Akan tetapi tiba-tiba mereka menjadi bingung karena tubuh gadis yang mereka keroyok itu berkelebatan amat cepatnya, merupakan bayang-bayang biru yang berkelebatan terlindung gulungan sinar pedangnya yang seperti kilat. Terdengar suara berkerontangan berulang-ulang disusul golok-golok terpental dan tubuh para pengeroyok berpelantingan! Lima orang pengeroyok roboh dan sisanya, lima orang lagi menjadi gentar. Melihat ini, Ki Wirobento dan Ki Wirobandrek berseru nyaring dan mereka berdua sudah menerjang maju membantu para anak buah yang tinggal lima orang itu. Ki Wirobento sudah menggerakkan pecutnya yang ujungnya dipasangi paku-paku atau besi-besi kecil yang runcing tajam. Hebat sekali senjata ini, yang menyambar-nyambar dahsyat. Sementara itu, Ki Wirobandrek menggunakan senjata andalannya yang merupakan senjata pusaka para warok, yaitu sepasang ujung kolor berwarna merah. Ujung kolor yang lemas ini sama sekali tidak boleh dipandang ringan karena sudah dirajah (dipasangi mantra) dan mengandung racun yang amat kuat. Setelah dua orang jagoan Wengker ini maju mengeroyok dan senjata mereka bergulung-gulung sinarnya, menyambar dengan dahsyat dari semua jurusan, gadis itu tampak kaget dan mulailah ia terdesak dan main mundur walaupun putaran pedangnya membentuk gulungan sinar yang melindungi tubuhnya. Biarpun dua orang jagoan Wengker dan sisa anak buahnya yang tinggal lima orang itu sukar untuk dapat menembus perisai gulungan sinar pedang itu, namun gadis itu pun sama sekali tidak memperoleh kesempatan untuk balas menyerang. Melihat ini, Ki Tejoranu sudah tidak dapat menahan hatinya lagi. Dia melompat keluar sambil mencabut siang-to (sepasang golok) dan berseru dengan nyaring.
"Adikku,
jangan khawatir. Aku datang membantumu!"
Ucapan itu
menggunakan bahasa Cina. Gadis itu cepat melompat ke belakang dan menoleh.
Matanya yang tajam terbelalak dan mulutnya berteriak girang.
"Koko
(Kakak) Jiauw Lan.....!"
Ki Tejoranu sudah
menyerbu dan kini mereka berdua menyambut pengeroyokan tujuh orang itu. Setelah
Ki Tejoranu maju, walaupun tingkat kepandaiannya tidak lebih tinggi daripada
tingkat gadis itu, namun tentu saja Ki Wirobento dan Ki Wirobandrek kini
terkejut dan terdesak mundur. Bahkan dalam waktu singkat, dua orang anak
buahnya sudah roboh lagi. Maklum bahwa mereka tidak akan mampu menandingi gadis
Cina dan orang yang muncul membantunya itu, Ki Wirobento dan Ki Wirobandrek
lalu melarikan diri, diikuti dua belas orang anak buah mereka yang saling bantu
dan kabur dengan kuda mereka.
Gadis itu
tidak mengejar dan kini ia berhadapan dengan Ki Tejoranu, saling pandang dengan
penuh perhatian. Kemudian, seperti digerakkan tenaga gaib, dua orang itu saling
tubruk dan saling rangkul.
"Lan-ko
(Kakak Lan).... ahh.... Lan-ko....!"
Gadis itu
menangis dalam rangkulan Ki Tejoranu. Laki-laki itu pun tidak dapat menahan
tangisnya, walaupun tanpa mengeluarkan suara. Laki-laki yang sudah tergembleng
bertahun-tahun dalam kepahitan dan kesengsaraan itu tidak dapat menahan
keharuan dan kebahagiaan hatinya dapat bertemu dengan adik kandungnya, hal yang
sama sekali tidak pernah dia impikan!
"Kim Lan,
Adikku....!"
