Nurseta Satria Karangtirta ; Bagian 22


Berangkatlah rombongan itu setelah untuk yang terakhir kalinya Tumenggung Suramenggala membujuk Nyi Lasmi untuk menyerah kepadanya daripada dibawa ke Wura-Wuri akan tetapi Nyi Lasmi berkeras menolak. Empat belas orang pengawal itu menunggang kuda dan Nyi Lasmi terpaksa juga menunggang kuda karena kalau ia berkeras tidak mau, ia akan diboncengkan oleh Wirobandrek di atas seekor kuda. Wanita itu memilih menunggang kuda sendiri, dan ia memang sudah terbiasa menunggang kuda dahulu ketika menjadi selir Ki Suramenggala di Karang Tirta.

Pemuda Cina itu berusia sekitar dua puluh tujuh tahun. Pakaiannya sederhana dan dari pakaiannya yang sama dengan pakaian pemuda pribumi dapat diketahui bahwa pemuda Cina itu tentu sudah lama berada di Nusa Jawa sehingga sudah dapat menyesuaikan diri dengan kehidupan penduduk pribumi. Tubuhnya tinggi agak kurus, mukanya pucat kuning. Matanya yang sipit mengandung sinar tajam. Di punggungnya terselip siang-to (sepasang golok). Bahkan rambutnya pun digelung ke atas model rambut para pria pribumi. Yang membuat orang dapat menyangka bahwa dia seorang asing adalah kekuningan kulitnya dan kesipitan matanya. Juga kalau dia bicara, walaupun fasih bicara daerah, tetap saja masih agak cadel (pelo). Pemuda Cina itu adalah seorang pemuda dari Negeri Cina yang melarikan diri ke Nusa Jawa karena ia dikejar-kejar beberapa orang jagoan yang hendak membunuhnya. Sekitar tujuh tahun yang lalu pemuda Cina yang bernama The Jiauw Lan ini tinggal di sebuah dusun dekat kota raja Nan-king. Sejak muda dia telah pandai bermain silat dan hidup sebagai seorang pendekar yang menentang kejahatan. Pada suatu hari dia melihat Bong Kongcu (Tuan muda Bong), putera seorang pembesar kota raja bersama beberapa orang jagoannya mengganggu seorang gadis. The Jiauw Lan marah dan menghajar pemuda bangsawan dan jagoan-jagoannya itu dan menyelamatkan gadis yang diganggu. Akan tetapi ternyata peristiwa Itu mendatangkan malapetaka besar bagi The Jiauw Lan. Ketika dia tidak berada di rumah, serombongan anak buah Bong Kongcu menyerbu rumahnya dan ayah ibunya dibunuh. Adiknya, seorang gadis remaja yang ketika itu berusia sekitar tiga belas tahun hilang entah ke mana. The Jiauw Lan menjadi marah sekali. Dia membalas dendam, menyerbu rumah Bangsawan Bong dan berhasil membunuh Bong Kongcu dan beberapa orang jagoannya. Perbuatan ini tentu saja menggemparkan kota raja dan dia terpaksa melarikan diri dan menjadi orang buruan. Pembesar Bong tidak mau menerima begitu saja dan dia menyuruh para pembunuh bayaran untuk mencari dan mengejar Jiauw Lan untuk dibunuh. Belum puas dengan ini, Pembesar Bong juga memaksa kekasih Jiauw Lan yang bernama Mei Hwa yang sudah bertunangan dengannya, untuk menjadi selir Bangsawan Bong. Hal ini dilakukan pembesar Itu bukan sekedar memuaskan nafsunya, akan tetapi terutama sekali untuk membalas dendam kepada Jiauw Lan yang telah membunuh puteranya. Demikianlah, Jiauw Lan terpaksa melarikan diri berlayar ke selatan karena daratan Cina merupakan tempat yang tidak aman baginya. Setelah tiba di Nusa Jawa, dia merantau, berpindah-pindah tempat dan akhirnya dia mengasingkan diri di Danau Sarangan, di lereng Gunung Lawu. Sungguh di luar dugaannya, Pembesar Bong yang masih mendendam kepadanya, berhasil membujuk gurunya yang berjuluk Pek I Kiam-sian (Dewa Pedang Baju Putih) bernama Souw Kiat untuk mencarinya sampai ke Nusa Jawa. Gurunya itu masih ditemani dua orang paman gurunya yang bernama Gan Hok dan Giam Lun. Kurang lebih dua tahun yang lalu, secara kebetulan The Jiauw Lan menyelamatkan Puteri Listyarini, Isteri Ki Patih Narotama yang diculik penjahat. Ki Patih Narotama datang untuk menjemput isterinya yang diselamatkan Jiauw Lan. Akan tetapi kedatangan Ki Patih Narotama agak terlambat sehingga kedahuluan munculnya guru dan dua orang paman guru Jiauw Lan. Percuma saja Jiauw Lan melawan. Dia terluka dan dirobohkan bahkan menerima Hwe tok-ciang (Tangan Racun Api) dari Pek I Kiamsian yang hendak membuat bekas muridnya itu cacat dan kehilangan tenaga saktinya sebagai hukuman. Akan tetapi, Ki Patih Narotama yang sakti mandraguna, mempergunakan tongkat pusakanya Tunggul Manik yang dapat memunahkan racun dari tubuh Jiauw Lan sehingga pemuda Cina itu selamat. Jadilah dia sahabat baik Ki Patih Narotama yang berterima kasih, bahkan Listyarini menganggap dia sebagai saudara. Akan tetapi Jiauw Lan menolak ketika hendak diajak ke Kahuripan. Dia lebih suka mengasingkan diri dan merantau. Sejak pertemuan dan perkenalannya dengan Listyarini yang menganggap dia sebagai kakak angkat, Jiauw Lan menggunakan nama Tejoranu. Listyiarini tidak dapat menyebut nama The Jiauw Lan dan menyebutnya Tejoranu!

