Ketahuilah, Lasmi, sejak Andika pergi, kami sekeluarga tiada hentinya berusaha mencari dan menemukan Andika untuk kami ajak hidup bersama kami sekeluarga. Namun kami tidak berhasil menemukan Andika, baru setelah cucuku Puspa Dewi datang ke sini, kami mencarimu di Karang Tirta ini. Sekarang kita sudah bertemu dan berkumpul, kita sepatutnya berbahagia. Puspa Dewi sudah menceritakan seluruhnya tentang penderitaanmu dan kami sama sekali tidak menyalahkanmu, sama sekali tidak memandang rendah padamu. Bahkan kami merasa kasihan kepadamu dan kami ingin melihat Andika hidup berbahagia bersama suamimu dan kami di dalam keluarga kami. Mari kita semua masuk dan bicara di dalam."
Dengan
digandeng Dyah Mularsih, Nyi Lasmi ikut masuk dan hatinya merasa terharu, akan
tetapi juga berbahagia sekali. Tadinya ia masih ragu walaupun Puspa Dewi sudah
memberitahu akan kebaikan sikap keluarga Dyah Mularsih, bahkan pertemuannya
dengan Prasetyo semakin memberi keyakinan dalam hatinya bahwa ia akan diterima
dengan baik. Namun setelah kini ia mengalami sendiri dan merasakan kebaikan dan
ketulusan hati Dyah Mularsih dan ayah ibu madunya itu, barulah ia merasa lega
dan berbahagia sekali. Bahkan setelah mereka berdua malam itu berada sekamar
dan melihat Dyah Mularsih tampak gelisah memikirkan Niken Harni, Nyi Lasmi
menghiburnya.
"Tenangkan
hatimu, Adik Dyah Mularsih. Kalian sekeluarga adalah orang-orang yang baik
budi. Aku yakin bahwa Niken Harni tentu akan mendapatkan perlindungan dari Sang
Hyang Widhi. Mari kita mendoakan saja semoga Sang Hyang Widhi selalu melindungi
Niken Harni, kita berserah diri dan menerima dengan tulus ikhlas apa yang telah
ditentukan oleh Dia Yang Maha Kuasa. Juga, aku percaya bahwa anak kita Puspa
Dewi akan mampu menemukan dan menyelamatkannya."
"Terima
kasih, Mbakayu Lasmi. Aku pun mengharap demikian. Baru akan lega dan berbahagia
sepenuhnya rasa hatiku kalau Niken Harni dan Puspa Dewi sudah berada bersama
kita sehingga keluarga kita utuh seluruhnya dan berkumpul dalam ketumenggungan
di Kahurlpan."
Pada keesokan
harinya, keluarga Itu naik kereta kembali ke Kahuripan, dikawal oleh sepasukan
prajurit.
Nurseta
berjalan santai menuruni bukit. Sudah berhari-hari dia melakukan perjalanan di
sepanjang Bukit Seribu, deretan bukit di selatan. Matahari pagi amat cerahnya.
Sinarnya yang penuh daya hidup itu menghangatkan kulit. Pagi itu cerah, namun
rupanya tidak cukup cerah bagi hati dan pikiran Nurseta yang melangkah
seenaknya. Pemuda ini sedang termenung, mengenang perjalanan hidupnya yang
telah lalu. Dia ingat bahwa sejak kecil dia tinggal di Karang Tirta bersama
Ayah dan Ibunya. Ayahnya bernama Dharmaguna dan ibunya bernama Endang Sawitri.
