Nurseta Satria Karangtirta ; Bagian 16


"....aduhh ... Lasmi... ampunkan aku.... ampunkan aku...." Laki-laki yang gagah petkasa itu menangis tanpa suara dan kedua pundaknya bergoyang-goyang, tubuhnya terguncang.
"Ayah....!" Niken Harni menubruk ayahnya. Kemudian ia meloncat berdiri dengan muka merah dan mata berkilat memandang kepada Puspa Dewi.
"Puspa Dewi! Jangan sembarangan menuduh Ayahku! Kalau engkau hendak menghina dan membunuh Ayahku, langkahi dulu mayatku!"
Dengan gagah Niken Harni menantang Puspa Dewi, sungguhpun ia tahu benar betapa saktinya gadis itu. Tumenggung Jayatanu maju menghampiri Puspa Dewi.
"Andika keliru kalau menuduh Prasetyo seorang suami dan Ayah yang tidak bertanggung jawab. Selama ini dia juga menderita dan sudah berusaha mencari Lasmi tanpa hasil. Kalau mau mencari siapa yang bersalah, akulah yang bersalah."
Hati Puspa Dewi seperti diremas-remas. Ia sudah merasa terharu dan kasihan melihat laki-laki yang menjadi ayah kandungnya itu, menangis menyesali perbuatannya dan minta ampun, ditambah lagi pembelaan adik tirinya yang menantang maut untuk membela ayahnya, dan sikap Tumenggung Jayatanu yang mengakui bersalah. Tak dapat ditahannya lagi, beberapa butir air mata mengalir turun dari sepasang matanya, ia lalu melangkah menghampiri Prasetyo yang masih berlutut dan kepala menunduk dan kedua tangan menutupi mukanya.

