Nurseta Satria Karangtirta ; Bagian 17


Kami tinggal di Karang Tirta dan Ibu merasa tenteram dan tenang di sana sehingga sampai bertahun-tahun kami tidak pindah lagi. Ketika saya berusia tiga belas tahun, terjadilah peristiwa yang mengubah sama sekali kehidupan Ibu dan saya. Saya diculik dan dibawa lari Nyi Dewi Durgakumala."
"Aduh! Nyi Dewi Durgakumala, datuk sesat dari Wura-Wuri itu?" kata Tumenggung Jayatanu kaget.
"Benar, Eyang. Saya tidak boleh meninggalkannya dan kalau saya nekat tentu saya akan dibunuhnya. Akan tetapi, ia bersikap baik sekali kepada saya. Ia mengambil saya menjadi muridnya dan mengajarkan aji kanuragan kepada saya."
"Wah, pantas engkau digdaya sekali, Mbakayu Puspa Dewi!" seru Niken Harni.
"Engkau harus mengajarkan kesaktianmu kepadaku!"
"Niken, biarkan Mbakayumu melanjutkan ceritanya dulu!" kata Prasetyo, menegur puterinya.
"Akan tetapi, Nyi Dewi Durgakumala terkenal sebagai seorang datuk wanita yang amat jahat dan kejam...." kata Tumenggung Jayatanu dengan suara meragu sambil menatap wajah Puspa Dewi, seolah dia khawatir mendengar gadis itu mempunyai guru sejahat itu.
"Memang benar. Eyang, la jahat sekali dan melakukan banyak kekejaman sehingga seringkali bentrok dengan saya. Akan tetapi, ia menyayang saya dan menganggap saya sebagai anaknya sendiri sehingga sering juga ia mendengar omongan saya dan membatalkan perbuatan jahatnya. Kemudian, Nyi Dewi Durgakumala menjadi isteri Adipati Bhismaprabhawa dari Wura-Wuri. Karena saya telah diakui sebagai anak oleh Nyi Dewi Durgakurnala, maka dengan sendirinya saya menjadi Sekar Kedaton Kerajaan Wura-Wuri. Sebagai puteri angkat Permaisuri Wura-Wuri, saya dijadikan utusan yang mewakili Wura-Wuri dalam persekutuan para kadipaten yang bergabung dengan pemberontak di Kahuripan, untuk menjatuhkan Sang Prabu Erlangga yang mereka musuhi."
"Lalu engkau diselundupkan ke istana Sang Prabu Erlangga sebagai pelayan pribadi Selir Mandari, begitu yang kudengar sehingga aku mengira engkau tentu memusuhi Kahuripan. Baru sekarang aku mendengar dari Prasetyo tadi bahwa engkau malah membela Kahuripan dan menentang para pemberontak." kata Tumenggung Jayatanu.
"Saya tidak dapat menolak perintah Adipati Bhismaprabhawa dan Nyi Dewi Durgakumala maka saya lalu berangkat ke Kahuripan dan secara rahasia bergabung dengan persekutuan itu. Akan tetapi setelah saya bertemu dengan Ki Patih Narotama dan Sang Prabu Erlangga, saya menjadi tahu bahwa Kahuripan dipimpin orang-orang yang bijaksana, sebaliknya persekutuan itu terdiri dari orang-orang yang jahat dan sesat. Maka setelah menyadari hal itu, saya membalik, membela Kahuripan dan menentang persekutuan itu dapat dihancurkan, tentu saja saya tidak berani kembali ke Wura-Wuri karena mereka tentu akan memusuhi saya yang telah mengkhianati mereka."
"Engkau sama sekali bukan pengkhianat, Puspa Dewi." kata Prasetyo.
"Engkau adalah Anakku dan Lasmi. Kami berdua adalah kawula Kahuripan, maka engkau juga kawida Kahuripan yang sudah semestinya membela Kahuripan dan menentang mereka yang memusuhi Kahuripan. Akan tetapi, bagaimana dengan Ibumu?"

