Kami lalu mengantar ibumu menuju ke Karang Tirta. Akan tetapi muncul belasan orang, yaitu orang-orang dari Wengker yang telah kami usir bersama orang-orang dari Wura-Wuri. Kami dikeroyok dan pada saat kami kerepotan menghadapi pengeroyokan banyak orang tangguh itu, Bibi Lasmi dilarikan dua orang warok dari Wengker dan kami tidak dapat menghalangi karena kami dikeroyok dengan ketat."
"Hemm,
mereka memang jahat dan curang!" kata Puspa Dewi sambil mengerutkan alis
dengan khawatir mendengar ibunya dilarikan orang sedangkan kakak beradik itu
tidak dapat menghalangi.
"Kami
berdua memang terdesak hebat karena di antara orang-orang Itu terdapat beberapa
orang sakti dan tangguh sekali. Akan tetapi kami mempertahankan diri sekuat dan
semampu kami. Pada saat yang gawat bagi kami itu, muncullah Ki Patih Narotama
yang ternyata telah berhasil menolong Bibi Lasmi. Ki Patih Narotama lalu
membantu kami dan orang-orang jahat dari Wengker dan Wura-Wuri itu melarikan
diri."
"Ah,
syukurlah, kalian berdua tertolong dan ibuku selamat. Akan tetapi mengapa
Adikmu..." Puspa Dewi menunjuk ke arah buntalan abu di punggung Ki
Tejoranu.
Ki Tejoranu
mengerutkan alis dan menghela napas panjang. Sinar matanya menjadi sayu,
wajahnya muram dan dia tampak sedih sekali. Dia tidak mau menceritakan bahwa
adiknya tergila-gila mencinta Ki Patih Narotama namun cintanya ditolak patih
itu. Dia menjawab dengan lirih dan singkat.
"Kami
berempat lalu melakukan perjalanan ke Karang Tirta. Malam tadi kami menginap di
rumah Ki Lurah Magel. Kemudian datang orang-orang hendak menyerang dan membunuh
Ki Patih Narotama. Kim Lan segera naik ke atas atap untuk menyambut orang-orang
jahat itu biarpun Ki Patih Narotama sudah melarangnya karena musuh-musuh itu
amat sakti. Aku segera mengikutinya dan ketika tiba di atas genteng, kami
melihat dua orang dan kami segera bertanding melawan dua orang yang ternyata
tangguh sekali itu. Dan dalam perkelahian ini... Adikku... Kim Lan.... terkena
tikaman keris terbang di punggungnya sehingga ia tewas....” Ki Tejoranu
berhenti bercerita karena kesedihan telah menekannya kembali.
"Ahh...!"
Puspa Dewi ikut merasa terharu.
"Akan
tetapi, apakah Ki Patih Narotama tidak membantu kalian? Bukankah dia sakti
mandraguna?"
"Ki Patih
Narotama sendiri sibuk menghadapi serangan ilmu sihir yang berbahaya. Dia
memang kemudian muncul, namun telah terlambat. Dia mengusir penjahat-penjahat
itu, akan tetapi Kim Lan sudah roboh terluka parah dan akhirnya ia
meninggal...."
Sunyi
mengikuti akhir cerita Ki Tejoranu. Ki Tejoranu diam tenggelam ke dalam lautan
duka, sedangkan Puspa Dewi terdiam karena terharu dan kasihan. Dari penuturan
itu tahulah ia bahwa ia berhadapan dengan seorang pendekar yang telah menolong
ibunya dan penolong itu sekarang sedang menderita duka yang amat mendalam
karena kematian adiknya,
"Ki
Tejoranu." akhirnya Puspa Dewi berkata lirih dan lembut.
"Apakah
engkau akan membawa abu jenazah Kim Lan itu kepada keluargamu?"
"Keluargaku?
Ah, Adikku inilah satu-satunya keluargaku di dunia ini. Aku hanya hidup berdua
dengan adikku, merantau di sini, jauh dari negeri Cina dari mana kami berasal,
ia satu-satunya yang kumiliki di dunia ini dan sekarang... sekarang...."
Ki Tejoranu terisak, lalu dia bangkit berdiri lari meninggalkan Puspa Dewi.
