Ia melangkah dengan hati-hati agar jangan membangunkan gadis itu. Akan tetapi Niken Harni sudah terbangun dan ia cepat bangkit duduk.
"Bibi, apakah
itu?" tanyanya kepada wanita yang tadi sudah diperkenalkan kepadanya
sebagai seorang di antara isteri-isteri Tumenggung Suramenggala.
Wanita itu
terkejut karena tidak mengira gadis itu sudah terbangun.
"Ah,
engkau sudah bangun?" katanya sambil mengambil pakaian tadi dari atas
meja.
"Nak
Niken Harni, ini kami sediakan pakaian pengganti untukmu. Mandi dan berganti
pakaianlah agar engkau merasa segar. Hari telah hampir senja."
"Wah,
terima kasih, Bibi. Sungguh Andika sekalian di sini amat baik kepadaku, membuat
aku menjadi sungkan."
"Mengapa
sungkan, Niken? Bagaimana pun juga, biarpun bukan langsung, engkau masih
terhitung sanak keluarga kami. Nah, sekarang mandi dan bertukar pakaianlah.
Kami menantimu di ruangan makan."
"Makan
lagi?" seru Niken Harni.
Wanita itu
tersenyum. Manis sekali walaupun usianya sudah hampir empat puluh tahun.
"Tentu
saja, Niken. Tadi kita makan siang, dan nanti makan malam."
"Wah,
sudah setengah hari aku tertidur?" Niken Harni berseru kaget dan ia lalu
berlari ke kamar mandi sambil membawa pakaian pengganti itu.
Selir Ki
Suramenggala itu tertawa dan diam-diam ia merasa suka kepada gadis yang lincah
dan bersikap polos itu. Tak lama kemudian, dengan pakaian yang baru dan bersih,
dan rias wajah sederhaha, hanya rambut panjang yang habis dikeramas itu disisir
dan digelung, kulit muka yang putih mulus itu dilapisi bedak tipis dan bibir
yang merah alami tanpa gincu itu hanya dibasahi dengan lidah, sinom (anak
rambut) halus melingkar di pelipis dan dahi, Niken Harni tampak cantik manis bukan
main!
Semua orang,
terutama Linggawijaya yang sudah datang lagi setelah tadi pulang ke kadipaten,
memandang kagum. Kalau dibiarkan, mungkin Linggawijaya akan mengilar seperti
seekor srigala kelaparan melihat seekor domba muda yang dagingnya lembut dan darahnya
hangat! Sambil tersenyum manis kepada semua orang yang sudah berkumpul di
ruangan dalam depan kamarnya, Niken Harni memasuki ruangan itu.
Adipati
Linggawijaya bangkit berdiri menyambut Niken Harni dan berkata dengan ramah dan
lembut.
"Diajeng
Niken Harni, mari kita makan malam bersama, sejak tadi sudah disediakan untuk
kita."
"Sang
Adipati.... "
"Ahh,
mengapa engkau menyebut aku begitu? Kita ini bagaimanapun juga masih terhitung
kakak beradik, bukan? Engkau anak tiri Nyi Lasmi, akupun juga, maka engkau
adalah Adikku dan sepatutnya engkau menyebut aku kakangmas!" tegur
Linggawijaya.
"Hemm,
baiklah, Kakangmas Adipati Linggawijaya!" kata gadis itu sambil tersenyum
lucu, seolah-olah ucapannya itu hanya gurauan saja. "Akan tetapi,
Kakang-mas, mengapa semua anggota tidak ikut makan seperti siang tadi?"
katanya ketika melihat bahwa Linggawijaya hanya mengajak ia sendiri memasuki
ruangan makan.
"Tidak,
Diajeng. Siang tadi kami memang sengaja mengadakan penyambutan kepadamu
sehingga seluruh keluarga hadir dan ikut dalam perjamuan makan. Akan tetapi
malam ini, aku ingin kita makan berdua karena banyak yang ingin kubicarakan
denganmu."
