Nurseta Satria Karangtirta ; Bagian 28


"Plak-plak-plak...!" Niken Harni menyerang dengan cepat dan tiga orang itu pun terpelanting seperti orang pertama.
"Biar aku cari sendiri!" kata Niken Harni sambil melangkah menyeberangi pekarangan menuju gedung besar itu. Akan tetapi, baru saja ia tiba di bawah anak tangga pendopo, dari dalam berlarian keluar dua belas orang prajurit pengawal dipimpin oleh seorang perwira pasukan pengawal yang berusia sekitar empat puluh tahun, bertubuh pendek gendut dan mukanya penuh bopeng (bekas cacar).
"Berhenti!" bentak perwira itu sambil mencabut goloknya. Dua belas orang anak buahnya berdiri di belakangnya dan sudah siap pula dengan senjata golok mereka.
"Dari mana datangnya seorang gadis liar yang berani mengacau di sini? Siapa namamu?"
"Katakan dulu siapa namamu!" kata Niken Harni sambil memandang angkuh.
Perwira pengawal itu memandang ringan kepada gadis cantik itu dan dia ingin menyombongkan dirinya, apalagi di depan dua belas orang anak buahnya. Bagaimana pun juga, dia terkenal kuat di antara para pengawal Tumenggung Suramenggala.
"Mau tahu namaku? Aku Jayeng, dikenal dengan julukan Sardula Krastala (Macan Kuat)! Menyerahlah, daripada aku menggunakan kekerasan!" Hayo mengaku siapa namamu!"
"Namamu Macan Cebol? Ketahuilah, aku disebut Liman Sakti (Gajah Sakti)! Nah, apakah seekor harimau cebol berani berlagak di depan seekor gajah sakti?" Niken Harni tersenyum mengejek.
Disebut macan cebol, perwira yang bernama Jayeng itu marah sekali. Melihat gadis itu tidak memegang senjata, dia pun ingin memperlihatkan kegagahannya dan menyarungkan kembali goloknya.
"Bocah kurang ajar!" Setelah membentak marah dia lalu melompat dan menerkam ke arah Niken Harni. Dia benar-benar melakukan gerakan menerkam, agaknya hendak pamer bahwa dia pantas mendapat julukan Macan Kuat. Niken Harni bergerak cepat, menggeser kaki ke kiri sambil mencondongkan tubuhnya sehingga tubuh pendek gendut yang menubruknya itu lewat di sampingnya dan sekali mendorong dengan tangan kirinya ke punggung lawan, perwira itu terbanting menelungkup.
"Bresss...!" tubuh pendek gendut itu terbanting keras dan ketika dia bangkit dengan marah, darah mengucur keluar dari hidungnya. Agaknya ketika terbanting menelungkup, hidungnya menghantam tanah berbatu dan mimisen (mengeluarkan darah)! Makin marahlah Jayeng. Kini dia tidak ingin menangkap dan main-main lagi, sambil mengeluarkan bentakan nyaring dia menyerang dengan pukulan yang kuat ke arah dada Niken Harni. Kembali gadis itu menggunakan kecepatan gerakannya untuk menghindar ke kanan dan secepat kilat kakinya mencuat ke arah perut yang gendut itu,
"Wuuuutt... ngekk!" Yang berbunyi ngek itu adalah hawa yang keluar dari mulut Jayeng ketika perutnya yang gendut disambar kaki mungil namun amat kuat itu. Kini tubuhnya roboh terjengkang, dan dia bangkit sambil memegangi perutnya yang terasa mulas! Akan tetapi kemarahannya memuncak membuat dia tidak merasakan lagi kenyerian itu.
