"Aku seorang yang lemah dan tidak akan mampu melawan manusia berwatak iblis seperti engkau, Ki Suramenggala. Akan tetapi aku tidak sudi menyerah dan kalau engkau memaksaku, aku akan bunuh diri!"
Ki
Suramenggala menjadi marah sekali. Kalau saja wanita lain yang berani menolak
keinginannya dan merendahkannya seperti itu, tentu sudah dihantamnya seketika
dan membunuh atau menyiksanya. Akan tetapi, dia memang amat mencinta Nyi Lasmi,
sungguhpun cintanya itu terdorong oleh gairah nafsunya. Dia tidak jadi
menyentuh Nyi Lasmi, lalu duduk di atas kursi dan menggebrak meja di depannya.
"Brakkk...!"
Wajah Ki
Suramenggala berubah merah seperti udang direbus. Dia menahan kekecewaan dan
kemarahannya. Tadinya ia membayangkan bahwa melihat dia kini menjadi
tumenggung, ayah dari Raja Wengker, Nyi Lasmi pasti akan senang dan bangga
hatinya dan akan melayaninya dengan manis, menyerahkan diri sebulatnya
kepadanya. Akan tetapi ternyata kenyataannya sungguh amat berlawanan. Wanita
itu bukan hanya menolak dan tidak sudi melayaninya, bahkan membencinya dan
merendahkannya.
"Keparat
engkau, Lasmi! Tidak tahu disayang orang, manusia tak mengenal budi! Keras
kepala kau! Baik, aku akan melunakkan kekerasan hatimu itu!" Ki
Suramenggala lalu bertepuk tangan dan dua orang perajurit pengawal memasuki
ruangan itu dan berdiri dengan sikap hormat.
"Bawa
wanita ini dan masukkan dalam kamar tahanan di belakang! Awas, perlakukan ia
baik-baik dan jangan ada yang mengganggunya! Cukupi semua kebutuhannya akan
tetapi jangan sekali-kali memberi makan padanya. Aku sendiri yang akan memberi
makan. Kerjakan!"
"Sendika
(siap melaksanakan perintah), Gusti Tumenggung!" jawab pengawal dan mereka
segera memegang lengan Nyi Lasmi dari kanan kiri dengan halus. Akan tetapi Nyi
Lasmi menepiskan kedua tangan yang memegang lengannya itu dan dengan sikap
tegak ia berjalan keluar dari ruangan dikawal dua orang perajurit yang
membawanya ke dalam sebuah kamar tahanan di bagian belakang gedung
katumenggungan itu. Nyi Lasmi dikeram dalam kamar sebagai tahanan. Ia memang
diperlakukan dengan hormat dan baik oleh para pengawal dan pelayan, akan tetapi
sama sekali tidak diberi makan. Setelah sehari semalam ia tidak makan, pada
keesokan harinya Ki Suramenggala sendiri memasuki kamar dan menyerahkan
sepiring nasi bersama lauk-pauknya kepada Nyi Lasmi. Tentu saja di dalam
makanan ini telah diisi kekuatan sihir untuk melunakkan dan menundukkan hati
wanita yang masih amat dicinta oleh Ki Suramenggala itu. Akan tetapi dengan
penuh kebencian dalam sinar matanya. Nyi Lasmi memandang piring yang disodorkan
oleh Ki Suramenggala itu dengan alis berkerut.
"Aku
tidak sudi makan suguhanmu! Lebih baik mati kelaparan!" wanita itu membentak
ketus dan tangannya menampar piring sehingga terlepas dari tangan Ki
Suramenggala dan isinya berserakan di atas lantai.
Ki
Suramenggala terkejut sekali, tidak menyangka Nyi Lasmi akan berbuat demikian.