Sejak dia berusia sepuluh tahun dia telah ditinggal ayah ibunya yang pergi
begitu saja tanpa dia ketahui ke mana. Dia telah melakukan penyelidikan dan
ketika dia dapat bertemu dengan kakeknya, yaitu ayah dari ibunya, Senopati
Sindukerta, baru dia ketahui mengapa ayah dan ibunya melarikan diri dan
meninggalkannya. Senopati Sindukerta menceritakan segala hal mengenal ayah
ibunya. Ibunya, Endang Sawitri, menolak dijodohkan pria lain karena ibunya itu
ketika gadis telah saling mencinta dengan Dharmaguna. Akan tetapi karena
Dharmaguna hanya putera seorang pendeta miskin yang bernama Ki Jatimurti, maka
Senopati Sindukerta menentangnya. Sebagai seorang bangsawan tinggi, Senopati
Sindukerta tidak setuju puterinya menikah dengan seorang pemuda putera pendeta
miskin. Lalu ayah ibunya melarikan diri, dikejar-kejar anak buah Senopati
Sindukerta yang menghendaki puterinya kembali. Akan tetapi ayah ibunya dapat
meloloskan diri dan kemudian dia dilahirkan dan sejak bayi ikut terbawa
lari-lari bersembunyi menjadi buruan Senopati Sindukerta yang kehilangan
puterinya dan yang selalu mencari puterinya yang merupakan anak tunggal yang
amat dikasihi. Akhirnya, ayah ibunya menetap di Karang Tirta. Ketika dia
berusia sepuluh tahun, ayah ibunya meninggalkannya dan lari karena ada yang
melapor kepada Senopati Sindukerta bahwa suami isteri itu berada di Karang
Tirta. Dan semenjak mereka jadi pelarian ketika dia berusia sepuluh tabun,
sampai sekarang dia berusia hampir dua puluh tiga tahun, selama belasan tahun
Itu orang tuanya menghilang dan dia tidak pernah berhasil menemukan mereka. Dia
hanya berhasil bertemu dengan kakek dan neneknya, yaitu Senopati Sindukerta dan
isterinya yang menjadi orang tua ibunya. Akan tetapi dia tidak pernah dapat
menemukan jejak orang tuanya. Inilah yang mengganjal hatinya. Dia akan selalu
merasa penasaran sebelum dapat bertemu dengan orang tuanya. Bahkan ketika dia
bertemu Sang Bhagawan Ekadenta dan menerima gemblengan selama tiga bulan, dia
pun bertanya kepada kakek sakti mandraguna itu setelah menceritakan tentang
orang tuanya. Sang Bhagawan Ekadenta tersenyum dan hanya berkata.
"Segala
sesuatu hanya dapat terjadi apabila dikehendaki oleh Sang Hyang Widhi, Angger.
Namun sudah menjadi kewajiban manusia untuk berikhtiar, berusaha sekuat tenaga
untuk mencapai apa yang diinginkan."
Hanya itulah
nasihat Sang Bhagawan Ekadenta ketika dia menceritakan keinginannya untuk dapat
bertemu dengan orang tuanya yang telah meninggalkannya tiga belas tahun yang
lalu. Nurseta merasa prihatin sekali. Kalau ayah ibunya masin hidup, di mana
tempat tinggal mereka dan mengapa pula mereka itu masih saja menyembunyikan
diri setelah hampir dua puluh empat tahun melarikan diri dari Kahuripan? Dan
seandainya mereka sudah meninggal pun, dia harus mengetahui di mana kuburnya.
Dia harus
dapat menemukan orang tuanya. Akan tetapi kemana dia harus mencari mereka?
Hatinya mulai merasa penasaran. Nurseta adalah seorang pemuda gemblengan yang
mendapatkan bimbingan mendiang Empu Dewamurti yang bijaksana, kemudian malah
mendapat gemblengan pula dari Bhagawan Ekadenta yang sakti mandraguna. Dia
telah memiliki batin yang amat kokoh dan dapat menguasai semua nafsu dan
perasaannya. Akan tetapi bagaimanapun juga, dia seorang manusia biasa dan
rasanya tidak mungkin bagi seorang manusia untuk dapat sepenuhnya bebas dari
perasaan suka duka, puas kecewa, dan sebagainya. Memang lebih kuat dari orang
biasa, lebih tenang, namun di lubuk hati Nurseta tetap saja terdapat perasaan
silih berganti itu. Kini Nurseta mempercepat langkahnya. Melihat betapa di situ
sunyi, tidak tampak orang lain, dia lalu mengerahkan tenaganya dan tubuhnya
berkelebat cepat mendaki bukit lain yang sudah menanti di depannya setelah dia
menuruni bukit tadi. Dengan Aji Bayu Sakti, tubuhnya ringan dan dapat berlari
cepat seperti terbang sehingga sebentar saja dia tiba di puncak bukit itu.
