Dan wajah itu tampan gagah sekali!
"Aku? Aku
adalah Linggawijaya, Adipati Wengker."
Sepasang mata
yang jeli dan indah itu terbelalak sehingga sisa kantuknya menghilang.
"Adipati
Wengker? Hemm, tampan juga!"
Kini
Linggawijaya yang melebarkan matanya. Tidak salah dengarkah dia? Gadis itu
begitu saja memuji ketampanannya.
"Nimas,
terima kasih atas pujianmu bahwa aku tampan!" katanya gembira.
"Wih! Jangan
ge-er (gede rasa), ya? Aku sama sekali tidak memuji, hanya terheran. Aku
mendengar bahwa pria di Wengker, itu rata-rata buruk mukanya, akan tetapi
engkau yang jadi adipatinya tidak buruk!"
Wajah
Linggawijaya agak kemerahan, akan tetapi dia tidak marah, bahkan merasa betapa
lucunya gadis yang bersikap galak dan ugal-ugalan ini.
"Nimas,
engkau cantik manis merak ati, juga gagah dan lucu sekali. Bolehkah aku
mengetahui, siapa nama Andika dan mengapa Andika membikin ribut di
Wengker?" pertanyaan itu lembut, bahkan merayu.
Niken Harni
cemberut.
"Namaku
Niken Harni. Sesungguhnya aku tidak ingin membikin ribut. Akan tetapi mereka
itu tidak mau mengatakan di mana adanya Nyi Lasmi, maka terpaksa kuhajar!"
"Niken
Harni, nama yang indah sekali, sesuai benar dengan orangnya. Kalau
orang-orangku bersikap tidak semestinya, aku yang mintakan maaf, Nimas Niken.
Akan tetapi mengapa Andika mencari Nyi Lasmi?"
"Mengapa
aku mencari Nyi Lasmi? Tentu saja aku mencarinya! Ia adalah Ibuku yang dibawa
lari orang-orang Wengker yang jahat!"
Linggawijaya
terbelalak heran. Apakah Puspa Dewi mempunyai adik? Mustahil! Setahunya Nyi
Lasmi hanya mempunyai seorang anak saja, yaitu Puspa Dewi!
"Anak Nyi
Lasmi? Benarkah ia itu Ibumu? Bagaimana mungkin?"
"Eh,
engkau tidak percaya, Adipati Linggawijaya? Kaukira aku berbohong? Selama
hidupku aku tidak pernah berbohong kecuali... kecuali dulu ketika masih
kecil!"
"Hemm,
ketika kecil suka bohong, ya?"
"Tentu
saja! Kalau aku melakukan kesalahan, aku berbohong agar jangan dihukum
Ayah."
"Akan tetapi,
Nimas Niken Harni. Setahuku, Nyi Lasmi tidak mempunyai anak lain. Puterinya
hanya seorang saja, yaitu Puspa Dewi."
"Mbakayu
Puspa Dewi itu kakakku, Kakak tiriku."
"Tidak
mungkin!"
"Heh,
Adipati Wengker, jangan main-main engkau! Aku tidak berbohong. Aku memang anak
tiri Nyi Lasmi!"
"Nimas,
aku bilang tidak mungkin bukan tidak percaya kepadamu, aku hanya merasa bingung
dan heran sekali karena aku mengenal benar Nyi Lasmi itu. Ia adalah Ibu
tiriku!"
"Eh? Ibu
tirimu? Mana mungkin...!"
"Hemm,
agaknya Mbakayumu Puspa Dewi belum menceritakannya kepadamu. Ketahuilah bahwa
Nyi Lasmi pernah menjadi isteri Ayah kandungku selama lima tahun."
"Benarkah?
Siapa itu Ayah kandungmu?"
"Ayahku
adalah Tumenggung Suramenggala!"
"Jadi
engkau anak Suramenggala yang jahat itu? Kebetulan sekali kalau engkau anak
Suramenggala. Hayo katakan dimana adanya Nyi Lasmi yang diculik
Suramenggala!"
"Tenanglah,
Nimas Niken Harni. Agaknya engkau tidak mengetahui persoalannya dan hanya
mendengarkan satu pihak saja yang menjelek-jelekkan kami. Sarungkan pedangmu.