Dia sudah mengepal tinju, siap memukul saking marahnya. Nyi Lasmi berdiri tegak
dan menanti pukulan dengan mata terbuka, penuh tantangan. Melihat wajah itu, Ki
Suramenggala tidak tega memukul dan dia hanya menghela napas panjang lalu
keluar dari kamar itu. Pelayan segera datang membersihkan lantai. Ki Suramenggala
menemui puteranya di istana Kerajaan Wengker. Kebetulan sekali pada waktu itu,
Linggajaya yang kini menjadi Adipati Linggawijaya, raja Kerajaan Wengker,
sedang bercakap-cakap dalam ruangan pribadinya dengan isterinya, Permaisuri
Dewi Mayangsari, dan Sang Resi Bajrasakti. Mereka sedang membicarakan tentang
permusuhan mereka dengan Kahuripan, atau lebih tepat kebencian mereka yang
membuat mereka selalu memusuhi Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama. Sejak
menjadi raja di Wengker, Adipati Linggawijaya tidak pernah melupakan
kebenciannya terhadap raja dan patih Kahuripan itu, bersama semua satria yang
membela Kahuripan. Dia ingin sekali menundukkan Kahuripan, karena kalau dia
dapat menguasai Kahuripan, dia akan menjadi raja besar yang akhirnya dapat
menguasai seluruh Nusantara! Sang Adipati Linggawijaya tampak berbeda dengan
ketika dia masih menjadi Linggajaya pemuda Karang Tirta putera Ki Lurah
Suramenggala. Memang, sejak dahulu dia merupakan seorang pemuda pesolek dan
tampan. Akan tetapi sekarang dia mengenakan pakaian kebesaran yang serba
gemerlapan dan tampak anggun berwibawa sekali, sungguhpun usianya masih amat
muda, baru sekitar dua puluh satu tahun! Di sampingnya duduk Dewi Mayangsari
yang kini menjadi permaisurinya. Wanita ini pun berpakaian serba indah dan
harus diakui bahwa ia cantik sekali dan sungguhpun usianya sudah sekitar dua
puluh sembilan tahun, namun ia tidak tampak lebih tua daripada Adipati
Linggawijaya! Kulitnya yang agak hitam namun halus bersih itu membuat ia tampak
semakin manis. Tidak akan ada yang menyangka bahwa dalam tubuh yang ramping
padat, wajah cantik manis dengan sinar mata dan senyum genit ini, terdapat
kekuatan yang amat dahsyat karena ia yang tadinya memang sudah digdaya ini
mendapat tambahan banyak ajian yang serba hebat dari gurunya yang baru, yaitu
Nini Bumigarbo.
Seperti kita
ketahui, Nini Bumigarbo yang sakti mandraguna itu amat membenci Sang Maha Resi
Satyadarma karena Sang Resi ini telah memberi wejangan kepada Ekadenta sehingga
Ekadenta mengambil keputusan untuk menjadi Brahmacari (pantang menikah).
Padahal Ekadenta, kakak seperguruannya itu adalah juga kekasihnya dan
sebelumnya mereka berdua yang saling mencinta telah bersepakat untuk menjadi
suami isteri. Keputusan Ekadenta untuk tidak menikah selama hidupnya tentu saja
membuat Gayatri, yaitu nama Nini Bumigarbo ketika masih gadis muda, berduka
sekali dan ia membenci Sang Maha Resi Satyadharma. Akan tetapi ia tidak berani
melampiaskan kebenciannya kepada pendeta yang sakti mandraguna itu. Ia tahu
bahwa ia tidak akan pernah menang melawan Sang Maha Resi. Maka, ia lalu
berusaha untuk membunuh dua orang murid terkasih dari Maha Resi Satyadharma,
yaitu Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama. Akan tetapi, sungguh
menjengkelkan hatinya, Ekadenta selalu menentangnya dan bekas kakak seperguruan
dan juga kekasihnya itu membela raja dan patih itu. Beberapa kali ia
bertanding, namun selalu kalah oleh Bhagawan Ekadenta yang juga bernama
Bhagawan Oitendrya. Akhirnya Nini Bumigarbo mengambil Dewi Mayangsari,
permaisuri Kerajaan Wengker sebagai murid. Ia menurunkan kepandaiannya kepada
permaisuri itu dengan maksud agar melalui muridnya ini, ia akan dapat
melampiaskan sakit hatinya dengan menyerang dan kalau mungkin membunuh Sang
Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama.
