Nurseta Satria Karangtirta ; Bagian 40


Ketahuilah, Lasmi, sejak Andika pergi, kami sekeluarga tiada hentinya berusaha mencari dan menemukan Andika untuk kami ajak hidup bersama kami sekeluarga. Namun kami tidak berhasil menemukan Andika, baru setelah cucuku Puspa Dewi datang ke sini, kami mencarimu di Karang Tirta ini. Sekarang kita sudah bertemu dan berkumpul, kita sepatutnya berbahagia. Puspa Dewi sudah menceritakan seluruhnya tentang penderitaanmu dan kami sama sekali tidak menyalahkanmu, sama sekali tidak memandang rendah padamu. Bahkan kami merasa kasihan kepadamu dan kami ingin melihat Andika hidup berbahagia bersama suamimu dan kami di dalam keluarga kami. Mari kita semua masuk dan bicara di dalam."
Dengan digandeng Dyah Mularsih, Nyi Lasmi ikut masuk dan hatinya merasa terharu, akan tetapi juga berbahagia sekali. Tadinya ia masih ragu walaupun Puspa Dewi sudah memberitahu akan kebaikan sikap keluarga Dyah Mularsih, bahkan pertemuannya dengan Prasetyo semakin memberi keyakinan dalam hatinya bahwa ia akan diterima dengan baik. Namun setelah kini ia mengalami sendiri dan merasakan kebaikan dan ketulusan hati Dyah Mularsih dan ayah ibu madunya itu, barulah ia merasa lega dan berbahagia sekali. Bahkan setelah mereka berdua malam itu berada sekamar dan melihat Dyah Mularsih tampak gelisah memikirkan Niken Harni, Nyi Lasmi menghiburnya.
"Tenangkan hatimu, Adik Dyah Mularsih. Kalian sekeluarga adalah orang-orang yang baik budi. Aku yakin bahwa Niken Harni tentu akan mendapatkan perlindungan dari Sang Hyang Widhi. Mari kita mendoakan saja semoga Sang Hyang Widhi selalu melindungi Niken Harni, kita berserah diri dan menerima dengan tulus ikhlas apa yang telah ditentukan oleh Dia Yang Maha Kuasa. Juga, aku percaya bahwa anak kita Puspa Dewi akan mampu menemukan dan menyelamatkannya."
"Terima kasih, Mbakayu Lasmi. Aku pun mengharap demikian. Baru akan lega dan berbahagia sepenuhnya rasa hatiku kalau Niken Harni dan Puspa Dewi sudah berada bersama kita sehingga keluarga kita utuh seluruhnya dan berkumpul dalam ketumenggungan di Kahurlpan."
Pada keesokan harinya, keluarga Itu naik kereta kembali ke Kahuripan, dikawal oleh sepasukan prajurit.

