Nurseta Satria Karangtirta ; Bagian 34


Selain itu, Bapa Guru mengatakan bahwa dia yakin tidak akan menang melawan Resi Satyadharma, bukan karena kalah sakti, melainkan karena berada di pihak yang salah. Siapa salah akhirnya akan kalah, begitu kata Bapa Guru. Tentu saja aku menjadi semakin penasaran dan mencari jalan untuk menimpakan pembalasan dendamku kepada dua orang murid Resi Satyadharma itu."

Kembali hening karena dua orang wanita itu berdiam diri, tenggelam dalam lamunan masing-masing. Niken Harni merasa iba sekali kepada nenek itu yang kini menundukkan mukanya yang muram, akhirnya ia berkata.
"Bibi Gayatri, lalu cara atau jalan apa yang Bibi temukan untuk membalas dendam itu?"
"Aku telah melatih beberapa orang murid, di antaranya Dewi Mayangsari permaisuri Wengker dengan syarat agar mereka itu berusaha untuk menyerang Kahuripan dan kalau mungkin membunuh Erlangga dan Narotama, atau setidaknya menggulingkan kedudukan mereka!"
"Dan mengapa engkau membawa aku ke tempat Ini? Kalau engkau hendak mengajarkan ilmu kepadaku dengan syarat seperti itu, aku tidak mau menjadi muridmu! Kakekku adalah seorang tumenggung, ayahku seorang senopati, mereka adalah pejabat-pejabat Kahuripan dan aku adalah kawula Kahuripan. Bagaimana mungkin aku menjadi seorang pengkhianat memusuhi Kerajaan Kahuripan sendiri? Aku tidak mau, Bibi, lebih baik engkau bunuh saja aku!"
Sikap Niken Harni yang berani menantang agar dibunuh ini kembali membuat nenek itu tersenyum! Lenyaplah kemuraman wajahnya dan ia memandang gadis itu dengan mata bersinar.
"Tidak, Niken. Ketika aku melihatmu yang demikian gigih menentang Linggawijaya dan kuat menahan bujuk rayu dan ketampanannya, aku mendapat gagasan baru untuk membalas dendam. Kini bukan membalas dendam kepada Resi Satyadharma dan para muridnya, melainkan membalas dendam kepada Kakang Ekadenta yang telah menyia-nyiakan cintaku dan menghancurkan kehidupanku!"
"Apa?" Niken Harni terbelalak.
"Engkau hendak mengajarkan ilmu kepadaku dengan syarat agar aku membunuh Ekadenta kakak seperguruanmu itu? Bagaimana mungkin, Bibi? Sedangkan engkau sendiri pun tidak pernah menang melawannya!"
"Hemm, aku tidak begitu bodoh, Niken. Bukan, bukan membalas dendam ini kepada Kakang Ekadenta. Akan tetapi kepada semua laki-laki di dunia ini! Engkau akan kuajari ilmu dan engkaulah yang akan mewakili aku membalas dendam kepada semua laki-laki, membuat mereka tergila-gila, rindu, dan hancur hatinya, menderita dan merana seperti yang telah kualami!" Suara Nenek itu meninggi dan tampak ia gembira sekali seolah telah membayangkan terjadinya apa yang diinginkannya itu.
"Eh? Aku harus menghancurkan kebahagiaan hidup semua laki-laki? Apa maksudmu itu, Bibi? Aku tidak mengerti."
"Begini, Niken. Aku sendiri tidak dapat melakukannya karena aku sudah tua. Akan tetapi engkau dapat! Engkau muda belia, cantik jelita dan menarik, semua pria tentu akan tergila-gila melihatmu. Aku akan mengajarkan ilmu-ilmu kepadamu dan kau hadapi para pria itu, terutama yang muda dan tampan. Kalau mereka itu tertarik dan suka kepadamu, bersikaplah seolah-olah engkau juga mencinta mereka. Buat mereka itu tergila-gila dan setelah mereka berada dalam keadaan kasmaran (jatuh cinta) sampai sedalam-dalamnya, nah, saatnya engkau menghancurkannya dengan mentertawakannya dan meninggalkannya. Biar mereka itu tahu rasa, biar merasakan betapa sakitnya diputus cinta, rindu dan menderita selama hidupnya, seperti yang kualami !"
"Lalu apa hubungannya para pria itu dengan sakit hatimu terhadap Ekadenta?"
