Setelah duduk di kamar mereka dalam istana kadipaten, Linggawijaya lalu bercerita.
"Tumenggungan
kedatangan seorang gadis yang mengamuk dan bertanya tentang Nyi Lasmi. Tadinya
semua orang khawatir kalau-kalau Puspa Dewi yang datang mengamuk, bahkan engkau
sendiri mendengar akan amukan gadis itu. Aku sendiri lalu pergi bersama Kanjeng
Rama dan seregu pengawal menuju ke tumenggungan. Akan tetapi setelah tiba di
sana kami melihat bahwa gadis itu sama sekali bukan Puspa Dewi! ia cukup
digdaya akan tetapi tidak sesakti Puspa Dewi. Ia amat pemberani dan galak
kurang ajar. la adalah anak tiri Nyi Lasmi."
"Anak
tiri? Kalau anak tiri Nyi Lasmi seperti juga engkau, Kakangmas, berarti ia
tentu puteri Kanjeng Rama Tumenggung Suramenggala."
"Sama
sekali bukan, Diajeng. Ternyata suami Nyi Lasmi yang pertama, Ayah kandung
Puspa Dewi, mempunyai seorang isteri lain dan isterinya itulah Ibu kandung
Niken Harni, gadis tadi. Ibunya itu puteri Tumenggung Jayatanu dari Kahuripan
dan Ayahnya seorang senopati. Ia menyusul Puspa Dewi yang mencari Nyi Lasmi
yang dilarikan ke tumenggungan oleh Kanjeng Rama."
"Mengapa
tidak dibunuh saja gadis liar itu?”
"Tadinya
aku juga berniat begitu. Akan tetapi aku lalu mendapat gagasan yang lebih
menguntungkan. Kalau aku dapat menundukkan Niken Harni, ia dapat kita jadikan
sandera apabila sewaktu-waktu Puspa Dewi datang ke Wengker. Sebetulnya aku
sudah dapat membujuknya dan hampir berhasil menalukkannya ketika muncul... Nini
Bumigarbo itu dengan tiba-tiba. Karena sama sekali tidak mengenalnya dan tidak
mengira bahwa ia adalah gurumu, tentu saja aku melawannya."
Suasana
menjadi hening. Mereka tenggelam ke dalam lamunan. Kemudian Dewi Mayangsan
mengeluh.
"Ahh, aku
tidak tahu mengapa Ibu Guru membela gadis itu! Dan peristiwa malam ini sungguh
tidak menyenangkan hatiku, Kakangmas. Engkau mendengar sendiri betapa Ibu Guru
mengancamku untuk menyerang dan membinasakan Erlangga dan Narotama, diberi
waktu setahun. Kalau aku gagal, mungkin saja ia membunuhku!"
"Aku juga
heran mengapa gurumu membela seorang gadis puteri senopati Kahuripan kalau ia
memusuhi raja dan patih Kahuripan, Diajeng. Sudahlah, jangan risaukan
ancamannya itu. Yang penting sekarang kita mencari jalan untuk membasmi raja
dan patih di Kahuripan dan untuk itu, tidak mungkin kita mengandalkan kekuatan
sendiri."
"Engkau
benar, Kakangmas. Sungguh menyebalkan sekali bahwa Nyi Lasmi yang kita kirim ke
Wura-Wuri itu juga dapat dibebaskan oleh Ki Patih Narotama. Aku semakin
membenci saja patih itu. Biar besok aku sendiri yang akan berkunjung ke
Wura-Wuri merundingkan usaha menundukkan Kahuripan dengan Adipati
Bhismaprabhawa dan Nyi Dewi Durgakumala."
"Bagus,
kalau begitu aku pun akan pergi mengunjungi Kerajaan Parang Siluman. Di sana
terdapat banyak orang-orang sakti seperti Ratu Pararg Siluman Durgakumala,
suaminya, Bhagawan Kundolomuka, dua orang puteri mereka yang terkenal itu, Dewi
Lasmini dan Dewi Mandari, juga kakak Ratu Durgakumala yaitu Ki Naga Kumala, dan
para senopati mereka. Dari sana aku akan pergi mengunjungi Kerajaan Siluman
Laut Kidul, yaitu Ratu Mayang Gupita yang juga sakti mandraguna. Kalau kita
semua mempersatukan tenaga, mustahil kita tidak akan dapat membinasakan Erlangga
dan Narotama!"