Nurseta berjalan santai menuruni bukit. Sudah berhari-hari dia melakukan perjalanan di sepanjang Bukit Seribu, deretan bukit di selatan. Matahari pagi amat cerahnya. Sinarnya yang penuh daya hidup itu menghangatkan kulit. Pagi itu cerah, namun rupanya tidak cukup cerah bagi hati dan pikiran Nurseta yang melangkah seenaknya. Pemuda ini sedang termenung, mengenang perjalanan hidupnya yang telah lalu. Dia ingat bahwa sejak kecil dia tinggal di Karang Tirta bersama Ayah dan Ibunya. Ayahnya bernama Dharmaguna dan ibunya bernama Endang Sawitri. Sejak dia berusia sepuluh tahun dia telah ditinggal ayah ibunya yang pergi begitu saja tanpa dia ketahui ke mana. Dia telah melakukan penyelidikan dan ketika dia dapat bertemu dengan kakeknya, yaitu ayah dari ibunya, Senopati Sindukerta, baru dia ketahui mengapa ayah dan ibunya melarikan diri dan meninggalkannya. Senopati Sindukerta menceritakan segala hal mengenal ayah ibunya. Ibunya, Endang Sawitri, menolak dijodohkan pria lain karena ibunya itu ketika gadis telah saling mencinta dengan Dharmaguna. Akan tetapi karena Dharmaguna hanya putera seorang pendeta miskin yang bernama Ki Jatimurti, maka Senopati Sindukerta menentangnya. Sebagai seorang bangsawan tinggi, Senopati Sindukerta tidak setuju puterinya menikah dengan seorang pemuda putera pendeta miskin. Lalu ayah ibunya melarikan diri, dikejar-kejar anak buah Senopati Sindukerta yang menghendaki puterinya kembali. Akan tetapi ayah ibunya dapat meloloskan diri dan kemudian dia dilahirkan dan sejak bayi ikut terbawa lari-lari bersembunyi menjadi buruan Senopati Sindukerta yang kehilangan puterinya dan yang selalu mencari puterinya yang merupakan anak tunggal yang amat dikasihi. Akhirnya, ayah ibunya menetap di Karang Tirta. Ketika dia berusia sepuluh tahun, ayah ibunya meninggalkannya dan lari karena ada yang melapor kepada Senopati Sindukerta bahwa suami isteri itu berada di Karang Tirta. Dan semenjak mereka jadi pelarian ketika dia berusia sepuluh tabun, sampai sekarang dia berusia hampir dua puluh tiga tahun, selama belasan tahun Itu orang tuanya menghilang dan dia tidak pernah berhasil menemukan mereka. Dia hanya berhasil bertemu dengan kakek dan neneknya, yaitu Senopati Sindukerta dan isterinya yang menjadi orang tua ibunya. Akan tetapi dia tidak pernah dapat menemukan jejak orang tuanya. Inilah yang mengganjal hatinya. Dia akan selalu merasa penasaran sebelum dapat bertemu dengan orang tuanya. Bahkan ketika dia bertemu Sang Bhagawan Ekadenta dan menerima gemblengan selama tiga bulan, dia pun bertanya kepada kakek sakti mandraguna itu setelah menceritakan tentang orang tuanya. Sang Bhagawan Ekadenta tersenyum dan hanya berkata.
"Segala sesuatu hanya dapat terjadi apabila dikehendaki oleh Sang Hyang Widhi, Angger. Namun sudah menjadi kewajiban manusia untuk berikhtiar, berusaha sekuat tenaga untuk mencapai apa yang diinginkan."
Hanya itulah nasihat Sang Bhagawan Ekadenta ketika dia menceritakan keinginannya untuk dapat bertemu dengan orang tuanya yang telah meninggalkannya tiga belas tahun yang lalu. Nurseta merasa prihatin sekali. Kalau ayah ibunya masin hidup, di mana tempat tinggal mereka dan mengapa pula mereka itu masih saja menyembunyikan diri setelah hampir dua puluh empat tahun melarikan diri dari Kahuripan? Dan seandainya mereka sudah meninggal pun, dia harus mengetahui di mana kuburnya.

