Nurseta Satria Karangtirta ; Bagian 43


Isterinya Nyi Endang Sawitri, adalah seorang wanita cantik dan lembut pula, anggun dan gerak-geriknya gesit. Wanita ini berusia sekitar empat puluh tahun. Ia pun mengalami banyak penderitaan batin seperti suaminya sehingga walaupun ia tergolong cantik, namun sinar matanya sayu. Riwayat suami isteri ini memang menyedihkan. Endang Sawitri adalah puteri tunggal dari Senopati Sindukerta, seorang di antara senopati terkenal dari Kahuripan, dan ia amat disayang orang tuanya. Ketika ia berusia tujuh belas tahun, gadis bangsawan ini saling jatuh cinta dengan Dharmaguna, seorang pemuda putera mendiang Ki Jatimurti, seorang pendeta yang miskin. Senopati Sindukerta dan isterinya tidak setuju mempunyai mantu seorang pemuda putera pendeta miskin. Mereka mendambakan mantu seorang priyagung (bangsawan tinggi) yang akan membuat puteri mereka hidup terhormat. Akan tetapi, hubungan cinta antara Endang Sawitri dan Dharmaguna sudah sedemikian kuatnya sehingga mereka berdua nekat minggat meninggalkan Kahuripan. Senopati Sindukerta marah sekali kepada Dharmaguna yang dianggap menculik dan melarikan anak tunggalnya. Dia mengerahkan pasukan melakukan pengejaran dan pencarian, namun semua usahanya itu sia-sia belaka. Endang Sawitri dan Dharmaguna yang sudah menjadi suami isteri itu melarikan diri dan bersembunyi dengan cara berpindah-pindah tempat. Setahun kemudian, Endang Sawitri melahirkan seorang anak yang mereka beri nama Nurseta. Bahkan setelah mempunyai seorang anak, mereka tetap berpindah-pindah untuk menghilangkan jejak. Ketika Nurseta berusia tiga tahun, suami isteri ini tinggal di dusun Karang Tirta. Selama tiga tahun, sampai Nurseta berusia enam tahun, mereka hidup tenteram di Karang Tirta, tidak pindah-pindah lagi karena tidak terdapat tanda-tanda bahwa para utusan Senopati Sindukerta mencari mereka sampai ke dusun itu. Akan tetapi pada suatu hari, mereka mendengar bahwa Ki Lurah Suramenggala, lurah dusun Karang Tirta mengirim utusan ke Kahuripan untuk melaporkan kehadiran mereka kepada Senopati Sindukerta. Tentu saja suami isteri ini terkejut dan ketakutan. Mereka takut akan hukuman, dibunuh pun mereka tidak takut. Yang mereka takuti hanya kalau mereka sampai dipaksa untuk saling berpisah! Maka, mendengar akan laporan Ki Lurah Suramenggala kepada Senopati Sindukerta, Ki Dharmaguna dan Nyi Endang Sawitri menjadi ketakutan dan mereka berdua segera melarikan diri dari Karang Tirta. Setelah suami isteri ini merundingkan masak-masak, mereka sengaja meninggalkan anak mereka Nurseta yang telah berusia sepuluh tahun karena mereka tidak ingin anak mereka yang tercinta itu ikut menjadi buronan yang dikejar-kejar. Mereka meninggalkan Nurseta di Karang Tirta, lalu lari pindah ke lain dusun yang jauh. Karena ketakutan, mereka kembali berpindah-pindah dari dusun ke dusun, dari gunung ke gunung. Akhirnya, lima tahun yang lalu mereka sengaja melarikan diri ke kaki Gunung Semeru yang termasuk tapal batas antara Kahuripan dan Wura-Wuri, bahkan masih termasuk wilayah Wura-Wuri. Mereka yakin bahwa para utusan Senopati Sindukerta pasti tidak akan mencari mereka ke dalam wilayah Wura-Wuri! Mereka berdua merasa tenteram hidup di dusun Singojajar di kaki Pegunungan Semeru yang menjulang tinggi menembus awan itu. Hanya satu hal yang membuat mereka merasa berduka dan mereka berdua kerap kali menangis kalau teringat akan hal itu. Mereka dapat saling menghibur dan dalam kedukaan yang dipikul bersama itu, cinta kasih antara suami isteri ini menjadi semakin kokoh. Yang membuat mereka berduka adalah kalau mereka teringat akan Nurseta, putera mereka. Setelah merasa keadaan mereka kini aman, pada suatu hari, kurang lebih dua bulan yang lalu, Ki Dharmaguna mengutus pembantunya, Pakem, yang biasa membantunya bertani, untuk pergi melakukan perjalanan ke Karang Tirta. Suami Isteri itu menyuruh Pakem untuk menemui Ki Tejomoyo di Karang Tirta dan minta keterangan kepada Ki Tejomoyo tentang anak mereka Nurseta.

