"Tentu saja tidak, Eyang. Kalau memang Gusti Sinuhun dan Gusti Patih memanggil saya, saya akan menghadap dengan senang hati."
Puspa Dewi diterima
oleh keluarga Tumenggung Jayatanu sebagai keluarga sendiri sehingga ia merasa
senang. Apalagi kalau membayangkan bahwa ibunya akan diterima pula, bersatu
dengan ayahnya, hatinya merasa gembira sekali. Setelah tinggal semalam di
gedung tumenggungan itu, pada keesokan harinya Tumenggung Jayatanu mengajak
Puspa Dewi untuk menghadap Ki Patih Narotama di kepatihan. Kebetulan sekali Ki
Patih berada di rumah sehingga mereka dapat diterima langsung. Ki Patih
Narotama menerima mereka di ruangan depan dan wajahnya berseri ketika dia
mengenal siapa yang datang bersama Tumenggung Jayatanu.
"Ah,
kiranya Paman Tumenggung Jayatanu yang datang. Dan ini... bukankah Puspa
Dewi...? Silakan duduk, mari silakan duduk di sini." Ki Patih menerima
sembah mereka dan mempersilakan duduk di atas kursi, berhadapan dengan dia.
Ki Patih
Narotama memang bersikap lembut dan ramah kepada para pamong praja yang menjadi
bawahannya. Dia tidak mau kalau dia dihormati secara berlebihan seperti seorang
raja dan selalu menerima para bawahannya dengan sama-sama duduk di atas kursi.
"Paman
Tumenggung, saya merasa gembira sekali Paman datang membawa Puspa Dewi."
"Sesungguhnya,
Gusti Patih, saya juga merasa berbahagia sekali dapat bertemu dengan Cucu saya
ini dan membawanya ke hadapan Paduka."
"Cucu?
Apakah Puspa Dewi ini cucumu, Paman?"
"Benar,
Gusti, ia adalah Cucu saya, maksud saya Cucu tiri, karena dia adalah anak
kandung mantu saya Senopati Yudajaya dari isteri yang pertama."
"Hemm,
benarkah ini, Puspa Dewi? Setahuku Andika adalah murid Nyi Durgakumala, bahkan
kemudian Andika menjadi Sekar Kedaton Wura-Wuri ketika Gurumu yang mengangkatmu
sebagai anak Ibu menjadi permaisuri Wura-Wuri! Bagaimanakah sebetulnya semua
ini? Coba jelaskan agar aku tidak menjadi ragu dan bingung."
Puspa Dewi
menyembah, la pernah bertemu dengan Ki Patih Narotama ini. Bahkan ketika itu,
ia mencari Ki Patih Narotama untuk membunuhnya atas perintah gurunya, Nyi Dewi
Durgakumala yang mendendam kepada patih itu. Akan tetapi, selain ia tidak mampu
menandingi Ki Patih Narotama yang sakti mandraguna, juga sebaliknya patih itu
memberi wejangan-wejangan yang menyadarkan pikiran dan membuka mata batinnya
bahwa gurunya adalah seorang yang amat sesat. Pertemuannya dengan Nurseta, dan
terutama dengan Ki Patih Narotama inilah yang membuat ia sadar dan mendorongnya
untuk membela Kahuripan dan menentang persekutuan pemberontak yang berusaha
menggulingkan Sang Prabu Erlangga dari tahta. Maka, gadis ini amat menghormati
Ki Patih Narotama dan sebelum menjawab pertanyaan tadi, ia lebih dulu menyembah
dengan hormat.
"Memang
riwayat hamba agak ruwet, Gusti. Hamba sendiri baru saja mengetahui siapa Ayah
hamba dan bahwa Eyang Tumenggung ini adalah Eyang hamba. Ketika hamba masih
kecil, Ibu hamba berpisah dari Ayah hamba dan tinggal di dusun Karang
Tirta."
"Hemm,
sekarang aku ingat. Ketika aku melakukan penyelidikan ke Karang Tirta, aku
mendengar bahwa Ki Suramenggala mempunyai dua orang anak yang digdaya,
puteranya sendiri adalah si Linggajaya yang jahat itu dan puteri tirinya adalah
Puspa Dewi. Kemudian setelah aku mengusir Ki Suramenggala, aku melihat Nyi
Lasmi yang tidak mau ikut dan menangis, menceritakan bahwa ia terpaksa menjadi
selir Ki Suramenggala yang hidup sewenang-wenang sebagai lurah di Karang Tirta.