"Srattt...!" Dia mencabut goloknya dan tanpa banyak cakap lagi dia sudah menyerang gadis yang bertangan kosong itu dengan bacokan golok ke arah leher Niken Harni! Serangan ini cukup berbahaya bagi Niken Harni. Gadis Itu tidak berani main-main mellhat betapa cepat dan kuatnya serangan golok itu. Ia melompat menghindar ke belakang dan cepat mencabut pedangnya. Jayeng yang merasa penasaran dan marah sekali karena merasa dipermainkan dihina di depan anak buahnya, melihat gadis itu melompat ke belakang, mengira bahwa lawannya itu mulai ketakutan. Maka dia pun mengejar dan memutar goloknya dengan buas.
"Trangg...!" Golok bertemu pedang dan Jayeng tersentak kaget karena tangannya yang memegang golok tergetar. Akan tetapi dia menyerang lagi lebih hebat, mengerahkan semua tenaganya.
"Cringgg...!" kembali pedang di tangan Niken Harni menangkis dari samping, tidak langsung sehingga gadis itu tidak terlalu banyak menggunakan tenaga namun sudah membuat bacokan lawan melenceng. Niken Harni membalas dengan cepat dan Jayeng menjadi kewalahan. Terpaksa dia memutar goloknya membentuk perisai melindungi tubuhnya.
Perkelahian menjadi semakin seru. Setelah Jayeng mempergunakan golok, ternyata Niken Harni tidak mudah mengalahkannya. Hal ini karena adalah memang ayahnya, Prasetyo atau Senopati Yudajaya, lebih menekankan pelajaran silat tangan kosong, terutama kecepatan gerakan kepada puterinya karena ilmu itu dimaksudkan untuk dapat membela diri. Bukan untuk menyerang atau membunuh lawan.

Betapapun juga, karena gadis ini memang memiliki gerakan yang jauh lebih ringan dan cepat dibandingkan lawannya, maka Jayeng yang merasa repot dan dia hampir tidak mendapat kesempatan untuk menyerang. Serangan gadis itu datang bertubi-tubi, pedangnya menjadi sinar bergulung=gulung membuat Jayeng merasa pusing.
"Pergilah!" bentak Niken Harni dan ketika pedangnya berkelebat ia tidak menyerang ke arah tubuh lawan, melainkan ke arah tangan Jayeng yang memegang golok.
"Singgg... cratt!" Punggung tangan Jayeng terluka berdarah dan goloknya terlepas. Dia cepat membungkuk untuk mengambil goloknya, akan tetapi Niken Harni mengangkat lutut kanannya ke arah perut lawan.
"Ngekk!" Jayeng mengaduh dan membungkuk, menekan perutnya dan pada saat itu, tangan kiri Niken Harni menyambar ke arah tengkuknya.
"Kekk!" Tubuh pendek gendut itu terguling dan seketika klenger (pingsan)!
Melihat pemimpin mereka roboh tak bergerak lagi, barulah dua belas orang prajurit pengawal itu serentak mengepung dan menyerang Niken Harni. Tadi mereka diam saja karena selain mereka mengira bahwa Jayeng akan dapat mengalahkan gadis itu, juga Jayeng tidak memberi aba-aba kepada mereka untuk mengeroyok. Kini, mereka menghujani Niken Harni dengan bacokan golok mereka. Niken Harni mengamuk. Pedangnya menyambar-nyambar dan tangan kiri dibantu kakinya membagi-bagi tamparan dan tendangan. Delapan orang pengawal roboh dan yang empat orang lagi menjadi gentar. Mereka masih hendak menyerang, akan tetapi begitu Niken Harni menggerakkan pedang, diangkat ke atas mengancam, empat orang itu lari lintangpukang! Mereka yang ter-luka juga saling menolong dan meninggalkan pekarangan di depan pendopo. Jayeng juga sudah dipapah anak buahnya meninggalkan tempat itu. Niken Harni melompat ke dalam pendopo dan terus memasuki pintu depan gedung. Ketika melihat beberapa orang wanita berpakaian pelayan, ia menghardik.
"Hayo katakan, di mana Nyi Lasmi?"
"Hamba... hamba tidak tahu, Den Ajeng... " kata mereka ketakutan.
