Nurseta Satria Karangtirta ; Bagian 27


"Aku harus menyelamatkannya!"
Ucapan ini berulang kali dibisikkan mulut yang manis itu dan kedua kakinya yang mungil melangkah dengan cepat. Gadis itu bertubuh ramping, tingginya sedang, rambutnya panjang terurai sampai di pungggung, rambut yang hitam berombak. Rambut yang hitam itu membuat kulit lehernya tampak lebih putih mulus. Wajahnya bulat telur, matanya lebar bersinar terang penuh semangat, hidungnya mancung, ujungnya agak menjungat memberi kesan lucu, mulutnya berbentuk indah dan bibirnya menggairahkan. Pakaiannya dari sutera halus dan di punggungnya tergantung sebatang pedang dengan gagang dan sarung terukir indah.
"Aku harus menyelamatkan Ibu Lasmi untuk menebus kesalahan ayah sehingga selama belasan tahun Ibu Lasmi hidup menderita! Aku yang akan membawanya pulang!"
Demikian, Niken Harni, gadis itu, berkata kepada dirinya sendiri. Niken Harni adalah seorang gadis yang pemberani. Ketika muncul Puspa Dewi sebagai kakak tirinya dan mendengar cerita tentang Nyi Lasmi, isteri ayahnya yang pertama, diam-diam ia sudah merasa penasaran kepada ayahnya dan merasa iba kepada Nyi Lasmi. Maka, ketika rombongan keluarga mereka tiba di Karang Tirta dan mendengar musibah yang menimpa Ki Lurah Pujosaputro sekeluarga, dan hilangnya Nyi Lasmi diculik orang-orang Kadipaten Wengker, ia marah sekali. Ketika mendengar bahwa Puspa Dewi sudah pergi melakukan pengejaran ke Wengker, ia pun diam-diam pergi tanpa pamit untuk menyusul Puspa Dewi dan berusaha untuk membebaskan Nyi Lasmi. Ia sengaja tidak pamit karena kalau ia pamit, tentu ayah dan kakeknya akan melarangnya! Bagaikan seekor anak harimau yang baru pertama kali keluar dari sarang orang tuanya, Niken Harni sama sekali belum berpengalaman dan ia hanya mengandalkan keberaniannya saja, juga ia merasa bahwa ia telah memiliki aji kanuragan yang cukup tangguh. Ayahnya sendiri yang menggemblengnya sejak kecil mengatakan bahwa ia berbakat besar dan saat itu semua ilmu ayahnya telah ia kuasai sehingga menurut ayahnya, tingkat ketangguhannya tidak berada di bawah ayahnya sendiri! Ia memiliki kepercayaan yang besar sekali akan kemampuannya sendiri, maka ketika akhirnya pada suatu siang ia tiba di kota raja Wengker, dengan berani ia memasuki pintu gerbang kadipaten yang dijaga belasan orang perajurit Wengker seperti memasuki rumah sendiri!
Ia sama sekali tidak mengira bahwa mbakayunya, Puspa Dewi, kemarin malam telah meninggalkan Wengker, tidak tahu bahwa para pimpinan Wengker, yaitu Adipati Linggawijaya, Dewi Mayangsari, Resi Bajrasakti, dan Tumenggung Suramenggala baru saja pagi tadi mendapat berita yang membuat mereka terkejut dan marah sekali. Wirobento dan Wirobandrek pulang dan memberi laporan bahwa usaha mereka mengantar Nyi Lasmi ke Wura-Wuri telah gagal karena muncul Ki Patih Narotama yang melindungi wanita itu!
