Nurseta Satria Karangtirta ; Bagian 29


Dan wajah itu tampan gagah sekali!
"Aku? Aku adalah Linggawijaya, Adipati Wengker."
Sepasang mata yang jeli dan indah itu terbelalak sehingga sisa kantuknya menghilang.
"Adipati Wengker? Hemm, tampan juga!"
Kini Linggawijaya yang melebarkan matanya. Tidak salah dengarkah dia? Gadis itu begitu saja memuji ketampanannya.
"Nimas, terima kasih atas pujianmu bahwa aku tampan!" katanya gembira.
"Wih! Jangan ge-er (gede rasa), ya? Aku sama sekali tidak memuji, hanya terheran. Aku mendengar bahwa pria di Wengker, itu rata-rata buruk mukanya, akan tetapi engkau yang jadi adipatinya tidak buruk!"
Wajah Linggawijaya agak kemerahan, akan tetapi dia tidak marah, bahkan merasa betapa lucunya gadis yang bersikap galak dan ugal-ugalan ini.
"Nimas, engkau cantik manis merak ati, juga gagah dan lucu sekali. Bolehkah aku mengetahui, siapa nama Andika dan mengapa Andika membikin ribut di Wengker?" pertanyaan itu lembut, bahkan merayu.
Niken Harni cemberut.
"Namaku Niken Harni. Sesungguhnya aku tidak ingin membikin ribut. Akan tetapi mereka itu tidak mau mengatakan di mana adanya Nyi Lasmi, maka terpaksa kuhajar!"
"Niken Harni, nama yang indah sekali, sesuai benar dengan orangnya. Kalau orang-orangku bersikap tidak semestinya, aku yang mintakan maaf, Nimas Niken. Akan tetapi mengapa Andika mencari Nyi Lasmi?"
"Mengapa aku mencari Nyi Lasmi? Tentu saja aku mencarinya! Ia adalah Ibuku yang dibawa lari orang-orang Wengker yang jahat!"
Linggawijaya terbelalak heran. Apakah Puspa Dewi mempunyai adik? Mustahil! Setahunya Nyi Lasmi hanya mempunyai seorang anak saja, yaitu Puspa Dewi!
"Anak Nyi Lasmi? Benarkah ia itu Ibumu? Bagaimana mungkin?"
"Eh, engkau tidak percaya, Adipati Linggawijaya? Kaukira aku berbohong? Selama hidupku aku tidak pernah berbohong kecuali... kecuali dulu ketika masih kecil!"
"Hemm, ketika kecil suka bohong, ya?"
"Tentu saja! Kalau aku melakukan kesalahan, aku berbohong agar jangan dihukum Ayah."
"Akan tetapi, Nimas Niken Harni. Setahuku, Nyi Lasmi tidak mempunyai anak lain. Puterinya hanya seorang saja, yaitu Puspa Dewi."
"Mbakayu Puspa Dewi itu kakakku, Kakak tiriku."
"Tidak mungkin!"
"Heh, Adipati Wengker, jangan main-main engkau! Aku tidak berbohong. Aku memang anak tiri Nyi Lasmi!"
"Nimas, aku bilang tidak mungkin bukan tidak percaya kepadamu, aku hanya merasa bingung dan heran sekali karena aku mengenal benar Nyi Lasmi itu. Ia adalah Ibu tiriku!"
"Eh? Ibu tirimu? Mana mungkin...!"
"Hemm, agaknya Mbakayumu Puspa Dewi belum menceritakannya kepadamu. Ketahuilah bahwa Nyi Lasmi pernah menjadi isteri Ayah kandungku selama lima tahun."
"Benarkah? Siapa itu Ayah kandungmu?"
"Ayahku adalah Tumenggung Suramenggala!"
"Jadi engkau anak Suramenggala yang jahat itu? Kebetulan sekali kalau engkau anak Suramenggala. Hayo katakan dimana adanya Nyi Lasmi yang diculik Suramenggala!"
