Nurseta Satria Karangtirta ; Bagian 37


Akan tetapi tiba-tiba Ki Tejoranu berdiri sambil memondong jenazah adiknya.
"Narotama! Engkau yang menyebabkan kematian adikku. Ia sengaja menghadang maut karena ia merasa lebih baik mati setelah engkau menolak cintanya. Ia rela mati membelamu, demikian besar cintanya akan tetapi, engkau menolaknya! Engkau kejam! Kejam! Aku tidak sudi menjadi temanmu lagi. Engkau kejam...l' Ki Tejoranu menangis sesenggukan lalu melompat turun dari atas genteng dan terus berlari pergi sambil memondong jenazah The Kim Lan.

Ki Patih Narotama bangkit berdiri, hanya dapat memandang ke arah lenyapnya bayangan Ki Tejoranu. Dia tahu bahwa mengejar dan membujuk Ki Tejoranu tidak akan ada gunanya. Dia dapat merasakan betapa hancur hati laki-laki itu melihat nasib adik kandungnya. Dia berdiri termangu-mangu, mengenang semua peristiwa itu. Dia tadi sudah memperingatkan agar kakak beradik itu berdiam di kamarnya saja karena dia tahu bahwa ada musuh yang sakti datang menyerang. Siapa kira, Kim Lan dengan nekat menyambut musuh itu untuk membelanya! Ah, kalau saja dia tahu sampai demikian mendalam rasa cinta gadis itu kepadanya! Kalau dia tahu bahwa peristiwa menyedihkan ini akan terjadi! Kalau... kalau... tiada gunanya lagi. Semua telah terjadi. Dia tahu bahwa selama hidupnya, bayangan Kim Lan tidak akan pernah dapat terlupa olehnya. Ki Patih Narotama menghela napas panjang dan merangkap kedua tangan sebagai sembah kepada Yang Maha Kuasa, bibirnya berbisik lirih.
"Duh Sang Hyang Widhi Wasa, terjadilah semua kehendak-Mu seperti yang Engkau kehendaki. Tiada apa atau siapa pun yang akan mampu mengubahnya."
Setelah termenung beberapa lamanya dan berulang kali menghela napas panjang, merasa kehilangan besar sekali karena dia tahu bahwa Ki Tejoranu pasti akan selalu merasa sakit hatinya dan tidak akan pernah dapat menjadi sahabat baiknya lagi, Ki Patih Narotama lalu turun dan dia disambut oleh Nyi Lasmi dan seisi rumah Ki Lurah yang ingin tahu apa yang terjadi. Mereka tadi mendengar suara ribut-ribut di atas atap rumah dan tidak ada seorang pun berani mencari tahu apa yang terjadi karena mereka takut dan sungkan kepada Ki Patih Narotama. Ki Patih Narotama berkata kepada Ki Lurah dusun Magel.
"Jangan takut. Ada orang-orang jahat datang untuk menyerangku, akan tetapi telah dapat kuusir pergi."
Semua orang merasa lega mendengar ini. Akan tetapi Nyi Lasmi bertanya,
"Gusti Patih, di mana Tejoranu dan Kim Lan? Hamba tidak melihat mereka sejak tadi."
Ki Patih Narotama menghela napas panjang beberapa kali sebelum menjawab dengan suara mengandung keprihatinan.
"Tejoranu dan Kim Lan tadi berkelahi dengan orang-orang jahat. Kim Lan tewas dan Tejoranu yang hancur hatinya itu membawa jenazah adiknya pergi, entah ke mana. Mungkin dia tidak akan kembali ke sini."
"Ohhh...!" Nyi Lasmi berseru dan memandang wajah Ki Patih Narotama dengan sinar mata kaget dan heran. Akan tetapi ia tidak berani banyak bertanya. Siang tadi Kim Lan mengeluarkan isi hatinya kepadanya, menceritakan tentang perasaan hatinya yang gandrung (kasmaran) kepada Ki Patih Narotama. Bahkan gadis itu mengatakan kepadanya bahwa ia lebih baik mati kalau tidak dapat menjadi selir Sang Patih. Ia lalu meneruskan suara hati gadis itu kepada Ki Tejoranu agar kakak ini mengurus persoalan adiknya. Dan kini, tahu-tahu gadis itu telah tewas! Nyi Lasmi yang sudah akrab sekali dengan Kim Lan, tak dapat menahan kesedihannya dan ia menangis terisak-isak lalu berlari memasuki kamarnya. Di situ ia mendekap buntalan pakaian Kim Lan sambil menangis tersedu-sedu.

