Isterinya Nyi Endang Sawitri, adalah seorang wanita cantik dan lembut pula, anggun dan gerak-geriknya gesit. Wanita ini berusia sekitar empat puluh tahun. Ia pun mengalami banyak penderitaan batin seperti suaminya sehingga walaupun ia tergolong cantik, namun sinar matanya sayu. Riwayat suami isteri ini memang menyedihkan. Endang Sawitri adalah puteri tunggal dari Senopati Sindukerta, seorang di antara senopati terkenal dari Kahuripan, dan ia amat disayang orang tuanya. Ketika ia berusia tujuh belas tahun, gadis bangsawan ini saling jatuh cinta dengan Dharmaguna, seorang pemuda putera mendiang Ki Jatimurti, seorang pendeta yang miskin. Senopati Sindukerta dan isterinya tidak setuju mempunyai mantu seorang pemuda putera pendeta miskin. Mereka mendambakan mantu seorang priyagung (bangsawan tinggi) yang akan membuat puteri mereka hidup terhormat. Akan tetapi, hubungan cinta antara Endang Sawitri dan Dharmaguna sudah sedemikian kuatnya sehingga mereka berdua nekat minggat meninggalkan Kahuripan. Senopati Sindukerta marah sekali kepada Dharmaguna yang dianggap menculik dan melarikan anak tunggalnya. Dia mengerahkan pasukan melakukan pengejaran dan pencarian, namun semua usahanya itu sia-sia belaka. Endang Sawitri dan Dharmaguna yang sudah menjadi suami isteri itu melarikan diri dan bersembunyi dengan cara berpindah-pindah tempat. Setahun kemudian, Endang Sawitri melahirkan seorang anak yang mereka beri nama Nurseta. Bahkan setelah mempunyai seorang anak, mereka tetap berpindah-pindah untuk menghilangkan jejak. Ketika Nurseta berusia tiga tahun, suami isteri ini tinggal di dusun Karang Tirta. Selama tiga tahun, sampai Nurseta berusia enam tahun, mereka hidup tenteram di Karang Tirta, tidak pindah-pindah lagi karena tidak terdapat tanda-tanda bahwa para utusan Senopati Sindukerta mencari mereka sampai ke dusun itu. Akan tetapi pada suatu hari, mereka mendengar bahwa Ki Lurah Suramenggala, lurah dusun Karang Tirta mengirim utusan ke Kahuripan untuk melaporkan kehadiran mereka kepada Senopati Sindukerta. Tentu saja suami isteri ini terkejut dan ketakutan. Mereka takut akan hukuman, dibunuh pun mereka tidak takut. Yang mereka takuti hanya kalau mereka sampai dipaksa untuk saling berpisah! Maka, mendengar akan laporan Ki Lurah Suramenggala kepada Senopati Sindukerta, Ki Dharmaguna dan Nyi Endang Sawitri menjadi ketakutan dan mereka berdua segera melarikan diri dari Karang Tirta. Setelah suami isteri ini merundingkan masak-masak, mereka sengaja meninggalkan anak mereka Nurseta yang telah berusia sepuluh tahun karena mereka tidak ingin anak mereka yang tercinta itu ikut menjadi buronan yang dikejar-kejar. Mereka meninggalkan Nurseta di Karang Tirta, lalu lari pindah ke lain dusun yang jauh. Karena ketakutan, mereka kembali berpindah-pindah dari dusun ke dusun, dari gunung ke gunung. Akhirnya, lima tahun yang lalu mereka sengaja melarikan diri ke kaki Gunung Semeru yang termasuk tapal batas antara Kahuripan dan Wura-Wuri, bahkan masih termasuk wilayah Wura-Wuri. Mereka yakin bahwa para utusan Senopati Sindukerta pasti tidak akan mencari mereka ke dalam wilayah Wura-Wuri! Mereka berdua merasa tenteram hidup di dusun Singojajar di kaki Pegunungan Semeru yang menjulang tinggi menembus awan itu. Hanya satu hal yang membuat mereka merasa berduka dan mereka berdua kerap kali menangis kalau teringat akan hal itu. Mereka dapat saling menghibur dan dalam kedukaan yang dipikul bersama itu, cinta kasih antara suami isteri ini menjadi semakin kokoh. Yang membuat mereka berduka adalah kalau mereka teringat akan Nurseta, putera mereka. Setelah merasa keadaan mereka kini aman, pada suatu hari, kurang lebih dua bulan yang lalu, Ki Dharmaguna mengutus pembantunya, Pakem, yang biasa membantunya bertani, untuk pergi melakukan perjalanan ke Karang Tirta. Suami Isteri itu menyuruh Pakem untuk menemui Ki Tejomoyo di Karang Tirta dan minta keterangan kepada Ki Tejomoyo tentang anak mereka Nurseta.