Dia harus dapat menemukan orang tuanya. Akan tetapi kemana dia harus mencari mereka? Hatinya mulai merasa penasaran. Nurseta adalah seorang pemuda gemblengan yang mendapatkan bimbingan mendiang Empu Dewamurti yang bijaksana, kemudian malah mendapat gemblengan pula dari Bhagawan Ekadenta yang sakti mandraguna. Dia telah memiliki batin yang amat kokoh dan dapat menguasai semua nafsu dan perasaannya. Akan tetapi bagaimanapun juga, dia seorang manusia biasa dan rasanya tidak mungkin bagi seorang manusia untuk dapat sepenuhnya bebas dari perasaan suka duka, puas kecewa, dan sebagainya. Memang lebih kuat dari orang biasa, lebih tenang, namun di lubuk hati Nurseta tetap saja terdapat perasaan silih berganti itu. Kini Nurseta mempercepat langkahnya. Melihat betapa di situ sunyi, tidak tampak orang lain, dia lalu mengerahkan tenaganya dan tubuhnya berkelebat cepat mendaki bukit lain yang sudah menanti di depannya setelah dia menuruni bukit tadi. Dengan Aji Bayu Sakti, tubuhnya ringan dan dapat berlari cepat seperti terbang sehingga sebentar saja dia tiba di puncak bukit itu. Setelah tiba di puncak, Nurseta merasa betapa lelah dan lemas tubuhnya. Baru dia teringat bahwa dia semalam melakukan perjalanan tanpa berhenti mengaso sebentar pun. Malam tadi terang bulan dan dia melakukan perjalanan sambil menikmati malam yang indah itu. Sekarang, setelah matahari mulai naik tinggi, dia merasa betapa tubuhnya lelah dan perutnya lapar. Maka, melihat sebatang pohon randu alas di puncak Itu, dia lalu berhenti mengaso dan duduk bersila di bawah pohon yang cukup dapat melindunginya dari sengatan sinar matahari. Kalau tadi dia tenggelam dalam kenangan masa lalu, kini pikirannya melayang memikirkan kembali pencarian yang sedang dia lakukan terhadap orang tuanya. Hatinya mulai tertekan kepedihan karena dia merasa tidak berdaya. Dia tidak tahu harus mencari ke mana. Tidak ada petunjuk sama sekali ke mana kiranya ayah ibunya berada. Selama ini, sejak berpisah dari Sang Bhagawan Ekadenta yang telah menggemblengnya selama tiga bulan, dia hanya ngawur saja menurutkan hati dan kakinya dalam pencariannya. Mengingat akan keadaan ini, hatinya tertekan dan dalam keadaan prihatin itu, dia lalu duduk bersila dan batinnya mengeluh sedih, memohon petunjuk dari Sang Hyang Widhi. Entah berapa lama dia duduk tepekur dalam samadhinya itu. Matahari naik semakin tinggi. Hawa mulai panas, namun terdapat angin semilir yang mengurangi hawa panas. Tiba-tiba pendengarannya menangkap suara orang bicara. Suara itu terbawa angin mencapai telinganya, terdengar cukup jelas, suara seorang laki-laki.
"Eyang, mengapa hidup ini penuh penderitaan? Hanya sedikit kesenangan dan lebih banyak kesusahan?"
Jawaban pertanyaan ini agaknya keluar dari mulut seorang yang sudah amat tua, karena gemetar dan agak parau, dalam.
"Angger, putuku bocah bagus! Apakah engkau melihat Eyangmu ini menderita?"
"Saya seringkali merasa heran mengapa Eyang tidak pernah kelihatan susah, ayem-ayem saja biarpun terkadang makan terkadang tidak, hidup miskin dan papa."

