Nurseta Satria Karangtirta ; Bagian 18


"Tentu saja tidak, Eyang. Kalau memang Gusti Sinuhun dan Gusti Patih memanggil saya, saya akan menghadap dengan senang hati."

Puspa Dewi diterima oleh keluarga Tumenggung Jayatanu sebagai keluarga sendiri sehingga ia merasa senang. Apalagi kalau membayangkan bahwa ibunya akan diterima pula, bersatu dengan ayahnya, hatinya merasa gembira sekali. Setelah tinggal semalam di gedung tumenggungan itu, pada keesokan harinya Tumenggung Jayatanu mengajak Puspa Dewi untuk menghadap Ki Patih Narotama di kepatihan. Kebetulan sekali Ki Patih berada di rumah sehingga mereka dapat diterima langsung. Ki Patih Narotama menerima mereka di ruangan depan dan wajahnya berseri ketika dia mengenal siapa yang datang bersama Tumenggung Jayatanu.
"Ah, kiranya Paman Tumenggung Jayatanu yang datang. Dan ini... bukankah Puspa Dewi...? Silakan duduk, mari silakan duduk di sini." Ki Patih menerima sembah mereka dan mempersilakan duduk di atas kursi, berhadapan dengan dia.
Ki Patih Narotama memang bersikap lembut dan ramah kepada para pamong praja yang menjadi bawahannya. Dia tidak mau kalau dia dihormati secara berlebihan seperti seorang raja dan selalu menerima para bawahannya dengan sama-sama duduk di atas kursi.
"Paman Tumenggung, saya merasa gembira sekali Paman datang membawa Puspa Dewi."
"Sesungguhnya, Gusti Patih, saya juga merasa berbahagia sekali dapat bertemu dengan Cucu saya ini dan membawanya ke hadapan Paduka."
"Cucu? Apakah Puspa Dewi ini cucumu, Paman?"
"Benar, Gusti, ia adalah Cucu saya, maksud saya Cucu tiri, karena dia adalah anak kandung mantu saya Senopati Yudajaya dari isteri yang pertama."
"Hemm, benarkah ini, Puspa Dewi? Setahuku Andika adalah murid Nyi Durgakumala, bahkan kemudian Andika menjadi Sekar Kedaton Wura-Wuri ketika Gurumu yang mengangkatmu sebagai anak Ibu menjadi permaisuri Wura-Wuri! Bagaimanakah sebetulnya semua ini? Coba jelaskan agar aku tidak menjadi ragu dan bingung."

