Nurseta Satria Karangtirta ; Bagian 41


Akan tetapi yang telah memilikinya, hanya menikmati untuk sementara waktu saja, kemudian menjadi bosan dan tidak dapat merasakan kenikmatannya lagi. Merasa kurang merupakan penyakit yang sukar disembuhkan. Sekali merasa kurang, walaupun kemudian keadaannya sudah berlebihan dan berlimpah, tetap saja dia akan merasa kurang dan tidak mengenal kepuasan. Sebaliknya, orang yang merasa cukup, bagaimanapun keadaannya akan merasa cukup dan dapat menikmati apa adanya dengan puji syukur kepada Sang Hyang Widhi Yang Maha Kasih."
"Wah, Eyang! Kalau begitu, apakah kita harus menerima saja keadaan miskin seperti sekarang ini? Kalau begitu, sejak lahir sampai mati nanti keadaanku tetap tidak akan berubah, tetap miskin kekurangan sandang pangan papan dan hidup sengsara!" orang muda itu memprotes. Kakek itu tertawa memperlihatkan gusi yang tak bergigi lagi.
"Ha-ha-ha-ha, bukan begitu, Cucuku! Jangan mencampuradukkan antara kebutuhan jiwa dan raga. Kita ini terdiri dari jiwa dan raga. Raga membutuhkan dicukupinya keperluannya sehingga dapat menjadi senang. Jiwa membutuhkan ketenteraman agar menjadi bahagia. Untuk mencukupi kebutuhan raga, kita harus berupaya sekuatnya, mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan sandang pangan papan bagi raga kita. Adapun jiwa kita haruslah selalu berdekatan dengan Sang Hyang Widhi, dengan penyerahan, dengan ikhlas menerima apa saja yang diberikan oleh Sang Hyang Widhi kepada kita, menerima apa adanya sebagai hasil usaha kita dengan puji syukur kepada-Nya. Berserah diri berarti dekat dengan Sang Hyang Widhi dan inilah satu-satunya kenyataan yang dapat mendatangkan ketenteraman dan membuahkan kebahagiaan. Jadi, kita berusaha ya lahir ya batin. Tanpa membanding-bandingkan keadaan dengan siapa pun, tanpa menilai keadaan yang bagaimanapun, selalu bersyukur akan apa yang kita dapatkan, selalu merasa kecukupan. Rasa cukup ini bukan terletak pada banyaknya harta benda, melainkan terletak dalam hati yang sudah berserah diri kepada Yang Maha Kuasa. Orang seperti inilah yang dalam keadaan bagaimanapun juga, tidak pernah merasa kekurangan dan selalu memuji syukur kepada Sang Hyang Widhi, maka dia akan merasakan kebahagiaan karena jiwanya tenteram."
"Walah, sulit sekali itu, Eyang! Bagaimana kalau kita sudah bekerja mati-matian, hasilnya tetap saja sedikit sekali dan tidak mencukupi kebutuhan hidup?"
"Hemm, kalau engkau sudah merasa sulit sebelum engkau mulai melakukan, berarti engkau telah gagal sama sekali! Kalau usahamu tidak berhasil, pasti ada yang salah dalam usahamu itu! Jangan hanya mengeluh kepada Hyang Widhi, dan jangan menyalahkan setan! Sudah pasti ada yang salah dalam usahamu itu, carilah kesalahan sendiri itu dan perbaiki. Jangan pula mengendurkan penyerahan dirimu kepada kekuasaan-Nya, agar semua langkahmu diberi bimbingan oieh-Nya. Dua hal ini, yaitu berusaha sekuat tenaga, dan berserah diri agar mendapatkan bimbingan Sang Hyang Widhi, tidak boleh dipisahkan, kalau engkau ingin mendapatkan hasil baik lahir dan batinmu."
"Bagaimana itu maksudnya, Eyang?"
"Begini, Angger. Kalau engkau berusaha sekuat tenaga mencari uang untuk kebutuhan hidupmu tanpa bimbingan Sang Hyang Widhi, tanpa penyerahan kepada-Nya, maka besar kemungkinan nafsu daya rendah yang akan membimbingmu dan nafsu setan itu akan menyeretmu melakukan usaha secara sesat. Bimbingan setan dalam usaha mencari uang itu menyeret orang melakukan kejahatan menipu, mencuri, merampok dan sebagainya untuk mendapatkan uang sebanyaknya! Sebaliknya kalau engkau hanya berserah diri kepada Sang Hyang Widhl tanpa berusaha sekuat tenaga, juga tidak akan berhasil. Berkah Sang Hyang Wldhi kepada kita sudah berlimpah, namun semua berkah itu harus dipadukan dengan usaha kita yang tekun dan rajin."
"Misalnya bagaimana, Eyang?"
"Lihat, Sang Hyang Wldhl telah melimpahkan berkahnya kepada kita di antara yang teramat banyak itu adalah sinar matahari, hawa udara, air, tanah, bibit padi dan sebagainya. Kesemuanya itu tidak dapat kita bikin. Semua itu sudah tersedia untuk kita, namun semua berkah itu tidak akan ada gunanya kalau tidak dipadukan dengan pengolahan usaha tenaga kita. Kita yang harus mencangkul tanah, mengairi, menanam dan merawat, baru menghasilkan bahan makanan. Jelas bahwa berkah yang berlimpah dari Sang Hyang Widhi harus dipadukan dengan usaha manusia. Keduanya merupakan dwi-tunggal yang tidak boleh dipisahkan."
"Terima kasih, Eyang. Biarpun semua keterangan Eyang tadi sungguh amat sukar dimengerti dan lebih sukar pula dilakukan, aku akan mencoba untuk menghayati. Sekarang ada satu lagi pertanyaan, harap Eyang suka menjelaskan."
"Apa itu, Angger?"
"Sebetulnya, apa sih tujuan hidup ini?"