"Hei, berhenti!" tiba-tiba Niken Harni mendengar bentakan dan tahu-tahu ada dua belas laki-laki berpakaian seragam telah menghadang di depannya, dipimpin oleh seorang laki-laki berusia empat puluh tahun yang mukanya hitam sekali, kumisnya sekepal sebelah dan matanya melotot lebar. Tubuhnya tinggi besar dan kokoh. Juga anak buah mereka yang terdiri dari laki-laki berusia antara tiga puluh sampai empat puluh tahun itu rata-rata bertubuh besar dan kokoh, akan tetapi wajah mereka tidak ada yang tampan! Memang sudah terkenal bahwa orang-orang Kadipaten Wengker bertubuh jelek dan sikapnya kasar. Agaknya kegagahan, kekasaran, dan kekuatan, bukan ketampanan yang menjadi kebanggaan mereka. Kalau wanitanya biasa-biasa saja, ada yang cantik dan ada juga yang buruk. Kalau gadis biasa, menghadapi dua belas orang laki-laki yang menyeringai memperlihatkan gigi yang besar-besar dan pandang mata beringas itu, tentu sudah menjadi takut dan lemas, seperti seekor anak domba dikepung srigala. Akan tetapi Niken Harni bukan anak domba, melainkan anak harimau! Harimau muda yang belum mengenal takut! Melihat mereka menyeringai menjijikkan dan menghadangnya, ia berdiri tegak, kedua kakinya agak ter-pentang, kedua tangannya bertolak pinggang, kepala dikedikkan, matanya mencorong, hidungnya kembang kempis, semua ini pertanda bahwa Niken Harni sedang jengkel atau marah.
"Huh, kalian ini segerombolon anjing srigala mau apa menggonggong dan menghadang perjalananku?"
Dua belas orang penjaga itu bukan marah, melainkan terkejut dan heran sekali melihat gadis yang asing, gadis muda belia yang cantik jelita ini, berani bersikap dan bicara seperti itu terhadap mereka! Pimpinan mereka yang berkumis tebal itu tertawa bergelak menoleh kepada anak buahnya yang berada di belakangnya.
"Hua-ha-ha-ha-ha! Kawan-kawan, kalian lihat dan dengar ini? Lucu sekali!"
Dua belas orang itu tertawa semua. Kalau bukan gadis muda cantik jelita yang memaki mereka segerombolan srigala, tentu mereka sudah marah sekali dan mungkin mereka akan langsung membunuhnya.
"Eh, bocah denok montrok-montrok, ayu kuning manis merak ati! Kalau kami segerombolan srigala, memang kami sedang kelaparan dan kebetulan sekali engkau, seekor domba betina muda berdaging lunak dan berdarah hangat. Hemhmm...!"
Si Kumis Tebal itu menjilat-jilat bibirnya dan Niken Harni melihat betapa dua belas orang laki-laki kasar itu semua menjilati bibir mereka sendiri, seolah mereka itu memang segerombolan srigala yang mengilar untuk merobek-robek tubuh domba, megunyah dagingnya dan menjilati darahnya! Mengkirig (meremang) juga ia, akan tetapi ia makin marah.
"Kalian jahanam bosan hidup! Hayo kembalikan Ibu Lasmi kepadaku!"
Dan tiba-tiba gadis itu sudah menerjang dan mengamuk. Bagaikan lesus (angin puting beliung) tubuhnya berputaran, kedua pasang kaki tangannya menyambar-nyambar dan dua belas orang itu berteriak dan berpelantingan!

Mereka itu hanyalah perajurit-perajurit biasa dari Wengker yang hanya mengandalkan penampilan angker dan tenaga kasar belaka, maka menghadapi terjangan Niken Harni yang memainkan ilmu silat yang cukup tangguh, tentu saja mereka kocar-kacir. Apalagi mereka sudah terkejut dan nyali mereka terbang mendengar gadis itu menuntut dikembalikannya ibunya, yaitu Nyi Lasmi. Tak salah lagi, ini tentu gadis yang kemunculannya ditakuti Tumenggung Suramenggala, yang kabarnya sakti mandraguna, puteri Nyi Lasmi.
"Puspa Dewi...!"
Dua belas orang yang semua telah merasakan tamparan atau tendangan gadis itu yang membuat mereka terpelanting berseru ketakutan lalu melarikan diri untuk melapor kepada Tumenggung Suramenggala!
