"Jagad Dewa Bathara...! Sudah kuduga sejak dulu bahwa pemuda itu adalah seorang yang berbahaya sekali. Kiranya dia telah berhasil menjadi adipati di Wengker. Lalu bagaimana, Nyi Lasmi?"
"Hamba
dihadapkan Suramenggala yang hendak memaksa hamba untuk kembali menjadi
selirnya. Akan tetapi hamba menolak. Setelah beberapa hari hamba menolak dan
mogok makan, akhirnya hamba dikawal serombongan orang Wengker, hendak
diserahkan kepada Adipati Wura-Wuri agar dijadikan sandera untuk memaksa Puspa
Dewi menyerahkan diri kepada mereka."
"Hemm,
licik sekali. Anakmu itu memang telah berbalik membela Kahuripan dan menentang
Wura-Wuri di mana dia telah dijadikan Sekar Kedaton karena gurunya yang telah
menjadi ibu angkatnya, Nyi Dewi Durgakumala telah menjadi permaisuri di
Wura-Wuri. Kalau engkau menjadi tawanan di Wura-Wuri, bukan tidak mungkin Puspa
Dewi akan menyerahkan diri untuk menyelamatkanmu Teruskan ceritamu, Nyi
Lasmi."
"Ketika
hamba dibawa dengan paksa oleh gerombolan dari Wengker itu, muncul Ki Tejoranu
dan Kim Lan ini. Mereka menolong hamba dan membuat gerombolan Wengker melarikan
diri. Lalu kakak beradik ini hendak mengantarkan hamba kembali ke Karang Tirta,
akan tetapi setelah tiba di sini, muncul orang-orang Wengker dan orang-orang
Wura-Wuri mengeroyok mereka. Hamba ditangkap dan dilarikan Wirobento dan
Wirobandrek, senopati Wengker itu dan Paduka membebaskan hamba."
Kembali
Narotama mengangguk-angguk.
"Setelah
aku mendengar semua yang telah terjadi, mari kita semua pergi ke Karang Tirta.
Kalian juga, Ki Tejoranu dan Nona Kim Lan, karena aku ingin mendengar bagaimana
kalian kakak beradik dapat berkumpul."
Berjalanlah
empat orang itu meninggalkan tempat itu menuju ke Karang Tirta. Dalam
perjalanan itu, Ki Tejoranu dan Kim Lan secara bergantian menceritakan
pengalaman mereka sampai mereka dapat saling bertemu. Setelah mereka selesai
bercerita, Ki Patih Narotama berseru gembira.
"Ah, jadi
kalian juga baru saja saling berjumpa, yaitu ketika menolong Nyi Lasmi? Sungguh
menggembirakan, aku ikut merasa gembira melihat kalian kakak beradik dapat
berkumpul kembali."
Hening sejenak
dan mereka berjalan terus, tidak terlalu cepat karena di situ terdapat Nyi
Lasmi yang lemah. Beberapa kali Kim Lan mengerling ke kanan, ke arah Ki Patih
Narotama yang melangkah sambil menundukkan mukanya. Gadis ini merasa kagum
bukan main kepada Ki Patih Narotama, bukan hanya karena tadi ia melihat betapa
sakti mandraguna ki patih ini, akan tetapi juga melihat wajah dan sikapnya yang
demikian agung penuh wibawa, pandang matanya yang lembut penuh pengertian namun
mengandung ketajaman yang seolah dapat menjenguk ke dalam hatinya, dan
senyumnya yang membuat wajah Ki Patih itu tampak demikian jantan dan gagah.
Belum pernah selamanya ia bertemu dengan seorang pria seperti Ki Patih Narotama
ini dan seketika, pada pertemuan pertama tadi, hati gadis ini sudah
terkagum-kagum dan timbul perasaan mesra terhadap pria perkasa ini. Ki Patih
Narotama berjalan sambil menundukkan mukanya. Dia sendiri tadi beberapa kali
bertemu pandang dengan gadis ini dan diam-diam dia terkejut karena dia melihat
betapa pandang mata gadis asing ini mengandung kagum dan cinta! Setelah
ragu-ragu dan hatinya maju mundur beberapa lamanya, akhirnya Kim Lan
memberanikan diri membuka mulut dan berkata dengan suara agak gemetar.