Pada sore hari
itu, Ki Dharmaguna dan Nyi Endang Sawitri duduk santai di pendopo rumah mereka,
berhadapan terhalang meja di mana terdapat minuman air teh dan nyamikan
(makanan kecii) keripik pisang yang tadi dihidangkan Nyi Endang Sawitri. Sambil
makan nyamikan dan minum air teh, mereka bercakap-cakap. Memang sudah menjadi
kebiasaan suami isteri ini, setiap sore setelah berhenti bekerja di sawah
ladang, mereka minum teh dengan makanan kecil sambil bercakap-cakap. Akan
tetapi sekali ini, wajah mereka tidak tampak tenang seperti biasanya kalau
mereka duduk berdua seperti itu. Wajah mereka bahkan tampak tegang dan alis
mereka berkerut.
"Kakangmas,
mengapa Pakem belum juga pulang?"
"Itulah
Diajeng, yang membuat aku tidak bisa tidur nyenyak selama beberapa hari ini.
Aku sungguh merasa heran mengapa sampai dua bulan Pakem belum juga pulang.
Padahal menurut perhitunganku, jarak antara Singojajar ini dan Karang Tirta
dapat ditempuh dengan berkuda selama setengah bulan, jadi pulang pergi hanya
membutuhkan waktu satu bulan saja. Akan tetapi sampai hari ini, sudah hampir
dua bulan dan dia belum juga datang. Aku khawatir terjadi sesuatu yang
buruk...."
"Kakangmas,
bersabarlah jangan membayangkan yang buruk-buruk. Siapa tahu, Pakem mendengar
bahwa anak kita itu telah pindah ke tempat lain sehingga pakem pergi
mencarinya. Alangkah akan gembira dan bahagianya hati kita kalau Pakem pulang
bersama anak kita!”
"Wah,
kalau begitu memang bagus sekali, Diajeng. Mudah-mudahan saja perkiraanmu itu
benar."
"Wah,
kalau aku membayangkan pertemuan kita dengan Nurseta, Kakangmas! Apakah kita
akan dapat mengenalnya? Seperti apa dia sekarang? Jantungku berdebar penuh
ketegangan kalau aku ingat dan membayangkan pertemuan itu!"
"Dia
tentu sudah dewasa sekarang, Diajeng. Ketika kita meninggalkannya, dia berusia
sepuluh tahun, dan kurang lebih dua belas tahun telah lewat sejak kita lari
dari Karang Tirta."
"Ah, dia
sekarang tentu telah menjadi seorang pemuda berusia dua puluh dua tahun! Telah
dewasa. Siapa tahu dia telah mempunyai isteri dan anak, Kakangmas!" Suara
wanita itu mengandung getaran keharuan.
"Hemm,
kalau begitu engkau akan menjadi Eyang puteri (Nenek) dan aku menjadi Eyang
kakung (Kakek)!" kata Ki Dharmaguna, sengaja berkelakar untuk menghibur
hati isterinya.
