Nurseta Satria Karangtirta ; Bagian 44


Dahulu, pengalamannya di Karang Tirta amat menyakitkan hatinya, karena dia merasa dipermalukan dan dihina, diusir dari dusun itu yang menjadi kampung halamannya. Maka, setelah orang-orangnya hanya berhasil membantai Ki Lurah Pujosaputro sekeluarganya dan Nyi Lasmi yang telah berada di tangannya itu akhirnya terlepas, dia tetap menyuruh kaki tangannya mengawasi dan memata-matai Karang Tirta. Maka, ketika Pakem yang menunggang kuda tiba di Karang Tirta, dua orang mata-mata dari Wengker itu mengetahuinya. Mereka mengintai dan melihat betapa pendatang asing itu berkunjung ke rumah Ki Tejomoyo. Mereka menjadi curiga karena Tumenggung Suramenggala sudah menceritakan segala tentang Karang Tirta kepada para anak buahnya itu. Mereka mengetahui bahwa rumah yang ditempati Ki Tejomoyo itu dahulunya merupakan rumah milik Tumenggung Suramenggala yang telah dirampas oleh penduduk Karang Tirta seperti rumah rumahnya yang lain. Dua orang mata-mata ini menjadi curiga dan ketika Pakem meninggalkan dusun Karang Tirta, di tengah jalan dia disergap dan ditangkap oleh kedua orang Wengker itu.
Pakem yang penduduk dusun itu menjadi ketakutan, apalagi ketika dua orang yang menangkapnya itu membentak sambil mengancam dengan golok yang ditempelkan pada lehernya.
"Engkau orang jahat yang hendak mengacau di Karang Tirta! Hayo mengaku siapa engkau dan dari mana engkau datang!"
Pakem yang dibawa ke sebuah hutan di luar dusun Karang Tirta gemetar ketakutan.
“Ampun, Denmas.... saya bukan penjahat...., saya hanya utusan...."
"Kalau bukan penjahat, cepat katakan siapa engkau, datang dari mana, siapa yang mengutusmu dan urusan apa yang kaulakukan! Awas, kalau engkau berbohong, golok ini akan minum darahmu!"
"Ampun, Denmas.... saya bernama Pakem, tinggal di dusun Singojajar di kaki Gunung Semeru. Saya bekerja pada Ki Dharmaguna dan Nyi Endang Sawitri, membantu mereka bertani. Saya diutus suami isteri itu untuk mengunjungi Ki Tejomoyo di dusun Karang Tirta..."
"Untuk urusan apa? Hayo katakan, cepat." dua orang itu membentak.
"Saya.... saya disuruh bertanya kepada Ki Tejomoyo tentang anak mereka yang bernama Nurseta...."
Dua orang mata-mata itu terkejut. Mereka pernah mendengar nama ini. Nurseta yang kabarnya merupakan seorang pembela Kahuripan dan merupakan musuh besar Adipati Linggawijaya dan Sang Tumenggung Suramenggala.
"Hayo ikut dengan kami!"
"Ampun, Denmas.... saya mau dibawa ke mana? Saya harus pulang dengan cepat...."
"Plakk!" Muka Pakem ditampar sehingga dia terpelanting.
"Jangan banyak cerewet! Ikut saja dengan kami kalau engkau tidak ingin kami sembelih di sini."

