Kami tinggal di Karang Tirta dan Ibu merasa tenteram dan tenang di sana sehingga sampai bertahun-tahun kami tidak pindah lagi. Ketika saya berusia tiga belas tahun, terjadilah peristiwa yang mengubah sama sekali kehidupan Ibu dan saya. Saya diculik dan dibawa lari Nyi Dewi Durgakumala."
"Aduh!
Nyi Dewi Durgakumala, datuk sesat dari Wura-Wuri itu?" kata Tumenggung
Jayatanu kaget.
"Benar,
Eyang. Saya tidak boleh meninggalkannya dan kalau saya nekat tentu saya akan
dibunuhnya. Akan tetapi, ia bersikap baik sekali kepada saya. Ia mengambil saya
menjadi muridnya dan mengajarkan aji kanuragan kepada saya."
"Wah,
pantas engkau digdaya sekali, Mbakayu Puspa Dewi!" seru Niken Harni.
"Engkau
harus mengajarkan kesaktianmu kepadaku!"
"Niken,
biarkan Mbakayumu melanjutkan ceritanya dulu!" kata Prasetyo, menegur
puterinya.
"Akan
tetapi, Nyi Dewi Durgakumala terkenal sebagai seorang datuk wanita yang amat
jahat dan kejam...." kata Tumenggung Jayatanu dengan suara meragu sambil
menatap wajah Puspa Dewi, seolah dia khawatir mendengar gadis itu mempunyai
guru sejahat itu.
"Memang
benar. Eyang, la jahat sekali dan melakukan banyak kekejaman sehingga
seringkali bentrok dengan saya. Akan tetapi, ia menyayang saya dan menganggap
saya sebagai anaknya sendiri sehingga sering juga ia mendengar omongan saya dan
membatalkan perbuatan jahatnya. Kemudian, Nyi Dewi Durgakumala menjadi isteri
Adipati Bhismaprabhawa dari Wura-Wuri. Karena saya telah diakui sebagai anak
oleh Nyi Dewi Durgakurnala, maka dengan sendirinya saya menjadi Sekar Kedaton
Kerajaan Wura-Wuri. Sebagai puteri angkat Permaisuri Wura-Wuri, saya dijadikan
utusan yang mewakili Wura-Wuri dalam persekutuan para kadipaten yang bergabung
dengan pemberontak di Kahuripan, untuk menjatuhkan Sang Prabu Erlangga yang
mereka musuhi."
"Lalu
engkau diselundupkan ke istana Sang Prabu Erlangga sebagai pelayan pribadi
Selir Mandari, begitu yang kudengar sehingga aku mengira engkau tentu memusuhi
Kahuripan. Baru sekarang aku mendengar dari Prasetyo tadi bahwa engkau malah
membela Kahuripan dan menentang para pemberontak." kata Tumenggung
Jayatanu.
"Saya
tidak dapat menolak perintah Adipati Bhismaprabhawa dan Nyi Dewi Durgakumala maka
saya lalu berangkat ke Kahuripan dan secara rahasia bergabung dengan
persekutuan itu. Akan tetapi setelah saya bertemu dengan Ki Patih Narotama dan
Sang Prabu Erlangga, saya menjadi tahu bahwa Kahuripan dipimpin orang-orang
yang bijaksana, sebaliknya persekutuan itu terdiri dari orang-orang yang jahat
dan sesat. Maka setelah menyadari hal itu, saya membalik, membela Kahuripan dan
menentang persekutuan itu dapat dihancurkan, tentu saja saya tidak berani
kembali ke Wura-Wuri karena mereka tentu akan memusuhi saya yang telah
mengkhianati mereka."
"Engkau
sama sekali bukan pengkhianat, Puspa Dewi." kata Prasetyo.
"Engkau
adalah Anakku dan Lasmi. Kami berdua adalah kawula Kahuripan, maka engkau juga
kawida Kahuripan yang sudah semestinya membela Kahuripan dan menentang mereka
yang memusuhi Kahuripan. Akan tetapi, bagaimana dengan Ibumu?"
