Nurseta Satria Karangtirta ; Bagian 19


Jadilah semua pamong itu bertangan kotor! Untunglah bahwa Kerajaan Kahuripan dipimpin Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama yang bertangan bersih, berhati jujur dan bersikap bijaksana. Ki Patih Narotama yang bertangan bersih, ketika melihat seorang bawahannya, yaitu Ki Lurah Suramenggala, bertangan kotor, langsung saja dia berani memberantasnya. Dia melakukan pembersihan tanpa sungkan karena dia sendiri bertangan bersih! Atas pilihan penduduk, disetujui oleh Ki Patih Narotama, dusun Karang Tirta kini dipimpin oleh Ki Lurah Pujosaputro.

Lurah Pujosaputro ini adalah seorang lurah yang baik, pemimpin yang bijaksana. Dia selalu ingat bahwa dia menjadi lurah karena ada rakyat yang memilihnya, dan rakyat memilihnya karena rakyat percaya bahwa dia akan menjadi pemimpin yang baik, yang memperhatikan kesejahteraan rakyat dusun Karang Tirta. Dan ternyata harapan penduduk Karang Tirta tidak sia-sia. Ki Lurah Pujosaputro benar-benar mendahulukan kepentingan penduduk daripada kepentingan diri dan keluarganya sendiri. Dia tidak mau menumpuk harta dari perasan keringat rakyat, tidak mau memperkaya diri sendiri dan hasil tanah pedusunan dinikmati penduduk yang mengolahnya. Ki Lurah Pujosaputro sekeluarganya hidup biasa saja, tidak berlebihan dan tentu saja sebagai lurah, juga tidak kekurangan. Karena kebijaksanaannya ini, penduduk suka dan hormat kepadanya. Ada saja yang mengirimi hasil palawija, buah-buahan dan hasil usaha lain kepada keluarga Ki Lurah. Kehidupan penduduk Karang Tirta meningkat dengan pesat dan semua orang merasa gembira. Kini penduduk Karang Tirta tidak merasa iri kepada dusun-dusun lain yang makmur karena kebijaksanaan lurah masing-masing. Karena lurahnya bertangan bersih, bawahannya, para pamong, tidak ada yang berani bermain kotor dan karena pamong prajanya jujur dan adil, rakyatnya juga senang dan menaati semua peraturan dan hukum yang diberlakukan sama rata, bukan untuk menindas yang bawah dan memenangkan yang atas. Akan tetapi, menjadi sebuah kenyataan yang membuat kebanyakan orang, terutama yang imannya kurang penuh, menjadi penasaran, betapa banyaknya terjadi orang-orang yang dalam hidupnya dikenal sebagai orang yang baik budi, mengalami bencana dan kesengsaraan, sebaliknya orang yang angkara murka dan mementingkan diri sendiri dan suka melakukan perbuatan jahat, hidupnya bergelimang kesenangan dan kemuliaan! Tentu saja ini sebetulnya hanya menurut pandangan jasmaniah belaka.

