Melihat bayangan gadis itu berkelebat ke sebelah kirinya, dia menubruk lagi ke kiri. Sekali ini Kim Lan menggunakan kedua tangannya untuk menangkis dari samping.
"Dukkk...!!"
Ki Gandarwo
semakin terkejut. Tangkisan itu membuat kedua lengannya terasa tergetar hebat!
Kiranya gadis ini benar-benar kuat dan memiliki kedigdayaan! Pantas saja dua
orang warok dari Wengker itu dan anak buah mereka tidak mampu mengalahkannya.
"Haaaiiittt!"
Kini Ki
Gandarwo tidak memandang ringan lagi dan dia tahu bahwa kalau dia ingin menang,
dia harus menyerang sungguh-sungguh. Mengikuti bentakannya itu, tangan kirinya
mencengkeram ke arah muka Kim Lan dan tangan kanannya menyusul dengan pukulan
ke arah perut! Serangan ini hebat sekali karena dilakukan dengan pengerahan
tenaga yang amat kuat. Kim Lan mengenal serangan maut yang berbahaya, ia
mengandalkan kelincahan gerakannya untuk memutar ke kiri mengelak cengkeraman
ke arah mukanya dan dari samping tangannya membuat gerakan setengah lingkaran
menangkis pukulan ke arah parutnya.
"Plakk!"
Begitu tangan
Ki Gandarwo tertangkis, Kim Lan mundur dua langkah lalu kaki kirinya mencuat
dengan cepat menendang ke arah perut lawan.
"Plakk...!"
Biarpun Ki
Gandarwo sudah mengelak dan miringkan tubuhnya, tetap saja kaki kecil gadis itu
menyerempet pinggulnya sehingga dia terhuyung walaupun tidak terluka! Marahlah
Ki Gandarwo. Dia mencabut pedangnya dan dua orang anak buah membantunya
mengeroyok Kim Lan. Kim Lan mencabut pedangnya dan ia segera memutar pedangnya
menyambut serangan tiga orang pengeroyoknya. Biarpun Ki Gandarwo merupakan
lawan tangguh dan dua orang yang membantunya juga bukan orang lemah, namun Kim
Lan yang memiliki gerakan yang gesit sekali itu dapat mengimbangi serangan
mereka dengan serangan balasan yang tidak kalah dahsyatnya sehingga terjadilah
perkelahian yang seru.
Sementara itu,
Tri Kala juga sudah menerjang dan mengeroyok Ki Tejoranu. Melihat tiga orang
senopati Wura-Wuri ini menerjang dengan senjata mereka, Kala Muka menggunakan
keris, Kala Manik menggunakan klewang dan Kala Teja menggunakan ruyung dan
gerakan mereka cukup hebat, Ki Tejoranu cepat mencabut sepasang goloknya dan
dia pun melawan mati-matian! Kakak beradik itu masing-masing dikeroyok tiga
orang yang tangguh. Pertempuran itu berjalan seru dan ketika dua orang senopati
Wengker, yaitu Wirobento dan Wirobandrek melihat betapa sampai puluhan jurus
teman-temannya belum juga mampu merobohkan dua orang Itu, mereka segera
memnberi isyarat kepada anak buah mereka untuk maju mengeroyok. Lima orang anak
buah menerjang Ki Tejoranu dan lima orang lagi mengeroyok Kim Lan sehingga kini
dua orang kakak beradik itu masing-masing menghadapi pengeroyokan delapan orang!
Tentu saja mereka berdua menjadi kerepotan dan terkepung ketat.
"Kita
larikan Nyi Lasmi ke Wura-Wuri!" kata Wirobento kepada Wirobandrek.
Melihat dua orang kakak beradik itu terkepung ketat sehingga tidak mungkin lagi
melindungi Nyi Lasmi yang berdiri dengan muka pucat, mengkhawatirkan
keselamatan dua orang penolongnya, dua orang senopati Wengker ini segera
berloncatan menghampiri dan Nyi Lasmi tidak mampu menghindar ketika Wirobento
menangkapnya, memanggul tubuhnya dan melarikan diri dikawal Wirobandrek. Keduanya
lalu menunggang kuda dan melarikan Nyi Lasmi, hendak membawanya ke Wura-Wuri
untuk diserahkan kepada Adipati Wura-Wuri seperti diperintahkan Adipati
Linggawijaya. Belum jauh mereka membalapkan kuda meninggalkan tempat
pertempuran, tiba-tiba kuda yang mereka tunggangi berhenti, meringkik dan
mengangkat kaki depan ke atas. Dua orang senopati Wengker itu terkejut dan
melihat bahwa ada seorang laki-laki gagah berdiri menghadang di tengah jalan.
