Nurseta Satria Karangtirta ; Bagian 32


Setelah duduk di kamar mereka dalam istana kadipaten, Linggawijaya lalu bercerita.
"Tumenggungan kedatangan seorang gadis yang mengamuk dan bertanya tentang Nyi Lasmi. Tadinya semua orang khawatir kalau-kalau Puspa Dewi yang datang mengamuk, bahkan engkau sendiri mendengar akan amukan gadis itu. Aku sendiri lalu pergi bersama Kanjeng Rama dan seregu pengawal menuju ke tumenggungan. Akan tetapi setelah tiba di sana kami melihat bahwa gadis itu sama sekali bukan Puspa Dewi! ia cukup digdaya akan tetapi tidak sesakti Puspa Dewi. Ia amat pemberani dan galak kurang ajar. la adalah anak tiri Nyi Lasmi."
"Anak tiri? Kalau anak tiri Nyi Lasmi seperti juga engkau, Kakangmas, berarti ia tentu puteri Kanjeng Rama Tumenggung Suramenggala."
"Sama sekali bukan, Diajeng. Ternyata suami Nyi Lasmi yang pertama, Ayah kandung Puspa Dewi, mempunyai seorang isteri lain dan isterinya itulah Ibu kandung Niken Harni, gadis tadi. Ibunya itu puteri Tumenggung Jayatanu dari Kahuripan dan Ayahnya seorang senopati. Ia menyusul Puspa Dewi yang mencari Nyi Lasmi yang dilarikan ke tumenggungan oleh Kanjeng Rama."
"Mengapa tidak dibunuh saja gadis liar itu?”
"Tadinya aku juga berniat begitu. Akan tetapi aku lalu mendapat gagasan yang lebih menguntungkan. Kalau aku dapat menundukkan Niken Harni, ia dapat kita jadikan sandera apabila sewaktu-waktu Puspa Dewi datang ke Wengker. Sebetulnya aku sudah dapat membujuknya dan hampir berhasil menalukkannya ketika muncul... Nini Bumigarbo itu dengan tiba-tiba. Karena sama sekali tidak mengenalnya dan tidak mengira bahwa ia adalah gurumu, tentu saja aku melawannya."
Suasana menjadi hening. Mereka tenggelam ke dalam lamunan. Kemudian Dewi Mayangsan mengeluh.
"Ahh, aku tidak tahu mengapa Ibu Guru membela gadis itu! Dan peristiwa malam ini sungguh tidak menyenangkan hatiku, Kakangmas. Engkau mendengar sendiri betapa Ibu Guru mengancamku untuk menyerang dan membinasakan Erlangga dan Narotama, diberi waktu setahun. Kalau aku gagal, mungkin saja ia membunuhku!"
"Aku juga heran mengapa gurumu membela seorang gadis puteri senopati Kahuripan kalau ia memusuhi raja dan patih Kahuripan, Diajeng. Sudahlah, jangan risaukan ancamannya itu. Yang penting sekarang kita mencari jalan untuk membasmi raja dan patih di Kahuripan dan untuk itu, tidak mungkin kita mengandalkan kekuatan sendiri."
"Engkau benar, Kakangmas. Sungguh menyebalkan sekali bahwa Nyi Lasmi yang kita kirim ke Wura-Wuri itu juga dapat dibebaskan oleh Ki Patih Narotama. Aku semakin membenci saja patih itu. Biar besok aku sendiri yang akan berkunjung ke Wura-Wuri merundingkan usaha menundukkan Kahuripan dengan Adipati Bhismaprabhawa dan Nyi Dewi Durgakumala."
"Bagus, kalau begitu aku pun akan pergi mengunjungi Kerajaan Parang Siluman. Di sana terdapat banyak orang-orang sakti seperti Ratu Pararg Siluman Durgakumala, suaminya, Bhagawan Kundolomuka, dua orang puteri mereka yang terkenal itu, Dewi Lasmini dan Dewi Mandari, juga kakak Ratu Durgakumala yaitu Ki Naga Kumala, dan para senopati mereka. Dari sana aku akan pergi mengunjungi Kerajaan Siluman Laut Kidul, yaitu Ratu Mayang Gupita yang juga sakti mandraguna. Kalau kita semua mempersatukan tenaga, mustahil kita tidak akan dapat membinasakan Erlangga dan Narotama!"