Setelah tiba di puncak, Nurseta merasa betapa lelah dan lemas tubuhnya. Baru
dia teringat bahwa dia semalam melakukan perjalanan tanpa berhenti mengaso
sebentar pun. Malam tadi terang bulan dan dia melakukan perjalanan sambil menikmati
malam yang indah itu. Sekarang, setelah matahari mulai naik tinggi, dia merasa
betapa tubuhnya lelah dan perutnya lapar. Maka, melihat sebatang pohon randu
alas di puncak Itu, dia lalu berhenti mengaso dan duduk bersila di bawah pohon
yang cukup dapat melindunginya dari sengatan sinar matahari. Kalau tadi dia
tenggelam dalam kenangan masa lalu, kini pikirannya melayang memikirkan kembali
pencarian yang sedang dia lakukan terhadap orang tuanya. Hatinya mulai tertekan
kepedihan karena dia merasa tidak berdaya. Dia tidak tahu harus mencari ke
mana. Tidak ada petunjuk sama sekali ke mana kiranya ayah ibunya berada. Selama
ini, sejak berpisah dari Sang Bhagawan Ekadenta yang telah menggemblengnya
selama tiga bulan, dia hanya ngawur saja menurutkan hati dan kakinya dalam
pencariannya. Mengingat akan keadaan ini, hatinya tertekan dan dalam keadaan
prihatin itu, dia lalu duduk bersila dan batinnya mengeluh sedih, memohon
petunjuk dari Sang Hyang Widhi. Entah berapa lama dia duduk tepekur dalam
samadhinya itu. Matahari naik semakin tinggi. Hawa mulai panas, namun terdapat
angin semilir yang mengurangi hawa panas. Tiba-tiba pendengarannya menangkap
suara orang bicara. Suara itu terbawa angin mencapai telinganya, terdengar
cukup jelas, suara seorang laki-laki.
"Eyang,
mengapa hidup ini penuh penderitaan? Hanya sedikit kesenangan dan lebih banyak
kesusahan?"
Jawaban
pertanyaan ini agaknya keluar dari mulut seorang yang sudah amat tua, karena
gemetar dan agak parau, dalam.
"Angger,
putuku bocah bagus! Apakah engkau melihat Eyangmu ini menderita?"
"Saya
seringkali merasa heran mengapa Eyang tidak pernah kelihatan susah, ayem-ayem
saja biarpun terkadang makan terkadang tidak, hidup miskin dan papa."
Nurseta merasa
tertarik sekali dan tak lama kemudian dia sudah duduk bersembunyi di balik batu
besar, tak jauh dari dua orang yang suaranya terbawa angin dan terdengar
olehnya tadi. Mereka adalah seorang laki-laki muda berusia sekitar dua puluh
lima tahun dan seorang kakek tua renta yang sukar ditaksir usianya, akan tetapi
tentu sudah lebih dari delapan puluh tahun Mereka itu duduk di atas bangku
bambu reyot di depan sebuah gubuk reyot pula yang berdiri di lereng bukit itu.
Melihat keadaan pakaian dan sikap mereka yang lugu, mudah diketahui bahwa
mereka adalah orang-orang dusun yang hidupnya sederhana. Nurseta semakin
tertarik. Orang-orang dari dusun biasanya kalau bicara ceplas-ceplos terbuka,
apa yang keluar dari mulut langsung keluar dari hati mereka, tidak munafik
seperti orang kota terutama para bangsawan yang berusaha mati-matian untuk
menyembunyikan keburukan mereka dan menonjolkan kebaikan. Selalu mementingkan
kulit daripada isi, sehingga orang-orang itu seolah-olah memakai topeng yang
elok untuk menyembunyikan semua keburukan dan cacat mereka. Dia mendengarkan
dengan penuh perhatian.
"Heh-heh!"
Kakek itu terkekeh dan tampak mulutnya yang sudah ompong, tak bergigi lagi,
"Kita
hidup berdua di sini. Engkau dan aku berkeadaan sama, tidak ada yang lebih baik
dan enak, tidak ada yang lebih buruk dan tidak enak. Akan tetapi engkau merasa
dirimu banyak menderita, sedangkan aku tidak. Jelas bahwa bukan keadaan yang
membuat seseorang menderita, melainkan cara dia menerima dan menghadapi keadaan
itu. Aku ikhlas menerima kenyataan ini, maka aku tidak merasa menderita. Engkau
sebaliknya menerima kenyataan hidup ini sebagai penderitaan, maka tentu saja
engkau merasa menderita!"