Suami isterl
itu mendapatkan kembali kegembiraan hati mereka dengan saling menghibur dan tak
lama kemudian mereka sudah berenang dalam lautan nafsu mereka sendiri,
diombang-ambingkan gelombang-gelombang, dimabokkan buih-buih nafsu sehingga lupa
akan segalanya. Orang-orang seperti Linggawijaya dan Dewi Mayangsari ini adalah
orang-orang yang seluruh hidupnya ditujukan hanya untuk mencari kesenangan hati
dan kenikmatan tubuh sehingga mereka tanpa mereka sadari telah menjadi
hamba-hamba nafsunya mereka sendiri yang semakin menebal, menutupi jiwa mereka
sendiri sehingga semakin jauh meninggalkan Sang Sumber dari mana roh mereka
berasal.
Ketika Sang
Maha Pencipta menciptakan kita terlahir di dunia sebagai manusia, kita,
jiwa-jiwa ini dianugerahi jasmani yang sempurna. Jiwa kita mempunyai hubungan
langsung dengan Yang Maha Kuasa. Selain jasmani dan rohani, kita juga disertai
nafsu-nafsu daya rendah yang menjadi pembantu dan pelayan kita. Nafsu-nafsu ini
yang membuat kita mengenal yang enak dan yang tidak enak, yang menyenangkan dan
yang tidak menyenangkan, melalui anggauta-anggauta tubuh kita. Rasa enak
menyenangkan melalui penglihatan, penciuman, pendengaran, selera, perabaan, dan
sebagainya. Nafsu-nafsu ini yang membuat kita dapat menikmati segala macam
kesenangan selagi kita hidup sebagai manusia di dunia. Ini merupakan anugerah
yang amat besar dari Sang Hyang Widhi Wasa. Manusia hidup berbahagia apabila
dia tetap memiliki jiwa yang terbuka, tidak terhalang apa pun, untuk selalu
dapat berhubungan, selalu ada kontak, dengan Yang Maha Kasih dan Maha Agung.
Itu mengenai rohaniahnya. Adapun secara jasmaniah, jasmaninya dapat menikmati
kehidupan di dunia ini melalui dorongan nafsu-nafsunya yang tetap menjadi
peserta, pembantu, atau pelayan. Akan .tetapi sudah menjadi kodrat Tuhan bahwa
di samping manusia dan para mahluk lain yang diciptakan hidup di dunia, Tuhan
juga membolehkan Setan, Iblis dan sebagainya yang tergabung dalam Kuasa
Kegelapan untuk berkeliaran di permukaan bumi untuk menggoda manusia untuk
menarik manusia agar menjadi hambanya dan menjauhi Tuhan. Adapun cara yang
termudah bagi Kuasa Kegelapan untuk menggoda manusia adalah melalui
nafsu-nafsunya. Nafsu manusia mendatangkan segala macam kenikmatan jasmani.
Yang serba enak dan serba nikmat inilah dijadikan umpan oleh Kuasa Kegelapan
untuk memancing manusia meninggalkan jalan yang ditentukan oleh Tuhan. Yang
serba enak dan nikm ini mendorong manusia untuk mengejarnya sehingga
nafsu-nafsu lepas kendali. Kalau sudah begitu, manusia bukan lagi menjadi
majikan nafsu, sebaliknya menjadi hamba nafsu dan dia siap melakukan apa saja
demi pemuasan nafsunya. Nafsu mencari harta kekayaan? Baik saja karena harta
itu dapat dimanfaatkan untuk keperluan hidupnya, keluarganya, bahkan untuk
keperluan hidup orang-orang lain. Mencari harta baik saja selama nafsu tetap
menjadi pembantu, karena tentu cara mendapatkan harta itu tetap halal dan
bersih. Akan tetapi kalau nafsu sudah memperhamba manusia, maka manusia, demi
mengejar harta, menjadi buta akan kebenaran dan mau melakukan apa saja demi
mencapai tujuan, yaitu mengumpulkan harta. Dengan cara mencuri, menipu,
merampas, korupsi, dan lain perbuatan haram lagi. Dan setan pun berbisik-bisik
membela dan membenarkan semua perbuatan itu! Nafsu berahi? Baik saja karena nafsu
mi pun merupakan berkah dari Sang Hyang Widhi yang diberikan kepada semua
mahluk di dunia ini. Nafsu ini yang menjadi sarana sehingga manusia dan mahluk
lain dapat berkembang biak sesuai dengan kehendak Tuhan. Nafsu berahi ini baik
dan bersih selama nafsu ini menjadi hamba dan kita manusia menjadi majikannya
sehingga pelaksanaan nafsu ini pun halal dan baik. Akan tetapi bagaimana kalau
nafsu berahi sudah berbalik menjadi majikan dan manusia menjadi hambanya? Setan
menggunakan nafsu berahi untuk menyeret manusia mengejar kesenangan melalui
nafsu ini dan tidak segan melakukan perbuatan yang menyimpang dari kebenaran.
