"Baik sekali kalau begitu." kata Nurseta, ikut merasa lega,
"Akan
tetapi lalu terjadilah malapetaka itu. Puspa Dewi pergi ke kota raja, untuk mencari
Ayah kandungnya dan muncullah orang-orang jahat suruhan Ki Suramenggala. Mereka
itu ganas dan jahat sekali. Ki Lurah Pujosaputro sekeluarganya berikut para
pelayan di rumah kelurahan itu mereka bunuh, hanya seorang pelayan saja yang
lolos dari maut, sedangkan Nyi Lasmi dilarikan!"
"Ahh....!
Gerombolan itu suruhan Ki Suramenggala?"
"Benar,
Anakmas. Agaknya Ki Suramenggala membalas dendam, menyuruh bunuh lurah baru
sekeluarganya dan menculik Nyi Lasmi. Kebetulan pada waktu itu, Puspa Dewi
bersama rombongan Ayah kandungnya beserta Ibu tirinya sekeluarga datang ke
Karang Tirta."
"Ayah
kandung Puspa Dewi?"
"Benar.
Ayahnya adalah Senopati Yudajaya yang datang bersama istrinya yang ke dua dan
puterinya, juga Ayah dan Ibu mertuanya. Ayah mertua Senopati Yudajaya itu
adalah Tumenggung Jayatanu. Mendengar malapetaka yang menimpa keluarga Lurah
Pujosaputro dan terculiknya Nyi Lasmi, Puspa Dewi melakukan pengejaran.
Kemudian Adik tiri Puspa Dewi yang bernama Niken Harni juga melakukan
pengejaran, disusul pula oleh Senopati Yudajaya yang membawa selusin prajurit
pengawal."
"Bagaimana
hasilnya? Apakah mereka dapat menyelamatkan Nyi Lasmi?"
"Nyi
Lasmi berhasil ditemukan dan diselamatkan. Ia pulang ke sini bersama suaminya,
yaitu Senopati Yudajaya dan menurut berita yang aku dengar, ternyata Nyi Lasmi
diselamatkan oleh Gusti Patih Narotama sendiri. Kemudian, rombongan keluarga
Senopati Yudajaya itu, termasuk pula Nyi Lasmi, meninggalkan Karang Tirta dan
kembali ke Kahuripan."
"Syukurlah
kalau begitu, keluarga Puspa Dewi dapat bersatu kembali dalam keadaan
selamat."
"Tapi
masih ada sebuah hal yang membuat keluarga itu khawatir, Anak mas Nurseta,
yaitu Puteri Senopati Yudajaya yang merupakan Adik tiri Puspa Dewi itu."
"Yang
bernama Niken Harni?"
"Ya,
mendengar Adik tirinya mengejar gerombolan yang menculik Nyi Lasmi dan belum
tampak kembali, Puspa Dewi lalu pergi mencarinya sedangkan semua keluarga
bangsawan itu kembali ke Kahuripan."
"Hemm,
dan sekarang, siapa pengganti lurah yang tewas itu?"
"Urusan
ini akan dilaporkan Tumenggung Jayatanu ke Kahuripan, dan untuk sementara
beliau menyarankan agar penduduk mengadakan pilihan sendiri dan mengangkat
seorang lurah baru. Kami telah memilih Anakmas Prawiro, keponakan mendiang Ki
Pujosaputro yang tadinya membantu pamannya sebagal carik, untuk menjadi lurah
sementara sebelum ada keputusan dari Kahuripan."
"Terima
kasih atas semua keterangan-mu itu, Paman. Sekarang, aku hendak menyampaikan
keperluanku sendiri. Aku datang berkunjung kepadamu untuk minta tolong, Paman.
Dulu Paman pernah menceritakan kepadaku tentang orang tuaku dan dari keterangan
Paman itu aku sudah berhasil bertemu dengan Kakekku, yaitu Ayah dari Ibuku.
Beliau adalah Eyang Senopati Sidukerta di Kahuripan. Akan tetapi Eyang juga
sedang mencari-cari Ayah Ibuku itu dan sampai sekarang aku belum berhasil
menemukan mereka...."