"Hemm, biar kucari sendiri!" Gadis itu dengan berani terus memasuki gedung dan memeriksa semua ruangan dan kamar.
Setiap kali bertemu pelayan wanita, ia bertanya, akan tetapi jawaban mereka selalu tidak tahu. Akhirnya ia memasuki ruangan dalam yang luas dan di situ berkumpul isteri dan para selir Tumenggung Suramenggala. Para wanita ini tadi sudah ketakutan karena mendengar bahwa Puspa Dewi mengamuk dan mencari ibunya. Ketika Niken Harni memasuki ruangan itu, mereka semua merasa heran karena mereka sama sekali tidak mengenal gadis ini. Bukan Puspa Dewi yang tentu saja sudah mereka kenal baik, melainkan seorang gadis lain yang belum pernah mereka lihat. Niken Harni yang merasa jengkel karena tidak menemukan Nyi Lasmi yang juga belum pernah dilihatnya, melihat para wanita yang berpakaian mewah itu.
"Hei, apakah kalian ini keluarga Suramenggala?"
"Benar, kami adalah keluarganya, isteri-isterinya... "
Niken Harni menggerakkan tangannya ke arah sebuah meja dari kayu yang berada di sudut ruangan.
"Wuutt... brakkkkk!" Semua wanita menjadi ketakutan.
"Hayo katakan, di mana adanya Nyi Lasmi? Kalau kalian tidak mau mengatakan, bukan meja yang akan kupukul pecah!"
Para wanita itu menjadi pucat melihat betapa meja dari kayu tebal itu pecah berantakan terkena pukulan tangan yang mungil Itu.
"Sungguh mati, kami tidak tahu. Kami hanya tahu bahwa Nyi Lasmi dibawa keluar dari rumah ini." kata Isteri pertama Ki Suramenggala.
"Dibawa ke mana?"
"Kami tidak tahu. Hanya Tumenggung Suramenggala yang mengetahuinya."
"Mana dia Si Suramenggala?"
"Dia sedang keluar. Kalau nanti dia sudah kembali, tanyakan saja kepadanya." kata isteri Ki Suramenggala yang mengharapkan suaminya segera datang membawa bala bantuan untuk menghadapi gadis yang liar dan galak ini.
"Sebaiknya Andika menunggu di sini sebentar. Tak lama lagi dia tentu pulang."

Niken Harni tidak menjawab, dan setelah menggeledah semua kamar dan tidak menemukan wanita yang mengaku bernama Nyi Lasmi, ia lalu keluar dan duduk di atas kursi yang berada dl pendopo! Ia duduk dengan tenang dan santai, benar-benar hendak menanti kembalinya Tumenggung Suramenggala untuk dipaksa mengakui di mana adanya Nyi Lasmi! Karena pendopo itu luas menghadap pekarangan, maka semilir angin mendatangkan kesejukan, ditambah lagi ia merasa lelah setelah berkelahi, maka begitu berhembus angin semilir, ia mulai mengantuk. Ia sendiri puteri seorang senopati, cucu seorang tumenggung Kahuripan, maka ia sudah terbiasa dengan gedung-gedung besar seperti itu dan merasa seperti di rumah sendiri! Beberapa orang pelayan wanita dan pengawal berindap-indap ke pintu dan mengintai. Mereka terheran-heran melihat gadis yang galak itu duduk di atas kursi, menyandarkan mukanya di atas meja di depannya, berbantalkan kedua lengannya dan jelas tampak sedang tidur! Niken Harni memang lelah dan mengantuk sekali. Selama dalam perjalanan dari Karang Tirta ke Wengker, ia hampir tidak pernah mengaso dan kurang sekali tidur. Lapar, lelah, dan ngantuk membuat ia cepat dapat pulas dengan enaknya walaupun sambil duduk! Biarpun ia tertidur, tangan kanannya masih memegang pedangnya yang diletakkan di atas meja. Para pengawal yang melihat ini, tetap saja tidak berani sembarangan turun tangan. Apalagi menyerang, bahkan mendekat pun mereka tidak berani. Tadi mereka masih beruntung karena di antara mereka tidak ada yang dibunuh gadis galak ini, hanya dilukai saja. Kalau gadis itu marah, mungkin saja ia mengamuk dan membunuh siapa saja yang mengganggunya. Para pengawal dan penghuni gedung tumenggungan itu merasa lega ketika mereka melihat Tumenggung Suramenggala dan serombongan orang itu memasuki pekarangan. Apalagi rombongan perajurit pengawal kadipaten itu dipimpin sendiri oleh Sang Adipati Linggawijaya! Seorang pengawal segera berlari menyambut dan melaporkan bahwa gadis yang mengamuk itu kini tertidur di dalam pendopo.
