"Benar, Ibu. Aku sudah menceritakan semuanya dan mereka sama sekali tidak menyalahkan Ibu. Semua keluarga mengikuti aku datang ke Karang Tirta dan ketika kami mendengar bahwa Ibu diculik dan keluarga Paman Lurah Pujosaputro dibunuh penjahat, mereka semua marah sekali dan aku tidak tahu apa yang sekarang mereka lakukan karena aku meninggalkan mereka di sana untuk mengejar dan mencari Ibu. Marilah, Ibu. Aku yang menanggung bahwa tidak akan ada seorang pun di antara mereka yang akan menghina Ibu."
Tiba-tiba
terdengar bunyi derap kaki banyak kuda datang ke arah mereka. Puspa Dewi siap
siaga.
"Ibu,
duduklah di bawah pohon itu dan jangan takut. Aku akan menghajar mereka yang
berani mengganggumu!" Gadis itu dengan gagah berdiri di tengah jalan,
menanti munculnya rombongan berkuda itu.
Senopati
Yudajaya atau Prasetyo yang memimpin selosin orang perajurit pengawal itu
menahan kudanya dan mengangkat tangan memberi isarat kepada pasukannya untuk
berhenti ketika dia melihat Puspa Dewi berdiri tegak di tengah jalan.
"Puspa
Dewi....!" Serunya dan dia melompat turun dari atas kudanya dan lari
menghampiri gadis itu.
"Ayah....!"
Puspa Dewi berseru, lega melihat bahwa rombongan berkuda itu adalah perajurit
pengawal yang dipimpin Senopati Yudajaya.
"Puspa
Dewi, bagaimana hasil pengejaranmu?"
Puspa Dewi
hanya menjawab dengan gerakan ibu jarinya menuding ke arah ibunya.
"Diajeng
Lasmi.....!" Senopati Yudajaya berseru ketika dia melihat Lasmi duduk di
bawah pohon dan wanita itu menangis. Dia lalu berlari menghampiri dan sudah
berlutut dekat Nyi Lasmi.
"Diajeng
Lasmi, bertahun-tahun aku mencarimu...." kata Yudajaya dengan suara
terharu dan dia memegang kedua tangan bekas isterinya itu.
"Jangan....!"
Nyi Lasmi melepaskan kedua tangannya dan bangkit berdiri.
"Kakang
Prasetyo...., jangan sentuh aku... aku.... aku tidak pantas..."
"Hushh,
Diajeng. Jangan bicara begitu, tak baik didengar para prajurit. Mari, mari kita
ke Karang Tirta, semua keluarga menantimu. Di sana nanti kita bicara,
Diajeng."
Puspa Dewi
menghampiri mereka.
"Ayah
benar, ibu. Mari kita berangkat sekarang ke Karang Tirta."
Nyi Lasmi
hanya mengangguk dan ketika beradu pandang dengan bekas suaminya, Nyi Lasmi
merasa jantungnya berdebar. Betapa ia amat mencinta suaminya. Bahkan sampai
sekarangpun! Memandang wajah suaminya yang kini nampak kurus dan tua itu, ia
merasa kasihan dan terharu sekali. Akan tetapi ia juga melihat dengan jelas
betapa sinar mata Prasetyo masih seperti dulu kalau memandangnya, masih
mengandung penuh kasih sayang.
Puspa Dewi
tetap memboncengkan Ibunya dan rombongan itu lalu melakukan perjalanan ke
Karang Tirta dengan cepat. Senopati Yudajaya yang menunggang kuda di samping
Puspa Dewi bertanya kepada gadis itu.
"Puspa
Dewi, apakah engkau tidak melihat Niken Harni?"
"Niken?
Aku tidak melihatnya. Ia ke manakah, Ayah?"
"Hemm,
itulah yang merisaukan hati. Ketika mendengar engkau pergi melakukan pengejaran
terhadap para penculik dari Wengker itu, Niken Harni pergi tanpa pamit. Kami
semua menduga bahwa ia tentu melakukan pengejaran pula untuk membantumu
menghadapi orang-orang Wengker."
