"Akan tetapi, Bibi Gayatri, bagaimana ceritanya engkau malam itu dapat dengan tepat menolongku terlepas dari tangan si jahanam Linggawijaya, mengapa pula engkau menolongku, dan mengapa kini engkau membawa aku ke tempat ini?"
Dihujani
pertanyaan itu, Nini Bumigarbo tersenyum. Wajah yang tadinya dingin menyeramkan
itu tampak manis juga ketika tersenyum dan matanya yang galak menjadi lembut
sejenak.
"Niken,
malam itu kebetulan saja aku melihat engkau hendak dijadikan korban kebiadaban
Linggawijaya. Karena aku suka akan sikapmu yang mati-matian menentangnya, maka
aku lalu turun tangan menolongmu."
"Akan
tetapi wanita itu mengakuimu sebagai ibu guru. Bukankah ia itu isteri
Linggawijaya yang bernama Dewi Mayangsari?"
"Benar,
Dewi Mayangsari pernah mempelajari ilmu dariku."
"Akan
tetapi mengapa, Bibi Gayatri? Mengapa engkau mengajarkan ilmu kepada permaisuri
Wengker yang terkenal menjadi kadipaten yang sesat dan jahat?"
Nini Bumigarbo
memandang dengan mata berkilat sehingga mengejutkan hati Niken Harni.
"Aku mau
mengajar siapa pun juga, laki atau perempuan, tua atau muda, baik atau jahat,
siapa peduli?" Ia membentak.
Melihat nenek
ini marah, Niken Harni juga mengerutkan alisnya dan cemberut.
"Benar
juga, sama sekali bukan urusanku, mengapa aku bertanya?"
Mereka berdua
berdiam diri. Keduanya cemberut sampai bibir mereka meruncing, cuping hidung
mekar dan alis berkerut, pandang mata keruh dan saling menghindarkan pertemuan
pandang. Sampai lama keadaan sunyi seperti itu, diam seolah keduanya telah
berubah menjadi arca! Agaknya mereka berdua sama-sama keras hati dan keras
kepala sehingga tidak ada yang mau mengalah, tidak ada yang mau mulai
mendahului membuka percakapan, seolah menjaga gengsi masing-masing! Tiba-tiba
terdengar suara tawa berkepanjangan.
"Heh-hehhi-hi-hi-hik...!"
Niken Harni
mengangkat muka memandang wanita yang tertawa-tawa itu, kerut di antara kedua
alisnya semakin mendalam,
"Hemm,
engkau mentertawakan aku, Bibi?" tegurnya dengan ketus.
Mendengar
pertanyaan ketus ini, Nini Bumigarbo tertawa semakin terkekeh-kekeh.
"Heh-he-he-heh...
mirip sekali... hehhehheh... sama benar... hi-hi-hik...!"
"Bibi
Gayatri, kalau engkau mentertawakan aku seperti itu, lebih baik aku pergi saja
dari sini!" kata Niken Harni sambil bangkit berdiri. Melihat nenek itu
masih juga tertawa, ia lalu menyeberangi taman depan rumah itu menuju ke pintu
pagar depan. Akan tetapi setelah tiba di situ, ia terbelalak melihat betapa di
depannya terdapat jurang ternganga lebar dan amat dalam. Ia mengambil jalan
memutar, memutari pondok itu. Akan tetapi ia mendapat kenyataan bahwa pondok
itu berdiri di sebuah di antara puncak-puncak itu dan dikelilingi jurang-jurang
yang amat lebar dan dalam. Sama sekali tidak ada jalan untuk menuruni puncak
itu. Untuk turun ke jurang tidak mungkin dan amat berbahaya. Untuk melompati
juga sama sekali tidak mungkin karena lebarnya tidak kurang dari dua puluh
tombak! Niken Harni membanting-banting kakinya karena jengkel dan akhirnya ia
terpaksa kembali memasuki pekarangan pondok itu dan ia berdiri sambil bertolak
pinggang di depan Nini Bumigarbo.
"Kalau
engkau hendak membunuhku, lakukanlah! Tidak perlu engkau mentertawakan aku
seperti itu!" bentaknya.
