Jadilah semua pamong itu bertangan kotor! Untunglah bahwa Kerajaan Kahuripan dipimpin Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama yang bertangan bersih, berhati jujur dan bersikap bijaksana. Ki Patih Narotama yang bertangan bersih, ketika melihat seorang bawahannya, yaitu Ki Lurah Suramenggala, bertangan kotor, langsung saja dia berani memberantasnya. Dia melakukan pembersihan tanpa sungkan karena dia sendiri bertangan bersih! Atas pilihan penduduk, disetujui oleh Ki Patih Narotama, dusun Karang Tirta kini dipimpin oleh Ki Lurah Pujosaputro.
Lurah
Pujosaputro ini adalah seorang lurah yang baik, pemimpin yang bijaksana. Dia
selalu ingat bahwa dia menjadi lurah karena ada rakyat yang memilihnya, dan
rakyat memilihnya karena rakyat percaya bahwa dia akan menjadi pemimpin yang
baik, yang memperhatikan kesejahteraan rakyat dusun Karang Tirta. Dan ternyata
harapan penduduk Karang Tirta tidak sia-sia. Ki Lurah Pujosaputro benar-benar
mendahulukan kepentingan penduduk daripada kepentingan diri dan keluarganya
sendiri. Dia tidak mau menumpuk harta dari perasan keringat rakyat, tidak mau
memperkaya diri sendiri dan hasil tanah pedusunan dinikmati penduduk yang
mengolahnya. Ki Lurah Pujosaputro sekeluarganya hidup biasa saja, tidak
berlebihan dan tentu saja sebagai lurah, juga tidak kekurangan. Karena
kebijaksanaannya ini, penduduk suka dan hormat kepadanya. Ada saja yang
mengirimi hasil palawija, buah-buahan dan hasil usaha lain kepada keluarga Ki
Lurah. Kehidupan penduduk Karang Tirta meningkat dengan pesat dan semua orang
merasa gembira. Kini penduduk Karang Tirta tidak merasa iri kepada dusun-dusun
lain yang makmur karena kebijaksanaan lurah masing-masing. Karena lurahnya
bertangan bersih, bawahannya, para pamong, tidak ada yang berani bermain kotor
dan karena pamong prajanya jujur dan adil, rakyatnya juga senang dan menaati
semua peraturan dan hukum yang diberlakukan sama rata, bukan untuk menindas
yang bawah dan memenangkan yang atas. Akan tetapi, menjadi sebuah kenyataan
yang membuat kebanyakan orang, terutama yang imannya kurang penuh, menjadi
penasaran, betapa banyaknya terjadi orang-orang yang dalam hidupnya dikenal
sebagai orang yang baik budi, mengalami bencana dan kesengsaraan, sebaliknya
orang yang angkara murka dan mementingkan diri sendiri dan suka melakukan
perbuatan jahat, hidupnya bergelimang kesenangan dan kemuliaan! Tentu saja ini
sebetulnya hanya menurut pandangan jasmaniah belaka.
Pada suatu malam,
belasan orang yang berpakaian serba hitam dan bersikap sombong dan bengis
memasuki dusun Karang Tirta. Ketika empat orang pemuda dusun yang bertugas jaga
malam menghadang dan bertanya karena melihat betapa dua belas orang itu tidak
mereka kenal dan di antara mereka terdapat dua orang yang berpakaian mewah,
rombongan itu tanpa banyak cakap lagi menyerang dan merobohkan empat orang
pemuda itu sehingga mereka tidak mampu bangkit kembali karena setelah dipukul
pingsan! Rombongan terdiri dari dua belas orang itu lalu melangkah lebar dan
cepat menuju rumah Ki Lurah Pujosaputro. Dua orang pemimpin rombongan yang
berpakaian mewah itu adalah Wirobento yang tinggi besar bersenjata pecut
berujung besi-besi kecil dan Wirobandrek yang juga tinggi besar dengan senjata
sepasang kolor merah. Kakak beradik ini merupakan sepasang warok yang terkenal
sesat, berusia sekitar tiga puluh dua dan tiga puluh tahun.