"Tenanglah, Nimas Niken Harni. Agaknya engkau tidak mengetahui persoalannya dan hanya mendengarkan satu pihak saja yang menjelek-jelekkan kami. Sarungkan pedangmu. Engkau berhadapan dengan sahabat, bukan musuh. Mari kita bicara dari hati ke hati dan kuperkenalkan engkau kepada Ayah kandungku." Ucapan Linggawijaya demikian lembut dan mengandung bujukan kuat sehingga biarpun tadinya ia ragu-ragu, akan tetapi akhirnya Niken Harni menyarungkan pedangnya.
"Baik, aku akan mendengarkan apa yang hendak kau bicarakan."
Adipati Linggawijaya lalu menoleh dan memberi isarat kepada Ki Suramenggala untuk memasuki pendopo. Para pengawal tinggal di bawah. Setelah Tumenggung Suramenggala berada di situ, Adipati Linggawijaya memperkenalkan.
"Nimas Niken Harni, inilah Ayahku, Tumenggung Suramenggala, suami Nyi Lasmi. Kanjeng Rama, ini adalah Nimas Niken Harni yang mengaku sebagai anak tiri Ibu Lasmi."
"Ah, benarkah?" Tumenggung Suramenggala yang tadi sudah mendengarkan percakapan mereka, memandang gadis itu dengan senyum ramah. "Niken Harni, bagaimana ceritanya bahwa Andika adalah anak tiri Diajeng Lasmi?"
"Nimas, mari kita duduk dan bicara dengan enak dl ruangan dalam." ajak Linggawijaya dengan suara lembut dan sikap halus.

Niken Harni yang masih hijau dan sama sekali belum berpengalaman, hanya melihat sikap dan kata-kata orang untuk menilai baik buruknya orang itu, semakin tertarik dan ia menganggap pemuda yang telah menjadi Adipati Wengker itu seorang yang amat baik dan ramah, sopan pula. Maka bagaikan seekor domba yang tidak menyadari bahwa ia digiring memasuki rumah jagal, ia mengikuti ayah dan anak itu masuk ke ruangan dalam. Setelah berada di ruangan dalam yang cukup mewah dari gedung tumenggungan itu, Niken Harni dipersilakan duduk menghadapi sebuah meja besar dan dua orang ayah dan anak itu duduk di seberang meja.
"Nah, apa yang hendak engkau bicarakan dengan aku, dan katakan di mana adanya Nyi Lasmi sekarang!"
"Sabar, Nimas. Mari kuceritakan dari permulaannya agar engkau mengetahui duduknya perkara. Kurang lebih enam tujuh tahun yang lalu, Ayahku ini menjadi lurah di Karang Tirta. Nyi Lasmi ketika itu tinggal dl Karang Tirta sebagai seorang janda dengan seorang anak, yaitu Puspa Dewi. Kami saling mengenal dengan baik karena tinggal sedusun. Kemudian, Nyi Lasmi menjadi isteri Ayahku, maka dengan sendirinya Nyi Lasmi adalah Ibu tiriku. Selama lima tahun Nyi Lasmi menjadi anggota keluarga kami sampai setahun lebih yang lalu terpaksa Nyi Lasmi berpisah dari kami."
"Hemm, aku sudah mendengar. Ki Suramenggala dicopot sebagai lurah oleh Gusti Patih Narotama dan diusir keluar dari Karang Tirta, bukan?"
"Benar, akan tetapi peristiwa itu terjadi karena ayahku difitnah oleh beberapa orang dusun yang iri hati dan hendak merampas kedudukannya sebagai Lurah. Mereka itu antara lain Ki Pujosaputro yang kemudian berhasil menjadi lurah. Ayahku difitnah sehingga Ki Patih Narotama tertipu dan mengusir Ayah dan sekeluarga kami. Atas bujukan Ki Pujosaputro pula, Ibu tiriku, Nyi Lasmi, tidak ikut keluarga kami yang plndah ke sini. Nah, tentu saja Ayahku merasa sakit hati kepada Ki Pujosaputro dan setelah Ayahku menjadi tumenggung di Wengker ini, Ayah lalu mengirim orang-orang untuk membalas dendam, membunuh Ki Pujosaputro sekeluarga dan mengajak Ibu Lasmi ke sini karena ia memang isteri Ayah."