Pada suatu malam, belasan orang yang berpakaian serba hitam dan bersikap sombong dan bengis memasuki dusun Karang Tirta. Ketika empat orang pemuda dusun yang bertugas jaga malam menghadang dan bertanya karena melihat betapa dua belas orang itu tidak mereka kenal dan di antara mereka terdapat dua orang yang berpakaian mewah, rombongan itu tanpa banyak cakap lagi menyerang dan merobohkan empat orang pemuda itu sehingga mereka tidak mampu bangkit kembali karena setelah dipukul pingsan! Rombongan terdiri dari dua belas orang itu lalu melangkah lebar dan cepat menuju rumah Ki Lurah Pujosaputro. Dua orang pemimpin rombongan yang berpakaian mewah itu adalah Wirobento yang tinggi besar bersenjata pecut berujung besi-besi kecil dan Wirobandrek yang juga tinggi besar dengan senjata sepasang kolor merah. Kakak beradik ini merupakan sepasang warok yang terkenal sesat, berusia sekitar tiga puluh dua dan tiga puluh tahun.
"Adi Bandrek, bagaimana kalau gadis sakti Puspa Dewi itu berada di Karang Tirta ini?" kata Ki Wirobento dengan suara yang membayangkan perasaan gentar.
"Kakang Bento, mengapa khawatir? Hal ini tidak mungkin karena para penyelidik sudah melaporkan dengan jelas bahwa saat ini gadis itu tidak berada di sini. Kita aman! Pula, bukankah ia telah menjadi Sekar Kedaton Wura-Wuri?"
"Hemm, tidak mungkin ia dapat diterima di Wura-Wuri setelah ia mengkhianati persekutuan di mana Wura-Wuri juga terlibat itu. Aku khawatir kalau-kalau para penyelidik salah duga dan ia nanti akan melakukan pengejaran terhadap kita. Ia sakti mandraguna, Bandrek, kita sama sekali bukan tandingannya."
"Ah, Kakang Bento, tidak perlu takut. Asalkan kita sudah dapat meringkus Nyi Lasmi, Puspa Dewi tidak akan berani berkutik. Kita jadikan Ibunya itu sebagal sandera dan kita lihat saja, apa yang akan dapat ia lakukan!"
"Kamu benar, Bandrek. Mari kita bereskan mereka dan tangkap Nyi Lasmi sesuai dengan pesan Ki Suramenggala!"

Setelah tiba di rumah Ki Lurah Pujosaputro, dua belas orang itu lalu menyerbu. Mereka mendobrak dan menjebol pintu lalu menerjang ke dalam rumah besar itu. Lima orang pemuda yang sedang berjaga di samping rumah, cepat berlari mendatangi, akan tetapi mereka berlima segera roboh disambut serangan orang-orang yang rata-rata memiliki kedigdayaan itu. Dua belas orang itu lalu mengamuk. Sesuai dengan perintah yang mereka terima dari Ki Suramenggala yang kini telah berada di Kerajaan Wengker sebagai orang yang tinggi kedudukannya sebagai ayah Sang Adipati Linggawijaya, mereka membacok siapa saja yang mereka temukan di dalam rumah kelurahan itu. Ketika Ki Pujosaputro dan isterinya muncul dari kamar, mereka berdua disambut bacokan golok yang membuat mereka tewas seketika. Ketika mereka menemukan Nyi Lasmi, mereka meringkusnya dan Ki Wirobandrek segera memanggul wanita yang telah diikat kaki tangannya itu di atas pundaknya dan dua belas orang itu berusaha mencari orang-orang lain yang menjadi penghuni rumah Itu. Tiba-tiba terdengar teriakan-teriakan gaduh di luar kelurahan dan dua belas orang itu ketika melihat betapa puluhan, bahkan mungkin seratus lebih pemuda dusun datang sambil membawa segala macam senjata dengan sikap mengancam, mereka menjadi gentar juga. Mereka hanya dua belas orang dan sungguhpun mereka merupakan jagoan-jagoan tangguh, namun menghadapi demikian banyak orang mereka menjadi ketakutan dan segera dua belas orang itu melarikan diri sambil memutar senjata mereka untuk menjaga diri. Para pemuda dusun Karang Tirta, setelah mengetahui bahwa gerombolan itu melakukan pembunuhan terhadap para penghuni rumah Ki Lurah, segera melakukan pengejaran sambil membawa obor. Akan tetapi, dua belas orang itu telah lenyap dalam hutan yang lebat. Terpaksa mereka kembali dengan tangan hampa.
Seluruh penduduk dusun Karang Tirta berduka setelah mengetahui bahwa Ki Lurah Pujosaputro yang mereka sayangi dan hormati telah dibunuh. Juga semua keluarganya dan para pelayan. Hanya ada seorang pelayan wanita yang lolos dari maut karena ia bersembunyi di tempat gelap sambil mengintai ketakutan. Gerombolan itu tidak melihatnya maka ia selamat. Setelah mereka mengadakan penelitian, ada enam orang pemuda yang berjaga malam tewas, lainnya luka-luka, dan penghuni rumah kelurahan itu hanya seorang yang selamat, yang lainnya, Ki Lurah Pujosaputro dan isterinya serta keluarganya yang berjumlah sembilan orang berikut pelayan, semua tewas! Mereka juga mendapat kenyataan bahwa Nyi Lasmi lenyap, dan ada yang melihat malam tadi bahwa wanita itu diculik, dipanggul dan dilarikan penjahat. Gegerlah dusun Karang Tirta! Semua penduduk wanita menangisi musibah itu, dan yang laki-laki marah dan penasaran, akan tetapi mereka tidak mampu berbuat sesuatu karena ada yang mendengar percakapan para gerombolan itu bahwa mereka adalah orang-orang Kerajaan Wengker, anak buah Ki Lurah Suramenggala yang datang untuk membalas dendam dan menculik Nyi Lasmi yang dulu menjadi selirnya kemudian tidak mau ikut ketika Ki Sura-menggala terusir keluar dari Karang Tirta. Para penduduk yang berkabung itu hanya dapat merawat semua jenazah dan menguburkannya. Ki Lurah Warsita, lurah dari Karang Sari yang terletak dekat Karang Tirta dan merupakan lurah yang baik dan menjadi sahabat Ki Lurah Pujosaputro, begitu mendengar musibah itu, cepat datang dan mengatur sendiri semua urusan di Karang Tirta. Juga Ki Lurah Warsita lalu mengumpulkan para pemuda Karang Tirta dan Karang Sari untuk bersatu melakukan penjagaan terutama di waktu malam untuk melawan kalau-kalau para pengacau itu datang lagi. Dia juga segera mengirim laporan tentang musibah itu ke kota raja Kahuripan. Utusan ke kota raja ini terdiri dari tiga orang, di pimpin oleh Ki Tejomoyo, seorang kakek yang dianggap sebagai sesepuh Karang Tirta.

