Melihat Nyi Lasmi masih tampak lemas, The Kim Lan lalu berkata.
"Bibi
Lasmi, sebaiknya Bibi mengaso dulu untuk memulihkan kekuatan tubuh Bibi. Maafkan
kami, karena kami kakak beradik baru saling bertemu setelah berpisah selama
tujuh tahun, sekarang ingin sekali kami membicarakan urusan pribadi kami."
Nyi Lasmi
tersenyum dan mengangguk, lalu duduk bersandar pada sebatang pohon sambil
memejamkan matanya. Hatinya yang kembali tenang, kelelahan, kantuk karena
selama beberapa malam tidak dapat tidur, membuat ia sebentar saja tertidur.
Ki Tejoranu
mengajak adiknya duduk agak menjauh dari Nyi Lasmi agar tidak mengganggu wanita
yang sedang pulas itu. Ki Tejoranu lalu menceritakan semua pengalamannya sejak
dia terpaksa melarikan diri menjadi buronan dari pengejaran para jagoan yang
dikirim Bangsawan Bong untuk membalas dendam atas kematian puteranya, Bong
Kongcu di tangannya. Dia menceritakan pula bahwa dia nyaris tewas di tangan
gurunya sendiri, Pek I Kiam-sian (Dewa Pedang Baju Putih), Souw Kiat dan kedua
orang paman gurunya bernama Gan Hok dan Giam Lun.
"Masih
baik nasibku, karena Thian (Tuhan) masih melindungiku sehingga dalam keadaan
terluka parah itu muncul Gusti Patih Narotama yang sakti sehingga aku dapat
diobatinya sampai pulih kembali tenagaku." Dia menceritakan peristiwa itu
dan Kim Lan mendengarkan dengan kagum. Setelah kakaknya berhenti bercerita, ia
berseru kagum.
"Wah,
hebat sekali Ki Patih Narotama itu, Lan-ko (Kakak Lan)! Kalau tidak ada dia,
belum tentu hari ini aku dapat bertemu denganmu. Aku ingin sekali berjumpa
dengan Ki Patih Narotama untuk menyampaikan sendiri terima kasihku."
"Hal itu
mudah dilakukan, Adikku. Gusti Patih Narotama telah menerima aku sebagai
seorang sahabat dan kalau kita pergi ke kota raja Kahuripan dan menghadapnya,
tentu kita akan diterima dengan baik. Sekarang, ceritakan pengalamanmu sejak
kita saling berpisah sampai hari ini kita bertemu di sini, Kim Lan."
Gadis itu lalu
bercerita. Ketika rumah orang tua mereka diserbu orang-orangnya Bangsawan Bong
dan ayah ibu mereka terbunuh, Kim Lan yang ketika itu berusia dua belas tahun
melarikan diri dari pintu belakang dengan ketakutan. Ketika akhirnya ia dapat
keluar dari dusun dan tiba di jalan dekat hutan, tiba-tiba ia melihat ada
seorang laki-laki tinggi besar lari mengejarnya. Kim Lan menjadi ketakutan dan
lari semakin kencang, akan tetapi sebentar saja laki-laki itu, seorang di
antara para jagoan yang menyerbu rumahnya, dapat menangkapnya. Kim Lan
meronta-ronta, namun ia tidak berdaya dan laki-laki itu sambil tertawa-tawa
memondongnya sambil memuji kecantikan gadis cilik itu dengan kurang ajar.
