Akan tetapi tiba-tiba Ki Tejoranu berdiri sambil memondong jenazah adiknya.
"Narotama!
Engkau yang menyebabkan kematian adikku. Ia sengaja menghadang maut karena ia
merasa lebih baik mati setelah engkau menolak cintanya. Ia rela mati membelamu,
demikian besar cintanya akan tetapi, engkau menolaknya! Engkau kejam! Kejam!
Aku tidak sudi menjadi temanmu lagi. Engkau kejam...l' Ki Tejoranu menangis
sesenggukan lalu melompat turun dari atas genteng dan terus berlari pergi
sambil memondong jenazah The Kim Lan.
Ki Patih
Narotama bangkit berdiri, hanya dapat memandang ke arah lenyapnya bayangan Ki
Tejoranu. Dia tahu bahwa mengejar dan membujuk Ki Tejoranu tidak akan ada
gunanya. Dia dapat merasakan betapa hancur hati laki-laki itu melihat nasib
adik kandungnya. Dia berdiri termangu-mangu, mengenang semua peristiwa itu. Dia
tadi sudah memperingatkan agar kakak beradik itu berdiam di kamarnya saja karena
dia tahu bahwa ada musuh yang sakti datang menyerang. Siapa kira, Kim Lan
dengan nekat menyambut musuh itu untuk membelanya! Ah, kalau saja dia tahu
sampai demikian mendalam rasa cinta gadis itu kepadanya! Kalau dia tahu bahwa
peristiwa menyedihkan ini akan terjadi! Kalau... kalau... tiada gunanya lagi.
Semua telah terjadi. Dia tahu bahwa selama hidupnya, bayangan Kim Lan tidak
akan pernah dapat terlupa olehnya. Ki Patih Narotama menghela napas panjang dan
merangkap kedua tangan sebagai sembah kepada Yang Maha Kuasa, bibirnya berbisik
lirih.
"Duh Sang
Hyang Widhi Wasa, terjadilah semua kehendak-Mu seperti yang Engkau kehendaki.
Tiada apa atau siapa pun yang akan mampu mengubahnya."
Setelah
termenung beberapa lamanya dan berulang kali menghela napas panjang, merasa
kehilangan besar sekali karena dia tahu bahwa Ki Tejoranu pasti akan selalu
merasa sakit hatinya dan tidak akan pernah dapat menjadi sahabat baiknya lagi,
Ki Patih Narotama lalu turun dan dia disambut oleh Nyi Lasmi dan seisi rumah Ki
Lurah yang ingin tahu apa yang terjadi. Mereka tadi mendengar suara ribut-ribut
di atas atap rumah dan tidak ada seorang pun berani mencari tahu apa yang
terjadi karena mereka takut dan sungkan kepada Ki Patih Narotama. Ki Patih
Narotama berkata kepada Ki Lurah dusun Magel.
"Jangan
takut. Ada orang-orang jahat datang untuk menyerangku, akan tetapi telah dapat
kuusir pergi."
Semua orang
merasa lega mendengar ini. Akan tetapi Nyi Lasmi bertanya,
"Gusti
Patih, di mana Tejoranu dan Kim Lan? Hamba tidak melihat mereka sejak
tadi."
Ki Patih
Narotama menghela napas panjang beberapa kali sebelum menjawab dengan suara
mengandung keprihatinan.
"Tejoranu
dan Kim Lan tadi berkelahi dengan orang-orang jahat. Kim Lan tewas dan Tejoranu
yang hancur hatinya itu membawa jenazah adiknya pergi, entah ke mana. Mungkin
dia tidak akan kembali ke sini."
"Ohhh...!"
Nyi Lasmi berseru dan memandang wajah Ki Patih Narotama dengan sinar mata kaget
dan heran. Akan tetapi ia tidak berani banyak bertanya. Siang tadi Kim Lan
mengeluarkan isi hatinya kepadanya, menceritakan tentang perasaan hatinya yang
gandrung (kasmaran) kepada Ki Patih Narotama. Bahkan gadis itu mengatakan
kepadanya bahwa ia lebih baik mati kalau tidak dapat menjadi selir Sang Patih.