Nurseta merasa tertarik sekali dan tak lama kemudian dia sudah duduk bersembunyi di balik batu besar, tak jauh dari dua orang yang suaranya terbawa angin dan terdengar olehnya tadi. Mereka adalah seorang laki-laki muda berusia sekitar dua puluh lima tahun dan seorang kakek tua renta yang sukar ditaksir usianya, akan tetapi tentu sudah lebih dari delapan puluh tahun Mereka itu duduk di atas bangku bambu reyot di depan sebuah gubuk reyot pula yang berdiri di lereng bukit itu. Melihat keadaan pakaian dan sikap mereka yang lugu, mudah diketahui bahwa mereka adalah orang-orang dusun yang hidupnya sederhana. Nurseta semakin tertarik. Orang-orang dari dusun biasanya kalau bicara ceplas-ceplos terbuka, apa yang keluar dari mulut langsung keluar dari hati mereka, tidak munafik seperti orang kota terutama para bangsawan yang berusaha mati-matian untuk menyembunyikan keburukan mereka dan menonjolkan kebaikan. Selalu mementingkan kulit daripada isi, sehingga orang-orang itu seolah-olah memakai topeng yang elok untuk menyembunyikan semua keburukan dan cacat mereka. Dia mendengarkan dengan penuh perhatian.
"Heh-heh!" Kakek itu terkekeh dan tampak mulutnya yang sudah ompong, tak bergigi lagi,
"Kita hidup berdua di sini. Engkau dan aku berkeadaan sama, tidak ada yang lebih baik dan enak, tidak ada yang lebih buruk dan tidak enak. Akan tetapi engkau merasa dirimu banyak menderita, sedangkan aku tidak. Jelas bahwa bukan keadaan yang membuat seseorang menderita, melainkan cara dia menerima dan menghadapi keadaan itu. Aku ikhlas menerima kenyataan ini, maka aku tidak merasa menderita. Engkau sebaliknya menerima kenyataan hidup ini sebagai penderitaan, maka tentu saja engkau merasa menderita!"
"Akan tetapi, Eyang. Saya melihat bahwa semua orang miskin hidupnya susah dan semua orang kaya hidupnya senang! Bukankah kenyataannya begitu?"
"Itu pun hanya merupakan persangkaan saja, Angger. Kita saling memandang dan saling menilai tanpa mengetahui keadaan masing-masing yang sebenarnya. Aku sudah lama hidup, Cucuku, sudah mengenal banyak orang dan mengalami banyak kenyataan hidup. Aku sudah melihat banyak orang kaya yang hidupnya dipenuhi penderitaan seperti yang engkau rasakan. Mereka selalu khawatir kalau hartanya habis, mereka bosan dengan segala kemewahan yang mereka miliki. Hidup mereka tidak tenang, merasa terancam karena mereka kaya. Biarpun harta mereka bertumpuk, dapatkah mereka senang kalau tubuh mereka sakit? Atau isteri, atau anak atau keluarga mereka ada yang sakit berat? Aku melihat banyak orang yang menderita batinnya karena harta mereka menjadi rebutan anak-anak mereka. Jadi jelasnya, bukan kaya dan bukan miskin yang membuat orang menderita susah atau senang, melainkan bagaimana dia menerima kenyataan dirinya."
"Akan tetapi, Eyang. Kalau orang karena miskinnya hanya makan singkong setiap hari, itu pun tidak kenyang, apakah itu bukan susah namanya?"
"Diterima dengan susah, tentu saja susah. Akan tetapi kalau diterima sebagai suatu kenyataan yang tidak dapat diubah lagi, mungkin dapat mendatangkan rasa bersukur karena masih ada yang dapat dimakan. Menerima suatu keadaan dengan perbandingan yang menimbulkan penilaian sehingga mendatangkan rasa susah adalah suatu kebodohan. Kesusahan tidak akan dapat mengubah keadaan. Kewajiban kita manusia hidup hanya untuk berusaha sekuat tenaga untuk memperbaiki keadaan."
"Eyang, kalau orang hidup kaya raya, setiap hari makan sekenyangnya dengan makanan yang mewah, pakaiannya indah-indah bertumpuk, rumahnya gedung besar dan indah. Apakah itu namanya bukan hidup serba enak, menyenangkan dan bahagia?"
"Memang, alangkah baiknya hidup dalam keadaan serba kecukupan. Akan tetapi, aku masih sangsi apakah mereka yang memiliki segalanya itu pun menikmati segalanya itu, apakah benar semua kemewahan itu mendatangkan kesenangan. Sudah lama aku hidup, mengalami banyak keadaan, pernah serba lebih dan pernah pula serba kurang. Akan tetapi aku mendapat kenyataan bahwa yang dapat menikmati sesuatu adalah orang yang tidak memiliki sesuatu itu, Cucuku. Sebaliknya yang telah memiliki sesuatu itu, sudah tidak lagi dapat menikmatinya, bahkan menjadi bosan."
"Ah, aku tidak percaya, Eyang! Bagaimana mungkin orang tidak dapat menikmati segala kemewahan yang serba enak dan serba nikmat itu dan menjadi bosan!"
"Aku tidak berbohong, Cucuku. Begini contohnya. Siapa yang berkata bahwa makan daging ayam itu lezat? Tentu yang berkata itu mereka yang tidak pernah atau jarang sekali makan daging ayam. Akan tetapi kalau engkau bertanya kepada orang yang setiap hari makan nasi dengan daging ayam, dia akan berkata bahwa dia tidak merasakan lezatnya daging ayam, bahkan telah bosan dan dia mungkin saja ingin makan nasi dengan sayur asem dan tempe! Demikian pula, dengan segala macam kelebihan atau kemewahan yang lain. Yang dapat membayangkan nikmat dan senangnya hanya mereka yang belum memilikinya.

<<< Bagian 39                                                                                          Bagian 41 >>>

No comments:

Post a Comment