Demikianlah, Pakem lalu dibawa pergi dua orang mata-mata itu dan dihadapkan Tumenggung Suramenggaia. Ketika Tumenggung Suramenggala mendengar laporan anak buahnya, dia cepat melakukan perundingan dengan Adipati Linggawijaya, Dewi Mayangsari, dan Resi Bajrasakti. Setelah Tumenggung Suramenggala selesai bercerita tentang ayah ibu Nurseta yang tinggal di dusun Singojajar, Adipati Linggawijaya menepuk pahanya.
"Ah, bagus sekali kalau begitu! Kita tangkap orang tua Nurseta dan menggunakan mereka sebagai sandera dan umpan untuk memancing datangnya Nurseta ke sini. Kalau dia berani datang untuk menolong Ayah Ibunya, kita habiskan dia di sini. Dia merupakan penghalang besar bagi usaha kita untuk menghancurkan Kahuripan!"
"Akan tetapi kita harus berhati-hati, Kakangmas Adipati." kata Dewi Mayangsarl. "Dusun Singojajar di kaki Gunung Semeru itu termasuk wilayah Kerajaan Wura-Wuri. Kebetulan sekali kita sudah mengatur rencana kita. Aku dan Paman Resi Bajrasakti membawa pasukan pengawal berkunjung ke Wura-Wuri untuk berunding dengan Adipati Wura-Wuri sedangkan Paduka pergi ke Kadipaten Parang Siluman dan Kadipaten Siluman Laut Kidul mengajak mereka bersekutu pula. Nah, aku akan menggunakan kesempatan kepergianku ke Wura-Wuri untuk bersama kadipaten itu menangkap Ayah Ibu Nurseta."
“Heh-heh, itu benar sekail!" kata Resi Bajrasakti.
"Dan kita bawa Si Pakem itu untuk menjadi penunjuk jalan di mana tempat tinggal Dharmaguna dan Endang Sawitri itu!"
"Dan aku akan menyebar penyelidik untuk menyelidiki dimana adanya Nyi Lasmi sekarang. Sedapat mungkin tangkap pula Nyi Lasmi untuk memancing datangnya Puspa Dewi." kata Tumenggung Suramenggala.
"Memang sebaiknya begitu dan jangan dilupakan mengirim mata-mata ke Kahuripan untuk melihat gerak-gerik dan keadaan kerajaan itu." kata Adipati Linggawijaya.

Demikianlah, perundingan telah membuahkan rencana pembagian tugas. Adipati Linggawijaya akan mengunjungi Kadipaten Siluman Laut Kidul dan Parang Siluman. Adapun Dewi Mayangsari dan Resi Bajrasakti membawa dua losin orang perajurit pengawal, melakukan perjalanan ke Wura-Wuri.
Pakem yang bernasib sial itu mereka bawa, menunggang kuda di tengah-tengah pasukan pengawal sehingga sama sekali tidak ada kesempatan baginya untuk melarikan diri. Kedatangan Dewi Mayangsari dan Resi Bajrasakti disambut dengan gembira dan penuh hormat oleh Adipati Bhismaprabhawa dan permaisurinya, Nyi Dewi Durgakumala. Mereka berdua disambut dengan pesta makan minum dan yang ikut menyambut adalah Tri Kala, yaitu Kala Muka, Kala Manik, dan Kala Teja yang merupakan senopati-senopati tua dan setia dari Wura-Wuri, juga Ki Gandarwo yang merupakan senopati muda yang baru, juga diam-diam menjadi kekasih gelap Nyi Dewi Durgakumala. Ketika Dewi Mayangsari menyatakan keinginannya untuk mengajak Wura-Wuri bersatu menghadapi Kahuripan, Nyi Dewi Durgakumala mendahului suaminya berkata dengan gembira.
"Wah, tentu saja kami sambut baik uluran tangan kerja sama itu. Memang kami sendiri juga ingin membalas dendam kepada Kahuripan dan kalau kita bersatu padu, tentu Kahuripan akan dapat kita hancurkan."
"Kami akan mempersiapkan semua barisan kami!" kata Adipati Bhismaprabhawa yang memang menjadi musuh bebuyutan Kahuripan.
"Heh-heh-heh, bagus, bagus! Keadaan kita akan menjadi semakin kuat karena Anakmas Adipati Linggawijaya juga sedang mengadakan hubungan kerja sama dengan Kadipaten Siluman Laut Kidul dan Kadipaten Parang Siluman." kata Resi Bajrasakti.
"Selain itu, kami masih membawa sebuah urusan yang juga amat penting dalam usaha kita melumpuhkan Kahuripan." kata Dewi Mayangsari.
Ia ialu menceritakan tentang Pakem yang mereka tawan, tentang Dharmaguna dan Endang Sawitri, ayah ibu Nurseta yang kini tinggal di daerah Wura-Wuri.
"Andika semua tentu telah mendengar nama Nurseta sebagai seorang sakti mandraguna yang setia membela Kahuripan." kata Dewi Mayangsari.
"Karena itu, kita harus menangkap suami isteri itu, menyandera mereka untuk memaksa Nurseta datang, lalu kita bunuh dia!"
"Wah, kami setuju sekalil" kata Nyi Dewi Durgakumala.
"Penangkapan itu harus segera dilaksanakan sebelum membocor dan mereka melarikan diri!"

