Dahulu, pengalamannya di Karang Tirta amat menyakitkan hatinya, karena dia merasa dipermalukan dan dihina, diusir dari dusun itu yang menjadi kampung halamannya. Maka, setelah orang-orangnya hanya berhasil membantai Ki Lurah Pujosaputro sekeluarganya dan Nyi Lasmi yang telah berada di tangannya itu akhirnya terlepas, dia tetap menyuruh kaki tangannya mengawasi dan memata-matai Karang Tirta. Maka, ketika Pakem yang menunggang kuda tiba di Karang Tirta, dua orang mata-mata dari Wengker itu mengetahuinya. Mereka mengintai dan melihat betapa pendatang asing itu berkunjung ke rumah Ki Tejomoyo. Mereka menjadi curiga karena Tumenggung Suramenggala sudah menceritakan segala tentang Karang Tirta kepada para anak buahnya itu. Mereka mengetahui bahwa rumah yang ditempati Ki Tejomoyo itu dahulunya merupakan rumah milik Tumenggung Suramenggala yang telah dirampas oleh penduduk Karang Tirta seperti rumah rumahnya yang lain. Dua orang mata-mata ini menjadi curiga dan ketika Pakem meninggalkan dusun Karang Tirta, di tengah jalan dia disergap dan ditangkap oleh kedua orang Wengker itu.
Pakem yang
penduduk dusun itu menjadi ketakutan, apalagi ketika dua orang yang menangkapnya
itu membentak sambil mengancam dengan golok yang ditempelkan pada lehernya.
"Engkau
orang jahat yang hendak mengacau di Karang Tirta! Hayo mengaku siapa engkau dan
dari mana engkau datang!"
Pakem yang
dibawa ke sebuah hutan di luar dusun Karang Tirta gemetar ketakutan.
“Ampun,
Denmas.... saya bukan penjahat...., saya hanya utusan...."
"Kalau
bukan penjahat, cepat katakan siapa engkau, datang dari mana, siapa yang
mengutusmu dan urusan apa yang kaulakukan! Awas, kalau engkau berbohong, golok
ini akan minum darahmu!"
"Ampun,
Denmas.... saya bernama Pakem, tinggal di dusun Singojajar di kaki Gunung
Semeru. Saya bekerja pada Ki Dharmaguna dan Nyi Endang Sawitri, membantu mereka
bertani. Saya diutus suami isteri itu untuk mengunjungi Ki Tejomoyo di dusun
Karang Tirta..."
"Untuk
urusan apa? Hayo katakan, cepat." dua orang itu membentak.
"Saya....
saya disuruh bertanya kepada Ki Tejomoyo tentang anak mereka yang bernama
Nurseta...."
Dua orang
mata-mata itu terkejut. Mereka pernah mendengar nama ini. Nurseta yang kabarnya
merupakan seorang pembela Kahuripan dan merupakan musuh besar Adipati
Linggawijaya dan Sang Tumenggung Suramenggala.
"Hayo
ikut dengan kami!"
"Ampun,
Denmas.... saya mau dibawa ke mana? Saya harus pulang dengan cepat...."
"Plakk!"
Muka Pakem ditampar sehingga dia terpelanting.
"Jangan
banyak cerewet! Ikut saja dengan kami kalau engkau tidak ingin kami sembelih di
sini."
Demikianlah,
Pakem lalu dibawa pergi dua orang mata-mata itu dan dihadapkan Tumenggung
Suramenggaia. Ketika Tumenggung Suramenggala mendengar laporan anak buahnya,
dia cepat melakukan perundingan dengan Adipati Linggawijaya, Dewi Mayangsari,
dan Resi Bajrasakti. Setelah Tumenggung Suramenggala selesai bercerita tentang
ayah ibu Nurseta yang tinggal di dusun Singojajar, Adipati Linggawijaya menepuk
pahanya.
"Ah,
bagus sekali kalau begitu! Kita tangkap orang tua Nurseta dan menggunakan
mereka sebagai sandera dan umpan untuk memancing datangnya Nurseta ke sini.
Kalau dia berani datang untuk menolong Ayah Ibunya, kita habiskan dia di sini.
