Nurseta Satria Karangtirta ; Bagian 30


Ia melangkah dengan hati-hati agar jangan membangunkan gadis itu. Akan tetapi Niken Harni sudah terbangun dan ia cepat bangkit duduk.
"Bibi, apakah itu?" tanyanya kepada wanita yang tadi sudah diperkenalkan kepadanya sebagai seorang di antara isteri-isteri Tumenggung Suramenggala.
Wanita itu terkejut karena tidak mengira gadis itu sudah terbangun.
"Ah, engkau sudah bangun?" katanya sambil mengambil pakaian tadi dari atas meja.
"Nak Niken Harni, ini kami sediakan pakaian pengganti untukmu. Mandi dan berganti pakaianlah agar engkau merasa segar. Hari telah hampir senja."
"Wah, terima kasih, Bibi. Sungguh Andika sekalian di sini amat baik kepadaku, membuat aku menjadi sungkan."
"Mengapa sungkan, Niken? Bagaimana pun juga, biarpun bukan langsung, engkau masih terhitung sanak keluarga kami. Nah, sekarang mandi dan bertukar pakaianlah. Kami menantimu di ruangan makan."
"Makan lagi?" seru Niken Harni.
Wanita itu tersenyum. Manis sekali walaupun usianya sudah hampir empat puluh tahun.
"Tentu saja, Niken. Tadi kita makan siang, dan nanti makan malam."
"Wah, sudah setengah hari aku tertidur?" Niken Harni berseru kaget dan ia lalu berlari ke kamar mandi sambil membawa pakaian pengganti itu.
Selir Ki Suramenggala itu tertawa dan diam-diam ia merasa suka kepada gadis yang lincah dan bersikap polos itu. Tak lama kemudian, dengan pakaian yang baru dan bersih, dan rias wajah sederhaha, hanya rambut panjang yang habis dikeramas itu disisir dan digelung, kulit muka yang putih mulus itu dilapisi bedak tipis dan bibir yang merah alami tanpa gincu itu hanya dibasahi dengan lidah, sinom (anak rambut) halus melingkar di pelipis dan dahi, Niken Harni tampak cantik manis bukan main!
Semua orang, terutama Linggawijaya yang sudah datang lagi setelah tadi pulang ke kadipaten, memandang kagum. Kalau dibiarkan, mungkin Linggawijaya akan mengilar seperti seekor srigala kelaparan melihat seekor domba muda yang dagingnya lembut dan darahnya hangat! Sambil tersenyum manis kepada semua orang yang sudah berkumpul di ruangan dalam depan kamarnya, Niken Harni memasuki ruangan itu.
Adipati Linggawijaya bangkit berdiri menyambut Niken Harni dan berkata dengan ramah dan lembut.
"Diajeng Niken Harni, mari kita makan malam bersama, sejak tadi sudah disediakan untuk kita."
"Sang Adipati.... "
"Ahh, mengapa engkau menyebut aku begitu? Kita ini bagaimanapun juga masih terhitung kakak beradik, bukan? Engkau anak tiri Nyi Lasmi, akupun juga, maka engkau adalah Adikku dan sepatutnya engkau menyebut aku kakangmas!" tegur Linggawijaya.
"Hemm, baiklah, Kakangmas Adipati Linggawijaya!" kata gadis itu sambil tersenyum lucu, seolah-olah ucapannya itu hanya gurauan saja. "Akan tetapi, Kakang-mas, mengapa semua anggota tidak ikut makan seperti siang tadi?" katanya ketika melihat bahwa Linggawijaya hanya mengajak ia sendiri memasuki ruangan makan.
"Tidak, Diajeng. Siang tadi kami memang sengaja mengadakan penyambutan kepadamu sehingga seluruh keluarga hadir dan ikut dalam perjamuan makan. Akan tetapi malam ini, aku ingin kita makan berdua karena banyak yang ingin kubicarakan denganmu."
Niken Harni tidak membantah lagi karena tentu saja ia sebagai tamu hanya menurut saja kepada apa yang telah diatur oleh pihak tuan rumah. Dan Linggawijaya bukan tuan rumah sembarangan, melainkan Adipati Wengker, orang nomor satu di kadipaten itu!

