Selain itu, Bapa Guru mengatakan bahwa dia yakin tidak akan menang melawan Resi Satyadharma, bukan karena kalah sakti, melainkan karena berada di pihak yang salah. Siapa salah akhirnya akan kalah, begitu kata Bapa Guru. Tentu saja aku menjadi semakin penasaran dan mencari jalan untuk menimpakan pembalasan dendamku kepada dua orang murid Resi Satyadharma itu."
Kembali hening
karena dua orang wanita itu berdiam diri, tenggelam dalam lamunan
masing-masing. Niken Harni merasa iba sekali kepada nenek itu yang kini
menundukkan mukanya yang muram, akhirnya ia berkata.
"Bibi
Gayatri, lalu cara atau jalan apa yang Bibi temukan untuk membalas dendam
itu?"
"Aku
telah melatih beberapa orang murid, di antaranya Dewi Mayangsari permaisuri
Wengker dengan syarat agar mereka itu berusaha untuk menyerang Kahuripan dan
kalau mungkin membunuh Erlangga dan Narotama, atau setidaknya menggulingkan
kedudukan mereka!"
"Dan mengapa
engkau membawa aku ke tempat Ini? Kalau engkau hendak mengajarkan ilmu kepadaku
dengan syarat seperti itu, aku tidak mau menjadi muridmu! Kakekku adalah
seorang tumenggung, ayahku seorang senopati, mereka adalah pejabat-pejabat
Kahuripan dan aku adalah kawula Kahuripan. Bagaimana mungkin aku menjadi
seorang pengkhianat memusuhi Kerajaan Kahuripan sendiri? Aku tidak mau, Bibi,
lebih baik engkau bunuh saja aku!"
Sikap Niken
Harni yang berani menantang agar dibunuh ini kembali membuat nenek itu tersenyum!
Lenyaplah kemuraman wajahnya dan ia memandang gadis itu dengan mata bersinar.
"Tidak,
Niken. Ketika aku melihatmu yang demikian gigih menentang Linggawijaya dan kuat
menahan bujuk rayu dan ketampanannya, aku mendapat gagasan baru untuk membalas
dendam. Kini bukan membalas dendam kepada Resi Satyadharma dan para muridnya,
melainkan membalas dendam kepada Kakang Ekadenta yang telah menyia-nyiakan
cintaku dan menghancurkan kehidupanku!"
"Apa?"
Niken Harni terbelalak.
"Engkau
hendak mengajarkan ilmu kepadaku dengan syarat agar aku membunuh Ekadenta kakak
seperguruanmu itu? Bagaimana mungkin, Bibi? Sedangkan engkau sendiri pun tidak
pernah menang melawannya!"
"Hemm,
aku tidak begitu bodoh, Niken. Bukan, bukan membalas dendam ini kepada Kakang
Ekadenta. Akan tetapi kepada semua laki-laki di dunia ini! Engkau akan kuajari
ilmu dan engkaulah yang akan mewakili aku membalas dendam kepada semua
laki-laki, membuat mereka tergila-gila, rindu, dan hancur hatinya, menderita
dan merana seperti yang telah kualami!" Suara Nenek itu meninggi dan
tampak ia gembira sekali seolah telah membayangkan terjadinya apa yang
diinginkannya itu.
"Eh? Aku
harus menghancurkan kebahagiaan hidup semua laki-laki? Apa maksudmu itu, Bibi?
Aku tidak mengerti."
"Begini,
Niken. Aku sendiri tidak dapat melakukannya karena aku sudah tua. Akan tetapi
engkau dapat! Engkau muda belia, cantik jelita dan menarik, semua pria tentu
akan tergila-gila melihatmu. Aku akan mengajarkan ilmu-ilmu kepadamu dan kau
hadapi para pria itu, terutama yang muda dan tampan. Kalau mereka itu tertarik
dan suka kepadamu, bersikaplah seolah-olah engkau juga mencinta mereka. Buat
mereka itu tergila-gila dan setelah mereka berada dalam keadaan kasmaran (jatuh
cinta) sampai sedalam-dalamnya, nah, saatnya engkau menghancurkannya dengan
mentertawakannya dan meninggalkannya. Biar mereka itu tahu rasa, biar merasakan
betapa sakitnya diputus cinta, rindu dan menderita selama hidupnya, seperti
yang kualami !"