Kakek itu tertawa terkekeh-kekeh. Nurseta yang sejak tadi mendengarkan, semakin tertarik. Semua yang dikatakan kakek itu bukan hal asing baginya karena dia dengar dari mendiang Empu Dewa-murti gurunya yang pertama. Hanya kakek ini bicara dengan bahasa yang amat sederhana seperti yang biasa dipergunakan penduduk dusun di pegunungan. Kini dia ingin sekali mendengar apa jawaban kakek dusun itu tentang tujuan hidup seperti yang ditanyakan tadi.
Setelah terkekeh-kekeh, kakek itu berkata.
"Aeh, Cucuku, pertanyaanmu ini lucu dan aneh. Seluruh yang ada dan yang hidup di dunia ini, manusia, tumbuh-tumbuhan, hewan, kita semua ini hidup dan ada di dunia bukan atas kehendak kita sendiri! Kita ini ada karena ada yang mengadakan, kita hidup karena ada yang menghidupkan. Karena sejak semula hidup kita ini bukan atas kemauan kita, melainkan ada yang menghidupkan, maka tentu saja yang mempunyai rencana dan tujuan adalah DIA YANG MENGHIDUPKAN itu! Kalau kita mempunyai tujuan atau cita-cita, maka sudah pasti tujuan kita itu muncul dari keinginan badan kita yang selalu haus akan kesenangan dan kenikmatan. Dan tujuan kita itu pasti bukan tujuan SANG MAHA PENCIPTA itu!"
"Lalu apa tujuan Sang Hyang Widhi dengan menciptakan kita hidup di dunia ini, Eyang?"
"Wah, kita manusia mana mungkin mengetahui apa yang menjadi rencana Sang Hyang Wldhi? Terlalu jauh, terlalu tinggi terlalu dalam akan tetapi kita dapat melihat di sekeliling kita. Semua mahluk, yang hidup maupun yang mati, semua itu berguna bagi pihak lain. Bahkan rambut saja berguna menghidupi hewan-hewan yang memakannya. Sampah pun dapat menyuburkan tanah. Semua itu ada gunanya, semua itu mempunyai sifat untuk mamayu hayuning bawono (mengusahakan kesejahteraan hidup di dunia). Nah, sekarang kita sendiri sebagai salah satu mahluk hidup. Apakah kita ini berguna bagi orang lain? Apakah hidup kita ini sudah ikut mamayu hayuning bawono? Kurasa itulah kewajiban hidup kita, bukan tujuan hidup, melainkan kewajiban, yaitu mamayu hayuning bawono, berguna bagi orang lain dan bagi lingkungan, melakukan segala kebalkan untuk ikut menyejahterakan kehidupan di muka bumi Ini."

