Berangkatlah rombongan itu setelah untuk yang terakhir kalinya Tumenggung Suramenggala membujuk Nyi Lasmi untuk menyerah kepadanya daripada dibawa ke Wura-Wuri akan tetapi Nyi Lasmi berkeras menolak. Empat belas orang pengawal itu menunggang kuda dan Nyi Lasmi terpaksa juga menunggang kuda karena kalau ia berkeras tidak mau, ia akan diboncengkan oleh Wirobandrek di atas seekor kuda. Wanita itu memilih menunggang kuda sendiri, dan ia memang sudah terbiasa menunggang kuda dahulu ketika menjadi selir Ki Suramenggala di Karang Tirta.
Pemuda Cina
itu berusia sekitar dua puluh tujuh tahun. Pakaiannya sederhana dan dari
pakaiannya yang sama dengan pakaian pemuda pribumi dapat diketahui bahwa pemuda
Cina itu tentu sudah lama berada di Nusa Jawa sehingga sudah dapat menyesuaikan
diri dengan kehidupan penduduk pribumi. Tubuhnya tinggi agak kurus, mukanya
pucat kuning. Matanya yang sipit mengandung sinar tajam. Di punggungnya
terselip siang-to (sepasang golok). Bahkan rambutnya pun digelung ke atas model
rambut para pria pribumi. Yang membuat orang dapat menyangka bahwa dia seorang
asing adalah kekuningan kulitnya dan kesipitan matanya. Juga kalau dia bicara,
walaupun fasih bicara daerah, tetap saja masih agak cadel (pelo). Pemuda Cina
itu adalah seorang pemuda dari Negeri Cina yang melarikan diri ke Nusa Jawa
karena ia dikejar-kejar beberapa orang jagoan yang hendak membunuhnya. Sekitar
tujuh tahun yang lalu pemuda Cina yang bernama The Jiauw Lan ini tinggal di
sebuah dusun dekat kota raja Nan-king. Sejak muda dia telah pandai bermain
silat dan hidup sebagai seorang pendekar yang menentang kejahatan. Pada suatu
hari dia melihat Bong Kongcu (Tuan muda Bong), putera seorang pembesar kota
raja bersama beberapa orang jagoannya mengganggu seorang gadis. The Jiauw Lan
marah dan menghajar pemuda bangsawan dan jagoan-jagoannya itu dan menyelamatkan
gadis yang diganggu. Akan tetapi ternyata peristiwa Itu mendatangkan malapetaka
besar bagi The Jiauw Lan. Ketika dia tidak berada di rumah, serombongan anak
buah Bong Kongcu menyerbu rumahnya dan ayah ibunya dibunuh. Adiknya, seorang
gadis remaja yang ketika itu berusia sekitar tiga belas tahun hilang entah ke
mana. The Jiauw Lan menjadi marah sekali. Dia membalas dendam, menyerbu rumah
Bangsawan Bong dan berhasil membunuh Bong Kongcu dan beberapa orang jagoannya.
Perbuatan ini tentu saja menggemparkan kota raja dan dia terpaksa melarikan
diri dan menjadi orang buruan. Pembesar Bong tidak mau menerima begitu saja dan
dia menyuruh para pembunuh bayaran untuk mencari dan mengejar Jiauw Lan untuk
dibunuh. Belum puas dengan ini, Pembesar Bong juga memaksa kekasih Jiauw Lan
yang bernama Mei Hwa yang sudah bertunangan dengannya, untuk menjadi selir
Bangsawan Bong. Hal ini dilakukan pembesar Itu bukan sekedar memuaskan
nafsunya, akan tetapi terutama sekali untuk membalas dendam kepada Jiauw Lan
yang telah membunuh puteranya. Demikianlah, Jiauw Lan terpaksa melarikan diri
berlayar ke selatan karena daratan Cina merupakan tempat yang tidak aman
baginya. Setelah tiba di Nusa Jawa, dia merantau, berpindah-pindah tempat dan
akhirnya dia mengasingkan diri di Danau Sarangan, di lereng Gunung Lawu.