Niken Harni dan Tumenggung Jayatanu mengikuti Puspa Dewi dengan khawatir, siap untuk melindungi Prasetyo kalau-kalau akan diserang Puspa Dewi. Dalam jarak satu tombak Puspa Dewi berhenti dan berdiri di depan ayahnya, memandang laki-laki yang masih berlutut dan menangis tanpa suara itu. Air mata semakin deras keluar dari kedua matanya, mengalir di atas kedua pipinya.
"Ayah... bangunlah...." katanya lirih.
Prasetyo atau Senopati Yudajaya menurunkan kedua tangannya, mengangkat mukanya yang pucat dan basah air mata itu memandang kepada Puspa Dewi dan dengan kaki gemetar dia bangkit berdiri. Ayah dan anak ini sejenak saling pandang.
"Engkau... engkau Puspa Dewi, anak Lasmi.... kau.... anakku...."
"Ayah....!!" Mereka saling tubruk dan saling rangkul, keduanya menangis. Prasetyo mendekap kepala itu ke dadanya, menengadah dengan mata basah.
"Duh Gusti.... terima kasih atas anugerah yang membahagiakan ini....! Puspa Dewi, anakku, engkau mau memaafkan Ayahmu ini?"
Puspa Dewi tidak dapat menjawab dengan suara karena keharuan serasa mencekik lehernya, ia hanya mengangguk dalam rangkulan ayahnya.
"Ibumu di mana?"
Sebelum Puspa Dewi menjawab. Tumenggung Jayatanu berkata.
"Sebaiknya kita masuk dan bicara di dalam. Tidak enak dan tidak leluasa bicara di sini."
Prasetyo teringat bahwa di situ banyak prajurit yang kini memandang ke arah mereka dengan heran.
"Mari, Anakku, kita bicara di dalam."
Puspa Dewi tidak membantah dan membiarkan dirinya digandeng ayahnya memasuki gedung tumenggungan itu. Tumenggung Jayatanu dan Niken Harni mengikuti dari belakang. Hati kakek dan cucunya ini merasa lega bahwa Puspa Dewi tidak jadi mengamuk seperti yang mereka kira.
Nyai Tumenggung menyambut dan ketika ia mendengar bahwa gadis yang datang itu adalah puteri Prasetyo dan Lasmi, ia memegang kedua tangan Puspa Dewi dan berkata lembut.
"Ah, Cucuku! Engkau Cucuku juga karena sudah lama Ayahmu mencari-carimu sehingga kami juga merasa prihatin sekali."
Pada saat itu, seorang wanita berusia sekitar tiga puluh enam tahun yang berwajah lembut muncul. Ketika ia mendengar bahwa gadis itu adalah Puspa Dewi, ia merangkulnya dan suaranya serak karena terharu ketika bicara.
"Aduh, Anakku! Kami semua bingung memikirkan Ibumu. Ayahmu selalu merasa menyesal dan berduka kalau teringat kepada Ibumu dan engkau. Mengapa Mbakyu Lasmi tidak mau tinggal di sini? Di mana adanya Mbakyu Lasmi sekarang dan mengapa ia tidak ikut datang ke sini?"
Puspa Dewi merasa terharu dan diam-diam ia harus mengakui bahwa keluarga Tumenggung Jayatanu adalah orang-orang yang baik hati, tidak seperti yang semula ia duga. Biarpun mereka adalah orang-orang bangsawan, namun sama sekali tidak angkuh, bahkan ibu tirinya yang tadinya ia benci karena ia anggap wanita itu merebut ayahnya dari samping ibunya, bersikap demikian ramah dan baik. Mereka kini duduk mengitari sebuah meja bundar. Keharuan sudah mereda dan mereka dapat bersikap biasa, bahkan Prasetyo kini sudah berseri wajahnya, jelas dia berbahagia sekali dapat bertemu dengan puterinya. Tumenggung Jayatanu masih merasa penasaran dan dia berkata.
"Wah, aku telah salah sangka. Kukira tadi bahwa engkau adalah puteri Kerajaan Wura-Wuri yang dulu membantu persekutuan pemberontak dan kini datang untuk melakukan kekacauan!" katanya sambil tersenyum lebar.
"Tentu hanya merupakan persamaan nama yang kebetulan saja."
"Eyang tidak salah sangka. Memang sayalah Sekar Kedaton Wura-Wuri itu, Eyang."
"Apa...??" Tumenggung Jayatanu berseru kaget sambil bangkit berdiri dari kursinya. Juga Niken Harni, Dyah Mularsih, dan Nyai Tumenggung terkejut dan memandang kepada Puspa Dewi dengan mata terbelalak. Akan tetapi Prasetyo atau Senopati Yudajaya tetap tenang bahkan dia tertawa dan berkata.
"Kanjeng Rama dan semua saja harap jangan kaget dan khawatir. Saya telah mendengar dari Gusti Patih Narotama bahwa Puspa Dewi yang tadinya mewakili Wura-Wuri bersekutu dengan pemberontak itu telah mengubah sikap, berbalik membela Kahuripan dan menentang persekutuan pemberontak. Bahkan, Gusti Patih memerintahkan kepada saya dan pasukan khusus untuk menyelidiki di mana adanya Puspa Dewi dan mengundangnya ke istana karena Gusti Sinuhun berkenan ingin bertemu dengannya. Tadinya saya mengira bahwa tentu Puspa Dewi yang dimaksudkan sebagai puteri Wura-Wuri itu bukan anak saya, tentu hanya persamaan nama yang kebetulan saja. Akan tetapi, baru saja Puspa Dewi mengaku bahwa Sekar Kedaton Wura-Wuri itu memang ia orangnya! Nah, Puspa Dewi Anakku, engkau telah membuat kami semua menjadi heran, bingung dan bertanya-tanya. Apakah... apakah..." wajah Prasetyo berubah, jelas ia tampak rikuh dan segan mengajukan pertanyaan selanjutnya.
"Apakah apa, Ayah?" Puspa Dewi mendorongnya.
"Apakah... maaf, apakah Ibumu kini menjadi permaisuri di Wura-Wuri?"
Puspa Dewi menggeleng kepalanya.
"Sebelum aku memberi penjelasan dan menceritakan pengalaman Ibu dan saya, saya harap Ayah suka menceritakan dulu bagaimana dan mengapa Ayah dan Ibu sampai berpisah."

