"Aku harus menyelamatkannya!"
Ucapan ini
berulang kali dibisikkan mulut yang manis itu dan kedua kakinya yang mungil
melangkah dengan cepat. Gadis itu bertubuh ramping, tingginya sedang, rambutnya
panjang terurai sampai di pungggung, rambut yang hitam berombak. Rambut yang
hitam itu membuat kulit lehernya tampak lebih putih mulus. Wajahnya bulat
telur, matanya lebar bersinar terang penuh semangat, hidungnya mancung,
ujungnya agak menjungat memberi kesan lucu, mulutnya berbentuk indah dan
bibirnya menggairahkan. Pakaiannya dari sutera halus dan di punggungnya
tergantung sebatang pedang dengan gagang dan sarung terukir indah.
"Aku
harus menyelamatkan Ibu Lasmi untuk menebus kesalahan ayah sehingga selama
belasan tahun Ibu Lasmi hidup menderita! Aku yang akan membawanya pulang!"
Demikian,
Niken Harni, gadis itu, berkata kepada dirinya sendiri. Niken Harni adalah
seorang gadis yang pemberani. Ketika muncul Puspa Dewi sebagai kakak tirinya
dan mendengar cerita tentang Nyi Lasmi, isteri ayahnya yang pertama, diam-diam
ia sudah merasa penasaran kepada ayahnya dan merasa iba kepada Nyi Lasmi. Maka,
ketika rombongan keluarga mereka tiba di Karang Tirta dan mendengar musibah
yang menimpa Ki Lurah Pujosaputro sekeluarga, dan hilangnya Nyi Lasmi diculik
orang-orang Kadipaten Wengker, ia marah sekali. Ketika mendengar bahwa Puspa
Dewi sudah pergi melakukan pengejaran ke Wengker, ia pun diam-diam pergi tanpa
pamit untuk menyusul Puspa Dewi dan berusaha untuk membebaskan Nyi Lasmi. Ia
sengaja tidak pamit karena kalau ia pamit, tentu ayah dan kakeknya akan
melarangnya! Bagaikan seekor anak harimau yang baru pertama kali keluar dari
sarang orang tuanya, Niken Harni sama sekali belum berpengalaman dan ia hanya
mengandalkan keberaniannya saja, juga ia merasa bahwa ia telah memiliki aji
kanuragan yang cukup tangguh. Ayahnya sendiri yang menggemblengnya sejak kecil
mengatakan bahwa ia berbakat besar dan saat itu semua ilmu ayahnya telah ia
kuasai sehingga menurut ayahnya, tingkat ketangguhannya tidak berada di bawah
ayahnya sendiri! Ia memiliki kepercayaan yang besar sekali akan kemampuannya
sendiri, maka ketika akhirnya pada suatu siang ia tiba di kota raja Wengker, dengan
berani ia memasuki pintu gerbang kadipaten yang dijaga belasan orang perajurit
Wengker seperti memasuki rumah sendiri!
Ia sama sekali
tidak mengira bahwa mbakayunya, Puspa Dewi, kemarin malam telah meninggalkan
Wengker, tidak tahu bahwa para pimpinan Wengker, yaitu Adipati Linggawijaya,
Dewi Mayangsari, Resi Bajrasakti, dan Tumenggung Suramenggala baru saja pagi
tadi mendapat berita yang membuat mereka terkejut dan marah sekali. Wirobento
dan Wirobandrek pulang dan memberi laporan bahwa usaha mereka mengantar Nyi
Lasmi ke Wura-Wuri telah gagal karena muncul Ki Patih Narotama yang melindungi
wanita itu!
"Hei,
berhenti!" tiba-tiba Niken Harni mendengar bentakan dan tahu-tahu ada dua
belas laki-laki berpakaian seragam telah menghadang di depannya, dipimpin oleh
seorang laki-laki berusia empat puluh tahun yang mukanya hitam sekali, kumisnya
sekepal sebelah dan matanya melotot lebar. Tubuhnya tinggi besar dan kokoh.
