Akan tetapi yang telah memilikinya, hanya menikmati untuk sementara waktu saja, kemudian menjadi bosan dan tidak dapat merasakan kenikmatannya lagi. Merasa kurang merupakan penyakit yang sukar disembuhkan. Sekali merasa kurang, walaupun kemudian keadaannya sudah berlebihan dan berlimpah, tetap saja dia akan merasa kurang dan tidak mengenal kepuasan. Sebaliknya, orang yang merasa cukup, bagaimanapun keadaannya akan merasa cukup dan dapat menikmati apa adanya dengan puji syukur kepada Sang Hyang Widhi Yang Maha Kasih."
"Wah,
Eyang! Kalau begitu, apakah kita harus menerima saja keadaan miskin seperti
sekarang ini? Kalau begitu, sejak lahir sampai mati nanti keadaanku tetap tidak
akan berubah, tetap miskin kekurangan sandang pangan papan dan hidup
sengsara!" orang muda itu memprotes. Kakek itu tertawa memperlihatkan gusi
yang tak bergigi lagi.
"Ha-ha-ha-ha,
bukan begitu, Cucuku! Jangan mencampuradukkan antara kebutuhan jiwa dan raga.
Kita ini terdiri dari jiwa dan raga. Raga membutuhkan dicukupinya keperluannya
sehingga dapat menjadi senang. Jiwa membutuhkan ketenteraman agar menjadi
bahagia. Untuk mencukupi kebutuhan raga, kita harus berupaya sekuatnya, mencari
nafkah untuk memenuhi kebutuhan sandang pangan papan bagi raga kita. Adapun
jiwa kita haruslah selalu berdekatan dengan Sang Hyang Widhi, dengan
penyerahan, dengan ikhlas menerima apa saja yang diberikan oleh Sang Hyang
Widhi kepada kita, menerima apa adanya sebagai hasil usaha kita dengan puji
syukur kepada-Nya. Berserah diri berarti dekat dengan Sang Hyang Widhi dan
inilah satu-satunya kenyataan yang dapat mendatangkan ketenteraman dan
membuahkan kebahagiaan. Jadi, kita berusaha ya lahir ya batin. Tanpa
membanding-bandingkan keadaan dengan siapa pun, tanpa menilai keadaan yang
bagaimanapun, selalu bersyukur akan apa yang kita dapatkan, selalu merasa
kecukupan. Rasa cukup ini bukan terletak pada banyaknya harta benda, melainkan
terletak dalam hati yang sudah berserah diri kepada Yang Maha Kuasa. Orang
seperti inilah yang dalam keadaan bagaimanapun juga, tidak pernah merasa
kekurangan dan selalu memuji syukur kepada Sang Hyang Widhi, maka dia akan
merasakan kebahagiaan karena jiwanya tenteram."
"Walah,
sulit sekali itu, Eyang! Bagaimana kalau kita sudah bekerja mati-matian,
hasilnya tetap saja sedikit sekali dan tidak mencukupi kebutuhan hidup?"
"Hemm,
kalau engkau sudah merasa sulit sebelum engkau mulai melakukan, berarti engkau
telah gagal sama sekali! Kalau usahamu tidak berhasil, pasti ada yang salah
dalam usahamu itu! Jangan hanya mengeluh kepada Hyang Widhi, dan jangan
menyalahkan setan! Sudah pasti ada yang salah dalam usahamu itu, carilah
kesalahan sendiri itu dan perbaiki. Jangan pula mengendurkan penyerahan dirimu
kepada kekuasaan-Nya, agar semua langkahmu diberi bimbingan oieh-Nya. Dua hal
ini, yaitu berusaha sekuat tenaga, dan berserah diri agar mendapatkan bimbingan
Sang Hyang Widhi, tidak boleh dipisahkan, kalau engkau ingin mendapatkan hasil
baik lahir dan batinmu."
"Bagaimana
itu maksudnya, Eyang?"