"Wah.
sejak tadi aku sudah ingin menyampaikan hal ini. akan tetapi didahului bicara
tentang malapetaka yang terjadi di Karang Tirta sehingga aku hampir lupa
menceritakan padamu. Anakmas Nurseta. Kurang lebih sebulan yang lalu sebelum
terjadi malapetaka itu, pada suatu senja aku kedatangan seorang laki-laki
berusia sekitar tiga puluh tahun. Dia mengaku bernama Pakem dan datang dari
Dusun Singojajar yang berada di kaki Gunung Semeru. Dusun ini termasuk daerah
Kadipaten Wura-Wuri. Si Pakem ini datang untuk bertanya tentang dirimu, Anakmas
Nurseta. Dan dia ternyata diutus oleh.... Dharmaguna, Ayahmu...."
"Wah,
Paman Tejomoyo! Mengapa tidak Andika ceritakan dari tadi?" Nurseta berseru
sambil memegang pergelangan tangan Ki Tejomoyo sehingga orang tua itu mengaduh.
"Aduh,
sakit....!"
"Ah,
maafkan aku, Paman!" kata Nurseta sambil melepaskan pegangannya.
"Saking
kaget mendengar kejutan ini aku terlalu kuat memegang lenganmu. Lanjutkan
ceritamu, Paman!"
"Tentu
saja aku juga girang mendengar bahwa Si Pakem itu utusan Dharmaguna. Aku lalu
menceritakan tentang dirimu, semua yang sudah kuketahui dan kudengar tentang
dirimu. Aku juga mendengar dari Pakem itu, yang ternyata adalah seorang
pembantu setia Ki Dharmaguna yang hidup sebagal petani, bahwa orang tuamu
berada dalam keadaan sehat dan selamat."
"Aduh....
terima kasih kepada Sang Hyang Widhi...., ah Paman Tejomoyo, Andika tidak tahu
betapa membahagiakan hati mendengar ceritamu ini!"
"Aku
tahu, Anakmas! Aku sendiri pun gembira sekali mendengar pengakuan Pakem itu.
Akan tetapi agaknya orang tuamu itu masih merasa khawatir dan Pakem itu tidak
berani bercerita banyak. Ketika aku bertanya tentang Ki Dharmaguna dan Nyi
Endang Sawitri, dia mengatakan tidak tahu banyak tentang mereka, hanya
mengatakan bahwa Ki Dharmaguna adalah seorang petani yang tinggal di dusun
Singojajar di kaki Gunung Semeru. Bahkan dia lalu tergesa-gesa pergi setelah
mendengar keterangan tentang dirimu, tidak mau menginap di sini walaupun kubujuk-bujuk."
"Wah,
keterangan itu sudah lebih dari, cukup, Paman! Sekarang aku pamit, Paman!"
"Eh?
Mengapa tergesa-gesa, Anakmas? Tinggallah di sini, setidaknya menginaplah di
sini. Ini sekarang telah dikembalikan kepadamu. Rumah ini milikmu."
"Lain
kali saja, Paman. Terima kasih, aku harus pergi mencari orang tuaku di
Singojajar sekarang juga!"
"Akan
tetapi, tempat itu termasuk daerah Wura-Wuri, Anakmas! Berbahaya sekali!"
Nurseta
tersenyum dan bangkit dari tempat duduknya.
"Ayah
Ibuku berada di sana juga tidak apa-apa, Paman Tejomoyo. Sekali lagi, aku
sungguh merasa amat berterima kasih kepadamu. Paman telah memberi kabar yang
teramat penting bagiku dan amat membahagiakan hatiku. Nah, aku pergi,
Paman!"
Setelah
berkata demikian, sekali berkelebat Nurseta sudah lenyap dari depan Ki Tejomoyo
sehingga orang tua itu mengejar ke depan, akan tetapi sudah tidak melihat lagi
bayangan Nurseta. Dia hanya berdiri terlongong dan kagum.
