Nurseta Satria Karangtirta ; Bagian 38


Kami lalu mengantar ibumu menuju ke Karang Tirta. Akan tetapi muncul belasan orang, yaitu orang-orang dari Wengker yang telah kami usir bersama orang-orang dari Wura-Wuri. Kami dikeroyok dan pada saat kami kerepotan menghadapi pengeroyokan banyak orang tangguh itu, Bibi Lasmi dilarikan dua orang warok dari Wengker dan kami tidak dapat menghalangi karena kami dikeroyok dengan ketat."
"Hemm, mereka memang jahat dan curang!" kata Puspa Dewi sambil mengerutkan alis dengan khawatir mendengar ibunya dilarikan orang sedangkan kakak beradik itu tidak dapat menghalangi.
"Kami berdua memang terdesak hebat karena di antara orang-orang Itu terdapat beberapa orang sakti dan tangguh sekali. Akan tetapi kami mempertahankan diri sekuat dan semampu kami. Pada saat yang gawat bagi kami itu, muncullah Ki Patih Narotama yang ternyata telah berhasil menolong Bibi Lasmi. Ki Patih Narotama lalu membantu kami dan orang-orang jahat dari Wengker dan Wura-Wuri itu melarikan diri."
"Ah, syukurlah, kalian berdua tertolong dan ibuku selamat. Akan tetapi mengapa Adikmu..." Puspa Dewi menunjuk ke arah buntalan abu di punggung Ki Tejoranu.
Ki Tejoranu mengerutkan alis dan menghela napas panjang. Sinar matanya menjadi sayu, wajahnya muram dan dia tampak sedih sekali. Dia tidak mau menceritakan bahwa adiknya tergila-gila mencinta Ki Patih Narotama namun cintanya ditolak patih itu. Dia menjawab dengan lirih dan singkat.
"Kami berempat lalu melakukan perjalanan ke Karang Tirta. Malam tadi kami menginap di rumah Ki Lurah Magel. Kemudian datang orang-orang hendak menyerang dan membunuh Ki Patih Narotama. Kim Lan segera naik ke atas atap untuk menyambut orang-orang jahat itu biarpun Ki Patih Narotama sudah melarangnya karena musuh-musuh itu amat sakti. Aku segera mengikutinya dan ketika tiba di atas genteng, kami melihat dua orang dan kami segera bertanding melawan dua orang yang ternyata tangguh sekali itu. Dan dalam perkelahian ini... Adikku... Kim Lan.... terkena tikaman keris terbang di punggungnya sehingga ia tewas....” Ki Tejoranu berhenti bercerita karena kesedihan telah menekannya kembali.
"Ahh...!" Puspa Dewi ikut merasa terharu.
"Akan tetapi, apakah Ki Patih Narotama tidak membantu kalian? Bukankah dia sakti mandraguna?"
"Ki Patih Narotama sendiri sibuk menghadapi serangan ilmu sihir yang berbahaya. Dia memang kemudian muncul, namun telah terlambat. Dia mengusir penjahat-penjahat itu, akan tetapi Kim Lan sudah roboh terluka parah dan akhirnya ia meninggal...."

Sunyi mengikuti akhir cerita Ki Tejoranu. Ki Tejoranu diam tenggelam ke dalam lautan duka, sedangkan Puspa Dewi terdiam karena terharu dan kasihan. Dari penuturan itu tahulah ia bahwa ia berhadapan dengan seorang pendekar yang telah menolong ibunya dan penolong itu sekarang sedang menderita duka yang amat mendalam karena kematian adiknya,
"Ki Tejoranu." akhirnya Puspa Dewi berkata lirih dan lembut.
"Apakah engkau akan membawa abu jenazah Kim Lan itu kepada keluargamu?"
"Keluargaku? Ah, Adikku inilah satu-satunya keluargaku di dunia ini. Aku hanya hidup berdua dengan adikku, merantau di sini, jauh dari negeri Cina dari mana kami berasal, ia satu-satunya yang kumiliki di dunia ini dan sekarang... sekarang...." Ki Tejoranu terisak, lalu dia bangkit berdiri lari meninggalkan Puspa Dewi.