"Begini,
Angger. Kalau engkau berusaha sekuat tenaga mencari uang untuk kebutuhan
hidupmu tanpa bimbingan Sang Hyang Widhi, tanpa penyerahan kepada-Nya, maka
besar kemungkinan nafsu daya rendah yang akan membimbingmu dan nafsu setan itu
akan menyeretmu melakukan usaha secara sesat. Bimbingan setan dalam usaha
mencari uang itu menyeret orang melakukan kejahatan menipu, mencuri, merampok
dan sebagainya untuk mendapatkan uang sebanyaknya! Sebaliknya kalau engkau
hanya berserah diri kepada Sang Hyang Widhl tanpa berusaha sekuat tenaga, juga
tidak akan berhasil. Berkah Sang Hyang Wldhi kepada kita sudah berlimpah, namun
semua berkah itu harus dipadukan dengan usaha kita yang tekun dan rajin."
"Misalnya
bagaimana, Eyang?"
"Lihat,
Sang Hyang Wldhl telah melimpahkan berkahnya kepada kita di antara yang teramat
banyak itu adalah sinar matahari, hawa udara, air, tanah, bibit padi dan
sebagainya. Kesemuanya itu tidak dapat kita bikin. Semua itu sudah tersedia
untuk kita, namun semua berkah itu tidak akan ada gunanya kalau tidak dipadukan
dengan pengolahan usaha tenaga kita. Kita yang harus mencangkul tanah,
mengairi, menanam dan merawat, baru menghasilkan bahan makanan. Jelas bahwa
berkah yang berlimpah dari Sang Hyang Widhi harus dipadukan dengan usaha
manusia. Keduanya merupakan dwi-tunggal yang tidak boleh dipisahkan."
"Terima
kasih, Eyang. Biarpun semua keterangan Eyang tadi sungguh amat sukar dimengerti
dan lebih sukar pula dilakukan, aku akan mencoba untuk menghayati. Sekarang ada
satu lagi pertanyaan, harap Eyang suka menjelaskan."
"Apa itu,
Angger?"
"Sebetulnya,
apa sih tujuan hidup ini?"
Kakek itu
tertawa terkekeh-kekeh. Nurseta yang sejak tadi mendengarkan, semakin tertarik.
Semua yang dikatakan kakek itu bukan hal asing baginya karena dia dengar dari
mendiang Empu Dewa-murti gurunya yang pertama. Hanya kakek ini bicara dengan
bahasa yang amat sederhana seperti yang biasa dipergunakan penduduk dusun di
pegunungan. Kini dia ingin sekali mendengar apa jawaban kakek dusun itu tentang
tujuan hidup seperti yang ditanyakan tadi.
Setelah
terkekeh-kekeh, kakek itu berkata.
"Aeh,
Cucuku, pertanyaanmu ini lucu dan aneh. Seluruh yang ada dan yang hidup di
dunia ini, manusia, tumbuh-tumbuhan, hewan, kita semua ini hidup dan ada di
dunia bukan atas kehendak kita sendiri! Kita ini ada karena ada yang
mengadakan, kita hidup karena ada yang menghidupkan. Karena sejak semula hidup
kita ini bukan atas kemauan kita, melainkan ada yang menghidupkan, maka tentu
saja yang mempunyai rencana dan tujuan adalah DIA YANG MENGHIDUPKAN itu! Kalau
kita mempunyai tujuan atau cita-cita, maka sudah pasti tujuan kita itu muncul
dari keinginan badan kita yang selalu haus akan kesenangan dan kenikmatan. Dan
tujuan kita itu pasti bukan tujuan SANG MAHA PENCIPTA itu!"
"Lalu apa
tujuan Sang Hyang Widhi dengan menciptakan kita hidup di dunia ini,
Eyang?"
"Wah,
kita manusia mana mungkin mengetahui apa yang menjadi rencana Sang Hyang Wldhi?
Terlalu jauh, terlalu tinggi terlalu dalam akan tetapi kita dapat melihat di
sekeliling kita. Semua mahluk, yang hidup maupun yang mati, semua itu berguna
bagi pihak lain. Bahkan rambut saja berguna menghidupi hewan-hewan yang
memakannya. Sampah pun dapat menyuburkan tanah. Semua itu ada gunanya, semua
itu mempunyai sifat untuk mamayu hayuning bawono (mengusahakan kesejahteraan
hidup di dunia). Nah, sekarang kita sendiri sebagai salah satu mahluk hidup.