Laki-laki itu mengangkat kedua tangannya ke depan seolah mendorong dan ada
angin menyambar dan itulah agaknya yang membuat dua ekor kuda itu meringkik
seperti ketakutan! Dua orang itu terpaksa melompat turun dari atas punggung
kuda dan Wirobento membawa Nyi Lasmi turun. Dua ekor kuda itu lalu melarikan
diri ketakutan! Mereka bertiga memandang ke arah pria itu. Seorang pria yang
bertubuh tegap gagah, usianya sekitar tiga puluh tiga tahun, berpakaian dari
kain yang indah namun bentuknya sederhana, wajahnya yang tampan itu tersenyum
penuh pengertian dan sepasang matanya mengeluarkan sinar mencorong penuh
wibawa.
Begitu melihat
pria itu, Nyi Lasmi segera menjatuhkan diri berlutut menghadapnya dan berkata,
"Gusti
Patih Narotama..."
Wirobento dan
Wirobandrek juga pernah melihat Patih Kahuripan ini dan mereka merasa terkejut
bukan main. Akan tetapi mereka adalah senopati yang tentu saja mengandalkan
kesaktian sendiri. Walaupun mereka sudah mendengar akan kesaktian Ki Patih
Narotama, mereka belum pernah bertanding melawannya, maka mereka segera
melangkah maju dan tanpa banyak cakap lagi mereka sudah menyerang Ki Patih
Narotama. Wirobento menyerang dengan pecutnya yang berujung besi, sedangkan
Wirobandrek menyerang dengan sepasang kolor merahnya. Ki Patih Narotama
melompat ke belakang sehingga serangan mereka luput.
"Tahan!
Siapakah Andika berdua dan siapa pula wanita itu? Mengapa Andika berdua
melarikannya?"
"Andika
Ki Patih Narotama? Harap jangan mencampuri urusan kami! Ini adalah urusan
keluarga Gusti Permaisuri Wura-Wuri, dan ingatlah, Ki Patih Narotama.
Kehadiranmu di sini sudah merupakan pelanggaran wilayah Wura-Wuri!"
"Hemm,
siapa pun adanya Andika berdua, dan di mana pun aku berada, kalau aku melihat
dua orang laki-laki bertindak kasar memaksa seorang wanita lemah ikut pergi di
luar kehendaknya, aku pasti tidak akan tinggal diam dan menentangnya. Bebaskan
wanita ini dan pergilah kalian. Aku tidak ingin berurusan dengan kalian!"
"Keparat,
Ki Patih Narotama. Dalam suasana tidak ada perang Andika mengacau di sini.
Ketahuilah, kami adalah Senopati Wirobento dan Wirobandrek dari Kerajaan
Wengker. Kami melaksanakan perintah Kanjeng Adipati Wengker untuk mengantarkan
wanita ini ke Wura-Wuri dan menyerahkannya kepada Kanjeng Adipati Wura-Wuri dan
Gusti Permaisuri. Maka, harap Andika mundur dan jangan mencampuri urusan ini!”
Ki Patih
Narotama lalu bertanya kepada Nyi Lasmi.
"Bibi,
Ceritakan, apa yang sesungguhnya terjadi? Jangan takut, aku akan
melindungimu."
Nyi Lasmi yang
masih berlutut lalu berkata,
"Gusti
Patih, Paduka mungkin lupa kepada hamba. Hamba adalah Ibu kandung Puspa Dewi
yang tinggal di Karang Tirta menumpang di rumah keluarga Ki Lurah Pujosaputro
yang dulu paduka angkat menggantikan Suramenggala."
"Ah,
benar. Sekarang aku ingat. Jadi Andika penduduk Karang Tirta. Bagaimana dapat
dibawa dua orang senopati Wengker ini?"
