Nurseta Satria Karangtirta ; Bagian 26


"Jagad Dewa Bathara...! Sudah kuduga sejak dulu bahwa pemuda itu adalah seorang yang berbahaya sekali. Kiranya dia telah berhasil menjadi adipati di Wengker. Lalu bagaimana, Nyi Lasmi?"
"Hamba dihadapkan Suramenggala yang hendak memaksa hamba untuk kembali menjadi selirnya. Akan tetapi hamba menolak. Setelah beberapa hari hamba menolak dan mogok makan, akhirnya hamba dikawal serombongan orang Wengker, hendak diserahkan kepada Adipati Wura-Wuri agar dijadikan sandera untuk memaksa Puspa Dewi menyerahkan diri kepada mereka."
"Hemm, licik sekali. Anakmu itu memang telah berbalik membela Kahuripan dan menentang Wura-Wuri di mana dia telah dijadikan Sekar Kedaton karena gurunya yang telah menjadi ibu angkatnya, Nyi Dewi Durgakumala telah menjadi permaisuri di Wura-Wuri. Kalau engkau menjadi tawanan di Wura-Wuri, bukan tidak mungkin Puspa Dewi akan menyerahkan diri untuk menyelamatkanmu Teruskan ceritamu, Nyi Lasmi."
"Ketika hamba dibawa dengan paksa oleh gerombolan dari Wengker itu, muncul Ki Tejoranu dan Kim Lan ini. Mereka menolong hamba dan membuat gerombolan Wengker melarikan diri. Lalu kakak beradik ini hendak mengantarkan hamba kembali ke Karang Tirta, akan tetapi setelah tiba di sini, muncul orang-orang Wengker dan orang-orang Wura-Wuri mengeroyok mereka. Hamba ditangkap dan dilarikan Wirobento dan Wirobandrek, senopati Wengker itu dan Paduka membebaskan hamba."