Pada sore hari itu, Ki Dharmaguna dan Nyi Endang Sawitri duduk santai di pendopo rumah mereka, berhadapan terhalang meja di mana terdapat minuman air teh dan nyamikan (makanan kecii) keripik pisang yang tadi dihidangkan Nyi Endang Sawitri. Sambil makan nyamikan dan minum air teh, mereka bercakap-cakap. Memang sudah menjadi kebiasaan suami isteri ini, setiap sore setelah berhenti bekerja di sawah ladang, mereka minum teh dengan makanan kecil sambil bercakap-cakap. Akan tetapi sekali ini, wajah mereka tidak tampak tenang seperti biasanya kalau mereka duduk berdua seperti itu. Wajah mereka bahkan tampak tegang dan alis mereka berkerut.
"Kakangmas, mengapa Pakem belum juga pulang?"
"Itulah Diajeng, yang membuat aku tidak bisa tidur nyenyak selama beberapa hari ini. Aku sungguh merasa heran mengapa sampai dua bulan Pakem belum juga pulang. Padahal menurut perhitunganku, jarak antara Singojajar ini dan Karang Tirta dapat ditempuh dengan berkuda selama setengah bulan, jadi pulang pergi hanya membutuhkan waktu satu bulan saja. Akan tetapi sampai hari ini, sudah hampir dua bulan dan dia belum juga datang. Aku khawatir terjadi sesuatu yang buruk...."
"Kakangmas, bersabarlah jangan membayangkan yang buruk-buruk. Siapa tahu, Pakem mendengar bahwa anak kita itu telah pindah ke tempat lain sehingga pakem pergi mencarinya. Alangkah akan gembira dan bahagianya hati kita kalau Pakem pulang bersama anak kita!”
"Wah, kalau begitu memang bagus sekali, Diajeng. Mudah-mudahan saja perkiraanmu itu benar."
"Wah, kalau aku membayangkan pertemuan kita dengan Nurseta, Kakangmas! Apakah kita akan dapat mengenalnya? Seperti apa dia sekarang? Jantungku berdebar penuh ketegangan kalau aku ingat dan membayangkan pertemuan itu!"
"Dia tentu sudah dewasa sekarang, Diajeng. Ketika kita meninggalkannya, dia berusia sepuluh tahun, dan kurang lebih dua belas tahun telah lewat sejak kita lari dari Karang Tirta."
"Ah, dia sekarang tentu telah menjadi seorang pemuda berusia dua puluh dua tahun! Telah dewasa. Siapa tahu dia telah mempunyai isteri dan anak, Kakangmas!" Suara wanita itu mengandung getaran keharuan.
"Hemm, kalau begitu engkau akan menjadi Eyang puteri (Nenek) dan aku menjadi Eyang kakung (Kakek)!" kata Ki Dharmaguna, sengaja berkelakar untuk menghibur hati isterinya.