Nurseta
memasuki wilayah Kerajaan Wura-Wuri setelah melakukan perjalanan cepat dari Karang
Tirta. Dia ingin sekali segera tiba di kaki Gunung Semeru, mencari ayah ibunya
yang kabarnya tinggal di dusun Singojajar. Dia sudah membayangkan betapa akan
bahagianya bertemu dengan ayah dan ibunya. Dia masih dapat membayangkan wajah
ayah dan ibunya. Walaupun dua belas tahun lebih telah lewat sejak mereka
meninggalkan dia, dia pasti akan mengenal mereka. Mungkin mereka akan tampak
lebih tua, akan tetapi dia masih ingat benar. Ayahnya, Dharmaguna, adalah
seorang laki-laki yang berwajah tampan, berkulit bersih walau agak hitam, dan
gerak-gerik serta tutur sapanya lembut halus. Ibunya, Endang Sawitri, adalah
seorang wanita cantik berkulit putih, seingatnya bertubuh ramping padat dan
ibunya dahulu pandai menunggang kuda dan pandai pula menggunakan anak panah dan
memiliki kegagahan. Ibunya pernah menceritakan betapa di waktu muda ibunya juga
pernah mempelajari aji kanuragan. Tentu saja kini dia mengerti. Sebagai puteri
seorang senopati, tentu saja ibunya juga sedikit banyak memiliki kegagahan.
Nurseta juga maklum akan bahayanya memasuki wilayah Wura-Wuri. Wura-Wuri adalah
musuh bebuyutan Kahuripan dan beberapa tahun yang lalu pernah mencoba menyerang
Kahuripan bersama para sekutunya. Namun penyerangan itu gagal. Karena dia
sendiri terlibat dalam pertempuran itu, maka dia tentu dikenal oleh para tokoh
Kerajaan atau Kadipaten Wura-Wuri. Kalau hal lni terjadi, tentu dia akan
mengalami kesulitan untuk dapat bertemu dengan ayah ibunya, bahkan bukan itu
saja bahayanya, melainkan lebih buruk lagi orang tuanya dapat terseret dan
diganggu orang-orang Wura-Wuri. Dengan hati-hati Nurseta melakukan perjalanan
menuju Gunung Semeru yang merupakan perbatasan antara Kadipaten Wura-Wuri dan
Kerajaan Kahuripan. Dia memasuki daerah Wura-Wuri dari selatan maka perjalanan
menuju Gunung Semeru masih cukup jauh. Dia selalu waspada. Kalau hanya bertemu
penduduk biasa, dia tidak khawatir dikenal orang. Akan tetapi kalau bertemu
dengan pasukan atau orang-orang berpakaian bangsawan atau perwira, dia selalu
menyelinap agar tidak terlihat.
Pada suatu
hari Nurseta keluar dari sebuah dusun dan berjalan di atas jalan umum di
samping hutan. Dia merasa kagum juga melihat keadaan Kadipaten Wura-Wuri.
Keadaan rakyatnya tidaklah sengsara benar, dan orang-orang Wura-Wuri tampak
tampan dan cantik. Dia memang pernah mendengar bahwa penduduk Wura-Wuri
memiliki wajah yang elok, sebaliknya orang-orang Wengker sebagian besar buruk
rupa. Selagi dia berjalan dengan santai dan waspada, tiba-tiba dia mendengar
langkah kaki banyak kuda dari arah belakangnya. Cepat Nurseta menyelinap di
balik pohon-pohon besar di tepi jalan dan mengintai untuk melihat siapa mereka
yang berkuda itu. Tak lama kemudian dia melihat banyak orang berkuda
menjalankan kuda mereka dengan santai. Agaknya mereka sengaja menjalankan kuda
mereka perlahan-lahan karena kuda-kuda itu telah mandi keringat, agaknya telah
melakukan perjalanan jauh yang melelahkan dan sekarang dijalankan perlahan
untuk memberi kesempatan istirahat kepada kuda-kuda itu. Ketika rombongan tiba
dekat, Nurseta terkejut. Yang menunggang kuda di depan adalah seorang wanita
dan seorang pria. Wanitanya berpakaian gemerlapan mewah sekali, usianya sekitar
dua puluh delapan tahun, tubuhnya ramping padat, wajahnya cantik jelita akan
tetapi mata dan mulutnya membayangkan kegenitan, kulitnya agak hitam manis. Dia
tidak mengenal wanita itu. Akan tetapi tentu saja dia mengenal laki-laki yang
menunggang kuda di dekat wanita itu. Resi Bajrasakti, dia tak salah lagi.