Agak terhibur
hati suami isteri itu membayangkan bahwa mereka akan bertemu dengan putera
mereka tercinta. Kalau dahulu mereka meninggalkan Nurseta yang berusia enam
tahun di Karang Tirta, hal itu mereka lakukan justru karena mereka mencinta
putera mereka. Biarpun hati mereka hancur harus meninggalkan anak mereka, namun
mereka terpaksa melakukannya karena mereka tidak ingin melihat anak mereka ikut
menjadi buronan. Kalau mereka tertangkap, biarlah mereka berdua saja yang
menerima hukuman dari Senopati Sindukerta. Anak mereka jangan sampai ikut
tertangkap dan dihukum. Selagi mereka termenung membayangkan peristiwa
membahagiakan itu, tiba-tiba terdengar keluhan di halaman rumah. Mereka memandang
dan suami isteri itu cepat bangkit berdiri dan memandang dengan mata
terbelalak. Orang yang ditunggu-tunggu itu datang.
"Pakem....!"
Nyi Endang Sawitri berseru. Mereka lalu menuruni pendopo untuk menyambut
pembantu mereka itu.
Pakem
melangkah menghampiri mereka. Mukanya bengkak-bengkak dan matang biru,
langkahnya terhuyung setengah merangkak dengan menyeret kakinya, kedua
lengannya tergantung mati.
"Pakem!
Engkau mengapa....?" Ki Dharmaguna bertanya, terkejut bukan main.
Setelah tiba
di depan suami isteri itu, Pakem berkata dengan napas terengah-engah dan suara
terputus-putus,
"....Nurseta....
hidup.... saya... saya ditangkap.... disiksa.... aduhhh....!" Pakem
terguling roboh dan ketika suami isteri itu memeriksanya, ternyata pembantu
mereka itu tewas.
"Pakem...."
Ki Dharmaguna berjongkok memeriksa keadaan tubuh pembantunya dan mendapatkan
kenyataan bahwa tubuh itu penuh dengan luka bekas siksaan. Bahkan kedua
lengannya agaknya tidak dapat digerakkan karena patah-patah tulangnya!
Sementara itu, Nyi Endang Sawitri yang mencium adanya ancaman bahaya, sudah
lari memasuki rumah lalu keluar lagi sambil membawa sebatang tombak. Dahulu ia
menerima latihan bersilat dengan tombak dari ayahnya yang senopati dan ahli
bermain tombak.
Suami isteri
ini cepat bangkit berdiri dan memandang ketika terdengar suara tawa menyeramkan
dan dua orang memasuki halaman rumah mereka. Suami isteri itu memandang penuh
perhatian. Tadinya mereka mengira bahwa tentu para pesuruh Senopati Sindukerta
yang datang untuk menangkap mereka. Akan tetapi Nyi Endang Sawitri tidak
mengenal mereka, Yang seorang bertubuh tinggi besar, mukanya penuh brewok,
rambutnya gimbal, wajahnya bengis dan kulitnya hitam. Akan tetapi pakaiannya
mewah sekali seperti seorang bangsawan. Usianya sekitar lima puluh lima tahun
dan tangannya memegang sebatang cambuk bergagang gading. Orang kedua seorang
laki-laki tampan gagah berusia sekitar dua puluh delapan tahun. Tubuhnya tinggi
tegap dan pakaiannya juga mewah sekali. Di pinggangnya tergantung sebatang
pedang. Orang ini tersenyum menyeringai dan matanya liar memandang wajah Nyi
Endang Sawitri yang masih cantik menarik dengan bentuk tubuh yang ramping
padat.
"He-he-he!
Apakah Andika yang bernama Dharmaguna dan Endang Sawitri, Ayah dan Ibu dari
Nurseta?" tanya kakek itu dengan suaranya yang besar.
Mendengar
kakek itu mengenal mereka dan putera mereka, Ki Dharmaguna menjawab.
"Benar
sekali. Andika berdua siapakah, Kisanak dan ada keperluan apakah Andika datang
berkunjung?"
"Hemm,
Dharmaguna! Kalau engkau ingin bertemu dengan Nurseta, ikutlah dengan
kami!" kata Kakek itu.
"Dan
engkau, Endang Sawitri, juga harus ikut!" kata pula kawannya yang muda,
tampan, dan tinggi tegap, sambil tersenyum dan matanya mengamati Endang Sawitri
dari kepala sampai ke kaki.
"Katakan
dulu siapa kalian dan di mana anak kami Nurseta!" kata Endang Sawitri
dengan sikap gagah sambil melintangkan tombaknya.
