Nurseta Satria Karangtirta ; Bagian 24


Melihat Nyi Lasmi masih tampak lemas, The Kim Lan lalu berkata.
"Bibi Lasmi, sebaiknya Bibi mengaso dulu untuk memulihkan kekuatan tubuh Bibi. Maafkan kami, karena kami kakak beradik baru saling bertemu setelah berpisah selama tujuh tahun, sekarang ingin sekali kami membicarakan urusan pribadi kami."
Nyi Lasmi tersenyum dan mengangguk, lalu duduk bersandar pada sebatang pohon sambil memejamkan matanya. Hatinya yang kembali tenang, kelelahan, kantuk karena selama beberapa malam tidak dapat tidur, membuat ia sebentar saja tertidur.
Ki Tejoranu mengajak adiknya duduk agak menjauh dari Nyi Lasmi agar tidak mengganggu wanita yang sedang pulas itu. Ki Tejoranu lalu menceritakan semua pengalamannya sejak dia terpaksa melarikan diri menjadi buronan dari pengejaran para jagoan yang dikirim Bangsawan Bong untuk membalas dendam atas kematian puteranya, Bong Kongcu di tangannya. Dia menceritakan pula bahwa dia nyaris tewas di tangan gurunya sendiri, Pek I Kiam-sian (Dewa Pedang Baju Putih), Souw Kiat dan kedua orang paman gurunya bernama Gan Hok dan Giam Lun.
"Masih baik nasibku, karena Thian (Tuhan) masih melindungiku sehingga dalam keadaan terluka parah itu muncul Gusti Patih Narotama yang sakti sehingga aku dapat diobatinya sampai pulih kembali tenagaku." Dia menceritakan peristiwa itu dan Kim Lan mendengarkan dengan kagum. Setelah kakaknya berhenti bercerita, ia berseru kagum.
"Wah, hebat sekali Ki Patih Narotama itu, Lan-ko (Kakak Lan)! Kalau tidak ada dia, belum tentu hari ini aku dapat bertemu denganmu. Aku ingin sekali berjumpa dengan Ki Patih Narotama untuk menyampaikan sendiri terima kasihku."
"Hal itu mudah dilakukan, Adikku. Gusti Patih Narotama telah menerima aku sebagai seorang sahabat dan kalau kita pergi ke kota raja Kahuripan dan menghadapnya, tentu kita akan diterima dengan baik. Sekarang, ceritakan pengalamanmu sejak kita saling berpisah sampai hari ini kita bertemu di sini, Kim Lan."