Percakapan itu terhenti dan Nurseta lalu meninggalkan tempat persembunyiannya, pergi dari situ dan merasa pikirannya melayang-layang seperti seekor burung garuda di angkasa. Semua pembicaraan tadi masih terngiang di telinganya, indah dan merdu seperti suara gamelan dari Lokananta (sorga tanpa akhir). Entah bagaimana, percakapan dua orang dusun sederhana tadi menghilangkan semua kesedihan hatinya yang tadi timbui karena dia memikirkan usahanya mencari orang tuanya yang belum juga dapat dia temukan jejaknya. Tiba-tiba, pikirannya yang kosong, terisi bayangan kampung halamannya, yaitu Dusun Karang Tirta dimana dahulu ayah ibunya meninggalkannya ketika dia berusia sepuluh tahun. Dia pun menujukan langkahnya ke arah Karang Tirta! Nurseta berdiri termenung di depan rumah tua itu. Semua kenangan masa lalu, ketika dia masih kecil, terbayang dalam ingatannya. Rumah itu masih seperti dulu, walaupun ada perbaikan di sana-sini karena lapuk, diganti anyaman bamboo baru, namun bentuknya masih sama dengan belasan tahun yang lalu. Rumah bekas milik orang tuanya itu dahulu diambil oleh Ki Lurah Suramenggala, katanya untuk membiayai kebutuhan hidup Nurseta selama mondok di rumah Ki Lurah Suramenggala selama enam tahun. Dia bertanya-tanya dalam hatinya apakah rumah itu kini masih dikuasai Ki Suramenggala? Tiba-tiba pintu depan rumah itu terbuka dan Nurseta cepat menyelinap di balik batang pohon johar yang tumbuh di tepi jalan, di luar rumah itu. Dari dalam rumah itu muncul seorang laki-laki berusia sekitar enam puluh satu tahun. Dia mengenal baik orang itu dan tanpa ragu dia muncul dari balik batang pohon johar dan berjalan cepat memasuki halaman rumah yang tak berapa luas itu.
"Paman Tejomoyo!" tegurnya.
Orang tua itu mengangkat muka dan memandang pemuda yang kini telah berdiri di depannya.
"Ohh,.... Anakmas Nurseta....!" Dia berseru sambil tersenyum gembira ketika mengenal pemuda itu. Dengan kagum dia mengamati pemuda yang sudah amat dikenalnya itu. Dia mengenal Nurseta sejak dia masih kanak-kanak, mengenal orang tua Nurseta, bahkan menjadi tetangga mereka. Kemudian dia mengikuti perkembangan Nurseta ketika tumbuh dewasa, sejak berusia sepuluh tahun ditinggal orang tua dan hidup sebatang kara, menjadi bujang di rumah Ki Lurah Suramenggala. Kemudian dia mendengar tentang Nurseta yang telah menjadi seorang yang sakti mandraguna, bahkan telah berjasa besar terhadap Kahuripan. Dia mengamati pemuda itu. Tubuhnya sedang dan tegap, kulitnya agak gelap namun bersih dan halus. Wajahnya tidak terlalu tampan namun juga tidak jelek. Sepasang mata yang tajam lembut dan senyumnya yang ramah penuh pengertian itu membuat wajah pemuda itu menarik dan menimbulkan rasa suka di hati yang memandangnya.
"Paman Tejomoyo, siapakah penghuni rumah ini sekarang?"
"Aku sendiri yang diserahi menjaga rumah ini, Nurseta. Mari, masuklah, kita bicara di dalam"