Puspa Dewi menyembah, la pernah bertemu dengan Ki Patih Narotama ini. Bahkan ketika itu, ia mencari Ki Patih Narotama untuk membunuhnya atas perintah gurunya, Nyi Dewi Durgakumala yang mendendam kepada patih itu. Akan tetapi, selain ia tidak mampu menandingi Ki Patih Narotama yang sakti mandraguna, juga sebaliknya patih itu memberi wejangan-wejangan yang menyadarkan pikiran dan membuka mata batinnya bahwa gurunya adalah seorang yang amat sesat. Pertemuannya dengan Nurseta, dan terutama dengan Ki Patih Narotama inilah yang membuat ia sadar dan mendorongnya untuk membela Kahuripan dan menentang persekutuan pemberontak yang berusaha menggulingkan Sang Prabu Erlangga dari tahta. Maka, gadis ini amat menghormati Ki Patih Narotama dan sebelum menjawab pertanyaan tadi, ia lebih dulu menyembah dengan hormat.
"Memang riwayat hamba agak ruwet, Gusti. Hamba sendiri baru saja mengetahui siapa Ayah hamba dan bahwa Eyang Tumenggung ini adalah Eyang hamba. Ketika hamba masih kecil, Ibu hamba berpisah dari Ayah hamba dan tinggal di dusun Karang Tirta."
"Hemm, sekarang aku ingat. Ketika aku melakukan penyelidikan ke Karang Tirta, aku mendengar bahwa Ki Suramenggala mempunyai dua orang anak yang digdaya, puteranya sendiri adalah si Linggajaya yang jahat itu dan puteri tirinya adalah Puspa Dewi. Kemudian setelah aku mengusir Ki Suramenggala, aku melihat Nyi Lasmi yang tidak mau ikut dan menangis, menceritakan bahwa ia terpaksa menjadi selir Ki Suramenggala yang hidup sewenang-wenang sebagai lurah di Karang Tirta. Nyi Lasmi itukah Ibumu?"
"Benar, Gusti. Hamba diaku sebagai anak oleh guru hamba, Nyi Dewi Durgarkumala dan setelah guru hamba menjadi permaisuri Kerajaan Wura-Wuri hamba menjadi Sekar Keraton. Maka hamba tidak dapat menolak ketika hamba diutus menjadi wakil Wura-Wuri untuk bergabung dengan kadipaten lain yang berusaha untuk menjatuhkan Sang Prabu Erlangga dari tahta. Akan tetapi setelah melihat kenyataan bahwa Kahuripan berada di pihak benar dan para kadipaten yang bersekutu dengan pemberontak Pangeran Hendratama adalah pihak yang sesat, hamba mengambil keputusan untuk berbalik membela Kahuripan dan menentang persekutuan itu."
"Ya, untuk itu Sang Prabu Erlangga dan aku merasa gembira dan berterima kasih kepadamu, Puspa Dewi. Maka para senopati termasuk Paman Tumenggung Jayatanu dipesan agar mencarimu dan kalau bertemu denganmu mengajak engkau datang menghadap. Lanjutkan ceritamu."
"Setelah perang usai, hamba kembali ke Karang Tirta dan mendengar bahwa Ibu hamba telah dapat terbebas dari Ki Suramenggala, hamba merasa lega karena sesungguhnya hamba juga tidak suka mempunyai Ayah tiri seperti Ki Suramenggala yang kejam dan jahat. Ketika itu, Ibu hamba berterus terang kepada hamba bahwa Ayah kandung hamba sesungguhnya belum mati seperti yang ia ceritakan sebelumnya. Setelah ia menceritakan tentang Ayah kandung hamba, hamba lalu mencarinya ke kota raja dan akhirnya hamba bertemu dengan Ayah kandung hamba, juga dengan Eyang Tumenggung Jayatanu dan semua keluarganya. Nah, demikianlah Gusti Patih dan atas kehendak Eyang Tumenggung, sekarang hamba dibawa menghadap Paduka."

Ki Patih Narotama mengangguk-angguk.
"Bagus sekali, dan aku ikut merasa gembira bahwa akhirnya engkau dapat bertemu kembali dengan Ayahmu Senopati Yudajaya dan keluarganya dan lebih senang lagi bahwa engkau telah menyadari bahwa sudah semestinya engkau membela Kahuripan karena engkau kawula Kahuripan mengingat bahwa Karang Tirta adalah wilayah Kahuripan, Puspa Dewi. Sekarang, marilah engkau dan Paman Tumenggung kuantar menghadap Gusti Sinuhun."
Mereka bertiga lalu pergi ke istana dan seperti biasa, Ki Patih Narotama adalah satu-satunya pembantu Sang Prabu Erlangga yang dengan mudah dapat keluar masuk istana tanpa pengawasan atau pertanyaan. Ketika pengawal dalam keraton melaporkan, Sang Prabu Erlangga dengan gembira siap menerima Ki Patih Narotama yang membawa Tumenggung Jayatanu dan Puspa Dewi datang menghadap. Sang Prabu Erlangga juga menyatakan kegembiraan hatinya, dan berterima kasih kepada Puspa Dewi akan apa yang pernah ia lakukan ketika ia membela Kahuripan dan menentang persekutuan di mana ia tadinya menjadi wakil. Akan tetapi ketika Sang Prabu Erlangga menawarkan kedudukan sebagai perwira pengawal wanita yang menjaga keselamatan para penghuni istana bagian keputren, Puspa Dewi menolak halus dengan sembah.
"Mohon beribu ampun, Gusti. Bukan hamba semata menolak anugerah yang Paduka berikan kepada hamba. Hamba menghaturkan banyak terima kasih dan hamba merasa berbahagia sekali atas kemurahan hati Paduka kepada hamba. Akan tetapi, Gusti, pada waktu ini hamba masih ingin bebas dari semua ikatan. Hamba ingin merasakan kebahagiaan hidup berkumpul dengan kedua orang tua hamba, hal yang sejak kecil hamba rindukan. Walaupun hamba tidak menjadi seorang punggawa, namun setiap saat hamba siap membela kerajaan Paduka apabila ada pihak yang mengganggu, Gusti."
Sang Prabu Erlangga mengangguk-angguk, tersenyum.
"Kami dapat memaklumi pendirianmu itu, Puspa Dewi. Baiklah, kami pasti akan menghubungimu apa bila kami membutuhkan bantuan. Sekarang terimalah hadiah dari kami ini. Pusaka yang berbentuk patrem ini disebut Sang Cundrik Arum, hasil tempaan Sang Empu Ramahadi di jaman Jawa Kandha. Pernah menjadi pusaka ageman (pakaian) Sang Permaisuri Bathari Nawangsih dari Kerajaan Medang Kamulan. Pusaka ini, selain ampuh dan memiliki daya pelindung dan penyembuhan, juga dengan memegang pusaka ini Andika dapat memasuki istana kami sewaktu-waktu sebagai seorang kepercayaan kami, Puspa Dewi."
Puspa Dewi merasa senang, bangga dan terharu menerima pusaka yang tak ternilai harganya itu. Ia berlutut menyembah, menerima pusaka berbentuk patrem atau cundrik itu sambil menghaturkan banyak terima kasih. Setelah menerima hadiah lain berupa beberapa perangkat pakaian berikut perhiasan yang serba indah, Puspa Dewi diperkenankan mundur bersama Tumenggung Jayatanu, sedangkan Ki Patih Narotama masih tinggal di istana untuk berbincang-bincang dengan Sang Prabu Erlangga.