Sungguh di luar dugaannya, Pembesar Bong yang masih mendendam kepadanya,
berhasil membujuk gurunya yang berjuluk Pek I Kiam-sian (Dewa Pedang Baju
Putih) bernama Souw Kiat untuk mencarinya sampai ke Nusa Jawa. Gurunya itu
masih ditemani dua orang paman gurunya yang bernama Gan Hok dan Giam Lun. Kurang
lebih dua tahun yang lalu, secara kebetulan The Jiauw Lan menyelamatkan Puteri
Listyarini, Isteri Ki Patih Narotama yang diculik penjahat. Ki Patih Narotama
datang untuk menjemput isterinya yang diselamatkan Jiauw Lan. Akan tetapi
kedatangan Ki Patih Narotama agak terlambat sehingga kedahuluan munculnya guru
dan dua orang paman guru Jiauw Lan. Percuma saja Jiauw Lan melawan. Dia terluka
dan dirobohkan bahkan menerima Hwe tok-ciang (Tangan Racun Api) dari Pek I
Kiamsian yang hendak membuat bekas muridnya itu cacat dan kehilangan tenaga
saktinya sebagai hukuman. Akan tetapi, Ki Patih Narotama yang sakti mandraguna,
mempergunakan tongkat pusakanya Tunggul Manik yang dapat memunahkan racun dari
tubuh Jiauw Lan sehingga pemuda Cina itu selamat. Jadilah dia sahabat baik Ki
Patih Narotama yang berterima kasih, bahkan Listyarini menganggap dia sebagai
saudara. Akan tetapi Jiauw Lan menolak ketika hendak diajak ke Kahuripan. Dia
lebih suka mengasingkan diri dan merantau. Sejak pertemuan dan perkenalannya
dengan Listyarini yang menganggap dia sebagai kakak angkat, Jiauw Lan
menggunakan nama Tejoranu. Listyiarini tidak dapat menyebut nama The Jiauw Lan
dan menyebutnya Tejoranu!
Demikianlah
sedikit riwayat singkat The Jiauw Lan yang kini bernama Ki Tejoranu. Beberapa
bulan yang lalu dia bertemu dengan seorang Cina lain di kaki Gunung Lawu.
Kebetulan sekali dia mengenal laki-laki itu yang bernama Tan Sek. Dari Tan Sek
Inilah dia memperoleh berita yang mengejutkan, mengherankan akan tetapi juga
menyenangkan. Kenalannya itu bercerita banyak tentang The Kim Lan, adik
perempuannya yang hilang ketika ayah ibunya terbunuh dan ketika itu berusia
tiga belas tahun. Menurut penuturan Tan Sek, adiknya itu kini telah menjadi
seorang gadis yang amat lihai setelah berguru kepada seorang hwesio (Pendeta
Buddha) dari Kuil Siaw Lim. Yang menggembirakan adalah berita bahwa The Kim
Lan, adiknya yang kini menjadi seorang gadis berusia sekitar dua puluh tahun,
menyusulnya ke Jawa dan kini sedang mencarinya.
"Sejak
dua bulan ini, Adikmu, The Kim Lan itu berada di sekitar Gunung Kawi."
demikian Tan Sek, temannya itu bercerita.
Mendengar
cerita temannya itu, Ki Tejoranu merasa gembira sekali dan dia segera melakukan
perjalanan menuju Gunung Kawi! Setelah tiba di daerah Gunung Kawi, dia merantau
di sekitar gunung itu untuk mencari adiknya yang menurut Tan Sek berada di
situ. Akan tetapi sampai hari itu, dia belum juga dapat menemukan The Kim Lan.
Pagi hari itu dia berjalan dengan penuh semangat karena malam tadi, di sebuah
dusun di mana dia bermalam, dia mendengar dari seorang penduduk yang melihat
seorang gadis Cina berjalan menuju ke barat. Mendengar ini, pagi-pagi sekali Ki
Tejoranu berangkat ke barat untuk menyusul gadis Cina itu, hampir yakin bahwa
gadis itu tentu adiknya karena pada waktu itu langka menemukan seorang gadis
Cina di pedalaman. Kalaupun ada wanita Cina, yang belum begitu banyak, mereka
itu tentu berada di kota-kota di pesisir utara. Selagi dia berjalan sambil
dengan teliti memandang ke sekeliling untuk menemukan jejak adiknya, dia
mendengar derap kaki kuda dari belakang. Ki Tejoranu cepat menyelinap di balik
pohon besar untuk mengintai siapa yang datang itu. Dia melihat lima orang
menunggang kuda lewat di jalan yang kasar itu. Mereka adalah dua belas orang
perajurit yang dipimpin dua orang laki-laki tinggi besar berpakaian mewah. Yang
mengherankan hatinya adalah ketika dia melihat seorang wanita di antara mereka.