Apakah kita ini berguna bagi orang lain? Apakah hidup kita ini sudah ikut
mamayu hayuning bawono? Kurasa itulah kewajiban hidup kita, bukan tujuan hidup,
melainkan kewajiban, yaitu mamayu hayuning bawono, berguna bagi orang lain dan
bagi lingkungan, melakukan segala kebalkan untuk ikut menyejahterakan kehidupan
di muka bumi Ini."
Percakapan itu
terhenti dan Nurseta lalu meninggalkan tempat persembunyiannya, pergi dari situ
dan merasa pikirannya melayang-layang seperti seekor burung garuda di angkasa.
Semua pembicaraan tadi masih terngiang di telinganya, indah dan merdu seperti
suara gamelan dari Lokananta (sorga tanpa akhir). Entah bagaimana, percakapan
dua orang dusun sederhana tadi menghilangkan semua kesedihan hatinya yang tadi
timbui karena dia memikirkan usahanya mencari orang tuanya yang belum juga
dapat dia temukan jejaknya. Tiba-tiba, pikirannya yang kosong, terisi bayangan
kampung halamannya, yaitu Dusun Karang Tirta dimana dahulu ayah ibunya
meninggalkannya ketika dia berusia sepuluh tahun. Dia pun menujukan langkahnya
ke arah Karang Tirta! Nurseta berdiri termenung di depan rumah tua itu. Semua
kenangan masa lalu, ketika dia masih kecil, terbayang dalam ingatannya. Rumah
itu masih seperti dulu, walaupun ada perbaikan di sana-sini karena lapuk,
diganti anyaman bamboo baru, namun bentuknya masih sama dengan belasan tahun
yang lalu. Rumah bekas milik orang tuanya itu dahulu diambil oleh Ki Lurah
Suramenggala, katanya untuk membiayai kebutuhan hidup Nurseta selama mondok di
rumah Ki Lurah Suramenggala selama enam tahun. Dia bertanya-tanya dalam hatinya
apakah rumah itu kini masih dikuasai Ki Suramenggala? Tiba-tiba pintu depan
rumah itu terbuka dan Nurseta cepat menyelinap di balik batang pohon johar yang
tumbuh di tepi jalan, di luar rumah itu. Dari dalam rumah itu muncul seorang
laki-laki berusia sekitar enam puluh satu tahun. Dia mengenal baik orang itu dan
tanpa ragu dia muncul dari balik batang pohon johar dan berjalan cepat memasuki
halaman rumah yang tak berapa luas itu.
"Paman
Tejomoyo!" tegurnya.
Orang tua itu
mengangkat muka dan memandang pemuda yang kini telah berdiri di depannya.
"Ohh,....
Anakmas Nurseta....!" Dia berseru sambil tersenyum gembira ketika mengenal
pemuda itu. Dengan kagum dia mengamati pemuda yang sudah amat dikenalnya itu.
Dia mengenal Nurseta sejak dia masih kanak-kanak, mengenal orang tua Nurseta,
bahkan menjadi tetangga mereka. Kemudian dia mengikuti perkembangan Nurseta
ketika tumbuh dewasa, sejak berusia sepuluh tahun ditinggal orang tua dan hidup
sebatang kara, menjadi bujang di rumah Ki Lurah Suramenggala. Kemudian dia
mendengar tentang Nurseta yang telah menjadi seorang yang sakti mandraguna,
bahkan telah berjasa besar terhadap Kahuripan. Dia mengamati pemuda itu.
Tubuhnya sedang dan tegap, kulitnya agak gelap namun bersih dan halus. Wajahnya
tidak terlalu tampan namun juga tidak jelek. Sepasang mata yang tajam lembut
dan senyumnya yang ramah penuh pengertian itu membuat wajah pemuda itu menarik
dan menimbulkan rasa suka di hati yang memandangnya.
"Paman
Tejomoyo, siapakah penghuni rumah ini sekarang?"
"Aku
sendiri yang diserahi menjaga rumah ini, Nurseta. Mari, masuklah, kita bicara
di dalam"
Dengan ramah
Ki Tejomoyo mempersilakan pemuda itu masuk. Setelah memasuki ruangan depan,
Nurseta melihat betapa perabot dalam ruangan itu telah bertambah. Tentu Ki
Lurah Suramenggala yang menambahnya. Akan tetapi sebuah meja jati yang tebal,
dengan dua buah kursi yang dulu menjadi tempat duduk Ayah Ibunya, masih berdiri
di pojok ruangan itu. Dia lalu menghampiri dan duduk di atas sebuah dari dua
kursi itu, yaitu di kursi yang kiri, yang dahulu biasa diduduki ibunya. Hatinya
terharu. Serasa masih hangat kursi itu bekas diduduki Ibunya! Ki Tejomoyo lalu
duduk di kursi kedua, berhadapan dengan Nurseta, terhalang meja jati yang
tebal.