“Aduh,
ketiwasan (celaka), Gusti. Gerombolan jahat dari Wengker, utusan Suramenggala,
telah..."
Tiba-tiba
Wirobento dan Wirobandrek menggereng dan keduanya sudah menubruk ke arah Nyi
Lasmi untuk membunuh wanita itu. Akan tetapi tiba-tiba tubuh Ki Patih Narotama
berkelebat dan menyambut terjangan dua orang itu.
"Werrr...
des! Desss...!!"
Dua orang
senopati Wengker itu terpental dan roboh terbanting sampai terguling-guling
saking kuatnya tangkisan Ki Patih Narotama yang mengandung angin sekuat badai
menerpa mereka! Biarpun tidak terluka karena memang Ki Patih Narotama tidak
berniat membunuh mereka, dua orang senopati itu terkejut bukan main dan maklum
bahwa mereka sama sekali bukan tandingan ki patih yang sakti mandraguna itu,
mereka segera bangkit dan melarikan diri.
Ki Patih
Narotama menghampiri Nyi Lasmi.
"Bibi,
sekarang ceritakan semua apa yang telah terjadi."
"Ampun,
Gusti.... hamba mohon sudilah kiranya Paduka menolong dua orang yang membela
hamba dan sekarang dikeroyok banyak orang. Hamba khawatir...”
"Hemm, di
mana mereka?"
"Di sana,
Gusti!" Nyi Lasmi menuding ke arah tempat perkelahian tadi.
"Hamba
takut terlambat, Gusti. Yang mengeroyok banyak sekali...!"
"Mari
kita ke sana!" Ki Patih Narotama memegang lengan Nyi Lasmi dan wanita itu
menahan jeritnya ketika merasa betapa tubuhnya terbawa seolah terbang cepatnya.
Kedua kakinya tidak menyentuh tanah. Sebentar saja mereka sudah tiba di tempat
perkelahian itu dan Ki Patih Narotama melihat betapa seorang laki-laki tinggi
kurus bermuka pucat kuning menggunakan sepasang golok mengamuk, dikeroyok
delapan orang! Dan tak jauh dari situ, tampak seorang gadis Cina dengan
gagahnya melawan delapan orang pengeroyok lain. Ki Patih Narotama terkejut
mengenal laki-laki itu.
"Ki
Tejoranu!" serunya dan Ki Patih yang sakti mandraguna ini lalu melepaskan
Nyi Lasmi, kemudian tubuhnya menerjang ke arah pertempuran. Kaki tangannya
bergerak seperti berubah menjadi banyak saking cepatnya dan para pengeroyok itu
kocar-kacir. Mereka yang terkena tamparan atau tendangan Ki Patih Narotama
seperti disambar petir roboh terguling-guling. Akan tetapi Ki Patih Narotama
membatasi tenaganya sehingga tidak sampai membunuh mereka.
"Gusti
Patih Narotama! Kedatangan Paduka tepat pada waktunya!" kata Ki Tejoranu
girang karena tadi dia dan adiknya sudah kewalahan dan terdesak hebat.
Mendengar
seruan kakaknya, The Kim Lan memperhatikan dan gadis ini terkejut akan tetapi
juga kagum bukan main. Walaupun ia sendiri pasti akan menang kalau menghadapi
para pengeroyok itu satu lawan satu, akan tetapi dikeroyok delapan, ia tadi
juga sudah kewalahan dan lelah sekali. Kini ia melihat sepak terjang pria yang
disebut Ki Patih Narotama oleh kakaknya dan ia hampir tidak percaya kalau tidak
melihat sendiri. Ki Patih itu dengan tangan dan kakinya, membuat para
pengeroyok itu kocar-kacir dan tidak ada senjata para pengeroyok yang sempat
menyentuh tubuhnya. Seolah-olah dari gerakan tangan kakinya itu menyambar hawa
yang amat kuat dan yang membuat senjata para pengeroyok itu mental kembali
ketika bertemu dengan angin pukulan pria yang sakti mandraguna itu. Ki Gandarwo
yang tadinya sudah mendesak Kim Lan dan sudah membayangkan bahwa sebentar lagi
dia akan dapat meringkus gadis Cina itu dan sudah meneriaki kawan-kawannya agar
jangan membunuh melainkan menangkapnya, kini menjadi marah sekali ketika
melihat kawan-kawannya kocar-kacir oleh sepak terjang pria yang baru datang dan
tidak dikenalnya itu. Sambil berteriak lantang dia menerjang dan pedangnya
menyambar ke arah leher Ki Patih Narotama. Kim Lan sendiri tadi sudah merasakan
bertanding melawan senopati Wura-Wuri ini dan tahu bahwa Ki Gandarwo itu cukup
tangguh. Pedangnya berbahaya sekali. Akan tetapi kini, Ki Patih Narotama
seolah-olah tidak melihat sambaran pedang itu. Ketika pedang sudah menyambar dekat lehernya, tiba-tiba tangan
kirinya yang terbuka miring dihantamkan menyambut pedang dengan gerakan seperti
membacok.