"Mereka semua itu laki-laki dan mereka memang kejam dan cintanya palsu terhadap kaum wanita. Kalau wanita mencinta dengan sepenuh jiwa, siap mengorbankan diri, laki-laki hanya mencari kesenangannya sendiri. Nah, engkau yang akan mewakili aku menghancurkan kebahagiaan hidup para pria itu, Niken Harni!"
"Kalau aku tidak mau bagaimana?"
Tiba-tiba muka nenek itu berubah menyeramkan dan sepasang matanya mengeluarkan sinar mencorong.
"Tidak mau....??"
Akan tetapi Niken Harni tidak takut.
"Ingat, Bibi Gayatri. Aku bukan orang yang takut ancaman. Aku tidak takut mati!" Ia menantang.
Nini Bumigarbo tiba-tiba terkekeh.
"Hi-hi-hik? Tidak mau? Kalau begitu, engkaulah yang akan menderita, melebihi aku. Engkau bukan hanya akan kehilangan kebahagiaan hidupmu, bahkan engkau akan menderita sengsara yang hebat. Aku tidak akan membunuhmu, Niken. Aku hanya akan meninggalkanmu di sini! Hidup disini seorang diri, tidak bertemu dengan orang-orang yang kaukasihi, tidak bergaul dengan seorang pun manusia. Engkau akan hidup terus di sini, tahun demi tahun sampai engkau menjadi tua renta dan karatan, remuk sedikit demi sedikit. Dan aku terkadang akan menjengukmu untuk mentertawakanmu, he-he-heh-heh!"
Diam-diam Niken Harni merasa ngeri juga. Ia tidak takut mati akan tetapi kalau ditinggal sendiri di situ, tak pernah dapat meninggalkan tempat itu, perlahan-lahan menua dan membusuk di situ, sungguh bayangan itu amat mengerikan. Ia seorang gadis yang cerdik, maka ia tidak kehilangan akal dan harapan.
"Kalau aku mau, lalu berapa lama aku harus belajar ilmu darimu di tempat ini?"
"Bisa beberapa hari, beberapa bulan atau beberapa tahun, semua itu tergantung dari kesungguhan dan ketekunanmu sendiri. Engkau belajar di sini sampai engkau ada kemampuan untuk pergi meninggalkan tempat ini."
Niken Harni berpikir cepat. Sekali waktu nenek itu pasti turun dari puncak untuk mencari persediaan makanan kalau habis, dan ia dapat memperhatikan dan mempelajari. Akhirnya, tidak sampai makan waktu lama ia pasti akan dapat turun pula dan bebas. Maka dengan tegas ia berkata.
"Baik, aku mau belajar dengan syarat itu, Bibi Gayatri!"
"Benarkah? Nah, kalau begitu ucapkan janjimu bahwa engkau akan melaksanakan syarat yang kuajukan tadi!"
Tanpa ragu Niken Harni bangkit berdiri dan mengucapkan janjinya.
"Aku akan mempelajari ilmu-ilmu dari Bibi Gayatri dengan syarat bahwa sesudah rampung aku akan mewakilinya menghancurkan kebahagiaan hidup para pria yang jatuh cinta kepadaku."
"Berlagak membalas cinta mereka, kemudian meninggalkan mereka begitu saja sehingga mereka menjadi patah hati dan hancur kebahagiaan hidupnya!" Nenek itu mendikte. Niken Harni mengulang kata-kata itu dengan suara mantap.
Setelah selesai mengucapkan janji, Nini Bumigarbo merangkul gadis itu dengan gembira.
"Engkau sama benar dengan aku, aku yakin engkaulah yang akan dapat mewakili aku, memuaskan hatiku, membuat laki-laki seperti Kakang Ekadenta merana hidupnya! Ingat, melanggar janji akan membuat engkau menjadi manusia yang paling rendah dan hina, Niken."
"Aku tidak akan melanggar janji, Bibi!"
Demikianlah, mulai hari itu, Niken Harni menerima gemblengan ilmu-ilmu yang hebat dari Nini Bumigarbo. Bahkan nenek itu mengajarkan Aji Pengasihan dan Aji Pamelet yang amat ampuh dan kuat. Dan saking sukanya kepada gadis itu, Nini Bumigarbo bahkan pada suatu hari mengoperkan tenaga sakti tingkat tinggi kepada Niken Harni, hal yang belum pernah ia berikan kepada para murid. Bahkan Dewi Mayangsari pun tidak memperoleh pengoperan tenaga sakti ini! Tentu saja kepandaian Niken Harni meningkat dengan amat cepat, apalagi gadis itu memang berbakat baik dan tekun pula.

