"Plak-plak-plak...!" Niken Harni menyerang dengan cepat dan tiga orang itu pun terpelanting seperti orang pertama.
"Biar aku
cari sendiri!" kata Niken Harni sambil melangkah menyeberangi pekarangan
menuju gedung besar itu. Akan tetapi, baru saja ia tiba di bawah anak tangga
pendopo, dari dalam berlarian keluar dua belas orang prajurit pengawal dipimpin
oleh seorang perwira pasukan pengawal yang berusia sekitar empat puluh tahun,
bertubuh pendek gendut dan mukanya penuh bopeng (bekas cacar).
"Berhenti!"
bentak perwira itu sambil mencabut goloknya. Dua belas orang anak buahnya
berdiri di belakangnya dan sudah siap pula dengan senjata golok mereka.
"Dari
mana datangnya seorang gadis liar yang berani mengacau di sini? Siapa
namamu?"
"Katakan
dulu siapa namamu!" kata Niken Harni sambil memandang angkuh.
Perwira
pengawal itu memandang ringan kepada gadis cantik itu dan dia ingin
menyombongkan dirinya, apalagi di depan dua belas orang anak buahnya. Bagaimana
pun juga, dia terkenal kuat di antara para pengawal Tumenggung Suramenggala.
"Mau tahu
namaku? Aku Jayeng, dikenal dengan julukan Sardula Krastala (Macan Kuat)!
Menyerahlah, daripada aku menggunakan kekerasan!" Hayo mengaku siapa
namamu!"
"Namamu
Macan Cebol? Ketahuilah, aku disebut Liman Sakti (Gajah Sakti)! Nah, apakah
seekor harimau cebol berani berlagak di depan seekor gajah sakti?" Niken
Harni tersenyum mengejek.
Disebut macan
cebol, perwira yang bernama Jayeng itu marah sekali. Melihat gadis itu tidak
memegang senjata, dia pun ingin memperlihatkan kegagahannya dan menyarungkan
kembali goloknya.
"Bocah
kurang ajar!" Setelah membentak marah dia lalu melompat dan menerkam ke
arah Niken Harni. Dia benar-benar melakukan gerakan menerkam, agaknya hendak
pamer bahwa dia pantas mendapat julukan Macan Kuat. Niken Harni bergerak cepat,
menggeser kaki ke kiri sambil mencondongkan tubuhnya sehingga tubuh pendek
gendut yang menubruknya itu lewat di sampingnya dan sekali mendorong dengan
tangan kirinya ke punggung lawan, perwira itu terbanting menelungkup.
"Bresss...!"
tubuh pendek gendut itu terbanting keras dan ketika dia bangkit dengan marah,
darah mengucur keluar dari hidungnya. Agaknya ketika terbanting menelungkup,
hidungnya menghantam tanah berbatu dan mimisen (mengeluarkan darah)! Makin
marahlah Jayeng. Kini dia tidak ingin menangkap dan main-main lagi, sambil
mengeluarkan bentakan nyaring dia menyerang dengan pukulan yang kuat ke arah
dada Niken Harni. Kembali gadis itu menggunakan kecepatan gerakannya untuk
menghindar ke kanan dan secepat kilat kakinya mencuat ke arah perut yang gendut
itu,
"Wuuuutt...
ngekk!" Yang berbunyi ngek itu adalah hawa yang keluar dari mulut Jayeng
ketika perutnya yang gendut disambar kaki mungil namun amat kuat itu. Kini
tubuhnya roboh terjengkang, dan dia bangkit sambil memegangi perutnya yang
terasa mulas! Akan tetapi kemarahannya memuncak membuat dia tidak merasakan
lagi kenyerian itu.
"Srattt...!"
Dia mencabut goloknya dan tanpa banyak cakap lagi dia sudah menyerang gadis
yang bertangan kosong itu dengan bacokan golok ke arah leher Niken Harni!
