Nurseta Satria Karangtirta ; Bagian 35


"Nah, sukurlah kalau kalian sudah tahu akan bahayanya. Untuk mempertegas lagi, mulai sekarang kami akan memerintahkan kepada Ki Lurah untuk menangkap dan menghukum para pelanggar kesusilaan!"
Pertemuan ini dibubarkan dan banyak orang tua mereka merasa lega karena peringatan Ki Patih Narotama itu, setidaknya membuat para muda-mudi harus berpikir seratus kali sebelum nekat melakukan pelanggaran. Sementara itu di sebelah dalam rumah kelurahan itu, di dalam kamar Ki Tejoranu, The Kim Lan sedang bercakap-cakap dengan kakaknya dan tampaknya percakapan mereka amat serius. Ketika Kim Lan memasuki kamar kakaknya, ia langsung bertanya.
"Lan-ko, Bibi Lasmi bilang bahwa engkau memanggil aku ke sini?"
Ki Tejoranu mengangguk.
"Duduklah,! Lam-moi (Adik Lan)."
Setelah mereka duduk di atas kursi saling berhadapan, Ki Tejoranu memandang wajah adiknya dengan tajam penuh selidik dan berkata, suaranya lembut lirih namun penuh kesungguhan.
"Adikku Kim Lan, benarkah apa yang kudengar dari Bibi Lasmi tadi? Menurut laporannya, engkau telah jatuh cinta kepada Gusti Patih Narotama dan ingin mengabdikan dirimu kepadanya? Dan engkau minta bantuan Bibi Lasmi untuk menyampaikan pengakuanmu itu kepadaku?"
Kim Lan menundukkan mukanya yang berubah kemerahan, lalu pucat, lalu merah kembali dan bibirnya gemetar. Agaknya terjadi pergolakan dalam hatinya, membuat ia ragu dan bingung., Akan tetapi akhirnya ia mengerahkan kekuatan batinnya untuk menekan ketegangan itu dan menjawab dengan suara gemetar lirih,
"Sesungguhnya, apa yang dilaporkan Bibi Lasmi itu benar belaka, Lan-ko (Kakak Lan). Selama hidupku, belum pernah aku mempunyai perasaan seperti ini. Kalau dia menerima pengabdianku, hidupku akan berbahagia sekali. Sebaliknya kalau hasratku ini tidak tercapai, rasanya hidupku akan hampa dan tidak ada artinya lagi."
Ki Tejoranu mengerutkan alisnya dan mengepal tangannya. Dia merasa tegang dan gelisah sekali. Kim Lan merupakan satu-satunya orang yang dipunyainya dalam dunia ini. Setelah bertemu dan berkumpul dengan Kim Lan, dia merasa berbahagia dan baru merasa betapa dia amat mencinta adik kandungnya ini. Dia berjanji kepada diri sendiri untuk membela dan melindungi adiknya, kalau perlu dengan taruhan nyawanya sendiri. Hidupnya sendiri boleh saja merana, akan tetapi dia harus dapat membahagiakan kehidupan The Kim Lan, adik tunggal yang telah menyeberangi lautan luas dan amat jauh untuk mencari dia, kakak kandungnya, pengganti orang tuanya! Dan sekarang, Kim Lan menyatakan sesuatu yang dia anggap tidak mungkin terjadi dan dia khawatir sekali mendengar pengakuan adiknya tadi.
"Kim Lan, aku tidak menyalahkan engkau, Adikku. Jatuh cinta merupakan hal yang wajar saja bagi siapa pun juga. Akan tetapi, biarpun demikian harus juga disertai perhitungan yang bijaksana. Tidak ingatkah engkau siapa Gusti Patih Narotama itu? Dia adalah seorang yang sakti mandraguna dan berkedudukan tinggi. Dia itu orang besar, Adikku, patih dan menjadi orang kedua di Kahuripan! Sedangkan engkau, kita ini, kita ini orang-orang asing yang merantau ke sini, miskin dan papa. Aduh, Adikku yang tersayang terlampau tinggi jangkauan dan keinginanmu itu, Kim Lan. Jangan dilanjutkan, Adikku... hilangkan saja perasaan hatimu itu. Kelak engkau akan bertemu dengan jodohmu yang lebih tepat, lebih seimbang, lebih...."