Demikianlah sedikit riwayat singkat The Jiauw Lan yang kini bernama Ki Tejoranu. Beberapa bulan yang lalu dia bertemu dengan seorang Cina lain di kaki Gunung Lawu. Kebetulan sekali dia mengenal laki-laki itu yang bernama Tan Sek. Dari Tan Sek Inilah dia memperoleh berita yang mengejutkan, mengherankan akan tetapi juga menyenangkan. Kenalannya itu bercerita banyak tentang The Kim Lan, adik perempuannya yang hilang ketika ayah ibunya terbunuh dan ketika itu berusia tiga belas tahun. Menurut penuturan Tan Sek, adiknya itu kini telah menjadi seorang gadis yang amat lihai setelah berguru kepada seorang hwesio (Pendeta Buddha) dari Kuil Siaw Lim. Yang menggembirakan adalah berita bahwa The Kim Lan, adiknya yang kini menjadi seorang gadis berusia sekitar dua puluh tahun, menyusulnya ke Jawa dan kini sedang mencarinya.
"Sejak dua bulan ini, Adikmu, The Kim Lan itu berada di sekitar Gunung Kawi." demikian Tan Sek, temannya itu bercerita.
Mendengar cerita temannya itu, Ki Tejoranu merasa gembira sekali dan dia segera melakukan perjalanan menuju Gunung Kawi! Setelah tiba di daerah Gunung Kawi, dia merantau di sekitar gunung itu untuk mencari adiknya yang menurut Tan Sek berada di situ. Akan tetapi sampai hari itu, dia belum juga dapat menemukan The Kim Lan. Pagi hari itu dia berjalan dengan penuh semangat karena malam tadi, di sebuah dusun di mana dia bermalam, dia mendengar dari seorang penduduk yang melihat seorang gadis Cina berjalan menuju ke barat. Mendengar ini, pagi-pagi sekali Ki Tejoranu berangkat ke barat untuk menyusul gadis Cina itu, hampir yakin bahwa gadis itu tentu adiknya karena pada waktu itu langka menemukan seorang gadis Cina di pedalaman. Kalaupun ada wanita Cina, yang belum begitu banyak, mereka itu tentu berada di kota-kota di pesisir utara. Selagi dia berjalan sambil dengan teliti memandang ke sekeliling untuk menemukan jejak adiknya, dia mendengar derap kaki kuda dari belakang. Ki Tejoranu cepat menyelinap di balik pohon besar untuk mengintai siapa yang datang itu. Dia melihat lima orang menunggang kuda lewat di jalan yang kasar itu. Mereka adalah dua belas orang perajurit yang dipimpin dua orang laki-laki tinggi besar berpakaian mewah. Yang mengherankan hatinya adalah ketika dia melihat seorang wanita di antara mereka. Wanita itu pun menunggang kuda, diapit oleh dua orang pemimpin pasukan. Melihat wanita itu berwajah sedih, bahkan jelas tampak bahwa ia habis menangis, kedua matanya agak merah membengkak, hati Ki Tejoranu tertarik. Timbul jiwa kependekarannya. Dia mencium keadaan yang tidak wajar, tentu ada yang tidak beres dalam rombongan itu. Siapa tahu, wanita itu membutuhkan pertolongan. Maka Ki Tejoranu cepat berlari mengikuti rombongan berkuda itu. Jalan itu memasuki sebuah hutan.