Serangan ini cukup berbahaya bagi Niken Harni. Gadis Itu tidak berani main-main
mellhat betapa cepat dan kuatnya serangan golok itu. Ia melompat menghindar ke
belakang dan cepat mencabut pedangnya. Jayeng yang merasa penasaran dan marah
sekali karena merasa dipermainkan dihina di depan anak buahnya, melihat gadis
itu melompat ke belakang, mengira bahwa lawannya itu mulai ketakutan. Maka dia
pun mengejar dan memutar goloknya dengan buas.
"Trangg...!"
Golok bertemu pedang dan Jayeng tersentak kaget karena tangannya yang memegang
golok tergetar. Akan tetapi dia menyerang lagi lebih hebat, mengerahkan semua
tenaganya.
"Cringgg...!"
kembali pedang di tangan Niken Harni menangkis dari samping, tidak langsung
sehingga gadis itu tidak terlalu banyak menggunakan tenaga namun sudah membuat
bacokan lawan melenceng. Niken Harni membalas dengan cepat dan Jayeng menjadi
kewalahan. Terpaksa dia memutar goloknya membentuk perisai melindungi tubuhnya.
Perkelahian
menjadi semakin seru. Setelah Jayeng mempergunakan golok, ternyata Niken Harni
tidak mudah mengalahkannya. Hal ini karena adalah memang ayahnya, Prasetyo atau
Senopati Yudajaya, lebih menekankan pelajaran silat tangan kosong, terutama
kecepatan gerakan kepada puterinya karena ilmu itu dimaksudkan untuk dapat
membela diri. Bukan untuk menyerang atau membunuh lawan.
Betapapun
juga, karena gadis ini memang memiliki gerakan yang jauh lebih ringan dan cepat
dibandingkan lawannya, maka Jayeng yang merasa repot dan dia hampir tidak
mendapat kesempatan untuk menyerang. Serangan gadis itu datang bertubi-tubi,
pedangnya menjadi sinar bergulung=gulung membuat Jayeng merasa pusing.
"Pergilah!"
bentak Niken Harni dan ketika pedangnya berkelebat ia tidak menyerang ke arah
tubuh lawan, melainkan ke arah tangan Jayeng yang memegang golok.
"Singgg...
cratt!" Punggung tangan Jayeng terluka berdarah dan goloknya terlepas. Dia
cepat membungkuk untuk mengambil goloknya, akan tetapi Niken Harni mengangkat
lutut kanannya ke arah perut lawan.
"Ngekk!"
Jayeng mengaduh dan membungkuk, menekan perutnya dan pada saat itu, tangan kiri
Niken Harni menyambar ke arah tengkuknya.
"Kekk!"
Tubuh pendek gendut itu terguling dan seketika klenger (pingsan)!
Melihat
pemimpin mereka roboh tak bergerak lagi, barulah dua belas orang prajurit
pengawal itu serentak mengepung dan menyerang Niken Harni. Tadi mereka diam
saja karena selain mereka mengira bahwa Jayeng akan dapat mengalahkan gadis itu,
juga Jayeng tidak memberi aba-aba kepada mereka untuk mengeroyok. Kini, mereka
menghujani Niken Harni dengan bacokan golok mereka. Niken Harni mengamuk.
Pedangnya menyambar-nyambar dan tangan kiri dibantu kakinya membagi-bagi
tamparan dan tendangan. Delapan orang pengawal roboh dan yang empat orang lagi
menjadi gentar. Mereka masih hendak menyerang, akan tetapi begitu Niken Harni
menggerakkan pedang, diangkat ke atas mengancam, empat orang itu lari
lintangpukang! Mereka yang ter-luka juga saling menolong dan meninggalkan
pekarangan di depan pendopo. Jayeng juga sudah dipapah anak buahnya
meninggalkan tempat itu. Niken Harni melompat ke dalam pendopo dan terus
memasuki pintu depan gedung. Ketika melihat beberapa orang wanita berpakaian
pelayan, ia menghardik.
"Hayo
katakan, di mana Nyi Lasmi?"
"Hamba...
hamba tidak tahu, Den Ajeng... " kata mereka ketakutan.