"Adi
Bandrek, bagaimana kalau gadis sakti Puspa Dewi itu berada di Karang Tirta
ini?" kata Ki Wirobento dengan suara yang membayangkan perasaan gentar.
"Kakang
Bento, mengapa khawatir? Hal ini tidak mungkin karena para penyelidik sudah
melaporkan dengan jelas bahwa saat ini gadis itu tidak berada di sini. Kita
aman! Pula, bukankah ia telah menjadi Sekar Kedaton Wura-Wuri?"
"Hemm,
tidak mungkin ia dapat diterima di Wura-Wuri setelah ia mengkhianati
persekutuan di mana Wura-Wuri juga terlibat itu. Aku khawatir kalau-kalau para
penyelidik salah duga dan ia nanti akan melakukan pengejaran terhadap kita. Ia
sakti mandraguna, Bandrek, kita sama sekali bukan tandingannya."
"Ah,
Kakang Bento, tidak perlu takut. Asalkan kita sudah dapat meringkus Nyi Lasmi,
Puspa Dewi tidak akan berani berkutik. Kita jadikan Ibunya itu sebagal sandera
dan kita lihat saja, apa yang akan dapat ia lakukan!"
"Kamu
benar, Bandrek. Mari kita bereskan mereka dan tangkap Nyi Lasmi sesuai dengan
pesan Ki Suramenggala!"
Setelah tiba
di rumah Ki Lurah Pujosaputro, dua belas orang itu lalu menyerbu. Mereka
mendobrak dan menjebol pintu lalu menerjang ke dalam rumah besar itu. Lima
orang pemuda yang sedang berjaga di samping rumah, cepat berlari mendatangi,
akan tetapi mereka berlima segera roboh disambut serangan orang-orang yang
rata-rata memiliki kedigdayaan itu. Dua belas orang itu lalu mengamuk. Sesuai dengan
perintah yang mereka terima dari Ki Suramenggala yang kini telah berada di
Kerajaan Wengker sebagai orang yang tinggi kedudukannya sebagai ayah Sang
Adipati Linggawijaya, mereka membacok siapa saja yang mereka temukan di dalam
rumah kelurahan itu. Ketika Ki Pujosaputro dan isterinya muncul dari kamar,
mereka berdua disambut bacokan golok yang membuat mereka tewas seketika. Ketika
mereka menemukan Nyi Lasmi, mereka meringkusnya dan Ki Wirobandrek segera
memanggul wanita yang telah diikat kaki tangannya itu di atas pundaknya dan dua
belas orang itu berusaha mencari orang-orang lain yang menjadi penghuni rumah
Itu. Tiba-tiba terdengar teriakan-teriakan gaduh di luar kelurahan dan dua
belas orang itu ketika melihat betapa puluhan, bahkan mungkin seratus lebih
pemuda dusun datang sambil membawa segala macam senjata dengan sikap mengancam,
mereka menjadi gentar juga. Mereka hanya dua belas orang dan sungguhpun mereka
merupakan jagoan-jagoan tangguh, namun menghadapi demikian banyak orang mereka
menjadi ketakutan dan segera dua belas orang itu melarikan diri sambil memutar
senjata mereka untuk menjaga diri. Para pemuda dusun Karang Tirta, setelah
mengetahui bahwa gerombolan itu melakukan pembunuhan terhadap para penghuni
rumah Ki Lurah, segera melakukan pengejaran sambil membawa obor. Akan tetapi,
dua belas orang itu telah lenyap dalam hutan yang lebat. Terpaksa mereka
kembali dengan tangan hampa.
Seluruh
penduduk dusun Karang Tirta berduka setelah mengetahui bahwa Ki Lurah
Pujosaputro yang mereka sayangi dan hormati telah dibunuh. Juga semua
keluarganya dan para pelayan. Hanya ada seorang pelayan wanita yang lolos dari
maut karena ia bersembunyi di tempat gelap sambil mengintai ketakutan.
