"Kakangmas....!" Endang Sawitri menjerit dan meronta dengan sekuatnya sehingga terlepas dari rangkulan Gandarwo. Ia segera melompat keluar dari dalam kereta, lalu membantu suaminya bangkit berdiri. Dharmaguna tidak terluka parah, hanya lecet-lecet karena terjatuh keluar kereta dan mukanya menyeringai karena perutnya terasa nyeri oleh tendangan tadi.
Kereta
dihentikan dan rombongan itu menahan kuda mereka ketika melihat dua orang suami
isteri itu keluar dari kereta. Ki Gandarwo marah sekali. Dia yang bertugas
menjaga suami isteri itu di dalam kereta, tentu saja merasa malu kepada para
prajurit, terutama kepada Resi Bajrasakti, karena suami isteri itu keluar dari
kereta seolah dia tidak mampu menahan mereka. Dia pun melompat keluar
menghampiri Ki Dharmaguna yang bangkit dibantu isterinya. Melihat Gandarwo
menghampiri mereka, Nyi Endang Sawitri yang mengira suaminya akan diganggu,
menyambut dengan serangan nekat!
Akan tetapi,
pukulan tangan wanita itu ditangkis dan pertemuan kedua tangan itu membuat Nyi
Endang Sawitri yang jauh kalah kuat itu terpelanting. Pada saat itu, Ki
Dharmaguna cepat menghampiri isterinya untuk menolongnya, akan tetapi Gandarwo yang
sudah marah sekali, maju dan menampar dengan tangannya ke arah kepala
Dharmaguna.
"Plakk!"
Tangan Gandarwo yang menampar itu bertemu dengan tangan Resi Bajrasakti yang
menangkisnya.
"Anakmas
Gandarwo, apakah Andika hendak merusak rencana kita? Suami isteri ini harus
ditawan, bukan dibunuh!"
Resi
Bajrasakti menegur dan Gandarwo menyadari kesalahannya yang tadi terdorong oleh
kemarahan. Gandarwo mengangguk dengan muka berubah merah.
"Saya
mengerti, Paman. Saya tidak ingin membunuhnya, hanya memberi hajaran agar
mereka jangan banyak tingkah!"
Tiba-tiba
berkelebat sesosok bayangan dan tahu-tahu seorang gadis cantik telah berdiri
menghalang di depan Gandarwo yang agaknya hendak memberi "hajaran"
kepada suami isteri itu.
"Gandarwo
keparat busuk! Di mana-mana engkau menyebar kejahatan!" bentak gadis itu.
“Puspa
Dewi....!" Gandarwo terkejut dan wajahnya berubah pucat karena gentar.
Akan tetapi hanya sebentar karena dia ingat bahwa dia ditemani Resi Bajrasaktl
dan dua lusin orang prajurit pengawal sehingga keberanian dan kesombongannya
muncul dengan cepat, membuat mukanya menjadi merah karena marah. Tanpa banyak
cakap lagi dia menerjang maju, tangan kanannya yang disaluri tenaga sakti
sepenuhnya menampar ke arah kepala Puspa Dewil Puspa Dewi sudah tahu akan kekuatan
Gandarwo. Senopati Muda Wura-Wuri ini pernah mengeroyoknya bersama Cekel
Aksomolo dan tiga orang senopati Wura-Wuri lain, yaitu Tri Kala. Maka, melihat
serangan tangan Gandarwo yang menamparnya, ia menangkis dan sekaligus
mendorong.
"Wuuuuttt....
desss....!" Tubuh Gandarwo terlempar ke belakang sekitar dua tombak dan
jatuh terjengkang, terbanting ke atas tanah sampai terdengar suara berdebuk dan
debu mengebul. Dia bangkit duduk sambil mengelus pantatnya dan meringis
kesakitan, malu, dan marah. Resi Bajrasakti melompat ke depan dan berhadapan
dengan Puspa Dewi.
"Heh-heh-heh!"
Kakek tinggi besar itu terkekeh sambil menatap wajah Puspa Dewi.
"Kiranya
Andika. Bukankah Andika ini Puspa Dewi, Sekar Kedaton Wura-Wuri, murid dan anak
angkat Nyi Dewi Durgakumala permaisuri Wura-Wuri? Andika yang mengkhianati
Wura-Wuri dan berbalik membantu keturunan Mataram, Kerajaan Kahuripan yang
dipimpin Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama?"
"Resi
Bajrasakti, ternyata sejak dulu sampai sekarang Andika tetap menjadi seorang
datuk sesat yang jahat. Dulu Andika pernah menculik aku, dan sekarang Andika
menculik Paman dan Bibi ini. Dari dulu sampai sekarang Andika tukang menculik
orang, betapa rendahnya perbuatanmu. Aku bukan Sekar Kedaton Wura-Wuri, juga
bukan anak Dewi Durgakumala yang pernah menjadi guruku. Karena melihat
Wura-Wuri dan sekutunya semua jahat dan angkara-murka, maka aku tidak sudi
membantu. Aku lebih suka membela Kahuripan, karena aku kawula Kahuripan dan
lebih suka membantu Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama yang
bijaksana."