Prasetyo memandang kepada isterinya dan Dyah Mularsih berkata dengan lembut dan tenang.
"Kakangmas Prasetyo, tidak perlu sangsi dan bimbang, ceritakan saja semuanya. Anakmu Puspa Dewi memang berhak untuk mengetahui segalanya agar terhapus semua sangkaan yang keliru."
"Benar kata-kata isterimu itu. Keterbukaan itu penting sekali bagi sebuah keluarga agar terdapat saling pengertian. Kesalahan yang terlanjur dilakukan dapat ditebus dengan penyesalan dan pengakuan secara jujur." kata'Tumenggung Jayatanu.
Mendengar ucapan ibu tiri dan kakek tirinya itu, Puspa Dewi menjadi rikuh dan merasa tidak enak hati. Mereka begitu terbuka dan sikap mereka membayangkan bahwa mereka adalah keluarga yang terhormat dan baik budi.
"Baiklah, Puspa Dewi. Begini ceritanya. Aku menikah dengan Lasmi, Ibumu itu dan kami hidup berbahagia di kota raja ini di mana aku bekerja sebagai seorang perwira pengawal. Ketika Ibumu mengandung, ia minta pulang ke dusun Munggung agar kalau ia melahirkan, ia akan dekat dengan Ibunya yang akan merawatnya. Aku mengantarnya pulang ke Munggung."
"Ibu telah bercerita tentang itu kepada saya. Setelah Ibu tinggal di Munggung sampai saya terlahir, Ayah telah menikah lagi..." Puspa dewi memandang kepada Dyah Mularsih dan merasa rikuh.
"Maaf, Ibu... saya tidak bermaksud menuntut, hanya menceritakan yang sebenarnya."
Dyah Mularsih tersenyum.
"Tidak mengapa, Anakku, memang sudah semestinya begitu. Kami saling mencinta dan ketika aku mendengar bahwa Ayahmu telah beristeri, aku yang sudah terlanjur saling jatuh cinta, dapat menerima untuk menjadi isteri kedua."
"Begitulah, Puspa Dewi." Prasetyo melanjutkan.
"Sesungguhnya, tidak ada niatku semula untuk tidak setia kepada Lasmi. Akan tetapi, berbulan-bulan aku hidup seorang diri di kota raja, dan pada suatu hari, secara kebetulan aku menolong Ibumu ini, Dyah Mularsih, yang terancam bahaya karena kuda yang ditungganginya kabur dengan liar. Aku berhasil menyelamatkannya dan sejak saat itu, kami saling jatuh cinta. Akhirnya, karena akrab dengannya, aku harus bertanggung jawab menikahinya. Aku mengajak Ibumu yang telah melahirkan untuk kuboyong ke sini, akan tetapi Ibumu tidak mau, berkeras ia menolak untuk kuboyong ke rumah ini."
"Itu benar, Puspa Dewi. Bahkan aku sendiri yang mendesak Ayahmu agar Mbakyu Lasmi diboyong ke sini dan hidup satu keluarga dengan kami. Akan tetapi ia selalu menolak."
"Ibu juga telah menceritakan hal Itu. Ibu menolak karena merasa malu kalau harus tinggal di sini yang dianggapnya mondok di rumah madunya. Ia rela dimadu, akan tetapi Ibu yang merasa sebagai orang kecil yang miskin, tidak mau merendahkan diri. Saya kira hal ini tidak buruk karena kalau seorang wanita dusun yang miskin tidak memiliki harga diri, lalu apa yang ia miliki?"
“Ah, Cucuku!" kata Tumenggung Jayatanu.
"Ibumu seorang wanita yang berhati keras. Ia berkeras tidak mau pindah ke sini sehingga tentu saja amat sukar bagi Ayahmu memiliki dua orang istri yang tempat tinggalnya jauh terpisah. Setelah jelas Ibumu tidak mau pindah dan Ayahmu menjadi bingung, aku lalu minta Ayahmu mengambil keputusan dan bertanggung jawab. Tidak mungkin dia mempunyai dua orang isteri yang terpisah jauh tempat tinggalnya. Maka jalan satu-satunya adalah Ayahmu harus memilih salah satu, yaitu menceraikan Dyah Mularsih dan hidup bersama Ibumu, atau Ibumu dan hidup dengan kami di sini. Ya, itulah yang menjadikan persoalan, cucuku“ kata Tumenggung Jayatanu ".
"Ya, demikianlah, Puspa Dewi. Aku menjadi bingung sekali. Aku mendatangi Diajeng Lasmi dan kuceritakan hal itu. Kuceritakan bahwa aku merasa berat untuk menceraikan salah seorang, apalagi kedua orang isteriku sama-sama telah mempunyai anak. Lasmi mempunyai engkau dan Dyah Mularsih mempunyai Niken Harni ini. Aku menjadi serba salah dan aku masih seringkali berkunjung ke Munggung, bahkan ketika engkau baru berusia beberapa bulan, Ibumu diganggu dan hendak dikawin dengan paksa oleh Darsikun putera seorang demang. Ibumu menolak dan Bapak mertuaku, yaitu Ayah dari Ibumu, membela Lasmi akan tetapi dia malah tewas dibunuh. Pada saat itu aku datang dan kubunuh Darsikun dan dua orang tukang pukulnya. Setelah terjadi hal itu, tak lama kemudian, Nenekmu Ibu mertuaku, sakit-sakitan dan meninggal dunia pula. Kemudian, tanpa memberitahu kepadaku, Ibumu mengajak engkau pergi. Tidak ada orang mengetahui kemana perginya dan percayalah, kami berusaha mencari Ibumu akan tetapi gagal, Ibumu seolah-olah hilang tak meninggalkan jejak, dan tak tentu rimbanya." Prasetyo berhenti dan memandang kepada anaknya dengan sedih.
"Mbakyu Puspa Dewi, sejak aku dapat mengingat, Ayahku selalu berduka mengingat Ibu Lasmi dan engkau sehingga aku, Ibu, Kakek dan Nenek juga ikut bersedih. Semua keluarga mengharapkan dapat bertemu dan mengajak Ibu Lasmi dan engkau hidup bersama kami di sini." kata Niken Harni yang tadi ikut pula mengeluarkan air mata karena haru melihat ayahnya dan kakek tirinya.
"Nah, sekarang tiba giliranmu, Puspa Dewi. Ceritakanlah, apa yang terjadi dengan Ibumu dan engkau setelah meninggalkan Munggung?" tanya Prasetyo.