Mendengar cerita yang diucapkan Linggawijaya dengan gaya meyakinkan itu, Niken Harni menjadi ragu.
"Kalau begitu, benar Ibu Lasmi berada di sini? Di mana ia? Aku ingin bertemu dan menanyakan kebenaran ceritamu itu kepadanya!"
"Nanti dulu, Nimas. Ceritaku belum selesai. Sudah kuceritakan tadi bahwa Ibu Lasmi mempunyai seorang puteri, yaitu Puspa Dewi. Nah, ketika guru Puspa Dewi yang bernama Nyi Dewi Durgakumala menjadi permaisuri di Wurawuri, Puspa Dewi dengan sendirinya menjadi Sekar Kedaton (Puteri Istana) karena ia telah dianggap anak sendiri oleh Nyi Durgakumala. Maka, ketika terjadi perang antara Wura-wuri bersama kadipaten lain termasuk Wengker ini, Puspa Dewi sebagai Sekar Kedaton Wura-Wuri menjadi wakil Wura-Wuri untuk bekerja sama dengan kadipaten lain dalam usaha kami merobohkan Kahuripan. Akan tetapi ternyata kemudian bahwa Puspa Dewi telah membalik, membela Kahuripan dan mengkhianati persekutuan kami, terutama mengkhianati Kerajaan Wura-Wuri."
"Hemm, sudah sepantasnya kalau Mbakayu Puspa Dewi membela Kahuripan karena ia adalah seorang kawula Kahuripan!"
"Engkau benar, Nimas. Akan tetapi jangan lupa bahwa ia sudah diangkat menjadi Sekar Kedaton Wura-Wuri dan menjadi wakil Wura-Wuri untuk menentang Kahuripan. Akan tetapi kemudian ia membalik dan ini berarti pengkhianatan bagi Wura-Wuri. Tentu saja gurunya, Nyi Dewi Durgakumala marah sekali dan ia sudah mengancam akan menangkap murid atau anak angkat yang berkhianat itu untuk dihukum. Maka, setelah Ibu Lasmi berada di sini dan mendengar akan ancaman dari Wura-Wuri terhadap puterinya Itu, Ibu Lasmi gelisah sekali. Akhirnya, setelah kami sekeluarga merundingkannya, Ibu Lasmi lalu mengambil keputusan untuk pergi ke Wura-Wuri, menemui Nyi Dewi Durgakumala, disertai surat dari aku dan Kanjeng Rama Tumenggung Suramenggala, dan mintakan maaf untuk Puspa Dewi. Nah, begitulah ceritanya, Nimas."
"Jadi sekarang ini Ibu Lasmi tidak berada di sini?"
"Beliau sedang pergi ke Wura-Wuri, dikawal oleh sepasukan prajurit."
"Wah, kalau begitu aku akan menyusul kesana!"
"Nanti dulu, Nimas. Kami kira, hal itu amat tidak tepat dan bahkan dapat membahayakan Ibu Lasmi. Kalau engkau pergi ke sana lalu terjadi kesalahpahaman, tentu usaha Ibu Lasmi mintakan maaf atas kesalahan Puspa Dewi menjadi gagal dan bukan mustahil beliau sendiri akan dijatuhi hukuman."
"Eh, lalu bagaimana baiknya?"
"Nimas, menurut perhitungan kami, dalam satu dua hari ini Ibu Lasmi pasti pulang ke sini. Sebaiknya kalau engkau menanti saja kembalinya di sini. Bagaimanapun juga engkau bukan orang lain bagi kami, masih terhitung sanak keluarga. Kita berdua sama-sama anak tiri Ibu Lasmi, bukan?"
"Hemm.... kau pikir begitu sebaiknya?"
"Tidak ada jalan lebih baik, Nimas. Mari kita makan dan selagi menanti para pelayan mempersiapkan makanan, kami ingin sekali mendengar tentang hubunganmu dengan Ibu Lasmi. Bagaimana duduknya perkara sehingga beliau kau sebut sebagai Ibu tirimu?"

