Saking girangnya, dia tertawa bergelak sambil melangkah ke pintu pondok dan dorongan kakinya membuat daun pintu pondok itu terbuka lebar. Dalam pondok itu telah terdapat sebuah lampu gantung yang bernyala cukup terang karena memang sebelumnya Linggawijaya telah mempersiapkannya.
Akan tetapi,
tiba-tiba suara tawa Linggawijaya terhenti dan matanya terbelalak memandang ke
dalam pondok. Dari dalam pondok itu tampak awan hitam melayang-layang dan
berputaran menghadang sampai ke pintu pondok! Linggawijaya adalah seorang
sakti. Melihat kejadian aneh ini, dia dapat menduga bahwa tentu ini perbuatan
manusia.
"Hei,
siapa yang berani main-main menggangguku? Aku adalah Sang Adipati Lingga-wijaya
dari Kerajaan Wengker!" dia membentak dengan suara mengandung tenaga sakti
yang dahsyat sehingga suara ini saja mempunyai daya yang ampuh untuk
melumpuhkan lawan. Akan tetapi awan hitam itu tidak bergeming dan kini terdengar
suara yang nyaring menusuk telinga.
"Linggawijaya,
bebaskan gadis ini!" Nada suaranya memerintah dan suara itu kecil tinggi
dan parau, suara seorang wanita tua.
"Jahanam,
siapa engkau? Kalau bukan iblis, perlihatkan dirimu!" Linggawijaya yang
selalu mengagulkan kepandaian dan kesaktiannya sendiri itu, membentak dan
memaki.
Terdengar
suara tawa cekikikan, makin lama semakin nyaring dan Linggawijaya terkejut
bukan main ketika merasa betapa suara tawa itu mengguncang jantungnya. Cepat
dia melepaskan tubuh Niken Harni yang jatuh terduduk di bawah anak tangga
pondok, lalu Linggawijaya mengerahkan tenaga saktinya untuk melindungi jantung
dan perasaannya. Perlahan-lahan awan hitam itu menipis dan tampaklah sosok
tubuh seorang wanita tua. Makin lama sosok itu semakin jelas dan Linggawijaya
melihat seorang wanita tua berusia sekitar lima puluh tahun, masih ada bekas.
Kecantikan wajahnya, tubuhnya agak kurus dan pakaiannya serba hitam. Sepasang
matanya mencorong penuh wibawa dan menyeramkan. Melihat bahwa pengganggunya
hanya seorang wanita tua, Linggawijaya memandang rendah dan dia menjadi marah
sekali karena wanita itu mengganggu kesenangannya.
"Nenek
jahat, siapa engkau? Pergilah dan jangan menggangguku, atau engkau akan
menyesal nanti!"
"Hi-hi-hik!"
Nenek itu tertawa dan giginya masih berderet rapi dan putih terkena sinar
lampu.
"Bocah
sombong, engkau tidak berharga untuk mengenal namaku. Hayo engkau menggelinding
pergi dan tinggalkan gadis itu!"
Dapat
dibayangkan betapa marah hati Linggawijaya mendengar ucapan yang amat memandang
rendah bahkan menghinanya itu. Sementara itu, Niken Harni yang mendengar ucapan
nenek itu mengerti bahwa nenek itu hendak menolongnya, maka katanya dengan
nyaring tanpa dapat menggerakkan tubuhnya yang masih lumpuh.
"Bibi
yang baik, sikat saja! Orang ini jahat seperti ular berbisa! Curang licik
seperti bajing (tupai)! Dia memang bajingan (makian, penjahat)!"
Linggawijaya
sudah marah sekali dan sambil mengeluarkan bentakan menggelegar dia sudah
menerjang dan memukul dengan Aji Gelap Sewu yang amat kuat.
"Syuuuttt…
desss!!"