Demikianlah, karena tidak ingin perangkapan itu gagal, Resi Bajrasaktl sendiri, dibantu Ki Gandarwo yang mewakili Wura-wuri, memimpin dua lusin prajurit Wura-Wuri dan Wengker pergi ke dusun Singojajar di kaki Gunung Semeru. Rombongan ini membawa Pakem yang sudah terluka parah karena disiksa sebagai penunjuk jalan. Mula-mula Pakem yang melihat niat jahat itu, berkeras tidak mau menunjukkan jalan, akan tetapi dengan kejam Resi Bajrasakti menyiksanya sehingga keadaannya payah sekali. Kedua tulang lengannya dipatahkan dan dia disiksa sehingga terpaksa dia mau menjadi penunjuk jalan. Setelah tiba di dusun Singojajar, Pakem dilepas dan disuruh jalan lebih dulu. Pakem menguatkan dirinya, berjalan setengah merangkak memasuki halaman rumah Ki Dharmaguna dan seperti telah kita ketahui, setelah bertemu dengan Ki Dharmaguna dan Nyi Endang Sawitri, Pakem terkulai roboh dan tewas. Kini Ki Dharmaguna dan Nyi Endang Sawitri ditawan, dipaksa memasuki kereta dan kereta kini dijalankan keluar dari dusun Singojajar, dikawal dua lusin orang prajurlt, yang terdiri dari selusin prajurit Wengker yang mengawal Dewi Mayangsari berkunjung ke Wura-Wuri, dan selusin prajurit Wura-Wuri sendiri. Suami isteri itu duduk bersanding di dalam kereta. Mereka tidak dibelenggu, akan tetapi Ki Gandarwo duduk di depan mereka. Laki-laki muda tampan gagah yang menjadi kekasih gelap Nyi Dewi Durgakumala ini memang seorang yang berwatak mata keranjang dan sombong. Sebagai adik seperguruan Cekel Aksomolo, dia memang memiliki ilmu kepandaian yang tinggi. Karena diangkat menjadi senopati di Wura-Wuri, dia tinggal di sana dan lebih lagi, dia dipilih Nyi Dewi Durgakumala sebagai kekasih gelapnya. Tentu saja Nyi Durgakumala yang sejak mudanya menjadi seorang wanita berwatak iblis cabul, tidak puas dengan suaminya, Adipati Bhismaprabhawa yang usianya sudah lima puluh tahun lebih. Maka ia mengambil Ki Gandarwo sebagai kekasihnya dan hal ini pun diketahui oleh Adipati Bhismaprabhawa. Karena sudah mengenal benar siapa permaisuri barunya itu dan bagaimana wataknya, maka Adipati Wura-Wuri ini pun tidak mengacuhkannya. Dia memang mengambil Nyi Dewi Durgakumala sebagai permaisurinya bukan hanya karena wanita itu amat cantik melainkan terutama sekali karena dia hendak memanfaatkan kesaktian wanita itu untuk memperkuat Kerajaan Wura-Wuri. Adapun Ki Gandarwo yang baru berusia dua puluh delapan tahun, mau dijadikan kekasih permaisuri yang usianya sudah lima puluhan tahun hanya karena dia menginginkan kedudukan di Wura-Wuri. Tentu saja dalam hatinya, Ki Gandarwo tidak merasa puas dan karena wataknya memang mata keranjang, diam-diam dia selalu mencari wanita lain yang muda dan memang para wanita Wura-Wuri banyak yang cantik manis. Kini, duduk berhadapan dengan Nyi Endang Sawitri, timbul gairah berahi Ki Gandarwo. Biarpun Nyi Endang Sawitri juga tidak muda benar, sudah empat puluh tahun usianya, akan tetapi ia masih cantik menarik, bahkan dalam pandang mata laki-laki mata keranjang ini, wanita yang kini duduk dalam kereta berhadapan dengannya, tampak jauh lebih menarik