"Nah, sukurlah kalau kalian sudah tahu akan bahayanya. Untuk mempertegas lagi, mulai sekarang kami akan memerintahkan kepada Ki Lurah untuk menangkap dan menghukum para pelanggar kesusilaan!"
Pertemuan ini
dibubarkan dan banyak orang tua mereka merasa lega karena peringatan Ki Patih
Narotama itu, setidaknya membuat para muda-mudi harus berpikir seratus kali
sebelum nekat melakukan pelanggaran. Sementara itu di sebelah dalam rumah
kelurahan itu, di dalam kamar Ki Tejoranu, The Kim Lan sedang bercakap-cakap
dengan kakaknya dan tampaknya percakapan mereka amat serius. Ketika Kim Lan
memasuki kamar kakaknya, ia langsung bertanya.
"Lan-ko,
Bibi Lasmi bilang bahwa engkau memanggil aku ke sini?"
Ki Tejoranu
mengangguk.
"Duduklah,!
Lam-moi (Adik Lan)."
Setelah mereka
duduk di atas kursi saling berhadapan, Ki Tejoranu memandang wajah adiknya
dengan tajam penuh selidik dan berkata, suaranya lembut lirih namun penuh
kesungguhan.
"Adikku
Kim Lan, benarkah apa yang kudengar dari Bibi Lasmi tadi? Menurut laporannya,
engkau telah jatuh cinta kepada Gusti Patih Narotama dan ingin mengabdikan
dirimu kepadanya? Dan engkau minta bantuan Bibi Lasmi untuk menyampaikan
pengakuanmu itu kepadaku?"
Kim Lan
menundukkan mukanya yang berubah kemerahan, lalu pucat, lalu merah kembali dan
bibirnya gemetar. Agaknya terjadi pergolakan dalam hatinya, membuat ia ragu dan
bingung., Akan tetapi akhirnya ia mengerahkan kekuatan batinnya untuk menekan
ketegangan itu dan menjawab dengan suara gemetar lirih,
"Sesungguhnya,
apa yang dilaporkan Bibi Lasmi itu benar belaka, Lan-ko (Kakak Lan). Selama
hidupku, belum pernah aku mempunyai perasaan seperti ini. Kalau dia menerima
pengabdianku, hidupku akan berbahagia sekali. Sebaliknya kalau hasratku ini
tidak tercapai, rasanya hidupku akan hampa dan tidak ada artinya lagi."
Ki Tejoranu
mengerutkan alisnya dan mengepal tangannya. Dia merasa tegang dan gelisah
sekali. Kim Lan merupakan satu-satunya orang yang dipunyainya dalam dunia ini.
Setelah bertemu dan berkumpul dengan Kim Lan, dia merasa berbahagia dan baru
merasa betapa dia amat mencinta adik kandungnya ini. Dia berjanji kepada diri
sendiri untuk membela dan melindungi adiknya, kalau perlu dengan taruhan
nyawanya sendiri. Hidupnya sendiri boleh saja merana, akan tetapi dia harus
dapat membahagiakan kehidupan The Kim Lan, adik tunggal yang telah menyeberangi
lautan luas dan amat jauh untuk mencari dia, kakak kandungnya, pengganti orang
tuanya! Dan sekarang, Kim Lan menyatakan sesuatu yang dia anggap tidak mungkin
terjadi dan dia khawatir sekali mendengar pengakuan adiknya tadi.
"Kim Lan,
aku tidak menyalahkan engkau, Adikku. Jatuh cinta merupakan hal yang wajar saja
bagi siapa pun juga. Akan tetapi, biarpun demikian harus juga disertai
perhitungan yang bijaksana. Tidak ingatkah engkau siapa Gusti Patih Narotama
itu? Dia adalah seorang yang sakti mandraguna dan berkedudukan tinggi. Dia itu
orang besar, Adikku, patih dan menjadi orang kedua di Kahuripan! Sedangkan
engkau, kita ini, kita ini orang-orang asing yang merantau ke sini, miskin dan
papa. Aduh, Adikku yang tersayang terlampau tinggi jangkauan dan keinginanmu
itu, Kim Lan. Jangan dilanjutkan, Adikku... hilangkan saja perasaan hatimu itu.
