Nurseta Satria Karangtirta ; Bagian 31


Saking girangnya, dia tertawa bergelak sambil melangkah ke pintu pondok dan dorongan kakinya membuat daun pintu pondok itu terbuka lebar. Dalam pondok itu telah terdapat sebuah lampu gantung yang bernyala cukup terang karena memang sebelumnya Linggawijaya telah mempersiapkannya.

Akan tetapi, tiba-tiba suara tawa Linggawijaya terhenti dan matanya terbelalak memandang ke dalam pondok. Dari dalam pondok itu tampak awan hitam melayang-layang dan berputaran menghadang sampai ke pintu pondok! Linggawijaya adalah seorang sakti. Melihat kejadian aneh ini, dia dapat menduga bahwa tentu ini perbuatan manusia.
"Hei, siapa yang berani main-main menggangguku? Aku adalah Sang Adipati Lingga-wijaya dari Kerajaan Wengker!" dia membentak dengan suara mengandung tenaga sakti yang dahsyat sehingga suara ini saja mempunyai daya yang ampuh untuk melumpuhkan lawan. Akan tetapi awan hitam itu tidak bergeming dan kini terdengar suara yang nyaring menusuk telinga.
"Linggawijaya, bebaskan gadis ini!" Nada suaranya memerintah dan suara itu kecil tinggi dan parau, suara seorang wanita tua.
"Jahanam, siapa engkau? Kalau bukan iblis, perlihatkan dirimu!" Linggawijaya yang selalu mengagulkan kepandaian dan kesaktiannya sendiri itu, membentak dan memaki.
Terdengar suara tawa cekikikan, makin lama semakin nyaring dan Linggawijaya terkejut bukan main ketika merasa betapa suara tawa itu mengguncang jantungnya. Cepat dia melepaskan tubuh Niken Harni yang jatuh terduduk di bawah anak tangga pondok, lalu Linggawijaya mengerahkan tenaga saktinya untuk melindungi jantung dan perasaannya. Perlahan-lahan awan hitam itu menipis dan tampaklah sosok tubuh seorang wanita tua. Makin lama sosok itu semakin jelas dan Linggawijaya melihat seorang wanita tua berusia sekitar lima puluh tahun, masih ada bekas. Kecantikan wajahnya, tubuhnya agak kurus dan pakaiannya serba hitam. Sepasang matanya mencorong penuh wibawa dan menyeramkan. Melihat bahwa pengganggunya hanya seorang wanita tua, Linggawijaya memandang rendah dan dia menjadi marah sekali karena wanita itu mengganggu kesenangannya.
"Nenek jahat, siapa engkau? Pergilah dan jangan menggangguku, atau engkau akan menyesal nanti!"
"Hi-hi-hik!" Nenek itu tertawa dan giginya masih berderet rapi dan putih terkena sinar lampu.
"Bocah sombong, engkau tidak berharga untuk mengenal namaku. Hayo engkau menggelinding pergi dan tinggalkan gadis itu!"