Ia lalu meneruskan suara hati gadis itu kepada Ki Tejoranu agar kakak ini
mengurus persoalan adiknya. Dan kini, tahu-tahu gadis itu telah tewas! Nyi
Lasmi yang sudah akrab sekali dengan Kim Lan, tak dapat menahan kesedihannya
dan ia menangis terisak-isak lalu berlari memasuki kamarnya. Di situ ia mendekap
buntalan pakaian Kim Lan sambil menangis tersedu-sedu.
Ki Tejoranu
memondong jenazah adiknya dan berlari di bawah penerangan bulan remang-remang
sambil menangis. Hatinya hancur dan biarpun dia maklum bahwa bukan niat Ki
Patih Narotama mencelakai adiknya, namun bagaimanapun juga, Kim Lan nekat
menyerang mereka yang memusuhi Ki Patih Narotama karena cintanya yang mendalam
terhadap patih itu. Selain itu, juga adiknya itu mengalami penderitaan hati
yang hebat sehingga ia menjadi nekat. Adiknya itu merasa lebih baik mati karena
orang yang dipuja dan dicintanya itu ternyata menolaknya, menolak cintanya!
Maka timbul penyesalan besar dalam hatinya terhadap Ki Patih Narotama. Semalam
suntuk dia memondong jenazah Kim Lan dan melangkah tanpa hentinya sampai pada
keesokan harinya, setelah matahari bersinar, dia tiba di sebuah bukit kecil.
Dia lalu merebahkan jenazah adiknya itu dengan hati-hati sekali ke atas rumput,
dia lalu mengumpulkan kayu-kayu yang kering, juga daun-daun kering. Ditumpuknya
kayu-kayu itu sampai setombak tingginya. Kemudian, dengan hati-hati dia
memondong jenazah Kim Lan dan meletakkannya di atas tumpukan kayu.
"Maafkan,
Lan-moi, karena keadaan memaksa, aku tidak dapat mengubur jenazahmu dengan
upacara sebagaimana mestinya." Dia berbisik dan untuk penghabisan kali dia
mengamati wajah adiknya yang tersayang Itu. Kemudian dia membuat api dan
membakar tumpukan kayu itu. Api berkobar besar dan Ki Tejoranu menjauh, lalu
duduk bersila di bawah pohon, memandang api yang berkobar. Dia bersikap seperti
orang sedang bersamadi, dengan sikap tenang dan hormat seolah untuk mengantar
kepulangan The Kim Lan ke alam baka. Akan tetapi, melihat api berkobar dan
jenazah adiknya terbakar, Ki Tejoranu tak dapat menahan dirinya lagi. Dia
menangis terisak-isak dan timbul kemarahannya mengingat bahwa adiknya itu tewas
oleh orang-orang jahat yang tidak diketahuinya siapa, namun yang dia yakin
tentulah orang-orang Wengker dan Wura-Wuri yang hendak menangkap Nyi Lasmi dan
memusuhi Ki Patih Narotama. Tiba-tiba dia melompat bangun dan mencabut sepasang
goloknya, lalu dia mengamuk, bersilat dan membacok-bacokkan sepasang goloknya
ke arah pohon besar sehingga ranting-ranting dan daun pohon terbabat
berhamburan. Tak jauh dari situ, sepasang mata bening tajam mengintai dari
balik sebatang pohon besar. Pengintai itu adalah Puspa Dewi. Seperti kita
ketahui, setelah mendapat keterangan di Kadipaten Wengker bahwa ibunya dibawa
rombongan pengawal ke Kadipaten Wura-Wuri, ia segera menyusul ke Wura-Wuri.
Pagi itu, ketika ia melewati tempat itu dan berada di bawah bukit, tiba-tiba
perhatiannya tertarik oleh asap yang mengepul tinggi di puncak bukit kecil itu.
Ia segera mendaki bukit untuk melihat apa yang terjadi. Ketika tiba di puncak
dan mengintai dari balik pohon, ia melihat seorang laki-laki sedang membakar
jenazah seorang wanita. Ia merasa heran dan juga iba sekali melihat laki-laki
itu menangis sesenggukan sambil bicara dalam bahasa yang asing baginya dan yang
tidak ia mengerti maknanya. Kemudian ia melihat laki-laki yang tadinya duduk
bersila itu melompat dan mengamuk dengan sepasang goloknya. Gerakannya cepat
dan kuat sekali sehingga ranting daun pohon berhamburan. Juga sepasang golok
itu mengeluarkan bunyi berdesing-desing, menandakan bahwa sepasang golok itu
digerakkan oleh tenaga yang kuat sekali.