Wanita itu pun menunggang kuda, diapit oleh dua orang pemimpin pasukan. Melihat
wanita itu berwajah sedih, bahkan jelas tampak bahwa ia habis menangis, kedua
matanya agak merah membengkak, hati Ki Tejoranu tertarik. Timbul jiwa
kependekarannya. Dia mencium keadaan yang tidak wajar, tentu ada yang tidak
beres dalam rombongan itu. Siapa tahu, wanita itu membutuhkan pertolongan. Maka
Ki Tejoranu cepat berlari mengikuti rombongan berkuda itu. Jalan itu memasuki
sebuah hutan.
Matahari mulai
naik tinggi dan Ki Wirobente yang memimpin pasukan bersama Ki Wirobandrek
mengantar Nyi Lasmi ke Kerajaan Wura-wuri, memberi aba-aba untuk berhenti. Dia
memerintahkan berhenti ketika melihat Nyi Lasmi tampak lemas dan duduknya mulai
miring-miring hampir jatuh.
"Kita
berhenti mengaso di sini. Nyi Lasmi, turunlah, Andika boleh beristirahat
menghilangkan lelah." katanya kepada Nyi Lasmi. Dengan tubuh lemas karena
kelelahan dan kelaparan, Nyi Lasmi turun dari atas punggung kudanya dan
terkulai, duduk mendeprok di atas tanah.
Wirobandrek
lalu menghampiri Nyi Lasmi yang masih duduk mendeprok di atas tanah,
menjulurkan tangan menawarkan tempat minuman dan sebungkus makanan.
"Nih,
makan dan minumlah dulu, Nyi Lasmi, agar engkau tidak lemah dan sakit."
Akan tetapi
Nyi Lasmi menggeleng kepalanya.
"Biarkan
aku mati saja, aku tidak ingin menjadi sandera untuk memancing Anakku...."
"Kakang
Bento, kalau perempuan ini tidak mau makan dan mati kelaparan di jalan, kita
tentu akan dipersalahkan oleh Tumenggung Suramenggala."
"Benar,
Adi Bandrek. Gusti Adipati Linggawijaya tidak akan mengampuni kita. Maka, paksa
saja ia makan!"
Ki Wirobento
lalu memegang kedua lengan Nyi Lasmi, ditelikung ke belakang dan Ki Wirobandrek
mulai memaksa Nyi Lasmi makan dengan menjejalkan nasi ke mulut wanita itu. Nyi
Lasmi mengatupkan mulutnya dan membuang muka ke kanan kiri untuk menghindarkan
jejalan makanan pada mulutnya.
Ki Tejoranu
marah sekali melihat hal ini. Akan tetapi sebelum dia melompat keluar untuk
menolong wanita itu, tiba-tiba terdengar bentakan nyaring.
"Orang-orang
jahat!"
Dan
berkelebatlah bayangan orang dan tahu-tahu muncul seorang gadis berpakaian
serba biru. Sekali pandang saja orang dapat mengetahui bahwa ia tentu seorang
gadis Cina. Hal ini dapat dikenal dari bentuk pakaiannya, dan gelung rambutnya
ke atas. Gadis ini berusia sekitar dua puluh tahun, bertubuh ramping padat dan
wajahnya manis, berkulit putih kuning. Di punggungnya tergantung sebatang
pedang.
Begitu muncul,
gadis itu telah melompat dekat Nyi Lasmi dan cepat sekali tangan kanannya
menghantam ke arah tubuh Wirobento dan kaki kirinya menendang ke arah tubuh
Wirobandrek. Dua orang jagoan Wengker ini bukan orang lemah. Melihat betapa
pukulan dan tendangan itu mendatangkan angin serangan yang kuat, mereka maklum
bahwa mereka diserang seorang yang digdaya, maka mereka cepat berlompatan ke
belakang untuk mengelak. Gadis itu lalu berkata dengan suara nyaring namun
ucapannya cadel (pelo).
