Nurseta Satria Karangtirta ; Bagian 42


"Baik sekali kalau begitu." kata Nurseta, ikut merasa lega,
"Akan tetapi lalu terjadilah malapetaka itu. Puspa Dewi pergi ke kota raja, untuk mencari Ayah kandungnya dan muncullah orang-orang jahat suruhan Ki Suramenggala. Mereka itu ganas dan jahat sekali. Ki Lurah Pujosaputro sekeluarganya berikut para pelayan di rumah kelurahan itu mereka bunuh, hanya seorang pelayan saja yang lolos dari maut, sedangkan Nyi Lasmi dilarikan!"
"Ahh....! Gerombolan itu suruhan Ki Suramenggala?"
"Benar, Anakmas. Agaknya Ki Suramenggala membalas dendam, menyuruh bunuh lurah baru sekeluarganya dan menculik Nyi Lasmi. Kebetulan pada waktu itu, Puspa Dewi bersama rombongan Ayah kandungnya beserta Ibu tirinya sekeluarga datang ke Karang Tirta."
"Ayah kandung Puspa Dewi?"
"Benar. Ayahnya adalah Senopati Yudajaya yang datang bersama istrinya yang ke dua dan puterinya, juga Ayah dan Ibu mertuanya. Ayah mertua Senopati Yudajaya itu adalah Tumenggung Jayatanu. Mendengar malapetaka yang menimpa keluarga Lurah Pujosaputro dan terculiknya Nyi Lasmi, Puspa Dewi melakukan pengejaran. Kemudian Adik tiri Puspa Dewi yang bernama Niken Harni juga melakukan pengejaran, disusul pula oleh Senopati Yudajaya yang membawa selusin prajurit pengawal."
"Bagaimana hasilnya? Apakah mereka dapat menyelamatkan Nyi Lasmi?"
"Nyi Lasmi berhasil ditemukan dan diselamatkan. Ia pulang ke sini bersama suaminya, yaitu Senopati Yudajaya dan menurut berita yang aku dengar, ternyata Nyi Lasmi diselamatkan oleh Gusti Patih Narotama sendiri. Kemudian, rombongan keluarga Senopati Yudajaya itu, termasuk pula Nyi Lasmi, meninggalkan Karang Tirta dan kembali ke Kahuripan."
"Syukurlah kalau begitu, keluarga Puspa Dewi dapat bersatu kembali dalam keadaan selamat."
"Tapi masih ada sebuah hal yang membuat keluarga itu khawatir, Anak mas Nurseta, yaitu Puteri Senopati Yudajaya yang merupakan Adik tiri Puspa Dewi itu."
"Yang bernama Niken Harni?"
"Ya, mendengar Adik tirinya mengejar gerombolan yang menculik Nyi Lasmi dan belum tampak kembali, Puspa Dewi lalu pergi mencarinya sedangkan semua keluarga bangsawan itu kembali ke Kahuripan."
"Hemm, dan sekarang, siapa pengganti lurah yang tewas itu?"
"Urusan ini akan dilaporkan Tumenggung Jayatanu ke Kahuripan, dan untuk sementara beliau menyarankan agar penduduk mengadakan pilihan sendiri dan mengangkat seorang lurah baru. Kami telah memilih Anakmas Prawiro, keponakan mendiang Ki Pujosaputro yang tadinya membantu pamannya sebagal carik, untuk menjadi lurah sementara sebelum ada keputusan dari Kahuripan."
"Terima kasih atas semua keterangan-mu itu, Paman. Sekarang, aku hendak menyampaikan keperluanku sendiri. Aku datang berkunjung kepadamu untuk minta tolong, Paman. Dulu Paman pernah menceritakan kepadaku tentang orang tuaku dan dari keterangan Paman itu aku sudah berhasil bertemu dengan Kakekku, yaitu Ayah dari Ibuku. Beliau adalah Eyang Senopati Sidukerta di Kahuripan. Akan tetapi Eyang juga sedang mencari-cari Ayah Ibuku itu dan sampai sekarang aku belum berhasil menemukan mereka...."
"Wah. sejak tadi aku sudah ingin menyampaikan hal ini. akan tetapi didahului bicara tentang malapetaka yang terjadi di Karang Tirta sehingga aku hampir lupa menceritakan padamu. Anakmas Nurseta. Kurang lebih sebulan yang lalu sebelum terjadi malapetaka itu, pada suatu senja aku kedatangan seorang laki-laki berusia sekitar tiga puluh tahun. Dia mengaku bernama Pakem dan datang dari Dusun Singojajar yang berada di kaki Gunung Semeru. Dusun ini termasuk daerah Kadipaten Wura-Wuri. Si Pakem ini datang untuk bertanya tentang dirimu, Anakmas Nurseta. Dan dia ternyata diutus oleh.... Dharmaguna, Ayahmu...."
"Wah, Paman Tejomoyo! Mengapa tidak Andika ceritakan dari tadi?" Nurseta berseru sambil memegang pergelangan tangan Ki Tejomoyo sehingga orang tua itu mengaduh.
"Aduh, sakit....!"
"Ah, maafkan aku, Paman!" kata Nurseta sambil melepaskan pegangannya.
"Saking kaget mendengar kejutan ini aku terlalu kuat memegang lenganmu. Lanjutkan ceritamu, Paman!"
"Tentu saja aku juga girang mendengar bahwa Si Pakem itu utusan Dharmaguna. Aku lalu menceritakan tentang dirimu, semua yang sudah kuketahui dan kudengar tentang dirimu. Aku juga mendengar dari Pakem itu, yang ternyata adalah seorang pembantu setia Ki Dharmaguna yang hidup sebagal petani, bahwa orang tuamu berada dalam keadaan sehat dan selamat."
"Aduh.... terima kasih kepada Sang Hyang Widhi...., ah Paman Tejomoyo, Andika tidak tahu betapa membahagiakan hati mendengar ceritamu ini!"
"Aku tahu, Anakmas! Aku sendiri pun gembira sekali mendengar pengakuan Pakem itu. Akan tetapi agaknya orang tuamu itu masih merasa khawatir dan Pakem itu tidak berani bercerita banyak. Ketika aku bertanya tentang Ki Dharmaguna dan Nyi Endang Sawitri, dia mengatakan tidak tahu banyak tentang mereka, hanya mengatakan bahwa Ki Dharmaguna adalah seorang petani yang tinggal di dusun Singojajar di kaki Gunung Semeru. Bahkan dia lalu tergesa-gesa pergi setelah mendengar keterangan tentang dirimu, tidak mau menginap di sini walaupun kubujuk-bujuk."
"Wah, keterangan itu sudah lebih dari, cukup, Paman! Sekarang aku pamit, Paman!"
"Eh? Mengapa tergesa-gesa, Anakmas? Tinggallah di sini, setidaknya menginaplah di sini. Ini sekarang telah dikembalikan kepadamu. Rumah ini milikmu."
"Lain kali saja, Paman. Terima kasih, aku harus pergi mencari orang tuaku di Singojajar sekarang juga!"
"Akan tetapi, tempat itu termasuk daerah Wura-Wuri, Anakmas! Berbahaya sekali!"
Nurseta tersenyum dan bangkit dari tempat duduknya.
"Ayah Ibuku berada di sana juga tidak apa-apa, Paman Tejomoyo. Sekali lagi, aku sungguh merasa amat berterima kasih kepadamu. Paman telah memberi kabar yang teramat penting bagiku dan amat membahagiakan hatiku. Nah, aku pergi, Paman!"
Setelah berkata demikian, sekali berkelebat Nurseta sudah lenyap dari depan Ki Tejomoyo sehingga orang tua itu mengejar ke depan, akan tetapi sudah tidak melihat lagi bayangan Nurseta. Dia hanya berdiri terlongong dan kagum.