Matahari mulai naik tinggi dan Ki Wirobente yang memimpin pasukan bersama Ki Wirobandrek mengantar Nyi Lasmi ke Kerajaan Wura-wuri, memberi aba-aba untuk berhenti. Dia memerintahkan berhenti ketika melihat Nyi Lasmi tampak lemas dan duduknya mulai miring-miring hampir jatuh.
"Kita berhenti mengaso di sini. Nyi Lasmi, turunlah, Andika boleh beristirahat menghilangkan lelah." katanya kepada Nyi Lasmi. Dengan tubuh lemas karena kelelahan dan kelaparan, Nyi Lasmi turun dari atas punggung kudanya dan terkulai, duduk mendeprok di atas tanah.
Wirobandrek lalu menghampiri Nyi Lasmi yang masih duduk mendeprok di atas tanah, menjulurkan tangan menawarkan tempat minuman dan sebungkus makanan.
"Nih, makan dan minumlah dulu, Nyi Lasmi, agar engkau tidak lemah dan sakit."
Akan tetapi Nyi Lasmi menggeleng kepalanya.
"Biarkan aku mati saja, aku tidak ingin menjadi sandera untuk memancing Anakku...."
"Kakang Bento, kalau perempuan ini tidak mau makan dan mati kelaparan di jalan, kita tentu akan dipersalahkan oleh Tumenggung Suramenggala."
"Benar, Adi Bandrek. Gusti Adipati Linggawijaya tidak akan mengampuni kita. Maka, paksa saja ia makan!"
Ki Wirobento lalu memegang kedua lengan Nyi Lasmi, ditelikung ke belakang dan Ki Wirobandrek mulai memaksa Nyi Lasmi makan dengan menjejalkan nasi ke mulut wanita itu. Nyi Lasmi mengatupkan mulutnya dan membuang muka ke kanan kiri untuk menghindarkan jejalan makanan pada mulutnya.

Ki Tejoranu marah sekali melihat hal ini. Akan tetapi sebelum dia melompat keluar untuk menolong wanita itu, tiba-tiba terdengar bentakan nyaring.
"Orang-orang jahat!"
Dan berkelebatlah bayangan orang dan tahu-tahu muncul seorang gadis berpakaian serba biru. Sekali pandang saja orang dapat mengetahui bahwa ia tentu seorang gadis Cina. Hal ini dapat dikenal dari bentuk pakaiannya, dan gelung rambutnya ke atas. Gadis ini berusia sekitar dua puluh tahun, bertubuh ramping padat dan wajahnya manis, berkulit putih kuning. Di punggungnya tergantung sebatang pedang.
Begitu muncul, gadis itu telah melompat dekat Nyi Lasmi dan cepat sekali tangan kanannya menghantam ke arah tubuh Wirobento dan kaki kirinya menendang ke arah tubuh Wirobandrek. Dua orang jagoan Wengker ini bukan orang lemah. Melihat betapa pukulan dan tendangan itu mendatangkan angin serangan yang kuat, mereka maklum bahwa mereka diserang seorang yang digdaya, maka mereka cepat berlompatan ke belakang untuk mengelak. Gadis itu lalu berkata dengan suara nyaring namun ucapannya cadel (pelo).
"Bibi, jangan takut! Aku akan menghajar mereka!"
Setelah berkata demikian, gadis Cina itu sudah mencabut pedangnya dan tampak sinar berkelebat ketika pedangnya tercabut. Ki Tejoranu membelalakkan matanya yang sipit. Jantungnya berdebar kencang dan hatinya merasa terharu sekali. Sukar untuk mengenali gadis Cina itu, akan tetapi dia masih teringat bahwa mata dan mulut gadis itu adalah mata dan mulut The Kim Lan, adik perempuannya yang ketika mereka berpisah masih merupakan seorang gadis remaja cilik berusia tiga belas tahun. Tentu saja dia tidak berani menegur gadis itu sebagai adiknya, takut kalau kalau dugaannya salah, maka dia hanya mengintai saja dan siap siaga kalau-kalau gadis itu membutuhkan bantuan.