"Bibi,
jangan takut! Aku akan menghajar mereka!"
Setelah
berkata demikian, gadis Cina itu sudah mencabut pedangnya dan tampak sinar
berkelebat ketika pedangnya tercabut. Ki Tejoranu membelalakkan matanya yang
sipit. Jantungnya berdebar kencang dan hatinya merasa terharu sekali. Sukar
untuk mengenali gadis Cina itu, akan tetapi dia masih teringat bahwa mata dan
mulut gadis itu adalah mata dan mulut The Kim Lan, adik perempuannya yang
ketika mereka berpisah masih merupakan seorang gadis remaja cilik berusia tiga
belas tahun. Tentu saja dia tidak berani menegur gadis itu sebagai adiknya,
takut kalau kalau dugaannya salah, maka dia hanya mengintai saja dan siap siaga
kalau-kalau gadis itu membutuhkan bantuan.
Dua orang
kakak beradik jagoan Wengker itu marah bukan main ketika mereka melihat seorang
gadis asing menyerang mereka. Melihat gadis itu sudah mencabut pedang, Ki
Wirobandrek berteriak kepada anak buahnya.
"Perempuan
bosan hidup berani mencampuri urusan kami! Kawan-kawan, bunuh perempuan
itu!"
Dua belas
orang prajurit Wengker yang rata-rata bertubuh tinggi besar dan berwajah bengis
itu segera mencabut golok mereka dan mereka maju menghampiri gadis itu. Gadis
Cina itu tidak ingin Nyi Lasmi ikut terkepung sehingga membahayakan keselamatannya,
maka ia berlari menjauhi sehingga ketika ia terkepung, Nyi Lasmi tidak ikut
dikepung, ia berdiri dengan gagahnya dalam kepungan dua belas orang itu,
berdiri dengan kedua kaki agak terpentang dan kedua lutut ditekuk, tangan kiri
terbuka dan lurus miring di depan dada, sedangkan pedang di tangan kanan
melintang di atas kepalanya. Tubuhnya tidak bergerak, akan tetapi sepasang
matanya yang tajam itu mengerling ke kanan kiri. Sikapnya tenang seolah ia sama
sekali tidak gentar menghadapi pengepungan selosin perajurit Wengker itu. Ki
Tejoranu mengenal sikap itu sebagai kuda-kuda ilmu pedang Siauw-lim-pai, maka
semakin yakinlah hatinya bahwa gadis itu tentu adiknya yang sedang dia
cari-cari. Bukankah Tan Sek menceritakan bahwa adiknya itu telah berguru kepada
seorang hwesio Siauw-lim-pai? Tiba-tiba, dua orang pengepung yang berdiri di
belakang gadis itu, setelah mendapat isyarat kedipan mata dan Ki Wirobento,
segera menggerakkan golok menyerang gadis itu dari belakang, tanpa memberi
peringatan. Dua batang golok menyambar, yang satu membacok kepala, yang kedua
menusuk punggung! Akan tetapi gadis itu agaknya telah memiliki tingkat
kepandaian tinggi. Biarpun kedua matanya tidak dapat melihat datangnya
penyerangan dari belakang, namun pendengarannya yang sudah terlatih tajam,
dapat menangkap gerakan serangan Itu. Tubuhnya tiba-tiba membalik, pedangnya
berkelebat bagaikan kilat menyambar.
"Cring...
trangg....!"
Bunga api
berpijar dan dua orang penyerang itu terpelanting dan mengaduh karena setelah
pedang tadi menangkis golok mereka, pedang itu mencuat dengan kecepatan kilat
dan tidak terduga-duga, merobek baju dan kulit dada mereka sehingga tergores
panjang, cukup dalam sehingga mereka terluka parah.
Sepuluh orang
perajurit yang lain menjadi marah dan mereka segera menyerbu dan menyerang
membabi-buta dan tidak teratur lagi. Dengan kacau mereka membacok dengan golok
mereka.
No comments:
Post a Comment