Dapat dibayangkan betapa bahagianya hati Puspa Dewi. Senopati Yudajaya atau Prasetyo, ayah Puspa Dewi dan seluruh keluarga Sang Tumenggung ikut merasa senang. Kemudian keluarga itu berkemas dan pada hari yang sudah mereka pilih dan tentukan, berangkatlah keluarga yang terdiri dari Tumenggung Jayatanu, Nyai Tumenggung, Senopati Yudajaya, Dyah Mularsih, Niken Harni, Puspa Dewi dan selosin perajurit pengawal berikut kusirnya, dalam dua buah kereta, menuju ke dusun Karang Tirta. Dusun Karang Tirta kini merupakan dusun yang jauh lebih makmur dibandingkan tahun-tahun yang lalu. Rumah-rumah para penduduk telah diperbaiki semua. Juga melihat pakaian mereka dan keadaan kesehatan tubuh mereka, mudah diketahui bahwa seluruh penduduk dusun itu sudah terangkat dari lembah kemiskinan. Setidaknya mereka sudah tercukupi kebutuhan sandang-pangan-papan (pakaian, makan, dan rumah tinggal). Semua ini terjadi dengan cepat berkat kebijaksanaan Ki Lurah Pujosaputro, pengganti Ki Lurah Suramenggala yang dicopot oleh Ki Narotama kemudian diusir dari dusun Karang Tirta. Tak dapat disangkal kenyataan bahwa kemakmuran tidak jatuh begitu saja dari langit! Kebutuhan hidup manusia tidak begitu saja disediakan Sang Hyang Widhi, walaupun jelas bahwa semua bahannya memang hasil ciptaan Yang Maha Pencipta. Sang Hyang Widhi menciptakan tanah, air, hawa udara, sinar matahari, juga benih tanaman-tanaman. Semua benda ini tidak dapat dibuat oleh manusia dan memang sudah dianugerahkan kepada manusia untuk kepentingan hidup manusia. Namun, semua benda itu tidak ada gunanya kalau tidak diolah, dikerjakan, diusahakan oleh manusia sendiri. Jasmani kita, berikut hati akal pikiran, juga merupakan ciptaan Yang Maha Kasih, dan setiap bagian tubuh kita sudah dibuat sedemikian rupa sehingga cocok dan tepat untuk dikerjakan demi kesejahteraan hidup kita. Berkat dari Yang Maha Kasih Itu tidak dapat dipisahkan dengan usaha kita, merupakan dwitunggal yang tidak dapat dipisahkan dan harus bekerja sama untuk kesejahteraan dan kelangsungan hidup kita. Semua bahan yang telah disediakan oleh-Nya itu tidak akan ada gunanya kalau tidak kita olah dan kerjakan, yaitu kita cangkul, kita airi, kita pupuk, kita pelihara dan rawat dengan baik. Sebaliknya, betapa hebat pun kita berusaha, tanpa adanya satu saja dari semua bahan yang sudah disediakan oleh-Nya itu, juga tidak akan dapat menghasilkan apa-apa. Itu merupakan tugas pribadi untuk mempertahankan hidup, yaitu bekerja! Akan tetapi kita hidup bermasyarakat, bernegara, berpemerintahan, terdiri dari banyak orang. Para penduduk Karang Tirta terdiri dari ratusan orang. Masyarakat perlu diatur, dengan hukum-hukum agar tidak kacau dan saling berebut. Jelas bahwa kehidupan rakyat diatur oleh hukum, agar tertib, agar adil dan membawa rakyat kepada kemakmuran atau kesejahteraan seperti yang diidamkan setiap orang di mana pun di dunia ini. Apakah adanya peraturan hukum menjamin datangnya kemakmuran rakyat? Hukum adalah barang mati! Karena itu, tangan-tangan yang memegang dan menguasai pelaksanaan hukum itulah yang sepenuhnya diserahi wewenang dan tugas untuk memakmurkan rakyatnya. Jelas, ditangan para pemimpinlah terletak kunci untuk membuka pintu kemakmuran bagi rakyatnya.