Bukan main
kagetnya hati Linggawijaya karena begitu pukulannya tiba dekat tubuh nenek itu,
tiba tiba saja ada hawa yang luar biasa kuatnya menolak sehingga dia tidak
mampu bertahan lagi, tubuhnya terlempar ke belakang dan bergulingan.
"Bagus!
Dia benar-benar menggelinding seperti bola!" Niken Harni biarpun belum
dapat bergerak, mengejek dan mentertawakan.
Linggawijaya
merasa terkejut dan heran. Bagaimana mungkin pukulannya dengan Aji Gelap Sewu
itu dapat mental kembali seolah bertemu dengan sesuatu yang amat kuat dan
lentur? Dia tidak percaya dan begitu dapat melompat bangun, dia sudah menerjang
lagi, lebih hebat daripada tadi, karena kini dia menggunakan Aji Sihung Naga,
pukulan tangannya yang teramat dahsyat sambil mengerahkan tenaga sakti Wisa
Langking yang mengubah kedua tangannya yang memukul berubah hitam karena
mengandung racun yang amat kuat.
"Wuuuuttt...
bresss...!!" Kembali tubuh Linggawijaya terpental dan roboh
terguling-guling ke bawah anak tangga pondok!
"Horeee...!
Rasakan kamu sekarang, manusia busuk!" Niken Harni bersorak.
Linggawijaya
adalah seorang yang terlalu mengagulkan kesaktian sendiri dan memandang rendah
kepandaian orang lain. Kalau tidak demikian wataknya, tentu kini dia sudah
menyadari benar bahwa lawannya ini adalah seorang yang memiliki kesaktian hebat
yang melampaui tingkatnya sendiri. Sebaliknya, dia malah menjadi semakin
penasaran dan marah. Karena pada saat itu dia tidak membawa senjatanya Pecut
Tatit Ceni, maka dia segera mencabut kerisnya. Keris ini bukan keris
sembarangan, melainkan sebatang keris pusaka luk tiga belas yang disebut Kyai
Candalamauik. Begitu dicabut, lawan sudah merasakan getaran daya yang kuat
keluar dari pusaka itu. Akan tetapi sungguh aneh dan menyeramkan melihat betapa
nenek itu tertawa cekikikan melihat adipati itu memegang keris pusakanya,
seolah melihat seorang anak-anak nakal memegang pisau dapur saja! Linggawijaya
sudah mengumpulkan seluruh tenaga saktinya, tangan kirinya merogoh sekepal
pasir hitam dan melontarkan pasir itu ke arah nenek berpakaian hitam. Terdengar
suara berdengung-dengung seperti ada ribuan lebah beterbangan ketika pasir itu
menjadi sinar hitam menerjang ke arah lawan. Akan tetapi dengan tenang saja
nenek berpakaian hitam itu menggerakkan kedua tangannya, seperti menggapai ke
depan dan semua pasir sakti Brahmara Sewu itu pun rontok ke atas tanah, tak
sebutir pun mengenai tubuhnya! Linggawijaya melompat ke depan dan menusukkan
kerisnya!
Nenek itu
hanya terkekeh.
"Wuuuttt...
ceppp!"
Keris itu
menusuk perut dan seolah menancap masuk ke perut nenek itu. Akan tetapi nenek
itu tetap terkekeh, kemudian ia membentak dengan nyaring.
"Bocah
sombong, pergilah!"
Tiba-tiba dari
perutnya keluar hawa yang teramat kuat mendorong sehingga Linggawijaya bagaikan
sehelai daun kering tertiup angin, terlempar dan jatuh terbanting sampai
beberapa tombak jauhnya. Keris di tangannya itu ternyata tidak ada tanda darah
padahal tadi tampaknya menancap di perut nenek itu. Kepalanya menjadi pening
karena dia terbanting jatuh cukup keras.
"Horeeee...!
Mampus kamu sekarangl" Niken Harni bersorak.
Tiba-tiba ada
bayangan berkelebat dan Dewi Mayangsari telah berada di situ, membantu suaminya
bangun dan bertanya.