"Gusti
Patih Narotama..."
Ki Patih
Narotama menoleh ke kiri dan mereka saling bertemu pandang. Sejenak pandang
mata bertaut, akan tetapi Kim Lan segera menundukkan mukanya yang menjadi
kemerahan. Wajah itu menjadi semakin manis ketika la menunduk malu-malu dengan
kedua pipinya menjadi kemerahan seperti buah tomat masak.
"Engkau
ingin bicara apakah, Nona Kim Lan?" Tanya Narotama dengan sikap sabar
ketika dia melihat gadis itu tersipu.
Kim Lan
menghela napas untuk menenangkan hatinya, lalu ia berkata lirih.
"Gusti
Patih, saya sudah mendengar banyak tentang paduka dari kakak saya. Paduka telah
mengobatinya dan menyelamatkan nyawanya ketika kakak saya terluka parah oleh
guru sendiri. Kemudian tadi, kalau tidak ada Paduka yang menolong, kami kakak
beradik tentu tewas dikeroyok banyak orang. Budi pertolongan Paduka yang
menyelamatkan nyawa kami itu, sampai mati pun tidak mungkin dapat saya lupakan,
maka saya... saya ingin menghaturkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada
Paduka, Gusti."
Walaupun
ucapan gadis itu agak cadel dan gaya bahasanya juga kacau, namun Ki Patih
Narotama dapat menangkap maksudnya. Dia pun melihat betapa sinar mata gadis itu
menunjukkan bahwa ucapan terima kasih itu bukan basa-basi belaka, melainkan
keluar dari hatinya.
Dia tersenyum.
"Ah,
Nona. Tidak perlu engkau berterima kasih kepadaku. Semua pertolongan datang
dari Sang Hyang Widi, hanya melalui alat yang di pilih-Nya. Yang menolong
kalian berdua adalah Sang Hyang Widi, kebetulan aku yang dipergunakan oleh-Nya
sebagai alat-Nya. Bukankah engkau dan Ki Tejoranu juga dipergunakan oleh-Nya
untuk menyelamatkan Nyi Lasmi? Mari kita bersama mengucap puji syukur kepada
Sang Hyang Widi Wasa."
Mendengar ini,
Kini Lan menjadi semakin kagum dan terharu sekali. Sungguh, belum pernah ia
bertemu dengan seorang pria sehebat ini, sakti mandraguna, lembut berwibawa,
dan bijaksana pula,
"Aduh,
Gusti Patih Narotama. Paduka adalah seorang yang mulia sekali.” katanya dan
suaranya bercampur isak tangis.
Ki Patih
Narotama melirik heran melihat gadis itu menangis perlahan, akan tetapi dia
diam saja. Ki Tejoranu yang berada di belakang, berjalan di samping Lasmi, juga
memandang ke arah adiknya dan diam-diam kakak ini dapat merasakan isi hati
adiknya. Adiknya kagum kepada Ki Patih Narotama! Dia tidak merasa heran karena
siapa yang tidak akan kagum kepada pria yang tampan dan gagah perkasa itu?
Apalagi wanita! Akan tetapi yang membuat dia mengerutkan alisnya adalah dugaannya
bahwa adiknya itu bukan sekedar kagum, melainkan jatuh cinta! Ki Tejoranu
mendengar Nyi Lasmi yang berjalan di sebelah kirinya menghela napas panjang.
Dia menoleh dan memandang. Wanita itu pun memandang kepadanya lalu tersenyum
dan Nyi Lasmi mengedipkan matanya sambil menudingkan telunjuknya kepada Kim
Lan, lalu kepada Ki Patih Narotama! Ki Tejoranu mengangguk. Nyi Lasmi
mengetahui pula akan isi hati Kim Lan. Maklum, wanita itu sudah berusia tiga
puluh tujuh tahun dan tentu lebih berpengalaman, apalagi ia seorang wanita,
tentu lebih halus perasaannya dan dapat merasakan hati wanita lain.
Ketika
memasuki sebuah dusun yang cukup besar, Ki Patih Narotama mengajak tiga orang
itu singgah di rumah ki lurah. Dia disambut dengan penuh hormat dan ketika Ki
Patih Narotama mengatakan bahwa dia membutuhkan tiga ekor kuda, lurah itu
segera menyediakannya. Karena Nyi Lasmi tidak biasa menunggang kuda, maka
Narotama hanya minta tiga ekor. Nyi Lasmi lalu berboncengan dengan Kim Lan.