Gadis itu lalu bercerita. Ketika rumah orang tua mereka diserbu orang-orangnya Bangsawan Bong dan ayah ibu mereka terbunuh, Kim Lan yang ketika itu berusia dua belas tahun melarikan diri dari pintu belakang dengan ketakutan. Ketika akhirnya ia dapat keluar dari dusun dan tiba di jalan dekat hutan, tiba-tiba ia melihat ada seorang laki-laki tinggi besar lari mengejarnya. Kim Lan menjadi ketakutan dan lari semakin kencang, akan tetapi sebentar saja laki-laki itu, seorang di antara para jagoan yang menyerbu rumahnya, dapat menangkapnya. Kim Lan meronta-ronta, namun ia tidak berdaya dan laki-laki itu sambil tertawa-tawa memondongnya sambil memuji kecantikan gadis cilik itu dengan kurang ajar. Tiba-tiba muncul seorang hwesio (pendeta Buddha) yang kepalanya gundul, berjubah longgar dan memegang sebatang tongkat pendeta. Menghadang di depan jagoan itu sambil minta agar penjahat itu melepaskan Kim Lan. Penjahat itu marah dan menyerangnya dengan golok, akan tetapi dengan mudah hwesio tua itu merobohkan si jagoan yang lari terbirit-birit meninggalkan Kim Lan. Hwesio itu adalah Ho Kong Hwesio, seorang tokoh Siauwlim-pai yang tinggi ilmunya. Dia menolong Kim Lan dan selanjutnya Kim Lan menjadi muridnya. Setelah berusia sembilan belas tahun. Kim Lan tamat belajar. Ia segera pergi ke kota raja Nanking untuk mencari keterangan di mana adanya kakaknya, yaitu The Jiauw Lan yang kini bernama Ki Tejoranu. Ia mendengar bahwa kakaknya telah menjadi buronan karena membunuh Bong Kongcu. Juga ia mendengar akan nasib tunangan kakaknya, yaitu Mei Hwa, yang dipaksa menjadi selir Bangsawan Bong. Ia mendengar betapa tunangan kakaknya itu membunuh diri tak lama setelah dipaksa menjadi selir Bangsawan Bong. Kim Lan menjadi marah dan pada suatu malam, ia berhasil memasuki gedung keluarga Bangsawan Bong dan membunuh pembesar itu. Kota raja menjadi gempar dan Kim Lan melarikan diri. Ketika ia mendengar bahwa kakaknya melarikan diri ke Nusa Jawa ia lalu menumpang perahu dagang yang berlayar ke selatan dan tiba di Nusa Jawa. Ia merantau dan mencari kakaknya, bertanya-tanya kepada orang-orang Cina yang dijumpainya kalau kalau ada yang bertemu dengan kakaknya. Juga ia pesan kepada mereka bahwa kalau mereka bertemu dengan kakaknya itu, agar diberitahu bahwa ia telah berada di Tanah Jawa dan untuk sementara tinggal di sekitar kaki Gunung Kawi.
"Demikianlah, Lan-ko. Tadi aku melihat Bibi Lasmi ini dibawa dengan paksa oleh gerombolan orang itu, maka aku lalu turun tangan menolongnya. Sungguh membahagiakan sekali melihat engkau muncul, Lan-ko!"
Ki Tejoranu menghela napas panjang.
"Terima kasih kepada Thian (Tuhan) bahwa kita berdua dapat bertemu dalam keadaan selamat, Adikku. Siapa mengira bahwa kita berdua telah kehilangan ayah ibu dan kini berada di Tanah Jawa, jauh sekali dari tanah air kita? Kita tidak berani pulang karena pasti ada banyak orang akan membunuh kita, terutama sekali setelah engkau menewaskan Pembesar Bong. Pemerintah tentu menganggap kita berdua orang-orang jahat yang harus dihukum. Semua ini gara-gara keluarga Bong yang jahat itu!"
"Sudahlah, tidak perlu kita sesali nasib. Lan-Ko. Bagaimana pun juga, kita sudah membalas sakit hati kita, engkau sudah membunuh Bong Kongcu, dan aku sudah membunuh Pembesar Bong. Berarti kematian ayah ibu dan kematian Enci Mei Hwa telah terbalas."

Kakak dan adik ini bercakap-cakap melepaskan kerinduan hati mereka dan setelah Nyi Lasmi terbangun dari tidurnya, barulah mereka berdua menghampirinya.
“Bibi Lasmi, bagaimana sekarang keadaan badanmu?" tanya Kim Lan.
Nyi Lasmi kini dapat tersenyum dan ia berkata,
"Wah, badanku terasa segar dan kuat kembali, Kim Lan. Terima kasih atas pertolongan kalian kakak beradik yang berbudi baik!"
"Bibi, mari kami antar bibi pulang ke Karang Tirta. Kita harus dapat sampai di sebuah dusun sebelum gelap." kata Ki Tejoranu.
Saat itu sudah menjelang sore dan semua kuda sudah dibawa gerombolan tadi dan ada yang melarikan diri ketika terjadi perkelahian sehingga mereka terpaksa berjalan kaki menuju dusun terdekat di mana mereka dapat melewatkan malam dengan mondok di rumah keluarga petani.
Pada pagi yang cerah, Nyi Lasmi, Ki Tejoranu, dan The Kim Lan berjalan santai menuju ke selatan. Perjalanan itu lambat sekali karena selain mereka berjalan kaki, juga Nyi Lasmi adalah seorang wanita lemah. Andaikata Ki Tejoranu melakukan perjalanan berdua dengan Kim Lan, tentu mereka dapat menggunakan kepandaian mereka untuk berlari cepat. Telah dua malam mereka menginap di dusun-dusun yang mereka lewati dan pagi ini, mereka berjalan dan tiba di jalan umum di luar dusun yang sepi. Di kanan kiri jalan berbatu-batu itu terdapat hamparan tanah persawahan yang kering kerontang karena waktu itu adalah musim kemarau. Tanah yang luas itu retak-retak dan tidak dapat ditanami. Para petani tidak dapat menggarap sawah, menanti datangnya hujan. Daerah itu jauh dari sungai, maka mereka hanya mengharapkan air hujan untuk mengairi tanah persawahan mereka. Biarpun matahari masih muda, namun panasnya sudah menyengat badan dan memancing keluarnya keringat. Terutama sekali Nyi Lasmi merasa lelah setelah melakukah perjalanan selama dua hari itu, walaupun seringkali mereka terpaksa mengaso karena kelemahan dan kelelahan Nyi Lasmi. Mereka melangkah santai, tidak bercakap-cakap. Agaknya bahan percakapan mereka telah habis dibicarakan selama dua hari itu. Mereka termenung, agaknya tenggelam ke dalam kenangan mereka masing-masing.