Biarpun dia ingin sekali memiliki tubuh gadis ini, namun Linggawijaya tidak mau mempergunakan pembius. Dia ingin agar Niken Harni menyerahkan diri kepadanya dengan suka rela. Dia tahu bahwa gadis ini masih hijau, tentu akan mudah dia jatuhkan dengan rayuan mautnya!
Mereka makan minum sambil bercakap-cakap.
"Diajeng Niken, tadi engkau sudah menceritakan tentang hubunganmu dengan ibu kita Nyi Lasmi. Akan tetapi engkau belum menceritakan dengan jelas siapa nama Ayahmu dan siapa pula Ibu kandungmu. Mengingat bahwa kita masih saudara, maka sudah sepatutnya kalau aku mengetahui lebih banyak tentang orang tuamu."
Sambil makan Niken Harni menceritakan keadaan orang tuanya.
"Ayahku adalah senopati muda Kahuripan bernama Senopati Yudajaya, sebelum menjadi senopati bernama Prasetyo. Adapun Ibu kandungku bernama Dyah Mularsih, Puteri dari Eyang Tumenggung Jayatanu di Kahuripan. Kami semua tinggal di kota raja."
"Wah, kiranya engkau keturunan senopati dan tumenggung! Pantas saja engkau begini cantik, agung, dan sakti!" Linggawijaya memuji.
Niken Harni tersenyum, senang menerima pujian itu. Gadis mana yang tidak akan berbunga-bunga hatinya kalau mendapat pujian, apalagi pujian yang keluar dari mulut seorang pemuda yang selain tampan dan sakti, juga seorang adipati?
"Ih, Kakangmas, bisa saja memuji orang. Engkau sendiri seorang raja, seorang adipati, yang berkuasa penuh di Wengker. Aku telah mengenalmu sebagai kakak, akan tetapi engkau belum memperkenalkan aku kepada keluargamu. Kakangmas Adipati. Isterimu tentu cantik jelita seperti bidadari!"
"Ah, jauh dari persangkaanmu, Diajeng. Isteriku yang bernama Dewi Mayangsari sudah tua, dibandingkan dengan engkau, ia jauh kalah cantik!"
Kedua pipi Niken Harni berubah kemerahan. Pujian ini sudah terlalu, pikirnya. Masa ia dipuji lebih cantik dari isteri adipati itu?
"Hemm, jangan bohong, Kakangmas."
"Tidak, Diajeng. Dewi Mayangsari permaisuriku itu sudah janda, usianya sudah hampir tiga puluh tahun sedangkan usiaku baru dua puluh satu tahun!"
"Akan tetapi selir-selirmu tentu masih muda-muda dan cantik jelita!"
"Salah lagi, Diajeng. Aku sama sekali tidak mempunyai seorang selir pun!"
"Ihh! Mana mungkin? Engkau seorang adipati! Sedangkan ayahmu yang hanya seorang tumenggung saja begitu banyak selirnya! Jangan bohong, ah!"
"Sungguh, Diajeng. Aku berani sumpah. Aku sungguh tidak mempunyai seorang pun selir. Siapa sih yang mau menjadi selir seorang seperti aku ini?"
"Wah, jangan terlalu merendahkan dirimu, Kakangmas. Siapa yang mau menjadi selirmu? Engkau seorang adipati, masih muda, tampan dan gagah perkasa! Aku yakin, setiap orang gadis akan senang sekali menjadi selirmu!"
Hati Linggawijaya girang sekali. Pancingannya mengena!
"Akan tetapi di sini tidak ada seorang pun gadis yang cantik, Diajeng."
"Kalau begitu Andika bisa mencari di lain tempat!"