Agak terhibur hati suami isteri itu membayangkan bahwa mereka akan bertemu dengan putera mereka tercinta. Kalau dahulu mereka meninggalkan Nurseta yang berusia enam tahun di Karang Tirta, hal itu mereka lakukan justru karena mereka mencinta putera mereka. Biarpun hati mereka hancur harus meninggalkan anak mereka, namun mereka terpaksa melakukannya karena mereka tidak ingin melihat anak mereka ikut menjadi buronan. Kalau mereka tertangkap, biarlah mereka berdua saja yang menerima hukuman dari Senopati Sindukerta. Anak mereka jangan sampai ikut tertangkap dan dihukum. Selagi mereka termenung membayangkan peristiwa membahagiakan itu, tiba-tiba terdengar keluhan di halaman rumah. Mereka memandang dan suami isteri itu cepat bangkit berdiri dan memandang dengan mata terbelalak. Orang yang ditunggu-tunggu itu datang.
"Pakem....!" Nyi Endang Sawitri berseru. Mereka lalu menuruni pendopo untuk menyambut pembantu mereka itu.
Pakem melangkah menghampiri mereka. Mukanya bengkak-bengkak dan matang biru, langkahnya terhuyung setengah merangkak dengan menyeret kakinya, kedua lengannya tergantung mati.
"Pakem! Engkau mengapa....?" Ki Dharmaguna bertanya, terkejut bukan main.
Setelah tiba di depan suami isteri itu, Pakem berkata dengan napas terengah-engah dan suara terputus-putus,
"....Nurseta.... hidup.... saya... saya ditangkap.... disiksa.... aduhhh....!" Pakem terguling roboh dan ketika suami isteri itu memeriksanya, ternyata pembantu mereka itu tewas.
"Pakem...." Ki Dharmaguna berjongkok memeriksa keadaan tubuh pembantunya dan mendapatkan kenyataan bahwa tubuh itu penuh dengan luka bekas siksaan. Bahkan kedua lengannya agaknya tidak dapat digerakkan karena patah-patah tulangnya! Sementara itu, Nyi Endang Sawitri yang mencium adanya ancaman bahaya, sudah lari memasuki rumah lalu keluar lagi sambil membawa sebatang tombak. Dahulu ia menerima latihan bersilat dengan tombak dari ayahnya yang senopati dan ahli bermain tombak.