Tiba-tiba Ki Tejoranu dan The Kim Lan memandang jauh ke depan dengan alis berkerut. Mereka berdua dapat mendengar derap kaki banyak kuda walaupun belum dapat melihat mereka karena jalan di depan itu membelok ke kanan dan pandang mata terhalang pepohonan.
"Hati-hati!" kata Ki Tejoranu kepada adiknya dalam bahasa Cina.
"Aku siap!" jawab Kim Lan.
Mereka lalu mengajak Nyi Lasmi berhenti di bawah sebatang pohon trembesi.
"Bibi Lasmi, duduklah di sini. Kita mengaso." kata Kim Lan.
"Apa yang terjadi?" tanya Nyi Lasmi yang dapat melihat ketegangan pada wajah kakak beradik itu.
"Bibi duduk saja di sini. Ada serombongan orang berkuda lewat. Mudah-mudahan bukan orang jahat." kata Ki Tejoranu, lalu dia bersama adiknya berdiri di tepi jalan, di depan Nyi Lasmi untuk melindungi wanita itu.
Rombongan itu muncul di jalan tikungan. Mereka terdiri dari belasan orang dan kakak beradik itu segera mengetahui bahwa mereka adalah musuh ketika melihat bahwa dua orang pimpinan gerombolan yang membawa Nyi Lasmi tadi berada di antara mereka. Namun kakak beradik ini tidak menjadi gentar dan mereka siap siaga menghadapi segala kemungkinan. Memang, dua orang warok dari Kerajaan Wengker, Ki Wirobento dan Wirobandrek, berada di antara orang-orang itu. Ketika mereka dikalahkan Ki Tejoranu dan Kim Lan, dua orang ini segera pergi ke Kerajaan Wura-wuri yang sudah tidak jauh lagi dan segera menyerahkan surat yang ditulis Adipati Linggawijaya kepada Adipati Wura-Wuri, dan menceritakan bahwa Nyi Lasmi, ibu kandung Puspa Dewi, dirampas oleh seorang pemuda dan seorang gadis Cina. Mendengar ini, Nyi Dewi Durgakumala, permaisuri Wura-Wuri guru Puspa Dewi itu menjadi marah. Ia ingin sekali dapat menangkap Puspa Dewi, muridnya yang berkhianat terhadap Wura-Wuri, akan tetapi maklum betapa sukarnya menangkap gadis perkasa itu. Kalau ibu kandungnya dapat ditangkap, tentu gadis itu akan menyerahkan diri. Maka, Adipati Bhismaprabhawa dan permaisurinya, Nyi Dewi Durgakumala segera mengutus Tri Kala yaitu Kala Muka, Kala Manik, dan Kala Teja, diperkuat lagi dengan Ki Gandarwo yang sakti, membantu rombongan utusan Kerajaan Wengker itu untuk menangkap kembali Nyi Lasmi. Rombongan itu berhenti di depan Ki Tejoranu dan Kim Lan. Ki Wirobento yang tinggi besar itu dengan suara parau menuding ke arah kakak beradik itu.
“Mereka inilah jahanam yang merampas tawanan kami dan yang duduk di bawah pohon itulah Nyi Lasmi yang harus kami antarkan ke Wura-Wuri!"
Ki Gandarwo melompat dari atas kuda, diikuti yang lain. Beberapa orang anak buah mereka lalu membawa kuda itu menjauh agar binatang-binatang itu tidak menjadi ketakutan dan kabur. Dengan lagak gagah Ki Gandarwo melangkah maju memandang Ki Tejoranu dan Kim Lan, lalu membentak dengan suara nyaring berwibawa.
