Nurseta Satria Karangtirta ; Bagian 33


"Akan tetapi, Bibi Gayatri, bagaimana ceritanya engkau malam itu dapat dengan tepat menolongku terlepas dari tangan si jahanam Linggawijaya, mengapa pula engkau menolongku, dan mengapa kini engkau membawa aku ke tempat ini?"
Dihujani pertanyaan itu, Nini Bumigarbo tersenyum. Wajah yang tadinya dingin menyeramkan itu tampak manis juga ketika tersenyum dan matanya yang galak menjadi lembut sejenak.
"Niken, malam itu kebetulan saja aku melihat engkau hendak dijadikan korban kebiadaban Linggawijaya. Karena aku suka akan sikapmu yang mati-matian menentangnya, maka aku lalu turun tangan menolongmu."
"Akan tetapi wanita itu mengakuimu sebagai ibu guru. Bukankah ia itu isteri Linggawijaya yang bernama Dewi Mayangsari?"
"Benar, Dewi Mayangsari pernah mempelajari ilmu dariku."
"Akan tetapi mengapa, Bibi Gayatri? Mengapa engkau mengajarkan ilmu kepada permaisuri Wengker yang terkenal menjadi kadipaten yang sesat dan jahat?"
Nini Bumigarbo memandang dengan mata berkilat sehingga mengejutkan hati Niken Harni.
"Aku mau mengajar siapa pun juga, laki atau perempuan, tua atau muda, baik atau jahat, siapa peduli?" Ia membentak.
Melihat nenek ini marah, Niken Harni juga mengerutkan alisnya dan cemberut.
"Benar juga, sama sekali bukan urusanku, mengapa aku bertanya?"

Mereka berdua berdiam diri. Keduanya cemberut sampai bibir mereka meruncing, cuping hidung mekar dan alis berkerut, pandang mata keruh dan saling menghindarkan pertemuan pandang. Sampai lama keadaan sunyi seperti itu, diam seolah keduanya telah berubah menjadi arca! Agaknya mereka berdua sama-sama keras hati dan keras kepala sehingga tidak ada yang mau mengalah, tidak ada yang mau mulai mendahului membuka percakapan, seolah menjaga gengsi masing-masing! Tiba-tiba terdengar suara tawa berkepanjangan.
"Heh-hehhi-hi-hi-hik...!"
Niken Harni mengangkat muka memandang wanita yang tertawa-tawa itu, kerut di antara kedua alisnya semakin mendalam,
"Hemm, engkau mentertawakan aku, Bibi?" tegurnya dengan ketus.
Mendengar pertanyaan ketus ini, Nini Bumigarbo tertawa semakin terkekeh-kekeh.
"Heh-he-he-heh... mirip sekali... hehhehheh... sama benar... hi-hi-hik...!"
"Bibi Gayatri, kalau engkau mentertawakan aku seperti itu, lebih baik aku pergi saja dari sini!" kata Niken Harni sambil bangkit berdiri. Melihat nenek itu masih juga tertawa, ia lalu menyeberangi taman depan rumah itu menuju ke pintu pagar depan. Akan tetapi setelah tiba di situ, ia terbelalak melihat betapa di depannya terdapat jurang ternganga lebar dan amat dalam. Ia mengambil jalan memutar, memutari pondok itu. Akan tetapi ia mendapat kenyataan bahwa pondok itu berdiri di sebuah di antara puncak-puncak itu dan dikelilingi jurang-jurang yang amat lebar dan dalam. Sama sekali tidak ada jalan untuk menuruni puncak itu. Untuk turun ke jurang tidak mungkin dan amat berbahaya. Untuk melompati juga sama sekali tidak mungkin karena lebarnya tidak kurang dari dua puluh tombak! Niken Harni membanting-banting kakinya karena jengkel dan akhirnya ia terpaksa kembali memasuki pekarangan pondok itu dan ia berdiri sambil bertolak pinggang di depan Nini Bumigarbo.
"Kalau engkau hendak membunuhku, lakukanlah! Tidak perlu engkau mentertawakan aku seperti itu!" bentaknya.