"Ki Tejoranu....!" Puspa Dewi memanggil namun laki-laki itu terus berlari dengan cepat. Kalau ia mau, tentu Puspa Dewi akan dapat menyusulnya. Ia ingin minta keterangan lebih jelas di mana ibunya kini berada. Akan tetapi ia merasa kasihan sekali kepada Ki Tejoranu dan tidak mau mengganggunya.
Apa lagi tadi Ki Tejoranu telah menceritakan bahwa peristiwa semalam itu terjadi di rumah kelurahan Magel. Maka Puspa Dewi juga segera meninggalkan tempat itu dan akhirnya ia memperoleh keterangan di mana adanya kelurahan Magel. Setelah ia tiba di dusun Magel dan mencari ke kelurahan, ia mendapat kabar bahwa ibunya bersama Ki Patih Narotama baru saja telah meninggalkan Magel menuju ke Karang Tirta. Puspa Dewi segera melakukan pengejaran dan tak lama kemudian ia dapat menyusul Ki Patih Narotama yang menunggang kuda dan menuntun seekor kuda lain yang ditunggangi Nyi Lasmi. Karena Ibunya tidak pandai menunggang kuda, tentu saja perjalanan itu dilakukan lambat-lambat saja.
"Ibu....!" Puspa Dewi berseru.
Ki Patih Narotama sudah menghentikan kudanya dan Nyi Lasmi yang mendengar suara itu, walaupun ia belum melihat orangnya, sudah berseru girang,
"Puspa Dewi....!!"
"Bagus sekali Andika datang, Puspa Dewi." kata Ki Patih Narotama sambil melompat turun dari atas kudanya.
Puspa Dewi menurunkan ibunya dan berangkulan. Ia lalu memberi sembah hormat kepada Ki Patih Narotama.
"Banyak terima kasih hamba haturkan atas pertolongan Paduka kepada ibu hamba." kata Puspa Dewi dengan hormat.
"Bagaimana engkau bisa mendapatkan kami di sini?" Tanya Ki Patih Narotama.
“Tadi pagi hamba bertemu dengan Ki Tejoranu, Gusti Patih."
Mendengar ini, Ki Patih Narotama tertarik, dan bertanya dengan suara ingin tahu sekali.
"Ah, benarkah? Lalu bagaimana dengan dia?"
"Engkau melihat Ki Tejoranu, Puspa Dewi? Lalu apakah engkau melihat.... jenazah Kim Lan....?" Nyi Lasmi ikut bertanya karena ia merasa amat iba kepada kakak beradik yang sudah akrab sekali dengannya itu.
"Hamba melihat Ki Tejoranu sedang memperabukan jenazah adiknya di atas sebuah bukit. Ketika hamba mendekati dia mengamuk dengan sepasang goloknya, merontokkan daun-daun dan ranting-ranting pohon. Ketika melihat hamba, dia malah menyerang hamba dengan goloknya mengira bahwa hamba orang Wengker atau orang Wura-Wuri. Setelah hamba jelaskan, dia lalu menceritakan tentang kematian adiknya oleh penjahat Wengker dan Wura-Wuri dan dialah yang menceritakan di mana adanya Ibu dan Paduka. Maka hamba lalu menyusul ke dusun Magel dan akhirnya dapat menyusul ke sini."
Ki Patih Narotama memejamkan kedua matanya. Dia membayangkan betapa sedihnya hati Ki Tejoranu sehingga dia mengamuk dengan sepasang goloknya!
"Kebetulan sekali Andika datang, Puspa Dewi. Sekarang engkau dapat mengantarkan ibumu ke Karang Tirta dan berboncengan kuda sehingga perjalanan dapat dilakukan lebih cepat. Aku masih mempunyai urusan lain. Nah, kita berpisah di sini." Ki Patih Narotama lalu melompat ke atas punggung kudanya dan melarikan kuda itu.
"Aduh, kasihan sekali orang-orang muda itu. Betapa sering kali cinta menjerumuskan orang-orang muda ke dalam lembah kekecewaan dan kedukaan."
