la dipersilakan duduk berhadapan dengan Puspa Dewi, sedangkan orang-orang lain tidak gaduh lagi, mendengarkan dengan penuh perhatian.
"Nah,
Bibi Katmi, hapuskan air matamu dan tenanglah. Sekarang ceritakan dengan rinci
apa yang telah terjadi kemarin malam."
Nyi Katmi lalu
menceritakan dengan suara terharu dan sambil menahan tangisnya.
"Malam
itu saya mendengar teriakan-teriakan kesakitan. Ketika saya keluar dari kamar
saya melihat belasan orang berpakaian serba hitam membunuhi semua penghuni
rumah dengan kejam. Mereka menggunakan klewang (golok). Karena takut, saya
terkulai dan jatuh menelungkup dalam keadaan setengah pingsan. Akan tetapi saya
masih dapat melihat Mas Ajeng Lasmi dipanggul seorang penjahat dengan kaki
tangan terikat dan mendengar ia menangis dan memaki-maki. Karena tidak tahan
melihat banjir darah yang terjadi malam itu, saya tidak dapat bangun dan hanya
dapat pura-pura mati sambil menahan tangis. Mungkin mereka mengira bahwa saya
telah mati, maka tidak ada yang mengganggu saya."
"Apakah
engkau mendengar mereka bicara yang menunjukkan siapa mereka?" tanya Puspa
Dewi.
"Saya
mendengar percakapan singkat dua orang di antara mereka. Yang memanggul Mas
Ajeng Lasmi berkata; ‘Wah, wanita ini masih denok lembut!’ Lalu orang ke dua
menjawab, 'Awas, ia itu selir Bendoro Menggung Suramenggala, jangan main-main!'
Hanya itulah yang saya dengar."
Wajah Puspa
Dewi menjadi merah sekali dan ia mengepal tangan kanannya.
"Jahanam
Suramenggala yang melakukan ini, keparat!"
Tiba-tiba
seorang laki-laki yang usianya sekitar dua puluh enam tahun berkata,
"Saya
juga mendengar percakapan dua orang tinggi besar yang memimpin gerombolan itu,
Mas Ayu..."
Orang ini menderita
luka serangan gerombolan dan lengan kanan dan paha kirinya masih dibalut.
"Hemm,
bagus, Kakang Canang. Cepat ceritakan!" kata Puspa Dewi sambil memandang
pemuda itu.
"Ketika
itu saya dan teman-teman melakukan penjagaan di gapura desa ketika dua belas
orang berpakaian hitam itu menyerbu masuk. Sebelum dapat berbuat banyak, kami
telah mereka serang dan saya pun menderita luka-luka dan roboh. Pada saat itu,
saya mendengar dua orang pemimpin mereka bicara. Yang seorang berkata,
“Kita harus
berhasil, kalau tidak Gusti Adipati Linggawijaya tentu akan marah kepada kita”.
Kemudian orang ke dua berkata, “Bukan hanya Gusti Adipati, akan tetapi terutama
sekali Tumenggung Suramenggala, ayah Gusti Adipati itu, tentu akan menghukum
kita. Kabarnya dia lebih kejam dibandingkan puteranya'. Nah, itulah percakapan
mereka."
Puspa Dewi
mengerutkan alisnya mendengar keterangan itu. Adipati Linggawijaya? Setahunya,
adipati di Wengker bernama Adipati Adhamapanuda. Ah, tentu Linggajaya kini
telah menjadi adipati di Wengker dan Ki Suramenggala sekarang menjadi
Tumenggung Suramenggala karena dia Ayah Linggajaya. Tidak salah lagi. Tentu Ki
Suramenggala dan Linggajaya yang mendalangi pembantaian keluarga Ki Lurah
Pujosaputro dan menculik Ibunya.
Puspa Dewi
lalu meninggalkan pesan kepada mereka yang berada di situ untuk melaporkan
kepada Tumenggung Jayatanu dan Senopati Yudajaya yang akan tiba di dusun itu
tak lama lagi bahwa ia langsung melakukan pengejaran terhadap para pembunuh dan
penculik Ibunya ke Kerajaan Wengker. Setelah meninggalkan pesan itu, Puspa Dewi
segera melesat lenyap dan sudah berlari dengan cepat sekali keluar dusun Karang
Tirta menuju ke kota raja atau kota Kadipaten Wengker.