Suami isterl itu mendapatkan kembali kegembiraan hati mereka dengan saling menghibur dan tak lama kemudian mereka sudah berenang dalam lautan nafsu mereka sendiri, diombang-ambingkan gelombang-gelombang, dimabokkan buih-buih nafsu sehingga lupa akan segalanya. Orang-orang seperti Linggawijaya dan Dewi Mayangsari ini adalah orang-orang yang seluruh hidupnya ditujukan hanya untuk mencari kesenangan hati dan kenikmatan tubuh sehingga mereka tanpa mereka sadari telah menjadi hamba-hamba nafsunya mereka sendiri yang semakin menebal, menutupi jiwa mereka sendiri sehingga semakin jauh meninggalkan Sang Sumber dari mana roh mereka berasal.
Ketika Sang Maha Pencipta menciptakan kita terlahir di dunia sebagai manusia, kita, jiwa-jiwa ini dianugerahi jasmani yang sempurna. Jiwa kita mempunyai hubungan langsung dengan Yang Maha Kuasa. Selain jasmani dan rohani, kita juga disertai nafsu-nafsu daya rendah yang menjadi pembantu dan pelayan kita. Nafsu-nafsu ini yang membuat kita mengenal yang enak dan yang tidak enak, yang menyenangkan dan yang tidak menyenangkan, melalui anggauta-anggauta tubuh kita. Rasa enak menyenangkan melalui penglihatan, penciuman, pendengaran, selera, perabaan, dan sebagainya. Nafsu-nafsu ini yang membuat kita dapat menikmati segala macam kesenangan selagi kita hidup sebagai manusia di dunia. Ini merupakan anugerah yang amat besar dari Sang Hyang Widhi Wasa. Manusia hidup berbahagia apabila dia tetap memiliki jiwa yang terbuka, tidak terhalang apa pun, untuk selalu dapat berhubungan, selalu ada kontak, dengan Yang Maha Kasih dan Maha Agung. Itu mengenai rohaniahnya. Adapun secara jasmaniah, jasmaninya dapat menikmati kehidupan di dunia ini melalui dorongan nafsu-nafsunya yang tetap menjadi peserta, pembantu, atau pelayan. Akan .tetapi sudah menjadi kodrat Tuhan bahwa di samping manusia dan para mahluk lain yang diciptakan hidup di dunia, Tuhan juga membolehkan Setan, Iblis dan sebagainya yang tergabung dalam Kuasa Kegelapan untuk berkeliaran di permukaan bumi untuk menggoda manusia untuk menarik manusia agar menjadi hambanya dan menjauhi Tuhan. Adapun cara yang termudah bagi Kuasa Kegelapan untuk menggoda manusia adalah melalui nafsu-nafsunya. Nafsu manusia mendatangkan segala macam kenikmatan jasmani. Yang serba enak dan serba nikmat inilah dijadikan umpan oleh Kuasa Kegelapan untuk memancing manusia meninggalkan jalan yang ditentukan oleh Tuhan. Yang serba enak dan nikm ini mendorong manusia untuk mengejarnya sehingga nafsu-nafsu lepas kendali. Kalau sudah begitu, manusia bukan lagi menjadi majikan nafsu, sebaliknya menjadi hamba nafsu dan dia siap melakukan apa saja demi pemuasan nafsunya. Nafsu mencari harta kekayaan? Baik saja karena harta itu dapat dimanfaatkan untuk keperluan hidupnya, keluarganya, bahkan untuk keperluan hidup orang-orang lain. Mencari harta baik saja selama nafsu tetap menjadi pembantu, karena tentu cara mendapatkan harta itu tetap halal dan bersih. Akan tetapi kalau nafsu sudah memperhamba manusia, maka manusia, demi mengejar harta, menjadi buta akan kebenaran dan mau melakukan apa saja demi mencapai tujuan, yaitu mengumpulkan harta. Dengan cara mencuri, menipu, merampas, korupsi, dan lain perbuatan haram lagi. Dan setan pun berbisik-bisik membela dan membenarkan semua perbuatan itu! Nafsu berahi? Baik saja karena nafsu mi pun merupakan berkah dari Sang Hyang Widhi yang diberikan kepada semua mahluk di dunia ini. Nafsu ini yang