"Persepakatan menjadi suami isteri bukan didasari penilaian berharga atau tidak, melainkan sepenuhnya didasari rasa cinta kedua pihak. Terus terang saja, aku kagum, suka dan hormat kepada The Kim Lan, akan tetapi tidak ada perasaan cinta yang diperlukan untuk ikatan perjodohan itu. Baru saja kami bertemu, bagaimana dapat langsung ada perasaan cinta?"
Tejoranu
merasa seolah jantungnya diremas-remas ketika dia melihat adiknya menangis
terisak-isak sambil menutupi mukanya dengan kedua tangannya.
"Gusti
Patih, Paduka.... Paduka kejam..." Ki Tejoranu berseru marah. Hatinya
sakit sekali melihat keadaan adiknya dan dia merangkul Kim Lan yang menangis semakin
sedih dalam rangkulan kakaknya.
Ki Patih
Narotama maklum bahwa untuk menghilangkan perasaan tidak enak di antara dia dan
kakak beradik itu, perlu dia jelaskan tentang kedudukannya, tentang tindakannya
yang keliru ketika mengambil Lasmini sebagal selir dan bahwa dia tidak mau
melakukan kesalahan lagi.
"Tejoranu,
engkau belum mengetahui keadaanku..."
Akan tetapi
sebelum dia melanjutkan kata-katanya, tiba-tiba terdengar suara melengking yang
datangnya dari jauh namun terdengar jelas dalam ruangan itu.
"Narotama!
Saat kematianmu sudah tiba...!"
Menyusul suara
itu, terdengar suara berbletakan di atas genting dan dari atas genteng yang
sudah berlubang, kini tampak dua sinar hitam melayang turun dan menyambar ke
arah kepala Ki Patih Narotama! Dua sinar hitam itu mengeluarkan bunyi mencicit
dan tercium bau apek memuakkan dan memusingkan memenuhi ruangan itu. Ki Patih
Narotama maklum bahwa dia diserang orang yang memiliki kepandaian tinggi, dan
serangan yang mengandung sihir tingkat tinggi ini berbahaya sekali. Dua buah
benda bersinar hitam itu jelas mengandung racun yang amat jahat. Namun Ki Patih
Narotama tidak menjadi gentar atau gugup. Sambil mengerahkan tenaga saktinya,
kedua tangannya menampar ke arah dua sinar hitam itu.
"Wirrr....
plak! Plak!" Dua benda bersinar hitam itu terpental dan menghantam
dinding.
"Plok!
Plok!" Dua buah benda hitam itu jatuh dan ternyata itu adalah dua ekor
kelelawar hitam yang kini menggelepar sekarat!
Ki Tejoranu
dan Kim Lan terserang bau apek yang menyengat itu dan mereka mulai merasa
pusing.
"Tejoranu!
Kim Lan! Cepat keluar dari ruangan Ini! Jangan keluar rumah, ada musuh yang
sakti mandraguna dan berbahaya sekali. Diam saja dalam kamar kalian!"
Ki Tejoranu
yang masih merangkul adiknya lalu meninggalkan ruangan itu bersama Kim Lan yang
masih menangis. Mereka lari ke kamar Ki Tejoranu dan setelah memasuki kamar,
Kim Lan menjatuhkan diri di atas kursi dan menangis sedih.
"Lan-ko,
aku malu... ah, aku malu, menyesal dan hancur perasaan hatiku! Dia... dia
menolakku, Lan-ko... ah, lalu bagaimana aku ini... hu-hu-huuh...!"
Melihat
keadaan adiknya yang menangis mengguguk itu, Ki Tejoranu menghiburnya.
“Tenanglah,
Adikku. Engkau tidak perlu memikirkan dia, di sana masih banyak pemuda yang
pantas menjadi suamimu kelak."
“Tidak! Tidak,
Lan-ko... kebahagiaan dan harapan hidupku sudah hancur. Rasanya.... tidak ada
artinya lagi aku hidup!"