Nyi Lasmi itukah Ibumu?"
"Benar,
Gusti. Hamba diaku sebagai anak oleh guru hamba, Nyi Dewi Durgarkumala dan
setelah guru hamba menjadi permaisuri Kerajaan Wura-Wuri hamba menjadi Sekar
Keraton. Maka hamba tidak dapat menolak ketika hamba diutus menjadi wakil
Wura-Wuri untuk bergabung dengan kadipaten lain yang berusaha untuk menjatuhkan
Sang Prabu Erlangga dari tahta. Akan tetapi setelah melihat kenyataan bahwa
Kahuripan berada di pihak benar dan para kadipaten yang bersekutu dengan
pemberontak Pangeran Hendratama adalah pihak yang sesat, hamba mengambil
keputusan untuk berbalik membela Kahuripan dan menentang persekutuan itu."
"Ya,
untuk itu Sang Prabu Erlangga dan aku merasa gembira dan berterima kasih
kepadamu, Puspa Dewi. Maka para senopati termasuk Paman Tumenggung Jayatanu
dipesan agar mencarimu dan kalau bertemu denganmu mengajak engkau datang
menghadap. Lanjutkan ceritamu."
"Setelah
perang usai, hamba kembali ke Karang Tirta dan mendengar bahwa Ibu hamba telah
dapat terbebas dari Ki Suramenggala, hamba merasa lega karena sesungguhnya
hamba juga tidak suka mempunyai Ayah tiri seperti Ki Suramenggala yang kejam
dan jahat. Ketika itu, Ibu hamba berterus terang kepada hamba bahwa Ayah
kandung hamba sesungguhnya belum mati seperti yang ia ceritakan sebelumnya.
Setelah ia menceritakan tentang Ayah kandung hamba, hamba lalu mencarinya ke
kota raja dan akhirnya hamba bertemu dengan Ayah kandung hamba, juga dengan
Eyang Tumenggung Jayatanu dan semua keluarganya. Nah, demikianlah Gusti Patih
dan atas kehendak Eyang Tumenggung, sekarang hamba dibawa menghadap
Paduka."
Ki Patih
Narotama mengangguk-angguk.
"Bagus
sekali, dan aku ikut merasa gembira bahwa akhirnya engkau dapat bertemu kembali
dengan Ayahmu Senopati Yudajaya dan keluarganya dan lebih senang lagi bahwa
engkau telah menyadari bahwa sudah semestinya engkau membela Kahuripan karena
engkau kawula Kahuripan mengingat bahwa Karang Tirta adalah wilayah Kahuripan,
Puspa Dewi. Sekarang, marilah engkau dan Paman Tumenggung kuantar menghadap
Gusti Sinuhun."
Mereka bertiga
lalu pergi ke istana dan seperti biasa, Ki Patih Narotama adalah satu-satunya
pembantu Sang Prabu Erlangga yang dengan mudah dapat keluar masuk istana tanpa
pengawasan atau pertanyaan. Ketika pengawal dalam keraton melaporkan, Sang
Prabu Erlangga dengan gembira siap menerima Ki Patih Narotama yang membawa
Tumenggung Jayatanu dan Puspa Dewi datang menghadap. Sang Prabu Erlangga juga
menyatakan kegembiraan hatinya, dan berterima kasih kepada Puspa Dewi akan apa
yang pernah ia lakukan ketika ia membela Kahuripan dan menentang persekutuan di
mana ia tadinya menjadi wakil. Akan tetapi ketika Sang Prabu Erlangga
menawarkan kedudukan sebagai perwira pengawal wanita yang menjaga keselamatan
para penghuni istana bagian keputren, Puspa Dewi menolak halus dengan sembah.
"Mohon
beribu ampun, Gusti. Bukan hamba semata menolak anugerah yang Paduka berikan
kepada hamba. Hamba menghaturkan banyak terima kasih dan hamba merasa
berbahagia sekali atas kemurahan hati Paduka kepada hamba. Akan tetapi, Gusti,
pada waktu ini hamba masih ingin bebas dari semua ikatan. Hamba ingin merasakan
kebahagiaan hidup berkumpul dengan kedua orang tua hamba, hal yang sejak kecil
hamba rindukan. Walaupun hamba tidak menjadi seorang punggawa, namun setiap
saat hamba siap membela kerajaan Paduka apabila ada pihak yang mengganggu,
Gusti."