"Huh, tikus-tikus pengecut!" Niken Harni mengejek sambil tersenyum dan membusungkan dadanya yang sudah menonjol itu dengan bangga karena di situ terdapat banyak juga orang yang menyaksikan sepak terjangnya itu. Ia lalu memasuki kota raja Wengker dengan niat mencari rumah Tumenggung Suramenggala karena ia mendengar di Karang Tirta bahwa biang keladi penculikan itu adalah Tumenggung Suramenggala. Mendengar laporan para prajurit jaga bahwa Puspa Dewi memasuki Kadipaten Wengker, tentu saja Tumenggung Suramenggala menjadi terkejut dan ketakutan. Ia tahu betapa saktinya puteri Nyi Lasmi itu, maka cepat dia berlari ke istana Adipati Linggawijaya dan dengan muka pucat dan napas terengah-engah melapor kepada puteranya tentang munculnya Puspa Dewi yang ditakuti.
"Aha, ia berani datang? Bagus, kebetulan sekali, Kanjeng Rama, aku tinggal menangkapnya saja!" kata Adipati Linggawijaya yang sekarang memanggil ayahnya dengan sebutan "kanjeng rama" seperti lajimnya keluarga "bangsawan". Harta dan pangkat biasanya memang mempengaruhi sikap orang sehingga ucapan dan gerak- geriknya berubah sama sekali, disesuaikan dengan harta atau pangkatnya.
"Puspa Dewi berani datang ke sini? Hemm, seperti ia sendiri saja wanita sakti di dunia ini! Kakangmas Adipati, biarlah aku yang akan membunuh gadis sombong itu!" kata Dewi Mayangsari kepada suaminya.
Linggawijaya tersenyum maklum. Ia maklum akan kesaktian isterinya. Akan tetapi dia tidak yakin isterinya akan mampu mengalahkan Puspa Dewi. Pula, dia tidak ingin Puspa Dewi dibunuh. Teringat akan kejelitaan Puspa Dewi, timbul berahinya.
"Tidak, Diajeng. Tidak pantas kalau untuk menangkap seorang gadis pengacau saja engkau yang harus turun tangan sendiri, seolah-olah di Wengker sudah tidak ada yang mampu melawan Puspa Dewi! Biarlah, aku akan memimpin seregu prajurit pengawal istana untuk menangkapnya."
"Bunuh saja dia!" Dewi Mayangsari berseru karena diam-diam ia membenci Puspa Dewi yang kabarnya cantik dan sakti, apalagi gadis itu telah menjadi satu di antara sebab utama gagalnya persekutuan yang menentang Kahuripan setahun yang lalu.
"Sabarlah, Diajeng. Aku sendiri juga membencinya dan aku sendiri yang akan membunuhnya kalau saatnya tiba. Akan tetapi kita tidak boleh melupakan kenyataan bahwa ia adalah Sekar Kedaton Kadipaten Wura-Wuri karena Nyi Dewi Durgakumala, permaisuri kerajaan itu adalah gurunya yang amat menyayangnya sehingga ia diangkat menjadi puterinya. Akan tetapi lebih menguntungkan kalau kita menangkapnya dan menyerahkannya kepada Wura-Wuri."
Dewi Mayangsari menghela napas panjang. Bagaimanapun juga, ia mengerti bahwa ucapan suaminya itu memang benar. Kebencian pribadi memang kalau perlu harus dikesampingkan demi kepentingan kadipaten yang harus menggalang persatuan dengan para kadipaten lain agar kedudukan mereka kuat untuk melawan Kahuripan.
"Sesukamulah, Kakangmas." katanya.