Kelak engkau akan bertemu dengan jodohmu yang lebih tepat, lebih seimbang,
lebih...."
"Cukup,
Lan-ko!" Gadis itu memutuskan ucapan kakaknya. Wajahnya pucat dan matanya
bersinar, membayangkan penasaran hatinya.
"Apa sih
bedanya antara orang berpangkat dan yang tidak berpangkat? Apakah bedanya
antara orang besar dan kecil, antara orang kaya dan orang miskin? Kalau aku
berniat menghambakan diri kepada Gusti Patih Narotama dan dia suka menerimaku,
tidak ada masalah lain."
"Hmm,
engkau keras hati, Adikku. Lalu apa yang kau kehendaki aku berbuat?"
"Apakah
Bibi Lasmi belum menyampaikannya kepadamu, Lan-ko?"
"Bahwa
aku harus menghadap Gusti Patih Narotama sekarang juga untuk menyampaikan
keinginanmu itu, menyatakan terus terang bahwa engkau mencintanya dan ingin
menghambakan diri menjadi seorang selirnya?"
Kedua pipi Kim
Lan berubah merah akan tetapi ia mengangguk.
"Benar"
Ki Tejoranu
menghela napas panjang.
"Aihh...
Kim Lan...! Bagaimana aku dapat melakukannya? Mengapa bukan engkau sendiri saja
yang menghadap dan bicara kepada Gusti Patih?"
"Lan-ko,
aku seorang wanita, tidak pantas kalau aku menyampaikannya sendiri. Menurut
kebiasaan bangsa kita pun, yang membicarakan urusan perjodohan adalah orang
tua, dan engkau menjadi pengganti orang tuaku."
Ki Tejoranu
kembali menghela napas panjang.
"Sungguh
merupakan tugas yang amat berat, Adikku."
"Apanya
yang berat, Lan-ko? Engkau tinggal menghadap dan mengatakan hal itu kepada
Gusti Patih. Mengapa ragu dan tampaknya engkau takut-takut?"
"Aku
memang takut, Adikku. Takut kalau-kalau engkau ditolak, pengabdianmu tidak
diterima."
"Aku
yakin akan diterima, Lan-ko. Aku dapat melihat dari sikap dan bicaranya yang
manis padaku, melihat sinar matanya yang lembut kalau memandangku. Aku yakin
perasaan hatiku ini bukan hanya bertepuk sebelah tangan, Lan-ko."
"Hemm,
baiklah, Lan-moi. Akan tetapi hanya dengan syarat, yaitu engkau ikut denganku
menghadap Gusti patih!" Melihat adiknya terkejut, dia menyambung cepat.
"Aku
tidak mau kalau disangka bahwa semua ini kehendakku sendiri saja."
"Baik,
Lan-ko. Aku harus berani menghadapi segala kenyataan dan akibatnya” jawab gadis
itu dengan tegas.
Kakak beradik
itu lalu menghadap Ki Patih Narotama. Ketika Ki Tejoranu menyatakan bahwa dia
dan adiknya hendak membicarakan sesuatu yang amat penting dengan Ki Patih
sendiri, Ki Patih Narotama lalu menerima mereka di ruangan dalam dan memesan
kepada Ki Lurah agar jangan ada yang mengganggu pertemuannya dengan kakak
beradik itu. Kini mereka duduk berhadapan terhalang meja di ruangan dalam.
Sinar lampu gantung yang besar itu memberi penerangan yang cukup. Ki Patih
Narotama memandang wajah kakak dan adik itu bergantian dengan senyum heran
karena dia tidak dapat menduga apa gerangan yang akan dibicarakan mereka yang
tampak bersikap aneh dan mengandung rahasia itu.
"Nah,
sekarang katakan apakah yang Andika berdua hendak bicarakan dengan aku,
Tejoranu dan Kim Lan?" Tanya Narotama dengan sikapnya yang lembut dan
ramah seperti biasa.