Puspa Dewi
menjadi semakin heran. Ia tahu bahwa laki-laki itu berduka sekali karena
kematian wanita yang jenazahnya sedang diperabukan (dibakar sampai menjadi
abu), akan tetapi mengapa orang itu kini marah-marah seperti kesetanan dan
agaknya merasa sakit hati dan penasaran sekali? Karena ingin tahu dan
mengharapkan barang kali orang itu mengetahui atau melihat rombongan pengawal
yang membawa ibunya ke Wura-Wuri, Puspa Dewi lalu muncul dari balik pohon dan
menghampiri orang yang sedang mengamuk dengan sepasang goloknya itu. Akan
tetapi begitu Ki Tejoranu melihat munculnya seorang wanita, dia yang sedang
marah seperti gila itu lalu berlari menghampiri sambil memaki-maki.
"Engkau
orang Wengker atau Wura-wuri yang jahatl Engkau harus mati di tanganku untuk
mengiringkan arwah Adikku!" Setelah berkata demikian, dia segera menyerang
Puspa Dewi dengan sepasang goloknya!
Puspa Dewi
menghadapi serangan itu dengan tenang. Setelah menerima gemblengan dari Sang
Maha Resi Satyadharma, Puspa Dewi. selalu tenang dan waspada. Ia tidak marah
diserang orang yang sedang kesetanan ini, apalagi mendengar orang itu
memaki-maki orang Wengker dan Wura-Wuri, Ini berarti bahwa laki-laki ini
menjadi musuh orang Wengker dan Wura-Wuri. Ketika sepasang golok itu
menyambar-nyambar, Puspa Dewi menggunakan keringanan dan kecepatan tubuhnya
untuk mengelak. Kalau saja ia menghendaki, tentu ia dapat membalas dengan
serangan ampuh untuk melukai atau menewaskan orang itu. Akan tetapi ia tidak
mau melakukannya karena maklum bahwa orang ini mengamuk kesetanan karena
dilanda duka yang amat berat, apalagi orang ini memusuhi Wengker dan Wura-Wuri.
Bagaimanapun juga, serangan Ki Tejoranu cukup berbahaya. Kalau Puspa Dewi tidak
memiliki gerakan yang amat cepat, ia tentu terancam bahaya. Karena tidak ingin
mencelakai orang yang mengamuk ini, Puspa Dewi tidak mencabut pedangnya. Akan
tetapi setelah mendapat kesempatan baik, ia mendorongkan tangan kirinya sambil
membentak.
"Tahan!
Aku mau bicara!" Tangannya mendorong ke arah tubuh Ki Tejoranu.
Angin dahsyat
menyambar dan Ki Tejoranu tidak mampu bertahan terhadap dorongan angin dahsyat
itu. Dia terhuyung-huyung ke belakang dan hanya dengan pok-sai (salto) tiga
kali dia dapat mencegah tubuhnya terbanting ke atas tanah. Tentu saja dia
terkejut bukan main karena apa yang dilakukan gadis tadi membuktikan bahwa ia
memiliki tenaga sakti yang hebat.
"Kisanak,
tenang dan bersabarlah dulu. Aku tidak mengenalmu dan engkau tidak mengenalku,
di antara kita tidak ada urusan apapun juga. Mengapa engkau menyerangku seperti
itu? Apa engkau ingin membunuh orang yang sama sekali tidak bersalah
padamu?"
"Hemm,
kau tentu orang Wengker atau Wura-Wuri!" bentak Ki Tejoranu sambil
menyilangkan goloknya di depan dada, siap untuk menyerang lagi.
"Engkau
keliru, Kisanak. Aku justru dimusuhi orang Wengker dan Wura-Wuril Aku malah
ingin bertanya kepadamu apakah engkau
melihat orang-orang Wengker membawa lari Ibuku...."
"ibumu...."