Nenek yang
masih terkekeh itu bangkit berdiri di atas batu dan telunjuk kirinya menuding
ke arah muka Niken Harni.
"Ah...
heh-heh, sungguh luar biasa... aku juga begitu dulu... aha, engkau adalah
gambaranku di waktu seusiamu, Niken Harni. Kita sama benar, heh-heh, seperti
kembar saja. Bagaimana ada dua orang yang begini sama presis watak dan
sikapnya? Heh-heh-hehl"
Hilang
kemarahan dari hati Niken Harni.
"Oo...
Jadi engkau tertawa seperti itu karena melihat persamaan di antara kita?"
"Ya,
ya... karena persamaan itu pula aku membelamu dari kebiadaban Linggawijaya. Aku
tertarik dan suka sekali padamu, Niken Harni. Engkau sama dengan aku, engkau
cocok dengan aku... Hanya saja..." Nenek itu tiba-tiba kehilangan gairah
tawanya dan tampak kecewa dan susah!
"Hanya
apa, Bibi?"
Nini Bumigarbo
tiba-tiba terkulai dan duduk kembali di atas batu hitam,
"...hanya
saja..." suaranya terengah seolah tertahan tangis, "....hanya....
kalau saja aku mempunyai keteguhan hati sepertimu, tidak mudah tergila-gila dan
dipermainkan cinta... tidak akan begini nasibku..." dan tiba-tiba Nini
Bumigarbo menangis! Ia terisak-isak lalu mengguguk, tangisnya sehebat tawanya
tadi. Ia menggunakan kedua tangan untuk menutupi mukanya dan pundaknya
terguncang-guncang, tubuhnya menggigil.
Niken Harni
adalah seorang gadis yang keras hati, berani mati, dan pantang mundur. Akan
tetapi di balik itu, ia pun perasa sekali, mudah merasa iba kepada orang yang
menderita, ia lalu maju mendekati, berlutut dekat batu hitam dan merangkul
tubuh nenek itu.
"Bibi
Gayatri... jangan menangis, Bibi. Segala macam persoalan dapat diperundingkan
dan dibicarakan. Tidak ada persoalan yang tidak dapat dipecahkan dan diatasi.
Tidak cukup hanya ditangisi saja Bibi."
"Ah,
engkau tidak tahu, Niken. Engkau tidak tahu...! Nasibku yang buruk, nasibku
yang sengsara... semua ini gara-gara cinta... ah, sungguh aku seorang wanita
tolol... goblok... akan tetapi aku lemah... kalau saja aku sekuat engkau!
Niken..."
Mendengar
keluh kesah ini, timbul terharu. Melihat Nini Bumigarbo seperti itu, ia lalu
maju mendekati, berlutut dekat batu hitam dan merangkul tubuh nenek itu.
keinginan dalam hati Niken Harni untuk mengetahui apa yang telah terjadi dengan
nenek ini sehingga ia menjadi begitu sedih.
"Bibi
Gayatri, aku merasa ikut bersedih. Maukah engkau menceritakan kepadaku apa yang
telah terjadi dengan dirimu? Engkau seorang yang begini sakti mandraguna, siapa
yang akan dapat mengganggumu, Bibi?"
"Orang
lain tidak dapat menggangguku, Niken. Akan tetapi hatiku sendiri, keinginanku
sendiri, alangkah kuatnya, membuat aku gila, membuat aku merana selama
hidupku..."
Niken Harni
menjadi semakin tertarik.
"Kalau
Bibi tidak merasa keberatan, aku ingin mendengar bagaimana kisahnya sampai Bibi
menderita seperti ini..."
"Baik,
akan kuceritakan padamu, Niken. Akan tetapi hanya dengan satu syarat, yaitu
engkau mau menjadi muridku!"
"Hemm,
aku senang sekali, Bibi. Akan tetapi jangan terlalu lama. Orang tua dan
keluargaku tentu akan menjadi gelisah kalau terlalu lama aku tidak
pulang."
"Bisa
beberapa hari, beberapa bulan, atau beberapa tahun. Tergantung bakat dan
jodohmu denganku sejauh mana. Nah, dengar ceritaku karena setelah ini aku tidak
akan mau menceritakan lagi kepada siapapun juga."