Puspa Dewi merasa tidak enak sekali untuk menceritakan ibunya. Akan tetapi ia tidak dapat mengelak dan memang lebih baik berterus terang, la pun siap membela ibunya kalau dianggap bersalah.
"Sampai saya berusia tiga belas tahun, selama itu Ibu tidak mau menjadi isteri orang karena Ibu ingin hidup berdua dengan saya tanpa ada gangguan seorang suami yang tentu akan menjadi Ayah tiriku. Akan tetapi saya diculik Nyi Dewi Durgakumala. Ibu menjadi bingung dan kehilangan pegangan. Saya adalah satu-satunya orang yang dekat dengannya dan menjadi tumpuan harapannya akan tetapi saya hilang tanpa ada yang mengetahui ke mana saya dilarikan penculik. Dalam keadaan bingung, gelisah, duka yang membuat Ibu putus asa itu, datang uluran tangan dari Ki Lurah Suramenggala, lurah dusun Karang Tirta."
"Ah, Lurah Suramenggala yang dipecat oleh Gusti Patih Narotama itu?" Tumenggung Jayatanu berseru.
"Jadi Eyang sudah mengetahui hal itu?"
"Aku hanya mendengar bahwa Gusti Patih telah memecat Lurah Karang Tirta yang dianggap nyeleweng dan Ki Suramenggala beserta seluruh keluarganya diusir keluar dari dusun Karang Tirta. Lalu bagaimana selanjutnya dengan Ibumu?"
“Dalam keadaan gelisah, bingung dan putus asa itu Ibu dihibur oleh Ki Lurah Suramenggala. Sikap lurah itu baik sekali kepada Ibu, bahkan menjanjikan akan mencari saya sampai dapat ditemukan. Tentu saja dalam keadaan seperti itu, datang uluran tangan, Ibu berterima kasih sekali dan... dan Ibu tidak dapat menolak ketika Ki Suramenggala mengambilnya menjadi selirnya." Puspa Dewi menghentikan kata-katanya dan mengamati wajah ayahnya dengan penuh selidik untuk mengetahui bagaimana tanggapan batin pria itu terhadap cerita tentang ibunya.
Sepasang alis Prasetyo berkerut, dia mengangkat muka setelah tadi menunduk, memandang kepada Puspa Dewi dan menghela napas panjang.
"Diajeng Lasmi berhak untuk menikah lagi dengan pria mana pun yang ia sukai, malah sebetulnya hal itu sudah sejak dulu ia lakukan."
Yang lain-lain diam saja tidak memberi komentar karena maklum bahwa urusan itu rawan dan peka sekali bagi perasaan Prasetyo dan terutama Puspa Dewi. Melihat sikap dan mendengar ucapan ayahnya, Puspa Dewi merasa lega. Ayah kandungnya ini ternyata seorang yang bijaksana. Andaikata ayahnya menyambut cerita itu dengan memperlihatkan kemarahan, ia tentu akan menegur ayahnya untuk bercermin dan melihat bahwa keadaan ibunya itu dialah yang menjadi sebabnya. Kini, melihat sikap ayahnya, Puspa Dewi juga menghela napas panjang.
"Sayang sekali, Ibu yang sedang kebingungan karena kehilangan saya itu, ternyata salah lihat, dan salah pilih. Lurah itu bagaikan musang berbulu ayam atau srigala bermuka domba. Dia menolong Ibu bukan karena dia merasa iba, bukan karena kebaikan hatinya, melainkan karena memang sejak dulu dia menaksir Ibu. Maka dapat dibayangkan betapa kesengsaraan Ibu semakin parah, sudah kehilangan saya, bertambah lagi menjadi selir orang yang ternyata berwatak buruk dan jahat."
"Duh Gusti.... kasihan Diajeng Lasmi, terlunta-lunta dan semua itu gara-gara aku..." Prasetyo mengeluh.
"Yang bersalah adalah aku." kata Dyah Mularsih sambil menundukkan mukanya.
"Aku telah merampas Kakangmas Prasetyo dari Ibumu, Puspa Dewi."
"Tidak, Akulah yang bersalah!" kata Tumenggung Jayatanu.