Engkau berhadapan dengan sahabat, bukan musuh. Mari kita bicara dari hati ke
hati dan kuperkenalkan engkau kepada Ayah kandungku." Ucapan Linggawijaya
demikian lembut dan mengandung bujukan kuat sehingga biarpun tadinya ia ragu-ragu,
akan tetapi akhirnya Niken Harni menyarungkan pedangnya.
"Baik,
aku akan mendengarkan apa yang hendak kau bicarakan."
Adipati
Linggawijaya lalu menoleh dan memberi isarat kepada Ki Suramenggala untuk
memasuki pendopo. Para pengawal tinggal di bawah. Setelah Tumenggung
Suramenggala berada di situ, Adipati Linggawijaya memperkenalkan.
"Nimas
Niken Harni, inilah Ayahku, Tumenggung Suramenggala, suami Nyi Lasmi. Kanjeng
Rama, ini adalah Nimas Niken Harni yang mengaku sebagai anak tiri Ibu
Lasmi."
"Ah,
benarkah?" Tumenggung Suramenggala yang tadi sudah mendengarkan percakapan
mereka, memandang gadis itu dengan senyum ramah. "Niken Harni, bagaimana
ceritanya bahwa Andika adalah anak tiri Diajeng Lasmi?"
"Nimas,
mari kita duduk dan bicara dengan enak dl ruangan dalam." ajak
Linggawijaya dengan suara lembut dan sikap halus.
Niken Harni
yang masih hijau dan sama sekali belum berpengalaman, hanya melihat sikap dan
kata-kata orang untuk menilai baik buruknya orang itu, semakin tertarik dan ia
menganggap pemuda yang telah menjadi Adipati Wengker itu seorang yang amat baik
dan ramah, sopan pula. Maka bagaikan seekor domba yang tidak menyadari bahwa ia
digiring memasuki rumah jagal, ia mengikuti ayah dan anak itu masuk ke ruangan
dalam. Setelah berada di ruangan dalam yang cukup mewah dari gedung
tumenggungan itu, Niken Harni dipersilakan duduk menghadapi sebuah meja besar
dan dua orang ayah dan anak itu duduk di seberang meja.
"Nah, apa
yang hendak engkau bicarakan dengan aku, dan katakan di mana adanya Nyi Lasmi
sekarang!"
"Sabar,
Nimas. Mari kuceritakan dari permulaannya agar engkau mengetahui duduknya
perkara. Kurang lebih enam tujuh tahun yang lalu, Ayahku ini menjadi lurah di
Karang Tirta. Nyi Lasmi ketika itu tinggal dl Karang Tirta sebagai seorang
janda dengan seorang anak, yaitu Puspa Dewi. Kami saling mengenal dengan baik
karena tinggal sedusun. Kemudian, Nyi Lasmi menjadi isteri Ayahku, maka dengan
sendirinya Nyi Lasmi adalah Ibu tiriku. Selama lima tahun Nyi Lasmi menjadi
anggota keluarga kami sampai setahun lebih yang lalu terpaksa Nyi Lasmi
berpisah dari kami."
"Hemm,
aku sudah mendengar. Ki Suramenggala dicopot sebagai lurah oleh Gusti Patih
Narotama dan diusir keluar dari Karang Tirta, bukan?"
"Benar,
akan tetapi peristiwa itu terjadi karena ayahku difitnah oleh beberapa orang
dusun yang iri hati dan hendak merampas kedudukannya sebagai Lurah. Mereka itu
antara lain Ki Pujosaputro yang kemudian berhasil menjadi lurah. Ayahku
difitnah sehingga Ki Patih Narotama tertipu dan mengusir Ayah dan sekeluarga
kami. Atas bujukan Ki Pujosaputro pula, Ibu tiriku, Nyi Lasmi, tidak ikut
keluarga kami yang plndah ke sini. Nah, tentu saja Ayahku merasa sakit hati
kepada Ki Pujosaputro dan setelah Ayahku menjadi tumenggung di Wengker ini,
Ayah lalu mengirim orang-orang untuk membalas dendam, membunuh Ki Pujosaputro
sekeluarga dan mengajak Ibu Lasmi ke sini karena ia memang isteri Ayah."