"Cukup, Lan-ko!" Gadis itu memutuskan ucapan kakaknya. Wajahnya pucat dan matanya bersinar, membayangkan penasaran hatinya.
"Apa sih bedanya antara orang berpangkat dan yang tidak berpangkat? Apakah bedanya antara orang besar dan kecil, antara orang kaya dan orang miskin? Kalau aku berniat menghambakan diri kepada Gusti Patih Narotama dan dia suka menerimaku, tidak ada masalah lain."
"Hmm, engkau keras hati, Adikku. Lalu apa yang kau kehendaki aku berbuat?"
"Apakah Bibi Lasmi belum menyampaikannya kepadamu, Lan-ko?"
"Bahwa aku harus menghadap Gusti Patih Narotama sekarang juga untuk menyampaikan keinginanmu itu, menyatakan terus terang bahwa engkau mencintanya dan ingin menghambakan diri menjadi seorang selirnya?"
Kedua pipi Kim Lan berubah merah akan tetapi ia mengangguk.
"Benar"
Ki Tejoranu menghela napas panjang.
"Aihh... Kim Lan...! Bagaimana aku dapat melakukannya? Mengapa bukan engkau sendiri saja yang menghadap dan bicara kepada Gusti Patih?"
"Lan-ko, aku seorang wanita, tidak pantas kalau aku menyampaikannya sendiri. Menurut kebiasaan bangsa kita pun, yang membicarakan urusan perjodohan adalah orang tua, dan engkau menjadi pengganti orang tuaku."
Ki Tejoranu kembali menghela napas panjang.
"Sungguh merupakan tugas yang amat berat, Adikku."
"Apanya yang berat, Lan-ko? Engkau tinggal menghadap dan mengatakan hal itu kepada Gusti Patih. Mengapa ragu dan tampaknya engkau takut-takut?"
"Aku memang takut, Adikku. Takut kalau-kalau engkau ditolak, pengabdianmu tidak diterima."
"Aku yakin akan diterima, Lan-ko. Aku dapat melihat dari sikap dan bicaranya yang manis padaku, melihat sinar matanya yang lembut kalau memandangku. Aku yakin perasaan hatiku ini bukan hanya bertepuk sebelah tangan, Lan-ko."
"Hemm, baiklah, Lan-moi. Akan tetapi hanya dengan syarat, yaitu engkau ikut denganku menghadap Gusti patih!" Melihat adiknya terkejut, dia menyambung cepat.
"Aku tidak mau kalau disangka bahwa semua ini kehendakku sendiri saja."
"Baik, Lan-ko. Aku harus berani menghadapi segala kenyataan dan akibatnya” jawab gadis itu dengan tegas.

Kakak beradik itu lalu menghadap Ki Patih Narotama. Ketika Ki Tejoranu menyatakan bahwa dia dan adiknya hendak membicarakan sesuatu yang amat penting dengan Ki Patih sendiri, Ki Patih Narotama lalu menerima mereka di ruangan dalam dan memesan kepada Ki Lurah agar jangan ada yang mengganggu pertemuannya dengan kakak beradik itu. Kini mereka duduk berhadapan terhalang meja di ruangan dalam. Sinar lampu gantung yang besar itu memberi penerangan yang cukup. Ki Patih Narotama memandang wajah kakak dan adik itu bergantian dengan senyum heran karena dia tidak dapat menduga apa gerangan yang akan dibicarakan mereka yang tampak bersikap aneh dan mengandung rahasia itu.
"Nah, sekarang katakan apakah yang Andika berdua hendak bicarakan dengan aku, Tejoranu dan Kim Lan?" Tanya Narotama dengan sikapnya yang lembut dan ramah seperti biasa.