Nenek yang masih terkekeh itu bangkit berdiri di atas batu dan telunjuk kirinya menuding ke arah muka Niken Harni.
"Ah... heh-heh, sungguh luar biasa... aku juga begitu dulu... aha, engkau adalah gambaranku di waktu seusiamu, Niken Harni. Kita sama benar, heh-heh, seperti kembar saja. Bagaimana ada dua orang yang begini sama presis watak dan sikapnya? Heh-heh-hehl"
Hilang kemarahan dari hati Niken Harni.
"Oo... Jadi engkau tertawa seperti itu karena melihat persamaan di antara kita?"
"Ya, ya... karena persamaan itu pula aku membelamu dari kebiadaban Linggawijaya. Aku tertarik dan suka sekali padamu, Niken Harni. Engkau sama dengan aku, engkau cocok dengan aku... Hanya saja..." Nenek itu tiba-tiba kehilangan gairah tawanya dan tampak kecewa dan susah!
"Hanya apa, Bibi?"
Nini Bumigarbo tiba-tiba terkulai dan duduk kembali di atas batu hitam,
"...hanya saja..." suaranya terengah seolah tertahan tangis, "....hanya.... kalau saja aku mempunyai keteguhan hati sepertimu, tidak mudah tergila-gila dan dipermainkan cinta... tidak akan begini nasibku..." dan tiba-tiba Nini Bumigarbo menangis! Ia terisak-isak lalu mengguguk, tangisnya sehebat tawanya tadi. Ia menggunakan kedua tangan untuk menutupi mukanya dan pundaknya terguncang-guncang, tubuhnya menggigil.
Niken Harni adalah seorang gadis yang keras hati, berani mati, dan pantang mundur. Akan tetapi di balik itu, ia pun perasa sekali, mudah merasa iba kepada orang yang menderita, ia lalu maju mendekati, berlutut dekat batu hitam dan merangkul tubuh nenek itu.
"Bibi Gayatri... jangan menangis, Bibi. Segala macam persoalan dapat diperundingkan dan dibicarakan. Tidak ada persoalan yang tidak dapat dipecahkan dan diatasi. Tidak cukup hanya ditangisi saja Bibi."
"Ah, engkau tidak tahu, Niken. Engkau tidak tahu...! Nasibku yang buruk, nasibku yang sengsara... semua ini gara-gara cinta... ah, sungguh aku seorang wanita tolol... goblok... akan tetapi aku lemah... kalau saja aku sekuat engkau! Niken..."
Mendengar keluh kesah ini, timbul terharu. Melihat Nini Bumigarbo seperti itu, ia lalu maju mendekati, berlutut dekat batu hitam dan merangkul tubuh nenek itu. keinginan dalam hati Niken Harni untuk mengetahui apa yang telah terjadi dengan nenek ini sehingga ia menjadi begitu sedih.
"Bibi Gayatri, aku merasa ikut bersedih. Maukah engkau menceritakan kepadaku apa yang telah terjadi dengan dirimu? Engkau seorang yang begini sakti mandraguna, siapa yang akan dapat mengganggumu, Bibi?"
"Orang lain tidak dapat menggangguku, Niken. Akan tetapi hatiku sendiri, keinginanku sendiri, alangkah kuatnya, membuat aku gila, membuat aku merana selama hidupku..."
Niken Harni menjadi semakin tertarik.
"Kalau Bibi tidak merasa keberatan, aku ingin mendengar bagaimana kisahnya sampai Bibi menderita seperti ini..."
"Baik, akan kuceritakan padamu, Niken. Akan tetapi hanya dengan satu syarat, yaitu engkau mau menjadi muridku!"
"Hemm, aku senang sekali, Bibi. Akan tetapi jangan terlalu lama. Orang tua dan keluargaku tentu akan menjadi gelisah kalau terlalu lama aku tidak pulang."