Rombongan itu berhenti di sebuah dusun dan seperti biasa, Ki Patih Narotama mengajak rombongannya yang terdiri dari Ki Tejoranu, Nyi Lasmi, dan The Kim Lan untuk bermalam di rumah kepala dusun yang tentu saja menyambut Ki Patih Narotama dengan penuh kehormatan. Setelah dijamu makan oleh Lurah Desa Magel, rombongan Itu lalu mengaso dalam kamar masing-masing. Ki Patih Narotama dan ki Tejoranu mendapatkan sebuah kamar masing-masing, adapun Nyi Lasmi dan The Kim Lan tidur sekamar. Ki Patih Narotama, seperti biasa, dalam kesempatan itu didaulat oleh keluarga Lurah Desa Magel yang memohon agar Ki Patih Narotama suka memberi wejangan kepada keluarganya, terutama belasan orang muda-mudi remaja, yaitu anak-anaknya dan keponakan-keponakannya. Seperti biasa, setiap kali berada di sebuah dusun, Ki Patih Narotama selalu memenuhi permintaan lurah dusun untuk memberi wejangan tentang tugas para pamong praja, tentang cara hidup yang baik dan benar. Sekali ini, Ki Patih Narotama mendengar dari Ki Lurah bahwa di dusun Magel sedang terjadi banyak penyelewengan dan kesesatan yang dilakukan para muda mudi. Agaknya nafsu berahi sedang mengamuk di kalangan para muda mudi Magel itu sehingga terjadi banyak pelanggaran berupa perkosaan, perjinaan dan sebagainya. Mendengar ini, Ki Patih Narotama minta agar Ki Lurah mengumpulkan muda mudi di keluarahan itu. Lebih dari lima puluh orang pemuda remaja dan tiga puluh gadis remaja pada malam itu berkumpul di balai desa. Mereka semua duduk bersila atau bersimpuh di atas lantai, menghadap Ki Patih Narotama yang juga duduk bersila di atas sebuah bangku sehingga dapat kelihatan oleh para muda mudi itu. Karena yang dilanggar oleh para muda mudi itu adalah kesusilaan, maka Ki Patih Narotama memberi penerangan tentang arti kesusilaan sebagai bagian penting dari kebudayaan.
"Kita manusia dikatakan sebagai mahluk yang paling tinggi derajatnya, satu antara lain adalah karena manusia mengenal kesusilaan. Kalau kesusilaan ini dilanggar, maka derajat manusia menurun banyak mendekati derajat binatang. Aku mendengar bahwa di dusun kalian ini terdapat banyak pelanggaran kesusilaan, terutama sekali perjinaan antara muda-mudi. Mereka yang melakukan hal ini membela diri dengan alasan bahwa mereka saling mencinta maka boleh saja mereka itu melakukan hubungan sanggama (persetubuhan). Kalau begitu halnya, mereka tidak ada bedanya dengan binatang. Binatang pun melakukan hal itu, baik karena saling suka atau dengan paksaan karena binatang memang tidak mempunyai peraturan atau kesusilaan. Maka kalau kita juga bertindak seperti itu, tidak ada bedanya antara kita dan binatang!"
Mendengar uraian yang agak menekan ini, para remaja, terutama pemudanya, mulai berbisik-bisik seolah tidak setuju dengan pendapat Ki Patih itu. Ki Patih Narotama membiarkan mereka berbisik-bisik beberapa saat lamanya, kemudian dia mengangkat tangan, dan semua remaja terdiam.