Menjelang
sore, dua buah kereta yang ditumpangi keluarga Tumenggung Jayatanu tiba di
dalam dusun Karang Tirta. Para penduduk menyambut dengan hormat. Setelah
Tumenggung Jayatanu dan Senopati Yudajaya mendengar keterangan para penduduk
tentang penyerbuan orang-orang Wengker dan membantai keluarga Ki Lurah dan
menculik Nyi Lasmi, mereka menjadi marah sekali. Terutama Senopati Yudajaya
selain marah juga merasa sedih dan iba kepada Nyi Lasmi, isterinya yang hidup
terlunta-lunta setelah berpisah darinya.
Menurut
gejolak hatinya. Ingin ia langsung menyusul Puspa Dewi yang oleh para penduduk
dikabarkan melakukan pengejaran ke Kadipaten Wengker. Akan tetapi Tumenggung
Jayatanu mencegahnya.
"Sungguh
tidak bijaksana kalau engkau menyusul puterimu ke sana sekarang." kata
Kakek itu.
"Kadipaten
Wengker mempunyai banyak sekali orang sakti dan mereka juga mempunyai pasukan
yang kuat. Engkau akan mencelakai diri sendiri dan tidak akan dapat
menyelamatkan Nyi Lasmi kalau mengejar sendiri."
"Akan
tetapi, Kanjeng Rama! Lasmi dan Dewi berada di sana! Saya harus membela
mereka!"
"Tentu
saja kita harus membela mereka, akan tetapi bukan seorang diri. Kita melaporkan
ke kota raja dan mengerahkan pasukan untuk melakukan pengejaran ke pedalaman
Wengker. Mengenai isterimu Lasmi dan puterimu Puspa Dewi, jangan terlalu
dikhawatirkan. Penculik itu tidak akan membunuh Lasmi karena kalau demikian
halnya, tentu ia sudah dibunuh bersama anggota keluarga Ki Pujosaputro, tidak
perlu susah-susah diculik. Dan tentang Puspa Dewi, tidak usah khawatir.
Puterimu itu adalah seorang yang sakti mandraguna, tidak sembarang orang dapat
mengganggunya. Ia Pasti dapat menjaga diri, bahkan tidak mustahil ia akan mampu
menolong Ibunya."
Tiba-tiba
terdengar teriakan Nyai Tumenggung,
"Aduh,
cucuku Ken Harni menghilang...!!"
Tumenggung
Jayatanu dan Prasetyo cepat berlari memasuki rumah dan Nyai Tumenggung dengan
wajah pucat memberitahukan bahwa sejak tadi ia tidak melihat Niken Harni.
Dicari-cari juga tidak dapat ditemukan.
"Tadi ia
bersamaku, lalu bilang hendak keluar berjalan-jalan sebentar," kata Dyah
Mularsih yang juga kebingungan dan khawatir.
"Akan
tetapi sampai sekarang ia tidak kembali!"
Prasetyo atau
Senopati Yudajaya cepat berlari ke belakang di mana kuda dan kereta berada.
Akan tetapi kusir dan para prajurit juga tidak melihat Niken Harni. Dia berlari
keluar dan bertanya-tanya kepada semua orang yang dijumpai di dusun Itu.
Akhirnya seorang pemuda yang berada dekat pintu gapura melaporkan bahwa tadi
dia melihat gadis bangsawan itu berlari cepat meninggalkan dusun Karang Tirta.
Dengan jantung berdebar tegang dan hatinya gelisah sekali, Prasetyo kembali
kepada mertuanya.
"Ada yang
melihat Niken berlari meninggalkan dusun!" katanya.
"Aduh,
bocah ngeyel (tidak penurut) itu! Ia tentu pergi menyusul Puspa Dewi! Ia
memasuki gua harimau, sungguh berbahaya sekali!" Tumenggung Jayatanu
berseru.