Berhadapan
dengan suami isteri pimpinan Kerajaan Wengker itu, duduk Sang Resi Bajrasakti,
kakek yang berusia sekitar lima puluh enam tahun, bertubuh tinggi besar dengan
muka penuh brewok dan berkulit hitam arang. Seperti kita ketahui, Resi
Bajrasakti ini sejak dulu menjadi tokoh Wengker dan dia adalah guru Adipati
Linggawijaya. Setelah muridnya itu menjadi Adipati Wengker, Resi Bajrasakti
diangkat menjadi Guru Kerajaan atau penasihat pribadi Sang Adipati. Kedudukan
ini amat tinggi dan dia memiliki kekuasaan besar, hanya di bawah kekuasaan Sang
Adipati dan Sang Permaisuri. Mereka bertiga sedang berbincang-bincang
membicarakan keinginan mereka untuk menggempur Kahuripan. Mereka bertiga memang
sama-sama membenci Kahuripan. Resi Bajrasakti membenci Kahuripan karena sejak
dulu ia memang menjadi tokoh Wengker yang selalu memusuhi Kahuripan, akan
tetapi dia sering kali kalah bertanding melawan para tokoh Kahuripan.
Permaisuri Dewi Mayangsari membenci Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama
karena selain sejak dulu menjadi musuh bebuyutan, ditambah lagi desakan Nini
Bumigarbo agar ia menyerang dan membunuh raja dan patih Kahuripan itu. Adapun
Adipati Linggawijaya sendiri, dia ingin merampas kedudukan sebagai maharaja di
Kahuripan yang memiliki wilayah luas sekali. Selagi mereka bercakap-cakap,
datanglah Tumenggung Suramenggala. Sebagai ayah Sang Adipati, tentu saja para
pengawal tidak berani melarangnya untuk kapan saja memasuki Istana. Melihat
kedatangan ayahnya, Adipati Linggawijaya mempersilakan Tumenggung Suramenggala
duduk di sebelah Resi Bajrasakti. Dia memandang wajah ayahnya yang tampak
keruh.
"Kanjeng
Rama, apakah yang menyusahkan hati Rama?" Adipati Linggawijaya bertanya.
Semenjak dia
menjadi adipati dan ayahnya menjadi tumenggung, dia mengubah panggilannya. Kalau
dulu memanggil ayahnya cukup bapak saja, sekarang menjadi kanjeng rama, tentu
saja untuk disesuaikan dengan kedudukannya!
Tumenggung
Suramenggala menghela napas.
"Siapa
lagi yang dapat menyusahkan hatiku kalau bukan Ibunda Nyi Lasmi itu? Ia
berkeras tidak mau kembali sebagai keluarga kita."
Wajah bekas
lurah itu menjadi merah dan alisnya berkerut.
"Bukan
saja ia menolak, bahkan menghina dan setelah sehari semalam tidak diberi makan,
tadi ia menolak dan menampar tumpah nasi yang kubawakan untuknya. Ah, perempuan
itu sungguh keras kepala!"
"Kanjeng
Rama, mengapa Andika bersedih hanya karena penolakan seorang perempuan dusun
seperti itu?" kata Dewi Mayangsari. "Kalau Andika menghendaki selir
baru, saya dapat mencarikan seorang perawan cantik untuk Andika!"
"Benar
sekali apa yang dikatakan Yayi Ratu Dewi Mayangsari, Kanjeng Rama. Untuk apa
memusingkan penolakan perempuan itu? Ia bukan apa-apa bagi keluarga kita,
bahkan selama menjadi selir Kanjeng Rama, ia tidak menurunkan anak. Sebaiknya
dibunuh saja perempuan itu!" kata Adipati Linggawijaya.
"Baik
sekali usul itu, Kanjeng Rama." kata Dewi Mayangsari.
"Memang
sebaiknya dibunuh saja perempuan sombong tak tahu diri itu! Seorang perempuan
dusun, janda lagi, berani menolak untuk menjadi selir Kanjeng Rama Tumenggung?"
Mendengar
ucapan puteranya dan mantunya itu, Tumenggung Suramenggala termenung, alisnya
berkerut.
"Ah,
aku... aku tidak tega untuk membunuhnya..."
"Ah, itu
mudah saja, Kanjeng Rama? Biar kita suruh saja seorang perajurit pengawal untuk
membunuhnya. Kalau Kanjeng Rama tidak tega ia dibunuh di sini, biar ia dibawa
keluar istana, ke dalam sebuah hutan lalu dibunuh."