Nurseta memasuki wilayah Kerajaan Wura-Wuri setelah melakukan perjalanan cepat dari Karang Tirta. Dia ingin sekali segera tiba di kaki Gunung Semeru, mencari ayah ibunya yang kabarnya tinggal di dusun Singojajar. Dia sudah membayangkan betapa akan bahagianya bertemu dengan ayah dan ibunya. Dia masih dapat membayangkan wajah ayah dan ibunya. Walaupun dua belas tahun lebih telah lewat sejak mereka meninggalkan dia, dia pasti akan mengenal mereka. Mungkin mereka akan tampak lebih tua, akan tetapi dia masih ingat benar. Ayahnya, Dharmaguna, adalah seorang laki-laki yang berwajah tampan, berkulit bersih walau agak hitam, dan gerak-gerik serta tutur sapanya lembut halus. Ibunya, Endang Sawitri, adalah seorang wanita cantik berkulit putih, seingatnya bertubuh ramping padat dan ibunya dahulu pandai menunggang kuda dan pandai pula menggunakan anak panah dan memiliki kegagahan. Ibunya pernah menceritakan betapa di waktu muda ibunya juga pernah mempelajari aji kanuragan. Tentu saja kini dia mengerti. Sebagai puteri seorang senopati, tentu saja ibunya juga sedikit banyak memiliki kegagahan. Nurseta juga maklum akan bahayanya memasuki wilayah Wura-Wuri. Wura-Wuri adalah musuh bebuyutan Kahuripan dan beberapa tahun yang lalu pernah mencoba menyerang Kahuripan bersama para sekutunya. Namun penyerangan itu gagal. Karena dia sendiri terlibat dalam pertempuran itu, maka dia tentu dikenal oleh para tokoh Kerajaan atau Kadipaten Wura-Wuri. Kalau hal lni terjadi, tentu dia akan mengalami kesulitan untuk dapat bertemu dengan ayah ibunya, bahkan bukan itu saja bahayanya, melainkan lebih buruk lagi orang tuanya dapat terseret dan diganggu orang-orang Wura-Wuri. Dengan hati-hati Nurseta melakukan perjalanan menuju Gunung Semeru yang merupakan perbatasan antara Kadipaten Wura-Wuri dan Kerajaan Kahuripan. Dia memasuki daerah Wura-Wuri dari selatan maka perjalanan menuju Gunung Semeru masih cukup jauh. Dia selalu waspada. Kalau hanya bertemu penduduk biasa, dia tidak khawatir dikenal orang. Akan tetapi kalau bertemu dengan pasukan atau orang-orang berpakaian bangsawan atau perwira, dia selalu menyelinap agar tidak terlihat.