Puspa Dewi
merasa tidak enak sekali untuk menceritakan ibunya. Akan tetapi ia tidak dapat
mengelak dan memang lebih baik berterus terang, la pun siap membela ibunya
kalau dianggap bersalah.
"Sampai
saya berusia tiga belas tahun, selama itu Ibu tidak mau menjadi isteri orang
karena Ibu ingin hidup berdua dengan saya tanpa ada gangguan seorang suami yang
tentu akan menjadi Ayah tiriku. Akan tetapi saya diculik Nyi Dewi Durgakumala.
Ibu menjadi bingung dan kehilangan pegangan. Saya adalah satu-satunya orang
yang dekat dengannya dan menjadi tumpuan harapannya akan tetapi saya hilang
tanpa ada yang mengetahui ke mana saya dilarikan penculik. Dalam keadaan
bingung, gelisah, duka yang membuat Ibu putus asa itu, datang uluran tangan
dari Ki Lurah Suramenggala, lurah dusun Karang Tirta."
"Ah,
Lurah Suramenggala yang dipecat oleh Gusti Patih Narotama itu?" Tumenggung
Jayatanu berseru.
"Jadi
Eyang sudah mengetahui hal itu?"
"Aku
hanya mendengar bahwa Gusti Patih telah memecat Lurah Karang Tirta yang
dianggap nyeleweng dan Ki Suramenggala beserta seluruh keluarganya diusir
keluar dari dusun Karang Tirta. Lalu bagaimana selanjutnya dengan Ibumu?"
“Dalam keadaan
gelisah, bingung dan putus asa itu Ibu dihibur oleh Ki Lurah Suramenggala.
Sikap lurah itu baik sekali kepada Ibu, bahkan menjanjikan akan mencari saya
sampai dapat ditemukan. Tentu saja dalam keadaan seperti itu, datang uluran
tangan, Ibu berterima kasih sekali dan... dan Ibu tidak dapat menolak ketika Ki
Suramenggala mengambilnya menjadi selirnya." Puspa Dewi menghentikan
kata-katanya dan mengamati wajah ayahnya dengan penuh selidik untuk mengetahui
bagaimana tanggapan batin pria itu terhadap cerita tentang ibunya.
Sepasang alis
Prasetyo berkerut, dia mengangkat muka setelah tadi menunduk, memandang kepada
Puspa Dewi dan menghela napas panjang.
"Diajeng
Lasmi berhak untuk menikah lagi dengan pria mana pun yang ia sukai, malah
sebetulnya hal itu sudah sejak dulu ia lakukan."
Yang lain-lain
diam saja tidak memberi komentar karena maklum bahwa urusan itu rawan dan peka
sekali bagi perasaan Prasetyo dan terutama Puspa Dewi. Melihat sikap dan
mendengar ucapan ayahnya, Puspa Dewi merasa lega. Ayah kandungnya ini ternyata
seorang yang bijaksana. Andaikata ayahnya menyambut cerita itu dengan
memperlihatkan kemarahan, ia tentu akan menegur ayahnya untuk bercermin dan
melihat bahwa keadaan ibunya itu dialah yang menjadi sebabnya. Kini, melihat
sikap ayahnya, Puspa Dewi juga menghela napas panjang.
"Sayang
sekali, Ibu yang sedang kebingungan karena kehilangan saya itu, ternyata salah
lihat, dan salah pilih. Lurah itu bagaikan musang berbulu ayam atau srigala
bermuka domba. Dia menolong Ibu bukan karena dia merasa iba, bukan karena
kebaikan hatinya, melainkan karena memang sejak dulu dia menaksir Ibu. Maka
dapat dibayangkan betapa kesengsaraan Ibu semakin parah, sudah kehilangan saya,
bertambah lagi menjadi selir orang yang ternyata berwatak buruk dan
jahat."
"Duh
Gusti.... kasihan Diajeng Lasmi, terlunta-lunta dan semua itu gara-gara
aku..." Prasetyo mengeluh.
"Yang
bersalah adalah aku." kata Dyah Mularsih sambil menundukkan mukanya.
"Aku
telah merampas Kakangmas Prasetyo dari Ibumu, Puspa Dewi."
"Tidak,
Akulah yang bersalah!" kata Tumenggung Jayatanu.