Nyi Lasmi
bangkit berdiri dan memandang kepada dua orang itu dengan heran. Ia tahu bahwa
dua orang itulah yang telah membebaskannya dari tangan orang-orang Wengker
tadi. Gadis Cina itu demikian gagah dan tangkas, mengingatkan ia akan Puspa
Dewi, puterinya. Melihat betapa dua orang itu saling rangkul sambil menangis,
ia merasa terharu pula walaupun ia tidak mengerti siapa mereka dan mengapa
mereka menangis karena ia tidak dapat mengerti bahasa mereka. Yang jelas
baginya adalah bahwa mereka orang-orang baik yang telah menolongnya. Biarpun Ki
Tejoranu atau The Jiauw Lan dan The Kim Lan, kakak beradik itu sedang tenggelam
ke dalam kebahagiaan yang mengharukan namun mereka memiliki pendengaran dan
perasaan yang sudah terlatih baik. Maka keduanya segera dapat mengetahui ketika
Nyi Lasmi menghampiri mereka. Mereka saling melepaskan rangkulan dan Ki
Tejoranu berkata lirih kepada Kim Lan dalam bahasa Cina.
"Adikku,
nanti saja kita bicara tentang kita. Sekarang kita bicara dulu dengan wanita
ini." Setelah berkata demikian, keduanya menghadapi Nyi Lasmi sambil
menghapus air mata mereka dan tersenyum kepada Nyi Lasmi. Senyum yang tulus
karena keduanya memang sedang merasa senang sekali dapat saling bertemu.
"Maafkan
kami... karena kami hampir melupakan Andika... eh, perkenalkan, saya bernama Ki
Tejoranu dan ini Adik kandungku, namanya The Kim Lan..." Ki Tejoranu
memperkenalkan dirinya dan adiknya.
Nyi Lasmi
terharu. Dua orang penolongnya ini sungguh aneh! Mereka malah minta maaf
kepadanya!
"Saya
yang minta maaf kepada Andika berdua, Kisanak, karena saya telah merepotkan
Andika berdua. Andika telah menolong saya terlepas dari bahaya yang bagi saya
lebih mengerikan daripada maut." Suara Nyi Lasmi tergetar.
“Saya bernama
Lasmi..." Baru sampai sekian Nyi Lasmi bicara, ia yang sejak tadi menahan
diri sekuatnya kini tidak dapat menahan lagi dan ia terkulai dan pingsan dalam
rangkulan The Kim Lan.
Ia tentu sudah
roboh kalau tidak cepat dirangkul gadis Cina itu. Kelelahan yang luar biasa
karena selama tiga hari sama sekali tidak makan, ditambah kekhawatiran dan
ketegangan membuat ia pingsan setelah mendapat kebebasan.
"Koko, ia
pingsan." kata Kim Lan sambil merebahkan tubuh Nyi Lasmi ke atas tanah.
Ki Tejoranu
cepat memeriksa denyut nadi pergelangan tangan Nyi Lasmi.
"Hemm,
kasihan sekali wanita ini, Lan-moi (Adik Lan). Menurut denyut nadinya, ia lemah
sekali, agaknya ia menderita kelaparan, juga batinnya tertekan dan ketakutan.
Engkau mempunyai sedikit makanan dan minuman?"
Kim Lan
mengambil buntalan yang tadi ia tinggalkan di bawah pohon dan mengambil
beberapa ketela merah bakar dan seguci air.
"Ini air
bersih, Koko. Sebaiknya ia diberi minum, akan tetapi harus dibikin sadar
dulu."
"Engkau
dapat melakukannya?"
Gadis itu
mengangguk.
"Aku
pernah mempelajari beberapa ilmu pengobatan dari suhu (guru)."
Setelah
berkata demikian, Kim Lan lalu menekan beberapa bagian tubuh Nyi Lasmi dengan
jarinya sambil mengerahkan sin-kang (tenaga sakti), yaitu di antara pangkal ibu
jari dan telunjuk, lalu di bibir atas tepat di bawah hidung, dan mengurut
punggung. Sebentar saja Nyi Lasmi mengeluh dan membuka kedua matanya. Ia bergerak
hendak bangkit. Kim Lan membantunya sehingga ia dapat duduk. Suara gadis Cina
itu lembut akan tetapi cadel sekali sungguhpun cukup dapat dimengerti Nyi
Lasmi.
