Nurseta Satria Karangtirta ; Bagian 36


"Persepakatan menjadi suami isteri bukan didasari penilaian berharga atau tidak, melainkan sepenuhnya didasari rasa cinta kedua pihak. Terus terang saja, aku kagum, suka dan hormat kepada The Kim Lan, akan tetapi tidak ada perasaan cinta yang diperlukan untuk ikatan perjodohan itu. Baru saja kami bertemu, bagaimana dapat langsung ada perasaan cinta?"
Tejoranu merasa seolah jantungnya diremas-remas ketika dia melihat adiknya menangis terisak-isak sambil menutupi mukanya dengan kedua tangannya.
"Gusti Patih, Paduka.... Paduka kejam..." Ki Tejoranu berseru marah. Hatinya sakit sekali melihat keadaan adiknya dan dia merangkul Kim Lan yang menangis semakin sedih dalam rangkulan kakaknya.

Ki Patih Narotama maklum bahwa untuk menghilangkan perasaan tidak enak di antara dia dan kakak beradik itu, perlu dia jelaskan tentang kedudukannya, tentang tindakannya yang keliru ketika mengambil Lasmini sebagal selir dan bahwa dia tidak mau melakukan kesalahan lagi.
"Tejoranu, engkau belum mengetahui keadaanku..."
Akan tetapi sebelum dia melanjutkan kata-katanya, tiba-tiba terdengar suara melengking yang datangnya dari jauh namun terdengar jelas dalam ruangan itu.
"Narotama! Saat kematianmu sudah tiba...!"
Menyusul suara itu, terdengar suara berbletakan di atas genting dan dari atas genteng yang sudah berlubang, kini tampak dua sinar hitam melayang turun dan menyambar ke arah kepala Ki Patih Narotama! Dua sinar hitam itu mengeluarkan bunyi mencicit dan tercium bau apek memuakkan dan memusingkan memenuhi ruangan itu. Ki Patih Narotama maklum bahwa dia diserang orang yang memiliki kepandaian tinggi, dan serangan yang mengandung sihir tingkat tinggi ini berbahaya sekali. Dua buah benda bersinar hitam itu jelas mengandung racun yang amat jahat. Namun Ki Patih Narotama tidak menjadi gentar atau gugup. Sambil mengerahkan tenaga saktinya, kedua tangannya menampar ke arah dua sinar hitam itu.
"Wirrr.... plak! Plak!" Dua benda bersinar hitam itu terpental dan menghantam dinding.
"Plok! Plok!" Dua buah benda hitam itu jatuh dan ternyata itu adalah dua ekor kelelawar hitam yang kini menggelepar sekarat!
Ki Tejoranu dan Kim Lan terserang bau apek yang menyengat itu dan mereka mulai merasa pusing.
"Tejoranu! Kim Lan! Cepat keluar dari ruangan Ini! Jangan keluar rumah, ada musuh yang sakti mandraguna dan berbahaya sekali. Diam saja dalam kamar kalian!"
Ki Tejoranu yang masih merangkul adiknya lalu meninggalkan ruangan itu bersama Kim Lan yang masih menangis. Mereka lari ke kamar Ki Tejoranu dan setelah memasuki kamar, Kim Lan menjatuhkan diri di atas kursi dan menangis sedih.
"Lan-ko, aku malu... ah, aku malu, menyesal dan hancur perasaan hatiku! Dia... dia menolakku, Lan-ko... ah, lalu bagaimana aku ini... hu-hu-huuh...!"
Melihat keadaan adiknya yang menangis mengguguk itu, Ki Tejoranu menghiburnya.
“Tenanglah, Adikku. Engkau tidak perlu memikirkan dia, di sana masih banyak pemuda yang pantas menjadi suamimu kelak."
“Tidak! Tidak, Lan-ko... kebahagiaan dan harapan hidupku sudah hancur. Rasanya.... tidak ada artinya lagi aku hidup!"
"Jangan berkata begitu, Lan-moi. Kalau dia memang amat menyakitkan hatimu karena penolakannya yang kejam, kita putuskan hubungan dengannya dan mari kita pergi saja."
"Tidak, Lan-ko. Bagaimana pun Juga, aku tetap mencintanya, aku akan membelanya dengan taruhan nyawaku!”
"Lan-mol...!"