"Jangan
berkata begitu, Lan-moi. Kalau dia memang amat menyakitkan hatimu karena
penolakannya yang kejam, kita putuskan hubungan dengannya dan mari kita pergi
saja."
"Tidak,
Lan-ko. Bagaimana pun Juga, aku tetap mencintanya, aku akan membelanya dengan
taruhan nyawaku!”
"Lan-mol...!"
Pada saat itu,
terdengar bunyi ledakan keras di atas genteng sehingga mengejutkan mereka.
Tiba-tiba Kim Lan tampak marah dan ia mencabut pedangnya.
"Jahanam
busuk mana berani mengganggu Gusti Patih Narotama!" Setelah berteriak
demikian, gadis ini laiu melompat keluar dari jendela kamar itu.
"Lan-moi....!"
Ki Tejoranu cepat mengejar adiknya, melompat keluar pula dari jendela itu.
Sementara itu,
setelah dua ekor kelelawar hitam itu tertampar jatuh oleh tangkisan Ki Patih
Narotama dan kakak beradik itu keluar dari ruangan, terdengar ledakan di atas
genteng dan dari lubang di atas genteng kini meluncur sinar api menyala-nyala
ke arah Ki Patih Narotama. Ki Patih Narotama kini sudah bangkit berdiri dari
kursinya dan melihat sinar api bernyala itu meluncur ke arah dadanya seperti
sebatang anak panah berapi, dia mengelak dengan gesit sehingga sambaran sinar
berapi itu luput dan meluncur lewat. Akan tetapi hebatnya, sinar berapi itu
seolah hidup dan memiliki mata karena sebelum membentur dinding, sinar itu
sudah melayang berputaran seperti seekor burung di ruangan itu lalu meluncur
lagi menyerang ke arah kepala Ki Patih Narotama!
Ki Patih Narotama
mengerahkan tenaga sakti ke matanya dan kini dia dapat melihat bahwa sinar
berapi itu ternyata adalah sebatang keris luk tujuh! Keris dapat mengeluarkan
sinar api bernyala dan dapat melayang-layang mencari sasaran itu jelas bukan
keris biasa, melainkan sebatang keris ampuh yang "dikendalikan"
kekuatan sihir yang ampuh! Ketika keris itu menyambar dekat, Ki Patih Narotama
miringkan tubuhnya sehingga keris meluncur di sampingnya. Dia cepat
menggerakkan tangannya untuk menghantam keris itu agar patah atau terlempar.
"Wuuutt...!"
Tamparan ampuh tangan Ki Patih Narotama itu tidak mengenai sasaran. Keris itu
secara aneh telah dapat mengelak sehingga tamparan itu luput! Keris itu
melayang-layang lagi, bagaikan seekor burung rajawali mengintai calon korbannya
dan mencari kesempatan dan posisi terbaik untuk menyerang lagi!
Pada saat itu,
di atas genteng terjadi perkelahian yang seru. Ketika The Kim Lan melompat
keluar dari kamar kakaknya, ia melihat bayangan orang di atas genteng rumah
kelurahan itu. Kebetulan malam itu bulan bersinar terang sehingga memudahkan ia
untuk melihat keadaan di luar rumah. Melihat bayangan itu, Kim Lan yang
bertekad untuk membela Ki Patih Narotama dan menangkap penyerang gelap, hidup
atau mati, segera membentak dan melompat naik ke atas genteng. Begitu tiba di
atas atap rumah kelurahan, sebatang ruyung menyambutnya dengan hantaman yang
dahsyat ke atas kepalanya. Kim Lan cepat mengelak kiri dan ketika ruyung
meluncur lewati pedangnya sudah menusuk ke arah pemegang ruyung yang bertubuh
kurus tinggi. Tusukannya cepat sekali dan datang dari arah bawah meluncur ke
arah ulu hati lawan.
"Tranggg...!"
Bunga api
berpijar ketika pedangnya ditangkis orang dari samping. Penangkisnya itu
seorang iaki-Iaki tinggi besar yang bersenjata sebatang klewang (golok) besar.
