Nurseta Satria Karangtirta ; Bagian 25


Melihat bayangan gadis itu berkelebat ke sebelah kirinya, dia menubruk lagi ke kiri. Sekali ini Kim Lan menggunakan kedua tangannya untuk menangkis dari samping.
"Dukkk...!!"

Ki Gandarwo semakin terkejut. Tangkisan itu membuat kedua lengannya terasa tergetar hebat! Kiranya gadis ini benar-benar kuat dan memiliki kedigdayaan! Pantas saja dua orang warok dari Wengker itu dan anak buah mereka tidak mampu mengalahkannya.
"Haaaiiittt!"
Kini Ki Gandarwo tidak memandang ringan lagi dan dia tahu bahwa kalau dia ingin menang, dia harus menyerang sungguh-sungguh. Mengikuti bentakannya itu, tangan kirinya mencengkeram ke arah muka Kim Lan dan tangan kanannya menyusul dengan pukulan ke arah perut! Serangan ini hebat sekali karena dilakukan dengan pengerahan tenaga yang amat kuat. Kim Lan mengenal serangan maut yang berbahaya, ia mengandalkan kelincahan gerakannya untuk memutar ke kiri mengelak cengkeraman ke arah mukanya dan dari samping tangannya membuat gerakan setengah lingkaran menangkis pukulan ke arah parutnya.
"Plakk!"
Begitu tangan Ki Gandarwo tertangkis, Kim Lan mundur dua langkah lalu kaki kirinya mencuat dengan cepat menendang ke arah perut lawan.
"Plakk...!"
Biarpun Ki Gandarwo sudah mengelak dan miringkan tubuhnya, tetap saja kaki kecil gadis itu menyerempet pinggulnya sehingga dia terhuyung walaupun tidak terluka! Marahlah Ki Gandarwo. Dia mencabut pedangnya dan dua orang anak buah membantunya mengeroyok Kim Lan. Kim Lan mencabut pedangnya dan ia segera memutar pedangnya menyambut serangan tiga orang pengeroyoknya. Biarpun Ki Gandarwo merupakan lawan tangguh dan dua orang yang membantunya juga bukan orang lemah, namun Kim Lan yang memiliki gerakan yang gesit sekali itu dapat mengimbangi serangan mereka dengan serangan balasan yang tidak kalah dahsyatnya sehingga terjadilah perkelahian yang seru.

Sementara itu, Tri Kala juga sudah menerjang dan mengeroyok Ki Tejoranu. Melihat tiga orang senopati Wura-Wuri ini menerjang dengan senjata mereka, Kala Muka menggunakan keris, Kala Manik menggunakan klewang dan Kala Teja menggunakan ruyung dan gerakan mereka cukup hebat, Ki Tejoranu cepat mencabut sepasang goloknya dan dia pun melawan mati-matian! Kakak beradik itu masing-masing dikeroyok tiga orang yang tangguh. Pertempuran itu berjalan seru dan ketika dua orang senopati Wengker, yaitu Wirobento dan Wirobandrek melihat betapa sampai puluhan jurus teman-temannya belum juga mampu merobohkan dua orang Itu, mereka segera memnberi isyarat kepada anak buah mereka untuk maju mengeroyok. Lima orang anak buah menerjang Ki Tejoranu dan lima orang lagi mengeroyok Kim Lan sehingga kini dua orang kakak beradik itu masing-masing menghadapi pengeroyokan delapan orang! Tentu saja mereka berdua menjadi kerepotan dan terkepung ketat.
"Kita larikan Nyi Lasmi ke Wura-Wuri!" kata Wirobento kepada Wirobandrek. Melihat dua orang kakak beradik itu terkepung ketat sehingga tidak mungkin lagi melindungi Nyi Lasmi yang berdiri dengan muka pucat, mengkhawatirkan keselamatan dua orang penolongnya, dua orang senopati Wengker ini segera berloncatan menghampiri dan Nyi Lasmi tidak mampu menghindar ketika Wirobento menangkapnya, memanggul tubuhnya dan melarikan diri dikawal Wirobandrek. Keduanya lalu menunggang kuda dan melarikan Nyi Lasmi, hendak membawanya ke Wura-Wuri untuk diserahkan kepada Adipati Wura-Wuri seperti diperintahkan Adipati Linggawijaya. Belum jauh mereka membalapkan kuda meninggalkan tempat pertempuran, tiba-tiba kuda yang mereka tunggangi berhenti, meringkik dan mengangkat kaki depan ke atas. Dua orang senopati Wengker itu terkejut dan melihat bahwa ada seorang laki-laki gagah berdiri menghadang di tengah jalan. Laki-laki itu mengangkat kedua tangannya ke depan seolah mendorong dan ada angin menyambar dan itulah agaknya yang membuat dua ekor kuda itu meringkik seperti ketakutan! Dua orang itu terpaksa melompat turun dari atas punggung kuda dan Wirobento membawa Nyi Lasmi turun. Dua ekor kuda itu lalu melarikan diri ketakutan! Mereka bertiga memandang ke arah pria itu. Seorang pria yang bertubuh tegap gagah, usianya sekitar tiga puluh tiga tahun, berpakaian dari kain yang indah namun bentuknya sederhana, wajahnya yang tampan itu tersenyum penuh pengertian dan sepasang matanya mengeluarkan sinar mencorong penuh wibawa.