Pada saat itu, terdengar bunyi ledakan keras di atas genteng sehingga mengejutkan mereka. Tiba-tiba Kim Lan tampak marah dan ia mencabut pedangnya.
"Jahanam busuk mana berani mengganggu Gusti Patih Narotama!" Setelah berteriak demikian, gadis ini laiu melompat keluar dari jendela kamar itu.
"Lan-moi....!" Ki Tejoranu cepat mengejar adiknya, melompat keluar pula dari jendela itu.
Sementara itu, setelah dua ekor kelelawar hitam itu tertampar jatuh oleh tangkisan Ki Patih Narotama dan kakak beradik itu keluar dari ruangan, terdengar ledakan di atas genteng dan dari lubang di atas genteng kini meluncur sinar api menyala-nyala ke arah Ki Patih Narotama. Ki Patih Narotama kini sudah bangkit berdiri dari kursinya dan melihat sinar api bernyala itu meluncur ke arah dadanya seperti sebatang anak panah berapi, dia mengelak dengan gesit sehingga sambaran sinar berapi itu luput dan meluncur lewat. Akan tetapi hebatnya, sinar berapi itu seolah hidup dan memiliki mata karena sebelum membentur dinding, sinar itu sudah melayang berputaran seperti seekor burung di ruangan itu lalu meluncur lagi menyerang ke arah kepala Ki Patih Narotama!
Ki Patih Narotama mengerahkan tenaga sakti ke matanya dan kini dia dapat melihat bahwa sinar berapi itu ternyata adalah sebatang keris luk tujuh! Keris dapat mengeluarkan sinar api bernyala dan dapat melayang-layang mencari sasaran itu jelas bukan keris biasa, melainkan sebatang keris ampuh yang "dikendalikan" kekuatan sihir yang ampuh! Ketika keris itu menyambar dekat, Ki Patih Narotama miringkan tubuhnya sehingga keris meluncur di sampingnya. Dia cepat menggerakkan tangannya untuk menghantam keris itu agar patah atau terlempar.
"Wuuutt...!" Tamparan ampuh tangan Ki Patih Narotama itu tidak mengenai sasaran. Keris itu secara aneh telah dapat mengelak sehingga tamparan itu luput! Keris itu melayang-layang lagi, bagaikan seekor burung rajawali mengintai calon korbannya dan mencari kesempatan dan posisi terbaik untuk menyerang lagi!