Kembali Narotama mengangguk-angguk.
"Setelah aku mendengar semua yang telah terjadi, mari kita semua pergi ke Karang Tirta. Kalian juga, Ki Tejoranu dan Nona Kim Lan, karena aku ingin mendengar bagaimana kalian kakak beradik dapat berkumpul."
Berjalanlah empat orang itu meninggalkan tempat itu menuju ke Karang Tirta. Dalam perjalanan itu, Ki Tejoranu dan Kim Lan secara bergantian menceritakan pengalaman mereka sampai mereka dapat saling bertemu. Setelah mereka selesai bercerita, Ki Patih Narotama berseru gembira.
"Ah, jadi kalian juga baru saja saling berjumpa, yaitu ketika menolong Nyi Lasmi? Sungguh menggembirakan, aku ikut merasa gembira melihat kalian kakak beradik dapat berkumpul kembali."
Hening sejenak dan mereka berjalan terus, tidak terlalu cepat karena di situ terdapat Nyi Lasmi yang lemah. Beberapa kali Kim Lan mengerling ke kanan, ke arah Ki Patih Narotama yang melangkah sambil menundukkan mukanya. Gadis ini merasa kagum bukan main kepada Ki Patih Narotama, bukan hanya karena tadi ia melihat betapa sakti mandraguna ki patih ini, akan tetapi juga melihat wajah dan sikapnya yang demikian agung penuh wibawa, pandang matanya yang lembut penuh pengertian namun mengandung ketajaman yang seolah dapat menjenguk ke dalam hatinya, dan senyumnya yang membuat wajah Ki Patih itu tampak demikian jantan dan gagah. Belum pernah selamanya ia bertemu dengan seorang pria seperti Ki Patih Narotama ini dan seketika, pada pertemuan pertama tadi, hati gadis ini sudah terkagum-kagum dan timbul perasaan mesra terhadap pria perkasa ini. Ki Patih Narotama berjalan sambil menundukkan mukanya. Dia sendiri tadi beberapa kali bertemu pandang dengan gadis ini dan diam-diam dia terkejut karena dia melihat betapa pandang mata gadis asing ini mengandung kagum dan cinta! Setelah ragu-ragu dan hatinya maju mundur beberapa lamanya, akhirnya Kim Lan memberanikan diri membuka mulut dan berkata dengan suara agak gemetar.
"Gusti Patih Narotama..."
Ki Patih Narotama menoleh ke kiri dan mereka saling bertemu pandang. Sejenak pandang mata bertaut, akan tetapi Kim Lan segera menundukkan mukanya yang menjadi kemerahan. Wajah itu menjadi semakin manis ketika la menunduk malu-malu dengan kedua pipinya menjadi kemerahan seperti buah tomat masak.
"Engkau ingin bicara apakah, Nona Kim Lan?" Tanya Narotama dengan sikap sabar ketika dia melihat gadis itu tersipu.
Kim Lan menghela napas untuk menenangkan hatinya, lalu ia berkata lirih.
"Gusti Patih, saya sudah mendengar banyak tentang paduka dari kakak saya. Paduka telah mengobatinya dan menyelamatkan nyawanya ketika kakak saya terluka parah oleh guru sendiri. Kemudian tadi, kalau tidak ada Paduka yang menolong, kami kakak beradik tentu tewas dikeroyok banyak orang. Budi pertolongan Paduka yang menyelamatkan nyawa kami itu, sampai mati pun tidak mungkin dapat saya lupakan, maka saya... saya ingin menghaturkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada Paduka, Gusti."
Walaupun ucapan gadis itu agak cadel dan gaya bahasanya juga kacau, namun Ki Patih Narotama dapat menangkap maksudnya. Dia pun melihat betapa sinar mata gadis itu menunjukkan bahwa ucapan terima kasih itu bukan basa-basi belaka, melainkan keluar dari hatinya.
Dia tersenyum.
"Ah, Nona. Tidak perlu engkau berterima kasih kepadaku. Semua pertolongan datang dari Sang Hyang Widi, hanya melalui alat yang di pilih-Nya. Yang menolong kalian berdua adalah Sang Hyang Widi, kebetulan aku yang dipergunakan oleh-Nya sebagai alat-Nya. Bukankah engkau dan Ki Tejoranu juga dipergunakan oleh-Nya untuk menyelamatkan Nyi Lasmi? Mari kita bersama mengucap puji syukur kepada Sang Hyang Widi Wasa."
Mendengar ini, Kini Lan menjadi semakin kagum dan terharu sekali. Sungguh, belum pernah ia bertemu dengan seorang pria sehebat ini, sakti mandraguna, lembut berwibawa, dan bijaksana pula,
"Aduh, Gusti Patih Narotama. Paduka adalah seorang yang mulia sekali.” katanya dan suaranya bercampur isak tangis.
Ki Patih Narotama melirik heran melihat gadis itu menangis perlahan, akan tetapi dia diam saja. Ki Tejoranu yang berada di belakang, berjalan di samping Lasmi, juga memandang ke arah adiknya dan diam-diam kakak ini dapat merasakan isi hati adiknya. Adiknya kagum kepada Ki Patih Narotama! Dia tidak merasa heran karena siapa yang tidak akan kagum kepada pria yang tampan dan gagah perkasa itu? Apalagi wanita! Akan tetapi yang membuat dia mengerutkan alisnya adalah dugaannya bahwa adiknya itu bukan sekedar kagum, melainkan jatuh cinta! Ki Tejoranu mendengar Nyi Lasmi yang berjalan di sebelah kirinya menghela napas panjang. Dia menoleh dan memandang. Wanita itu pun memandang kepadanya lalu tersenyum dan Nyi Lasmi mengedipkan matanya sambil menudingkan telunjuknya kepada Kim Lan, lalu kepada Ki Patih Narotama! Ki Tejoranu mengangguk. Nyi Lasmi mengetahui pula akan isi hati Kim Lan. Maklum, wanita itu sudah berusia tiga puluh tujuh tahun dan tentu lebih berpengalaman, apalagi ia seorang wanita, tentu lebih halus perasaannya dan dapat merasakan hati wanita lain.