Sang Prabu
Erlangga mengangguk-angguk, tersenyum.
"Kami
dapat memaklumi pendirianmu itu, Puspa Dewi. Baiklah, kami pasti akan
menghubungimu apa bila kami membutuhkan bantuan. Sekarang terimalah hadiah dari
kami ini. Pusaka yang berbentuk patrem ini disebut Sang Cundrik Arum, hasil
tempaan Sang Empu Ramahadi di jaman Jawa Kandha. Pernah menjadi pusaka ageman
(pakaian) Sang Permaisuri Bathari Nawangsih dari Kerajaan Medang Kamulan.
Pusaka ini, selain ampuh dan memiliki daya pelindung dan penyembuhan, juga
dengan memegang pusaka ini Andika dapat memasuki istana kami sewaktu-waktu
sebagai seorang kepercayaan kami, Puspa Dewi."
Puspa Dewi
merasa senang, bangga dan terharu menerima pusaka yang tak ternilai harganya
itu. Ia berlutut menyembah, menerima pusaka berbentuk patrem atau cundrik itu
sambil menghaturkan banyak terima kasih. Setelah menerima hadiah lain berupa
beberapa perangkat pakaian berikut perhiasan yang serba indah, Puspa Dewi
diperkenankan mundur bersama Tumenggung Jayatanu, sedangkan Ki Patih Narotama
masih tinggal di istana untuk berbincang-bincang dengan Sang Prabu Erlangga.
Dapat
dibayangkan betapa bahagianya hati Puspa Dewi. Senopati Yudajaya atau Prasetyo,
ayah Puspa Dewi dan seluruh keluarga Sang Tumenggung ikut merasa senang.
Kemudian keluarga itu berkemas dan pada hari yang sudah mereka pilih dan
tentukan, berangkatlah keluarga yang terdiri dari Tumenggung Jayatanu, Nyai
Tumenggung, Senopati Yudajaya, Dyah Mularsih, Niken Harni, Puspa Dewi dan
selosin perajurit pengawal berikut kusirnya, dalam dua buah kereta, menuju ke
dusun Karang Tirta. Dusun Karang Tirta kini merupakan dusun yang jauh lebih
makmur dibandingkan tahun-tahun yang lalu. Rumah-rumah para penduduk telah
diperbaiki semua. Juga melihat pakaian mereka dan keadaan kesehatan tubuh
mereka, mudah diketahui bahwa seluruh penduduk dusun itu sudah terangkat dari
lembah kemiskinan. Setidaknya mereka sudah tercukupi kebutuhan
sandang-pangan-papan (pakaian, makan, dan rumah tinggal). Semua ini terjadi
dengan cepat berkat kebijaksanaan Ki Lurah Pujosaputro, pengganti Ki Lurah
Suramenggala yang dicopot oleh Ki Narotama kemudian diusir dari dusun Karang
Tirta. Tak dapat disangkal kenyataan bahwa kemakmuran tidak jatuh begitu saja
dari langit! Kebutuhan hidup manusia tidak begitu saja disediakan Sang Hyang
Widhi, walaupun jelas bahwa semua bahannya memang hasil ciptaan Yang Maha
Pencipta. Sang Hyang Widhi menciptakan tanah, air, hawa udara, sinar matahari,
juga benih tanaman-tanaman. Semua benda ini tidak dapat dibuat oleh manusia dan
memang sudah dianugerahkan kepada manusia untuk kepentingan hidup manusia.