Pada saat itu, di atas genteng terjadi perkelahian yang seru. Ketika The Kim Lan melompat keluar dari kamar kakaknya, ia melihat bayangan orang di atas genteng rumah kelurahan itu. Kebetulan malam itu bulan bersinar terang sehingga memudahkan ia untuk melihat keadaan di luar rumah. Melihat bayangan itu, Kim Lan yang bertekad untuk membela Ki Patih Narotama dan menangkap penyerang gelap, hidup atau mati, segera membentak dan melompat naik ke atas genteng. Begitu tiba di atas atap rumah kelurahan, sebatang ruyung menyambutnya dengan hantaman yang dahsyat ke atas kepalanya. Kim Lan cepat mengelak kiri dan ketika ruyung meluncur lewati pedangnya sudah menusuk ke arah pemegang ruyung yang bertubuh kurus tinggi. Tusukannya cepat sekali dan datang dari arah bawah meluncur ke arah ulu hati lawan.
"Tranggg...!"
Bunga api berpijar ketika pedangnya ditangkis orang dari samping. Penangkisnya itu seorang iaki-Iaki tinggi besar yang bersenjata sebatang klewang (golok) besar. Biarpun ia menghadapi pengeroyokan dua orang lawan yang melihat dari gerakannya jelas memiliki ilmu kepandaian yang tinggi, Kim Lan tidak menjadi takut dan ia membentak,
"Langkahi dulu mayatku sebelum kalian dapat membunuh Gusti Patih!" Setelah membentak demikian, gadis itu mengamuk dengan pedangnya yang diputar cepat sekali membentuk gulungan sinar menyambar-nyambar. Dua orang pengeroyoknya juga menggerakkan senjata mereka dan terjadilah perkelahian yang seru di atas genteng. Ki Tejoranu datang membantu, dia marah melihat adiknya dikeroyok dua orang dan sepasang goloknya lalu diputar cepat dan dia sudah menyerang orang yang bersenjata ruyung karena biarpun tubuh orang ini tinggi kurus, namun gerakan ruyungnya dahsyat sekali. Pada saat dua orang kakak beradik ini berkelahi dengan dua orang itu, Ki Patih Narotama masih dikejar-kejar keris yang dapat terbang dan seperti dikemudikan burung yang tidak tampak itu. Dia merasa penasaran sekali karena beberapa kali, tangannya yang menampar ke arah keris itu selalu luput. Tahulah Narotama bahwa keris itu digerakkan oleh tenaga sihir yang amat kuat. Maka dia lalu mengerahkan tenaganya, menyalurkan ke dalam kedua telapak tangannya, kemudian ketika keris itu untuk ke sekian kalinya meluncur bagaikan anak panah ke arahnya, dia menyambut dengan mendorongkan kedua telapak tangannya ke arah benda bersinar seperti api bernyala itu.
"Wuuuutttt.... darrr...l" Terdengar bunyi ledakan keras dan keris itu terpental dan meluncur keluar dari lubang di atap dari mana dia tadi masuk.
Pada saat itu, Kim Lan dan Ki Tejoranu masih bertanding seru melawan dua orang di atas genteng. Ternyata lawan mereka itu cukup tangguh sehingga pertandingan itu seru dan seimbang. Tiba-tiba tampak sinar bernyala meluncur keluar dari atap rumah.
"Singgg... cappll" Keris yang tadi dipukul balik oleh tenaga sakti Ki Patih Narotama itu meluncur dan menancap di punggung Kim Lan dari belakang!
Kim Lan merintih lirih, pedangnya terlepas dan jatuh berkerontangan di atas genteng, tubuhnya terkulai roboh dan terguling-guling di atas genteng akan tetapi tertahan oleh sambungan wuwungan sehingga tidak sampai melayang jatuh ke bawah.
"Lan-moi....!" Ki Tejoranu berteriak, akan tetapi dia harus memutar sepasang goloknya karena sekarang dia dikeroyok dua yang membuat dia repot dan kewalahan.