"Ah,
mengapa ia begitu sembrono?" Puspa Dewi berseru kaget.
"Di
Wengker terdapat banyak sekali orang yang sakti mandraguna! Sungguh amat
berbahaya kalau ia melakukan pengejaran memasuki Kadipaten Wengker!"
"Hemm,
Niken Harni memang anak yang keras hati dan tidak mengenal takut. Aku khawatir
sekali akan keselamatannya. Puspa Dewi, lalu bagaimana baiknya sekarang? Apakah
aku bersama seregu pengawal ini akan melanjutkan saja ke Wengker mencari Niken
Harni?" Senopati Yudajaya memberi isarat untuk berhenti. Semua kuda
berhenti. Mendengar ini, Nyi Lasmi berkata kepada puterinya.
"Puspa
Dewi, sebaiknya engkau yang memiliki kesaktian dan dapat menjaga diri, segera
pergi mencari Adikmu Niken Harni."
"Dan
bagaimana dengan Ibu?" tanya Puspa Dewi.
"Ibumu
akan kembali ke Karang Tirta bersama kami. Atau, kau pikir aku membawa seregu
prajurit ini membantumu? Kalau begitu, biar dua orang prajurit mengantar
Diajeng Lasmini pulang ke Karang Tirta dan aku bersama para prajurit pengawal
ikut denganmu mencari Niken Harni."
"Ah,
tidak, Ayah. Aku lebih leluasa kalau pergi sendiri. Aku akan mencari Adik Niken
sampai dapat kutemukan dan kami akan segera pulang. Sebaiknya sekarang Ayah dan
Ibu kembali ke Karang Tirta dan langsung saja pulang ke kota raja. Aku hanya
titip Ibuku, agar ia dapat berbahagia bersama Ayah dan semua keluarga di kota
raja. Nah, aku pergi, Ayah. Ibu, aku pergi mencari Niken Harni."
Nyi Lasmi
merangkul puterinya.
"Hati-hatilah,
Puspa Dewi, dan cari Adikmu sampai dapat ditemukan dengan selamat."
Puspa Dewi
meloncat ke atas kudanya dan membalapkan kuda menuju ke arah yang berlawanan.
Setelah bayangan gadis dan kudanya lenyap di tikungan, Senopati Yudajaya
menghampiri Nyi Lasmi.
"Aku kira
anak kita Puspa Dewi sudah menceritakan semua kepadamu tentang kami
sekeluarga."
Nyi Lasmi
mengangguk.
"Kalau
begitu, Diajeng. Mari kita segera kembali ke Karang Tirta, di sana keluarga
kita telah menanti dengan hati gelisah."
Melihat para
prajurit berada ditempat yang agak jauh dari situ, Nyi Lasmi berbisik.
"Akan
tetapi, Kakang Prasetyo, aku sudah tidak berharga, aku pernah menjadi selir
Suramenggala...."
"Kami
semua sudah mengetahui akan hal itu, Diajeng. Dan kami sama sekali tidak
menganggap engkau tidak berharga. Engkau melakukan hal itu dalam keadaan
terpaksa ketika Puspa Dewi hilang diculik orang. Sudahlah, Diajeng, bagi kami,
terutama bagi aku, engkau tetap Diajeng Lasmi yang dulu. Aku berjanji untuk
menebus semua kesalahanku dahulu dengan membahagiakanmu, Diajeng. Tenangkan
hatimu dan percayalah. Dyah Mularsih dan orang tuanya juga amat menantikanmu,
mereka akan berbahagia sekali menerimamu karena hal itu akan membuat mereka
merasa bebas dari kesalahan terhadap dirimu."
Lega rasa hati
Lasmi mendengar ucapan suaminya yang dikeluarkan dengan nada sungguh-sungguh
dan bukan hanya sekedar bermanis bibir untuk menghiburnya itu. Timbul
keberaniannya untuk bertemu dengan madunya, Dyah Mularsih dan keluarga madunya
itu. Ia pun tidak merasa canggung atau malu-malu lagi ketika ia diboncengkan
suaminya duduk di atas punggung kuda dan berangkatlah suami isteri ini, dikawal
dua belas orang perajurit menuju ke Karang Tirta.