"Lalu apa
hubungannya para pria itu dengan sakit hatimu terhadap Ekadenta?"
"Mereka
semua itu laki-laki dan mereka memang kejam dan cintanya palsu terhadap kaum
wanita. Kalau wanita mencinta dengan sepenuh jiwa, siap mengorbankan diri,
laki-laki hanya mencari kesenangannya sendiri. Nah, engkau yang akan mewakili
aku menghancurkan kebahagiaan hidup para pria itu, Niken Harni!"
"Kalau
aku tidak mau bagaimana?"
Tiba-tiba muka
nenek itu berubah menyeramkan dan sepasang matanya mengeluarkan sinar
mencorong.
"Tidak
mau....??"
Akan tetapi
Niken Harni tidak takut.
"Ingat,
Bibi Gayatri. Aku bukan orang yang takut ancaman. Aku tidak takut mati!"
Ia menantang.
Nini Bumigarbo
tiba-tiba terkekeh.
"Hi-hi-hik?
Tidak mau? Kalau begitu, engkaulah yang akan menderita, melebihi aku. Engkau
bukan hanya akan kehilangan kebahagiaan hidupmu, bahkan engkau akan menderita
sengsara yang hebat. Aku tidak akan membunuhmu, Niken. Aku hanya akan
meninggalkanmu di sini! Hidup disini seorang diri, tidak bertemu dengan
orang-orang yang kaukasihi, tidak bergaul dengan seorang pun manusia. Engkau
akan hidup terus di sini, tahun demi tahun sampai engkau menjadi tua renta dan
karatan, remuk sedikit demi sedikit. Dan aku terkadang akan menjengukmu untuk
mentertawakanmu, he-he-heh-heh!"
Diam-diam
Niken Harni merasa ngeri juga. Ia tidak takut mati akan tetapi kalau ditinggal
sendiri di situ, tak pernah dapat meninggalkan tempat itu, perlahan-lahan menua
dan membusuk di situ, sungguh bayangan itu amat mengerikan. Ia seorang gadis
yang cerdik, maka ia tidak kehilangan akal dan harapan.
"Kalau
aku mau, lalu berapa lama aku harus belajar ilmu darimu di tempat ini?"
"Bisa
beberapa hari, beberapa bulan atau beberapa tahun, semua itu tergantung dari
kesungguhan dan ketekunanmu sendiri. Engkau belajar di sini sampai engkau ada
kemampuan untuk pergi meninggalkan tempat ini."
Niken Harni
berpikir cepat. Sekali waktu nenek itu pasti turun dari puncak untuk mencari
persediaan makanan kalau habis, dan ia dapat memperhatikan dan mempelajari.
Akhirnya, tidak sampai makan waktu lama ia pasti akan dapat turun pula dan
bebas. Maka dengan tegas ia berkata.
"Baik,
aku mau belajar dengan syarat itu, Bibi Gayatri!"
"Benarkah?
Nah, kalau begitu ucapkan janjimu bahwa engkau akan melaksanakan syarat yang
kuajukan tadi!"
Tanpa ragu
Niken Harni bangkit berdiri dan mengucapkan janjinya.
"Aku akan
mempelajari ilmu-ilmu dari Bibi Gayatri dengan syarat bahwa sesudah rampung aku
akan mewakilinya menghancurkan kebahagiaan hidup para pria yang jatuh cinta
kepadaku."
"Berlagak
membalas cinta mereka, kemudian meninggalkan mereka begitu saja sehingga mereka
menjadi patah hati dan hancur kebahagiaan hidupnya!" Nenek itu mendikte.
Niken Harni mengulang kata-kata itu dengan suara mantap.
Setelah
selesai mengucapkan janji, Nini Bumigarbo merangkul gadis itu dengan gembira.
"Engkau
sama benar dengan aku, aku yakin engkaulah yang akan dapat mewakili aku,
memuaskan hatiku, membuat laki-laki seperti Kakang Ekadenta merana hidupnya!