Niken Harni
lalu duduk kembali di atas batu hitam di depan Nini Bumigarbo, mendengarkan
dengan penuh perhatian. Nini Bumigarbo lalu bercerita. Dahulu, puluhan tahun
yang lalu, ketika ia masih seorang gadis dewasa bernama Ni Gayatri, ia menjadi
murid seorang pertapa yang tidak pernah muncul di dunia ramai dan terkenal
sejak kecil hanya bertapa sehingga disebut sebagai manusia setengah dewa!
Pertapa itu hanya dikenai dengan nama Sang Resi Dewakaton dan jarang ada orang
dapat bertemu dengannya karena hanya terkadang saja dia berada di puncak Gunung
Semeru yang sulit didatangi manusia biasa.
Sang Resi
Dewakaton ini sudah amat tua, tak seorang pun mengetahui berapa usianya.
Menurut dongeng orang-orang tua, ketika mereka masih kecil mereka sudah
mendengar akan nama Sang Resi Dewakaton ini sehingga kalau dihitung dari usia
mereka maka tentu usia pertapa itu sudah mendekati dua ratus tahun. Muridnya
hanya dua orang, yaitu Ni Gayatri dan .kakak seperguruannya, yang bernama Ki
Ekadenta. Mungkin karena mereka bergaul sejak kecil, tidak mengherankan; kalau
gadis yang cantik dan pemuda yang tampan itu saling jatuh cinta. Cinta mereka
begitu mendalam sehingga keduanya sudah saling berjanji kelak akan hidup
berdampingan selama hidup mereka sebagai suami isteri. Kemudian terjadilah
peristiwa yang sama sekali mengubah keadaan hidup Ni Gayatri.
"Kakang
Ekadenta bertemu dengan seorang resi dari Gunung Agung, Bali-dwipa dan berguru
mengenai kejiwaan kepada Sang Resi. Setelah berguru kepada resi itu, sikap
Kakang Ekadenta terhadap diriku sama sekali berubah, bahkan terhadap kehidupan
duniawi. Dia tidak mau lagi mencampuri urusan duniawi, termasuk tidak mau
menikah! Akibatnya, dia menjauhkan diri dariku dan tidak mau lagi terikat
perjodohan denganku." Setelah berkata demikian, wajah nenek itu tampak
kecewa bukan main.
"Dia
meninggalkanmu dan tidak cinta lagi padamu, Bibi?"
"Dia
bilang tetap cinta padaku, bahkan cintanya lebih murni menurut dia, cinta suci
yang tanpa pamrih, tanpa keinginan untuk mengambil aku sebagai isteri. Siapa
butuh cinta macam itu?"
Niken Harni
juga merasa penasaran.
"Mengapa
cinta seperti itu? Kalau mencinta tentu ingin menjadi suami isteri! Dia telah
menyakiti hatimu, Bibi. Kalau aku bertemu dengan Si Ekadenta itu, akan kutegur
dan kumarahi dia!"
Nenek itu
menghela napas panjang dan menggelengkan kepala.
"Sukar
menyadarkan dia, Niken. Selama tiga puluh tahun ini aku membujuknya dengan
halus sampai kasar, namun dia sama sekali tidak tergerak dan berkukuh tidak mau
menikah dengan aku atau dengan siapapun juga. Aku menjadi marah sekali dan
mulai membencinya, akan tetapi dia tetap bersikap lembut kepadaku. Berkali-kali
aku menyerangnya, akan tetapi aku selalu kalah olehnya."
"Wah,
kalau engkau kalah olehnya, berarti dia tentu amat sakti mandraguna, Bibi
Gayatril" Niken Harni terkejut.
"Memang
dia sakti mandraguna. Setiap kali aku kalah olehnya, aku lalu tekun memperdalam
semua aji-ajiku, akan tetapi setiap kali aku maju lagi, aku tetap saja kalah
lagi. Agaknya setiap kali dia pun memperdalam ilmu-ilmunya."
"Apakah
Bibi menyerang untuk membunuhnya?"