"Trakkk....!
Bukk...!"
Pedang itu
bertemu dengan tangan Ki Patih Narotama patah menjadi dua potong dan sebuah
tendangan mengenai perut Ki Gandarwo yang terpental dan terbanting jatuh
bergulingan. Sambil menyeringai Ki Gandarwo bangkit lalu melarikan diri! Tri
Kala yang sudah lama menjadi senopati Wura-Wuri, tentu saja mengenal kesaktian
Ki Patih Narotama. Mereka sudah merasa gentar akan tetapi mereka masih
mengharapkan kedigdayaan Ki Gandarwo untuk melawan Ki Patih Narotama. Akan
tetapi melihat betapa dalam segebrakan saja Ki Gandarwo sudah roboh
terguling-guling, Tri Kala menjadi semakin ketakutan dan mereka pun cepat
melarikan diri menyusul Ki Gandarwo yang sudah lari terlebih dulu. Anak buah
mereka pun berlomba menyelamatkan diri. Ki Tejoranu menyembah sambil berdiri
menghadapi Ki Patih Narotama.
"Gusti
Patih Narotama, kami merasa gembira dan beruntung sekali Paduka datang
menolong. Kalau tidak, kami kakak beradik tentu akan tewas di tangan
orang-orang Wengker dan Wura-Wuri itu.”
"Nona ini
adikmu?" tanya Ki Patih Narotama sambil memandang kepada The Kim Lan,
Gadis itu merangkap kedua tangan depan dada dan membungkuk memberi hormat.
“Benar, Gusti Patih,
saya adalah The Kim Lan, adik kandung kakak The Jiauw Lan atau Ki Tejoranu
ini." kata Kim Lan dengan sikap hormat dan sepasang matanya yang bening
tajam itu menatap wajah Ki Patih Narotama dengan sinar mata penuh kagum.
Ki Patih
Narotama mengangguk-angguk.
"Aku
sudah mendengar tentang dirimu dari Ki Tejoranu setahun yang lalu. Nanti saja
kita bicara, Ki Tejoranu, sekarang aku ingin mendengar dulu cerita Bibi Lasmi
ini. Bibi, sekarang ceritakanlah, apa yang telah terjadi?"
“Gusti Patih,
malapetaka menimpa keluarga Ki Lurah Pujosaputro di Karang Tirta. Gerombolan
penjahat dari Wengker itu datang menyerbu kelurahan Karang Tirta dan dengan
kejam mereka membunuh Ki Lurah Pujosaputro dan keluarganya. Kemudian mereka
menangkap hamba dan hamba dilarikan ke Kadipaten Wengker."
"Hemm,
orang-orang Wengker memang banyak yang jahat. Mengapa orang-orang Wengker
membunuh Ki Lurah Pujosaputro sekeluarga, Nyi Lasmi?"
"Tadinya
hamba juga tidak tahu, Gusti. Akan tetapi setelah tiba di Kadipaten Wengker,
baru saya tahu bahwa gerombolan penjahat itu adalah orang-orang yang disuruh
Suramenggala! Suramenggala marah dan membalas dendam, Gusti. Dia menyuruh bunuh
Ki Lurah Pujosaputro sekeluarga dan menculik hamba dan dia sekarang menjadi
tumenggung di Wengker dan puteranya, Linggajaya telah menjadi Adipati
Linggawijaya di Wengker."
No comments:
Post a Comment