"Hemm,
biar kucari sendiri!" Gadis itu dengan berani terus memasuki gedung dan
memeriksa semua ruangan dan kamar.
Setiap kali
bertemu pelayan wanita, ia bertanya, akan tetapi jawaban mereka selalu tidak
tahu. Akhirnya ia memasuki ruangan dalam yang luas dan di situ berkumpul isteri
dan para selir Tumenggung Suramenggala. Para wanita ini tadi sudah ketakutan
karena mendengar bahwa Puspa Dewi mengamuk dan mencari ibunya. Ketika Niken
Harni memasuki ruangan itu, mereka semua merasa heran karena mereka sama sekali
tidak mengenal gadis ini. Bukan Puspa Dewi yang tentu saja sudah mereka kenal
baik, melainkan seorang gadis lain yang belum pernah mereka lihat. Niken Harni
yang merasa jengkel karena tidak menemukan Nyi Lasmi yang juga belum pernah
dilihatnya, melihat para wanita yang berpakaian mewah itu.
"Hei,
apakah kalian ini keluarga Suramenggala?"
"Benar,
kami adalah keluarganya, isteri-isterinya... "
Niken Harni
menggerakkan tangannya ke arah sebuah meja dari kayu yang berada di sudut
ruangan.
"Wuutt...
brakkkkk!" Semua wanita menjadi ketakutan.
"Hayo
katakan, di mana adanya Nyi Lasmi? Kalau kalian tidak mau mengatakan, bukan
meja yang akan kupukul pecah!"
Para wanita
itu menjadi pucat melihat betapa meja dari kayu tebal itu pecah berantakan
terkena pukulan tangan yang mungil Itu.
"Sungguh
mati, kami tidak tahu. Kami hanya tahu bahwa Nyi Lasmi dibawa keluar dari rumah
ini." kata Isteri pertama Ki Suramenggala.
"Dibawa
ke mana?"
"Kami
tidak tahu. Hanya Tumenggung Suramenggala yang mengetahuinya."
"Mana dia
Si Suramenggala?"
"Dia
sedang keluar. Kalau nanti dia sudah kembali, tanyakan saja kepadanya."
kata isteri Ki Suramenggala yang mengharapkan suaminya segera datang membawa
bala bantuan untuk menghadapi gadis yang liar dan galak ini.
"Sebaiknya
Andika menunggu di sini sebentar. Tak lama lagi dia tentu pulang."
Niken Harni
tidak menjawab, dan setelah menggeledah semua kamar dan tidak menemukan wanita
yang mengaku bernama Nyi Lasmi, ia lalu keluar dan duduk di atas kursi yang
berada dl pendopo! Ia duduk dengan tenang dan santai, benar-benar hendak
menanti kembalinya Tumenggung Suramenggala untuk dipaksa mengakui di mana
adanya Nyi Lasmi! Karena pendopo itu luas menghadap pekarangan, maka semilir
angin mendatangkan kesejukan, ditambah lagi ia merasa lelah setelah berkelahi,
maka begitu berhembus angin semilir, ia mulai mengantuk. Ia sendiri puteri
seorang senopati, cucu seorang tumenggung Kahuripan, maka ia sudah terbiasa
dengan gedung-gedung besar seperti itu dan merasa seperti di rumah sendiri!
Beberapa orang pelayan wanita dan pengawal berindap-indap ke pintu dan
mengintai. Mereka terheran-heran melihat gadis yang galak itu duduk di atas
kursi, menyandarkan mukanya di atas meja di depannya, berbantalkan kedua
lengannya dan jelas tampak sedang tidur! Niken Harni memang lelah dan mengantuk
sekali. Selama dalam perjalanan dari Karang Tirta ke Wengker, ia hampir tidak
pernah mengaso dan kurang sekali tidur. Lapar, lelah, dan ngantuk membuat ia
cepat dapat pulas dengan enaknya walaupun sambil duduk! Biarpun ia tertidur,
tangan kanannya masih memegang pedangnya yang diletakkan di atas meja. Para
pengawal yang melihat ini, tetap saja tidak berani sembarangan turun tangan. Apalagi
menyerang, bahkan mendekat pun mereka tidak berani. Tadi mereka masih beruntung
karena di antara mereka tidak ada yang dibunuh gadis galak ini, hanya dilukai
saja. Kalau gadis itu marah, mungkin saja ia mengamuk dan membunuh siapa saja
yang mengganggunya. Para pengawal dan penghuni gedung tumenggungan itu merasa
lega ketika mereka melihat Tumenggung Suramenggala dan serombongan orang itu
memasuki pekarangan. Apalagi rombongan perajurit pengawal kadipaten itu
dipimpin sendiri oleh Sang Adipati Linggawijaya! Seorang pengawal segera
berlari menyambut dan melaporkan bahwa gadis yang mengamuk itu kini tertidur di
dalam pendopo.