"Akan
tetapi, Eyang. Saya melihat bahwa semua orang miskin hidupnya susah dan semua
orang kaya hidupnya senang! Bukankah kenyataannya begitu?"
"Itu pun
hanya merupakan persangkaan saja, Angger. Kita saling memandang dan saling
menilai tanpa mengetahui keadaan masing-masing yang sebenarnya. Aku sudah lama
hidup, Cucuku, sudah mengenal banyak orang dan mengalami banyak kenyataan
hidup. Aku sudah melihat banyak orang kaya yang hidupnya dipenuhi penderitaan
seperti yang engkau rasakan. Mereka selalu khawatir kalau hartanya habis,
mereka bosan dengan segala kemewahan yang mereka miliki. Hidup mereka tidak
tenang, merasa terancam karena mereka kaya. Biarpun harta mereka bertumpuk,
dapatkah mereka senang kalau tubuh mereka sakit? Atau isteri, atau anak atau
keluarga mereka ada yang sakit berat? Aku melihat banyak orang yang menderita
batinnya karena harta mereka menjadi rebutan anak-anak mereka. Jadi jelasnya,
bukan kaya dan bukan miskin yang membuat orang menderita susah atau senang,
melainkan bagaimana dia menerima kenyataan dirinya."
"Akan
tetapi, Eyang. Kalau orang karena miskinnya hanya makan singkong setiap hari,
itu pun tidak kenyang, apakah itu bukan susah namanya?"
"Diterima
dengan susah, tentu saja susah. Akan tetapi kalau diterima sebagai suatu
kenyataan yang tidak dapat diubah lagi, mungkin dapat mendatangkan rasa
bersukur karena masih ada yang dapat dimakan. Menerima suatu keadaan dengan
perbandingan yang menimbulkan penilaian sehingga mendatangkan rasa susah adalah
suatu kebodohan. Kesusahan tidak akan dapat mengubah keadaan. Kewajiban kita
manusia hidup hanya untuk berusaha sekuat tenaga untuk memperbaiki
keadaan."
"Eyang,
kalau orang hidup kaya raya, setiap hari makan sekenyangnya dengan makanan yang
mewah, pakaiannya indah-indah bertumpuk, rumahnya gedung besar dan indah.
Apakah itu namanya bukan hidup serba enak, menyenangkan dan bahagia?"
"Memang,
alangkah baiknya hidup dalam keadaan serba kecukupan. Akan tetapi, aku masih
sangsi apakah mereka yang memiliki segalanya itu pun menikmati segalanya itu,
apakah benar semua kemewahan itu mendatangkan kesenangan. Sudah lama aku hidup,
mengalami banyak keadaan, pernah serba lebih dan pernah pula serba kurang. Akan
tetapi aku mendapat kenyataan bahwa yang dapat menikmati sesuatu adalah orang
yang tidak memiliki sesuatu itu, Cucuku. Sebaliknya yang telah memiliki sesuatu
itu, sudah tidak lagi dapat menikmatinya, bahkan menjadi bosan."
"Ah, aku
tidak percaya, Eyang! Bagaimana mungkin orang tidak dapat menikmati segala
kemewahan yang serba enak dan serba nikmat itu dan menjadi bosan!"
"Aku
tidak berbohong, Cucuku. Begini contohnya. Siapa yang berkata bahwa makan
daging ayam itu lezat? Tentu yang berkata itu mereka yang tidak pernah atau
jarang sekali makan daging ayam. Akan tetapi kalau engkau bertanya kepada orang
yang setiap hari makan nasi dengan daging ayam, dia akan berkata bahwa dia
tidak merasakan lezatnya daging ayam, bahkan telah bosan dan dia mungkin saja
ingin makan nasi dengan sayur asem dan tempe! Demikian pula, dengan segala
macam kelebihan atau kemewahan yang lain. Yang dapat membayangkan nikmat dan
senangnya hanya mereka yang belum memilikinya.
No comments:
Post a Comment