Niken Harni sudah benar-benar terpengaruh oleh sikap dan kata-kata Linggawijaya. Tumenggung Suramenggala sejak tadi hanya mendengarkan dan tidak mau ikut bicara, khawatir kalau-kalau dia salah omong. Dia mendengarkan dan merasa girang dan kagum sekali akan kecerdikan puteranya.
"Begini ceritanya. Ibu Lasmi dulu adalah isteri dari Ayahku. Ketika itu, Ibu Lasmi tinggal di dusun dan Ayah bekerja di kota raja Kahuripan. Di kota raja Ayah menikah lagi dengan Ibuku. Hal ini membuat Ibu Lasmi meninggalkan dusun bersama puterinya, yaitu Mbakayu Puspa Dewi. Ayahku, dan seluruh keluarga Ibuku mencari-carinya tanpa hasil. Baru setelah Mbakayu Puspa Dewi datang mencari Ayah, kami tahu bahwa Ibu Lasmi berada di Karang Tirta. Kami semua pergi ke Karang Tirta dan ternyata terjadi peristiwa hilangnya Ibu Lasmi. Mbakayu Puspa Dewi melakukan pengejaran, dan aku menyusulnya. Apakah Mbakayu Puspa Dewi belum tiba di sini?"
Linggawijaya sudah mendengar pelaporan para prajurit yang dipaksa mengaku oleh Puspa Dewi dan prajurit terakhir yang ditangkap gadis itu melaporkan bahwa dia terpaksa memberitahu bahwa Nyi Lasmi dikawal pasukan ke Wura-Wuri. Maka, Linggawijaya dapat menduga bahwa tentu Puspa Dewi langsung melakukan pengejaran ke Wura-Wuri. Bagaimanapun juga, Puspa Dewi merupakan ancaman dan kalau sekarang dia dapat menahan Niken Harni, dia dapat mempergunakan gadis ini sebagai sandera.
"Ya, Puspa Dewi adikku itu sudah sampai di sini dan mendengar bahwa ibunya pergi ke Wura-Wuri, ia menjadi khawatir dan pergi menyusulnya. Maka dari itu, Niken Harni, adikku yang manis, engkau menunggu saja di sini. Aku yakin besok atau lusa, Ibu Lasmi dan Adik Puspa Dewi tentu akan datang ke sini. Baru engkau dapat melihat sendiri betapa baik dan akrabnya hubungan kami satu sama lain."
Niken Harni mengangguk-angguk. Memang dalam hatinya ia merasa bingung. Kalau menurut cerita mbakayu-nya itu, Ki Suramenggala dan Linggawijaya ini adalah orang-orang jahat. Akan tetapi sekarang ia melihat kenyataan bahwa pemuda ini sungguh halus tutur sapanya, baik budi bahasanya, tampan menarik pula. Mana yang benar?
"Biarlah aku menanti di sini dan melihat bagaimana hubungan antara kalian." katanya seperti menjawab pertanyaan hatinya sendiri.
Bukan main girangnya hati Linggawijaya dan Suramenggala. Tumenggung itu memesan para isterinya dan para pelayan untuk bersikap ramah dan baik terhadap Niken Harni, kemudian dia memperkenalkan keluarganya itu kepada Niken Harni. Tentu saja gadis ini semakin senang melihat keramahan mereka dan menganggap bahwa keluarga ini benar-benar baik hati. Sebuah kamar yang indah disediakan untuknya, dan keluarga itu mengadakan pesta untuk menyambut kedatangan gadis ini.
Gembira juga hati Niken Harni diajak makan minum semeriah itu. Kemudian, setelah makan minum sampai puas, ia di persilakan membersihkan diri mandi, lalu diberi kesempatan untuk mengaso, tidur di kamar yang disediakan untuknya. Karena memang ia merasa lelah dan lapar, juga pakaiannya dan tubuhnya kotor oleh debu, maka sekarang setelah makan dan mandi, sebentar saja Niken Harni sudah tertidur pulas dalam kamar itu!
Menjelang sore hari Niken Harni terbangun. Ia merasa tubuhnya segar. Seorang Isteri selir Tumenggung Suramenggala memasuki kamar dan menaruh seperangkat pakaian di atas meja.

<<< Bagian 28                                                                                         Bagian 30 >>>

No comments:

Post a Comment