menjadi sarana sehingga manusia dan mahluk lain dapat berkembang biak sesuai dengan kehendak Tuhan. Nafsu berahi ini baik dan bersih selama nafsu ini menjadi hamba dan kita manusia menjadi majikannya sehingga pelaksanaan nafsu ini pun halal dan baik. Akan tetapi bagaimana kalau nafsu berahi sudah berbalik menjadi majikan dan manusia menjadi hambanya? Setan menggunakan nafsu berahi untuk menyeret manusia mengejar kesenangan melalui nafsu ini dan tidak segan melakukan perbuatan yang menyimpang dari kebenaran. Lahirlah perkosaan, per-jinaan, dan pelacuran. Demikian pula dengan semua nafsu. Kalau tetap dalam kedudukan semula, menjadi pelayan kita, merupakan karunia dari Hyang Widhi Wasa. Sebaliknya kalau menjadi majikan kita, merupakan alat setan yang menyeret kita ke dalam dosa. Maka, segala tindakan yang dilakukan dua orang yang telah menjadi hamba nafsu seperti Linggawijaya dan Dewi Mayangsari, selalu untuk memenuhi dorongan nafsu mereka, memenuhi semua keinginan untuk memuaskan hati membalas dendam dan mengejar segala macam kesenangan.

Niken Harni sendiri tidak tahu berapa lamanya ia pingsan dan dibawa lari seperti terbang cepatnya oleh Nini Bumigarbo. Tahu-tahu ketika la membuka matanya, ia mendapatkan dirinya rebah telentang di atas sebuah bale-bale (dipan) yang terbuat dari bambu, dalam sebuah ruangan pondok kayu sederhana. Hawa udara yang memasuki ruangan melalui sebuah jendela, terasa amat dingin sejuk. Ia termangu, mengingat-ingat dan rasanya seperti mimpi, ia teringat bahwa ia nyaris diperkosa Adipati Linggawijaya dan diselamatkan seorang nenek berpakaian serba hitam. Kemudian ia dibawa "terbang" nenek itu dan selanjutnya ia tidak ingat apa-apa lagi. Tahu-tahu sekarang ia rebah di atas bale-bale dalam pondok ini. Teringat akan semua itu, Niken Harni cepat bangkit duduk dan dengan girang ia mendapat kenyataan bahwa tubuhnya tidak setengah lumpuh lagi seperti ketika ia dipondong Linggawijaya. Ia dapat bergerak bebas. Ia lalu melompat turun dari pembaringan ke dekat jendela kamar yang terbuka, memandang ke luar jendela. Semilir angin yang sejuk segar menyambutnya dan apa yang tampak di luar jendela membuat ia terperangah, terkagum-kagum. Pemandangan pagi hari yang amat indah. Tampak hamparan lereng-lereng gunung dengan jurang-jurang dan perbukitannya. Di sana sini dikelilingi puncak yang sebagian masih tertutup awan putih. Sinar matahari pagi membuat segalanya bagaikan mandi cahaya keemasan dan berseri-seri gembira. Sekarang saatnya pagi hari! Dan ia berada di puncak gunung. Niken Harni yang sejak kecil tinggal di kota raja yang ramai penuh manusia, yang selalu ramai sehingga udara terasa sesak dan telinga dipenuhi segala macam suara berisik, kini merasa betapa tenang dan penuh damai tempat itu. Ia menghirup udara dengan lahapnya, mengisi dada sepenuhnya dengan hawa murni yang segar. Nikmat sekali. Bunyi burung beraneka nada dan irama bagaikan tembang yang diiringi gemercik air sebagai gamelan. Niken Harni merasa seolah berada dalam dunia lain. Beginikah surgaloka yang sering ia dengar dalam dongeng? Apakah ia bermimpi? Tiba-tiba terdengar suara yang tinggi melengking, suara wanita!
"Niken Harni, pondok ini hanya untuk tempat makan dan tidur! Hiduplah seperti burung, hanya berada di sarangnya kalau perlu saja dan selebihnya berada di udara terbuka. Jangan hidup seperti tikus yang selalu bersembunyi dalam sarangnya. Engkau sudah bangun dari tidur, keluarlah!"