"Kakangmas
adipati, apa yang terjadi di sini? Aku menanti-nanti Andika sejak tadi belum
juga pulang dan..."
"Diajeng.....
bantulah aku.... melawan iblis betina itu..."
Dengan
telunjuk gemetar Linggawijaya menunjuk ke arah pintu pondok yang terbuka. Nenek
berpakaian hitam tadi sudah tidak ada lagi di situ. Dewi Mayangsari memandang
ke pintu pondok yang terbuka.
"Tidak
ada siapa-siapa di sana...." katanya dan tiba-tiba ia melihat Niken Harni
yang masih rebah duduk di atas tanah luar pondok.
"Eh,
siapa wanita Ini.,.?" tanyanya heran.
"Ia anak
tiri Nyi Lasmi. Aku hendak membunuhnya ketika muncul iblis wanita tua itu
menghalangiku." kata Linggawijaya.
"Dasar
bajingan!" Niken Harni berteriak.
"Dia
hendak menperkosaku tadi! Dia bohong, jahanam keparat Linggawijaya!"
Dewi
Mayangsari marah sekali.
"Biar
kubunuh gadis kurang ajar ini!"
Setelah
berkata demikian, Dewi Mayangsari mencabut sebatang keris kecil berwarna hitam
dan dengan gerakan cepat sekali ia menubruk ke arah Niken Harni sambil
menusukkan kerisnya ke arah dada gadis yang duduk bersandar batang pohon itu.
Karena tidak mampu bergerak, Niken Harni hanya menerima serangan itu dengan
mata memandang penuh kemarahan kepada penyerangnya. Keris ditusukkan dan...
"Tranggg...!"
keris itu terlepas dan terlempar dari tangan Dewi Mayangsari sehingga
permaisuri Wengker ini terkejut bukan main dan cepat melompat ke belakang.
Nenek berpakaian hitam tadi muncul di depan pintu. la yang menangkis serangan
keris yang hendak membunuh Niken Harni tadi.
Linggawijaya
sudah bangkit kembali
"Diajeng,
iblis ini tangguh sekali. Mari kita keroyok..."
Akan tetapi
Linggawijaya menghentikan kata-katanya ketika dia melihat isterinya itu
tiba-tiba maju bertekuk lutut dan menyembah ke arah nenek berpakaian hitam
sambil berkata dengan sikap hormat.
"Ibu
Guru…"
Linggawijaya
kaget bukan main dan dia hanya dapat berdiri mematung dengan mata terbelalak.
Kiranya nenek yang sakti mandraguna ini adalah guru terakhir isterinya, yaitu
Nini Bumigarbo yang terkenal sebagai seorang nenek yang aneh dan memiliki
kesaktian luar biasa, yang tidak pernah bergaul dengan orang biasa. Saking
kagetnya, dia hanya dapat berdiri terbelalak, tidak tahu harus bersikap dan
berkata bagaimana.
"Dewi
Mayangsari, apa kamu sudah melupakan pesanku yang menjadi syarat engkau
mempelajari ilmu dariku?" nenek itu yang bukan lain adalah Nini Bumigarbo
atau yang dulu bernama Ni Gayatri bertanya dengan suara penuh wibawa.
"Murid
tidak pernah melupakannya."
"Hemm,
coba ulangi apa pesanku itu."
"Bahwa
murid harus berusaha untuk memusuhi Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama,
dan berusaha untuk membunuh mereka."
"Dan kamu
sudah melaksanakan itu?" tanya Nenek itu dengan ketus.
"Ampun,
Ibu Guru, murid sedang berusaha. Murid telah memilih Linggawijaya sebagai suami
agar kami berdua bersama-sama dapat menyusun kekuatan untuk menyerang
Kahuripan."
"Huh,
mana mungkin akan berhasil kalau suamimu ini hanya mengejar wanita dan menjadi
budak nafsunya sendiri, hanya ingin bersenang-senang sendiri saja?"
