Tumenggung
Jayatanu.
Mendengar
ucapan ibu tiri dan kakek tirinya itu, Puspa Dewi menjadi rikuh dan merasa
tidak enak hati. Mereka begitu terbuka dan sikap mereka membayangkan bahwa
mereka adalah keluarga yang terhormat dan baik budi.
"Baiklah,
Puspa Dewi. Begini ceritanya. Aku menikah dengan Lasmi, Ibumu itu dan kami
hidup berbahagia di kota raja ini di mana aku bekerja sebagai seorang perwira
pengawal. Ketika Ibumu mengandung, ia minta pulang ke dusun Munggung agar kalau
ia melahirkan, ia akan dekat dengan Ibunya yang akan merawatnya. Aku
mengantarnya pulang ke Munggung."
"Ibu
telah bercerita tentang itu kepada saya. Setelah Ibu tinggal di Munggung sampai
saya terlahir, Ayah telah menikah lagi..." Puspa dewi memandang kepada
Dyah Mularsih dan merasa rikuh.
"Maaf,
Ibu... saya tidak bermaksud menuntut, hanya menceritakan yang sebenarnya."
Dyah Mularsih
tersenyum.
"Tidak
mengapa, Anakku, memang sudah semestinya begitu. Kami saling mencinta dan
ketika aku mendengar bahwa Ayahmu telah beristeri, aku yang sudah terlanjur
saling jatuh cinta, dapat menerima untuk menjadi isteri kedua."
"Begitulah,
Puspa Dewi." Prasetyo melanjutkan.
"Sesungguhnya,
tidak ada niatku semula untuk tidak setia kepada Lasmi. Akan tetapi,
berbulan-bulan aku hidup seorang diri di kota raja, dan pada suatu hari, secara
kebetulan aku menolong Ibumu ini, Dyah Mularsih, yang terancam bahaya karena
kuda yang ditungganginya kabur dengan liar. Aku berhasil menyelamatkannya dan
sejak saat itu, kami saling jatuh cinta. Akhirnya, karena akrab dengannya, aku
harus bertanggung jawab menikahinya. Aku mengajak Ibumu yang telah melahirkan
untuk kuboyong ke sini, akan tetapi Ibumu tidak mau, berkeras ia menolak untuk
kuboyong ke rumah ini."
"Itu
benar, Puspa Dewi. Bahkan aku sendiri yang mendesak Ayahmu agar Mbakyu Lasmi
diboyong ke sini dan hidup satu keluarga dengan kami. Akan tetapi ia selalu
menolak."
"Ibu juga
telah menceritakan hal Itu. Ibu menolak karena merasa malu kalau harus tinggal
di sini yang dianggapnya mondok di rumah madunya. Ia rela dimadu, akan tetapi
Ibu yang merasa sebagai orang kecil yang miskin, tidak mau merendahkan diri.
Saya kira hal ini tidak buruk karena kalau seorang wanita dusun yang miskin
tidak memiliki harga diri, lalu apa yang ia miliki?"
“Ah,
Cucuku!" kata Tumenggung Jayatanu.
"Ibumu
seorang wanita yang berhati keras. Ia berkeras tidak mau pindah ke sini
sehingga tentu saja amat sukar bagi Ayahmu memiliki dua orang istri yang tempat
tinggalnya jauh terpisah. Setelah jelas Ibumu tidak mau pindah dan Ayahmu
menjadi bingung, aku lalu minta Ayahmu mengambil keputusan dan bertanggung
jawab. Tidak mungkin dia mempunyai dua orang isteri yang terpisah jauh tempat
tinggalnya. Maka jalan satu-satunya adalah Ayahmu harus memilih salah satu,
yaitu menceraikan Dyah Mularsih dan hidup bersama Ibumu, atau Ibumu dan hidup
dengan kami di sini. Ya, itulah yang menjadikan persoalan, cucuku“ kata
Tumenggung Jayatanu ".
"Ya,
demikianlah, Puspa Dewi. Aku menjadi bingung sekali. Aku mendatangi Diajeng
Lasmi dan kuceritakan hal itu. Kuceritakan bahwa aku merasa berat untuk menceraikan
salah seorang, apalagi kedua orang isteriku sama-sama telah mempunyai anak.
Lasmi mempunyai engkau dan Dyah Mularsih mempunyai Niken Harni ini. Aku menjadi
serba salah dan aku masih seringkali berkunjung ke Munggung, bahkan ketika
engkau baru berusia beberapa bulan, Ibumu diganggu dan hendak dikawin dengan
paksa oleh Darsikun putera seorang demang. Ibumu menolak dan Bapak mertuaku,
yaitu Ayah dari Ibumu, membela Lasmi akan tetapi dia malah tewas dibunuh. Pada
saat itu aku datang dan kubunuh Darsikun dan dua orang tukang pukulnya. Setelah
terjadi hal itu, tak lama kemudian, Nenekmu Ibu mertuaku, sakit-sakitan dan
meninggal dunia pula. Kemudian, tanpa memberitahu kepadaku, Ibumu mengajak
engkau pergi. Tidak ada orang mengetahui kemana perginya dan percayalah, kami
berusaha mencari Ibumu akan tetapi gagal, Ibumu seolah-olah hilang tak
meninggalkan jejak, dan tak tentu rimbanya." Prasetyo berhenti dan
memandang kepada anaknya dengan sedih.
"Mbakyu
Puspa Dewi, sejak aku dapat mengingat, Ayahku selalu berduka mengingat Ibu
Lasmi dan engkau sehingga aku, Ibu, Kakek dan Nenek juga ikut bersedih. Semua
keluarga mengharapkan dapat bertemu dan mengajak Ibu Lasmi dan engkau hidup
bersama kami di sini." kata Niken Harni yang tadi ikut pula mengeluarkan
air mata karena haru melihat ayahnya dan kakek tirinya.
"Nah,
sekarang tiba giliranmu, Puspa Dewi. Ceritakanlah, apa yang terjadi dengan
Ibumu dan engkau setelah meninggalkan Munggung?" tanya Prasetyo.
Daun pintu
diketuk dan percakapan terhenti. Setelah diperbolehkan masuk, seorang pelayan
datang membawa Baki (nampan) berisi cangkir-cangkir minuman. Setelah menaruh
minuman di atas meja, Nyai Tumenggung memberi isyarat dengan tangannya agar
pelayan itu cepat pergi meninggalkan ruangan itu.
"Baiklah,
sekarang saya akan menceritakan semua, akan tetapi dengan singkat saja karena
sesungguhnya amat tidak menyenangkan menceritakan semua pengalaman buruk itu.
Menurut penuturan Ibuku, setelah meninggalkan Munggung Ibu membawa saya
merantau dan selalu menyembunyikan nama agar tidak mudah dilacak ke mana Ibu
pergi. Akhirnya, setelah merantau dengan susah payah, mengalami banyak
penderitaan, berpindah-pindah dari satu dusun ke dusun lain, selalu memilih
dusun yang sunyi terpencil, Ibu tinggal di dusun Karang Tirta, ketika itu saya
berusia sekitar enam tahun."
"Kasihan
Diajeng Lasmi." kata Prasetyo terharu.
“Ketika itu
Ibumu sih muda, mengapa tidak menikah lagi?" tanya Tumenggung Jayatanu.
"Kata
Ibu, selama itu memang banyak laki-laki yang meminangnya sebagai isteri, akan
tetapi semua Ibu tolak karena Ibu hanya ingin hidup berdua dengan saya dan
tidak ingin diganggu dengan kehadiran orang lain.
No comments:
Post a Comment