Percakapan terhenti, agaknya Lingga-wijaya tidak dapat menjawab, padahal sebenarnya dia mulai mengerahkan Aji Pameletan Guna Asmara yang dia pelajari dari Lasmini, bekas selir Ki Patih Narotama yang dulu pernah berlangen-asmara dengan dia ketika masih menjadi selir Ki Patih Narotama. Kini Lingga-wijaya mulai mengerahkan ajian itu untuk mempengaruhi Niken Harni. Setelah merasa bahwa pengerahan Aji Pengasihan atau Aji Pameletan itu sudah mencapai kekuatan puncak, baru dia bicara lagi. Ketika Itu mereka telah selesal makan.
"Diajeng Niken Harni, dalam ruangan ini hawanya kurang enak. Mari kita bicara di dalam taman. Taman tumenggungan ini luas dan indah sekali, dan malam ini terang bulan, tahukah engkau?"
Dengan sepasang pipi berwarna kemerahan, Niken Harni memandang wajah adipati itu dengan mata berseri dan mulut tersenyum manis. Ada sesuatu yang membuat jantungnya berdebar. Ia merasa tertarik dan suka sekali kepada pemuda ini! Ia tidak menyadari bahwa ini adalah pengaruh rayuan ditambahi aji pameletan yang di kerahkan Linggawijaya untuk mempengaruhinya. Ketika pemuda itu mengajaknya keluar, ke taman, ia pun hanya mengangguk dan tersenyum. Bahkan ketika mereka berdua memasuki taman yang memang teratur indah, di malam terang bulan, tangan kanan Linggawijaya memegang tangan kirinya dan menggandengnya, Niken Harni tidak menolak. Hatinya berbisik, apa salahnya bergandengan tangan antara adik dan kakak?
Taman itu memang indah. Dihias lampu warna-warni di sana-sini dan berbagai macam bunga berkembang, semerbak harum. Ditambah lagi dengan sinar bulan, maka suasananya sungguh indah dan menggairahkan. Linggawijaya mengajak Niken Harni berjalan-jalan sampai ke tengah taman di mana terdapat sebuah pondok kecil mungil. Mereka duduk di atas bangku panjang di luar pondok, menghadapi kolam ikan emas, yang selaln tampak ikan berbagai warna berenang-renang, juga ditumbuhi beberapa tangkai bunga teratai merah.
Mereka duduk bersanding. Linggawijaya bersikap hati-hati, dan dia sudah melepaskan pegangan tangannya. Niken Harni duduk diam seperti terpesona. Ia masih merasakan daya tarik yang amat kuat keluar dari pemuda itu, daya tarik yang penuh cinta kasih. Akan tetapi ia menganggap hal itu sebagai kasih sayang seorang kakak kepada adiknya. Pendidikan moral yang ketat dan tinggi dari ayah, Ibu, dan kakeknya membentuk benteng pertahanan yang kokoh kuat walaupun benteng itu pada saat ini agak goyah oleh daya aji pameletan yang kuat.
"Diajeng, mari kita lanjutkan pembicaraan kita di ruangan makan tadi. Sampai di mana pembicaraan kita?"
Niken Harni mengingat-ingat, lalu tersenyum dan berkata.
"Engkau mengatakan bahwa di sini tidak ada seorang pun gadis yang cantik, dan aku berkata bahwa engkau dapat mencari di lain tempat, Kakangmas."
Linggawijaya menggeleng kepala.
"Biarpun di lain daerah terdapat banyak wanita cantik, akan tetapi aku tidak suka, Diajeng. Aku tidak dapat jatuh cinta kepada mereka. Ahh, kalau saja ada seorang gadis seperti engkau, Diajeng, seorang saja yang mau menjadi teman hidupku, aku akan hidup berbahagia selamanya." Setelah berkata demikian, kembali tangan kanan Linggawijaya menggenggam tangan kiri Niken Harni. Gadis ini sama sekali belum pernah bergaul dekat dengan pria, maka ia tidak menyadari betapa pemuda di sampingnya itu telah terbakar nafsu berahinya sendiri. Biarpun jantungnya berdebar dan merasa aneh, Niken Harni masih membiarkan saja tangannya dipegang dan diam-diam ia merasa iba kepada pemuda yang mengaku masih sanak dengannya itu.
"Kakangmas, jangan putus asa. Aku yakin bahwa engkau pasti akan dapat menemukan seorang gadis yang pantas untuk menjadi selirmu."
"Tidak, Diajeng. Aku hanya menginginkan engkau seorang! Engkaulah yang pantas menjadi kawan hidupku!"