Daun pintu diketuk dan percakapan terhenti. Setelah diperbolehkan masuk, seorang pelayan datang membawa Baki (nampan) berisi cangkir-cangkir minuman. Setelah menaruh minuman di atas meja, Nyai Tumenggung memberi isyarat dengan tangannya agar pelayan itu cepat pergi meninggalkan ruangan itu.
"Baiklah, sekarang saya akan menceritakan semua, akan tetapi dengan singkat saja karena sesungguhnya amat tidak menyenangkan menceritakan semua pengalaman buruk itu. Menurut penuturan Ibuku, setelah meninggalkan Munggung Ibu membawa saya merantau dan selalu menyembunyikan nama agar tidak mudah dilacak ke mana Ibu pergi. Akhirnya, setelah merantau dengan susah payah, mengalami banyak penderitaan, berpindah-pindah dari satu dusun ke dusun lain, selalu memilih dusun yang sunyi terpencil, Ibu tinggal di dusun Karang Tirta, ketika itu saya berusia sekitar enam tahun."
"Kasihan Diajeng Lasmi." kata Prasetyo terharu.
“Ketika itu Ibumu sih muda, mengapa tidak menikah lagi?" tanya Tumenggung Jayatanu.
"Kata Ibu, selama itu memang banyak laki-laki yang meminangnya sebagai isteri, akan tetapi semua Ibu tolak karena Ibu hanya ingin hidup berdua dengan saya dan tidak ingin diganggu dengan kehadiran orang lain.

<<< Bagian 15                                                                                           Bagian 17 >>>

No comments:

Post a Comment