Begitu melihat pria itu, Nyi Lasmi segera menjatuhkan diri berlutut menghadapnya dan berkata,
"Gusti Patih Narotama..."
Wirobento dan Wirobandrek juga pernah melihat Patih Kahuripan ini dan mereka merasa terkejut bukan main. Akan tetapi mereka adalah senopati yang tentu saja mengandalkan kesaktian sendiri. Walaupun mereka sudah mendengar akan kesaktian Ki Patih Narotama, mereka belum pernah bertanding melawannya, maka mereka segera melangkah maju dan tanpa banyak cakap lagi mereka sudah menyerang Ki Patih Narotama. Wirobento menyerang dengan pecutnya yang berujung besi, sedangkan Wirobandrek menyerang dengan sepasang kolor merahnya. Ki Patih Narotama melompat ke belakang sehingga serangan mereka luput.
"Tahan! Siapakah Andika berdua dan siapa pula wanita itu? Mengapa Andika berdua melarikannya?"
"Andika Ki Patih Narotama? Harap jangan mencampuri urusan kami! Ini adalah urusan keluarga Gusti Permaisuri Wura-Wuri, dan ingatlah, Ki Patih Narotama. Kehadiranmu di sini sudah merupakan pelanggaran wilayah Wura-Wuri!"
"Hemm, siapa pun adanya Andika berdua, dan di mana pun aku berada, kalau aku melihat dua orang laki-laki bertindak kasar memaksa seorang wanita lemah ikut pergi di luar kehendaknya, aku pasti tidak akan tinggal diam dan menentangnya. Bebaskan wanita ini dan pergilah kalian. Aku tidak ingin berurusan dengan kalian!"
"Keparat, Ki Patih Narotama. Dalam suasana tidak ada perang Andika mengacau di sini. Ketahuilah, kami adalah Senopati Wirobento dan Wirobandrek dari Kerajaan Wengker. Kami melaksanakan perintah Kanjeng Adipati Wengker untuk mengantarkan wanita ini ke Wura-Wuri dan menyerahkannya kepada Kanjeng Adipati Wura-Wuri dan Gusti Permaisuri. Maka, harap Andika mundur dan jangan mencampuri urusan ini!”
Ki Patih Narotama lalu bertanya kepada Nyi Lasmi.
"Bibi, Ceritakan, apa yang sesungguhnya terjadi? Jangan takut, aku akan melindungimu."
Nyi Lasmi yang masih berlutut lalu berkata,
"Gusti Patih, Paduka mungkin lupa kepada hamba. Hamba adalah Ibu kandung Puspa Dewi yang tinggal di Karang Tirta menumpang di rumah keluarga Ki Lurah Pujosaputro yang dulu paduka angkat menggantikan Suramenggala."
"Ah, benar. Sekarang aku ingat. Jadi Andika penduduk Karang Tirta. Bagaimana dapat dibawa dua orang senopati Wengker ini?"
“Aduh, ketiwasan (celaka), Gusti. Gerombolan jahat dari Wengker, utusan Suramenggala, telah..."

