Nurseta Satria Karangtirta ; Bagian 20


la dipersilakan duduk berhadapan dengan Puspa Dewi, sedangkan orang-orang lain tidak gaduh lagi, mendengarkan dengan penuh perhatian.
"Nah, Bibi Katmi, hapuskan air matamu dan tenanglah. Sekarang ceritakan dengan rinci apa yang telah terjadi kemarin malam."
Nyi Katmi lalu menceritakan dengan suara terharu dan sambil menahan tangisnya.
"Malam itu saya mendengar teriakan-teriakan kesakitan. Ketika saya keluar dari kamar saya melihat belasan orang berpakaian serba hitam membunuhi semua penghuni rumah dengan kejam. Mereka menggunakan klewang (golok). Karena takut, saya terkulai dan jatuh menelungkup dalam keadaan setengah pingsan. Akan tetapi saya masih dapat melihat Mas Ajeng Lasmi dipanggul seorang penjahat dengan kaki tangan terikat dan mendengar ia menangis dan memaki-maki. Karena tidak tahan melihat banjir darah yang terjadi malam itu, saya tidak dapat bangun dan hanya dapat pura-pura mati sambil menahan tangis. Mungkin mereka mengira bahwa saya telah mati, maka tidak ada yang mengganggu saya."
"Apakah engkau mendengar mereka bicara yang menunjukkan siapa mereka?" tanya Puspa Dewi.
"Saya mendengar percakapan singkat dua orang di antara mereka. Yang memanggul Mas Ajeng Lasmi berkata; ‘Wah, wanita ini masih denok lembut!’ Lalu orang ke dua menjawab, 'Awas, ia itu selir Bendoro Menggung Suramenggala, jangan main-main!' Hanya itulah yang saya dengar."

Wajah Puspa Dewi menjadi merah sekali dan ia mengepal tangan kanannya.
"Jahanam Suramenggala yang melakukan ini, keparat!"
Tiba-tiba seorang laki-laki yang usianya sekitar dua puluh enam tahun berkata,
"Saya juga mendengar percakapan dua orang tinggi besar yang memimpin gerombolan itu, Mas Ayu..."
Orang ini menderita luka serangan gerombolan dan lengan kanan dan paha kirinya masih dibalut.
"Hemm, bagus, Kakang Canang. Cepat ceritakan!" kata Puspa Dewi sambil memandang pemuda itu.
"Ketika itu saya dan teman-teman melakukan penjagaan di gapura desa ketika dua belas orang berpakaian hitam itu menyerbu masuk. Sebelum dapat berbuat banyak, kami telah mereka serang dan saya pun menderita luka-luka dan roboh. Pada saat itu, saya mendengar dua orang pemimpin mereka bicara. Yang seorang berkata,
“Kita harus berhasil, kalau tidak Gusti Adipati Linggawijaya tentu akan marah kepada kita”. Kemudian orang ke dua berkata, “Bukan hanya Gusti Adipati, akan tetapi terutama sekali Tumenggung Suramenggala, ayah Gusti Adipati itu, tentu akan menghukum kita. Kabarnya dia lebih kejam dibandingkan puteranya'. Nah, itulah percakapan mereka."
Puspa Dewi mengerutkan alisnya mendengar keterangan itu. Adipati Linggawijaya? Setahunya, adipati di Wengker bernama Adipati Adhamapanuda. Ah, tentu Linggajaya kini telah menjadi adipati di Wengker dan Ki Suramenggala sekarang menjadi Tumenggung Suramenggala karena dia Ayah Linggajaya. Tidak salah lagi. Tentu Ki Suramenggala dan Linggajaya yang mendalangi pembantaian keluarga Ki Lurah Pujosaputro dan menculik Ibunya.
Puspa Dewi lalu meninggalkan pesan kepada mereka yang berada di situ untuk melaporkan kepada Tumenggung Jayatanu dan Senopati Yudajaya yang akan tiba di dusun itu tak lama lagi bahwa ia langsung melakukan pengejaran terhadap para pembunuh dan penculik Ibunya ke Kerajaan Wengker. Setelah meninggalkan pesan itu, Puspa Dewi segera melesat lenyap dan sudah berlari dengan cepat sekali keluar dusun Karang Tirta menuju ke kota raja atau kota Kadipaten Wengker.