Pada saat yang gawat itu, tubuh Ki Patih Narotama melayang ke atas genteng dan melihat Ki Tejoranu dikeroyok dua, dia lalu melompat dekat dan begitu dia menggerakkan kedua tangannya ke arah dua orang pengeroyok itu, mereka terhuyung ke belakang seperti tertiup angin topan yang amat kuat. Dua orang itu terkejut sekali dan mereka kini menujukan serangan mereka kepada Ki Patih Narotama. Ki Tejoranu yang telah terbebas dari pengeroyokan, kini lari menghampiri tubuh adiknya yang rebah miring.
"Lan-moi....!" Dia berlutut dan pada saat itu, keris yang menancap di punggung Kim Lan itu tiba-tiba seperti tercabut dan melayang pergi, berbentuk sinar berapi. Ki Tejoranu merangkul adiknya, ditelentangkan dan dirangkul.
"Lan-moi, bagaimana keadaanmu?" tanya Ki Tejoranu akan tetapi melihat keadaan adiknya itu, dia tidak memerlukan jawaban lagi. Adiknya terluka parah sekali dan napasnya terengah-engah, tubuhnya terasa panas.
"Lan-ko.... bagaimana dengan.... Gusti Patih Narotama....? Dia selamat, bukan...?"
Ki Tejoranu menggigit bibirnya. Dalam keadaan terluka parah seperti itu, Kim Lan seolah tidak memperdullkan keadaan diri sendiri dan yang dikhawatirkan adalah keselamatan Ki Patih Naro-tamal Ah, betapa besarnya kasih sayang adiknya terhadap patih itu, dan Patih Narotama menolak cinta yang sebesar dan sedalam itu!
"Lan-moi, jangan pikirkan dia! Bagaimana keadaanmu?" tanyanya sambil mendekap kepala adiknya itu ke dadanya dan suaranya bercampur isak.
"Lan-ko... aku tidak bisa melupakan dia... biarpun dia... dia telah menolakku.. ... ah, bagiku mati lebih baik, Twako..."
"Adikku....!" Ki Tejoranu kini menangis.
"Lan-ko, penuhi permintaanku terakhir, ya?"
Ki Tejoranu hanya dapat mengangguk, tidak dapat mengeluarkan suara lagi karena isaknya.
"Tolong... tolong panggilkan dia... aku ingin berpamit..."
"Untuk apa... " Ki Tejoranu membentak, semakin marah dan benci kepada Ki Patih Narotama karena dia menganggap bahwa pria itulah yang menyebabkan kematian adiknya!
"Tolong.... Lan-ko.... tolong.... panggil dia..."
Ki Tejoranu menoleh ke arah Ki Patih Narotama. Dia melihat sekarang muncul orang ke tiga mengeroyok Ki Patih Narotama, seorang laki-laki tua bongkok yang menudingkan tongkat hitamnya dan tongkat itu mengeluarkan bola-bola api yang menyambar-nyambar ke arah Ki Patih Narotama. Ki Patih Narotama marah. Dia mengeluarkan pekik melengking, tubuhnya direndahkan dengan menekuk kedua kakinya dan kedua tangannya didorongkan ke arah tiga orang pengeroyoknya.
"Wuuussshhh...!" Api berkobar menerangi tiga orang itu. Dengan Aji Bojrodahono itu, Ki Patih Narotama mengerahkan kekuatannya dan tiga orang itu melarikan diri dan berlompatan turun sambil mengaduh-aduh karena sebagian tubuh mereka terjilat api dan hangus! Ki Patih Narotama lalu menoleh dan di bawah sinar bulan dia melihat Ki Tejoranu bersimpuh dan merangkul tubuh atas Kim Lan. Cepat dia melompat mendekat.
"Apa yang terjadi....?" Dia bertanya dan bersimpuh dekat tubuh Kim Lan.
"Apakah Kim Lan terluka? Coba kuperiksa ia!"
Ki Tejoranu tidak menjawab, hanya diam saja sambil menangis sesenggukan. Ki Patih Narotama cepat memeriksa dan melihat luka di punggung gadis itu, melihat keadaannya yang sudah empas-empis dengan tubuh panas sekali, tahulah dia bahwa gadis itu tidak dapat diselamatkan lagi.
"Kim Lan...!" Ki Patih Narotama mengeluh sambil memegang pundak gadis itu.
Kim Lan tersenyum memandang wajah Ki Patih Narotama.
"...Gusti Patih Narotama.... saya.... saya berbahagia sekali..... dapat.... dapat... mati membela Paduka.... saya.... saya.... cinta.....”Gadis itu terkulai, menghembuskan napas terakhir dalam pelukan kakaknya.
"Kim Lan....!" Ki Patih Narotama mengeluh.
"Kim Lan! Lan-moi....! Jangan tinggalkan aku...!" Ki Tejoranu berteriak sambil mendekap tubuh adiknya dan menangis.
"Sudahlah, Tejoranu. Sang Hyang Widhi telah mengambil kembali apa yang menjadi milik-Nya." Ki Patih Narotama menghibur.

<<< Bagian 35                                                                                          Bagian 37 >>>

No comments:

Post a Comment