Di Karang Tirta, orang pertama yang paling berkuasa adalah Sang Lurah. Sesungguhnya, di tangannyalah tergenggam nasib para penduduk Karang Tirta. Ketika Ki Lurah Suramenggala menjadi lurah, dia bukan merupakan seorang pemimpin yang baik. Dia menggunakan semua sumber hasil tanah dan sumber tenaga manusia menjadi sumber penghasilan yang berlimpahan untuk dirinya sendiri, untuk dia dan keluarganya. Rakyat diperas habis-habisan sehingga kehidupan penduduk Karang Tirta berada di bawah garis kemiskinan, sedangkan kehidupan Sang Lurah dan orang-orang yang dekat dengannya, sanak saudara dan para pembantunya, hidup bermewah-mewah dan berlebihan, kaya raya dan makmur. Padahal Ki Suramenggala dan para pembantunya selalu menganjurkan agar penduduk Karang Tirta berprihatin, hidup hemat dan serba kekurangan demi pembangunan Karang Tirta untuk kemakmuran kehidupan anak cucu kelak! Semua pembantu lurah, dari carik sampai jagabaya dan pamong yang paling rendah pangkatnya, tidak ada yang jujur. Semua memeras rakyat de-ngan dalih pembangunan dusun, akan tetapi uangnya mereka kantongi sendiri. Para jagabaya yang semestinya menjaga keamanan penduduk, bahkan menjadi penggangu keamanan. Hukum yang dilaksanakan adalah hukum lurah dan para pembantunya, mudah saja memutar-balikkan fakta, menyalahkan yang benar dan membenarkan yang salah demi keuntungan para penguasa itu. Semua ini terjadi karena Ki Lurah Suramenggala tidak menjadi tauladan yang baik sebagaimana seharusnya seorang pemimpin. Dia sebagai orang nomor satu di Karang Tirta, bertangan kotor melakukan penindasan, mengandalkan kekuasaan untuk melaksanakan segala kehendaknya, menumpuk harta tanpa memperdulikan kemiskinan penduduk. Kalau pemimpin tertinggi di dusun Karang Tirta itu bertangan kotor, bagaimana mungkin para pembantunya, para pamong praja, dapat bertangan bersih? Mereka juga melakukan segala macam kejahatan demi menum-puk harta. Atasannya tidak mungkin berani menegur karena atasan itu, sendiri tangannya kotor,demikian atasannya lagi sampai kepada yang paling atas di dusun itu, yakni Ki Lurah Suramenggala!

<<< Bagian 17                                                                                           Bagian 19 >>>

No comments:

Post a Comment