Dengan ramah Ki Tejomoyo mempersilakan pemuda itu masuk. Setelah memasuki ruangan depan, Nurseta melihat betapa perabot dalam ruangan itu telah bertambah. Tentu Ki Lurah Suramenggala yang menambahnya. Akan tetapi sebuah meja jati yang tebal, dengan dua buah kursi yang dulu menjadi tempat duduk Ayah Ibunya, masih berdiri di pojok ruangan itu. Dia lalu menghampiri dan duduk di atas sebuah dari dua kursi itu, yaitu di kursi yang kiri, yang dahulu biasa diduduki ibunya. Hatinya terharu. Serasa masih hangat kursi itu bekas diduduki Ibunya! Ki Tejomoyo lalu duduk di kursi kedua, berhadapan dengan Nurseta, terhalang meja jati yang tebal.
"Paman, bagaimana Paman kini dapat tinggal di sini? Apa saja yang telah terjadi di Karang Tirta ini?" tanya Nurseta.
"Wah, banyak sekali yang telah terjadi, Anakmas. Sejak engkau datang ke sini dan menghajar Ki Lurah Suramenggala itu, telah terjadi banyak hal yang mendatangkan perubahan besar di Karang Tirta."
"Ceritakanlah, Paman. Aku ingin sekali mendengarnya."
"Engkau tentu telah mengetahui bahwa Nyi Lasmi, ibu Puspa Dewi, telah menjadi selir Ki Suramenggala. Puspa Dewi telah pulang ke sini dan dia telah menjadi seorang gadis yang digdaya. Juga putera Ki Suramenggala yang bernama Linggajaya itu telah pulang dan dia pun menjadi seorang pemuda yang sakti. Akan tetapi dua orang muda yang sakti itu tidak lama berada di sini. Mereka pergi lagi dan sampai lama sekali tidak terdengar beritanya tentang mereka. Kemudian, semenjak puteranya pulang dan menjadi seorang pemuda digdaya, Ki Lurah Suramenggala menjadi semakin galak, kejam dan merajalela di dusun ini. Lalu pada suatu hari dating Gusti Patih Narotama."
"Gusti Patih Narotama? Datang ke Karang Tirta?"
"Benar, Anakmas. Dan terjadilah perubahan hebat yang membuat semua penghuni Karang Tirta bergembira. Karena sikap dan ulahnya yang jahat, Gusti Patih Narotama marah dan mencopot Ki Suramenggala dari kedudukannya sebagai lurah. Bahkan Ki Suramenggala yang sudah mati kutu dan takut kepada Gusti Patih Narotama, diusir keluar dari Karang Tirta oleh penduduk. Dia pergi meninggalkan dusun ini bersama keluarganya. Hanya Nyi Lasmi yang tidak mau ikut dan tetap tinggal di sini. Sebagai penggantinya, oleh Gusti Patih Narotama diangkat lurah baru, yaitu Ki Lurah Pujosaputro yang kemudian bersama keluarganya tinggal di rumah kelurahan, menggantikan Ki Suramenggala. Keluarga ini juga menampung Nyi Lasmi yang tinggal mondok di sana."
"Wah, perubahan yang baik sekali itu, Paman! Gusti Patih Narotama telah melakukan kebijaksanaan yang menggembirakan sekali!"
"Memang sesungguhnya begitu, Nurseta. Kami semua hidup tenteram. Semua kekayaan Ki Suramenggala disita dan tanah-tanah yang dulu dirampasnya dari penduduk, dikembalikan kepada pemiliknya dahulu. Rumah orang tuamu ini juga disita dan aku ditugaskan untuk menjaganya sampai engkau datang untuk diserahkan kembali kepadamu."
"Hemm, terima kasih, Paman. Untuk sementara biarlah Paman yang menempati rumah ini. Sekarang aku hendak menghadap Ki Lurah Pujosaputro yang kukenal dengan baik."
"Ah, Anakmas. Telah terjadi malapetaka besar menimpa keluarga Ki Lurah Pujosaputro."
"Eh, apa yang terjadi?"
"Sebaiknya kulanjutkan ceritaku tadi. Setelah Ki Lurah Pujosaputro memimpin dusun ini, kehidupan rakyatnya menjadi tenteram dan sejahtera. Akan tetapi pada suatu hari muncul Linggawijaya. Dia mengamuk dan hendak membunuh Ki Lurah Pujosaputro sekeluarga, akan tetapi muncul Puspa Dewi yang menandinginya. Penduduk juga menyerbu hendak mengeroyok Linggajaya sehingga dia melarikan diri."

<<< Bagian 40                                                                                         Bagian 42 >>>

No comments:

Post a Comment