Ki Tejoranu
merasa begitu tegang sehingga sejenak dia tidak mampu mengeluarkan suara. Kim
Lan yang duduk di rampingnya menggunakan tangannya untuk menyodok pinggang
kakaknya. Karena gerakan itu dilakukan di bawah meja maka agaknya tidak tampak
oleh Ki Patih Narotama. Ki Tejoranu kini nekat mulai bicara.
"Begini,
Gusti Patih, sebetulnya... eh, sebelumnya kami berdua mohon maaf yang
sebesarnya kalau apa yang hendak kami bicarakan ini terlalu lancang dan membuat
Paduka marah...."
Ki Patih
Narotama membelalakkan matanya dan tertawa,
"He-he-hehl
Tejoranu, apakah engkau mengenal aku sebagai seorang pemarah? Tenanglah dan
jangan gugup. Bicara saja secara terbuka, aku tidak akan marah. Bagaimana aku
dapat marah kepada orang-orang seperti engkau dan Kim Lan adikmu Ini?"
"Gusti
Patih, saya tahu benar akan kebijaksanaan dan kemuliaan hati Paduka, akan
tetapi apa yang hendak saya katakan ini... mungkin terlalu lancang...."
"Saudara,
Tejoranu. Keragu-raguanmu itu malah tidak mengenakkan hati. Bicaralah yang
jelas dan terbuka. Seperti bukan seorang gagah sajal" kata Ki Patih
Narotama dengan nada menegur.
"Baik,
Gusti. Sesungguhnya begini. Kami datang menghadap Paduka ini untuk mengajukan
sebuah permohonan dengan harapan Paduka akan sudi mengabulkan dan
menerimanya."
"Katakan
dulu, apa permohonan itu, Tejoranu. Sebelum kalian mengatakan, bagaimana aku
dapat memutuskannya?"
"Adik
saya ini, Kim Lan, ia berniat untuk suwita (menghambakan diri) kepada Paduka
dan mohon agar Paduka sudi menerimanya." Lega hati Ki Tejoranu setelah
mengeluarkan apa yang harus dikatakannya.
Ki Patih
Narotama tercengang dan memandang kepada Kim Lan yang menundukkan mukanya yang
menjadi merah sekali.
"Suwita...?
Maksudnya..., menghambakan diri untuk bekerja membantuku?"
"Tentu
saja membantu segala yang dapat la bantu, la akan melaksanakan segala perintah
Paduka. Akan tetapi, maksudnya... eh, sesungguhnya, maafkan adik saya, Gusti,
sebetulnya Kim Lan mengaku kepada saya bahwa ia amat kagum dan jatuh cinta
kepada Paduka dan ia.... ia mohon agar dapat Paduka terima menjadi.... selir
Paduka."
Tentu saja Ki
Patih Narotama terkejut bukan main, juga merasa heran.
"Mencintaku....?
Kim Lan...? Yang baru saja bertemu dengan aku...."
Setelah
kakaknya menceritakan semua keinginannya kepada Ki Patih Narotama, Kim Lan
menyingkirkan semua perasaan malu dan rikuh, dan ia lalu berkata, lirih dan
suaranya menggetar.
"Gusti,
saya ingin menyerahkan jiwa raga saya kepada Paduka, saya siap membantu Paduka
dengan setia, rela berkorban nyawa untuk membela Paduka."
Ki Patih
Narotama merasa terharu, akan tetapi dia juga mempertahankan batinnya agar
jangan terpikat oleh penawaran yang amat menyenangkan hati itu. Mempunyai
seorang selir seperti The Kim Lan. Memiliki kecantikan yang khas, asing namun
menarik, juga gadis ini memiliki aji kanuragan yang lumayan dan boleh di
andalkan! Akan tetapi perjodohan tidak dapat dilaksanakan begitu saja atas
dasar kekaguman. Rasanya masih terlalu pagi bagi seorang gadis untuk begitu
saja jatuh cinta kepada seorang pria setelah sekali bertemu. Tentu rasa
cintanya itu timbul dari perasaan kagum. Sebagai seorang patih yang di samping
raja menjadi panutan bagi rakyat, dia harus berhati-hati. Dia sudah salah jalan
satu kali ketika dia mengambil Dewi Lasmini dari Parang Siluman menjadi selir.