Akan tetapi baru melakukan perjalanan setengah hari, utusan ini bertemu dengan rombongan terdiri dari dua kereta yang dikawal selosin prajurit. Melihat ini, tiga orang dusun Karang Tirta itu mengenal bahwa seregu prajurit itu adalah prajurit Kahuripan, maka mereka berhenti di tepi jalan dengan membungkuk hormat karena orang yang berada di kereta dan dikawal pasukan itu pasti seorang priyagung (bangsawan).
"Paman Tejomoyo...!"
Tiba-tiba seorang gadis melompat turun dari dalam kereta yang sudah berhenti dan begitu Tejomoyo mengenal siapa gadis yang mengenalinya itu, dia segera menghampiri, lalu berjongkok dan menangis.
"Aduh, Nakayu Puspa Dewi....!" Dia tidak dapat melanjutkan karena sudah menangis mengguguk sambil mendeprok dan menutupi muka dengan kedua tangan. Dua orang temannya yang juga mengenal siapa gadis itu, memberi hormat dan juga tidak berani bicara, tidak sampai hati menyampaikan berita yang amat menyedihkan itu.
"Paman, ada apakah? Mengapa Paman bersikap begini? Berdirilah Paman dan ceritakan dengan tenang." Puspa Dewi memegang kedua bahu kakek itu dan membantunya bangkit berdiri.
Ki Tejomoyo berusaha menenangkan hatinya dengan menghela napas panjang berulang kali. Akhirnya dia dapat tenang dan menghentikan tangisnya.
"Malapetaka menimpa Karang Tirta..."
"Apa yang terjadi? Puspa Dewi, siapa orang itu dan apa yang terjadi?"
Tumenggung Jayatanu keluar pula dari keretanya dan melihat seorang laki-laki berpakaian bangsawan tinggi, Ki Tejomoyo dan dua orang temannya segera berjongkok dan menyembah.
"Eyang, ini adalah Paman Tejomoyo dan dua orang temannya itu saya kenal sebagai penduduk Karang Tirta pula. Paman Tejomoyo ini adalah Eyang Tumenggung Jayatanu, maka ceritakan apa yang terjadi, jangan membuat kami bingung dan penasaran."
"Ampunkah hamba bertiga, Gusti Tumenggung. Hamba tidak tahu bahwa Paduka yang lewat maka hamba tidak menyambut dengan hormat." kata Ki Tejomoyo dengan sikap hormat.
"Tidak mengapa, Ki Tejomoyo. Sekarang ceritakan apa yang telah terjadi di Karang Tirta sehingga Andika sampai menangis sedih."
"Aduh, katiwasan, Gusti! Baru kemarin malam terjadinya. Segerombolan orang berjumlah belasan datang menyerbu rumah Ki Lurah Pujosaputro dan mengamuk, membunuhi penghuni rumah kalurahan..."
Puspa Dewi menyambar lengan Ki Tejomoyo dan bertanya dengan nyaring,
"ibuku...! Bagaimana dengan Ibuku...?"
Prasetyo atau Senopati Yudajaya yang juga sudah turun dan menghampiri mereka berkata.
"Dewi tenanglah. Engkau menyakiti lengan Paman ini."
Puspa Dewi sadar dan melepaskan Lengan Ki Tejomoyo yang meringis kesakitan karena lengannya serasa dijepit besi!
"Nyi Lasmi... diculik gerombolan..."