Dapat dibayangkan betapa marah hati Linggawijaya mendengar ucapan yang amat memandang rendah bahkan menghinanya itu. Sementara itu, Niken Harni yang mendengar ucapan nenek itu mengerti bahwa nenek itu hendak menolongnya, maka katanya dengan nyaring tanpa dapat menggerakkan tubuhnya yang masih lumpuh.
"Bibi yang baik, sikat saja! Orang ini jahat seperti ular berbisa! Curang licik seperti bajing (tupai)! Dia memang bajingan (makian, penjahat)!"
Linggawijaya sudah marah sekali dan sambil mengeluarkan bentakan menggelegar dia sudah menerjang dan memukul dengan Aji Gelap Sewu yang amat kuat.
"Syuuuttt… desss!!"
Bukan main kagetnya hati Linggawijaya karena begitu pukulannya tiba dekat tubuh nenek itu, tiba tiba saja ada hawa yang luar biasa kuatnya menolak sehingga dia tidak mampu bertahan lagi, tubuhnya terlempar ke belakang dan bergulingan.
"Bagus! Dia benar-benar menggelinding seperti bola!" Niken Harni biarpun belum dapat bergerak, mengejek dan mentertawakan.
Linggawijaya merasa terkejut dan heran. Bagaimana mungkin pukulannya dengan Aji Gelap Sewu itu dapat mental kembali seolah bertemu dengan sesuatu yang amat kuat dan lentur? Dia tidak percaya dan begitu dapat melompat bangun, dia sudah menerjang lagi, lebih hebat daripada tadi, karena kini dia menggunakan Aji Sihung Naga, pukulan tangannya yang teramat dahsyat sambil mengerahkan tenaga sakti Wisa Langking yang mengubah kedua tangannya yang memukul berubah hitam karena mengandung racun yang amat kuat.
"Wuuuuttt... bresss...!!" Kembali tubuh Linggawijaya terpental dan roboh terguling-guling ke bawah anak tangga pondok!
"Horeee...! Rasakan kamu sekarang, manusia busuk!" Niken Harni bersorak.
Linggawijaya adalah seorang yang terlalu mengagulkan kesaktian sendiri dan memandang rendah kepandaian orang lain. Kalau tidak demikian wataknya, tentu kini dia sudah menyadari benar bahwa lawannya ini adalah seorang yang memiliki kesaktian hebat yang melampaui tingkatnya sendiri. Sebaliknya, dia malah menjadi semakin penasaran dan marah. Karena pada saat itu dia tidak membawa senjatanya Pecut Tatit Ceni, maka dia segera mencabut kerisnya. Keris ini bukan keris sembarangan, melainkan sebatang keris pusaka luk tiga belas yang disebut Kyai Candalamauik. Begitu dicabut, lawan sudah merasakan getaran daya yang kuat keluar dari pusaka itu. Akan tetapi sungguh aneh dan menyeramkan melihat betapa nenek itu tertawa cekikikan melihat adipati itu memegang keris pusakanya, seolah melihat seorang anak-anak nakal memegang pisau dapur saja! Linggawijaya sudah mengumpulkan seluruh tenaga saktinya, tangan kirinya merogoh sekepal pasir hitam dan melontarkan pasir itu ke arah nenek berpakaian hitam. Terdengar suara berdengung-dengung seperti ada ribuan lebah beterbangan ketika pasir itu menjadi sinar hitam menerjang ke arah lawan. Akan tetapi dengan tenang saja nenek berpakaian hitam itu menggerakkan kedua tangannya, seperti menggapai ke depan dan semua pasir sakti Brahmara Sewu itu pun rontok ke atas tanah, tak sebutir pun mengenai tubuhnya! Linggawijaya melompat ke depan dan menusukkan kerisnya!
Nenek itu hanya terkekeh.
"Wuuuttt... ceppp!"
Keris itu menusuk perut dan seolah menancap masuk ke perut nenek itu. Akan tetapi nenek itu tetap terkekeh, kemudian ia membentak dengan nyaring.
"Bocah sombong, pergilah!"
Tiba-tiba dari perutnya keluar hawa yang teramat kuat mendorong sehingga Linggawijaya bagaikan sehelai daun kering tertiup angin, terlempar dan jatuh terbanting sampai beberapa tombak jauhnya. Keris di tangannya itu ternyata tidak ada tanda darah padahal tadi tampaknya menancap di perut nenek itu. Kepalanya menjadi pening karena dia terbanting jatuh cukup keras.
"Horeeee...! Mampus kamu sekarangl" Niken Harni bersorak.
Tiba-tiba ada bayangan berkelebat dan Dewi Mayangsari telah berada di situ, membantu suaminya bangun dan bertanya.
"Kakangmas adipati, apa yang terjadi di sini? Aku menanti-nanti Andika sejak tadi belum juga pulang dan..."
"Diajeng..... bantulah aku.... melawan iblis betina itu..."
Dengan telunjuk gemetar Linggawijaya menunjuk ke arah pintu pondok yang terbuka. Nenek berpakaian hitam tadi sudah tidak ada lagi di situ. Dewi Mayangsari memandang ke pintu pondok yang terbuka.
"Tidak ada siapa-siapa di sana...." katanya dan tiba-tiba ia melihat Niken Harni yang masih rebah duduk di atas tanah luar pondok.
"Eh, siapa wanita Ini.,.?" tanyanya heran.
"Ia anak tiri Nyi Lasmi. Aku hendak membunuhnya ketika muncul iblis wanita tua itu menghalangiku." kata Linggawijaya.
"Dasar bajingan!" Niken Harni berteriak.
"Dia hendak menperkosaku tadi! Dia bohong, jahanam keparat Linggawijaya!"
Dewi Mayangsari marah sekali.
"Biar kubunuh gadis kurang ajar ini!"
Setelah berkata demikian, Dewi Mayangsari mencabut sebatang keris kecil berwarna hitam dan dengan gerakan cepat sekali ia menubruk ke arah Niken Harni sambil menusukkan kerisnya ke arah dada gadis yang duduk bersandar batang pohon itu. Karena tidak mampu bergerak, Niken Harni hanya menerima serangan itu dengan mata memandang penuh kemarahan kepada penyerangnya. Keris ditusukkan dan...
"Tranggg...!" keris itu terlepas dan terlempar dari tangan Dewi Mayangsari sehingga permaisuri Wengker ini terkejut bukan main dan cepat melompat ke belakang. Nenek berpakaian hitam tadi muncul di depan pintu. la yang menangkis serangan keris yang hendak membunuh Niken Harni tadi.
Linggawijaya sudah bangkit kembali
"Diajeng, iblis ini tangguh sekali. Mari kita keroyok..."