Mula-mula,
karena dilihat selusin orang perajurit, ada juga rasa sungkan dan malu
diboncengkan Prasetyo duduk berhimpitan di atas punggung kuda, akan tetapi
setelah ia menyadari bahwa yang memboncengkannya itu adalah Prasetyo, suaminya
yang sah, rasa sungkannya perlahan-lahan menghilang dan perasaan bahagia yang
amat mendalam membuat ia tidak dapat menahan mengalirnya berbutir-butir air
mata ke atas pipinya.
Senopati
Yudajaya atau Prasetyo menyentuh pundak Lasmi dengan tangan kirinya. Sentuhan
lembut lalu terdengar pertanyaannya dengan suara lembut pula.
"Diajeng
Lasmi, mengapa engkau menangis?" Dia tidak mendengar tangisan yang
bersuara, akan tetapi dari guncangan pundak Nyi Lasmi membuat dia menjenguk dan
melihat betapa kedua pipi isterlnya basah oleh air mata yang menetes-netes dari
kedua mata wanita itu.
Nyi Lasmi
meletakkan tangan kirinya di atas tangan suaminya yang menyentuh pundaknya dan
menggunakan tangan kanannya untuk mengusap air mata dari kedua pipinya, dan ia
tersenyum.
"Kakang....
aku.... aku merasa berbahagia sekali...."
Tangan
Prasetyo meremas lembut pundaknya, kemudian melepaskannya untuk memegang
kendali kuda dan dia membalapkan kudanya. Dua belas orang perajurit yang
mengiringkan di belakangnya juga membedal kuda mereka.
Akan tetapi
setelah memasuki Dusun Karang Tirta dan kuda mereka menuju ke rumah Ki Lurah
Pujosaputro yang bersama keluarganya telah dibantai gerombolan penjahat,
kembali Nyi Lasmi merasa sungkan dan malu sehingga jantungnya berdebar penuh
ketegangan. Rasanya ia sungkan dan khawatir sekali harus berhadapan muka dengan
Tumenggung Jayatanu, Nyi Tumenggung, dan Dyah Mularsih. Ia merasa begitu
rendah, seorang dusun bertemu dengan keluarga bangsawan, seorang miskin bertemu
dengan keluarga kaya, dan ia bahkan pernah menjadi selir laki-laki lain pula!
la merasa rendah dan tak berharga. Prasetyo merasa betapa tubuh yang duduk di
depannya itu gemetar.
"Engkau
mengapa, Diajeng?"
"Kakang.....
aku.... aku malu, aku takut...."
"He-heh,
mengapa malu dan takut, Diajeng? Engkau isteriku dan mereka semua akan
menyambutmu dengan gembirai Engkau akan diterima dengan hormat. Percayalah,
kalau mereka tidak akan bersikap demikian, tentu aku tidak berani mengajakmu
pulang ke sini."
Ucapan
suaminya ini agak membangkitkan keberanian Nyi Lasmi dan ketika kuda mereka
memasuki halaman rumah mendiang Ki Lurah Pujosaputro, ia pun turun dan dengan
tabah ia melangkah di samping suaminya menuju ke pendopo rumah kelurahan itu.
Agaknya mereka yang berada dalam rumah mendengar derap kaki kuda di halaman
depan karena ketika Nyi Lasmi dan Senopati Yudajaya memasuki pendopo,
berbondong-bondong keluar dari dalam rumah itu, Dyah Mularsih, Tumenggung
Jayatanu, dan Nyi Tumenggung. Nyi Lasmi tertegun memandang tiga orang yang dari
pakaiannya saja sudah mudah diketahui bahwa mereka adalah keluarga bangsawan.
Dyah Mularsih maju ke depan menyambut suaminya.
"Diajeng
Lasmi, inilah Diajeng Dyah Mularsih, ibu Niken Harni. Dyah Mularsih, ini
Diajeng Lasmi, ibu Puspa Dewi."