"Tertidur...?"
Adipati Linggawijaya bertanya heran.
"Benar,
Gusti. Gadis itu tertidur pulas di pendopo." Kepala pengawal yang gendut
pendek, Jayeng, melapor.
Adipati
Linggawijaya lalu melangkah menuju ke pendopo menyeberangi pekarangan itu.
Tumenggung Suramenggala yang takut terhadap Puspa Dewi itu mengikuti dari
belakang. Dua belas orang perajurit pengawal pillhan dari kadipaten juga
mengikuti dari belakang dengan siap siaga. Setelah tiba di anak tangga pendopo,
Linggawijaya memandang terheran-heran kepada gadis yang tertidur di atas kursi
itu. Gadis itu sama sekali bukan Puspa Dewi! Juga Ki Suramenggala memandang
heran.
"Bukan ia..."
Bisiknya.
Adipati
Linggawijaya mengangguk dan tersenyum. Menghadapi Puspa Dewi, dia masih
meragukan apakah dia akan mampu mengalahkan gadis yang dia tahu amat sakti itu,
maka dia membawa seregu pengawal pilihan. Akan tetapi gadis itu bukan Puspa Dewi
dan tentu saja dia memandang rendah. Dan timbul kegembiraan hatinya melihat
rambut hitam panjang terurai berombak dan kulit yang putih mulus itu.
Wajah gadis
itu belum tampak akan tetapi dia merasa hampir yakin bahwa gadis itu tentu
cantik sekali. Dia memberi isarat kepada Tumenggung Suramenggala dan selusin
prajurit agar tinggal saja di bawah anak tangga. Lalu dia mendaki anak tangga
dengan ringan memasuki pendopo. Dengan jalan mengitari meja itu dia dapat
melihat wajah Niken Harni dan jantung Adipati Linggawijaya berdebar. Cantik
manis dan masih amat muda, lebih muda daripada Puspa Dewi!
"Nimas
yang ayu merak ati, bangunlah!"
Ucapan Adipati
Linggawijaya mengandung getaran kuat sehingga Niken Harni yang pulas itu
seperti disentakkan dan ia terbangun. Sebagai seorang gadis puteri senopati
yang terlatih, begitu terbangun dia sudah melompat berdiri dan siap
melintangkan pedangnya di depan dada. Sebagian rambutnya yang terurai menutup
mukanya sebelah kiri dan Adipati Linggawijaya terpesona. Cantik menggairahkan
nian gadis ini!
Dengan alis
berkerut, mata mencorong tajam walaupun masih ada bekas kantuk di matanya,
Niken Harni menudingkan telunjuk kirinya ke arah muka Linggawijaya.
"Engkau
Suramenggala?"
Linggawijaya
menggeleng kepala sambil tersenyum melihat sikap galak seperti kuda liar ini.
Melihat pria Itu menggeleng, Niken Harni menyambung,
"Ah,
benar juga. Ki Suramenggala itu sudah tua dan engkau masih muda! Lalu siapa
engkau?" Baru sekarang Niken Harni mendapat kenyataan bahwa laki-laki muda
yang berdiri di depannya ini mengenakan pakaian yang amat mewah dan indah,
lebih mewah daripada pakaian kakeknya yang tumenggung.
No comments:
Post a Comment