Biarpun ia menghadapi pengeroyokan dua orang lawan yang melihat dari gerakannya
jelas memiliki ilmu kepandaian yang tinggi, Kim Lan tidak menjadi takut dan ia
membentak,
"Langkahi
dulu mayatku sebelum kalian dapat membunuh Gusti Patih!" Setelah membentak
demikian, gadis itu mengamuk dengan pedangnya yang diputar cepat sekali
membentuk gulungan sinar menyambar-nyambar. Dua orang pengeroyoknya juga
menggerakkan senjata mereka dan terjadilah perkelahian yang seru di atas
genteng. Ki Tejoranu datang membantu, dia marah melihat adiknya dikeroyok dua
orang dan sepasang goloknya lalu diputar cepat dan dia sudah menyerang orang
yang bersenjata ruyung karena biarpun tubuh orang ini tinggi kurus, namun
gerakan ruyungnya dahsyat sekali. Pada saat dua orang kakak beradik ini
berkelahi dengan dua orang itu, Ki Patih Narotama masih dikejar-kejar keris
yang dapat terbang dan seperti dikemudikan burung yang tidak tampak itu. Dia
merasa penasaran sekali karena beberapa kali, tangannya yang menampar ke arah keris
itu selalu luput. Tahulah Narotama bahwa keris itu digerakkan oleh tenaga sihir
yang amat kuat. Maka dia lalu mengerahkan tenaganya, menyalurkan ke dalam kedua
telapak tangannya, kemudian ketika keris itu untuk ke sekian kalinya meluncur
bagaikan anak panah ke arahnya, dia menyambut dengan mendorongkan kedua telapak
tangannya ke arah benda bersinar seperti api bernyala itu.
"Wuuuutttt....
darrr...l" Terdengar bunyi ledakan keras dan keris itu terpental dan
meluncur keluar dari lubang di atap dari mana dia tadi masuk.
Pada saat itu,
Kim Lan dan Ki Tejoranu masih bertanding seru melawan dua orang di atas
genteng. Ternyata lawan mereka itu cukup tangguh sehingga pertandingan itu seru
dan seimbang. Tiba-tiba tampak sinar bernyala meluncur keluar dari atap rumah.
"Singgg...
cappll" Keris yang tadi dipukul balik oleh tenaga sakti Ki Patih Narotama
itu meluncur dan menancap di punggung Kim Lan dari belakang!
Kim Lan
merintih lirih, pedangnya terlepas dan jatuh berkerontangan di atas genteng,
tubuhnya terkulai roboh dan terguling-guling di atas genteng akan tetapi
tertahan oleh sambungan wuwungan sehingga tidak sampai melayang jatuh ke bawah.
"Lan-moi....!"
Ki Tejoranu berteriak, akan tetapi dia harus memutar sepasang goloknya karena
sekarang dia dikeroyok dua yang membuat dia repot dan kewalahan.
Pada saat yang
gawat itu, tubuh Ki Patih Narotama melayang ke atas genteng dan melihat Ki
Tejoranu dikeroyok dua, dia lalu melompat dekat dan begitu dia menggerakkan
kedua tangannya ke arah dua orang pengeroyok itu, mereka terhuyung ke belakang
seperti tertiup angin topan yang amat kuat. Dua orang itu terkejut sekali dan
mereka kini menujukan serangan mereka kepada Ki Patih Narotama. Ki Tejoranu
yang telah terbebas dari pengeroyokan, kini lari menghampiri tubuh adiknya yang
rebah miring.
"Lan-moi....!"
Dia berlutut dan pada saat itu, keris yang menancap di punggung Kim Lan itu
tiba-tiba seperti tercabut dan melayang pergi, berbentuk sinar berapi. Ki
Tejoranu merangkul adiknya, ditelentangkan dan dirangkul.
"Lan-moi,
bagaimana keadaanmu?" tanya Ki Tejoranu akan tetapi melihat keadaan
adiknya itu, dia tidak memerlukan jawaban lagi. Adiknya terluka parah sekali
dan napasnya terengah-engah, tubuhnya terasa panas.