Adipati Linggawijaya lalu membawa seregu pasukan pengawal sebanyak dua belas orang. Tumenggung Suramenggala yang ingin melihat sendiri gadis yang ditakutinya itu tertangkap ikut pula menyertainya. Tidak ketinggalan Wirobento dan Wirobanrek yang baru datang melaporkan bahwa Nyi Lasmi dirampas dan dilindungi Ki Patih Narotama. Empat belas orang ini bergegas pergi mencari gadis yang baru saja memasuki kota dan merobohkan dua belas orang penjaga di gapura itu. Pada waktu itu, Resi Bajrasakti tidak berada di kadipaten, maka dia tidak tahu akan urusan itu. Linggawijaya sengaja tidak memberitahu kepada guru dan penasehatnya itu, karena dia khawatir kalau-kalau kakek itu akan memperkuat pendapat istrinya, yaitu bahwa Puspa Dewi sebaiknya dibunuh saja.

Sementara itu, Niken Harni yang bertanya kepada orang-orang yang dijumpainya di jalan, mendapat keterangan dimana rumah Tumenggung Suramenggala. Cepat ia menuju ke rumah itu. Melihat tempat tinggal orang yang dicarinya itu merupakan gedung besar dan di gapura pekarangan yang luas depan gedung itu terdapat empat orang perajurit yang berjaga, ia langsung saja melangkah masuk!
"He, siapakah Andika? Tidak boleh sembarangan masuk ke sini tanpa ijin!" bentak kepala jaga yang tubuhnya tinggi kurus. Empat orang penjaga itu sudah berdiri menghadang di depan Niken Harni dengan sikap galak. Niken Harni yang dihadang mengerutkan alisnya, berdiri tegak bertolak pinggang dengan kedua tangan lalu bertanya.
"Ijin siapa?"
"Ijin dari kami tentu saja!" bentak Si Tinggi Kurus.
"Hemm, memangnya kamu yang mempunyai rumah ini?"
Kepala jaga itu tertegun juga dan sejenak dia bingung tak dapat menjawab. Seorang temannya yang menolongnya, menjawab.
"Rumah ini milik Gusti Tumenggung Suramenggala. Andika siapakah dan apakah Andika ingin menghadap Gusti Tumenggung?"
Penjaga ini khawatir kalau-kalau gadis yang membawa pedang di punggungnya ini mempunyai hubungan dengan Tumenggung Suramenggala sehingga kalau mereka bersikap kurang hormat, mungkin saja akan di marahi majikan mereka. Mendengar ucapan ini, kemarahan Niken Harni mereda.
"Bagus, kalau begitu cepat engkau melapor kepada Tumenggung Suramenggala, suruh dia keluar sekarang juga untuk menemui aku. Aku ingin bicara dengan dia!"
Mendengar ucapan yang amat meremehkan Sang Tumenggung itu, kepala jaga yang tinggi kurus menjadi penasaran sekali.
"Eh, Andika ini siapakah, berani memandang rendah Gusti Tumenggung dan menyuruh beliau keluar?"
Niken Harni yang sejak tadi memang sudah jengkel dan tidak senang terhadap kepala jaga tinggi kurus itu, membentak,
"Kamu tidak pantas mengenal namaku!"
Si Tinggi Kurus marah, akan tetapi Niken Harni menggerakkan tangan kirinya sambil menghardik,
"Pergilah,tikus busuk!"
"Plakk...!" Si Tinggi Kurus mengaduh dan terpelanting roboh, lalu bangkit duduk terengah-engah sambil meraba pipinya yang membengkak.
"Hayo, mau tidak kalian menyuruh Suramenggala keluar? Atau minta kutampari semua?"
Seorang penjaga berkata,
"Akan tetapi...beliau tadi keluar..."
"Hemm, kamu tidak bohong?"
"Tidak sungguh mati, saya bersumpah, beliau tidak berada di rumah... "
"Kalau begitu, beritahu di mana adanya Nyi Lasmi!" Niken Harni membentak.
"Nyi Lasmi...?" Orang itu terbelalak. "Saya... saya tidak tahu... "
"Bohong...!"
"Kami tidak tahu.....Nyi Lasmi tidak berada di sini... "

<<< Bagian 26                                                                                         Bagian 28 >>>

No comments:

Post a Comment