Tiba-tiba muncul seorang hwesio (pendeta Buddha) yang kepalanya gundul, berjubah
longgar dan memegang sebatang tongkat pendeta. Menghadang di depan jagoan itu
sambil minta agar penjahat itu melepaskan Kim Lan. Penjahat itu marah dan
menyerangnya dengan golok, akan tetapi dengan mudah hwesio tua itu merobohkan
si jagoan yang lari terbirit-birit meninggalkan Kim Lan. Hwesio itu adalah Ho
Kong Hwesio, seorang tokoh Siauwlim-pai yang tinggi ilmunya. Dia menolong Kim
Lan dan selanjutnya Kim Lan menjadi muridnya. Setelah berusia sembilan belas
tahun. Kim Lan tamat belajar. Ia segera pergi ke kota raja Nanking untuk
mencari keterangan di mana adanya kakaknya, yaitu The Jiauw Lan yang kini
bernama Ki Tejoranu. Ia mendengar bahwa kakaknya telah menjadi buronan karena
membunuh Bong Kongcu. Juga ia mendengar akan nasib tunangan kakaknya, yaitu Mei
Hwa, yang dipaksa menjadi selir Bangsawan Bong. Ia mendengar betapa tunangan
kakaknya itu membunuh diri tak lama setelah dipaksa menjadi selir Bangsawan
Bong. Kim Lan menjadi marah dan pada suatu malam, ia berhasil memasuki gedung
keluarga Bangsawan Bong dan membunuh pembesar itu. Kota raja menjadi gempar dan
Kim Lan melarikan diri. Ketika ia mendengar bahwa kakaknya melarikan diri ke
Nusa Jawa ia lalu menumpang perahu dagang yang berlayar ke selatan dan tiba di
Nusa Jawa. Ia merantau dan mencari kakaknya, bertanya-tanya kepada orang-orang
Cina yang dijumpainya kalau kalau ada yang bertemu dengan kakaknya. Juga ia
pesan kepada mereka bahwa kalau mereka bertemu dengan kakaknya itu, agar
diberitahu bahwa ia telah berada di Tanah Jawa dan untuk sementara tinggal di
sekitar kaki Gunung Kawi.
"Demikianlah,
Lan-ko. Tadi aku melihat Bibi Lasmi ini dibawa dengan paksa oleh gerombolan
orang itu, maka aku lalu turun tangan menolongnya. Sungguh membahagiakan sekali
melihat engkau muncul, Lan-ko!"
Ki Tejoranu
menghela napas panjang.
"Terima
kasih kepada Thian (Tuhan) bahwa kita berdua dapat bertemu dalam keadaan
selamat, Adikku. Siapa mengira bahwa kita berdua telah kehilangan ayah ibu dan
kini berada di Tanah Jawa, jauh sekali dari tanah air kita? Kita tidak berani
pulang karena pasti ada banyak orang akan membunuh kita, terutama sekali
setelah engkau menewaskan Pembesar Bong. Pemerintah tentu menganggap kita
berdua orang-orang jahat yang harus dihukum. Semua ini gara-gara keluarga Bong
yang jahat itu!"
"Sudahlah,
tidak perlu kita sesali nasib. Lan-Ko. Bagaimana pun juga, kita sudah membalas
sakit hati kita, engkau sudah membunuh Bong Kongcu, dan aku sudah membunuh
Pembesar Bong. Berarti kematian ayah ibu dan kematian Enci Mei Hwa telah
terbalas."
Kakak dan adik
ini bercakap-cakap melepaskan kerinduan hati mereka dan setelah Nyi Lasmi
terbangun dari tidurnya, barulah mereka berdua menghampirinya.
“Bibi Lasmi,
bagaimana sekarang keadaan badanmu?" tanya Kim Lan.
Nyi Lasmi kini
dapat tersenyum dan ia berkata,
"Wah,
badanku terasa segar dan kuat kembali, Kim Lan. Terima kasih atas pertolongan
kalian kakak beradik yang berbudi baik!"
"Bibi,
mari kami antar bibi pulang ke Karang Tirta. Kita harus dapat sampai di sebuah
dusun sebelum gelap." kata Ki Tejoranu.
Saat itu sudah
menjelang sore dan semua kuda sudah dibawa gerombolan tadi dan ada yang
melarikan diri ketika terjadi perkelahian sehingga mereka terpaksa berjalan
kaki menuju dusun terdekat di mana mereka dapat melewatkan malam dengan mondok
di rumah keluarga petani.