"Ah,
tidak sama sekali. Aku mencintanya dengan segenap jiwa ragaku, itulah
kelemahanku. Mana mungkin aku tega membunuhnya? Tadinya aku menyerangnya untuk
mengalahkannya dan memaksa dia mengawini aku. Kemudian, aku setiap kali
menyerangnya membuat perjanjian. Kalau aku kalah, aku tidak akan turun tangan sendiri
membunuh Erlangga dan Narotama. Akan tetapi kalau dia yang kalah, aku akan
membunuh raja dan patih Kahuripan itu dan dia tidak boleh menghalangikul Akan
tetapi itulah, aku selalu kalah!"
"Ah, aneh
sekail perjanjian itu, Bibi. Apa hubungannya Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih
Narotama dari Kahuripan dengan urusan Bibi dan Ekadenta itu?"
"Hubungannya
erat sekali! Resi yang mengajarkan kejiwaan kepada Kakang Ekadenta yang membuat
Kakang Ekadenta tidak mau menikah, adalah Sang Resi Satyadharma yang bertapa di
Gunung Agung Bali-dwipa. Jelas dialah biang keladinya sehingga Kakang Ekadenta
tidak jadi menikah dengan aku. Untuk membalas sakit hati ini kepada Resi
Satyadharma tidak mungkin karena dia memiliki kesaktian yang tidak akan dapat
kutandingi. Maka aku lalu mengalihkan dendamku kepada dua orang muridnya, yaitu
Erlangga dan Narotama! Aku ingin membunuh mereka agar Resi Satyadharma
menderita kehilangan orang-orang yang dicintanya seperti yang telah kurasakan.
Akan tetapi di sana ada Kakang Ekadenta yang selalu menghalangi aku! Aku tidak
berdaya... ah, aku tidak berdaya mengobati sakit hati yang bernyala-nyala
selama puluhan tahun...” Nini Bumigarbo menangis lagi.
"Bibi
Gayatri, kurasa masih tidak adil kalau Bibi berusaha membalas dendam kepada
Resi Satyadharma dengan cara membunuh dua orang muridnya, yaitu Sang Prabu
Erlangga dan Ki Patih Narotama. Mereka itu sama sekali tidak bersalah apa-apa.
Yang bersalah atau yang membuat engkau menderita adalah Resi Satyadharma. Entah
kalau memang engkau mempunyai permusuhan dengan Kahuripan."
Nini Bumigarbo
menggeleng kepalanya.
"Aku
tidak mencampuri urusan kerajaan dan kadipaten. Aku tidak berpihak kepada
siapapun juga dan tidak mau terlibat tidak mau ikut campur. Yang kubenci
hanyalah Erlangga dan Narotama karena mereka itu murid-murid Resi Satyadharma.
Aku ingin membunuh mereka untuk membuat resi itu menderita!"
"Kalau
begitu, mengapa tidak membalas kepada Resi Satyadharma secara langsung saja,
Bibi?"
"Huh, kau
tahu apa! Biar aku memperdalam ilmu-ilmuku selama puluhan tahun lagi, masih
tidak mudah untuk mengalahkan resi yang sakti mandraguna itu."
"Akan
tetapi, Bibi. Mengapa Bibi tidak minta bantuan guru Bibi yang merupakan manusia
setengah dewa itu? Kalau dia mau membantu, tentu Bibi dapat membalas dendam
Bibi terhadap Resi Satyadharma."
"Huh,
kaukira aku begitu bodoh untuk tidak berpikir sampai ke sana? Dahulu pun,
begitu Kakang Ekadenta memutuskan hubungan dan mengambil keputusan untuk tidak
menikah, aku sudah menghadap Bapa Guru dan menangis di hadapannya, menceritakan
segala sakit hatiku dan keinginanku untuk membalas dendam kepada Resi
Satyadharma. Akan tetapi tahukah engkau apa yang Bapa Guru katakan? Dia
mengatakan bahwa Resi Satyadharma tidak bersalah dan dia sendiri akan merasa
malu kalau aku membalas dendam kepada Sang Resi itu.
No comments:
Post a Comment