Selagi Resi
Bajrasakti dan Puspa Dewi bicara, diam-diam Gandarwo menyuruh seorang prajurit
untuk cepat pergi mencari bala bantuan dan empat orang lain yang memiliki
kedigdayaan cukup, dia suruh menyergap dan menangkap Dharmaguna dan Endang
Sawitri. Kemudian, sambil mencabut pedangnya dan memberi aba-aba kepada
sembilan belas prajurit yang lain dia berseru nyaring.
"Bunuh
pengkhianat Wura-Wuri ini”
Akan tetapi
Resi Bajrasakti mempunyai pendapat lain. Kalau dia dapat menangkap hidup-hidup
gadis ini dan menyerahkannya kepada Nyi Dewi Durgakumala, tentu permaisuri
Wura-Wuri itu akan senang sekali dan berterima kasih sehingga hal ini akan
mempererat hubungan antara Wura-Wuri dan Wengker.
"Anakmas
Gandarwo, jangan bunuh Puspa Dewi. Kita memerlukan ia hidup-hidup!"
katanya dengan suara yang berpengaruh.
Mendengar
bentakan Itu, Ki Gandarwo teringat bahwa Puspa Dewi adalah murid dan anak
angkat Permaisuri Dewi Durgakumala yang telah memberontak terhadap Wura-Wuri,
maka kalau dapat menangkapnya hidup-hidup dan menyeretnya ke depan kaki
permaisuri itu, tentu akan menyenangkan hatinya. Biar permaisuri sendiri yang
akan menghukum gadis pengkhianat ini. Maka dia pun memberi aba-aba baru.
“Tangkap
pengkhianat ini hidup-hidup!"
Resi
Bajrasakti mulai dengan serangan yang mengandung kekuatan sihir. Dia membentak
dan bentakan ini menggelegar, mengandung getaran yang amat kuat, yang khusus
ditujukan kepada Puspa Dewi. Datuk Wengker yang sakti mandraguna ini agaknya
memandang rendah kepada Puspa Dewi karena menganggap bahwa gadis itu hanya
murid Nyi Dewi Durgakumala. Kalau gurunya hanya setingkat dengan dia, maka
muridnya tentulah merupakan lawan yang lunak, begitu pikirnya maka ia menyerang
dengan kekuatan sihirnya untuk melumpuhkan lawan.
"Puspa
Dewi, menyerah dan berlututlah engkau!"
Akan tetapi
Resi Bajrasakti salah perhitungan. Nyi Dewi Durgakumaja telah menurunkan
seluruh ilmunya kepada Puspa Dewi yang amat disayangnya dan karena Puspa Dewi
berbadan bersih tidak seperti Nyi Dewi Durgakumala yang menjadi hamba nafsunya
sendiri, juga karena Puspa Dewi jauh lebih muda. Karena itu, tidaklah
mengherankan apabila setelah tamat belajar dari Nyi Dewi Durgakumala, tingkat
gadis itu sudah melebihi tingkat gurunya. Apalagi ia bertemu dengan Sang Maha
Resi Satyadharma dan digembleng oleh guru Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih
Narotama ini selama tiga bulan. Tentu saja tingkat kepandaian gadis itu sudah
melonjak tinggi, jauh melampaui tingkat Nyi Dewi Durgakumala. Sebelum
digembleng Maha Resi Satyadharma ia telah memiliki kekuatan sihir dari ajaran
Nyi Dewi Durgakumala yang dapat menandingi kekuatan sihir Resi Bajrasakti. Maha
Resi Satyadharma sama sekali tidak mengajarkan jlmu sihir yang dianggap ilmu
yang berbahaya dan condong menyeret pemiliknya ke arah perbuatan jahat. Dia
hanya memberi pelajaran menghimpun tenaga sakti yang datang sebagai anugerah
Sang Hyang Widhi dan kekuatan ini mampu menghalau segala macam kekuatan sihir
yang menyerangnya. Karena itu, ketika Resi Bajrasakti menyerangnya dengan
sihir, Puspa Dewi sama sekali tidak terpengaruh. Gelombang kekuatan sihir yang
menerpanya itu tidak lebih dari angin semilir lalu saja.