daripada Nyi Dewi Durgakumala yang sudah membosankan hatinya. Memang demikianlah segala macam kesenangan, apa saja yang didapatkan dengan dasar nafsu, cepat atau lambat berakhir dengan kebosanan. Duduk berhadapan dengan Nyi Endang Sawitri, walaupun wanita itu duduk bersanding dengan suaminya, tidak membuat Ki Gandarwo merasa rikuh (sungkan). Dia tersenyum-senyum dan terkadang, kalau wanita itu memandang kepadanya, dia sengaja mengedipkan sebelah mata sebagai isarat, tanpa memperduiikan bahwa Ki Dharmaguna juga melihatnya! Nyi Endang Sawitri merasa muak, akan tetapi karena ia maklum bahwa laki-laki kurang ajar di depannya ini amat digdaya dan ia bersama suaminya yang lemah sama sekali tidak akan mampu mengalahkannya, menahan rasa dongkolnya, bahkan ia menutupi perasaannya dan mengalihkan perhatian dengan bertanya.
"Kisanak, apakah maksud kalian mengatakan bahwa kalau kami ikut kalian, kami akan dapat bertemu dengan putera kami Nurseta?"
Mendengar pertanyaan ini, Ki Gandarwo tersenyum.
"Kalian ikut saja dan menaati semua perintah kami dan Nurseta pasti akan datang untuk menemui kalian."
"Tapi.... mengapa pembantu kami, Pakem, kalian bunuh?" Nyi Endang Sawitri bertanya.
"Hemm, dia tadinya keras kepala, tidak mau menunjukkan di mana kalian tinggal. Terpaksa kami siksa agar dia mengaku." jawab Ki Gandarwo, sama sekali tidak merasa malu, bahkan tersenyum bangga menceritakan hal itu. Sambil menahan kemarahannya, dan untuk tetap mengalihkan perhatiannya, Nyi Endang Sawitri bertanya lagi.
"Apakah... apakah kalian ini mengenal anak kami Nurseta?"
"Kenal...., kenal....!" kata Ki Gandarwo, tersenyum mengejek.
"Sahabat kalian?"
"Ya, sahabat baik, ha-ha, . sahabat baik sekali!"
"Tapi.... tapi di mana anak kami Nurseta? Apa dia baik-baik saja?"
"Ha-ha, dia baik-baik saja, nanti juga kalian akan bertemu dengan dia!"
"Tapi.... siapakah Andika? Siapakah kalian ini?" tanya Nyi Endang Sawitri sambil mengerutkan alisnya karena Ki Gandarwo membungkuk sehingga wajah laki-laki itu mendekatinya.
"Mau tahu aku siapa? Aku adalah Raden Gandarwo, Senopati Muda dari Kerajaan Wura-Wuri! Kalau kalian ingin selamat dan ingin bertemu Nurseta, kalian harus menaati semua perintahku. Nah, perintahku yang pertama, Nyi Endang Sawitri, engkau pindahlah duduk di sini, di sampingku." Sambil berkata demikian, Gandarwo menjulurkan tangan menangkap pergelangan tangan Endang Sawitri dan menariknya dengan sentakan kuat. Tubuh wanita itu tertarik dan ia terjatuh ke atas pangkuan Gandarwo.
"Lepaskan aku" Endang Sawitri merenggutkan dirinya, namun Gandarwo merangkulnya.
"Jangan kurang ajar! Lepaskan isteriku " Ki Dharmaguna berkata dan berusaha menarik isterinya lepas dari rangkulan Gandarwo. Akan tetapi kaki Gandarwo menendang ke arah laki-laki yang hendak membela isterinya itu.
"Bukk....l" Ki Dharmaguna terkena tendangan pada dadanya sehingga tubuhnya terlempar keluar dari dalam kereta yang masih berjalan perlahan.

<<< Bagian 43                                                                                         Bagian 45 >>>

No comments:

Post a Comment