Perjalanan mereka lalu dilanjutkan dengan menunggang kuda sehingga selain lebih
cepat juga tidak begitu melelahkan. Dusun ini sudah termasuk wilayah Kahuripan.
Dengan hati
panas karena amarah, Puspa Dewi berlari secepat terbang menuju ke Kadipaten
Wengker. Ia bukan seorang gadis yang bodoh, bukan gadis yang nekat dan hanya
mengandalkan kepandaiannya sendiri. Ia tahu benar betapa besar bahayanya
mendatangi Kadipaten Wengker di mana terdapat banyak sekali orang yang sakti
mandraguna. Baru Linggajaya yang kini menjadi Adipati Linggawijaya seorang saja
sudah merupakan lawan yang amat tangguh baginya, ia sudah mendengar pula bahwa
Dewi Mayangsari, isteri mendiang Adipati, Adhamapanuda yang kini menjadi
permaisuri Linggawijaya, juga memiliki kesaktian yang tinggi. Belum lagi di
sana terdapat Resi Bajrasakti guru Linggawijaya. Baru tiga orang ini saja kalau
maju bersama mengeroyoknya, kecil sekali harapannya untuk dapat menang. Apalagi
Kadipaten Wengker memiliki pasukan perajurit yang banyak jumlahnya. Pendeknya,
memasuki Kadipaten Wengker amat berbahaya bagi keselamatannya. Ia bukan Puspa
Dewi setahun yang lalu sebelum digembleng oleh Maha Resi Satyadharma. Kini ia
adalah seorang gadis yang waspada dan tidak menuruti nafsu hati saja. Ia memang
harus menolong ibunya, kalau perlu berkorban nyawa. Akan tetapi kalau ia nekat
begitu saja menyerbu kadipaten, sebelum bertemu ibunya ia akan dikeroyok dan
kalau ia tewas, berarti ibunya tidak akan tertolong! Kalau terjadi demikian,
pengorbanannya tidak ada artinya sama sekali. Ia tidak mau mengambil resiko itu.
Ia harus dapat menjaga diri agar ia dapat menolong ibunya. Maka, Puspa Dewi
melakukan penyelidikan di luar kota raja Kadipaten Wengker. Di malam hari,
dalam gelap, ia menangkap seorang prajurit Wengker, menyeretnya di belakang
semak-semak yang gelap lalu memaksanya mengaku di mana adanya Nyi Lasmi. Karena
ketakutan, perajurit itu mengaku bahwa Nyi Lasmi ditahan di rumah Tumengung
Suramenggala. Akan tetapi penjagaannya rapat sekali karena Tumenggung
Suramenggala takut kalau kalau puteri Nyi Lasmi yang bernama Puspa Dewi akan
datang menolong ibunya. Bahkan di situ telah dipasang jebakan-jebakan untuk
menjebak Puspa Dewi, demikian prajurit itu membuat pengakuan, sama sekali tidak
mengira bahwa yang menangkapnya itu adalah Puspa Dewi sendiri!
Tentu saja
Puspa Dewi berlaku hati-hati. Hatinya masih tenang mendengar ibunya dalam
keadaan selamat dan ditahan di rumah Tumenggung Suramenggala yang menurut
keterangan prajurit itu akan menjadi selir Suramenggala lagi. Setelah mengorek
keterangan dari prajurit jaga itu. Puspa Dewi melepaskannya dan tidak
mengganggunya karena dia hanya seorang prajurit jaga yang tidak tahu menahu
tentang penculikan atas diri Ibunya. Setiap malam ia menangkap seorang
perajurit jaga. Pada malam ke tiga, ketika ada penjaga sedang meronda, Puspa
Dewi berkelebat dekat dan sekali tampar prajurit jaga itu terpelanting pingsan.
Puspa Dewi menyeretnya ke tempat gelap dan setelah orang itu siuman ia
menghardik dengan suara yang dibuat besar seperti suara laki-laki.
"Kalau
engkau ingin hidup, hayo katakan dengan sebenarnya di mana adanya Nyi Lasmi
yang ditawan oleh Tumenggung Suramenggala!"