Mendengar
cerita yang diucapkan Linggawijaya dengan gaya meyakinkan itu, Niken Harni
menjadi ragu.
"Kalau
begitu, benar Ibu Lasmi berada di sini? Di mana ia? Aku ingin bertemu dan
menanyakan kebenaran ceritamu itu kepadanya!"
"Nanti
dulu, Nimas. Ceritaku belum selesai. Sudah kuceritakan tadi bahwa Ibu Lasmi
mempunyai seorang puteri, yaitu Puspa Dewi. Nah, ketika guru Puspa Dewi yang
bernama Nyi Dewi Durgakumala menjadi permaisuri di Wurawuri, Puspa Dewi dengan
sendirinya menjadi Sekar Kedaton (Puteri Istana) karena ia telah dianggap anak
sendiri oleh Nyi Durgakumala. Maka, ketika terjadi perang antara Wura-wuri
bersama kadipaten lain termasuk Wengker ini, Puspa Dewi sebagai Sekar Kedaton
Wura-Wuri menjadi wakil Wura-Wuri untuk bekerja sama dengan kadipaten lain
dalam usaha kami merobohkan Kahuripan. Akan tetapi ternyata kemudian bahwa
Puspa Dewi telah membalik, membela Kahuripan dan mengkhianati persekutuan kami,
terutama mengkhianati Kerajaan Wura-Wuri."
"Hemm,
sudah sepantasnya kalau Mbakayu Puspa Dewi membela Kahuripan karena ia adalah
seorang kawula Kahuripan!"
"Engkau
benar, Nimas. Akan tetapi jangan lupa bahwa ia sudah diangkat menjadi Sekar Kedaton
Wura-Wuri dan menjadi wakil Wura-Wuri untuk menentang Kahuripan. Akan tetapi
kemudian ia membalik dan ini berarti pengkhianatan bagi Wura-Wuri. Tentu saja
gurunya, Nyi Dewi Durgakumala marah sekali dan ia sudah mengancam akan
menangkap murid atau anak angkat yang berkhianat itu untuk dihukum. Maka,
setelah Ibu Lasmi berada di sini dan mendengar akan ancaman dari Wura-Wuri
terhadap puterinya Itu, Ibu Lasmi gelisah sekali. Akhirnya, setelah kami
sekeluarga merundingkannya, Ibu Lasmi lalu mengambil keputusan untuk pergi ke
Wura-Wuri, menemui Nyi Dewi Durgakumala, disertai surat dari aku dan Kanjeng
Rama Tumenggung Suramenggala, dan mintakan maaf untuk Puspa Dewi. Nah,
begitulah ceritanya, Nimas."
"Jadi
sekarang ini Ibu Lasmi tidak berada di sini?"
"Beliau
sedang pergi ke Wura-Wuri, dikawal oleh sepasukan prajurit."
"Wah,
kalau begitu aku akan menyusul kesana!"
"Nanti
dulu, Nimas. Kami kira, hal itu amat tidak tepat dan bahkan dapat membahayakan
Ibu Lasmi. Kalau engkau pergi ke sana lalu terjadi kesalahpahaman, tentu usaha
Ibu Lasmi mintakan maaf atas kesalahan Puspa Dewi menjadi gagal dan bukan
mustahil beliau sendiri akan dijatuhi hukuman."
"Eh, lalu
bagaimana baiknya?"
"Nimas,
menurut perhitungan kami, dalam satu dua hari ini Ibu Lasmi pasti pulang ke sini.
Sebaiknya kalau engkau menanti saja kembalinya di sini. Bagaimanapun juga
engkau bukan orang lain bagi kami, masih terhitung sanak keluarga. Kita berdua
sama-sama anak tiri Ibu Lasmi, bukan?"
"Hemm....
kau pikir begitu sebaiknya?"
"Tidak
ada jalan lebih baik, Nimas. Mari kita makan dan selagi menanti para pelayan
mempersiapkan makanan, kami ingin sekali mendengar tentang hubunganmu dengan
Ibu Lasmi. Bagaimana duduknya perkara sehingga beliau kau sebut sebagai Ibu
tirimu?"