Akibatnya geger. Dia merasa menyesal sekali. Kalau sekarang dia menerima Kim
Lan sebagai selirnya, kemudian terjadi hal-hal yang tidak baik, dia tentu akan
menjadi kesan buruk bagi rakyat. Apalagi Kim Lan adalah seorang bangsa asing!
Kecuali itu, walaupun dia kagum kepada Kim Lan, merasa suka karena gadis itu
adik Tejoranu yang dianggap saudara oleh Listyarini lsterinya, namun rasa
sukanya itu sama sekali bukan cinta. Tidak ada sedikit pun dalam hatinya
perasaan cinta yang mendorongnya untuk memperisteri Kim Lan. Ki Patih Narotama
menghela napas panjang berulang kali, dan dia memandang kepada kakak beradik
itu. Dia melihat betapa mereka berdua juga memandang kepadanya. Pandang mata
Kim Lan penuh permohonan dan pandang mata Ki Tejoranu penuh harapan. Ki Patih
Narotama kembali menarik napas panjang. Sungguh tidak enak perasaan hatinya.
Tidak tega dia mengecewakan dua orang ini yang sepatutnya menerima penghargaan
yang menggembirakan hati mereka. Dengan wajah sedih, dia mengeraskan hatinya
dan berkata penuh nada penyesalan.
"Aduh
Tejoranu dan engkau The Kim Lan, bagaimana aku dapat menerima permintaanmu Itu?
Keadaan yang tidak memungkinkan. Tejoranu, pahamilah kedudukanku sebagai patih.
Kim Lan, hilangkan perasaanmu kepadaku itu. Kita menjadi sahabat saja, menjadi
saudara. Engkau seorang gadis yang cantik jelita dan gagah, pasti kelak akan
bertemu dengan jodohmu yang serasi. Terpaksa aku tidak dapat menerimamu sebagai
isteri seperti yang kau kehendaki itu."
Wajah gadis
itu berubah pucat dan ia menundukkan muka, namun tetap saja Ki Patih Narotama
dapat melihat betapa kedua mata yang jeli dan indah itu mengucurkan air mata.
Sementara itu, muka Ki Tejoranu berubah merah sekali. Dia mengepal tinju dan
alisnya berkerut, matanya menyinarkan kemarahan. Kalau saja hal yang tidak baik
menimpa dirinya sendiri, apalagi yang menyebabkannya Ki Patih Narotama, dia tentu
akan menerimanya dengan lapang dada. Akan tetapi sekali ini menyangkut diri Kim
Lan, Adiknya yang amat disayangnya, satu-satunya orang yang harus dilindungi
dan dibelanya! Dan dia tahu benar akan kekerasan hati adiknya. Penolakan
cintanya ini tentu akan menghancurkan hatinya, selain merasa sedih juga tentu
merasa malu karena sebagai seorang gadis ia telah mengaku cinta namun ditolak!
Hal ini terjadi karena Kim Lan salah sangka. Ia merasa yakin bahwa Narotama
juga mencintanya. Kalau ia tahu bahwa patih itu tidak mempunyai perasaan cinta
kepadanya, sampai bagaimana pun juga ia pasti tidak akan mau menyatakan
cintanya. Lebih baik menderita patah hati tanpa ada yang mengetahuinya.
"Jadi
Paduka menolak cinta adik saya Kim Lan, Gusti Patih?" tanya Ki Tejoranu dengan
suara mengandung penasaran.
"Paduka
menganggap Kim Lan kurang berharga untuk menjadi selir seorang patih?"
Ki Patih
Narotama terkejut dan mengerutkan alisnya sambil memandang Tejoranu dengan
sinar mata tajam penuh selidik.
"Tejoranu!"
katanya dengan suara mengandung teguran.
No comments:
Post a Comment