Juga anak buah mereka yang terdiri dari laki-laki berusia antara tiga puluh
sampai empat puluh tahun itu rata-rata bertubuh besar dan kokoh, akan tetapi
wajah mereka tidak ada yang tampan! Memang sudah terkenal bahwa orang-orang
Kadipaten Wengker bertubuh jelek dan sikapnya kasar. Agaknya kegagahan,
kekasaran, dan kekuatan, bukan ketampanan yang menjadi kebanggaan mereka. Kalau
wanitanya biasa-biasa saja, ada yang cantik dan ada juga yang buruk. Kalau
gadis biasa, menghadapi dua belas orang laki-laki yang menyeringai
memperlihatkan gigi yang besar-besar dan pandang mata beringas itu, tentu sudah
menjadi takut dan lemas, seperti seekor anak domba dikepung srigala. Akan
tetapi Niken Harni bukan anak domba, melainkan anak harimau! Harimau muda yang
belum mengenal takut! Melihat mereka menyeringai menjijikkan dan menghadangnya,
ia berdiri tegak, kedua kakinya agak ter-pentang, kedua tangannya bertolak
pinggang, kepala dikedikkan, matanya mencorong, hidungnya kembang kempis, semua
ini pertanda bahwa Niken Harni sedang jengkel atau marah.
"Huh,
kalian ini segerombolon anjing srigala mau apa menggonggong dan menghadang
perjalananku?"
Dua belas
orang penjaga itu bukan marah, melainkan terkejut dan heran sekali melihat
gadis yang asing, gadis muda belia yang cantik jelita ini, berani bersikap dan
bicara seperti itu terhadap mereka! Pimpinan mereka yang berkumis tebal itu
tertawa bergelak menoleh kepada anak buahnya yang berada di belakangnya.
"Hua-ha-ha-ha-ha!
Kawan-kawan, kalian lihat dan dengar ini? Lucu sekali!"
Dua belas
orang itu tertawa semua. Kalau bukan gadis muda cantik jelita yang memaki
mereka segerombolan srigala, tentu mereka sudah marah sekali dan mungkin mereka
akan langsung membunuhnya.
"Eh,
bocah denok montrok-montrok, ayu kuning manis merak ati! Kalau kami
segerombolan srigala, memang kami sedang kelaparan dan kebetulan sekali engkau,
seekor domba betina muda berdaging lunak dan berdarah hangat. Hemhmm...!"
Si Kumis Tebal
itu menjilat-jilat bibirnya dan Niken Harni melihat betapa dua belas orang
laki-laki kasar itu semua menjilati bibir mereka sendiri, seolah mereka itu
memang segerombolan srigala yang mengilar untuk merobek-robek tubuh domba,
megunyah dagingnya dan menjilati darahnya! Mengkirig (meremang) juga ia, akan
tetapi ia makin marah.
"Kalian
jahanam bosan hidup! Hayo kembalikan Ibu Lasmi kepadaku!"
Dan tiba-tiba
gadis itu sudah menerjang dan mengamuk. Bagaikan lesus (angin puting beliung)
tubuhnya berputaran, kedua pasang kaki tangannya menyambar-nyambar dan dua
belas orang itu berteriak dan berpelantingan!
Mereka itu
hanyalah perajurit-perajurit biasa dari Wengker yang hanya mengandalkan penampilan
angker dan tenaga kasar belaka, maka menghadapi terjangan Niken Harni yang
memainkan ilmu silat yang cukup tangguh, tentu saja mereka kocar-kacir. Apalagi
mereka sudah terkejut dan nyali mereka terbang mendengar gadis itu menuntut
dikembalikannya ibunya, yaitu Nyi Lasmi. Tak salah lagi, ini tentu gadis yang
kemunculannya ditakuti Tumenggung Suramenggala, yang kabarnya sakti mandraguna,
puteri Nyi Lasmi.
"Puspa
Dewi...!"
Dua belas
orang yang semua telah merasakan tamparan atau tendangan gadis itu yang membuat
mereka terpelanting berseru ketakutan lalu melarikan diri untuk melapor kepada
Tumenggung Suramenggala!