Niken Harni tersenyum. Ia mengenal suara itu. Suara nenek yang luar biasa, nenek yang sakti mandraguna dan yang telah menolongnya terbebas dari ancaman Linggawijaya yang mengerikan. Ia ditolong dan dibawa ke tempat ini! Kalau saja ia dapat mempelajari ilmu kesaktian dari nenek ini! Mungkin ia akan menjadi sakti mandraguna, seperti Mbakayu Puspa Dewi dan tidak akan mudah diganggu orang-orang jahat macam Linggawijaya! Ia pun segera berlari keluar dari pondok dan setelah tiba di luar pintu pondok, ia bertemu dengan pemandangan yang lebih indah lagi. Di depan pondok terdapat taman yang ditumbuhi beraneka macam bunga dan pohon buah, dan di depan sana terbentang alam bawah puncak yang lebih indah daripada yang tampak dari jendela. Ketika melihat nenek yang berpakaian hitam itu duduk bersila di atas batu hitam yang bundar dan datar, ia berlari menghampiri dan ia pun duduk di atas sebuah batu di depan nenek itu.

Dua orang wanita itu saling berpandangan. Yang seorang sudah berusia setengah abad lebih, biarpun masih ada bekas kecantikan pada wajahnya, namun tampak garis-garis dan keriput ketuaan menghias wajahnya. Yang seorang lagi masih muda remaja, berusia delapan belas tahun, masih agak kekanak-kanakan. Namun di dalam sinar mata kedua orang wanita ini, terdapat persamaan. Yaitu, keduanya membayangkan kekerasan hati dan keberanian yang tak mengenal takut dan pantang menyerah? Kini pun Niken Harni menghadapi dan memandang wajah nenek yang bagi orang lain amat menakutkan, apalagi kalau sudah mendengar namanya, dengan terbuka, polos dan sama sekali tidak mengenal takut atau jerih, bahkan mulutnya tersenyum seolah berhadapan dengan seorang kawan sederajat dan setingkat. Sikap gadis inilah yang menarik hati Nini Bumigarbo, terutama kekuatan dasar yang ada pada batin gadis ini sehingga tadi pun tidak terpengaruh oleh aji pameletan Linggawijaya yang cukup ampuh dan kuat itu. Keberanian, kekerasan hati, dan kekuatan dasar ini amat menarik hati nenek itu. Gadis ini mengingatkan ia akan dirinya sendiri di waktu muda, hanya harus diakui bahwa pertahanannya tidaklah sekokoh dan sekuat batin gadis ini. Justru inilah yang membuat ia mengambil keputusan untuk mengajak gadis ini ke pondok tempat kediaman sementaranya di Puncak Gunung Kelud. Setelah sekian lamanya bertatap muka dengan nenek itu, kembali Niken Harni melayangkan pandang matanya ke bawah puncak dan matanya bersinar-sinar gembira penuh kagum.
"Niken, engkau senang dengan tempat ini?" Nini Bumigarbo bertanya.
"Wah, senang sekali, Bibi! Akan tetapi siapakah Bibi ini?"
Nini Bumigarbo senang mendengar dirinya disebut Bibi oleh Niken Harni. Bahkan seorang wanita luar biasa dan sakti mandraguna seperti Nini Bumigarbo masih belum kehilangan kebanggaan hati wanita yang merasa senang kalau disebut lebih muda daripada usia yang sebenarnya. Biasanya ia disebut nini atau nenek, kini disebut bibi, berarti penurunan usia yang cukup banyak! Kalau biasanya ia memperkenalkan diri sebagai Nini Bumigarbo, akan tetapi setelah disebut bibi ia pun langsung mengubah sebutan namanya.
"Namaku Nyi Bumigarbo, dulu namaku Ni Gayatri."
"Wah, aku lebih senang nama Gayatri itu, maka biar aku menyebut Bibi Gayatri sajal" Niken Harni berkata, ucapan yang polos dari hatinya, bukan dibuat-buat untuk menyenangkan hati orang.

<<< Bagian 31                                                                                          Bagian 33 >>>

No comments:

Post a Comment