Pada pagi yang
cerah, Nyi Lasmi, Ki Tejoranu, dan The Kim Lan berjalan santai menuju ke
selatan. Perjalanan itu lambat sekali karena selain mereka berjalan kaki, juga
Nyi Lasmi adalah seorang wanita lemah. Andaikata Ki Tejoranu melakukan
perjalanan berdua dengan Kim Lan, tentu mereka dapat menggunakan kepandaian
mereka untuk berlari cepat. Telah dua malam mereka menginap di dusun-dusun yang
mereka lewati dan pagi ini, mereka berjalan dan tiba di jalan umum di luar
dusun yang sepi. Di kanan kiri jalan berbatu-batu itu terdapat hamparan tanah
persawahan yang kering kerontang karena waktu itu adalah musim kemarau. Tanah
yang luas itu retak-retak dan tidak dapat ditanami. Para petani tidak dapat
menggarap sawah, menanti datangnya hujan. Daerah itu jauh dari sungai, maka
mereka hanya mengharapkan air hujan untuk mengairi tanah persawahan mereka.
Biarpun matahari masih muda, namun panasnya sudah menyengat badan dan memancing
keluarnya keringat. Terutama sekali Nyi Lasmi merasa lelah setelah melakukah
perjalanan selama dua hari itu, walaupun seringkali mereka terpaksa mengaso
karena kelemahan dan kelelahan Nyi Lasmi. Mereka melangkah santai, tidak
bercakap-cakap. Agaknya bahan percakapan mereka telah habis dibicarakan selama
dua hari itu. Mereka termenung, agaknya tenggelam ke dalam kenangan mereka
masing-masing.
Tiba-tiba Ki
Tejoranu dan The Kim Lan memandang jauh ke depan dengan alis berkerut. Mereka
berdua dapat mendengar derap kaki banyak kuda walaupun belum dapat melihat
mereka karena jalan di depan itu membelok ke kanan dan pandang mata terhalang
pepohonan.
"Hati-hati!"
kata Ki Tejoranu kepada adiknya dalam bahasa Cina.
"Aku
siap!" jawab Kim Lan.
Mereka lalu
mengajak Nyi Lasmi berhenti di bawah sebatang pohon trembesi.
"Bibi
Lasmi, duduklah di sini. Kita mengaso." kata Kim Lan.
"Apa yang
terjadi?" tanya Nyi Lasmi yang dapat melihat ketegangan pada wajah kakak
beradik itu.
"Bibi
duduk saja di sini. Ada serombongan orang berkuda lewat. Mudah-mudahan bukan
orang jahat." kata Ki Tejoranu, lalu dia bersama adiknya berdiri di tepi
jalan, di depan Nyi Lasmi untuk melindungi wanita itu.
Rombongan itu
muncul di jalan tikungan. Mereka terdiri dari belasan orang dan kakak beradik
itu segera mengetahui bahwa mereka adalah musuh ketika melihat bahwa dua orang
pimpinan gerombolan yang membawa Nyi Lasmi tadi berada di antara mereka. Namun
kakak beradik ini tidak menjadi gentar dan mereka siap siaga menghadapi segala
kemungkinan. Memang, dua orang warok dari Kerajaan Wengker, Ki Wirobento dan
Wirobandrek, berada di antara orang-orang itu. Ketika mereka dikalahkan Ki
Tejoranu dan Kim Lan, dua orang ini segera pergi ke Kerajaan Wura-wuri yang
sudah tidak jauh lagi dan segera menyerahkan surat yang ditulis Adipati
Linggawijaya kepada Adipati Wura-Wuri, dan menceritakan bahwa Nyi Lasmi, ibu kandung
Puspa Dewi, dirampas oleh seorang pemuda dan seorang gadis Cina. Mendengar ini,
Nyi Dewi Durgakumala, permaisuri Wura-Wuri guru Puspa Dewi itu menjadi marah.
Ia ingin sekali dapat menangkap Puspa Dewi, muridnya yang berkhianat terhadap
Wura-Wuri, akan tetapi maklum betapa sukarnya menangkap gadis perkasa itu.
Kalau ibu kandungnya dapat ditangkap, tentu gadis itu akan menyerahkan diri.
Maka, Adipati Bhismaprabhawa dan permaisurinya, Nyi Dewi Durgakumala segera
mengutus Tri Kala yaitu Kala Muka, Kala Manik, dan Kala Teja, diperkuat lagi
dengan Ki Gandarwo yang sakti, membantu rombongan utusan Kerajaan Wengker itu
untuk menangkap kembali Nyi Lasmi. Rombongan itu berhenti di depan Ki Tejoranu
dan Kim Lan. Ki Wirobento yang tinggi besar itu dengan suara parau menuding ke
arah kakak beradik itu.