Melihat kini sinar mata pemuda itu memandang kepadanya seolah mata seekor harimau yang hendak menerkamnya, Niken Harni terkejut sekali.
"Kakangmas! Ingatlah, aku ini Adikmu! Kita masih bersaudara."
"Tidak mengapa, Diajeng. Kita berlainan Ibu berlainan Ayah. Kita tidak sedarah daging. Diajeng Niken Harni, aku cinta padamu, Diajeng. Begitu melihatmu, aku jatuh cinta padamu. Engkau seorang yang pantas menjadi selirku. Mari, Diajeng..!"
Kini Linggawijaya merangkul dengan penuh keyakinan bahwa gadis itu pasti tidak menolaknya karena telah terpengaruh aji pameletannya. Memang pada saat itu, hati dan pikiran Niken Harni telah terpikat dan kacau, namun jiwanya yang bersih menolongnya. Hati nuraninya mengatakan tidak dan menolak kemesraan yang akan dilakukan pemuda itu terhadap dirinya. Ia cepat meronta melepaskan diri dari rangkulan Linggawijaya dan melompat berdiri agak menjauh.
"Tidak! Aku tidak mau menjadi isterimu, Kakangmas. Aku tidak mau menjadi isteri siapapun juga saat ini!" bentaknya dan ia mulai marah.
Akan tetapi nafsu dalam diri Linggawijaya telah berkobar membakar dirinya. Apa pun yang terjadi, dia harus memiliki gadis itu.
"Diajeng, jangan menolak aku!" bentaknya dan dia sudah menubruk dengan cepat sekali. Niken Harni marah dan hendak memukul, akan tetapi tiba-tiba tubuhnya tak dapat bergerak ketika Linggawijaya menepuk tengkuknya. Tentu saja di bandingkan kesaktian Linggawijaya, kepandaian gadis ini tidak ada artinya. Ia terkulai lemas dan kaki tangannya tidak dapat digerakkan dengan tenaga besar. Linggawijaya merangkulnya dan pemuda ini merasa penasaran sekali. Bagaimana mungkin aji pameletannya gagal menundukkan gadis ini? Sebetulnya dia igin menundukkan gadis ini agar ia menyerahkan diri dengan suka rela, akan tetapi karena hal itu tidak mungkin, terpaksa dia akan menggunakan kekerasan! Bukan hanya karena berani yang membuat dia ingin menguasai Niken Harni, akan tetapi terutama untuk menggunakan sebagai perisai untuk memaksa Puspa Dewi tidak memusuhinya!
"Diajeng Niken Harni yang cantik manis, sekarang engkau akan menjadi isteriku!" kata Linggawijaya dan dia memondong tubuh itu lalu melangkah menuju pintu pondok.
"Jahanam! Jahat engkau! Terkutuk!" Niken Harni hendak meronta, namun tenaganya tidak dapat ia kerahkan.
Linggawijaya merasa senang sekali ketika merasa betapa tubuh yang padat dan hangat itu meronta-ronta dengan lemah dalam pondongannya.

<<< Bagian 29                                                                                          Bagian 31 >>>

No comments:

Post a Comment