Ki Tejoranu memondong jenazah adiknya dan berlari di bawah penerangan bulan remang-remang sambil menangis. Hatinya hancur dan biarpun dia maklum bahwa bukan niat Ki Patih Narotama mencelakai adiknya, namun bagaimanapun juga, Kim Lan nekat menyerang mereka yang memusuhi Ki Patih Narotama karena cintanya yang mendalam terhadap patih itu. Selain itu, juga adiknya itu mengalami penderitaan hati yang hebat sehingga ia menjadi nekat. Adiknya itu merasa lebih baik mati karena orang yang dipuja dan dicintanya itu ternyata menolaknya, menolak cintanya! Maka timbul penyesalan besar dalam hatinya terhadap Ki Patih Narotama. Semalam suntuk dia memondong jenazah Kim Lan dan melangkah tanpa hentinya sampai pada keesokan harinya, setelah matahari bersinar, dia tiba di sebuah bukit kecil. Dia lalu merebahkan jenazah adiknya itu dengan hati-hati sekali ke atas rumput, dia lalu mengumpulkan kayu-kayu yang kering, juga daun-daun kering. Ditumpuknya kayu-kayu itu sampai setombak tingginya. Kemudian, dengan hati-hati dia memondong jenazah Kim Lan dan meletakkannya di atas tumpukan kayu.
"Maafkan, Lan-moi, karena keadaan memaksa, aku tidak dapat mengubur jenazahmu dengan upacara sebagaimana mestinya." Dia berbisik dan untuk penghabisan kali dia mengamati wajah adiknya yang tersayang Itu. Kemudian dia membuat api dan membakar tumpukan kayu itu. Api berkobar besar dan Ki Tejoranu menjauh, lalu duduk bersila di bawah pohon, memandang api yang berkobar. Dia bersikap seperti orang sedang bersamadi, dengan sikap tenang dan hormat seolah untuk mengantar kepulangan The Kim Lan ke alam baka. Akan tetapi, melihat api berkobar dan jenazah adiknya terbakar, Ki Tejoranu tak dapat menahan dirinya lagi. Dia menangis terisak-isak dan timbul kemarahannya mengingat bahwa adiknya itu tewas oleh orang-orang jahat yang tidak diketahuinya siapa, namun yang dia yakin tentulah orang-orang Wengker dan Wura-Wuri yang hendak menangkap Nyi Lasmi dan memusuhi Ki Patih Narotama. Tiba-tiba dia melompat bangun dan mencabut sepasang goloknya, lalu dia mengamuk, bersilat dan membacok-bacokkan sepasang goloknya ke arah pohon besar sehingga ranting-ranting dan daun pohon terbabat berhamburan. Tak jauh dari situ, sepasang mata bening tajam mengintai dari balik sebatang pohon besar. Pengintai itu adalah Puspa Dewi. Seperti kita ketahui, setelah mendapat keterangan di Kadipaten Wengker bahwa ibunya dibawa rombongan pengawal ke Kadipaten Wura-Wuri, ia segera menyusul ke Wura-Wuri. Pagi itu, ketika ia melewati tempat itu dan berada di bawah bukit, tiba-tiba perhatiannya tertarik oleh asap yang mengepul tinggi di puncak bukit kecil itu. Ia segera mendaki bukit untuk melihat apa yang terjadi. Ketika tiba di puncak dan mengintai dari balik pohon, ia melihat seorang laki-laki sedang membakar jenazah seorang wanita. Ia merasa heran dan juga iba sekali melihat laki-laki itu menangis sesenggukan sambil bicara dalam bahasa yang asing baginya dan yang tidak ia mengerti maknanya. Kemudian ia melihat laki-laki yang tadinya duduk bersila itu melompat dan mengamuk dengan sepasang goloknya. Gerakannya cepat dan kuat sekali sehingga ranting daun pohon berhamburan. Juga sepasang golok itu mengeluarkan bunyi berdesing-desing, menandakan bahwa sepasang golok itu digerakkan oleh tenaga yang kuat sekali.