Dia merupakan penghalang besar bagi usaha kita untuk menghancurkan
Kahuripan!"
"Akan
tetapi kita harus berhati-hati, Kakangmas Adipati." kata Dewi Mayangsarl.
"Dusun Singojajar di kaki Gunung Semeru itu termasuk wilayah Kerajaan
Wura-Wuri. Kebetulan sekali kita sudah mengatur rencana kita. Aku dan Paman
Resi Bajrasakti membawa pasukan pengawal berkunjung ke Wura-Wuri untuk
berunding dengan Adipati Wura-Wuri sedangkan Paduka pergi ke Kadipaten Parang
Siluman dan Kadipaten Siluman Laut Kidul mengajak mereka bersekutu pula. Nah,
aku akan menggunakan kesempatan kepergianku ke Wura-Wuri untuk bersama
kadipaten itu menangkap Ayah Ibu Nurseta."
“Heh-heh, itu
benar sekail!" kata Resi Bajrasakti.
"Dan kita
bawa Si Pakem itu untuk menjadi penunjuk jalan di mana tempat tinggal
Dharmaguna dan Endang Sawitri itu!"
"Dan aku
akan menyebar penyelidik untuk menyelidiki dimana adanya Nyi Lasmi sekarang.
Sedapat mungkin tangkap pula Nyi Lasmi untuk memancing datangnya Puspa
Dewi." kata Tumenggung Suramenggala.
"Memang
sebaiknya begitu dan jangan dilupakan mengirim mata-mata ke Kahuripan untuk
melihat gerak-gerik dan keadaan kerajaan itu." kata Adipati Linggawijaya.
Demikianlah,
perundingan telah membuahkan rencana pembagian tugas. Adipati Linggawijaya akan
mengunjungi Kadipaten Siluman Laut Kidul dan Parang Siluman. Adapun Dewi
Mayangsari dan Resi Bajrasakti membawa dua losin orang perajurit pengawal,
melakukan perjalanan ke Wura-Wuri.
Pakem yang
bernasib sial itu mereka bawa, menunggang kuda di tengah-tengah pasukan
pengawal sehingga sama sekali tidak ada kesempatan baginya untuk melarikan
diri. Kedatangan Dewi Mayangsari dan Resi Bajrasakti disambut dengan gembira
dan penuh hormat oleh Adipati Bhismaprabhawa dan permaisurinya, Nyi Dewi
Durgakumala. Mereka berdua disambut dengan pesta makan minum dan yang ikut
menyambut adalah Tri Kala, yaitu Kala Muka, Kala Manik, dan Kala Teja yang
merupakan senopati-senopati tua dan setia dari Wura-Wuri, juga Ki Gandarwo yang
merupakan senopati muda yang baru, juga diam-diam menjadi kekasih gelap Nyi
Dewi Durgakumala. Ketika Dewi Mayangsari menyatakan keinginannya untuk mengajak
Wura-Wuri bersatu menghadapi Kahuripan, Nyi Dewi Durgakumala mendahului
suaminya berkata dengan gembira.
"Wah,
tentu saja kami sambut baik uluran tangan kerja sama itu. Memang kami sendiri
juga ingin membalas dendam kepada Kahuripan dan kalau kita bersatu padu, tentu
Kahuripan akan dapat kita hancurkan."
"Kami
akan mempersiapkan semua barisan kami!" kata Adipati Bhismaprabhawa yang
memang menjadi musuh bebuyutan Kahuripan.
"Heh-heh-heh,
bagus, bagus! Keadaan kita akan menjadi semakin kuat karena Anakmas Adipati
Linggawijaya juga sedang mengadakan hubungan kerja sama dengan Kadipaten
Siluman Laut Kidul dan Kadipaten Parang Siluman." kata Resi Bajrasakti.
"Selain
itu, kami masih membawa sebuah urusan yang juga amat penting dalam usaha kita
melumpuhkan Kahuripan." kata Dewi Mayangsari.
Ia ialu
menceritakan tentang Pakem yang mereka tawan, tentang Dharmaguna dan Endang
Sawitri, ayah ibu Nurseta yang kini tinggal di daerah Wura-Wuri.