Pada suatu hari Nurseta keluar dari sebuah dusun dan berjalan di atas jalan umum di samping hutan. Dia merasa kagum juga melihat keadaan Kadipaten Wura-Wuri. Keadaan rakyatnya tidaklah sengsara benar, dan orang-orang Wura-Wuri tampak tampan dan cantik. Dia memang pernah mendengar bahwa penduduk Wura-Wuri memiliki wajah yang elok, sebaliknya orang-orang Wengker sebagian besar buruk rupa. Selagi dia berjalan dengan santai dan waspada, tiba-tiba dia mendengar langkah kaki banyak kuda dari arah belakangnya. Cepat Nurseta menyelinap di balik pohon-pohon besar di tepi jalan dan mengintai untuk melihat siapa mereka yang berkuda itu. Tak lama kemudian dia melihat banyak orang berkuda menjalankan kuda mereka dengan santai. Agaknya mereka sengaja menjalankan kuda mereka perlahan-lahan karena kuda-kuda itu telah mandi keringat, agaknya telah melakukan perjalanan jauh yang melelahkan dan sekarang dijalankan perlahan untuk memberi kesempatan istirahat kepada kuda-kuda itu. Ketika rombongan tiba dekat, Nurseta terkejut. Yang menunggang kuda di depan adalah seorang wanita dan seorang pria. Wanitanya berpakaian gemerlapan mewah sekali, usianya sekitar dua puluh delapan tahun, tubuhnya ramping padat, wajahnya cantik jelita akan tetapi mata dan mulutnya membayangkan kegenitan, kulitnya agak hitam manis. Dia tidak mengenal wanita itu. Akan tetapi tentu saja dia mengenal laki-laki yang menunggang kuda di dekat wanita itu. Resi Bajrasakti, dia tak salah lagi. Biarpun sudah sekitar enam tahun dia tidak melihat kakek tinggi besar dan mukanya penuh brewok, kulitnya hitam dan wajahnya kasar dan bengis itu, dia tidak dapat melupakannya. Resi Bajrasakti ini yang dulu bersama Nyi Dewi Durgakumala hendak merampas keris pusaka Megatantra dan mereka berdua dikalahkan gurunya, mendiang Empu Dewamurti. Begitu mengenal Resi Bajrasakti, Nurseta teringat akan pesan Sang Bhagawan Ekadenta, agar dia berhati-hati terhadap Wengker karena permaisuri Wengker yang bernama Dewi Mayangsari diambil murid Nini Bumigarbo. Resi Bajrasakti adalah tokoh Wengker, maka wanita cantik yang pakaiannya amat mewah ini mungkin sekali Dewi Mayangsari permaisuri Wengker yang diambil murid Nini Bumigarbo itu! Di belakang kedua orang ini terdapat pasukan yang rata-rata bertubuh tinggi besar dan kokoh kuat, sebanyak dua lusin orang prajurit. Tidak salah lagi, mereka itu tentu para prajurit Wengker yang mengawal permaisuri Wengker dan Resi Bajrasakti itu. Akan tetapi mengapa orang-orang penting Kadipaten Wengker memasuki daerah Wura-Wuri? Tidak aneh, pikirnya. Memang dua kadipaten besar itu bersama kadipaten-kadipaten kecil seperti Kerajaan Parang Siluman dan Kerajaan Siluman Laut Kidul mempunyai hubungan dan mereka pernah bekerja sama untuk memusuhi Kerajaan Kahuripan.
Dia tetap bersembunyi sampai rombongan itu lewat. Dia dapat menduga bahwa mereka itu pasti hendak berkunjung kepada Raja Wura-Wuri, entah dengan maksud apa. Diam-diam dia memikirkan apa yang terjadi dengan adik perempuan tiri Puspa Dewi yang bernama Niken Harni yang melakukan pengejaran terhadap mereka yang menculik Nyi Lasmi. Mungkin sekali Niken Harni mengejar ke daerah Wengker karena bukankah para penculik itu orang-orang dari Wengker? Dan tentu saja Puspa Dewi yang mencari adiknya itu pun besar kemungkinan pergi ke Wengker. Apakah kepergian para tokoh Wengker ke Wura-Wuri ini ada hubungannya dengan Puspa Dewi dan Niken Harni?
Nurseta melanjutkan perjalanan menuju Gunung. Semeru. Karena yang dia datangi merupakan daerah yang asing baginya, maka perjalanannya tidak dapat cepat. Dia harus bertanya-tanya dalam perjalanan dan untuk bertanya pun dia harus memandang orangnya, karena kalau bertanya kepada orang yang keliru, dapat menimbulkan kecurigaan yang hanya akan mengganggu pencariannya.