Namun, semua benda itu tidak ada gunanya kalau tidak diolah, dikerjakan,
diusahakan oleh manusia sendiri. Jasmani kita, berikut hati akal pikiran, juga
merupakan ciptaan Yang Maha Kasih, dan setiap bagian tubuh kita sudah dibuat
sedemikian rupa sehingga cocok dan tepat untuk dikerjakan demi kesejahteraan
hidup kita. Berkat dari Yang Maha Kasih Itu tidak dapat dipisahkan dengan usaha
kita, merupakan dwitunggal yang tidak dapat dipisahkan dan harus bekerja sama
untuk kesejahteraan dan kelangsungan hidup kita. Semua bahan yang telah
disediakan oleh-Nya itu tidak akan ada gunanya kalau tidak kita olah dan
kerjakan, yaitu kita cangkul, kita airi, kita pupuk, kita pelihara dan rawat
dengan baik. Sebaliknya, betapa hebat pun kita berusaha, tanpa adanya satu saja
dari semua bahan yang sudah disediakan oleh-Nya itu, juga tidak akan dapat
menghasilkan apa-apa. Itu merupakan tugas pribadi untuk mempertahankan hidup,
yaitu bekerja! Akan tetapi kita hidup bermasyarakat, bernegara,
berpemerintahan, terdiri dari banyak orang. Para penduduk Karang Tirta terdiri
dari ratusan orang. Masyarakat perlu diatur, dengan hukum-hukum agar tidak
kacau dan saling berebut. Jelas bahwa kehidupan rakyat diatur oleh hukum, agar
tertib, agar adil dan membawa rakyat kepada kemakmuran atau kesejahteraan
seperti yang diidamkan setiap orang di mana pun di dunia ini. Apakah adanya
peraturan hukum menjamin datangnya kemakmuran rakyat? Hukum adalah barang mati!
Karena itu, tangan-tangan yang memegang dan menguasai pelaksanaan hukum itulah
yang sepenuhnya diserahi wewenang dan tugas untuk memakmurkan rakyatnya. Jelas,
ditangan para pemimpinlah terletak kunci untuk membuka pintu kemakmuran bagi
rakyatnya.
Di Karang
Tirta, orang pertama yang paling berkuasa adalah Sang Lurah. Sesungguhnya, di
tangannyalah tergenggam nasib para penduduk Karang Tirta. Ketika Ki Lurah
Suramenggala menjadi lurah, dia bukan merupakan seorang pemimpin yang baik. Dia
menggunakan semua sumber hasil tanah dan sumber tenaga manusia menjadi sumber
penghasilan yang berlimpahan untuk dirinya sendiri, untuk dia dan keluarganya.
Rakyat diperas habis-habisan sehingga kehidupan penduduk Karang Tirta berada di
bawah garis kemiskinan, sedangkan kehidupan Sang Lurah dan orang-orang yang
dekat dengannya, sanak saudara dan para pembantunya, hidup bermewah-mewah dan
berlebihan, kaya raya dan makmur. Padahal Ki Suramenggala dan para pembantunya
selalu menganjurkan agar penduduk Karang Tirta berprihatin, hidup hemat dan
serba kekurangan demi pembangunan Karang Tirta untuk kemakmuran kehidupan anak
cucu kelak! Semua pembantu lurah, dari carik sampai jagabaya dan pamong yang
paling rendah pangkatnya, tidak ada yang jujur. Semua memeras rakyat de-ngan
dalih pembangunan dusun, akan tetapi uangnya mereka kantongi sendiri. Para
jagabaya yang semestinya menjaga keamanan penduduk, bahkan menjadi penggangu
keamanan. Hukum yang dilaksanakan adalah hukum lurah dan para pembantunya,
mudah saja memutar-balikkan fakta, menyalahkan yang benar dan membenarkan yang
salah demi keuntungan para penguasa itu. Semua ini terjadi karena Ki Lurah
Suramenggala tidak menjadi tauladan yang baik sebagaimana seharusnya seorang
pemimpin. Dia sebagai orang nomor satu di Karang Tirta, bertangan kotor
melakukan penindasan, mengandalkan kekuasaan untuk melaksanakan segala
kehendaknya, menumpuk harta tanpa memperdulikan kemiskinan penduduk. Kalau
pemimpin tertinggi di dusun Karang Tirta itu bertangan kotor, bagaimana mungkin
para pembantunya, para pamong praja, dapat bertangan bersih? Mereka juga
melakukan segala macam kejahatan demi menum-puk harta. Atasannya tidak mungkin
berani menegur karena atasan itu, sendiri tangannya kotor,demikian atasannya
lagi sampai kepada yang paling atas di dusun itu, yakni Ki Lurah Suramenggala!
No comments:
Post a Comment