"Andika
semua tentu telah mendengar nama Nurseta sebagai seorang sakti mandraguna yang
setia membela Kahuripan." kata Dewi Mayangsari.
"Karena
itu, kita harus menangkap suami isteri itu, menyandera mereka untuk memaksa
Nurseta datang, lalu kita bunuh dia!"
"Wah,
kami setuju sekalil" kata Nyi Dewi Durgakumala.
"Penangkapan
itu harus segera dilaksanakan sebelum membocor dan mereka melarikan diri!"
Demikianlah,
karena tidak ingin perangkapan itu gagal, Resi Bajrasaktl sendiri, dibantu Ki Gandarwo
yang mewakili Wura-wuri, memimpin dua lusin prajurit Wura-Wuri dan Wengker
pergi ke dusun Singojajar di kaki Gunung Semeru. Rombongan ini membawa Pakem
yang sudah terluka parah karena disiksa sebagai penunjuk jalan. Mula-mula Pakem
yang melihat niat jahat itu, berkeras tidak mau menunjukkan jalan, akan tetapi
dengan kejam Resi Bajrasakti menyiksanya sehingga keadaannya payah sekali.
Kedua tulang lengannya dipatahkan dan dia disiksa sehingga terpaksa dia mau
menjadi penunjuk jalan. Setelah tiba di dusun Singojajar, Pakem dilepas dan
disuruh jalan lebih dulu. Pakem menguatkan dirinya, berjalan setengah merangkak
memasuki halaman rumah Ki Dharmaguna dan seperti telah kita ketahui, setelah
bertemu dengan Ki Dharmaguna dan Nyi Endang Sawitri, Pakem terkulai roboh dan
tewas. Kini Ki Dharmaguna dan Nyi Endang Sawitri ditawan, dipaksa memasuki
kereta dan kereta kini dijalankan keluar dari dusun Singojajar, dikawal dua
lusin orang prajurlt, yang terdiri dari selusin prajurit Wengker yang mengawal
Dewi Mayangsari berkunjung ke Wura-Wuri, dan selusin prajurit Wura-Wuri
sendiri. Suami isteri itu duduk bersanding di dalam kereta. Mereka tidak
dibelenggu, akan tetapi Ki Gandarwo duduk di depan mereka. Laki-laki muda
tampan gagah yang menjadi kekasih gelap Nyi Dewi Durgakumala ini memang seorang
yang berwatak mata keranjang dan sombong. Sebagai adik seperguruan Cekel
Aksomolo, dia memang memiliki ilmu kepandaian yang tinggi. Karena diangkat
menjadi senopati di Wura-Wuri, dia tinggal di sana dan lebih lagi, dia dipilih
Nyi Dewi Durgakumala sebagai kekasih gelapnya. Tentu saja Nyi Durgakumala yang
sejak mudanya menjadi seorang wanita berwatak iblis cabul, tidak puas dengan
suaminya, Adipati Bhismaprabhawa yang usianya sudah lima puluh tahun lebih.
Maka ia mengambil Ki Gandarwo sebagai kekasihnya dan hal ini pun diketahui oleh
Adipati Bhismaprabhawa. Karena sudah mengenal benar siapa permaisuri barunya
itu dan bagaimana wataknya, maka Adipati Wura-Wuri ini pun tidak
mengacuhkannya. Dia memang mengambil Nyi Dewi Durgakumala sebagai permaisurinya
bukan hanya karena wanita itu amat cantik melainkan terutama sekali karena dia
hendak memanfaatkan kesaktian wanita itu untuk memperkuat Kerajaan Wura-Wuri.
Adapun Ki Gandarwo yang baru berusia dua puluh delapan tahun, mau dijadikan kekasih
permaisuri yang usianya sudah lima puluhan tahun hanya karena dia menginginkan
kedudukan di Wura-Wuri. Tentu saja dalam hatinya, Ki Gandarwo tidak merasa puas
dan karena wataknya memang mata keranjang, diam-diam dia selalu mencari wanita
lain yang muda dan memang para wanita Wura-Wuri banyak yang cantik manis. Kini,
duduk berhadapan dengan Nyi Endang Sawitri, timbul gairah berahi Ki Gandarwo.