Suami isteri ini cepat bangkit berdiri dan memandang ketika terdengar suara tawa menyeramkan dan dua orang memasuki halaman rumah mereka. Suami isteri itu memandang penuh perhatian. Tadinya mereka mengira bahwa tentu para pesuruh Senopati Sindukerta yang datang untuk menangkap mereka. Akan tetapi Nyi Endang Sawitri tidak mengenal mereka, Yang seorang bertubuh tinggi besar, mukanya penuh brewok, rambutnya gimbal, wajahnya bengis dan kulitnya hitam. Akan tetapi pakaiannya mewah sekali seperti seorang bangsawan. Usianya sekitar lima puluh lima tahun dan tangannya memegang sebatang cambuk bergagang gading. Orang kedua seorang laki-laki tampan gagah berusia sekitar dua puluh delapan tahun. Tubuhnya tinggi tegap dan pakaiannya juga mewah sekali. Di pinggangnya tergantung sebatang pedang. Orang ini tersenyum menyeringai dan matanya liar memandang wajah Nyi Endang Sawitri yang masih cantik menarik dengan bentuk tubuh yang ramping padat.
"He-he-he! Apakah Andika yang bernama Dharmaguna dan Endang Sawitri, Ayah dan Ibu dari Nurseta?" tanya kakek itu dengan suaranya yang besar.
Mendengar kakek itu mengenal mereka dan putera mereka, Ki Dharmaguna menjawab.
"Benar sekali. Andika berdua siapakah, Kisanak dan ada keperluan apakah Andika datang berkunjung?"
"Hemm, Dharmaguna! Kalau engkau ingin bertemu dengan Nurseta, ikutlah dengan kami!" kata Kakek itu.
"Dan engkau, Endang Sawitri, juga harus ikut!" kata pula kawannya yang muda, tampan, dan tinggi tegap, sambil tersenyum dan matanya mengamati Endang Sawitri dari kepala sampai ke kaki.
"Katakan dulu siapa kalian dan di mana anak kami Nurseta!" kata Endang Sawitri dengan sikap gagah sambil melintangkan tombaknya.
"Heh-heh-heh, kalian ikut sajalah kalau kalian tidak ingin anak kalian itu kami bunuh seperti pembantumu itu!" Kakek itu menuding ke arah jenazah Pakem yang masih menggeletak di atas tanah.
Wajah Dharmaguna menjadi gelisah mendengar ancaman kepada puteranya itu.
"Diajeng.... mari kita ikut mereka..!”
"Tidak!" Endang Sawitri berkata tegas,
"Aku tidak percaya kepada kalian berdua! Katakan dulu siapa kalian dan dimana adanya Anak kami!"
"Ha-ha, mau atau tidak mau kalian harus ikut dengan kamil" kata laki-laki yang muda dan dia sudah melangkah maju menghampiri Endang Sawitri sambil berkata kepada temannya yang tinggi besar brewok.
"Paman, biarkan aku menangkap wanita ini dan Andika menangkap yang pria!"
Setelah berkata demikian, laki-laki itu bergerak cepat hendak menubruk dan menelikung Nyi Endang Sawitri. Wanita itu menggerakkan tombaknya, menyambut lawan dengan tusukan tombaknya. Endang Sawitri pernah mempelajari ilmu tombak dari ayahnya, akan tetapi karena selama belasan tahun ia tidak pernah berlatih, maka gerakannya kurang kuat dan kurang cepat. Padahal, lawannya adalah seorang yang memiliki tingkat kepandaian tinggi. Maka, sambil terkekeh dia miringkan tubuh mengelak. Ketika tombak lewat, dia menangkap tombak itu, menarik dengan sentakan sehingga tubuh Nyi Endang Sawitri terhuyung ke depan. Tombak terampas dan lawan itu sudah merangkul dan memeluk tubuh Nyi Endang Sawitri sehingga wanita itu tidak mampu melepaskan dirinya lagi. Ia meronta-ronta.
“Keparat Lepaskan aku...., lepaskan .....!" Ia mencoba untuk melepaskan kedua lengannya yang ditelikung dan menyepak-nyepak dengan kakinya. Namun lawan terlampau kuat sehingga ia tidak berdaya sama sekali.
"Lepaskan isteriku!" Ki Dharmaguna membentak dan maju.
Akan tetapi sebuah tendangan kaki laki-laki yang lebih tua membuat tubuhnya terpental jauh. Sebelum dia bangkit lagi, dia pun sudah ditelikung oleh kakek tinggi besar brewok itu. Suami isteri ini ditangkap dan ditarik keluar dari halaman rumah. Sebuah kereta yang ditarik dua ekor kuda datang diiringkan dua lusin perajurit Wura-Wuri. Melihat banyaknya orang yang menangkap mereka, Ki Dharmaguna dan Nyi Endang Sawitri maklum bahwa akan percuma saja melakukan perlawanan. Mereka hendak melihat apa yang selanjutnya yang akan terjadi. Orang-orang itu tadi mengatakan bahwa kalau mereka ikut dengan orang-orang itu, mereka akan dapat bertemu dengan Nurseta. Benarkah itu? Ada rahasia apa di balik paksaan untuk ikut itu? Dan ikut ke mana? Mereka tidak membantah ketika disuruh memasuki kereta. Kereta lalu bergerak meninggalkan dusun Singojajar. Para penduduk yang keluar menonton berdiri dengan hormat ketika mengenal bahwa pasukan itu adalah pasukan Wura-Wuri.

Apakah yang telah terjadi dengan Pakem, pembantu Ki Dharmaguna yang diutus ke Karang Tirta itu? Ternyata, setelah gagal menundukkan Nyi Lasmi, bahkan kemudian bekas selirnya itu dapat dibebaskan Ki Patih Narotama, Ki Suramenggala yang kini menjadi Tumenggung Wengker masih merasa penasaran sekali. Kebenciannya terhadap Ki Patih Narotama semakin mendalam.

<<< Bagian 42                                                                                         Bagian 44 >>>

No comments:

Post a Comment