Gerombolan itu tidak melihatnya maka ia selamat. Setelah mereka mengadakan
penelitian, ada enam orang pemuda yang berjaga malam tewas, lainnya luka-luka,
dan penghuni rumah kelurahan itu hanya seorang yang selamat, yang lainnya, Ki
Lurah Pujosaputro dan isterinya serta keluarganya yang berjumlah sembilan orang
berikut pelayan, semua tewas! Mereka juga mendapat kenyataan bahwa Nyi Lasmi
lenyap, dan ada yang melihat malam tadi bahwa wanita itu diculik, dipanggul dan
dilarikan penjahat. Gegerlah dusun Karang Tirta! Semua penduduk wanita
menangisi musibah itu, dan yang laki-laki marah dan penasaran, akan tetapi
mereka tidak mampu berbuat sesuatu karena ada yang mendengar percakapan para
gerombolan itu bahwa mereka adalah orang-orang Kerajaan Wengker, anak buah Ki
Lurah Suramenggala yang datang untuk membalas dendam dan menculik Nyi Lasmi
yang dulu menjadi selirnya kemudian tidak mau ikut ketika Ki Sura-menggala
terusir keluar dari Karang Tirta. Para penduduk yang berkabung itu hanya dapat
merawat semua jenazah dan menguburkannya. Ki Lurah Warsita, lurah dari Karang
Sari yang terletak dekat Karang Tirta dan merupakan lurah yang baik dan menjadi
sahabat Ki Lurah Pujosaputro, begitu mendengar musibah itu, cepat datang dan
mengatur sendiri semua urusan di Karang Tirta. Juga Ki Lurah Warsita lalu
mengumpulkan para pemuda Karang Tirta dan Karang Sari untuk bersatu melakukan
penjagaan terutama di waktu malam untuk melawan kalau-kalau para pengacau itu
datang lagi. Dia juga segera mengirim laporan tentang musibah itu ke kota raja
Kahuripan. Utusan ke kota raja ini terdiri dari tiga orang, di pimpin oleh Ki
Tejomoyo, seorang kakek yang dianggap sebagai sesepuh Karang Tirta.
Akan tetapi
baru melakukan perjalanan setengah hari, utusan ini bertemu dengan rombongan
terdiri dari dua kereta yang dikawal selosin prajurit. Melihat ini, tiga orang
dusun Karang Tirta itu mengenal bahwa seregu prajurit itu adalah prajurit
Kahuripan, maka mereka berhenti di tepi jalan dengan membungkuk hormat karena
orang yang berada di kereta dan dikawal pasukan itu pasti seorang priyagung
(bangsawan).
"Paman
Tejomoyo...!"
Tiba-tiba
seorang gadis melompat turun dari dalam kereta yang sudah berhenti dan begitu
Tejomoyo mengenal siapa gadis yang mengenalinya itu, dia segera menghampiri,
lalu berjongkok dan menangis.
"Aduh,
Nakayu Puspa Dewi....!" Dia tidak dapat melanjutkan karena sudah menangis
mengguguk sambil mendeprok dan menutupi muka dengan kedua tangan. Dua orang
temannya yang juga mengenal siapa gadis itu, memberi hormat dan juga tidak
berani bicara, tidak sampai hati menyampaikan berita yang amat menyedihkan itu.
"Paman,
ada apakah? Mengapa Paman bersikap begini? Berdirilah Paman dan ceritakan
dengan tenang." Puspa Dewi memegang kedua bahu kakek itu dan membantunya
bangkit berdiri.
Ki Tejomoyo
berusaha menenangkan hatinya dengan menghela napas panjang berulang kali. Akhirnya
dia dapat tenang dan menghentikan tangisnya.
"Malapetaka
menimpa Karang Tirta..."
"Apa yang
terjadi? Puspa Dewi, siapa orang itu dan apa yang terjadi?"
Tumenggung
Jayatanu keluar pula dari keretanya dan melihat seorang laki-laki berpakaian
bangsawan tinggi, Ki Tejomoyo dan dua orang temannya segera berjongkok dan
menyembah.
"Eyang,
ini adalah Paman Tejomoyo dan dua orang temannya itu saya kenal sebagai
penduduk Karang Tirta pula. Paman Tejomoyo ini adalah Eyang Tumenggung
Jayatanu, maka ceritakan apa yang terjadi, jangan membuat kami bingung dan
penasaran."