Menjelang sore, dua buah kereta yang ditumpangi keluarga Tumenggung Jayatanu tiba di dalam dusun Karang Tirta. Para penduduk menyambut dengan hormat. Setelah Tumenggung Jayatanu dan Senopati Yudajaya mendengar keterangan para penduduk tentang penyerbuan orang-orang Wengker dan membantai keluarga Ki Lurah dan menculik Nyi Lasmi, mereka menjadi marah sekali. Terutama Senopati Yudajaya selain marah juga merasa sedih dan iba kepada Nyi Lasmi, isterinya yang hidup terlunta-lunta setelah berpisah darinya.
Menurut gejolak hatinya. Ingin ia langsung menyusul Puspa Dewi yang oleh para penduduk dikabarkan melakukan pengejaran ke Kadipaten Wengker. Akan tetapi Tumenggung Jayatanu mencegahnya.
"Sungguh tidak bijaksana kalau engkau menyusul puterimu ke sana sekarang." kata Kakek itu.
"Kadipaten Wengker mempunyai banyak sekali orang sakti dan mereka juga mempunyai pasukan yang kuat. Engkau akan mencelakai diri sendiri dan tidak akan dapat menyelamatkan Nyi Lasmi kalau mengejar sendiri."
"Akan tetapi, Kanjeng Rama! Lasmi dan Dewi berada di sana! Saya harus membela mereka!"
"Tentu saja kita harus membela mereka, akan tetapi bukan seorang diri. Kita melaporkan ke kota raja dan mengerahkan pasukan untuk melakukan pengejaran ke pedalaman Wengker. Mengenai isterimu Lasmi dan puterimu Puspa Dewi, jangan terlalu dikhawatirkan. Penculik itu tidak akan membunuh Lasmi karena kalau demikian halnya, tentu ia sudah dibunuh bersama anggota keluarga Ki Pujosaputro, tidak perlu susah-susah diculik. Dan tentang Puspa Dewi, tidak usah khawatir. Puterimu itu adalah seorang yang sakti mandraguna, tidak sembarang orang dapat mengganggunya. Ia Pasti dapat menjaga diri, bahkan tidak mustahil ia akan mampu menolong Ibunya."
Tiba-tiba terdengar teriakan Nyai Tumenggung,
"Aduh, cucuku Ken Harni menghilang...!!"
Tumenggung Jayatanu dan Prasetyo cepat berlari memasuki rumah dan Nyai Tumenggung dengan wajah pucat memberitahukan bahwa sejak tadi ia tidak melihat Niken Harni. Dicari-cari juga tidak dapat ditemukan.
"Tadi ia bersamaku, lalu bilang hendak keluar berjalan-jalan sebentar," kata Dyah Mularsih yang juga kebingungan dan khawatir.
"Akan tetapi sampai sekarang ia tidak kembali!"