"Kalau aku membiarkan Prasetyo tinggal di rumahnya sendiri, tentu hal ini tidak berlarut-larut."
"Akan tetapi rumah sebesar ini, apakah harus ditinggali kita berdua saja?" Nyai Tumenggung membantah suaminya, lalu berpaling kepada Puspa Dewi.
"Puspa Dewi, aku tidak tahan untuk berpisah dari Anakku Dyah Mularsih adalah Anakku satu-satunya, bagaimana mungkin kami membiarkan ia pergi ikut suaminya pindah ke rumah lain membiarkan kami berdua orang tua kesepian dalam rumah sebesar ini? Aku memang bersalah, karena akulah yang membujuk Eyangmu untuk melarang agar Dyah Mularsih jangan pindah meninggalkan kami."

Mendengar ucapan mereka dan melihat betapa mereka itu bersungguh-sungguh merasa bersalah dan menyatakan penyesalan mereka dalam suara mereka, Puspa Dewi menghela napas panjang dan berkata,
"Sesungguhnya, Ibuku juga bersalah, la terlalu keras hati dan berkukuh tidak mau diboyong Ayah ke sini, andaikata ketika itu ia mau, tentu tidak timbul persoalan lagi."
Tiba-tiba terdengar suara tawa yang tentu saja terdengar janggal dan memecahkan suasana haru dan serius tadi. Suara tawa merdu dari mulut Niken Harni.
"He-he-he-hi-hik! Semua orang mengaku salah. Eyang Kakung (Kakek) bersalah, Eyang Puteri (Nenek) bersalah, Ayah bersalah, Ibu bersalah, dan menurut Mbakayu Puspa Dewi, Ibu Lasmi juga bersalah! Mbakayu Puspa Dewi, lalu kita berdua ini bagaimana? Apakah kita berdua sebagai Anak-anak mereka juga bersalah?"
Puspa Dewi tertawa dan semua orang tertawa sehingga suasananya berubah gembira. Ternyata pengakuan bersalah dari dirinya sendiri itu mendatangkan kelegaan yang membangkitkan kegembiraan!
"Yah, beginilah seharusnya. Dunia penuh pertikaian, permusuhan, semua itu dikarenakan setiap orang merasa benar sendiri dan mencari-cari kesalahan orang lain sehingga saling menyalahkan yang menimbulkan permusuhan. Kalau saja kita masing-masing mencari dan menemukan lalu berani mengakui kesalahan sendiri masing-masing, dunia ini tentu akan damai dan tenteram. Pertaubatan dan pembaharuan langkah hidup dimulai dengan pengakuan kesalahan diri sendiri." kata Tumenggung Jayatanu. Semua orang terdiam dan ucapan itu mendatangkan kesan mendalam.
"Puspa Dewi, lalu bagaimana dengan Ibumu? Bagaimana keadaannya sekarang dan di mana ia berada?" Tanya Prasetyo atau Senopati Yudajaya.
"Tadi Eyang Tumenggung sudah menceritakan bahwa Gusti Patih Narotama membikin pembersihan di dusun Karang Tirta. Ki Lurah Suramenggala dipecat dan diusir dari Karang Tirta. Ibu menggunakan kesempatan ini untuk membebaskan diri dari Ki Suramenggala dan tidak mau ikut dia pergi. Ibu lalu diterima oleh Ki Pujosaputro beserta keluarganya. Ki Pujosaputro adalah lurah baru Karang Tirta hasil pilihan penduduk dusun itu dan disahkan oleh Gusti Patih Narotama. Semua yang terjadi itu saya ketahui dari penuturan Ibu. Ketika saya berada di sana, pada suatu hari datang lima orang senopati Wura-Wuri yang diperintahkan Adipati Bhismaprabhawa untuk menangkap saya. Tentu saja saya tidak mau dan terjadi perkelahian. Saya dikeroyok lima orang senopati itu. Kemudian mereka bertindak curang. Seorang di antara mereka menangkap Ibuku dan mengancam saya untuk menyerah, kalau tidak mereka akan membunuh Ibuku."