Ki Tejoranu merasa begitu tegang sehingga sejenak dia tidak mampu mengeluarkan suara. Kim Lan yang duduk di rampingnya menggunakan tangannya untuk menyodok pinggang kakaknya. Karena gerakan itu dilakukan di bawah meja maka agaknya tidak tampak oleh Ki Patih Narotama. Ki Tejoranu kini nekat mulai bicara.
"Begini, Gusti Patih, sebetulnya... eh, sebelumnya kami berdua mohon maaf yang sebesarnya kalau apa yang hendak kami bicarakan ini terlalu lancang dan membuat Paduka marah...."
Ki Patih Narotama membelalakkan matanya dan tertawa,
"He-he-hehl Tejoranu, apakah engkau mengenal aku sebagai seorang pemarah? Tenanglah dan jangan gugup. Bicara saja secara terbuka, aku tidak akan marah. Bagaimana aku dapat marah kepada orang-orang seperti engkau dan Kim Lan adikmu Ini?"
"Gusti Patih, saya tahu benar akan kebijaksanaan dan kemuliaan hati Paduka, akan tetapi apa yang hendak saya katakan ini... mungkin terlalu lancang...."
"Saudara, Tejoranu. Keragu-raguanmu itu malah tidak mengenakkan hati. Bicaralah yang jelas dan terbuka. Seperti bukan seorang gagah sajal" kata Ki Patih Narotama dengan nada menegur.
"Baik, Gusti. Sesungguhnya begini. Kami datang menghadap Paduka ini untuk mengajukan sebuah permohonan dengan harapan Paduka akan sudi mengabulkan dan menerimanya."
"Katakan dulu, apa permohonan itu, Tejoranu. Sebelum kalian mengatakan, bagaimana aku dapat memutuskannya?"
"Adik saya ini, Kim Lan, ia berniat untuk suwita (menghambakan diri) kepada Paduka dan mohon agar Paduka sudi menerimanya." Lega hati Ki Tejoranu setelah mengeluarkan apa yang harus dikatakannya.
Ki Patih Narotama tercengang dan memandang kepada Kim Lan yang menundukkan mukanya yang menjadi merah sekali.
"Suwita...? Maksudnya..., menghambakan diri untuk bekerja membantuku?"
"Tentu saja membantu segala yang dapat la bantu, la akan melaksanakan segala perintah Paduka. Akan tetapi, maksudnya... eh, sesungguhnya, maafkan adik saya, Gusti, sebetulnya Kim Lan mengaku kepada saya bahwa ia amat kagum dan jatuh cinta kepada Paduka dan ia.... ia mohon agar dapat Paduka terima menjadi.... selir Paduka."
Tentu saja Ki Patih Narotama terkejut bukan main, juga merasa heran.
"Mencintaku....? Kim Lan...? Yang baru saja bertemu dengan aku...."
Setelah kakaknya menceritakan semua keinginannya kepada Ki Patih Narotama, Kim Lan menyingkirkan semua perasaan malu dan rikuh, dan ia lalu berkata, lirih dan suaranya menggetar.
"Gusti, saya ingin menyerahkan jiwa raga saya kepada Paduka, saya siap membantu Paduka dengan setia, rela berkorban nyawa untuk membela Paduka."