Dua orang kakak beradik jagoan Wengker itu marah bukan main ketika mereka melihat seorang gadis asing menyerang mereka. Melihat gadis itu sudah mencabut pedang, Ki Wirobandrek berteriak kepada anak buahnya.
"Perempuan bosan hidup berani mencampuri urusan kami! Kawan-kawan, bunuh perempuan itu!"
Dua belas orang prajurit Wengker yang rata-rata bertubuh tinggi besar dan berwajah bengis itu segera mencabut golok mereka dan mereka maju menghampiri gadis itu. Gadis Cina itu tidak ingin Nyi Lasmi ikut terkepung sehingga membahayakan keselamatannya, maka ia berlari menjauhi sehingga ketika ia terkepung, Nyi Lasmi tidak ikut dikepung, ia berdiri dengan gagahnya dalam kepungan dua belas orang itu, berdiri dengan kedua kaki agak terpentang dan kedua lutut ditekuk, tangan kiri terbuka dan lurus miring di depan dada, sedangkan pedang di tangan kanan melintang di atas kepalanya. Tubuhnya tidak bergerak, akan tetapi sepasang matanya yang tajam itu mengerling ke kanan kiri. Sikapnya tenang seolah ia sama sekali tidak gentar menghadapi pengepungan selosin perajurit Wengker itu. Ki Tejoranu mengenal sikap itu sebagai kuda-kuda ilmu pedang Siauw-lim-pai, maka semakin yakinlah hatinya bahwa gadis itu tentu adiknya yang sedang dia cari-cari. Bukankah Tan Sek menceritakan bahwa adiknya itu telah berguru kepada seorang hwesio Siauw-lim-pai? Tiba-tiba, dua orang pengepung yang berdiri di belakang gadis itu, setelah mendapat isyarat kedipan mata dan Ki Wirobento, segera menggerakkan golok menyerang gadis itu dari belakang, tanpa memberi peringatan. Dua batang golok menyambar, yang satu membacok kepala, yang kedua menusuk punggung! Akan tetapi gadis itu agaknya telah memiliki tingkat kepandaian tinggi. Biarpun kedua matanya tidak dapat melihat datangnya penyerangan dari belakang, namun pendengarannya yang sudah terlatih tajam, dapat menangkap gerakan serangan Itu. Tubuhnya tiba-tiba membalik, pedangnya berkelebat bagaikan kilat menyambar.
"Cring... trangg....!"
Bunga api berpijar dan dua orang penyerang itu terpelanting dan mengaduh karena setelah pedang tadi menangkis golok mereka, pedang itu mencuat dengan kecepatan kilat dan tidak terduga-duga, merobek baju dan kulit dada mereka sehingga tergores panjang, cukup dalam sehingga mereka terluka parah.

Sepuluh orang perajurit yang lain menjadi marah dan mereka segera menyerbu dan menyerang membabi-buta dan tidak teratur lagi. Dengan kacau mereka membacok dengan golok mereka.

<<< Bagian 21                                                                                          Bagian 23 >>>

No comments:

Post a Comment