Prasetyo atau Senopati Yudajaya cepat berlari ke belakang di mana kuda dan kereta berada. Akan tetapi kusir dan para prajurit juga tidak melihat Niken Harni. Dia berlari keluar dan bertanya-tanya kepada semua orang yang dijumpai di dusun Itu. Akhirnya seorang pemuda yang berada dekat pintu gapura melaporkan bahwa tadi dia melihat gadis bangsawan itu berlari cepat meninggalkan dusun Karang Tirta. Dengan jantung berdebar tegang dan hatinya gelisah sekali, Prasetyo kembali kepada mertuanya.
"Ada yang melihat Niken berlari meninggalkan dusun!" katanya.
"Aduh, bocah ngeyel (tidak penurut) itu! Ia tentu pergi menyusul Puspa Dewi! Ia memasuki gua harimau, sungguh berbahaya sekali!" Tumenggung Jayatanu berseru.
"Ah, bagaimana ini?" Nyi Tumenggung menangis.
"Kakangmas Prasetyo, Paduka harus cepat menyusul anak kita!" Dyah Mularsih mendesak suaminya.
"Tentu saja!" jawab Prasetyo.
"Aku akan menyusul mereka sekarang juga, bahaya apa pun akan kutempuh untuk menyelamatkan mereka bertiga!"
Baru saja Prasetyo melangkah hendak keluar, Tumenggung Jayatanu memegang lengan mantunya.
"Nanti dulu, Prasetyo. Sebagai seorang senopati, engkau tidak boleh sembrono. Semua harus diperhitungkan dengan matang agar dapat mengatur siasat sehingga usaha kita tidak gagal. Kalau engkau nekat hendak memasuki Wengker engkau bawalah selosin prajurit pengawal itu. Mereka adalah perajurit-perajurit yang cukup terlatih dan tangguh. Sementara itu, aku akan cepat minta bantuan ke Kahuripan agar dikirim pasukan yang kuat dan aku akan memimpin sendiri pasukan itu menyusul ke Wengker."
Prasetyo mengangguk.
"Sendika dhawuh (siap melaksanakan perintah), Kanjeng Rama!" Dia lalu memandang kepada isterinya.
"Jangan khawatir, Diajeng, aku pasti akan dapat membawa pulang anak kita."
"Bukan hanya Niken yang kuharapkan akan dapat ditolong, Kakangmas, akan tetapi juga Puspa Dewi dan Ibunya." Kata Dyah Mularsih.
Prasetyo lalu mengumpulkan selosin orang perajurit pengawal lalu dia memimpin mereka naik kuda dan menuju keselatan, ke arah Kadipaten Wengker yang dianggap daerah berbahaya. Sementara itu, Tumenggung Jayatanu cepat mengirim utusan yang menyusul perjalanan Tejomoyo dan dua orang temannya untuk minta bantuan kepada Ki Patih Narotama. Sambil menanti datangnya pasukan, Nyai Tumenggung, Dyah Mularsih dan Tumenggung Jayatanu sendiri bermalam didusun Karang Sari yang dekat dari Karang Tirta, di rumah Ki Lurah Warsita.