Kita tinggalkan dulu Nurseta yang sedang melakukan perjalanan mencari orang tuanya dan kita tengok keadaan di dusun Singojajar yang berada di kaki Pegunungan Semeru. Singojajar merupakan sebuah dusun yang tanahnya subur sekali sehingga kehidupan penduduk dusun sebagai petani cukup sejahtera, walaupun sederhana namun bagi mereka cukup adil dan makmur. Adil karena di antara mereka tidak ada yang kekurangan dan setiap kali ada yang didesak kebutuhan mendadak, mereka yang kelebihan selalu siap mengulurkan tangan membantu. Dan makmur bagi orang-orang bersahaja itu karena mereka telah dicukupi tiga kebutuhan pokok mereka, yaitu sandang pangan dan papan. Di ujung dusun itu terdapat sebuah rumah yang sedang namun terawat baik dan tampak mungil dan kokoh, mempunyai halaman depan yang ditanami bunga-bunga dan pohon-pohon buah. Di belakang rumah terdapat kebun sayur yang cukupi luas. Ini adalah rumah tempat tinggal Ki Dharmaguna bersama isterinya, Endang Sawitri. Ki Dharmaguna adalah seorang pria tampan yang lemah lembut, sikapnya sederhana, ramah dan sabar. Usianya sekitar empat puluh lima tahun, namun rambutnya sudah bercampur uban karena selama setengah dari usianya dia mengalami banyak penderitaan batin.

<<< Bagian 41                                                                                          Bagian 43 >>>

No comments:

Post a Comment