Biarpun Nyi Endang Sawitri juga tidak muda benar, sudah empat puluh tahun
usianya, akan tetapi ia masih cantik menarik, bahkan dalam pandang mata
laki-laki mata keranjang ini, wanita yang kini duduk dalam kereta berhadapan
dengannya, tampak jauh lebih menarik daripada Nyi Dewi Durgakumala yang sudah
membosankan hatinya. Memang demikianlah segala macam kesenangan, apa saja yang
didapatkan dengan dasar nafsu, cepat atau lambat berakhir dengan kebosanan.
Duduk berhadapan dengan Nyi Endang Sawitri, walaupun wanita itu duduk
bersanding dengan suaminya, tidak membuat Ki Gandarwo merasa rikuh (sungkan).
Dia tersenyum-senyum dan terkadang, kalau wanita itu memandang kepadanya, dia
sengaja mengedipkan sebelah mata sebagai isarat, tanpa memperduiikan bahwa Ki
Dharmaguna juga melihatnya! Nyi Endang Sawitri merasa muak, akan tetapi karena
ia maklum bahwa laki-laki kurang ajar di depannya ini amat digdaya dan ia
bersama suaminya yang lemah sama sekali tidak akan mampu mengalahkannya,
menahan rasa dongkolnya, bahkan ia menutupi perasaannya dan mengalihkan
perhatian dengan bertanya.
"Kisanak,
apakah maksud kalian mengatakan bahwa kalau kami ikut kalian, kami akan dapat
bertemu dengan putera kami Nurseta?"
Mendengar
pertanyaan ini, Ki Gandarwo tersenyum.
"Kalian
ikut saja dan menaati semua perintah kami dan Nurseta pasti akan datang untuk
menemui kalian."
"Tapi....
mengapa pembantu kami, Pakem, kalian bunuh?" Nyi Endang Sawitri bertanya.
"Hemm,
dia tadinya keras kepala, tidak mau menunjukkan di mana kalian tinggal.
Terpaksa kami siksa agar dia mengaku." jawab Ki Gandarwo, sama sekali
tidak merasa malu, bahkan tersenyum bangga menceritakan hal itu. Sambil menahan
kemarahannya, dan untuk tetap mengalihkan perhatiannya, Nyi Endang Sawitri
bertanya lagi.
"Apakah...
apakah kalian ini mengenal anak kami Nurseta?"
"Kenal....,
kenal....!" kata Ki Gandarwo, tersenyum mengejek.
"Sahabat
kalian?"
"Ya,
sahabat baik, ha-ha, . sahabat baik sekali!"
"Tapi....
tapi di mana anak kami Nurseta? Apa dia baik-baik saja?"
"Ha-ha,
dia baik-baik saja, nanti juga kalian akan bertemu dengan dia!"
"Tapi....
siapakah Andika? Siapakah kalian ini?" tanya Nyi Endang Sawitri sambil
mengerutkan alisnya karena Ki Gandarwo membungkuk sehingga wajah laki-laki itu
mendekatinya.
"Mau tahu
aku siapa? Aku adalah Raden Gandarwo, Senopati Muda dari Kerajaan Wura-Wuri!
Kalau kalian ingin selamat dan ingin bertemu Nurseta, kalian harus menaati
semua perintahku. Nah, perintahku yang pertama, Nyi Endang Sawitri, engkau
pindahlah duduk di sini, di sampingku." Sambil berkata demikian, Gandarwo
menjulurkan tangan menangkap pergelangan tangan Endang Sawitri dan menariknya dengan
sentakan kuat. Tubuh wanita itu tertarik dan ia terjatuh ke atas pangkuan
Gandarwo.
"Lepaskan
aku" Endang Sawitri merenggutkan dirinya, namun Gandarwo merangkulnya.
"Jangan
kurang ajar! Lepaskan isteriku " Ki Dharmaguna berkata dan berusaha
menarik isterinya lepas dari rangkulan Gandarwo. Akan tetapi kaki Gandarwo
menendang ke arah laki-laki yang hendak membela isterinya itu.
"Bukk....l"
Ki Dharmaguna terkena tendangan pada dadanya sehingga tubuhnya terlempar keluar
dari dalam kereta yang masih berjalan perlahan.
No comments:
Post a Comment