Ki Tejoranu memotong. "Ibumu itu Nyi Lasmi?"
Puspa Dewi
girang sekali.
"Engkau
mengenal Ibuku? Di mana ia? Apa yang terjadi dengan Ibuku dan siapakah engkau
ini, siapa pula wanita yang meninggal dan jenazahnya engkau perabukan
itu?"
Ki Tejoranu
menengok ke arah api yang masih berkobar membakar jenazah adiknya. Lalu ia
memandang iagi kepada Puspa Dewi. Dia teringat akan cerita Nyi Lasmi bahwa
puteri wanita itu adalah seorang gadis yang sakti dan bernama Puspa Dewi.
"Engkau
yang bernama Puspa Dewi?"
"Benar,
Kisanak. Aku puteri Ibu Lasmi. Engkau melihat ia? Di mana ia sekarang?"
"Bibi
Lasmi selamat dan ia berada bersama Ki Patih Narotama." jawab Ki Tejoranu
singkat dan dia sudah menyimpan kembali sepasang goloknya lalu duduk di atas
tanah memandang kobaran api yang membakar jenazah adiknya.
Lega rasanya
hati Puspa Dewi mendengar bahwa ibunya dalam keadaan selamat, apalagi bersama
Ki Patih Narotama. Hatinya lega dan girang. Akan tetapi la ingin sekali tahu
apa yang terjadi dan bagaimana orang yang bicaranya pelo (cadel) ini dapat
mengenal ibunya, bahkan tahu namanya.
"Apa yang
telah terjadi, Kisanak? Engkau telah mengenal namaku, akan tetapi aku belum
mengenal namamu. Siapakah engkau?"
Ki Tejoranu
mengerutkan alisnya.
"Nona,
aku sedang dilanda duka dan sedang memperabukan jenazah adikku tersayang. Kalau
engkau mau bicara, harap suka menunggu sampai aku selesai mengurus jenazah
adikku. Kalau engkau tidak sabar menanti, tinggalkan saja aku."
"Maaf,"
kata Puspa Dewi dan ia dapat memaklumi orang ini.
"Aku akan
menunggu." Ia lalu pergi menjauh dan duduk bersila di bawah pohon sambil
memandang ke arah api yang berkobar membakar jenazah yang kini sudah kehilangan
bentuknya itu.
Menjelang
tengah hari, perabuan jenazah itu pun selesai. Dapat berlangsung cepat karena
Ki Tejoranu selalu menambahkan kayu kering sehingga api selalu berkobar.
Setelah api padam, Ki Tejoranu menyingkirkan arang dan abu kayu, mengumpulkan
abu jenazah yang warnanya keputihan. Dia bingung mencari tempat untuk abu
adiknya dan teringat bahwa dia malam tadi meninggalkan semua buntalan pakaian
di rumah kelurahan. Dia lalu membuka baju luarnya dan mempergunakan baju luar
itu untuk membungkus abu jenazah. Setelah abu dibungkus lalu dia talikan di
punggung, Ki Tejoranu menoleh ke arah Puspa Dewi yang masih duduk bersila di
bawah pohon. Ki Tejoranu menghampiri gadis itu dan duduk di atas akar pohon
yang menonjol di tanah. Mereka duduk berhadapan.
"Sekarang
aku dapat menceritakan semua apa yang ingin engkau ketahui, Nona."
"Terima
kasih, Kisanak. Pertama aku ingin mengetahui, siapakah engkau dan bagaimana
engkau dapat mengenal Ibuku." kata Puspa Dewi, tidak memberondongkan
banyak pertanyaan seperti tadi.
"Namaku
Tejoranu, dahulu namaku The Jiauw Lan dan...." dia menepuk buntalan abu di
punggungnya. "... ini adalah abu adikku, The Kim Lan. Kami berdua sedang
melakukan perjalanan beberapa hari yang lalu dan di tengah perjalanan kami
melihat seorang wanita dibawa dengan paksa oleh serombongan orang dari
Wengker..."
"Ibuku....!"
"Benar,
wanita itu Bibi Lasmi. Kami berdua lalu turun tangan menolongnya dan berhasil
mengusir orang-orang jahat dari Wengker itu.
No comments:
Post a Comment