"Bibi,
tenangkan hatimu dan minumlah air ini lebih dulu."
Setelah
berkata demikian, Kim Lan mendekatkan cawan yang sudah diisi air ke mulut Nyi
Lasmi yang tidak membantah dan minum air di cawan itu sampai habis.
Ketika ia
hendak bicara, Kim Lan mencegahnya.
"Nanti
saja kita bicara, Bibi. Sekarang, makanlah dulu ubi bakar ini. Maaf, kami hanya
mempunyai makanan ini dan tidak memberi yang lebih baik. Bibi perlu makan agar
menjadi kuat kembali."
Nyi Lasmi juga
tidak membantah. Ia tahu benar bahwa gadis asing ini bermaksud baik, tadi telah
menyelamatkannya. Apalagi perutnya memang lapar sekali, maka tanpa malu-malu
lagi ia menerima ketela bakar itu dan memakannya. Setelah menghabiskan tiga
potong ketela bakar dan minum lagi dua cawan air, Nyi Lasmi merasa sehat dan
segar kembali. Ia memandang kepada dua orang kakak beradik itu, lalu menghela
napas panjang dan berkata.
"Ah,
orang-orang tadi sungguh kejam dan jahat...."
"Bibi
yang baik, kami baru akan mengetahui apakah mereka itu benar-benar jahat kalau
kami sudah mendengar bibi menceritakan siapa mereka dan mengapa mereka menawan
Andika." Kata Ki Tejoranu.
Nyi Lasmi lalu
menceritakan tentang penyerbuan orang-orang Wengker ke Karang Tirta, membunuh
lurah dan sekeluarganya dan menculiknya. Ia tidak merasa perlu untuk
menceritakan tentang bekas suaminya, Ki Suramenggala, hanya menceritakan bahwa
ia tidak mau ketika hendak diselir seorang tumenggung di Wengker.
"Karena
penolakanku itu, tumenggung itu menyuruh anak buahnya membawa aku ke Wura-Wuri
untuk diserahkan penguasa di sana."
"Akan
tetapi, mengapa Bibi dibawa ke sana?" tanya Kim Lan yang sudah mengetahui
pula akan adanya Kerajaan Wura-Wuri.
"Karena
Kerajaan Wura-Wuri memusuhi anakku, maka agar aku dijadikan sandera untuk
memaksa anakku menyerahkan diri. Aahhh, betapa jahatnya mereka itu, padahal
mereka adalah bangsaku sendiri, sedangkan kalian yang bangsa asing begini baik
kepadaku.”
Mendengar ini,
Kim Lan dan Tejoranu bicara dalam bahasa Cina sampai beberapa lamanya, kemudian
Ki Tejoranu berkata kepada Nyi Lasmi.
"Bibi,
kami tadi menanggapi pendapat Bibi tadi. Begini, Bibi Lasmi yang baik. Di
bagian mana di dunia ini, bangsa apa pun juga, sama saja keadaannya. Ada yang
baik, tentu ada pula yang jahat. Bangsamu, bangsa negara ini, banyak yang baik
budi. Sedangkan bangsa kami, bangsa Cina, juga amat banyak yang jahat, bahkan
jahat sekali. Ketahuilah bahwa kami berdua sampai merantau di negara ini karena
melarikan diri dari kejaran orang-orang jahat sekali di negara kami. Yang jahat
itu bukan bangsanya, Bibi, melainkan orangnya, pribadinya masing-masing tanpa
melihat kebangsaannya. Memang sudah demikian semestinya di dunia ini, Bibi. Ada
yang baik, pasti ada yang buruk, seperti ada terang pasti ada gelap. Kalau
tidak ada baik, tidak ada pula sebutan buruk, sebaliknya kalau tidak ada buruk,
juga tidak ada pula sebutan baik. Kalau terang terus, tentu tidak ada gelap,
dan kalau gelap terus, juga tidak ada terang. Baik buruk itu saling mengadakan,
dan kita manusia berhak untuk memilih, kalau memilih menjadi alat Thian (Tuhan)
tentu prilakunya baik, sebaliknya, kalau memilih menjadi alat Setan, tentu
prilakunya buruk atau jahat."