"Ki
Tejoranu....!" Puspa Dewi memanggil namun laki-laki itu terus berlari
dengan cepat. Kalau ia mau, tentu Puspa Dewi akan dapat menyusulnya. Ia ingin
minta keterangan lebih jelas di mana ibunya kini berada. Akan tetapi ia merasa
kasihan sekali kepada Ki Tejoranu dan tidak mau mengganggunya.
Apa lagi tadi
Ki Tejoranu telah menceritakan bahwa peristiwa semalam itu terjadi di rumah
kelurahan Magel. Maka Puspa Dewi juga segera meninggalkan tempat itu dan akhirnya
ia memperoleh keterangan di mana adanya kelurahan Magel. Setelah ia tiba di
dusun Magel dan mencari ke kelurahan, ia mendapat kabar bahwa ibunya bersama Ki
Patih Narotama baru saja telah meninggalkan Magel menuju ke Karang Tirta. Puspa
Dewi segera melakukan pengejaran dan tak lama kemudian ia dapat menyusul Ki
Patih Narotama yang menunggang kuda dan menuntun seekor kuda lain yang
ditunggangi Nyi Lasmi. Karena Ibunya tidak pandai menunggang kuda, tentu saja
perjalanan itu dilakukan lambat-lambat saja.
"Ibu....!"
Puspa Dewi berseru.
Ki Patih
Narotama sudah menghentikan kudanya dan Nyi Lasmi yang mendengar suara itu,
walaupun ia belum melihat orangnya, sudah berseru girang,
"Puspa
Dewi....!!"
"Bagus
sekali Andika datang, Puspa Dewi." kata Ki Patih Narotama sambil melompat
turun dari atas kudanya.
Puspa Dewi
menurunkan ibunya dan berangkulan. Ia lalu memberi sembah hormat kepada Ki
Patih Narotama.
"Banyak
terima kasih hamba haturkan atas pertolongan Paduka kepada ibu hamba."
kata Puspa Dewi dengan hormat.
"Bagaimana
engkau bisa mendapatkan kami di sini?" Tanya Ki Patih Narotama.
“Tadi pagi
hamba bertemu dengan Ki Tejoranu, Gusti Patih."
Mendengar ini,
Ki Patih Narotama tertarik, dan bertanya dengan suara ingin tahu sekali.
"Ah,
benarkah? Lalu bagaimana dengan dia?"
"Engkau
melihat Ki Tejoranu, Puspa Dewi? Lalu apakah engkau melihat.... jenazah Kim
Lan....?" Nyi Lasmi ikut bertanya karena ia merasa amat iba kepada kakak
beradik yang sudah akrab sekali dengannya itu.
"Hamba
melihat Ki Tejoranu sedang memperabukan jenazah adiknya di atas sebuah bukit.
Ketika hamba mendekati dia mengamuk dengan sepasang goloknya, merontokkan
daun-daun dan ranting-ranting pohon. Ketika melihat hamba, dia malah menyerang
hamba dengan goloknya mengira bahwa hamba orang Wengker atau orang Wura-Wuri.
Setelah hamba jelaskan, dia lalu menceritakan tentang kematian adiknya oleh
penjahat Wengker dan Wura-Wuri dan dialah yang menceritakan di mana adanya Ibu
dan Paduka. Maka hamba lalu menyusul ke dusun Magel dan akhirnya dapat menyusul
ke sini."
Ki Patih
Narotama memejamkan kedua matanya. Dia membayangkan betapa sedihnya hati Ki
Tejoranu sehingga dia mengamuk dengan sepasang goloknya!
"Kebetulan
sekali Andika datang, Puspa Dewi. Sekarang engkau dapat mengantarkan ibumu ke
Karang Tirta dan berboncengan kuda sehingga perjalanan dapat dilakukan lebih
cepat. Aku masih mempunyai urusan lain. Nah, kita berpisah di sini." Ki
Patih Narotama lalu melompat ke atas punggung kudanya dan melarikan kuda itu.
"Aduh,
kasihan sekali orang-orang muda itu. Betapa sering kali cinta menjerumuskan
orang-orang muda ke dalam lembah kekecewaan dan kedukaan."