"Ampunkan
kami, Ibu Guru. Kedudukan Erlangga dan Narotama amat kuat. Kami harus menyusun
kekuatan dan bersekutu dengan para kadipaten lain agar berhasil. Murid tidak
pernah melupakan pesan Paduka itu dan sedang mencari jalan dan menyusun
kekuatan."
"Hemm,
kuberi waktu setahun lagi. Kalau belum juga kau laksanakan membunuh Erlangga
dan Narotama, aku akan datang lagi dan mencabut semua ilmumu dariku dan mungkin
juga nyawamu! Hayo, gadis cilik, engkau ikut aku!" Setelah berkata
demikian, Nini Bumigarbo dengan gerakan seperti terbang, melompat dekat Niken
Harni dan tahu-tahu gadis itu merasa dirinya diterbangkan! Orang lain melihat
betapa nenek itu lenyap seolah berubah menjadi awan hitam dan berkelebat lenyap
dari situ bersama Niken Harni!
Setelah nenek
itu pergi, Dewi Mayangsari menghampiri suaminya. Ia tahu akan watak suaminya
yang mata keranjang, maka kalau suaminya hendak memperkosa gadis mana pun, hal
itu tidak dipedulikannya benar. Akan tetapi kalau sampai suaminya membuat Nini
Bumigarbo marah, hal ini amat gawat.
"Kakangmas,
sebetulnya, apakah yang telah terjadi? Sungguh aneh dan tidak mengenakkan
sekali kalau sampai Ibu Guru Nini Bumigarbo datang dan marah kepada kita."
Linggawijaya
menghela napas panjang. Hatinya masih merasa tegang setelah peristiwa tadi.
Akan tetapi kini dia tidak merasa penasaran telah dipermainkan nenek itu seolah
dia seorang anak kecil yang tidak berdaya. Sudah lama dia mendengar akan
kesaktian Nini Bumigarbo yang sukar dicari keduanya pada waktu itu.
"Aduh,
Diajeng. Sungguh mati, aku sama sekali tidak menyangka bahwa ia itu adalah
gurumu, Nini Bumigarbo. Kalau aku tahu tentu aku sama sekali tidak berani
melawannya. Aku salah sangka dan mendapatkan pelajaran pahit sekali. Gurumu itu
benar-benar seorang manusia luar biasa dan memiliki kesaktian yang amat
hebat."
"Apakah
yang telah terjadi. Aku di kadipaten hanya mendengar bahwa di tumenggungan
kedatangan gadis yang mengamuk, dan aku menanti-nantimu akan tetapi engkau
tidak kunjung pulang. Hatiku merasa tidak enak maka aku menyusul ke sini."
"Untung
sekali engkau ke sini, Diajeng. Kalau tidak, mungkin aku tewas di tangan gurumu
itu."
"Tapi
mengapa guruku marah kepadamu?. Dan siapa pula gadis tadi?"
"Diajeng,
mari kita pulang dulu, nanti kuceritakan semua kepadamu. Lihat, orang-orang
mulai berdatangan." Kata Linggawijaya sambil menunjuk ke arah gedung
tumenggungan dari mana keluar orang-orang menuju ke taman.
Dewi
Mayangsari setuju. Mereka lalu menyambut Tumenggung Suramenggala dan
keluarganya yang memasuki taman dan berpamit untuk pulang ke kadipaten.
"Tapi, di
mana gadis liar tadi?" tanya Tumenggung Suramenggala kepada Linggawijaya
dengan suara mengandung kekhawatiran.
"Ah, ia
telah kami usir pergi." jawab Linggawijaya dan ayahnya tidak berani banyak
bertanya lagi. Adipati dan isterinya itu lalu kembali ke istana kadipaten
menunggang kereta yang disediakan oleh Tumenggung Suramenggala.
No comments:
Post a Comment