Tiba-tiba Wirobento dan Wirobandrek menggereng dan keduanya sudah menubruk ke arah Nyi Lasmi untuk membunuh wanita itu. Akan tetapi tiba-tiba tubuh Ki Patih Narotama berkelebat dan menyambut terjangan dua orang itu.
"Werrr... des! Desss...!!"
Dua orang senopati Wengker itu terpental dan roboh terbanting sampai terguling-guling saking kuatnya tangkisan Ki Patih Narotama yang mengandung angin sekuat badai menerpa mereka! Biarpun tidak terluka karena memang Ki Patih Narotama tidak berniat membunuh mereka, dua orang senopati itu terkejut bukan main dan maklum bahwa mereka sama sekali bukan tandingan ki patih yang sakti mandraguna itu, mereka segera bangkit dan melarikan diri.
Ki Patih Narotama menghampiri Nyi Lasmi.
"Bibi, sekarang ceritakan semua apa yang telah terjadi."
"Ampun, Gusti.... hamba mohon sudilah kiranya Paduka menolong dua orang yang membela hamba dan sekarang dikeroyok banyak orang. Hamba khawatir...”
"Hemm, di mana mereka?"
"Di sana, Gusti!" Nyi Lasmi menuding ke arah tempat perkelahian tadi.
"Hamba takut terlambat, Gusti. Yang mengeroyok banyak sekali...!"
"Mari kita ke sana!" Ki Patih Narotama memegang lengan Nyi Lasmi dan wanita itu menahan jeritnya ketika merasa betapa tubuhnya terbawa seolah terbang cepatnya. Kedua kakinya tidak menyentuh tanah. Sebentar saja mereka sudah tiba di tempat perkelahian itu dan Ki Patih Narotama melihat betapa seorang laki-laki tinggi kurus bermuka pucat kuning menggunakan sepasang golok mengamuk, dikeroyok delapan orang! Dan tak jauh dari situ, tampak seorang gadis Cina dengan gagahnya melawan delapan orang pengeroyok lain. Ki Patih Narotama terkejut mengenal laki-laki itu.
"Ki Tejoranu!" serunya dan Ki Patih yang sakti mandraguna ini lalu melepaskan Nyi Lasmi, kemudian tubuhnya menerjang ke arah pertempuran. Kaki tangannya bergerak seperti berubah menjadi banyak saking cepatnya dan para pengeroyok itu kocar-kacir. Mereka yang terkena tamparan atau tendangan Ki Patih Narotama seperti disambar petir roboh terguling-guling. Akan tetapi Ki Patih Narotama membatasi tenaganya sehingga tidak sampai membunuh mereka.
"Gusti Patih Narotama! Kedatangan Paduka tepat pada waktunya!" kata Ki Tejoranu girang karena tadi dia dan adiknya sudah kewalahan dan terdesak hebat.
Mendengar seruan kakaknya, The Kim Lan memperhatikan dan gadis ini terkejut akan tetapi juga kagum bukan main. Walaupun ia sendiri pasti akan menang kalau menghadapi para pengeroyok itu satu lawan satu, akan tetapi dikeroyok delapan, ia tadi juga sudah kewalahan dan lelah sekali. Kini ia melihat sepak terjang pria yang disebut Ki Patih Narotama oleh kakaknya dan ia hampir tidak percaya kalau tidak melihat sendiri. Ki Patih itu dengan tangan dan kakinya, membuat para pengeroyok itu kocar-kacir dan tidak ada senjata para pengeroyok yang sempat menyentuh tubuhnya. Seolah-olah dari gerakan tangan kakinya itu menyambar hawa yang amat kuat dan yang membuat senjata para pengeroyok itu mental kembali ketika bertemu dengan angin pukulan pria yang sakti mandraguna itu. Ki Gandarwo yang tadinya sudah mendesak Kim Lan dan sudah membayangkan bahwa sebentar lagi dia akan dapat meringkus gadis Cina itu dan sudah meneriaki kawan-kawannya agar jangan membunuh melainkan menangkapnya, kini menjadi marah sekali