Niken Harni
tidak membantah lagi karena tentu saja ia sebagai tamu hanya menurut saja
kepada apa yang telah diatur oleh pihak tuan rumah. Dan Linggawijaya bukan tuan
rumah sembarangan, melainkan Adipati Wengker, orang nomor satu di kadipaten
itu!
Biarpun dia
ingin sekali memiliki tubuh gadis ini, namun Linggawijaya tidak mau
mempergunakan pembius. Dia ingin agar Niken Harni menyerahkan diri kepadanya
dengan suka rela. Dia tahu bahwa gadis ini masih hijau, tentu akan mudah dia
jatuhkan dengan rayuan mautnya!
Mereka makan
minum sambil bercakap-cakap.
"Diajeng
Niken, tadi engkau sudah menceritakan tentang hubunganmu dengan ibu kita Nyi
Lasmi. Akan tetapi engkau belum menceritakan dengan jelas siapa nama Ayahmu dan
siapa pula Ibu kandungmu. Mengingat bahwa kita masih saudara, maka sudah
sepatutnya kalau aku mengetahui lebih banyak tentang orang tuamu."
Sambil makan
Niken Harni menceritakan keadaan orang tuanya.
"Ayahku
adalah senopati muda Kahuripan bernama Senopati Yudajaya, sebelum menjadi
senopati bernama Prasetyo. Adapun Ibu kandungku bernama Dyah Mularsih, Puteri
dari Eyang Tumenggung Jayatanu di Kahuripan. Kami semua tinggal di kota
raja."
"Wah,
kiranya engkau keturunan senopati dan tumenggung! Pantas saja engkau begini
cantik, agung, dan sakti!" Linggawijaya memuji.
Niken Harni
tersenyum, senang menerima pujian itu. Gadis mana yang tidak akan
berbunga-bunga hatinya kalau mendapat pujian, apalagi pujian yang keluar dari
mulut seorang pemuda yang selain tampan dan sakti, juga seorang adipati?
"Ih,
Kakangmas, bisa saja memuji orang. Engkau sendiri seorang raja, seorang
adipati, yang berkuasa penuh di Wengker. Aku telah mengenalmu sebagai kakak,
akan tetapi engkau belum memperkenalkan aku kepada keluargamu. Kakangmas
Adipati. Isterimu tentu cantik jelita seperti bidadari!"
"Ah, jauh
dari persangkaanmu, Diajeng. Isteriku yang bernama Dewi Mayangsari sudah tua,
dibandingkan dengan engkau, ia jauh kalah cantik!"
Kedua pipi
Niken Harni berubah kemerahan. Pujian ini sudah terlalu, pikirnya. Masa ia
dipuji lebih cantik dari isteri adipati itu?
"Hemm,
jangan bohong, Kakangmas."
"Tidak,
Diajeng. Dewi Mayangsari permaisuriku itu sudah janda, usianya sudah hampir
tiga puluh tahun sedangkan usiaku baru dua puluh satu tahun!"
"Akan
tetapi selir-selirmu tentu masih muda-muda dan cantik jelita!"
"Salah
lagi, Diajeng. Aku sama sekali tidak mempunyai seorang selir pun!"
"Ihh!
Mana mungkin? Engkau seorang adipati! Sedangkan ayahmu yang hanya seorang
tumenggung saja begitu banyak selirnya! Jangan bohong, ah!"
"Sungguh,
Diajeng. Aku berani sumpah. Aku sungguh tidak mempunyai seorang pun selir.
Siapa sih yang mau menjadi selir seorang seperti aku ini?"
"Wah,
jangan terlalu merendahkan dirimu, Kakangmas. Siapa yang mau menjadi selirmu?
Engkau seorang adipati, masih muda, tampan dan gagah perkasa! Aku yakin, setiap
orang gadis akan senang sekali menjadi selirmu!"
Hati
Linggawijaya girang sekali. Pancingannya mengena!
"Akan
tetapi di sini tidak ada seorang pun gadis yang cantik, Diajeng."