Ketika memasuki sebuah dusun yang cukup besar, Ki Patih Narotama mengajak tiga orang itu singgah di rumah ki lurah. Dia disambut dengan penuh hormat dan ketika Ki Patih Narotama mengatakan bahwa dia membutuhkan tiga ekor kuda, lurah itu segera menyediakannya. Karena Nyi Lasmi tidak biasa menunggang kuda, maka Narotama hanya minta tiga ekor. Nyi Lasmi lalu berboncengan dengan Kim Lan. Perjalanan mereka lalu dilanjutkan dengan menunggang kuda sehingga selain lebih cepat juga tidak begitu melelahkan. Dusun ini sudah termasuk wilayah Kahuripan.

Dengan hati panas karena amarah, Puspa Dewi berlari secepat terbang menuju ke Kadipaten Wengker. Ia bukan seorang gadis yang bodoh, bukan gadis yang nekat dan hanya mengandalkan kepandaiannya sendiri. Ia tahu benar betapa besar bahayanya mendatangi Kadipaten Wengker di mana terdapat banyak sekali orang yang sakti mandraguna. Baru Linggajaya yang kini menjadi Adipati Linggawijaya seorang saja sudah merupakan lawan yang amat tangguh baginya, ia sudah mendengar pula bahwa Dewi Mayangsari, isteri mendiang Adipati, Adhamapanuda yang kini menjadi permaisuri Linggawijaya, juga memiliki kesaktian yang tinggi. Belum lagi di sana terdapat Resi Bajrasakti guru Linggawijaya. Baru tiga orang ini saja kalau maju bersama mengeroyoknya, kecil sekali harapannya untuk dapat menang. Apalagi Kadipaten Wengker memiliki pasukan perajurit yang banyak jumlahnya. Pendeknya, memasuki Kadipaten Wengker amat berbahaya bagi keselamatannya. Ia bukan Puspa Dewi setahun yang lalu sebelum digembleng oleh Maha Resi Satyadharma. Kini ia adalah seorang gadis yang waspada dan tidak menuruti nafsu hati saja. Ia memang harus menolong ibunya, kalau perlu berkorban nyawa. Akan tetapi kalau ia nekat begitu saja menyerbu kadipaten, sebelum bertemu ibunya ia akan dikeroyok dan kalau ia tewas, berarti ibunya tidak akan tertolong! Kalau terjadi demikian, pengorbanannya tidak ada artinya sama sekali. Ia tidak mau mengambil resiko itu. Ia harus dapat menjaga diri agar ia dapat menolong ibunya. Maka, Puspa Dewi melakukan penyelidikan di luar kota raja Kadipaten Wengker. Di malam hari, dalam gelap, ia menangkap seorang prajurit Wengker, menyeretnya di belakang semak-semak yang gelap lalu memaksanya mengaku di mana adanya Nyi Lasmi. Karena ketakutan, perajurit itu mengaku bahwa Nyi Lasmi ditahan di rumah Tumengung Suramenggala. Akan tetapi penjagaannya rapat sekali karena Tumenggung Suramenggala takut kalau kalau puteri Nyi Lasmi yang bernama Puspa Dewi akan datang menolong ibunya. Bahkan di situ telah dipasang jebakan-jebakan untuk menjebak Puspa Dewi, demikian prajurit itu membuat pengakuan, sama sekali tidak mengira bahwa yang menangkapnya itu adalah Puspa Dewi sendiri!