"Bisa beberapa hari, beberapa bulan, atau beberapa tahun. Tergantung bakat dan jodohmu denganku sejauh mana. Nah, dengar ceritaku karena setelah ini aku tidak akan mau menceritakan lagi kepada siapapun juga."
Niken Harni lalu duduk kembali di atas batu hitam di depan Nini Bumigarbo, mendengarkan dengan penuh perhatian. Nini Bumigarbo lalu bercerita. Dahulu, puluhan tahun yang lalu, ketika ia masih seorang gadis dewasa bernama Ni Gayatri, ia menjadi murid seorang pertapa yang tidak pernah muncul di dunia ramai dan terkenal sejak kecil hanya bertapa sehingga disebut sebagai manusia setengah dewa! Pertapa itu hanya dikenai dengan nama Sang Resi Dewakaton dan jarang ada orang dapat bertemu dengannya karena hanya terkadang saja dia berada di puncak Gunung Semeru yang sulit didatangi manusia biasa.

Sang Resi Dewakaton ini sudah amat tua, tak seorang pun mengetahui berapa usianya. Menurut dongeng orang-orang tua, ketika mereka masih kecil mereka sudah mendengar akan nama Sang Resi Dewakaton ini sehingga kalau dihitung dari usia mereka maka tentu usia pertapa itu sudah mendekati dua ratus tahun. Muridnya hanya dua orang, yaitu Ni Gayatri dan .kakak seperguruannya, yang bernama Ki Ekadenta. Mungkin karena mereka bergaul sejak kecil, tidak mengherankan; kalau gadis yang cantik dan pemuda yang tampan itu saling jatuh cinta. Cinta mereka begitu mendalam sehingga keduanya sudah saling berjanji kelak akan hidup berdampingan selama hidup mereka sebagai suami isteri. Kemudian terjadilah peristiwa yang sama sekali mengubah keadaan hidup Ni Gayatri.
"Kakang Ekadenta bertemu dengan seorang resi dari Gunung Agung, Bali-dwipa dan berguru mengenai kejiwaan kepada Sang Resi. Setelah berguru kepada resi itu, sikap Kakang Ekadenta terhadap diriku sama sekali berubah, bahkan terhadap kehidupan duniawi. Dia tidak mau lagi mencampuri urusan duniawi, termasuk tidak mau menikah! Akibatnya, dia menjauhkan diri dariku dan tidak mau lagi terikat perjodohan denganku." Setelah berkata demikian, wajah nenek itu tampak kecewa bukan main.
"Dia meninggalkanmu dan tidak cinta lagi padamu, Bibi?"
"Dia bilang tetap cinta padaku, bahkan cintanya lebih murni menurut dia, cinta suci yang tanpa pamrih, tanpa keinginan untuk mengambil aku sebagai isteri. Siapa butuh cinta macam itu?"
Niken Harni juga merasa penasaran.
"Mengapa cinta seperti itu? Kalau mencinta tentu ingin menjadi suami isteri! Dia telah menyakiti hatimu, Bibi. Kalau aku bertemu dengan Si Ekadenta itu, akan kutegur dan kumarahi dia!"
Nenek itu menghela napas panjang dan menggelengkan kepala.
"Sukar menyadarkan dia, Niken. Selama tiga puluh tahun ini aku membujuknya dengan halus sampai kasar, namun dia sama sekali tidak tergerak dan berkukuh tidak mau menikah dengan aku atau dengan siapapun juga. Aku menjadi marah sekali dan mulai membencinya, akan tetapi dia tetap bersikap lembut kepadaku. Berkali-kali aku menyerangnya, akan tetapi aku selalu kalah olehnya."
"Wah, kalau engkau kalah olehnya, berarti dia tentu amat sakti mandraguna, Bibi Gayatril" Niken Harni terkejut.
"Memang dia sakti mandraguna. Setiap kali aku kalah olehnya, aku lalu tekun memperdalam semua aji-ajiku, akan tetapi setiap kali aku maju lagi, aku tetap saja kalah lagi. Agaknya setiap kali dia pun memperdalam ilmu-ilmunya."
"Apakah Bibi menyerang untuk membunuhnya?"