"Lan-ko....
bagaimana dengan.... Gusti Patih Narotama....? Dia selamat, bukan...?"
Ki Tejoranu
menggigit bibirnya. Dalam keadaan terluka parah seperti itu, Kim Lan seolah
tidak memperdullkan keadaan diri sendiri dan yang dikhawatirkan adalah
keselamatan Ki Patih Naro-tamal Ah, betapa besarnya kasih sayang adiknya terhadap
patih itu, dan Patih Narotama menolak cinta yang sebesar dan sedalam itu!
"Lan-moi,
jangan pikirkan dia! Bagaimana keadaanmu?" tanyanya sambil mendekap kepala
adiknya itu ke dadanya dan suaranya bercampur isak.
"Lan-ko...
aku tidak bisa melupakan dia... biarpun dia... dia telah menolakku.. ... ah,
bagiku mati lebih baik, Twako..."
"Adikku....!"
Ki Tejoranu kini menangis.
"Lan-ko,
penuhi permintaanku terakhir, ya?"
Ki Tejoranu
hanya dapat mengangguk, tidak dapat mengeluarkan suara lagi karena isaknya.
"Tolong...
tolong panggilkan dia... aku ingin berpamit..."
"Untuk
apa... " Ki Tejoranu membentak, semakin marah dan benci kepada Ki Patih
Narotama karena dia menganggap bahwa pria itulah yang menyebabkan kematian
adiknya!
"Tolong....
Lan-ko.... tolong.... panggil dia..."
Ki Tejoranu
menoleh ke arah Ki Patih Narotama. Dia melihat sekarang muncul orang ke tiga
mengeroyok Ki Patih Narotama, seorang laki-laki tua bongkok yang menudingkan
tongkat hitamnya dan tongkat itu mengeluarkan bola-bola api yang menyambar-nyambar
ke arah Ki Patih Narotama. Ki Patih Narotama marah. Dia mengeluarkan pekik
melengking, tubuhnya direndahkan dengan menekuk kedua kakinya dan kedua
tangannya didorongkan ke arah tiga orang pengeroyoknya.
"Wuuussshhh...!"
Api berkobar menerangi tiga orang itu. Dengan Aji Bojrodahono itu, Ki Patih
Narotama mengerahkan kekuatannya dan tiga orang itu melarikan diri dan
berlompatan turun sambil mengaduh-aduh karena sebagian tubuh mereka terjilat
api dan hangus! Ki Patih Narotama lalu menoleh dan di bawah sinar bulan dia
melihat Ki Tejoranu bersimpuh dan merangkul tubuh atas Kim Lan. Cepat dia
melompat mendekat.
"Apa yang
terjadi....?" Dia bertanya dan bersimpuh dekat tubuh Kim Lan.
"Apakah
Kim Lan terluka? Coba kuperiksa ia!"
Ki Tejoranu
tidak menjawab, hanya diam saja sambil menangis sesenggukan. Ki Patih Narotama
cepat memeriksa dan melihat luka di punggung gadis itu, melihat keadaannya yang
sudah empas-empis dengan tubuh panas sekali, tahulah dia bahwa gadis itu tidak
dapat diselamatkan lagi.
"Kim Lan...!"
Ki Patih Narotama mengeluh sambil memegang pundak gadis itu.
Kim Lan
tersenyum memandang wajah Ki Patih Narotama.
"...Gusti
Patih Narotama.... saya.... saya berbahagia sekali..... dapat.... dapat... mati
membela Paduka.... saya.... saya.... cinta.....”Gadis itu terkulai,
menghembuskan napas terakhir dalam pelukan kakaknya.
"Kim
Lan....!" Ki Patih Narotama mengeluh.
"Kim Lan!
Lan-moi....! Jangan tinggalkan aku...!" Ki Tejoranu berteriak sambil
mendekap tubuh adiknya dan menangis.
"Sudahlah,
Tejoranu. Sang Hyang Widhi telah mengambil kembali apa yang menjadi
milik-Nya." Ki Patih Narotama menghibur.
No comments:
Post a Comment