Akan tetapi Linggawijaya menghentikan kata-katanya ketika dia melihat isterinya itu tiba-tiba maju bertekuk lutut dan menyembah ke arah nenek berpakaian hitam sambil berkata dengan sikap hormat.
"Ibu Guru…"
Linggawijaya kaget bukan main dan dia hanya dapat berdiri mematung dengan mata terbelalak. Kiranya nenek yang sakti mandraguna ini adalah guru terakhir isterinya, yaitu Nini Bumigarbo yang terkenal sebagai seorang nenek yang aneh dan memiliki kesaktian luar biasa, yang tidak pernah bergaul dengan orang biasa. Saking kagetnya, dia hanya dapat berdiri terbelalak, tidak tahu harus bersikap dan berkata bagaimana.
"Dewi Mayangsari, apa kamu sudah melupakan pesanku yang menjadi syarat engkau mempelajari ilmu dariku?" nenek itu yang bukan lain adalah Nini Bumigarbo atau yang dulu bernama Ni Gayatri bertanya dengan suara penuh wibawa.
"Murid tidak pernah melupakannya."
"Hemm, coba ulangi apa pesanku itu."
"Bahwa murid harus berusaha untuk memusuhi Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama, dan berusaha untuk membunuh mereka."
"Dan kamu sudah melaksanakan itu?" tanya Nenek itu dengan ketus.
"Ampun, Ibu Guru, murid sedang berusaha. Murid telah memilih Linggawijaya sebagai suami agar kami berdua bersama-sama dapat menyusun kekuatan untuk menyerang Kahuripan."
"Huh, mana mungkin akan berhasil kalau suamimu ini hanya mengejar wanita dan menjadi budak nafsunya sendiri, hanya ingin bersenang-senang sendiri saja?"
"Ampunkan kami, Ibu Guru. Kedudukan Erlangga dan Narotama amat kuat. Kami harus menyusun kekuatan dan bersekutu dengan para kadipaten lain agar berhasil. Murid tidak pernah melupakan pesan Paduka itu dan sedang mencari jalan dan menyusun kekuatan."
"Hemm, kuberi waktu setahun lagi. Kalau belum juga kau laksanakan membunuh Erlangga dan Narotama, aku akan datang lagi dan mencabut semua ilmumu dariku dan mungkin juga nyawamu! Hayo, gadis cilik, engkau ikut aku!" Setelah berkata demikian, Nini Bumigarbo dengan gerakan seperti terbang, melompat dekat Niken Harni dan tahu-tahu gadis itu merasa dirinya diterbangkan! Orang lain melihat betapa nenek itu lenyap seolah berubah menjadi awan hitam dan berkelebat lenyap dari situ bersama Niken Harni!

Setelah nenek itu pergi, Dewi Mayangsari menghampiri suaminya. Ia tahu akan watak suaminya yang mata keranjang, maka kalau suaminya hendak memperkosa gadis mana pun, hal itu tidak dipedulikannya benar. Akan tetapi kalau sampai suaminya membuat Nini Bumigarbo marah, hal ini amat gawat.
"Kakangmas, sebetulnya, apakah yang telah terjadi? Sungguh aneh dan tidak mengenakkan sekali kalau sampai Ibu Guru Nini Bumigarbo datang dan marah kepada kita."
Linggawijaya menghela napas panjang. Hatinya masih merasa tegang setelah peristiwa tadi. Akan tetapi kini dia tidak merasa penasaran telah dipermainkan nenek itu seolah dia seorang anak kecil yang tidak berdaya. Sudah lama dia mendengar akan kesaktian Nini Bumigarbo yang sukar dicari keduanya pada waktu itu.
"Aduh, Diajeng. Sungguh mati, aku sama sekali tidak menyangka bahwa ia itu adalah gurumu, Nini Bumigarbo. Kalau aku tahu tentu aku sama sekali tidak berani melawannya. Aku salah sangka dan mendapatkan pelajaran pahit sekali. Gurumu itu benar-benar seorang manusia luar biasa dan memiliki kesaktian yang amat hebat."
"Apakah yang telah terjadi. Aku di kadipaten hanya mendengar bahwa di tumenggungan kedatangan gadis yang mengamuk, dan aku menanti-nantimu akan tetapi engkau tidak kunjung pulang. Hatiku merasa tidak enak maka aku menyusul ke sini."
"Untung sekali engkau ke sini, Diajeng. Kalau tidak, mungkin aku tewas di tangan gurumu itu."
"Tapi mengapa guruku marah kepadamu?. Dan siapa pula gadis tadi?"
"Diajeng, mari kita pulang dulu, nanti kuceritakan semua kepadamu. Lihat, orang-orang mulai berdatangan." Kata Linggawijaya sambil menunjuk ke arah gedung tumenggungan dari mana keluar orang-orang menuju ke taman.
Dewi Mayangsari setuju. Mereka lalu menyambut Tumenggung Suramenggala dan keluarganya yang memasuki taman dan berpamit untuk pulang ke kadipaten.
"Tapi, di mana gadis liar tadi?" tanya Tumenggung Suramenggala kepada Linggawijaya dengan suara mengandung kekhawatiran.
"Ah, ia telah kami usir pergi." jawab Linggawijaya dan ayahnya tidak berani banyak bertanya lagi. Adipati dan isterinya itu lalu kembali ke istana kadipaten menunggang kereta yang disediakan oleh Tumenggung Suramenggala.

<<< Bagian 30                                                                                         Bagian 32 >>>

No comments:

Post a Comment