"Kalau
begitu Andika bisa mencari di lain tempat!"
Percakapan
terhenti, agaknya Lingga-wijaya tidak dapat menjawab, padahal sebenarnya dia
mulai mengerahkan Aji Pameletan Guna Asmara yang dia pelajari dari Lasmini,
bekas selir Ki Patih Narotama yang dulu pernah berlangen-asmara dengan dia
ketika masih menjadi selir Ki Patih Narotama. Kini Lingga-wijaya mulai
mengerahkan ajian itu untuk mempengaruhi Niken Harni. Setelah merasa bahwa
pengerahan Aji Pengasihan atau Aji Pameletan itu sudah mencapai kekuatan
puncak, baru dia bicara lagi. Ketika Itu mereka telah selesal makan.
"Diajeng
Niken Harni, dalam ruangan ini hawanya kurang enak. Mari kita bicara di dalam
taman. Taman tumenggungan ini luas dan indah sekali, dan malam ini terang
bulan, tahukah engkau?"
Dengan
sepasang pipi berwarna kemerahan, Niken Harni memandang wajah adipati itu
dengan mata berseri dan mulut tersenyum manis. Ada sesuatu yang membuat
jantungnya berdebar. Ia merasa tertarik dan suka sekali kepada pemuda ini! Ia
tidak menyadari bahwa ini adalah pengaruh rayuan ditambahi aji pameletan yang
di kerahkan Linggawijaya untuk mempengaruhinya. Ketika pemuda itu mengajaknya
keluar, ke taman, ia pun hanya mengangguk dan tersenyum. Bahkan ketika mereka
berdua memasuki taman yang memang teratur indah, di malam terang bulan, tangan
kanan Linggawijaya memegang tangan kirinya dan menggandengnya, Niken Harni
tidak menolak. Hatinya berbisik, apa salahnya bergandengan tangan antara adik
dan kakak?
Taman itu
memang indah. Dihias lampu warna-warni di sana-sini dan berbagai macam bunga
berkembang, semerbak harum. Ditambah lagi dengan sinar bulan, maka suasananya
sungguh indah dan menggairahkan. Linggawijaya mengajak Niken Harni
berjalan-jalan sampai ke tengah taman di mana terdapat sebuah pondok kecil
mungil. Mereka duduk di atas bangku panjang di luar pondok, menghadapi kolam
ikan emas, yang selaln tampak ikan berbagai warna berenang-renang, juga
ditumbuhi beberapa tangkai bunga teratai merah.
Mereka duduk
bersanding. Linggawijaya bersikap hati-hati, dan dia sudah melepaskan pegangan
tangannya. Niken Harni duduk diam seperti terpesona. Ia masih merasakan daya
tarik yang amat kuat keluar dari pemuda itu, daya tarik yang penuh cinta kasih.
Akan tetapi ia menganggap hal itu sebagai kasih sayang seorang kakak kepada
adiknya. Pendidikan moral yang ketat dan tinggi dari ayah, Ibu, dan kakeknya
membentuk benteng pertahanan yang kokoh kuat walaupun benteng itu pada saat ini
agak goyah oleh daya aji pameletan yang kuat.
"Diajeng,
mari kita lanjutkan pembicaraan kita di ruangan makan tadi. Sampai di mana
pembicaraan kita?"
Niken Harni
mengingat-ingat, lalu tersenyum dan berkata.
"Engkau
mengatakan bahwa di sini tidak ada seorang pun gadis yang cantik, dan aku
berkata bahwa engkau dapat mencari di lain tempat, Kakangmas."
Linggawijaya
menggeleng kepala.