"Heh-heh-heh,
kalian ikut sajalah kalau kalian tidak ingin anak kalian itu kami bunuh seperti
pembantumu itu!" Kakek itu menuding ke arah jenazah Pakem yang masih
menggeletak di atas tanah.
Wajah
Dharmaguna menjadi gelisah mendengar ancaman kepada puteranya itu.
"Diajeng....
mari kita ikut mereka..!”
"Tidak!"
Endang Sawitri berkata tegas,
"Aku
tidak percaya kepada kalian berdua! Katakan dulu siapa kalian dan dimana adanya
Anak kami!"
"Ha-ha,
mau atau tidak mau kalian harus ikut dengan kamil" kata laki-laki yang
muda dan dia sudah melangkah maju menghampiri Endang Sawitri sambil berkata
kepada temannya yang tinggi besar brewok.
"Paman,
biarkan aku menangkap wanita ini dan Andika menangkap yang pria!"
Setelah
berkata demikian, laki-laki itu bergerak cepat hendak menubruk dan menelikung
Nyi Endang Sawitri. Wanita itu menggerakkan tombaknya, menyambut lawan dengan
tusukan tombaknya. Endang Sawitri pernah mempelajari ilmu tombak dari ayahnya,
akan tetapi karena selama belasan tahun ia tidak pernah berlatih, maka
gerakannya kurang kuat dan kurang cepat. Padahal, lawannya adalah seorang yang
memiliki tingkat kepandaian tinggi. Maka, sambil terkekeh dia miringkan tubuh
mengelak. Ketika tombak lewat, dia menangkap tombak itu, menarik dengan
sentakan sehingga tubuh Nyi Endang Sawitri terhuyung ke depan. Tombak terampas
dan lawan itu sudah merangkul dan memeluk tubuh Nyi Endang Sawitri sehingga
wanita itu tidak mampu melepaskan dirinya lagi. Ia meronta-ronta.
“Keparat
Lepaskan aku...., lepaskan .....!" Ia mencoba untuk melepaskan kedua
lengannya yang ditelikung dan menyepak-nyepak dengan kakinya. Namun lawan
terlampau kuat sehingga ia tidak berdaya sama sekali.
"Lepaskan
isteriku!" Ki Dharmaguna membentak dan maju.
Akan tetapi
sebuah tendangan kaki laki-laki yang lebih tua membuat tubuhnya terpental jauh.
Sebelum dia bangkit lagi, dia pun sudah ditelikung oleh kakek tinggi besar
brewok itu. Suami isteri ini ditangkap dan ditarik keluar dari halaman rumah.
Sebuah kereta yang ditarik dua ekor kuda datang diiringkan dua lusin perajurit
Wura-Wuri. Melihat banyaknya orang yang menangkap mereka, Ki Dharmaguna dan Nyi
Endang Sawitri maklum bahwa akan percuma saja melakukan perlawanan. Mereka
hendak melihat apa yang selanjutnya yang akan terjadi. Orang-orang itu tadi
mengatakan bahwa kalau mereka ikut dengan orang-orang itu, mereka akan dapat
bertemu dengan Nurseta. Benarkah itu? Ada rahasia apa di balik paksaan untuk
ikut itu? Dan ikut ke mana? Mereka tidak membantah ketika disuruh memasuki
kereta. Kereta lalu bergerak meninggalkan dusun Singojajar. Para penduduk yang
keluar menonton berdiri dengan hormat ketika mengenal bahwa pasukan itu adalah
pasukan Wura-Wuri.
Apakah yang
telah terjadi dengan Pakem, pembantu Ki Dharmaguna yang diutus ke Karang Tirta
itu? Ternyata, setelah gagal menundukkan Nyi Lasmi, bahkan kemudian bekas
selirnya itu dapat dibebaskan Ki Patih Narotama, Ki Suramenggala yang kini
menjadi Tumenggung Wengker masih merasa penasaran sekali. Kebenciannya terhadap
Ki Patih Narotama semakin mendalam.
No comments:
Post a Comment