Nyi Lasmi
tertegun dan merasa canggung dan rendah melihat wanita cantik bersikap lembut
yang berdiri di depannya dan yang memandang kepadanya dengan sepasang mata yang
mengandung perasaan iba dan menyesal itu. Inilah isteri Prasetyo dan tidak aneh
kalau Prasetyo jatuh cinta kepada wanita seperti ini. Ia pun isteri Prasetyo,
akan tetapi sekarang ia sudah kotor dan hina, sudah menjadi selir Suramenggala
selama beberapa tahun la merasa tidak pantas berada di antara keluarga ini.
Dyah Mularsih
juga memandang penuh perhatian. Ia melihat seorang wanita yang cantik manis,
akan tetapi sinar mata Nyi Lasmi begitu penuh penderitaan, sayu dan kehilangan
cahayanya, wajahnya agak pucat dan kurus, mulutnya seperti hendak menangis.
Tiba-tiba ia merasa bersalah besar sekali terhadap wanita ini. Ialah yang
menjadi penyebab wanita Ini menderita, berpisah dari suaminya dan hidup
sengsara bersama anak nya, terlunta-lunta sampai jatuh ke tangan seorang
laki-laki yang jahat.
"Mbakayu
Lasmi....!" Ia mengeluh lalu menubruk dan merangkul Nyi Lasmi sambil
menangis.
Nyi Lasmi
terkejut dan heran, tak mengira madunya akan merangkulnya seperti itu. Ia hanya
balas merangkul tanpa dapat mengeluarkan separah kata pun dan ia bingung harus
berbuat dan berkata apa.
"Mbakayu
Lasmi.... aku telah menyebabkan Andika.... menderita sengsara
bertahun-tahun.... Mbakayu, maukah Andika mengampuni aku....?"
Mendengar
ucapan yang tersendat-sendat bercampur isak dari Dyah Mularsih yang
merangkulnya itu, Nyi Lasmi merasa terharu bukan main dan tak dapat ditahan
lagi ia pun menangis. Ia sama sekali tidak pernah mengira bahwa madunya akan
bersikap seperti ini. Saking terharunya, ia sampai tidak dapat mengeluarkan
kata-kata dan hanya dapat sesenggukan.
Nyi Tumenggung
juga memegang tangan Nyi Lasmi dan mengguncang-guncangnya.
"Aduh
Anakku Lasmi...., kami orang-orang tua yang telah bersalah terhadapmu. Kami
yang dulu merampas suamimu untuk kami jodohkan dengan anak kami. Kami merasa
menyesal sekali telah menyebabkanmu hidup merana, Angger...! Maafkan kami,
Lasmi...."
Tangis Nyi
Lasmi semakin mengguguk mendengar ucapan Nyi Tumenggung itu. Dua orang wanita yang
merangkulnya itu sungguh merupakan orang-orang yang amat baik budi. Benar kata
puterinya, Puspa Dewi. Mereka adalah orang-orang yang bijaksana, sedangkan ia
sendiri.... ah, ia merasa semakin rendah.
"Kanjeng
Bibi.... jeng Dyah.... mohon jangan berkata begitu.... sesungguhnya sayalah
yang harus minta maaf.... kedatangan saya hanya akan mengganggu kebahagiaan
keluarga yang terhormat ini.... saya.... saya.... tidak berharga untuk menjadi
anggota keluarga ini.... saya.... orang hina dina.... biarkan saya pergi....I"
Nyi Lasmi meronta lepas dan hendak berlari keluar.
"Mbakayu
Lasmi....!” Dyah Mularsih menjerit dan mengejar lalu merangkul madunya, juga
Nyi Tumenggung kini merangkul Nyi Lasmi. Tiga orang wanita itu
bertangis-tangisan.
Kini
Tumenggung Jayatanu melangkah menghampiri. Suaranya yang besar berkata dengan
lembut dan tenang.
"Wah,
kalian bertiga ini bagaimana sih? Sepantasnya pertemuan ini mendatangkan tawa
bahagia, akan tetapi sebaliknya kalian malah bertangis-tangisan dengan sedih?
Sudahlah, tidak perlu dan tidak ada salah menyalahkan di antara kita semua.
No comments:
Post a Comment