"Apa
maksud Ibu?" tanya Puspa Dewi yang mengira bahwa ibunya menyinggung
keadaan ibunya dengan ucapan itu.
"Puspa
Dewi, mari kita lanjutkan perjalanan ke Karang Tirta. Kasihan keluarga Ki Lurah
Pujosaputro. Nanti dalam perjalanan akan kuceritakan semua pengalamanku dan
engkau juga menceritakan pengalamanmu selama kita berpisah."
Puspa Dewi
lalu mengangkat ibunya ke atas punggung kuda dan ia sendiri meloncat dan duduk
di belakangnya. Agar mereka dapat bicara dengan leluasa, ia hanya menjalankan
kudanya lambat-lambat.
"Ibu, aku
telah mendengar di Karang Tirta bahwa Ibu dibawa lari orang-orang Wengker, lalu
aku melakukan pengejaran ke Wengker dan mendengar bahwa Ibu dibawa ke
Wura-Wuri. Dari Ki Tejoranu aku mendengar bahwa Ibu telah ditolong oleh dia dan
Adiknya, lalu ditolong pula oleh Gusti Patih Narotama. Nah, apa yang
sesungguhnya terjadi, Ibu?"
"Semua
itu ulah Suramenggala yang sekarang menjadi tumenggung di Wengker. Dia hendak
memaksa aku kembali menjadi keluarganya. Aku teguh menolak dan akhirnya mereka
memutuskan untuk mengirim aku dan menyerahkannya ke Wura-Wuri dengan maksud
untuk memaksa engkau menyerahkan diri kepada Adipati Wura-Wuri."
"Hemm,
aku sudah menduga begitu, Ibu. Sekarang aku sudah jelas mengetahui apa yang Ibu
alami ketika diculik. Akan tetapi apa maksud kata-kata Ibu tadi yang mengatakan
bahwa seringkali cinta menjerumuskan orang-orang muda ke alam lembah
kedukaan?"
Nyi Lasmi
menghela napas panjang.
“Yang
kumaksudkan adalah mengenai diri The Kim Lan."
"Mengapa
dengan Kim Lan, Ibu?"
"Sesungguhnya,
gadis yang malang itu, yang amat akrab denganku, seperti anak sendiri, ia
sengaja menyambut musuh yang sakti untuk membela Gusti Patih Narotama, sama
dengan membunuh diri."
"Eh? Apa
maksud Ibu?"
"Begini,
Anakku. Kim Lan malam itu berterus terang kepadaku bahwa ia jatuh cinta kepada
Gusti Patih Narotama dan ia ingin agar diterima suwita, menjadi selir Gusti
Patih. Akan tetapi, Gusti Patih Narotama agaknya menolaknya sehingga gadis itu
putus asa. Ia sendiri bilang kepadaku bahwa kalau tidak dapat menjadi isteri Ki
Patih Narotama, hidup tiada artinya lagi dan ia lebih suka mati. Ketika ada
musuh sakti menyerang, ia nekat menyambut sehingga ia terluka dan tewas."
"Ahhh....
menyedihkan sekali, Ibu. Dan bagaimana dengan Kakaknya?"
"Tejoranu?
Tentu saja hatinya hancur lebur dan dia lari membawa jenazah Adiknya. Mungkin
dia juga menyesal bahwa cinta dan penyerahan diri adiknya kepada Gusti Patih
Narotama ditolak. Nah, sekarang ceritakan pengalamanmu Puspa Dewi."
"Cerita
dari pengalamanku berbeda jauh dengan apa yang kaualami, Ibu. Pengalamanku
sungguh menggembirakan dan membahagiakan kita semua."
"Hemm,
bagaimana ceritanya? Apakah engkau sudah bertemu dengan Kakang Prasetyo?"
"Bukan
hanya Ayah, aku telah bertemu dengan mereka semua! Ayah, Ibu Dyah Mularsih,
Niken Harni puteri mereka, juga Kakek Tumenggung Jayatanu dan isterinya. Dan
tahukah Ibu, mereka menyambut kedatanganku dengan gembira dan ramah sekali!