"Apa maksud Ibu?" tanya Puspa Dewi yang mengira bahwa ibunya menyinggung keadaan ibunya dengan ucapan itu.
"Puspa Dewi, mari kita lanjutkan perjalanan ke Karang Tirta. Kasihan keluarga Ki Lurah Pujosaputro. Nanti dalam perjalanan akan kuceritakan semua pengalamanku dan engkau juga menceritakan pengalamanmu selama kita berpisah."
Puspa Dewi lalu mengangkat ibunya ke atas punggung kuda dan ia sendiri meloncat dan duduk di belakangnya. Agar mereka dapat bicara dengan leluasa, ia hanya menjalankan kudanya lambat-lambat.
"Ibu, aku telah mendengar di Karang Tirta bahwa Ibu dibawa lari orang-orang Wengker, lalu aku melakukan pengejaran ke Wengker dan mendengar bahwa Ibu dibawa ke Wura-Wuri. Dari Ki Tejoranu aku mendengar bahwa Ibu telah ditolong oleh dia dan Adiknya, lalu ditolong pula oleh Gusti Patih Narotama. Nah, apa yang sesungguhnya terjadi, Ibu?"
"Semua itu ulah Suramenggala yang sekarang menjadi tumenggung di Wengker. Dia hendak memaksa aku kembali menjadi keluarganya. Aku teguh menolak dan akhirnya mereka memutuskan untuk mengirim aku dan menyerahkannya ke Wura-Wuri dengan maksud untuk memaksa engkau menyerahkan diri kepada Adipati Wura-Wuri."
"Hemm, aku sudah menduga begitu, Ibu. Sekarang aku sudah jelas mengetahui apa yang Ibu alami ketika diculik. Akan tetapi apa maksud kata-kata Ibu tadi yang mengatakan bahwa seringkali cinta menjerumuskan orang-orang muda ke alam lembah kedukaan?"
Nyi Lasmi menghela napas panjang.
“Yang kumaksudkan adalah mengenai diri The Kim Lan."
"Mengapa dengan Kim Lan, Ibu?"
"Sesungguhnya, gadis yang malang itu, yang amat akrab denganku, seperti anak sendiri, ia sengaja menyambut musuh yang sakti untuk membela Gusti Patih Narotama, sama dengan membunuh diri."
"Eh? Apa maksud Ibu?"
"Begini, Anakku. Kim Lan malam itu berterus terang kepadaku bahwa ia jatuh cinta kepada Gusti Patih Narotama dan ia ingin agar diterima suwita, menjadi selir Gusti Patih. Akan tetapi, Gusti Patih Narotama agaknya menolaknya sehingga gadis itu putus asa. Ia sendiri bilang kepadaku bahwa kalau tidak dapat menjadi isteri Ki Patih Narotama, hidup tiada artinya lagi dan ia lebih suka mati. Ketika ada musuh sakti menyerang, ia nekat menyambut sehingga ia terluka dan tewas."
"Ahhh.... menyedihkan sekali, Ibu. Dan bagaimana dengan Kakaknya?"
"Tejoranu? Tentu saja hatinya hancur lebur dan dia lari membawa jenazah Adiknya. Mungkin dia juga menyesal bahwa cinta dan penyerahan diri adiknya kepada Gusti Patih Narotama ditolak. Nah, sekarang ceritakan pengalamanmu Puspa Dewi."
"Cerita dari pengalamanku berbeda jauh dengan apa yang kaualami, Ibu. Pengalamanku sungguh menggembirakan dan membahagiakan kita semua."
"Hemm, bagaimana ceritanya? Apakah engkau sudah bertemu dengan Kakang Prasetyo?"