Ingat, melanggar janji akan membuat engkau menjadi manusia yang paling rendah
dan hina, Niken."
"Aku
tidak akan melanggar janji, Bibi!"
Demikianlah,
mulai hari itu, Niken Harni menerima gemblengan ilmu-ilmu yang hebat dari Nini
Bumigarbo. Bahkan nenek itu mengajarkan Aji Pengasihan dan Aji Pamelet yang
amat ampuh dan kuat. Dan saking sukanya kepada gadis itu, Nini Bumigarbo bahkan
pada suatu hari mengoperkan tenaga sakti tingkat tinggi kepada Niken Harni, hal
yang belum pernah ia berikan kepada para murid. Bahkan Dewi Mayangsari pun
tidak memperoleh pengoperan tenaga sakti ini! Tentu saja kepandaian Niken Harni
meningkat dengan amat cepat, apalagi gadis itu memang berbakat baik dan tekun
pula.
Rombongan itu
berhenti di sebuah dusun dan seperti biasa, Ki Patih Narotama mengajak
rombongannya yang terdiri dari Ki Tejoranu, Nyi Lasmi, dan The Kim Lan untuk
bermalam di rumah kepala dusun yang tentu saja menyambut Ki Patih Narotama
dengan penuh kehormatan. Setelah dijamu makan oleh Lurah Desa Magel, rombongan
Itu lalu mengaso dalam kamar masing-masing. Ki Patih Narotama dan ki Tejoranu
mendapatkan sebuah kamar masing-masing, adapun Nyi Lasmi dan The Kim Lan tidur
sekamar. Ki Patih Narotama, seperti biasa, dalam kesempatan itu didaulat oleh
keluarga Lurah Desa Magel yang memohon agar Ki Patih Narotama suka memberi
wejangan kepada keluarganya, terutama belasan orang muda-mudi remaja, yaitu
anak-anaknya dan keponakan-keponakannya. Seperti biasa, setiap kali berada di
sebuah dusun, Ki Patih Narotama selalu memenuhi permintaan lurah dusun untuk
memberi wejangan tentang tugas para pamong praja, tentang cara hidup yang baik
dan benar. Sekali ini, Ki Patih Narotama mendengar dari Ki Lurah bahwa di dusun
Magel sedang terjadi banyak penyelewengan dan kesesatan yang dilakukan para
muda mudi. Agaknya nafsu berahi sedang mengamuk di kalangan para muda mudi
Magel itu sehingga terjadi banyak pelanggaran berupa perkosaan, perjinaan dan
sebagainya. Mendengar ini, Ki Patih Narotama minta agar Ki Lurah mengumpulkan
muda mudi di keluarahan itu. Lebih dari lima puluh orang pemuda remaja dan tiga
puluh gadis remaja pada malam itu berkumpul di balai desa. Mereka semua duduk
bersila atau bersimpuh di atas lantai, menghadap Ki Patih Narotama yang juga
duduk bersila di atas sebuah bangku sehingga dapat kelihatan oleh para muda
mudi itu. Karena yang dilanggar oleh para muda mudi itu adalah kesusilaan, maka
Ki Patih Narotama memberi penerangan tentang arti kesusilaan sebagai bagian
penting dari kebudayaan.
"Kita
manusia dikatakan sebagai mahluk yang paling tinggi derajatnya, satu antara
lain adalah karena manusia mengenal kesusilaan. Kalau kesusilaan ini dilanggar,
maka derajat manusia menurun banyak mendekati derajat binatang. Aku mendengar
bahwa di dusun kalian ini terdapat banyak pelanggaran kesusilaan, terutama
sekali perjinaan antara muda-mudi. Mereka yang melakukan hal ini membela diri
dengan alasan bahwa mereka saling mencinta maka boleh saja mereka itu melakukan
hubungan sanggama (persetubuhan). Kalau begitu halnya, mereka tidak ada bedanya
dengan binatang. Binatang pun melakukan hal itu, baik karena saling suka atau
dengan paksaan karena binatang memang tidak mempunyai peraturan atau
kesusilaan. Maka kalau kita juga bertindak seperti itu, tidak ada bedanya
antara kita dan binatang!"