ketika melihat kawan-kawannya kocar-kacir oleh sepak terjang pria yang baru datang dan tidak dikenalnya itu. Sambil berteriak lantang dia menerjang dan pedangnya menyambar ke arah leher Ki Patih Narotama. Kim Lan sendiri tadi sudah merasakan bertanding melawan senopati Wura-Wuri ini dan tahu bahwa Ki Gandarwo itu cukup tangguh. Pedangnya berbahaya sekali. Akan tetapi kini, Ki Patih Narotama seolah-olah tidak melihat sambaran pedang itu. Ketika pedang sudah  menyambar dekat lehernya, tiba-tiba tangan kirinya yang terbuka miring dihantamkan menyambut pedang dengan gerakan seperti membacok.
"Trakkk....! Bukk...!"
Pedang itu bertemu dengan tangan Ki Patih Narotama patah menjadi dua potong dan sebuah tendangan mengenai perut Ki Gandarwo yang terpental dan terbanting jatuh bergulingan. Sambil menyeringai Ki Gandarwo bangkit lalu melarikan diri! Tri Kala yang sudah lama menjadi senopati Wura-Wuri, tentu saja mengenal kesaktian Ki Patih Narotama. Mereka sudah merasa gentar akan tetapi mereka masih mengharapkan kedigdayaan Ki Gandarwo untuk melawan Ki Patih Narotama. Akan tetapi melihat betapa dalam segebrakan saja Ki Gandarwo sudah roboh terguling-guling, Tri Kala menjadi semakin ketakutan dan mereka pun cepat melarikan diri menyusul Ki Gandarwo yang sudah lari terlebih dulu. Anak buah mereka pun berlomba menyelamatkan diri. Ki Tejoranu menyembah sambil berdiri menghadapi Ki Patih Narotama.
"Gusti Patih Narotama, kami merasa gembira dan beruntung sekali Paduka datang menolong. Kalau tidak, kami kakak beradik tentu akan tewas di tangan orang-orang Wengker dan Wura-Wuri itu.”
"Nona ini adikmu?" tanya Ki Patih Narotama sambil memandang kepada The Kim Lan, Gadis itu merangkap kedua tangan depan dada dan membungkuk memberi hormat.
“Benar, Gusti Patih, saya adalah The Kim Lan, adik kandung kakak The Jiauw Lan atau Ki Tejoranu ini." kata Kim Lan dengan sikap hormat dan sepasang matanya yang bening tajam itu menatap wajah Ki Patih Narotama dengan sinar mata penuh kagum.
Ki Patih Narotama mengangguk-angguk.
"Aku sudah mendengar tentang dirimu dari Ki Tejoranu setahun yang lalu. Nanti saja kita bicara, Ki Tejoranu, sekarang aku ingin mendengar dulu cerita Bibi Lasmi ini. Bibi, sekarang ceritakanlah, apa yang telah terjadi?"
“Gusti Patih, malapetaka menimpa keluarga Ki Lurah Pujosaputro di Karang Tirta. Gerombolan penjahat dari Wengker itu datang menyerbu kelurahan Karang Tirta dan dengan kejam mereka membunuh Ki Lurah Pujosaputro dan keluarganya. Kemudian mereka menangkap hamba dan hamba dilarikan ke Kadipaten Wengker."
"Hemm, orang-orang Wengker memang banyak yang jahat. Mengapa orang-orang Wengker membunuh Ki Lurah Pujosaputro sekeluarga, Nyi Lasmi?"
"Tadinya hamba juga tidak tahu, Gusti. Akan tetapi setelah tiba di Kadipaten Wengker, baru saya tahu bahwa gerombolan penjahat itu adalah orang-orang yang disuruh Suramenggala! Suramenggala marah dan membalas dendam, Gusti. Dia menyuruh bunuh Ki Lurah Pujosaputro sekeluarga dan menculik hamba dan dia sekarang menjadi tumenggung di Wengker dan puteranya, Linggajaya telah menjadi Adipati Linggawijaya di Wengker."

<<< Bagian 24                                                                                         Bagian 26 >>>

No comments:

Post a Comment