Lahirlah perkosaan, per-jinaan, dan pelacuran. Demikian pula dengan semua
nafsu. Kalau tetap dalam kedudukan semula, menjadi pelayan kita, merupakan
karunia dari Hyang Widhi Wasa. Sebaliknya kalau menjadi majikan kita, merupakan
alat setan yang menyeret kita ke dalam dosa. Maka, segala tindakan yang
dilakukan dua orang yang telah menjadi hamba nafsu seperti Linggawijaya dan
Dewi Mayangsari, selalu untuk memenuhi dorongan nafsu mereka, memenuhi semua
keinginan untuk memuaskan hati membalas dendam dan mengejar segala macam
kesenangan.
Niken Harni
sendiri tidak tahu berapa lamanya ia pingsan dan dibawa lari seperti terbang
cepatnya oleh Nini Bumigarbo. Tahu-tahu ketika la membuka matanya, ia
mendapatkan dirinya rebah telentang di atas sebuah bale-bale (dipan) yang
terbuat dari bambu, dalam sebuah ruangan pondok kayu sederhana. Hawa udara yang
memasuki ruangan melalui sebuah jendela, terasa amat dingin sejuk. Ia termangu,
mengingat-ingat dan rasanya seperti mimpi, ia teringat bahwa ia nyaris
diperkosa Adipati Linggawijaya dan diselamatkan seorang nenek berpakaian serba
hitam. Kemudian ia dibawa "terbang" nenek itu dan selanjutnya ia
tidak ingat apa-apa lagi. Tahu-tahu sekarang ia rebah di atas bale-bale dalam
pondok ini. Teringat akan semua itu, Niken Harni cepat bangkit duduk dan dengan
girang ia mendapat kenyataan bahwa tubuhnya tidak setengah lumpuh lagi seperti
ketika ia dipondong Linggawijaya. Ia dapat bergerak bebas. Ia lalu melompat
turun dari pembaringan ke dekat jendela kamar yang terbuka, memandang ke luar
jendela. Semilir angin yang sejuk segar menyambutnya dan apa yang tampak di
luar jendela membuat ia terperangah, terkagum-kagum. Pemandangan pagi hari yang
amat indah. Tampak hamparan lereng-lereng gunung dengan jurang-jurang dan
perbukitannya. Di sana sini dikelilingi puncak yang sebagian masih tertutup
awan putih. Sinar matahari pagi membuat segalanya bagaikan mandi cahaya
keemasan dan berseri-seri gembira. Sekarang saatnya pagi hari! Dan ia berada di
puncak gunung. Niken Harni yang sejak kecil tinggal di kota raja yang ramai
penuh manusia, yang selalu ramai sehingga udara terasa sesak dan telinga
dipenuhi segala macam suara berisik, kini merasa betapa tenang dan penuh damai
tempat itu. Ia menghirup udara dengan lahapnya, mengisi dada sepenuhnya dengan
hawa murni yang segar. Nikmat sekali. Bunyi burung beraneka nada dan irama
bagaikan tembang yang diiringi gemercik air sebagai gamelan. Niken Harni merasa
seolah berada dalam dunia lain. Beginikah surgaloka yang sering ia dengar dalam
dongeng? Apakah ia bermimpi? Tiba-tiba terdengar suara yang tinggi melengking,
suara wanita!
"Niken
Harni, pondok ini hanya untuk tempat makan dan tidur! Hiduplah seperti burung,
hanya berada di sarangnya kalau perlu saja dan selebihnya berada di udara
terbuka. Jangan hidup seperti tikus yang selalu bersembunyi dalam sarangnya.