"Ah, tidak sama sekali. Aku mencintanya dengan segenap jiwa ragaku, itulah kelemahanku. Mana mungkin aku tega membunuhnya? Tadinya aku menyerangnya untuk mengalahkannya dan memaksa dia mengawini aku. Kemudian, aku setiap kali menyerangnya membuat perjanjian. Kalau aku kalah, aku tidak akan turun tangan sendiri membunuh Erlangga dan Narotama. Akan tetapi kalau dia yang kalah, aku akan membunuh raja dan patih Kahuripan itu dan dia tidak boleh menghalangikul Akan tetapi itulah, aku selalu kalah!"
"Ah, aneh sekail perjanjian itu, Bibi. Apa hubungannya Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama dari Kahuripan dengan urusan Bibi dan Ekadenta itu?"
"Hubungannya erat sekali! Resi yang mengajarkan kejiwaan kepada Kakang Ekadenta yang membuat Kakang Ekadenta tidak mau menikah, adalah Sang Resi Satyadharma yang bertapa di Gunung Agung Bali-dwipa. Jelas dialah biang keladinya sehingga Kakang Ekadenta tidak jadi menikah dengan aku. Untuk membalas sakit hati ini kepada Resi Satyadharma tidak mungkin karena dia memiliki kesaktian yang tidak akan dapat kutandingi. Maka aku lalu mengalihkan dendamku kepada dua orang muridnya, yaitu Erlangga dan Narotama! Aku ingin membunuh mereka agar Resi Satyadharma menderita kehilangan orang-orang yang dicintanya seperti yang telah kurasakan. Akan tetapi di sana ada Kakang Ekadenta yang selalu menghalangi aku! Aku tidak berdaya... ah, aku tidak berdaya mengobati sakit hati yang bernyala-nyala selama puluhan tahun...” Nini Bumigarbo menangis lagi.
"Bibi Gayatri, kurasa masih tidak adil kalau Bibi berusaha membalas dendam kepada Resi Satyadharma dengan cara membunuh dua orang muridnya, yaitu Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama. Mereka itu sama sekali tidak bersalah apa-apa. Yang bersalah atau yang membuat engkau menderita adalah Resi Satyadharma. Entah kalau memang engkau mempunyai permusuhan dengan Kahuripan."
Nini Bumigarbo menggeleng kepalanya.
"Aku tidak mencampuri urusan kerajaan dan kadipaten. Aku tidak berpihak kepada siapapun juga dan tidak mau terlibat tidak mau ikut campur. Yang kubenci hanyalah Erlangga dan Narotama karena mereka itu murid-murid Resi Satyadharma. Aku ingin membunuh mereka untuk membuat resi itu menderita!"
"Kalau begitu, mengapa tidak membalas kepada Resi Satyadharma secara langsung saja, Bibi?"
"Huh, kau tahu apa! Biar aku memperdalam ilmu-ilmuku selama puluhan tahun lagi, masih tidak mudah untuk mengalahkan resi yang sakti mandraguna itu."
"Akan tetapi, Bibi. Mengapa Bibi tidak minta bantuan guru Bibi yang merupakan manusia setengah dewa itu? Kalau dia mau membantu, tentu Bibi dapat membalas dendam Bibi terhadap Resi Satyadharma."
"Huh, kaukira aku begitu bodoh untuk tidak berpikir sampai ke sana? Dahulu pun, begitu Kakang Ekadenta memutuskan hubungan dan mengambil keputusan untuk tidak menikah, aku sudah menghadap Bapa Guru dan menangis di hadapannya, menceritakan segala sakit hatiku dan keinginanku untuk membalas dendam kepada Resi Satyadharma. Akan tetapi tahukah engkau apa yang Bapa Guru katakan? Dia mengatakan bahwa Resi Satyadharma tidak bersalah dan dia sendiri akan merasa malu kalau aku membalas dendam kepada Sang Resi itu.

<<< Bagian 32                                                                                         Bagian 34 >>>

No comments:

Post a Comment