"Huh,
tikus-tikus pengecut!" Niken Harni mengejek sambil tersenyum dan
membusungkan dadanya yang sudah menonjol itu dengan bangga karena di situ
terdapat banyak juga orang yang menyaksikan sepak terjangnya itu. Ia lalu
memasuki kota raja Wengker dengan niat mencari rumah Tumenggung Suramenggala
karena ia mendengar di Karang Tirta bahwa biang keladi penculikan itu adalah
Tumenggung Suramenggala. Mendengar laporan para prajurit jaga bahwa Puspa Dewi
memasuki Kadipaten Wengker, tentu saja Tumenggung Suramenggala menjadi terkejut
dan ketakutan. Ia tahu betapa saktinya puteri Nyi Lasmi itu, maka cepat dia
berlari ke istana Adipati Linggawijaya dan dengan muka pucat dan napas
terengah-engah melapor kepada puteranya tentang munculnya Puspa Dewi yang
ditakuti.
"Aha, ia
berani datang? Bagus, kebetulan sekali, Kanjeng Rama, aku tinggal menangkapnya
saja!" kata Adipati Linggawijaya yang sekarang memanggil ayahnya dengan
sebutan "kanjeng rama" seperti lajimnya keluarga
"bangsawan". Harta dan pangkat biasanya memang mempengaruhi sikap
orang sehingga ucapan dan gerak- geriknya berubah sama sekali, disesuaikan
dengan harta atau pangkatnya.
"Puspa
Dewi berani datang ke sini? Hemm, seperti ia sendiri saja wanita sakti di dunia
ini! Kakangmas Adipati, biarlah aku yang akan membunuh gadis sombong itu!"
kata Dewi Mayangsari kepada suaminya.
Linggawijaya
tersenyum maklum. Ia maklum akan kesaktian isterinya. Akan tetapi dia tidak
yakin isterinya akan mampu mengalahkan Puspa Dewi. Pula, dia tidak ingin Puspa
Dewi dibunuh. Teringat akan kejelitaan Puspa Dewi, timbul berahinya.
"Tidak,
Diajeng. Tidak pantas kalau untuk menangkap seorang gadis pengacau saja engkau
yang harus turun tangan sendiri, seolah-olah di Wengker sudah tidak ada yang
mampu melawan Puspa Dewi! Biarlah, aku akan memimpin seregu prajurit pengawal
istana untuk menangkapnya."
"Bunuh
saja dia!" Dewi Mayangsari berseru karena diam-diam ia membenci Puspa Dewi
yang kabarnya cantik dan sakti, apalagi gadis itu telah menjadi satu di antara
sebab utama gagalnya persekutuan yang menentang Kahuripan setahun yang lalu.
"Sabarlah,
Diajeng. Aku sendiri juga membencinya dan aku sendiri yang akan membunuhnya
kalau saatnya tiba. Akan tetapi kita tidak boleh melupakan kenyataan bahwa ia
adalah Sekar Kedaton Kadipaten Wura-Wuri karena Nyi Dewi Durgakumala,
permaisuri kerajaan itu adalah gurunya yang amat menyayangnya sehingga ia
diangkat menjadi puterinya. Akan tetapi lebih menguntungkan kalau kita
menangkapnya dan menyerahkannya kepada Wura-Wuri."
Dewi
Mayangsari menghela napas panjang. Bagaimanapun juga, ia mengerti bahwa ucapan
suaminya itu memang benar. Kebencian pribadi memang kalau perlu harus
dikesampingkan demi kepentingan kadipaten yang harus menggalang persatuan
dengan para kadipaten lain agar kedudukan mereka kuat untuk melawan Kahuripan.
"Sesukamulah,
Kakangmas." katanya.
Adipati
Linggawijaya lalu membawa seregu pasukan pengawal sebanyak dua belas orang.