Niken Harni
sudah benar-benar terpengaruh oleh sikap dan kata-kata Linggawijaya. Tumenggung
Suramenggala sejak tadi hanya mendengarkan dan tidak mau ikut bicara, khawatir
kalau-kalau dia salah omong. Dia mendengarkan dan merasa girang dan kagum
sekali akan kecerdikan puteranya.
"Begini
ceritanya. Ibu Lasmi dulu adalah isteri dari Ayahku. Ketika itu, Ibu Lasmi
tinggal di dusun dan Ayah bekerja di kota raja Kahuripan. Di kota raja Ayah
menikah lagi dengan Ibuku. Hal ini membuat Ibu Lasmi meninggalkan dusun bersama
puterinya, yaitu Mbakayu Puspa Dewi. Ayahku, dan seluruh keluarga Ibuku
mencari-carinya tanpa hasil. Baru setelah Mbakayu Puspa Dewi datang mencari
Ayah, kami tahu bahwa Ibu Lasmi berada di Karang Tirta. Kami semua pergi ke
Karang Tirta dan ternyata terjadi peristiwa hilangnya Ibu Lasmi. Mbakayu Puspa
Dewi melakukan pengejaran, dan aku menyusulnya. Apakah Mbakayu Puspa Dewi belum
tiba di sini?"
Linggawijaya
sudah mendengar pelaporan para prajurit yang dipaksa mengaku oleh Puspa Dewi
dan prajurit terakhir yang ditangkap gadis itu melaporkan bahwa dia terpaksa
memberitahu bahwa Nyi Lasmi dikawal pasukan ke Wura-Wuri. Maka, Linggawijaya
dapat menduga bahwa tentu Puspa Dewi langsung melakukan pengejaran ke
Wura-Wuri. Bagaimanapun juga, Puspa Dewi merupakan ancaman dan kalau sekarang dia
dapat menahan Niken Harni, dia dapat mempergunakan gadis ini sebagai sandera.
"Ya,
Puspa Dewi adikku itu sudah sampai di sini dan mendengar bahwa ibunya pergi ke
Wura-Wuri, ia menjadi khawatir dan pergi menyusulnya. Maka dari itu, Niken
Harni, adikku yang manis, engkau menunggu saja di sini. Aku yakin besok atau
lusa, Ibu Lasmi dan Adik Puspa Dewi tentu akan datang ke sini. Baru engkau
dapat melihat sendiri betapa baik dan akrabnya hubungan kami satu sama
lain."
Niken Harni
mengangguk-angguk. Memang dalam hatinya ia merasa bingung. Kalau menurut cerita
mbakayu-nya itu, Ki Suramenggala dan Linggawijaya ini adalah orang-orang jahat.
Akan tetapi sekarang ia melihat kenyataan bahwa pemuda ini sungguh halus tutur
sapanya, baik budi bahasanya, tampan menarik pula. Mana yang benar?
"Biarlah
aku menanti di sini dan melihat bagaimana hubungan antara kalian." katanya
seperti menjawab pertanyaan hatinya sendiri.
Bukan main
girangnya hati Linggawijaya dan Suramenggala. Tumenggung itu memesan para
isterinya dan para pelayan untuk bersikap ramah dan baik terhadap Niken Harni,
kemudian dia memperkenalkan keluarganya itu kepada Niken Harni. Tentu saja
gadis ini semakin senang melihat keramahan mereka dan menganggap bahwa keluarga
ini benar-benar baik hati. Sebuah kamar yang indah disediakan untuknya, dan
keluarga itu mengadakan pesta untuk menyambut kedatangan gadis ini.
Gembira juga
hati Niken Harni diajak makan minum semeriah itu. Kemudian, setelah makan minum
sampai puas, ia di persilakan membersihkan diri mandi, lalu diberi kesempatan
untuk mengaso, tidur di kamar yang disediakan untuknya. Karena memang ia merasa
lelah dan lapar, juga pakaiannya dan tubuhnya kotor oleh debu, maka sekarang
setelah makan dan mandi, sebentar saja Niken Harni sudah tertidur pulas dalam
kamar itu!
Menjelang sore
hari Niken Harni terbangun. Ia merasa tubuhnya segar. Seorang Isteri selir
Tumenggung Suramenggala memasuki kamar dan menaruh seperangkat pakaian di atas
meja.
No comments:
Post a Comment