"Ah,
bagaimana ini?" Nyi Tumenggung menangis.
"Kakangmas
Prasetyo, Paduka harus cepat menyusul anak kita!" Dyah Mularsih mendesak
suaminya.
"Tentu
saja!" jawab Prasetyo.
"Aku akan
menyusul mereka sekarang juga, bahaya apa pun akan kutempuh untuk menyelamatkan
mereka bertiga!"
Baru saja
Prasetyo melangkah hendak keluar, Tumenggung Jayatanu memegang lengan mantunya.
"Nanti
dulu, Prasetyo. Sebagai seorang senopati, engkau tidak boleh sembrono. Semua
harus diperhitungkan dengan matang agar dapat mengatur siasat sehingga usaha
kita tidak gagal. Kalau engkau nekat hendak memasuki Wengker engkau bawalah
selosin prajurit pengawal itu. Mereka adalah perajurit-perajurit yang cukup
terlatih dan tangguh. Sementara itu, aku akan cepat minta bantuan ke Kahuripan
agar dikirim pasukan yang kuat dan aku akan memimpin sendiri pasukan itu
menyusul ke Wengker."
Prasetyo
mengangguk.
"Sendika
dhawuh (siap melaksanakan perintah), Kanjeng Rama!" Dia lalu memandang
kepada isterinya.
"Jangan
khawatir, Diajeng, aku pasti akan dapat membawa pulang anak kita."
"Bukan
hanya Niken yang kuharapkan akan dapat ditolong, Kakangmas, akan tetapi juga
Puspa Dewi dan Ibunya." Kata Dyah Mularsih.
Prasetyo lalu
mengumpulkan selosin orang perajurit pengawal lalu dia memimpin mereka naik
kuda dan menuju keselatan, ke arah Kadipaten Wengker yang dianggap daerah
berbahaya. Sementara itu, Tumenggung Jayatanu cepat mengirim utusan yang
menyusul perjalanan Tejomoyo dan dua orang temannya untuk minta bantuan kepada
Ki Patih Narotama. Sambil menanti datangnya pasukan, Nyai Tumenggung, Dyah
Mularsih dan Tumenggung Jayatanu sendiri bermalam didusun Karang Sari yang
dekat dari Karang Tirta, di rumah Ki Lurah Warsita.
Ki
Suramenggala yang usianya sekitar lima puluh satu tahun itu tertawa bergelak.
Tubuhnya yang tinggi besar terguncang, matanya bersinar-sinar ketika dia
tertawa senang.
"Ha-ha-ha!
Lasmi, akhirnya engkau datang juga untuk melayani suamimu dengan penuh
kesetiaan dan kasih sayang! Lasmi, wong ayu denok, betapa aku rindu
kepadamu!"
Nyi Lasmi yang
tadi diturunkan ke atas lantai dalam ruangan itu oleh Ki Wirobandrek yang
segera keluar dari ruangan itu, duduk bersimpuh dan menggosok-gosok pergelangan
tangannya yang terasa nyeri karena terlalu lama diikat dan baru saja dilepaskan
setelah ia dibawa ke depan Ki Suramenggala. Diam-diam ia merasa heran sekali.
Rumah di mana ia dihadapkan bekas suaminya itu merupakan sebuah gedung mewah
sekali, dan Ki Suramenggala mengenakan pakaian seperti seorang bangsawan
tinggi! Tidak ada orang lain di ruangan itu karena memang Ki Suramenggala
menghendaki demikian.
Biarpun di
dalam hatinya Nyi Lasmi merasa penasaran dan bersedih sekali mengingat akan
pembantaian yang dilakukan terhadap Ki Lurah Pujosaputro sekeluarga, dan ia
maklum pula bahwa dirinya berada dalam cengkeraman laki-laki yang jahat itu,
namun ia sama sekali tidak merasa takut. Ia tahu benar bahwa Ki Suramenggala
amat menyayangnya dan pasti tidak akan menyakitinya. Cinta laki-laki itu
kepadanya hanyalah cinta berahi yang didorong nafsu semata.