"Paman,
bagaimana Paman kini dapat tinggal di sini? Apa saja yang telah terjadi di
Karang Tirta ini?" tanya Nurseta.
"Wah,
banyak sekali yang telah terjadi, Anakmas. Sejak engkau datang ke sini dan
menghajar Ki Lurah Suramenggala itu, telah terjadi banyak hal yang mendatangkan
perubahan besar di Karang Tirta."
"Ceritakanlah,
Paman. Aku ingin sekali mendengarnya."
"Engkau
tentu telah mengetahui bahwa Nyi Lasmi, ibu Puspa Dewi, telah menjadi selir Ki
Suramenggala. Puspa Dewi telah pulang ke sini dan dia telah menjadi seorang
gadis yang digdaya. Juga putera Ki Suramenggala yang bernama Linggajaya itu
telah pulang dan dia pun menjadi seorang pemuda yang sakti. Akan tetapi dua
orang muda yang sakti itu tidak lama berada di sini. Mereka pergi lagi dan
sampai lama sekali tidak terdengar beritanya tentang mereka. Kemudian, semenjak
puteranya pulang dan menjadi seorang pemuda digdaya, Ki Lurah Suramenggala
menjadi semakin galak, kejam dan merajalela di dusun ini. Lalu pada suatu hari
dating Gusti Patih Narotama."
"Gusti
Patih Narotama? Datang ke Karang Tirta?"
"Benar,
Anakmas. Dan terjadilah perubahan hebat yang membuat semua penghuni Karang
Tirta bergembira. Karena sikap dan ulahnya yang jahat, Gusti Patih Narotama
marah dan mencopot Ki Suramenggala dari kedudukannya sebagai lurah. Bahkan Ki
Suramenggala yang sudah mati kutu dan takut kepada Gusti Patih Narotama, diusir
keluar dari Karang Tirta oleh penduduk. Dia pergi meninggalkan dusun ini
bersama keluarganya. Hanya Nyi Lasmi yang tidak mau ikut dan tetap tinggal di
sini. Sebagai penggantinya, oleh Gusti Patih Narotama diangkat lurah baru,
yaitu Ki Lurah Pujosaputro yang kemudian bersama keluarganya tinggal di rumah
kelurahan, menggantikan Ki Suramenggala. Keluarga ini juga menampung Nyi Lasmi
yang tinggal mondok di sana."
"Wah,
perubahan yang baik sekali itu, Paman! Gusti Patih Narotama telah melakukan
kebijaksanaan yang menggembirakan sekali!"
"Memang
sesungguhnya begitu, Nurseta. Kami semua hidup tenteram. Semua kekayaan Ki
Suramenggala disita dan tanah-tanah yang dulu dirampasnya dari penduduk,
dikembalikan kepada pemiliknya dahulu. Rumah orang tuamu ini juga disita dan
aku ditugaskan untuk menjaganya sampai engkau datang untuk diserahkan kembali
kepadamu."
"Hemm,
terima kasih, Paman. Untuk sementara biarlah Paman yang menempati rumah ini.
Sekarang aku hendak menghadap Ki Lurah Pujosaputro yang kukenal dengan
baik."
"Ah,
Anakmas. Telah terjadi malapetaka besar menimpa keluarga Ki Lurah
Pujosaputro."
"Eh, apa
yang terjadi?"
"Sebaiknya
kulanjutkan ceritaku tadi. Setelah Ki Lurah Pujosaputro memimpin dusun ini,
kehidupan rakyatnya menjadi tenteram dan sejahtera. Akan tetapi pada suatu hari
muncul Linggawijaya. Dia mengamuk dan hendak membunuh Ki Lurah Pujosaputro
sekeluarga, akan tetapi muncul Puspa Dewi yang menandinginya. Penduduk juga
menyerbu hendak mengeroyok Linggajaya sehingga dia melarikan diri."
No comments:
Post a Comment