"Kalau
aku membiarkan Prasetyo tinggal di rumahnya sendiri, tentu hal ini tidak
berlarut-larut."
"Akan
tetapi rumah sebesar ini, apakah harus ditinggali kita berdua saja?" Nyai
Tumenggung membantah suaminya, lalu berpaling kepada Puspa Dewi.
"Puspa Dewi,
aku tidak tahan untuk berpisah dari Anakku Dyah Mularsih adalah Anakku
satu-satunya, bagaimana mungkin kami membiarkan ia pergi ikut suaminya pindah
ke rumah lain membiarkan kami berdua orang tua kesepian dalam rumah sebesar
ini? Aku memang bersalah, karena akulah yang membujuk Eyangmu untuk melarang
agar Dyah Mularsih jangan pindah meninggalkan kami."
Mendengar
ucapan mereka dan melihat betapa mereka itu bersungguh-sungguh merasa bersalah
dan menyatakan penyesalan mereka dalam suara mereka, Puspa Dewi menghela napas
panjang dan berkata,
"Sesungguhnya,
Ibuku juga bersalah, la terlalu keras hati dan berkukuh tidak mau diboyong Ayah
ke sini, andaikata ketika itu ia mau, tentu tidak timbul persoalan lagi."
Tiba-tiba
terdengar suara tawa yang tentu saja terdengar janggal dan memecahkan suasana
haru dan serius tadi. Suara tawa merdu dari mulut Niken Harni.
"He-he-he-hi-hik!
Semua orang mengaku salah. Eyang Kakung (Kakek) bersalah, Eyang Puteri (Nenek)
bersalah, Ayah bersalah, Ibu bersalah, dan menurut Mbakayu Puspa Dewi, Ibu
Lasmi juga bersalah! Mbakayu Puspa Dewi, lalu kita berdua ini bagaimana? Apakah
kita berdua sebagai Anak-anak mereka juga bersalah?"
Puspa Dewi
tertawa dan semua orang tertawa sehingga suasananya berubah gembira. Ternyata
pengakuan bersalah dari dirinya sendiri itu mendatangkan kelegaan yang
membangkitkan kegembiraan!
"Yah,
beginilah seharusnya. Dunia penuh pertikaian, permusuhan, semua itu dikarenakan
setiap orang merasa benar sendiri dan mencari-cari kesalahan orang lain
sehingga saling menyalahkan yang menimbulkan permusuhan. Kalau saja kita
masing-masing mencari dan menemukan lalu berani mengakui kesalahan sendiri
masing-masing, dunia ini tentu akan damai dan tenteram. Pertaubatan dan
pembaharuan langkah hidup dimulai dengan pengakuan kesalahan diri
sendiri." kata Tumenggung Jayatanu. Semua orang terdiam dan ucapan itu
mendatangkan kesan mendalam.
"Puspa
Dewi, lalu bagaimana dengan Ibumu? Bagaimana keadaannya sekarang dan di mana ia
berada?" Tanya Prasetyo atau Senopati Yudajaya.
"Tadi Eyang
Tumenggung sudah menceritakan bahwa Gusti Patih Narotama membikin pembersihan
di dusun Karang Tirta. Ki Lurah Suramenggala dipecat dan diusir dari Karang
Tirta. Ibu menggunakan kesempatan ini untuk membebaskan diri dari Ki
Suramenggala dan tidak mau ikut dia pergi. Ibu lalu diterima oleh Ki
Pujosaputro beserta keluarganya. Ki Pujosaputro adalah lurah baru Karang Tirta
hasil pilihan penduduk dusun itu dan disahkan oleh Gusti Patih Narotama. Semua
yang terjadi itu saya ketahui dari penuturan Ibu. Ketika saya berada di sana,
pada suatu hari datang lima orang senopati Wura-Wuri yang diperintahkan Adipati
Bhismaprabhawa untuk menangkap saya. Tentu saja saya tidak mau dan terjadi
perkelahian. Saya dikeroyok lima orang senopati itu. Kemudian mereka bertindak curang.
Seorang di antara mereka menangkap Ibuku dan mengancam saya untuk menyerah,
kalau tidak mereka akan membunuh Ibuku."