"Kita ini manusia yang di dalam segala hal dalam kehidupan ini mempunyai peraturan-peraturan yang telah diterima oleh masyarakat. Tanpa adanya peraturan yang harus dipatuhi, kehidupan menjadi kacau balau dan orang boleh bertindak sesuka hati masing-masing sehingga pasti menimbulkan bentrokan dan pertengkaran. Menaati peraturan dianggap baik dan melanggar peraturan dianggap buruk atau jahat. Bahkan pemerintah mengadakan peraturan hukuman bagi mereka yang melanggar peraturan. Ketahuilah kalian, adik-adik muda dan remaja. Kalian harus dapat membedakan antara cinta kasih dan nafsu berahi. Cinta kasih bukanlah nafsu berahi walaupun dalam cinta kasih antara suami isteri terkandung nafsu berahi yang wajar."
Ki Patih Narotama melihat betapa wajah para remaja itu tegang dan agaknya mereka mulai tertarik tidak ada suara berbisik sedikit pun. Dia lalu melanjutkan dengan suara lantang.
"Kalau ada seorang pemuda dan seorang gadis saling suka, saling mencinta, hal itu adalah wajar dan baik-baik saja. Cinta kasih adalah soal perasaan hati setiap orang maka tidak ada yang dapat melarang orang jatuh cinta. Akan tetapi, kalau nafsu berahi menerkam dan menguasai hati sehingga mereka berdua melakukan sanggama di luar pernikahan, maka mereka telah melakukan pelanggaran kesusilaan dan cinta kasih mereka itu tidak murni lagi, tidak bersih lagi melainkan kotor. Dan akibatnya juga amat tidak baik bagi mereka berdua. Si gadis akan tertimpa aib sebagai bukan perawan lagi, dicemoohkan dan dihina masyarakat. Si pemuda yang dianggap jahat dan bukan tidak mungkin orang tua dan keluarga si gadis marah dan mengamuk, menyerang dan membunuh pemuda itu. Keluarga pemuda membela dan terjadilah permusuhan. Ini bukan berarti bahwa aku hendak mengatakan bahwa perbuatan sanggama menuruti gejolak berahi adalah hal yang kotor dan buruk. Sama sekali tidak! Seperti nafsu-nafsu lain, nafsu berahi merupakan anugerah dari Sang Hyang Widi bagi manusia dan merupakan sesuatu yang bersih, bahkan suci karena merupakan sarana bagi perkembang-biakan manusia! Akan tetapi, pelakunya hanyalah suami isteri. Bagi suami isteri, perbuatan itu baik dan benar, bersih dan suci. Akan tetapi kalau perbuatan itu dilakukan oleh muda-mudi yang belum menjadi suami isteri, maka perbuatan itu menjadi kotor dan buruk. Perbuatan itu hanya merupakan dorongan nafsu berahi yang telah mencengkeram, menguasai dan memper-hamba pelakunya. Apakah kalian semua sudah mengerti sekarang?"

Para muda-mudi itu mengangguk. Mereka teringat akan semua peristiwa semacam yang terjadi. Kebanyakan berakibat buruk sekali bagi pemuda dan gadis yang bersangkutan. Memang ada yang kemudian menjadi suami isteri yang cukup bahagia, akan tetapi betapa banyaknya yang berakhir dengan aib dan cemooh bagi para pelakunya, terutama bagi pemudinya. Bahkan ada pula beberapa orang pemuda yang melakukan hal itu kemudian tidak mau bertanggung jawab, dikejar dan dibunuh keluarga si gadis yang menjadi korban.

<<< Bagian 33                                                                                         Bagian 35 >>>

No comments:

Post a Comment