Tumenggung
Suramenggala menghela napas panjang beberapa kali lalu mengangguk-angguk.
"Agaknya
tidak ada jalan lain..."
"Saya
tidak setuju kalau Nyi Lasmi dibunuh!"
Tiga orang itu
memandang Resi Bajrasakti yang mengeluarkan kata-kata itu. Adipati Linggawijaya
tertawa.
"Ha-ha-heh-heh,
agaknya Bapa Resi tertarik kepada Nyi Lasmi?" tanyanya.
Resi
Bajrasakti juga tertawa.
"Ha-ha-ha,
Ananda Adipati, lima orang selir yang masih muda-muda itu sudah cukup banyak
bagi saya, untuk apa menambah lagi dengan seorang perempuan yang sudah setengah
tua? Bukan itu maksud saya."
"Hemm,
kalau begitu, mengapa Bapa Resi tidak setuju kalau ia dibunuh?"
"Ingat,
wanita itu adalah Ibu kandung Puspa dewi!"
"Kami
tidak takut!" kata Adipati Linggawijaya dan Dewi Mayangsari berbareng.
Adipati Linggawijaya menyambung.
"Biar ia
datang ke sini kalau ia berani, kita akan tangkap gadis liar itu!"
"Bukan
begitu maksud saya! Akan tetapi kita pun tahu bahwa Puspa Dewi adalah Sekar
Kedaton Wura-Wuri yang sudah mengkhianati Wura-Wuri. Mengapa kita tidak
menggunakan Nyi Lasmi untuk berjasa terhadap Wura-Wuri sehingga kita papat
bekerja sama semakin erat dengan Kerajaan Wura-Wuri? Adipati Bhimaprabhawa,
terutama permaisurinya, Nyi Dewi Durgakumala, pasti marah sekali kepada Puspa
Dewi dan ingin sekali menangkap gadis itu. Nah, lebih baik kita serahkan Nyi
Lasmi kepada mereka. Wura-Wuri dapat memancing datangnya Puspa Dewi dengan Ibu
kandung gadis itu sebagai sandera dan akhirnya mereka dapat menangkapnya.
Dengan demikian sekali tepuk kita mendapatkan dua keuntungan, karena Wura-Wuri
tentu akan berterima kasih kepada kita."
Adipati
Linggawijaya dan permaisurinya mengangguk-angguk senang.
"Gagasan
yang baik sekali itu, Bapa Resi! Bagaimana, Kanjeng Rama, apakah Andika juga
setuju dengan usul itu?"
Tumenggung
Suramenggala menghela napas panjang.
"Terserah,
aku sudah pusing memikirkan kekerasan hati Nyi Lasmi. Biarlah, kalau ia tidak
mau melayani aku, masih banyak wanita yang bersedia melakukannya dengan senang
hati."
"Tentu
saja, Kanjeng Rama. Saya akan mencarikan pengganti Nyi Lasmi, seorang gadis
muda yang cantik jelita untuk menghibur hati Kanjeng Rama." kata Dewi
Mayangsari.
Setelah mengakhiri
percakapan itu, Adipati Linggawijaya lalu membuat sepucuk surat kepada Adipati
Bhismaprabhawa dan Nyi Dewi Durgakumala, yang isinya menyerahkan Nyi Lasmi, ibu
kandung Puspa Dewi, kepada Wura-Wuri sebagai tanda persahabatan karena Wengker
juga merasa penasaran akan pengkhianatan Puspa Dewi terhadap Wura-Wuri dan
persekutuan mereka bersama sehingga usaha mereka menghancurkan Kahuripan gagal.
Perjalanan
dari Wengker ke Wura-Wuri tidak dekat, dengan berkuda pun akan memakan waktu
sedikitnya lima hari. Maka, Adipati Linggawijaya lalu mengutus dua orang jagoan
Wengker yang berjasa menculik Nyi Lasmi dari Karang Tirta, yaitu Wirobento dan
Wlrobandrek, memimpin selosin orang perajurit pilihan, untuk mengawal Nyi Lasmi
dan mengantarkannya ke kota raja Wura-Wuri.
No comments:
Post a Comment