"Tertidur...?" Adipati Linggawijaya bertanya heran.
"Benar, Gusti. Gadis itu tertidur pulas di pendopo." Kepala pengawal yang gendut pendek, Jayeng, melapor.
Adipati Linggawijaya lalu melangkah menuju ke pendopo menyeberangi pekarangan itu. Tumenggung Suramenggala yang takut terhadap Puspa Dewi itu mengikuti dari belakang. Dua belas orang perajurit pengawal pillhan dari kadipaten juga mengikuti dari belakang dengan siap siaga. Setelah tiba di anak tangga pendopo, Linggawijaya memandang terheran-heran kepada gadis yang tertidur di atas kursi itu. Gadis itu sama sekali bukan Puspa Dewi! Juga Ki Suramenggala memandang heran.
"Bukan ia..." Bisiknya.
Adipati Linggawijaya mengangguk dan tersenyum. Menghadapi Puspa Dewi, dia masih meragukan apakah dia akan mampu mengalahkan gadis yang dia tahu amat sakti itu, maka dia membawa seregu pengawal pilihan. Akan tetapi gadis itu bukan Puspa Dewi dan tentu saja dia memandang rendah. Dan timbul kegembiraan hatinya melihat rambut hitam panjang terurai berombak dan kulit yang putih mulus itu.
Wajah gadis itu belum tampak akan tetapi dia merasa hampir yakin bahwa gadis itu tentu cantik sekali. Dia memberi isarat kepada Tumenggung Suramenggala dan selusin prajurit agar tinggal saja di bawah anak tangga. Lalu dia mendaki anak tangga dengan ringan memasuki pendopo. Dengan jalan mengitari meja itu dia dapat melihat wajah Niken Harni dan jantung Adipati Linggawijaya berdebar. Cantik manis dan masih amat muda, lebih muda daripada Puspa Dewi!
"Nimas yang ayu merak ati, bangunlah!"
Ucapan Adipati Linggawijaya mengandung getaran kuat sehingga Niken Harni yang pulas itu seperti disentakkan dan ia terbangun. Sebagai seorang gadis puteri senopati yang terlatih, begitu terbangun dia sudah melompat berdiri dan siap melintangkan pedangnya di depan dada. Sebagian rambutnya yang terurai menutup mukanya sebelah kiri dan Adipati Linggawijaya terpesona. Cantik menggairahkan nian gadis ini!
Dengan alis berkerut, mata mencorong tajam walaupun masih ada bekas kantuk di matanya, Niken Harni menudingkan telunjuk kirinya ke arah muka Linggawijaya.
"Engkau Suramenggala?"
Linggawijaya menggeleng kepala sambil tersenyum melihat sikap galak seperti kuda liar ini. Melihat pria Itu menggeleng, Niken Harni menyambung,
"Ah, benar juga. Ki Suramenggala itu sudah tua dan engkau masih muda! Lalu siapa engkau?" Baru sekarang Niken Harni mendapat kenyataan bahwa laki-laki muda yang berdiri di depannya ini mengenakan pakaian yang amat mewah dan indah, lebih mewah daripada pakaian kakeknya yang tumenggung.

<<< Bagian 27                                                                                         Bagian 29 >>>

No comments:

Post a Comment