"Mari,
Lasmi, ke sinilah kupeluk kupondong untuk melepaskan rinduku yang sudah
menulang-sumsum!" Ki Suramenggala melangkah maju dan membungkuk hendak
meraih tubuh Nyi Lasmi. Akan tetapi Nyi Lasmi menepiskan tangannya dan bangkit
berdiri, agak terhuyung karena kedua kakinya juga terasa kaku kejang karena
terlalu lama diikat.
"Jangan
sentuh aku!" bentaknya ketus.
"Aku
bukan isterimu lagi!"
"Ah,
jangan begitu, manisku. Jangan bersikap jual mahal...!" laki-laki itu
menggoda sambil menyeringai dan matanya bersinar-sinar penuh gairah nafsu
memandang tubuh Nyi Lasmi yang masih tampak padat dan denok itu.
"Ki
Suramenggala, aku bukan isterimu lagi dan tidak sudi melayanimu. Andika seorang
yang berhati kejam dan jahat! Andika menyuruh anak buah Andika membunuhi Ki
Lurah Pujosaputro sekeluarga, padahal mereka tidak bersalah. Mereka adalah
orang-orang yang baik budi dan Andika membantai mereka. Alangkah
kejamnya!"
"Wah,
Lasmi, sayangku. Jangan berpendapat seperti itu. Siapa bilang dia tidak
bersalah? Dia merampas kedudukanku sebagai Lurah Karang Tirta."
"Dia
menjadi lurah karena pilihan penduduk Karang Tirta, dan Andika dipecat bukan
olehnya, melainkan oleh Gusti Patih Narotama! Seharusnya kepada Gusti Patih itu
Andika membalas dendam, bukan kepada Ki Lurah Pujosaputro sekeluarga!"
"Ha-ha-ha,
akan tiba saatnya aku membunuh Narotama dengan kerisku! Sudahlah mari kita
bersenang-senang, yayi (Adinda) Lasmi! Sekarang derajatmu akan meningkat tinggi
sekali. Kalau dulu engkau hanya selir lurah, sekarang menjadi selir tercinta
seorang tumenggung! Ketahuilah, manis, aku sekarang adalah Tumenggung
Suramenggala dan anakku Linggajaya itu sekarang menjadi raja, menjadi Adipati
Linggawijaya dari Kerajaan Wengker ini, ha-ha-ha!"
Diam-diam Nyi
Lasml menjadi terkejut dan heran. Sukar membayangkan Linggajaya kini menjadi
raja! Akan tetapi, mendengar bahwa Ki Suramenggala kini menjadi tumenggung,
tidak membuat ia senang menjadi selirnya. Sebetulnya, beberapa bulan saja
setelah diambil sebagal selir oleh Ki Suramenggala, ia sudah merasa tidak suka
kepada orang yang berwatak kejam dan congkak ini. Kalau dulu ia bertahan, hal
itu karena terpaksa, ia kehilangan puterinya dan Ki Suramenggala amat
menyayangnya dan laki-laki itu menjadi satu-satunya orang yang dapat dijadikan
tempat ia berlindung dan bersandar. Akan tetapi, setelah ia terbebas dari
cengkeraman orang itu, apalagi setelah melihat betapa kejamnya Ki Suramenggala
mengirim anak buahnya membantai Ki Lurah Pujosaputro sekeluarga, kini ia merasa
muak dan benci kepadanya.
"Ki
Suramenggala, tidak ada gunanya Andika membujuk rayu padaku. Aku tidak sudi
menjadi selirmu, tidak sudi melayanimu. Andaikata Andika menjadi raja besar
sekalipun aku tidak ingin nunut mukti (ikut menikmati kemuliaan) denganmu.
Andika jahat dan kejam sekali, dan aku benci padamu!"
"Hemm,
apa yang kau andalkan maka engkau berani bersikap seperti ini kepadaku, Lasmi?
Puterimu Puspa Dewi pun tidak akan mampu berbuat sesuatu dan kalau ia berani
muncul, ia pasti akan menjadi tawanan kami pula! Apa kaukira engkau akan dapat
melepaskan diri dariku? Dapat melawan kehendakku?"
No comments:
Post a Comment