Prajurit
penjaga yang merasa tubuhnya menjadi setengah lumpuh dan kini lehernya merasa
ditempeli pedang yang tajam, tentu saja menjadi ketakutan.
"Ampunkan
saya..." katanya dengan tubuh menggigil dan suara gemetar.
"Nyi
Lasmi... tadi siang dibawa pergi... tidak berada di sini lagi..."
"Apa?
Jangan bohong kau!" Kini Puspa Dewi tidak meniru suara pria karena
terkejut, Suaranya terdengar seperti biasa, suara wanita. Pedangnya menempel
semakin ketat dan orang itu menjadi semakin ketakutan.
"Ampun...
saya tidak berbohong. Saya melihat sendiri... Nyi Lasmi dibawa pergi, dikawal
Senopati Wirobento dan Wirobandrek yang memimpin selosin prajurit..."
"Hayo
katakan ke mana ia dibawa!"
"Saya...
saya hanya mendengar bahwa ia akan diserahkan kepada... Kadipaten
Wura-Wuri..."
"Ke
Wura-Wuri...??" Puspa Dewi menggunakan tangan kiri untuk mencengkeram
lengan orang itu sehingga dia berteriak kesakitan. "Katakan yang benar,
Jangan bohong! Mengapa ia dibawa ke Wura-Wuri!"
"Saya...
saya tidak tahu... saya hanya mengetahui dari teman-teman. Ketika siang tadi
saya melihat Nyi Lasmi dikawal empat belas orang itu keluar dari kadipaten,
saya bertanya dan teman-teman yang bilang bahwa ia akan diserahkan kepada
Kadipaten Wura-Wuri..."
Puspa Dewi
menampar dengan tangan kirinya ke arah leher orang itu yang seketika pingsan.
Ia segera meninggalkan tempat itu dan langsung saja ia meninggalkan daerah
Wengker dan menuju ke arah Kadipaten Wura-Wuri. Ia kini dapat menduga mengapa
ibunya akan diserahkan kepada Kadipaten Wura-Wuri. Ia dapat membayangkan apa
yang akan dilakukan gurunya yang juga ibu angkatnya, Nyi Dewi Durgakumala yang
kini menjadi permaisuri Wura-Wuri.
Gurunya itu
tentu akan mempergunakan ibu kandungnya sebagai sandera untuk memaksa ia datang
menghadap! Ia tidak tahu apa yang akan dilakukan Nyi Dewi Durgakumala terhadap
dirinya kalau ia terpaksa datang menghadap. Gurunya yang telah menganggap ia
sebagai anak sendiri itu amat menyayangnya. Hal ini ia ketahui benar. Akan
tetapi ia telah mengkhianati Wura-Wuri dan tentu saja hal ini membuat gurunya
itu marah sekali dan ia tidak akan merasa heran kalau gurunya itu membencinya
karena pengkhianatannya ini. la tidak dapat membayangkan mana yang lebih kuat
antara rasa sayang dan rasa benci yang terkandung dalam hati Nyi Dewi
Durgakumala terhadap dirinya. Seperti juga kalau ia memasuki Wengker, memasuki
Wura-Wuri juga berarti memasuki sarang harimau. Seorang diri saja, tidak
mungkin ia dapat melindungi dirinya sendiri, terutama diri ibunya kalau ia
berada di kota raja Wura-Wuri dan dianggap sebagai musuh dan dimusuhi. Akan
tetapi, bagaimana pun juga masih ada harapan, yaitu rasa kasih dalam hati
gurunya terhadap dirinya. Mungkin gurunya akan mengajukan dua pilihan, yaitu
mengabdi kepada Wura-Wuri dengan setia, atau ia dan ibunya akan dibunuh!
Apa pun yang
akan terjadi, akan dihadapinya karena berbeda dengan di Wengker, di Wura-Wuri
ia masih mempunyai harapan besar mengingat akan kasih sayang Nyi Dewi Durgakumala
terhadap dirinya. Dengan cepat Puspa Dewi lalu melanjutkan perjalanannya tanpa
ragu lagi menuju ke Wura-Wuri. Apa pun yang akan terjadi, akan dihadapinya.
Yang penting, ibu kandungnya harus dapat diselamatkan!
No comments:
Post a Comment