Ki Patih Narotama merasa terharu, akan tetapi dia juga mempertahankan batinnya agar jangan terpikat oleh penawaran yang amat menyenangkan hati itu. Mempunyai seorang selir seperti The Kim Lan. Memiliki kecantikan yang khas, asing namun menarik, juga gadis ini memiliki aji kanuragan yang lumayan dan boleh di andalkan! Akan tetapi perjodohan tidak dapat dilaksanakan begitu saja atas dasar kekaguman. Rasanya masih terlalu pagi bagi seorang gadis untuk begitu saja jatuh cinta kepada seorang pria setelah sekali bertemu. Tentu rasa cintanya itu timbul dari perasaan kagum. Sebagai seorang patih yang di samping raja menjadi panutan bagi rakyat, dia harus berhati-hati. Dia sudah salah jalan satu kali ketika dia mengambil Dewi Lasmini dari Parang Siluman menjadi selir. Akibatnya geger. Dia merasa menyesal sekali. Kalau sekarang dia menerima Kim Lan sebagai selirnya, kemudian terjadi hal-hal yang tidak baik, dia tentu akan menjadi kesan buruk bagi rakyat. Apalagi Kim Lan adalah seorang bangsa asing! Kecuali itu, walaupun dia kagum kepada Kim Lan, merasa suka karena gadis itu adik Tejoranu yang dianggap saudara oleh Listyarini lsterinya, namun rasa sukanya itu sama sekali bukan cinta. Tidak ada sedikit pun dalam hatinya perasaan cinta yang mendorongnya untuk memperisteri Kim Lan. Ki Patih Narotama menghela napas panjang berulang kali, dan dia memandang kepada kakak beradik itu. Dia melihat betapa mereka berdua juga memandang kepadanya. Pandang mata Kim Lan penuh permohonan dan pandang mata Ki Tejoranu penuh harapan. Ki Patih Narotama kembali menarik napas panjang. Sungguh tidak enak perasaan hatinya. Tidak tega dia mengecewakan dua orang ini yang sepatutnya menerima penghargaan yang menggembirakan hati mereka. Dengan wajah sedih, dia mengeraskan hatinya dan berkata penuh nada penyesalan.
"Aduh Tejoranu dan engkau The Kim Lan, bagaimana aku dapat menerima permintaanmu Itu? Keadaan yang tidak memungkinkan. Tejoranu, pahamilah kedudukanku sebagai patih. Kim Lan, hilangkan perasaanmu kepadaku itu. Kita menjadi sahabat saja, menjadi saudara. Engkau seorang gadis yang cantik jelita dan gagah, pasti kelak akan bertemu dengan jodohmu yang serasi. Terpaksa aku tidak dapat menerimamu sebagai isteri seperti yang kau kehendaki itu."
Wajah gadis itu berubah pucat dan ia menundukkan muka, namun tetap saja Ki Patih Narotama dapat melihat betapa kedua mata yang jeli dan indah itu mengucurkan air mata. Sementara itu, muka Ki Tejoranu berubah merah sekali. Dia mengepal tinju dan alisnya berkerut, matanya menyinarkan kemarahan. Kalau saja hal yang tidak baik menimpa dirinya sendiri, apalagi yang menyebabkannya Ki Patih Narotama, dia tentu akan menerimanya dengan lapang dada. Akan tetapi sekali ini menyangkut diri Kim Lan, Adiknya yang amat disayangnya, satu-satunya orang yang harus dilindungi dan dibelanya! Dan dia tahu benar akan kekerasan hati adiknya. Penolakan cintanya ini tentu akan menghancurkan hatinya, selain merasa sedih juga tentu merasa malu karena sebagai seorang gadis ia telah mengaku cinta namun ditolak! Hal ini terjadi karena Kim Lan salah sangka. Ia merasa yakin bahwa Narotama juga mencintanya. Kalau ia tahu bahwa patih itu tidak mempunyai perasaan cinta kepadanya, sampai bagaimana pun juga ia pasti tidak akan mau menyatakan cintanya. Lebih baik menderita patah hati tanpa ada yang mengetahuinya.
"Jadi Paduka menolak cinta adik saya Kim Lan, Gusti Patih?" tanya Ki Tejoranu dengan suara mengandung penasaran.
"Paduka menganggap Kim Lan kurang berharga untuk menjadi selir seorang patih?"
Ki Patih Narotama terkejut dan mengerutkan alisnya sambil memandang Tejoranu dengan sinar mata tajam penuh selidik.
"Tejoranu!" katanya dengan suara mengandung teguran.

<<< Bagian 34                                                                                         Bagian 36 >>>

No comments:

Post a Comment