"Siapakah kalian berdua yang berani mati merampas Nyi Lasmi yang menjadi tawanan kami?"
Ki Tejoranu memandang orang itu penuh perhatian. Seorang pria muda yang gagah dan tampan, berpakaian mewah, di pinggangnya tergantung sebatang pedang dan tubuhnya tegap. Usianya sekitar dua puluh delapan tahun.
"Namaku Tejoranu dan ini adikku bernama The Kim Lan!"
"Hemm, engkau seorang Cina?" Ki Gandarwo bertanya.
"Benar, aku berasal dari Negeri Cina."
"Mengapa kalian orang-orang Cina berani merampas tawanan kami?"
"Kami melihat seorang wanita dipaksa dan di luar kehendaknya dibawa rombongan dari Wengker. Melihat hal yang sewenang-wenang ini, tentu saja kami harus menolongnya. Kalianlah yang merampas kemerdekaan orang."
"Keparat! Kalian mencampuri urusan keluarga orang lain!"
Ki Gandarwo membentak dan belasan orang itu mulai mengepung. Melihat betapa kakak beradik yang menolongnya itu terancam pengeroyokan, Nyi Lasmi bangkit berdiri dan berkata kepada mereka.
"Ki Tejoranu dan Kim Lan, pergilah kalian dari sini dan jangan mencampuri urusan ini. Biarkan mereka menawanku, aku akan menghadapi mereka. Jangan kalian berdua mengorbankan nyawa untukku!"
Mendengar ucapan Nyi Lasmi, Ki Tejoranu dan Kim Lan menjadi semakin bersemangat. Wanita yang lemah itu ternyata memiliki watak yang gagah!
"Jangan khawatir, Bibi Lasmi. Kami akan menghajar orang-orang jahat yang sewenang-wenang ini!" kata Kim Lan.
Ki Gandarwo, senopati muda Wura-Wuri itu adalah seorang mata keranjang. Diam-diam dia telah menjadi kekasih gelap Sang Permaisuri Wura-wuri, Nyi Dewi Durgakumala sehingga memiliki kekuasaan besar di Wura-Wuri. Kini, melihat Kim Lan, timbul berahinya. Banyak sudah dia mendapatkan wanita-wanita cantik, akan tetapi belum pernah dia bertemu dengan seorang gadis Cina yang cantik seperti Kim Lan ini. Maka, timbul keinginan hatinya untuk menangkap gadis itu dan dijadikan kekasihnya. Melihat gadis itu bersikap gagah, dia semakin kagum. Dia memberi aba-aba kepada kawan-kawannya.
"Tangkap atau bunuh saja pemuda Cina itu! Gadis ini aku yang tangkap!"
Setelah berkata demikian, Ki Gandarwo lalu menerjang ke arah Kim Lan, kedua lengannya yang kekar itu dikembangkan lalu kedua tangannya menyambar untuk menangkap gadis itu dari kanan kiri. Tentu saja dia memandang ringan Kim Lan karena dia adalah orang terkuat di Wura-Wuri, tentu saja di bawah Nyi Dewi Durgakumala yang sakti mandra-guna.
"Wuuussss...!"
Ki Gandarwo terkejut karena kalau tadi tampaknya gadis itu tidak akan mampu menghindarkan diri dari kedua tangannya yang menyambar dari kanan kiri, tiba-tiba saja gadis itu melesat bagaikan bayang-bayang dan dia menangkap angin belaka!

<<< Bagian 23                                                                                         Bagian 25 >>>

No comments:

Post a Comment