"Bukan hanya Ayah, aku telah bertemu dengan mereka semua! Ayah, Ibu Dyah Mularsih, Niken Harni puteri mereka, juga Kakek Tumenggung Jayatanu dan isterinya. Dan tahukah Ibu, mereka menyambut kedatanganku dengan gembira dan ramah sekali! Agaknya Ibu salah paham terhadap mereka. Kakek Tumenggung Jayatanu baik sekali dan merasa menyesal bahwa dia telah menyebabkan Ibu berpisah dari Ayah. Nenek Jayatanu juga amat baik. Dan Ibu Dyah Mularsih dan puterinya, Niken Harni, mereka baik sekali, Ibu. Ibu Dyah Mularsih menganggap aku sebagai anaknya sendiri dan Niken Harni sangat sayang kepadaku. Ibu, mereka semua itu merasa menyesal bahwa Ibu telah meninggalkan Ayah. Mereka selalu berusaha untuk mencari Ibu, namun tidak berhasil. Dan sekarang mereka telah menanti di Karang Tirta!"
"Apa?" Nyi Lasmi terkejut.
"Mereka di Karang Tirta?"
"Semua keluarga itu tidak mau ketinggalan, ikut bersama Ayah yang datang ke Karang Tirta untuk menyambut dan memboyong kita ke kota raja!"
"Ah, tidak....!"
"Ibu, percayalah. Mereka semua itu dengan hati tulus menginginkan Ibu dan aku tinggal bersama mereka, menjadi satu keluarga dan Ibu akan dianggap tetap sebagai isteri pertama ayah. Ayah sekarang telah menjadi seorang Senopati Kahuripan, Ibu."
"Tidak, anakku.... tidak....!" Nyi Lasmi lalu menangis.
Puspa Dewi menahan kudanya dan ia merangkul Ibunya dari belakang.
"Mengapa, Ibu? Mengapa Ibu menolak, diboyong Ayah ke kota raja? Bukankah Ibu amat mencinta Ayah?"
Di antara tangisnya, Nyi Lasmi berkata,
"Justeru karena aku amat mencintai dan menghormatinya, aku tidak bisa dan tidak boleh menerima ajakannya itu. Bahkan aku tidak boleh bertemu muka dengan Kakang Prasetyo....!" Tangisnya semakin mengguguk.

Puspa Dewi melompat turun dari atas kuda dan menurunkan Ibunya. Nyi Lasmi mendeprok di atas rumput sambil menangis sedih. Puspa Dewi merangkulnya.
"Ibu, katakan, mengapa Ibu berpendapat begitu? Apakah Ibu tidak percaya omonganku bahwa mereka semua amat baik dan ramah, semua mengharapkan Ibu tinggal serumah dengan mereka sebagai anggota keluarga? Sesungguhnya, Ibu. Aku sama sekali tidak berbohong!"
"Ohh.... aku tidak berharga lagi, Puspa Dewi. Aku tidak pantas bertemu muka dengan Ayahmu! Aku sudah kotor dan hina. Bagaimana mungkin aku sanggup bertemu muka dengan Kakang Prasetyo? Kalau dia tahu bahwa aku pernah menjadi selir Ki Suramenggala yang jahatl Ah, kalau keluarga Tumenggung Jayatanu, kalau Isteri Kakang Prasetyo tahu, betapa maluku! Mereka tentu akan mencemooh dan menghinaku habis-habisan! Tidak, Puspa Dewi, lebih baik aku mati daripada menghadapi semua penghinaan itu. Aku tidak sanggup menghadapinya....!"
Puspa Dewi mengusap air mata yang membasahi muka ibunya.
"Mereka tidak akan memandang rendah kepadamu, Ibu. Apa Ibu mengira aku berdiam diri saja kalau ada orang menghina dan memandang rendah kepada Ibu? Mereka sama sekali tidak menyalahkan Ibu, mereka bahkan merasa kasihan sekali kepada Ibu yang hidup menderita. Ayah dan semua keluarga sudah tahu, Ibu. Aku sudah memberitahu kepada mereka, menceritakan semua pengalaman Ibu. Ayah tidak menyalahkan Ibu, bahkan semakin menyesali sikapnya sendiri dulu. Semua akan menerima Ibu dan menghormati Ibu. Aku yakin akan hal Ini. Mereka sekarang sedang menanti di Karang Tirta."
"Apa....? Mereka..Ayahmu.... sudah tahu bahwa aku pernah menjadi selir Suramenggala?"

<<< Bagian 37                                                                                          Bagian 39 >>>

No comments:

Post a Comment