“Mereka inilah
jahanam yang merampas tawanan kami dan yang duduk di bawah pohon itulah Nyi
Lasmi yang harus kami antarkan ke Wura-Wuri!"
Ki Gandarwo
melompat dari atas kuda, diikuti yang lain. Beberapa orang anak buah mereka
lalu membawa kuda itu menjauh agar binatang-binatang itu tidak menjadi
ketakutan dan kabur. Dengan lagak gagah Ki Gandarwo melangkah maju memandang Ki
Tejoranu dan Kim Lan, lalu membentak dengan suara nyaring berwibawa.
"Siapakah
kalian berdua yang berani mati merampas Nyi Lasmi yang menjadi tawanan
kami?"
Ki Tejoranu
memandang orang itu penuh perhatian. Seorang pria muda yang gagah dan tampan,
berpakaian mewah, di pinggangnya tergantung sebatang pedang dan tubuhnya tegap.
Usianya sekitar dua puluh delapan tahun.
"Namaku
Tejoranu dan ini adikku bernama The Kim Lan!"
"Hemm,
engkau seorang Cina?" Ki Gandarwo bertanya.
"Benar,
aku berasal dari Negeri Cina."
"Mengapa
kalian orang-orang Cina berani merampas tawanan kami?"
"Kami
melihat seorang wanita dipaksa dan di luar kehendaknya dibawa rombongan dari
Wengker. Melihat hal yang sewenang-wenang ini, tentu saja kami harus
menolongnya. Kalianlah yang merampas kemerdekaan orang."
"Keparat!
Kalian mencampuri urusan keluarga orang lain!"
Ki Gandarwo
membentak dan belasan orang itu mulai mengepung. Melihat betapa kakak beradik
yang menolongnya itu terancam pengeroyokan, Nyi Lasmi bangkit berdiri dan
berkata kepada mereka.
"Ki
Tejoranu dan Kim Lan, pergilah kalian dari sini dan jangan mencampuri urusan
ini. Biarkan mereka menawanku, aku akan menghadapi mereka. Jangan kalian berdua
mengorbankan nyawa untukku!"
Mendengar
ucapan Nyi Lasmi, Ki Tejoranu dan Kim Lan menjadi semakin bersemangat. Wanita
yang lemah itu ternyata memiliki watak yang gagah!
"Jangan
khawatir, Bibi Lasmi. Kami akan menghajar orang-orang jahat yang
sewenang-wenang ini!" kata Kim Lan.
Ki Gandarwo,
senopati muda Wura-Wuri itu adalah seorang mata keranjang. Diam-diam dia telah
menjadi kekasih gelap Sang Permaisuri Wura-wuri, Nyi Dewi Durgakumala sehingga
memiliki kekuasaan besar di Wura-Wuri. Kini, melihat Kim Lan, timbul berahinya.
Banyak sudah dia mendapatkan wanita-wanita cantik, akan tetapi belum pernah dia
bertemu dengan seorang gadis Cina yang cantik seperti Kim Lan ini. Maka, timbul
keinginan hatinya untuk menangkap gadis itu dan dijadikan kekasihnya. Melihat
gadis itu bersikap gagah, dia semakin kagum. Dia memberi aba-aba kepada
kawan-kawannya.
"Tangkap
atau bunuh saja pemuda Cina itu! Gadis ini aku yang tangkap!"
Setelah
berkata demikian, Ki Gandarwo lalu menerjang ke arah Kim Lan, kedua lengannya
yang kekar itu dikembangkan lalu kedua tangannya menyambar untuk menangkap
gadis itu dari kanan kiri. Tentu saja dia memandang ringan Kim Lan karena dia
adalah orang terkuat di Wura-Wuri, tentu saja di bawah Nyi Dewi Durgakumala
yang sakti mandra-guna.
"Wuuussss...!"
Ki Gandarwo
terkejut karena kalau tadi tampaknya gadis itu tidak akan mampu menghindarkan
diri dari kedua tangannya yang menyambar dari kanan kiri, tiba-tiba saja gadis
itu melesat bagaikan bayang-bayang dan dia menangkap angin belaka!
No comments:
Post a Comment