Mendengar
uraian yang agak menekan ini, para remaja, terutama pemudanya, mulai
berbisik-bisik seolah tidak setuju dengan pendapat Ki Patih itu. Ki Patih Narotama
membiarkan mereka berbisik-bisik beberapa saat lamanya, kemudian dia mengangkat
tangan, dan semua remaja terdiam.
"Kita ini
manusia yang di dalam segala hal dalam kehidupan ini mempunyai
peraturan-peraturan yang telah diterima oleh masyarakat. Tanpa adanya peraturan
yang harus dipatuhi, kehidupan menjadi kacau balau dan orang boleh bertindak
sesuka hati masing-masing sehingga pasti menimbulkan bentrokan dan
pertengkaran. Menaati peraturan dianggap baik dan melanggar peraturan dianggap
buruk atau jahat. Bahkan pemerintah mengadakan peraturan hukuman bagi mereka
yang melanggar peraturan. Ketahuilah kalian, adik-adik muda dan remaja. Kalian
harus dapat membedakan antara cinta kasih dan nafsu berahi. Cinta kasih
bukanlah nafsu berahi walaupun dalam cinta kasih antara suami isteri terkandung
nafsu berahi yang wajar."
Ki Patih
Narotama melihat betapa wajah para remaja itu tegang dan agaknya mereka mulai
tertarik tidak ada suara berbisik sedikit pun. Dia lalu melanjutkan dengan
suara lantang.
"Kalau
ada seorang pemuda dan seorang gadis saling suka, saling mencinta, hal itu
adalah wajar dan baik-baik saja. Cinta kasih adalah soal perasaan hati setiap
orang maka tidak ada yang dapat melarang orang jatuh cinta. Akan tetapi, kalau
nafsu berahi menerkam dan menguasai hati sehingga mereka berdua melakukan
sanggama di luar pernikahan, maka mereka telah melakukan pelanggaran kesusilaan
dan cinta kasih mereka itu tidak murni lagi, tidak bersih lagi melainkan kotor.
Dan akibatnya juga amat tidak baik bagi mereka berdua. Si gadis akan tertimpa
aib sebagai bukan perawan lagi, dicemoohkan dan dihina masyarakat. Si pemuda
yang dianggap jahat dan bukan tidak mungkin orang tua dan keluarga si gadis
marah dan mengamuk, menyerang dan membunuh pemuda itu. Keluarga pemuda membela
dan terjadilah permusuhan. Ini bukan berarti bahwa aku hendak mengatakan bahwa
perbuatan sanggama menuruti gejolak berahi adalah hal yang kotor dan buruk.
Sama sekali tidak! Seperti nafsu-nafsu lain, nafsu berahi merupakan anugerah
dari Sang Hyang Widi bagi manusia dan merupakan sesuatu yang bersih, bahkan
suci karena merupakan sarana bagi perkembang-biakan manusia! Akan tetapi,
pelakunya hanyalah suami isteri. Bagi suami isteri, perbuatan itu baik dan
benar, bersih dan suci. Akan tetapi kalau perbuatan itu dilakukan oleh
muda-mudi yang belum menjadi suami isteri, maka perbuatan itu menjadi kotor dan
buruk. Perbuatan itu hanya merupakan dorongan nafsu berahi yang telah
mencengkeram, menguasai dan memper-hamba pelakunya. Apakah kalian semua sudah
mengerti sekarang?"
Para muda-mudi
itu mengangguk. Mereka teringat akan semua peristiwa semacam yang terjadi.
Kebanyakan berakibat buruk sekali bagi pemuda dan gadis yang bersangkutan.
Memang ada yang kemudian menjadi suami isteri yang cukup bahagia, akan tetapi
betapa banyaknya yang berakhir dengan aib dan cemooh bagi para pelakunya,
terutama bagi pemudinya. Bahkan ada pula beberapa orang pemuda yang melakukan
hal itu kemudian tidak mau bertanggung jawab, dikejar dan dibunuh keluarga si
gadis yang menjadi korban.
No comments:
Post a Comment