"Wah,
licik! Curang! Kalau aku berada di sana, tentu aku akan membantumu, Mbakayu
Puspa Dewi!" teriak Niken Harni sambil bangkit berdiri dan mengepal kedua
tangannya!
"Niken,
biarkan Mbakayumu melanjutkan ceritanya." Kata Prasetyo dan Niken Harni
duduk kembali.
"Pada
saat yang gawat karena saya meragu harus berbuat apa, dan Ibu berteriak agar
aku tidak menyerah, tiba-tiba muncul seorang kakek yang sakti mandraguna dan
dia membuat lima orang Wura-Wuri itu ketakutan dan melarikan diri. Kakek itu
lalu pergi begitu saja. Saya merasa kagum dan penasaran. Saya kejar dia dan
akhirnya setelah kami berkejaran semalam suntuk, kakek itu mengalah dan
berhenti. Beliau lalu memberi pelajaran kepada saya selama tiga bulan."
"Mbakayu
Puspa Dewi, siapakah Kakek itu? Kalau dia begitu sakti mandraguna, saya pun
ingin menjadi muridnya!"
"Nama
beliau adalah Sang Maha Resi Satyadharma dari Gunung Agung di Bali-dwipa."
"Jagad
Dewa Bathara....!" Tumenggung Jayatanu berseru dengan kagum dan heran.
"Maha
Resi Satyadarma? Beliau adalah guru Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih
Narotama!"
"Benar,
Eyang. Beliau juga memberitahu saya akan hal itu."
"Waduh!
Hebat engkau, Mbakayu! Engkau menjadi saudara seperguruan Gusti Sinuhun dan
Gusti Patih!"
"Ah, mana
bisa dikatakan begitu, Niken. Kedua Beliau itu adalah murid-murid Eyang Maha
Resi Satyadharma selama bertahun-tahun, sedangkan aku hanya mendapat polesan
selama tiga bulan saja."
"Niken,
jangan memotong cerita Mbakayumul" Nyai Tumenggung menegur cucunya.
"Baik...
baik...!" Niken cemberut manja.
"Nah,
silakan melanjutkan ceritamu, Mbakayu Dewi."
"Setelah
membimbing saya selama tiga bulan, Eyang Resi lalu berpisah dari saya dan saya
langsung pergi ke kota raja untuk mencari Ayah dan menceritakan segala hal
mengenai Ibu. Sungguh menyesal sekali kedatangan saya menimbulkan kekacauan,
Eyang. Mohon diampuni kelancangan saya."
Tumenggung
Jayatanu, isterinya, juga Prasetyo dan Dyah Mularsih, merasa terharu mendengar
ucapan terakhir Puspa Dewi itu.
"Ah, itu
hanya kesalahpahaman di pihak kami, Puspa Dewi." kata Tumenggung Jayatanu.
"Niken
Harni, engkau mendengar semua cerita Mbakayumu tadi? Nah, contohlah sikap dan
sepak terjang Mbakayumu itu, jangan sekali-kali bersikap tinggi hati dan
manja."
Niken
cemberut.
"Aih,
Ibu...! Siapa sih yang tinggi hati dan manja?"
"Jadi
sekarang Diajeng Lasmi masih berada di Karang Tirta?"
"Benar,
Ayah. Di rumah Ki Lurah Pujosaputro."
"Kalau
begitu, kita berangkat ke sana, sekarang juga untuk menjemputnya!"
"Aku
ikut, Ayah!" kata Niken Harni.
"Sebaiknya
kita semua pergi ke sana beramai-ramai menjemput Mbakayu Lasmi. Dengan begitu
ia tentu maklum akan maksud baik kita dan mau ikut ke sini." kata Dyah
Mularsih.
"Isterimu
benar, Prasetyo. Akan tetapi sebelum kita pergi ke Karang Tirta, aku ingin
lebih dulu menghadapkan Puspa Dewi kepada Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih
Narotama karena memang aku pernah ditugaskan untuk mencari Puspa Dewi dan
membawanya menghadap ke istana. Puspa Dewi, engkau tidak keberatan untuk
menghadap kedua Beliau itu, bukan?"
No comments:
Post a Comment