Agaknya Ibu salah paham terhadap mereka. Kakek Tumenggung Jayatanu baik sekali
dan merasa menyesal bahwa dia telah menyebabkan Ibu berpisah dari Ayah. Nenek
Jayatanu juga amat baik. Dan Ibu Dyah Mularsih dan puterinya, Niken Harni,
mereka baik sekali, Ibu. Ibu Dyah Mularsih menganggap aku sebagai anaknya
sendiri dan Niken Harni sangat sayang kepadaku. Ibu, mereka semua itu merasa
menyesal bahwa Ibu telah meninggalkan Ayah. Mereka selalu berusaha untuk
mencari Ibu, namun tidak berhasil. Dan sekarang mereka telah menanti di Karang
Tirta!"
"Apa?"
Nyi Lasmi terkejut.
"Mereka
di Karang Tirta?"
"Semua
keluarga itu tidak mau ketinggalan, ikut bersama Ayah yang datang ke Karang
Tirta untuk menyambut dan memboyong kita ke kota raja!"
"Ah,
tidak....!"
"Ibu,
percayalah. Mereka semua itu dengan hati tulus menginginkan Ibu dan aku tinggal
bersama mereka, menjadi satu keluarga dan Ibu akan dianggap tetap sebagai
isteri pertama ayah. Ayah sekarang telah menjadi seorang Senopati Kahuripan,
Ibu."
"Tidak,
anakku.... tidak....!" Nyi Lasmi lalu menangis.
Puspa Dewi
menahan kudanya dan ia merangkul Ibunya dari belakang.
"Mengapa,
Ibu? Mengapa Ibu menolak, diboyong Ayah ke kota raja? Bukankah Ibu amat
mencinta Ayah?"
Di antara
tangisnya, Nyi Lasmi berkata,
"Justeru
karena aku amat mencintai dan menghormatinya, aku tidak bisa dan tidak boleh
menerima ajakannya itu. Bahkan aku tidak boleh bertemu muka dengan Kakang
Prasetyo....!" Tangisnya semakin mengguguk.
Puspa Dewi
melompat turun dari atas kuda dan menurunkan Ibunya. Nyi Lasmi mendeprok di
atas rumput sambil menangis sedih. Puspa Dewi merangkulnya.
"Ibu,
katakan, mengapa Ibu berpendapat begitu? Apakah Ibu tidak percaya omonganku
bahwa mereka semua amat baik dan ramah, semua mengharapkan Ibu tinggal serumah
dengan mereka sebagai anggota keluarga? Sesungguhnya, Ibu. Aku sama sekali
tidak berbohong!"
"Ohh....
aku tidak berharga lagi, Puspa Dewi. Aku tidak pantas bertemu muka dengan
Ayahmu! Aku sudah kotor dan hina. Bagaimana mungkin aku sanggup bertemu muka
dengan Kakang Prasetyo? Kalau dia tahu bahwa aku pernah menjadi selir Ki
Suramenggala yang jahatl Ah, kalau keluarga Tumenggung Jayatanu, kalau Isteri
Kakang Prasetyo tahu, betapa maluku! Mereka tentu akan mencemooh dan menghinaku
habis-habisan! Tidak, Puspa Dewi, lebih baik aku mati daripada menghadapi semua
penghinaan itu. Aku tidak sanggup menghadapinya....!"
Puspa Dewi
mengusap air mata yang membasahi muka ibunya.
"Mereka
tidak akan memandang rendah kepadamu, Ibu. Apa Ibu mengira aku berdiam diri
saja kalau ada orang menghina dan memandang rendah kepada Ibu? Mereka sama
sekali tidak menyalahkan Ibu, mereka bahkan merasa kasihan sekali kepada Ibu
yang hidup menderita. Ayah dan semua keluarga sudah tahu, Ibu. Aku sudah
memberitahu kepada mereka, menceritakan semua pengalaman Ibu. Ayah tidak
menyalahkan Ibu, bahkan semakin menyesali sikapnya sendiri dulu. Semua akan
menerima Ibu dan menghormati Ibu. Aku yakin akan hal Ini. Mereka sekarang
sedang menanti di Karang Tirta."
"Apa....?
Mereka..Ayahmu.... sudah tahu bahwa aku pernah menjadi selir
Suramenggala?"
No comments:
Post a Comment