Tumenggung Suramenggala yang ingin melihat sendiri gadis yang ditakutinya itu
tertangkap ikut pula menyertainya. Tidak ketinggalan Wirobento dan Wirobanrek
yang baru datang melaporkan bahwa Nyi Lasmi dirampas dan dilindungi Ki Patih
Narotama. Empat belas orang ini bergegas pergi mencari gadis yang baru saja
memasuki kota dan merobohkan dua belas orang penjaga di gapura itu. Pada waktu
itu, Resi Bajrasakti tidak berada di kadipaten, maka dia tidak tahu akan urusan
itu. Linggawijaya sengaja tidak memberitahu kepada guru dan penasehatnya itu,
karena dia khawatir kalau-kalau kakek itu akan memperkuat pendapat istrinya,
yaitu bahwa Puspa Dewi sebaiknya dibunuh saja.
Sementara itu,
Niken Harni yang bertanya kepada orang-orang yang dijumpainya di jalan,
mendapat keterangan dimana rumah Tumenggung Suramenggala. Cepat ia menuju ke
rumah itu. Melihat tempat tinggal orang yang dicarinya itu merupakan gedung
besar dan di gapura pekarangan yang luas depan gedung itu terdapat empat orang
perajurit yang berjaga, ia langsung saja melangkah masuk!
"He,
siapakah Andika? Tidak boleh sembarangan masuk ke sini tanpa ijin!" bentak
kepala jaga yang tubuhnya tinggi kurus. Empat orang penjaga itu sudah berdiri
menghadang di depan Niken Harni dengan sikap galak. Niken Harni yang dihadang
mengerutkan alisnya, berdiri tegak bertolak pinggang dengan kedua tangan lalu
bertanya.
"Ijin
siapa?"
"Ijin
dari kami tentu saja!" bentak Si Tinggi Kurus.
"Hemm,
memangnya kamu yang mempunyai rumah ini?"
Kepala jaga
itu tertegun juga dan sejenak dia bingung tak dapat menjawab. Seorang temannya
yang menolongnya, menjawab.
"Rumah
ini milik Gusti Tumenggung Suramenggala. Andika siapakah dan apakah Andika
ingin menghadap Gusti Tumenggung?"
Penjaga ini
khawatir kalau-kalau gadis yang membawa pedang di punggungnya ini mempunyai
hubungan dengan Tumenggung Suramenggala sehingga kalau mereka bersikap kurang
hormat, mungkin saja akan di marahi majikan mereka. Mendengar ucapan ini,
kemarahan Niken Harni mereda.
"Bagus,
kalau begitu cepat engkau melapor kepada Tumenggung Suramenggala, suruh dia
keluar sekarang juga untuk menemui aku. Aku ingin bicara dengan dia!"
Mendengar
ucapan yang amat meremehkan Sang Tumenggung itu, kepala jaga yang tinggi kurus
menjadi penasaran sekali.
"Eh,
Andika ini siapakah, berani memandang rendah Gusti Tumenggung dan menyuruh
beliau keluar?"
Niken Harni
yang sejak tadi memang sudah jengkel dan tidak senang terhadap kepala jaga
tinggi kurus itu, membentak,
"Kamu
tidak pantas mengenal namaku!"
Si Tinggi
Kurus marah, akan tetapi Niken Harni menggerakkan tangan kirinya sambil
menghardik,
"Pergilah,tikus
busuk!"
"Plakk...!"
Si Tinggi Kurus mengaduh dan terpelanting roboh, lalu bangkit duduk
terengah-engah sambil meraba pipinya yang membengkak.
"Hayo,
mau tidak kalian menyuruh Suramenggala keluar? Atau minta kutampari
semua?"
Seorang
penjaga berkata,
"Akan
tetapi...beliau tadi keluar..."
"Hemm,
kamu tidak bohong?"
"Tidak
sungguh mati, saya bersumpah, beliau tidak berada di rumah... "
"Kalau
begitu, beritahu di mana adanya Nyi Lasmi!" Niken Harni membentak.
"Nyi
Lasmi...?" Orang itu terbelalak. "Saya... saya tidak tahu... "
"Bohong...!"
"Kami
tidak tahu.....Nyi Lasmi tidak berada di sini... "
No comments:
Post a Comment