Puspa Dewi berkelebat dan lenyap dari situ. Ia telah menggunakan ilmunya berlari cepat seperti terbang menuju dusun Karang Tirta. Prasetyo berkata kepada Ki Tejomoyo.
"Paman, ceritakan dengan ringkas apa yang telah terjadi."
Dia pun merasa khawatir sekali akan keselamatan Nyi Lasmi. Dengan singkat Ki Tejomoyo menceritakan tentang penyerbuan gerombolan yang membunuh seluruh penghuni rumah Ki Pujosaputro dan hanya seorang pelayan wanita yang lolos dari maut. Juga Nyi Lasmi lenyap diculik gerombolan. Tumenggung Jayatanu marah sekali. Wajahnya yang gagah itu menjadi kemerahan.
"Keparat! Akan kuhajar mereka! Hayo, Prasetyo, kita cepat membalapkan kereta menyusul Puspa Dewi ke Karang Tirta! Dan Andika, Ki Tejomoyo, tadinya hendak pergi kemanakah?"
"Hamba diutus Ki Lurah Warsita dari Karang Sari untuk pergi melaporkan peristiwa itu ke kota raja."
"Kalau begitu lanjutkan perjalananmu dan setelah tiba di sana laporkanlah peristiwa ini kepada Gusti Patih Narotama."
"Baik, Gusti Tumenggung."
Dua buah kereta itu dijalankan lagi dengan cepat menuju Karang Tirta dan tiga orang utusan dari Karang Tirta itu melanjutkan perjalanan mereka ke kota raja Kahuripan Sementara itu Puspa Dewi telah memasuki pintu gerbang dusun Karang Tirta. Semua orang yang melihatnya menyambut dengan wajah sedih dan segera mengikuti gadis yang cepat lari menuju ke rumah kelurahan itu.

Jerit tangis para wanita menyambut kedatangan Puspa Dewi di rumah itu. Puspa Dewi dikepung banyak orang. Wajah gadis itu agak pucat, akan tetapi ia tetap tenang, lalu ia mengangkat kedua tangan memberi isyarat agar semua orang menghentikan tangis dan suara mereka yang bising.
"Kuharap Andika sekalian berhenti menangis dan saling bicara sendiri. Aku sekarang ingin mendengar keterangan yang sejelasnya tentang peristiwa ini. Siapa yang lebih mengetahui akan peristiwa ini? Aku mendengar Bibi Katmi lolos dari maut, tentu ia lebih mengetahui. Mana Bibi Katmi?"
Nyi Katmi yang tadinya menangis di sudut lalu maju menghampiri Puspa Dewi.

<<< Bagian 18                                                                                         Bagian 20 >>>

No comments:

Post a Comment