Biarpun sudah sekitar enam tahun dia tidak melihat kakek tinggi besar dan
mukanya penuh brewok, kulitnya hitam dan wajahnya kasar dan bengis itu, dia
tidak dapat melupakannya. Resi Bajrasakti ini yang dulu bersama Nyi Dewi
Durgakumala hendak merampas keris pusaka Megatantra dan mereka berdua
dikalahkan gurunya, mendiang Empu Dewamurti. Begitu mengenal Resi Bajrasakti,
Nurseta teringat akan pesan Sang Bhagawan Ekadenta, agar dia berhati-hati
terhadap Wengker karena permaisuri Wengker yang bernama Dewi Mayangsari diambil
murid Nini Bumigarbo. Resi Bajrasakti adalah tokoh Wengker, maka wanita cantik
yang pakaiannya amat mewah ini mungkin sekali Dewi Mayangsari permaisuri
Wengker yang diambil murid Nini Bumigarbo itu! Di belakang kedua orang ini
terdapat pasukan yang rata-rata bertubuh tinggi besar dan kokoh kuat, sebanyak
dua lusin orang prajurit. Tidak salah lagi, mereka itu tentu para prajurit
Wengker yang mengawal permaisuri Wengker dan Resi Bajrasakti itu. Akan tetapi
mengapa orang-orang penting Kadipaten Wengker memasuki daerah Wura-Wuri? Tidak
aneh, pikirnya. Memang dua kadipaten besar itu bersama kadipaten-kadipaten
kecil seperti Kerajaan Parang Siluman dan Kerajaan Siluman Laut Kidul mempunyai
hubungan dan mereka pernah bekerja sama untuk memusuhi Kerajaan Kahuripan.
Dia tetap
bersembunyi sampai rombongan itu lewat. Dia dapat menduga bahwa mereka itu
pasti hendak berkunjung kepada Raja Wura-Wuri, entah dengan maksud apa.
Diam-diam dia memikirkan apa yang terjadi dengan adik perempuan tiri Puspa Dewi
yang bernama Niken Harni yang melakukan pengejaran terhadap mereka yang menculik
Nyi Lasmi. Mungkin sekali Niken Harni mengejar ke daerah Wengker karena
bukankah para penculik itu orang-orang dari Wengker? Dan tentu saja Puspa Dewi
yang mencari adiknya itu pun besar kemungkinan pergi ke Wengker. Apakah
kepergian para tokoh Wengker ke Wura-Wuri ini ada hubungannya dengan Puspa Dewi
dan Niken Harni?
Nurseta
melanjutkan perjalanan menuju Gunung. Semeru. Karena yang dia datangi merupakan
daerah yang asing baginya, maka perjalanannya tidak dapat cepat. Dia harus
bertanya-tanya dalam perjalanan dan untuk bertanya pun dia harus memandang
orangnya, karena kalau bertanya kepada orang yang keliru, dapat menimbulkan
kecurigaan yang hanya akan mengganggu pencariannya.
Kita
tinggalkan dulu Nurseta yang sedang melakukan perjalanan mencari orang tuanya
dan kita tengok keadaan di dusun Singojajar yang berada di kaki Pegunungan
Semeru. Singojajar merupakan sebuah dusun yang tanahnya subur sekali sehingga
kehidupan penduduk dusun sebagai petani cukup sejahtera, walaupun sederhana
namun bagi mereka cukup adil dan makmur. Adil karena di antara mereka tidak ada
yang kekurangan dan setiap kali ada yang didesak kebutuhan mendadak, mereka
yang kelebihan selalu siap mengulurkan tangan membantu. Dan makmur bagi
orang-orang bersahaja itu karena mereka telah dicukupi tiga kebutuhan pokok
mereka, yaitu sandang pangan dan papan. Di ujung dusun itu terdapat sebuah
rumah yang sedang namun terawat baik dan tampak mungil dan kokoh, mempunyai
halaman depan yang ditanami bunga-bunga dan pohon-pohon buah. Di belakang rumah
terdapat kebun sayur yang cukupi luas. Ini adalah rumah tempat tinggal Ki
Dharmaguna bersama isterinya, Endang Sawitri. Ki Dharmaguna adalah seorang pria
tampan yang lemah lembut, sikapnya sederhana, ramah dan sabar. Usianya sekitar
empat puluh lima tahun, namun rambutnya sudah bercampur uban karena selama
setengah dari usianya dia mengalami banyak penderitaan batin.
No comments:
Post a Comment