"Wah, licik! Curang! Kalau aku berada di sana, tentu aku akan membantumu, Mbakayu Puspa Dewi!" teriak Niken Harni sambil bangkit berdiri dan mengepal kedua tangannya!
"Niken, biarkan Mbakayumu melanjutkan ceritanya." Kata Prasetyo dan Niken Harni duduk kembali.
"Pada saat yang gawat karena saya meragu harus berbuat apa, dan Ibu berteriak agar aku tidak menyerah, tiba-tiba muncul seorang kakek yang sakti mandraguna dan dia membuat lima orang Wura-Wuri itu ketakutan dan melarikan diri. Kakek itu lalu pergi begitu saja. Saya merasa kagum dan penasaran. Saya kejar dia dan akhirnya setelah kami berkejaran semalam suntuk, kakek itu mengalah dan berhenti. Beliau lalu memberi pelajaran kepada saya selama tiga bulan."
"Mbakayu Puspa Dewi, siapakah Kakek itu? Kalau dia begitu sakti mandraguna, saya pun ingin menjadi muridnya!"
"Nama beliau adalah Sang Maha Resi Satyadharma dari Gunung Agung di Bali-dwipa."
"Jagad Dewa Bathara....!" Tumenggung Jayatanu berseru dengan kagum dan heran.
"Maha Resi Satyadarma? Beliau adalah guru Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama!"
"Benar, Eyang. Beliau juga memberitahu saya akan hal itu."
"Waduh! Hebat engkau, Mbakayu! Engkau menjadi saudara seperguruan Gusti Sinuhun dan Gusti Patih!"
"Ah, mana bisa dikatakan begitu, Niken. Kedua Beliau itu adalah murid-murid Eyang Maha Resi Satyadharma selama bertahun-tahun, sedangkan aku hanya mendapat polesan selama tiga bulan saja."
"Niken, jangan memotong cerita Mbakayumul" Nyai Tumenggung menegur cucunya.
"Baik... baik...!" Niken cemberut manja.
"Nah, silakan melanjutkan ceritamu, Mbakayu Dewi."
"Setelah membimbing saya selama tiga bulan, Eyang Resi lalu berpisah dari saya dan saya langsung pergi ke kota raja untuk mencari Ayah dan menceritakan segala hal mengenai Ibu. Sungguh menyesal sekali kedatangan saya menimbulkan kekacauan, Eyang. Mohon diampuni kelancangan saya."
Tumenggung Jayatanu, isterinya, juga Prasetyo dan Dyah Mularsih, merasa terharu mendengar ucapan terakhir Puspa Dewi itu.
"Ah, itu hanya kesalahpahaman di pihak kami, Puspa Dewi." kata Tumenggung Jayatanu.
"Niken Harni, engkau mendengar semua cerita Mbakayumu tadi? Nah, contohlah sikap dan sepak terjang Mbakayumu itu, jangan sekali-kali bersikap tinggi hati dan manja."
Niken cemberut.
"Aih, Ibu...! Siapa sih yang tinggi hati dan manja?"
"Jadi sekarang Diajeng Lasmi masih berada di Karang Tirta?"
"Benar, Ayah. Di rumah Ki Lurah Pujosaputro."
"Kalau begitu, kita berangkat ke sana, sekarang juga untuk menjemputnya!"
"Aku ikut, Ayah!" kata Niken Harni.
"Sebaiknya kita semua pergi ke sana beramai-ramai menjemput Mbakayu Lasmi. Dengan begitu ia tentu maklum akan maksud baik kita dan mau ikut ke sini." kata Dyah Mularsih.
"Isterimu benar, Prasetyo. Akan tetapi sebelum kita pergi ke Karang Tirta, aku ingin lebih dulu menghadapkan Puspa Dewi kepada Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama karena memang aku pernah ditugaskan untuk mencari Puspa Dewi dan membawanya menghadap ke istana. Puspa Dewi, engkau tidak keberatan untuk menghadap kedua Beliau itu, bukan?"

<<< Bagian 16                                                                                          Bagian 18 >>>

No comments:

Post a Comment