Puspa Dewi menjadi semakin heran. Ia tahu bahwa laki-laki itu berduka sekali karena kematian wanita yang jenazahnya sedang diperabukan (dibakar sampai menjadi abu), akan tetapi mengapa orang itu kini marah-marah seperti kesetanan dan agaknya merasa sakit hati dan penasaran sekali? Karena ingin tahu dan mengharapkan barang kali orang itu mengetahui atau melihat rombongan pengawal yang membawa ibunya ke Wura-Wuri, Puspa Dewi lalu muncul dari balik pohon dan menghampiri orang yang sedang mengamuk dengan sepasang goloknya itu. Akan tetapi begitu Ki Tejoranu melihat munculnya seorang wanita, dia yang sedang marah seperti gila itu lalu berlari menghampiri sambil memaki-maki.
"Engkau orang Wengker atau Wura-wuri yang jahatl Engkau harus mati di tanganku untuk mengiringkan arwah Adikku!" Setelah berkata demikian, dia segera menyerang Puspa Dewi dengan sepasang goloknya!
Puspa Dewi menghadapi serangan itu dengan tenang. Setelah menerima gemblengan dari Sang Maha Resi Satyadharma, Puspa Dewi. selalu tenang dan waspada. Ia tidak marah diserang orang yang sedang kesetanan ini, apalagi mendengar orang itu memaki-maki orang Wengker dan Wura-Wuri, Ini berarti bahwa laki-laki ini menjadi musuh orang Wengker dan Wura-Wuri. Ketika sepasang golok itu menyambar-nyambar, Puspa Dewi menggunakan keringanan dan kecepatan tubuhnya untuk mengelak. Kalau saja ia menghendaki, tentu ia dapat membalas dengan serangan ampuh untuk melukai atau menewaskan orang itu. Akan tetapi ia tidak mau melakukannya karena maklum bahwa orang ini mengamuk kesetanan karena dilanda duka yang amat berat, apalagi orang ini memusuhi Wengker dan Wura-Wuri. Bagaimanapun juga, serangan Ki Tejoranu cukup berbahaya. Kalau Puspa Dewi tidak memiliki gerakan yang amat cepat, ia tentu terancam bahaya. Karena tidak ingin mencelakai orang yang mengamuk ini, Puspa Dewi tidak mencabut pedangnya. Akan tetapi setelah mendapat kesempatan baik, ia mendorongkan tangan kirinya sambil membentak.
"Tahan! Aku mau bicara!" Tangannya mendorong ke arah tubuh Ki Tejoranu.
Angin dahsyat menyambar dan Ki Tejoranu tidak mampu bertahan terhadap dorongan angin dahsyat itu. Dia terhuyung-huyung ke belakang dan hanya dengan pok-sai (salto) tiga kali dia dapat mencegah tubuhnya terbanting ke atas tanah. Tentu saja dia terkejut bukan main karena apa yang dilakukan gadis tadi membuktikan bahwa ia memiliki tenaga sakti yang hebat.
"Kisanak, tenang dan bersabarlah dulu. Aku tidak mengenalmu dan engkau tidak mengenalku, di antara kita tidak ada urusan apapun juga. Mengapa engkau menyerangku seperti itu? Apa engkau ingin membunuh orang yang sama sekali tidak bersalah padamu?"
"Hemm, kau tentu orang Wengker atau Wura-Wuri!" bentak Ki Tejoranu sambil menyilangkan goloknya di depan dada, siap untuk menyerang lagi.
"Engkau keliru, Kisanak. Aku justru dimusuhi orang Wengker dan Wura-Wuril Aku malah ingin bertanya kepadamu apakah engkau  melihat orang-orang Wengker membawa lari Ibuku...."
"ibumu...." Ki Tejoranu memotong. "Ibumu itu Nyi Lasmi?"
Puspa Dewi girang sekali.
"Engkau mengenal Ibuku? Di mana ia? Apa yang terjadi dengan Ibuku dan siapakah engkau ini, siapa pula wanita yang meninggal dan jenazahnya engkau perabukan itu?"