"Biarpun
di lain daerah terdapat banyak wanita cantik, akan tetapi aku tidak suka,
Diajeng. Aku tidak dapat jatuh cinta kepada mereka. Ahh, kalau saja ada seorang
gadis seperti engkau, Diajeng, seorang saja yang mau menjadi teman hidupku, aku
akan hidup berbahagia selamanya." Setelah berkata demikian, kembali tangan
kanan Linggawijaya menggenggam tangan kiri Niken Harni. Gadis ini sama sekali
belum pernah bergaul dekat dengan pria, maka ia tidak menyadari betapa pemuda di
sampingnya itu telah terbakar nafsu berahinya sendiri. Biarpun jantungnya
berdebar dan merasa aneh, Niken Harni masih membiarkan saja tangannya dipegang
dan diam-diam ia merasa iba kepada pemuda yang mengaku masih sanak dengannya
itu.
"Kakangmas,
jangan putus asa. Aku yakin bahwa engkau pasti akan dapat menemukan seorang
gadis yang pantas untuk menjadi selirmu."
"Tidak,
Diajeng. Aku hanya menginginkan engkau seorang! Engkaulah yang pantas menjadi
kawan hidupku!"
Melihat kini
sinar mata pemuda itu memandang kepadanya seolah mata seekor harimau yang
hendak menerkamnya, Niken Harni terkejut sekali.
"Kakangmas!
Ingatlah, aku ini Adikmu! Kita masih bersaudara."
"Tidak
mengapa, Diajeng. Kita berlainan Ibu berlainan Ayah. Kita tidak sedarah daging.
Diajeng Niken Harni, aku cinta padamu, Diajeng. Begitu melihatmu, aku jatuh
cinta padamu. Engkau seorang yang pantas menjadi selirku. Mari,
Diajeng..!"
Kini
Linggawijaya merangkul dengan penuh keyakinan bahwa gadis itu pasti tidak
menolaknya karena telah terpengaruh aji pameletannya. Memang pada saat itu,
hati dan pikiran Niken Harni telah terpikat dan kacau, namun jiwanya yang
bersih menolongnya. Hati nuraninya mengatakan tidak dan menolak kemesraan yang
akan dilakukan pemuda itu terhadap dirinya. Ia cepat meronta melepaskan diri
dari rangkulan Linggawijaya dan melompat berdiri agak menjauh.
"Tidak!
Aku tidak mau menjadi isterimu, Kakangmas. Aku tidak mau menjadi isteri
siapapun juga saat ini!" bentaknya dan ia mulai marah.
Akan tetapi
nafsu dalam diri Linggawijaya telah berkobar membakar dirinya. Apa pun yang
terjadi, dia harus memiliki gadis itu.
"Diajeng,
jangan menolak aku!" bentaknya dan dia sudah menubruk dengan cepat sekali.
Niken Harni marah dan hendak memukul, akan tetapi tiba-tiba tubuhnya tak dapat
bergerak ketika Linggawijaya menepuk tengkuknya. Tentu saja di bandingkan
kesaktian Linggawijaya, kepandaian gadis ini tidak ada artinya. Ia terkulai
lemas dan kaki tangannya tidak dapat digerakkan dengan tenaga besar.
Linggawijaya merangkulnya dan pemuda ini merasa penasaran sekali. Bagaimana
mungkin aji pameletannya gagal menundukkan gadis ini? Sebetulnya dia igin
menundukkan gadis ini agar ia menyerahkan diri dengan suka rela, akan tetapi
karena hal itu tidak mungkin, terpaksa dia akan menggunakan kekerasan! Bukan
hanya karena berani yang membuat dia ingin menguasai Niken Harni, akan tetapi
terutama untuk menggunakan sebagai perisai untuk memaksa Puspa Dewi tidak
memusuhinya!
"Diajeng
Niken Harni yang cantik manis, sekarang engkau akan menjadi isteriku!"
kata Linggawijaya dan dia memondong tubuh itu lalu melangkah menuju pintu
pondok.
"Jahanam!
Jahat engkau! Terkutuk!" Niken Harni hendak meronta, namun tenaganya tidak
dapat ia kerahkan.
Linggawijaya
merasa senang sekali ketika merasa betapa tubuh yang padat dan hangat itu meronta-ronta
dengan lemah dalam pondongannya.
No comments:
Post a Comment