Ki Suramenggala yang usianya sekitar lima puluh satu tahun itu tertawa bergelak. Tubuhnya yang tinggi besar terguncang, matanya bersinar-sinar ketika dia tertawa senang.
"Ha-ha-ha! Lasmi, akhirnya engkau datang juga untuk melayani suamimu dengan penuh kesetiaan dan kasih sayang! Lasmi, wong ayu denok, betapa aku rindu kepadamu!"
Nyi Lasmi yang tadi diturunkan ke atas lantai dalam ruangan itu oleh Ki Wirobandrek yang segera keluar dari ruangan itu, duduk bersimpuh dan menggosok-gosok pergelangan tangannya yang terasa nyeri karena terlalu lama diikat dan baru saja dilepaskan setelah ia dibawa ke depan Ki Suramenggala. Diam-diam ia merasa heran sekali. Rumah di mana ia dihadapkan bekas suaminya itu merupakan sebuah gedung mewah sekali, dan Ki Suramenggala mengenakan pakaian seperti seorang bangsawan tinggi! Tidak ada orang lain di ruangan itu karena memang Ki Suramenggala menghendaki demikian.
Biarpun di dalam hatinya Nyi Lasmi merasa penasaran dan bersedih sekali mengingat akan pembantaian yang dilakukan terhadap Ki Lurah Pujosaputro sekeluarga, dan ia maklum pula bahwa dirinya berada dalam cengkeraman laki-laki yang jahat itu, namun ia sama sekali tidak merasa takut. Ia tahu benar bahwa Ki Suramenggala amat menyayangnya dan pasti tidak akan menyakitinya. Cinta laki-laki itu kepadanya hanyalah cinta berahi yang didorong nafsu semata.
"Mari, Lasmi, ke sinilah kupeluk kupondong untuk melepaskan rinduku yang sudah menulang-sumsum!" Ki Suramenggala melangkah maju dan membungkuk hendak meraih tubuh Nyi Lasmi. Akan tetapi Nyi Lasmi menepiskan tangannya dan bangkit berdiri, agak terhuyung karena kedua kakinya juga terasa kaku kejang karena terlalu lama diikat.
"Jangan sentuh aku!" bentaknya ketus.
"Aku bukan isterimu lagi!"
"Ah, jangan begitu, manisku. Jangan bersikap jual mahal...!" laki-laki itu menggoda sambil menyeringai dan matanya bersinar-sinar penuh gairah nafsu memandang tubuh Nyi Lasmi yang masih tampak padat dan denok itu.
"Ki Suramenggala, aku bukan isterimu lagi dan tidak sudi melayanimu. Andika seorang yang berhati kejam dan jahat! Andika menyuruh anak buah Andika membunuhi Ki Lurah Pujosaputro sekeluarga, padahal mereka tidak bersalah. Mereka adalah orang-orang yang baik budi dan Andika membantai mereka. Alangkah kejamnya!"
"Wah, Lasmi, sayangku. Jangan berpendapat seperti itu. Siapa bilang dia tidak bersalah? Dia merampas kedudukanku sebagai Lurah Karang Tirta."
"Dia menjadi lurah karena pilihan penduduk Karang Tirta, dan Andika dipecat bukan olehnya, melainkan oleh Gusti Patih Narotama! Seharusnya kepada Gusti Patih itu Andika membalas dendam, bukan kepada Ki Lurah Pujosaputro sekeluarga!"
"Ha-ha-ha, akan tiba saatnya aku membunuh Narotama dengan kerisku! Sudahlah mari kita bersenang-senang, yayi (Adinda) Lasmi! Sekarang derajatmu akan meningkat tinggi sekali. Kalau dulu engkau hanya selir lurah, sekarang menjadi selir tercinta seorang tumenggung! Ketahuilah, manis, aku sekarang adalah Tumenggung Suramenggala dan anakku Linggajaya itu sekarang menjadi raja, menjadi Adipati Linggawijaya dari Kerajaan Wengker ini, ha-ha-ha!"
Diam-diam Nyi Lasml menjadi terkejut dan heran. Sukar membayangkan Linggajaya kini menjadi raja! Akan tetapi, mendengar bahwa Ki Suramenggala kini menjadi tumenggung, tidak membuat ia senang menjadi selirnya. Sebetulnya, beberapa bulan saja setelah diambil sebagal selir oleh Ki Suramenggala, ia sudah merasa tidak suka kepada orang yang berwatak kejam dan congkak ini. Kalau dulu ia bertahan, hal itu karena terpaksa, ia kehilangan puterinya dan Ki Suramenggala amat menyayangnya dan laki-laki itu menjadi satu-satunya orang yang dapat dijadikan tempat ia berlindung dan bersandar. Akan tetapi, setelah ia terbebas dari cengkeraman orang itu, apalagi setelah melihat betapa kejamnya Ki Suramenggala mengirim anak buahnya membantai Ki Lurah Pujosaputro sekeluarga, kini ia merasa muak dan benci kepadanya.
"Ki Suramenggala, tidak ada gunanya Andika membujuk rayu padaku. Aku tidak sudi menjadi selirmu, tidak sudi melayanimu. Andaikata Andika menjadi raja besar sekalipun aku tidak ingin nunut mukti (ikut menikmati kemuliaan) denganmu. Andika jahat dan kejam sekali, dan aku benci padamu!"
"Hemm, apa yang kau andalkan maka engkau berani bersikap seperti ini kepadaku, Lasmi? Puterimu Puspa Dewi pun tidak akan mampu berbuat sesuatu dan kalau ia berani muncul, ia pasti akan menjadi tawanan kami pula! Apa kaukira engkau akan dapat melepaskan diri dariku? Dapat melawan kehendakku?"

<<< Bagian 19                                                                                          Bagian 21 >>>

No comments:

Post a Comment