Ki Tejoranu menengok ke arah api yang masih berkobar membakar jenazah adiknya. Lalu ia memandang iagi kepada Puspa Dewi. Dia teringat akan cerita Nyi Lasmi bahwa puteri wanita itu adalah seorang gadis yang sakti dan bernama Puspa Dewi.
"Engkau yang bernama Puspa Dewi?"
"Benar, Kisanak. Aku puteri Ibu Lasmi. Engkau melihat ia? Di mana ia sekarang?"
"Bibi Lasmi selamat dan ia berada bersama Ki Patih Narotama." jawab Ki Tejoranu singkat dan dia sudah menyimpan kembali sepasang goloknya lalu duduk di atas tanah memandang kobaran api yang membakar jenazah adiknya.
Lega rasanya hati Puspa Dewi mendengar bahwa ibunya dalam keadaan selamat, apalagi bersama Ki Patih Narotama. Hatinya lega dan girang. Akan tetapi la ingin sekali tahu apa yang terjadi dan bagaimana orang yang bicaranya pelo (cadel) ini dapat mengenal ibunya, bahkan tahu namanya.
"Apa yang telah terjadi, Kisanak? Engkau telah mengenal namaku, akan tetapi aku belum mengenal namamu. Siapakah engkau?"
Ki Tejoranu mengerutkan alisnya.
"Nona, aku sedang dilanda duka dan sedang memperabukan jenazah adikku tersayang. Kalau engkau mau bicara, harap suka menunggu sampai aku selesai mengurus jenazah adikku. Kalau engkau tidak sabar menanti, tinggalkan saja aku."
"Maaf," kata Puspa Dewi dan ia dapat memaklumi orang ini.
"Aku akan menunggu." Ia lalu pergi menjauh dan duduk bersila di bawah pohon sambil memandang ke arah api yang berkobar membakar jenazah yang kini sudah kehilangan bentuknya itu.
Menjelang tengah hari, perabuan jenazah itu pun selesai. Dapat berlangsung cepat karena Ki Tejoranu selalu menambahkan kayu kering sehingga api selalu berkobar. Setelah api padam, Ki Tejoranu menyingkirkan arang dan abu kayu, mengumpulkan abu jenazah yang warnanya keputihan. Dia bingung mencari tempat untuk abu adiknya dan teringat bahwa dia malam tadi meninggalkan semua buntalan pakaian di rumah kelurahan. Dia lalu membuka baju luarnya dan mempergunakan baju luar itu untuk membungkus abu jenazah. Setelah abu dibungkus lalu dia talikan di punggung, Ki Tejoranu menoleh ke arah Puspa Dewi yang masih duduk bersila di bawah pohon. Ki Tejoranu menghampiri gadis itu dan duduk di atas akar pohon yang menonjol di tanah. Mereka duduk berhadapan.
"Sekarang aku dapat menceritakan semua apa yang ingin engkau ketahui, Nona."
"Terima kasih, Kisanak. Pertama aku ingin mengetahui, siapakah engkau dan bagaimana engkau dapat mengenal Ibuku." kata Puspa Dewi, tidak memberondongkan banyak pertanyaan seperti tadi.
"Namaku Tejoranu, dahulu namaku The Jiauw Lan dan...." dia menepuk buntalan abu di punggungnya. "... ini adalah abu adikku, The Kim Lan. Kami berdua sedang melakukan perjalanan beberapa hari yang lalu dan di tengah perjalanan kami melihat seorang wanita dibawa dengan paksa oleh serombongan orang dari Wengker..."
"Ibuku....!"
"Benar, wanita itu Bibi Lasmi. Kami berdua lalu turun tangan menolongnya dan berhasil mengusir orang-orang jahat dari Wengker itu.

<<< Bagian 36                                                                                         Bagian 38 >>>

No comments:

Post a Comment