Nyi Lasmi
memandang kagum.
"Pendapat
seperti itu keluar dari pikiran Nak Kim Lan ini? Semuda ini telah memiliki
kebijaksanaan seperti itu, sungguh mengagumkan sekali!"
"Aih,
Bibi, aku juga hanya mendengar dari apa yang diajarkan guruku, dan guruku itu
seorang pendeta Buddha." kata Kim Lan yang sudah pandai menangkap arti
ucapan bahasa daerah, akan tetapi kalau harus bicara yang panjang-panjang ia
masih merasa kaku. Karena itu tadi ia minta kakaknya yang bicara karena
kakaknya yang sudah tujuh tahun berada di Nusa Jawa tentu saja lebih fasih
bicara bahasa daerah.
"Engkau
murid seorang pendeta Buddha? Ah, di sini juga banyak pendeta Buddha dan
pendeta Hindu. Akan tetapi sungguh menyedihkan, aku melihat banyak pendeta
Buddha atau Hindu masih saja melakukan perbuatan yang buruk dan jahat."
Sekarang Ki
Tejoranu sendiri yang menjawab langsung.
"Keadaan
seperti itu pun sama saja, Terjadi di Cina, Negara kami, Bibi. Kalau di sini
terdapat Agama Buddha dan Agama Hindu, di Cina terdapat Agama Buddha dan Agama
To. Di sana juga terdapat banyak para pemeluk kedua agama itu, bahkan juga
Pendeta Buddha atau Pendeta To berprilaku sesat dan jahat! Kembali di sini
bukan agamanya yang salah. Agama apa pun mengajarkan manusia untuk menjadi
baik, saling tolong dan membangun dunia ini menjadi tempat yang indah tenteram
penuh kedamaian dan kebahagiaan. Jadi yang jahat itu manusianya, oknumnya dan
hal itu dapat terjadi kepada orang itu karena dia tidak menghayati agamanya,
tidak menghormati agamanya, bahkan mencemarkan agamanya."
"Guruku
pernah berkata kepadaku, Bibi," Kim Lan menyambung dengan ucapan yang
cadel (pelo) akan tetapi cukup jelas.
"Katanya,
kalau ada seorang beragama Buddha melakukan pencurian, maka sesungguhnya dia
itu bukan umat Buddha, melainkan maling yang mengaku-aku sebagai umat Buddha.
Kalau ada orang beragama To melakukan kejahatan maka sesungguhnya dia bukan
umat Agama To, melainkan seorang penjahat yang mengaku-aku beragama To. Kalau
dua orang itu benar-benar beragama Buddha, maupun Agama To atau agama apa pun
juga, sudah pasti dia tidak melakukan kejahatan karena agamanya melarangnya
melakukan kejahatan."
Nyi Lasmi
mendengarkan dengan kagum.
"Wah,
mendengar kalian bicara, aku teringat akan puteriku. Anakku Puspa Dewi selain
digdaya juga seringkali bicara tentang kehidupan dan kebenaran seperti
itu."
"Aih,
puteri Bibi juga seorang pendekar rupanya!" seru Kim Lan.
"Aku tahu
bahwa di sini. seperti juga di Cina sana, terdapat banyak wanita yang sakti
mandraguna dan gagah perkasa. Kalau begitu, bagaimana Bibi dapat ditawan
penjahat? Apakah puteri Bibi tidak mampu mengalahkan mereka tadi?" tanya
Ki Tejoranu.
"Hemm,
kalau puteriku berada di Karang Tirta ketika para penjahat itu menyerbu, tentu
mereka semua sudah roboh oleh Puspa Dewi. Sayangnya, ketika itu ia sedang pergi
ke kota raja Kahuripan. Akan tetapi kalau ia pulang, tentu ia akan melakukan
pengejaran dan mencariku."
No comments:
Post a Comment