Tentu saja Puspa Dewi berlaku hati-hati. Hatinya masih tenang mendengar ibunya dalam keadaan selamat dan ditahan di rumah Tumenggung Suramenggala yang menurut keterangan prajurit itu akan menjadi selir Suramenggala lagi. Setelah mengorek keterangan dari prajurit jaga itu. Puspa Dewi melepaskannya dan tidak mengganggunya karena dia hanya seorang prajurit jaga yang tidak tahu menahu tentang penculikan atas diri Ibunya. Setiap malam ia menangkap seorang perajurit jaga. Pada malam ke tiga, ketika ada penjaga sedang meronda, Puspa Dewi berkelebat dekat dan sekali tampar prajurit jaga itu terpelanting pingsan. Puspa Dewi menyeretnya ke tempat gelap dan setelah orang itu siuman ia menghardik dengan suara yang dibuat besar seperti suara laki-laki.
"Kalau engkau ingin hidup, hayo katakan dengan sebenarnya di mana adanya Nyi Lasmi yang ditawan oleh Tumenggung Suramenggala!"
Prajurit penjaga yang merasa tubuhnya menjadi setengah lumpuh dan kini lehernya merasa ditempeli pedang yang tajam, tentu saja menjadi ketakutan.
"Ampunkan saya..." katanya dengan tubuh menggigil dan suara gemetar.
"Nyi Lasmi... tadi siang dibawa pergi... tidak berada di sini lagi..."
"Apa? Jangan bohong kau!" Kini Puspa Dewi tidak meniru suara pria karena terkejut, Suaranya terdengar seperti biasa, suara wanita. Pedangnya menempel semakin ketat dan orang itu menjadi semakin ketakutan.
"Ampun... saya tidak berbohong. Saya melihat sendiri... Nyi Lasmi dibawa pergi, dikawal Senopati Wirobento dan Wirobandrek yang memimpin selosin prajurit..."
"Hayo katakan ke mana ia dibawa!"
"Saya... saya hanya mendengar bahwa ia akan diserahkan kepada... Kadipaten Wura-Wuri..."
"Ke Wura-Wuri...??" Puspa Dewi menggunakan tangan kiri untuk mencengkeram lengan orang itu sehingga dia berteriak kesakitan. "Katakan yang benar, Jangan bohong! Mengapa ia dibawa ke Wura-Wuri!"
"Saya... saya tidak tahu... saya hanya mengetahui dari teman-teman. Ketika siang tadi saya melihat Nyi Lasmi dikawal empat belas orang itu keluar dari kadipaten, saya bertanya dan teman-teman yang bilang bahwa ia akan diserahkan kepada Kadipaten Wura-Wuri..."
Puspa Dewi menampar dengan tangan kirinya ke arah leher orang itu yang seketika pingsan. Ia segera meninggalkan tempat itu dan langsung saja ia meninggalkan daerah Wengker dan menuju ke arah Kadipaten Wura-Wuri. Ia kini dapat menduga mengapa ibunya akan diserahkan kepada Kadipaten Wura-Wuri. Ia dapat membayangkan apa yang akan dilakukan gurunya yang juga ibu angkatnya, Nyi Dewi Durgakumala yang kini menjadi permaisuri Wura-Wuri.
Gurunya itu tentu akan mempergunakan ibu kandungnya sebagai sandera untuk memaksa ia datang menghadap! Ia tidak tahu apa yang akan dilakukan Nyi Dewi Durgakumala terhadap dirinya kalau ia terpaksa datang menghadap. Gurunya yang telah menganggap ia sebagai anak sendiri itu amat menyayangnya. Hal ini ia ketahui benar. Akan tetapi ia telah mengkhianati Wura-Wuri dan tentu saja hal ini membuat gurunya itu marah sekali dan ia tidak akan merasa heran kalau gurunya itu membencinya karena pengkhianatannya ini. la tidak dapat membayangkan mana yang lebih kuat antara rasa sayang dan rasa benci yang terkandung dalam hati Nyi Dewi Durgakumala terhadap dirinya. Seperti juga kalau ia memasuki Wengker, memasuki Wura-Wuri juga berarti memasuki sarang harimau. Seorang diri saja, tidak mungkin ia dapat melindungi dirinya sendiri, terutama diri ibunya kalau ia berada di kota raja Wura-Wuri dan dianggap sebagai musuh dan dimusuhi. Akan tetapi, bagaimana pun juga masih ada harapan, yaitu rasa kasih dalam hati gurunya terhadap dirinya. Mungkin gurunya akan mengajukan dua pilihan, yaitu mengabdi kepada Wura-Wuri dengan setia, atau ia dan ibunya akan dibunuh!
Apa pun yang akan terjadi, akan dihadapinya karena berbeda dengan di Wengker, di Wura-Wuri ia masih mempunyai harapan besar mengingat akan kasih sayang Nyi Dewi Durgakumala terhadap dirinya. Dengan cepat Puspa Dewi lalu melanjutkan perjalanannya tanpa ragu lagi menuju ke Wura-Wuri. Apa pun yang akan terjadi, akan dihadapinya. Yang penting, ibu kandungnya harus dapat diselamatkan!

<<< Bagian 25                                                                                          Bagian 27 >>>

No comments:

Post a Comment