Engkau sudah bangun dari tidur, keluarlah!"
Niken Harni
tersenyum. Ia mengenal suara itu. Suara nenek yang luar biasa, nenek yang sakti
mandraguna dan yang telah menolongnya terbebas dari ancaman Linggawijaya yang
mengerikan. Ia ditolong dan dibawa ke tempat ini! Kalau saja ia dapat
mempelajari ilmu kesaktian dari nenek ini! Mungkin ia akan menjadi sakti
mandraguna, seperti Mbakayu Puspa Dewi dan tidak akan mudah diganggu
orang-orang jahat macam Linggawijaya! Ia pun segera berlari keluar dari pondok
dan setelah tiba di luar pintu pondok, ia bertemu dengan pemandangan yang lebih
indah lagi. Di depan pondok terdapat taman yang ditumbuhi beraneka macam bunga
dan pohon buah, dan di depan sana terbentang alam bawah puncak yang lebih indah
daripada yang tampak dari jendela. Ketika melihat nenek yang berpakaian hitam
itu duduk bersila di atas batu hitam yang bundar dan datar, ia berlari
menghampiri dan ia pun duduk di atas sebuah batu di depan nenek itu.
Dua orang
wanita itu saling berpandangan. Yang seorang sudah berusia setengah abad lebih,
biarpun masih ada bekas kecantikan pada wajahnya, namun tampak garis-garis dan
keriput ketuaan menghias wajahnya. Yang seorang lagi masih muda remaja, berusia
delapan belas tahun, masih agak kekanak-kanakan. Namun di dalam sinar mata
kedua orang wanita ini, terdapat persamaan. Yaitu, keduanya membayangkan
kekerasan hati dan keberanian yang tak mengenal takut dan pantang menyerah?
Kini pun Niken Harni menghadapi dan memandang wajah nenek yang bagi orang lain
amat menakutkan, apalagi kalau sudah mendengar namanya, dengan terbuka, polos
dan sama sekali tidak mengenal takut atau jerih, bahkan mulutnya tersenyum
seolah berhadapan dengan seorang kawan sederajat dan setingkat. Sikap gadis
inilah yang menarik hati Nini Bumigarbo, terutama kekuatan dasar yang ada pada
batin gadis ini sehingga tadi pun tidak terpengaruh oleh aji pameletan
Linggawijaya yang cukup ampuh dan kuat itu. Keberanian, kekerasan hati, dan
kekuatan dasar ini amat menarik hati nenek itu. Gadis ini mengingatkan ia akan
dirinya sendiri di waktu muda, hanya harus diakui bahwa pertahanannya tidaklah
sekokoh dan sekuat batin gadis ini. Justru inilah yang membuat ia mengambil
keputusan untuk mengajak gadis ini ke pondok tempat kediaman sementaranya di
Puncak Gunung Kelud. Setelah sekian lamanya bertatap muka dengan nenek itu,
kembali Niken Harni melayangkan pandang matanya ke bawah puncak dan matanya
bersinar-sinar gembira penuh kagum.
"Niken,
engkau senang dengan tempat ini?" Nini Bumigarbo bertanya.
"Wah,
senang sekali, Bibi! Akan tetapi siapakah Bibi ini?"
Nini Bumigarbo
senang mendengar dirinya disebut Bibi oleh Niken Harni. Bahkan seorang wanita
luar biasa dan sakti mandraguna seperti Nini Bumigarbo masih belum kehilangan
kebanggaan hati wanita yang merasa senang kalau disebut lebih muda daripada
usia yang sebenarnya. Biasanya ia disebut nini atau nenek, kini disebut bibi,
berarti penurunan usia yang cukup banyak! Kalau biasanya ia memperkenalkan diri
sebagai Nini Bumigarbo, akan tetapi setelah disebut bibi ia pun langsung
mengubah sebutan namanya.
"Namaku
Nyi Bumigarbo, dulu namaku Ni Gayatri."
"Wah, aku
lebih senang nama Gayatri itu, maka biar aku menyebut Bibi Gayatri sajal"
Niken Harni berkata, ucapan yang polos dari hatinya, bukan dibuat-buat untuk
menyenangkan hati orang.
No comments:
Post a Comment