"Ampunkah
hamba bertiga, Gusti Tumenggung. Hamba tidak tahu bahwa Paduka yang lewat maka
hamba tidak menyambut dengan hormat." kata Ki Tejomoyo dengan sikap
hormat.
"Tidak
mengapa, Ki Tejomoyo. Sekarang ceritakan apa yang telah terjadi di Karang Tirta
sehingga Andika sampai menangis sedih."
"Aduh,
katiwasan, Gusti! Baru kemarin malam terjadinya. Segerombolan orang berjumlah
belasan datang menyerbu rumah Ki Lurah Pujosaputro dan mengamuk, membunuhi penghuni
rumah kalurahan..."
Puspa Dewi
menyambar lengan Ki Tejomoyo dan bertanya dengan nyaring,
"ibuku...!
Bagaimana dengan Ibuku...?"
Prasetyo atau
Senopati Yudajaya yang juga sudah turun dan menghampiri mereka berkata.
"Dewi
tenanglah. Engkau menyakiti lengan Paman ini."
Puspa Dewi
sadar dan melepaskan Lengan Ki Tejomoyo yang meringis kesakitan karena
lengannya serasa dijepit besi!
"Nyi
Lasmi... diculik gerombolan..."
Puspa Dewi
berkelebat dan lenyap dari situ. Ia telah menggunakan ilmunya berlari cepat seperti
terbang menuju dusun Karang Tirta. Prasetyo berkata kepada Ki Tejomoyo.
"Paman,
ceritakan dengan ringkas apa yang telah terjadi."
Dia pun merasa
khawatir sekali akan keselamatan Nyi Lasmi. Dengan singkat Ki Tejomoyo
menceritakan tentang penyerbuan gerombolan yang membunuh seluruh penghuni rumah
Ki Pujosaputro dan hanya seorang pelayan wanita yang lolos dari maut. Juga Nyi
Lasmi lenyap diculik gerombolan. Tumenggung Jayatanu marah sekali. Wajahnya
yang gagah itu menjadi kemerahan.
"Keparat!
Akan kuhajar mereka! Hayo, Prasetyo, kita cepat membalapkan kereta menyusul
Puspa Dewi ke Karang Tirta! Dan Andika, Ki Tejomoyo, tadinya hendak pergi
kemanakah?"
"Hamba
diutus Ki Lurah Warsita dari Karang Sari untuk pergi melaporkan peristiwa itu
ke kota raja."
"Kalau
begitu lanjutkan perjalananmu dan setelah tiba di sana laporkanlah peristiwa
ini kepada Gusti Patih Narotama."
"Baik,
Gusti Tumenggung."
Dua buah
kereta itu dijalankan lagi dengan cepat menuju Karang Tirta dan tiga orang
utusan dari Karang Tirta itu melanjutkan perjalanan mereka ke kota raja
Kahuripan Sementara itu Puspa Dewi telah memasuki pintu gerbang dusun Karang
Tirta. Semua orang yang melihatnya menyambut dengan wajah sedih dan segera
mengikuti gadis yang cepat lari menuju ke rumah kelurahan itu.
Jerit tangis
para wanita menyambut kedatangan Puspa Dewi di rumah itu. Puspa Dewi dikepung
banyak orang. Wajah gadis itu agak pucat, akan tetapi ia tetap tenang, lalu ia
mengangkat kedua tangan memberi isyarat agar semua orang menghentikan tangis
dan suara mereka yang bising.
"Kuharap
Andika sekalian berhenti menangis dan saling bicara sendiri. Aku sekarang ingin
mendengar keterangan yang sejelasnya tentang peristiwa ini. Siapa yang lebih
mengetahui akan peristiwa ini? Aku mendengar Bibi Katmi lolos dari maut, tentu
ia lebih mengetahui. Mana Bibi Katmi?"
Nyi Katmi yang
tadinya menangis di sudut lalu maju menghampiri Puspa Dewi.
No comments:
Post a Comment