Melihat
serangan dengan sihir itu tidak mempengaruhi Puspa Dewi, Resi Bajrasakti
menjadi penasaran. Dia lalu mengerahkan Aji Panglimutan. Dengan pengerahan aji
kesaktian ini, biasanya dia dapat menghilang, atau tidak tampak oleh lawan
sehingga dia akan dapat dengan mudah meringkus gadis itu. Setelah mengerahkan
Aji Panglimutan, Resi Bajrasakti lalu menubruk dan hendak meringkus tubuh Puspa
Dewi. Akan tetapi Puspa Dewi menggerakkan tangannya, menampar kakek yang maju
hendak meringkusnya itu. Ternyata Aji Panglimutan itu pun tidak dapat
mempengaruhinya dan ia tetap dapat melihat lawan yang hendak meringkusnya itu,
maka ia menyambut dengan tamparan. Resi Bajrasakti terkejut dan cepat dia
menggerakkan tangan menangkis tamparan yang mendatangkan angin pukulan dahsyat
itu.
"Wuuuttt....
dukkk!" Tubuh Resi Bajrasakti terhuyung karena ketika lengan mereka
beradu, dia merasa betapa kuatnya tenaga yang keluar dari tangan gadis itu!
Melihat betapa
Resi Bajrasakti terhuyung, Ki Gandarwo berseru kepada sembilan belas orang
perajurit.
"Kepung,
tangkap gadis ini!"
Puspa Dewi
dikeroyok. Tangan-tangan yang besar berbulu itu seolah berlomba untuk menangkap
dan meringkusnya. Puspa Dewi menggerakkan kaki tangannya dengan cepat sekali.
Tubuhnya berkelebatan seolah berubah menjadi bayang-bayang dan ke manapun kaki
atau tangannya mencuat, tentu seorang pengeroyok telah dapat ia robohkan.
Teriakan demi teriakan terdengar disusul tubuh para pengeroyok berpelantingan.
Biarpun Puspa Dewi tidak memberi pukulan maut kepada mereka, namun mereka
menderita patah tulang dan juga kehilangan nyali, tidak berani lagi berdiri dan
hanya mendekam dan merintih memegangi bagian tubuh yang terkena tamparan atau
tendangan yang dahsyat, bagaikan petir menyambar. Dalam waktu singkat delapan
orang prajurit telah roboh dan sisanya yang sebelas orang menjadi jerih untuk
mendekati gadis sakti mandraguna itu.
Pada saat itu
prajurit yang diutus Gandarwo mencari balabantuan sudah pergi jauh dan empat
orang prajurit yang diutus "mengamankan" Ki Dharmaguna dan Nyi Endang
Sawitri sudah cepat turun tangan meringkus suami isteri itu. Percuma saja Nyi
Endang Sawitri melawan. Ia tidak dapat menandingi empat orang perajurit yang
rata-rata memiliki tenaga kuat itu dan sebentar saja suami isteri itu telah
dapat diringkus, dinaikkan kereta yang segera dilarikan cepat meninggalkan
tempat itu.
Puspa Dewi
yang sedang dikepung dan dikeroyok banyak orang tidak melihat hal ini. Pula, ia
memang tidak mengenal suami isteri itu. Kalau tadi ia turun tangan, adalah
karena melihat suami isteri itu diperlakukan kasar. Ketika Ki Dharmaguna dan
Nyi Endang Sawitri tinggal di Karang Tirta, ia sendiri masih kecil. Bahkan
ketika suami isteri itu diam-diam meninggalkan Karang Tirta, ia baru berusia
sekitar enam atau tujuh tahun, sehingga tentu saja ia tidak mengenal suami
isteri itu.
Sementara itu,
Resi Bajrasakti dan Ki Gandarwo terkejut bukan main melihat betapa sebagian
anak buah mereka berpelantingan dihajar tendangan dan tamparan gadis perkasa
itu. Merasa bahwa sekarang malah pihak mereka yang terancam bahaya, Resi
Bajrasakti lalu berseru,
"Pergunakan
senjata! Bunuh gadis ini!" Dia sendiri sudah mencabut senjatanya yang
istimewa, yaitu sebatang cambuk bergagang gading.
"Tar-tar-tarr....ll"
Resi Bajrasakti memutar-mutar cambuk itu di atas kepalanya dan terdengar bunyi
ledakan-ledakan ketika ujung cambuk itu melecut-lecut dan mengeluarkan asap.
Melihat
rekannya sudah mengeluarkan senjata, Ki Gandarwo juga mencabut pedangnya.
Demikian pula, sisa prajurit yang masih ada sebelas orang itu mencabut senjata
golok mereka dan mengepung Puspa Dewi.
Puspa Dewi
maklum bahwa kini ia menghadapi lawan yang cukup berat. Kalau berkelahi dengan
mereka hanya menggunakan tangan kosong, ia masih, dapat mengandaikan kecepatan
gerakan dan kekuatan tenaga saktinya. Akan tetapi semua orang itu memegang
senjata, apalagi Resi Bajrasakti amat berbahaya dengan cambuknya dan Ki
Gandarwo juga bukan lawan ringan kalau sudah menggunakan pedangnya. Untuk dapat
menjaga dan membela diri dengan baik, Puspa Dewi lalu menggerakkan tangannya ke
arah punggung dan begitu ia mencabut, tampak sinar hitam dari pedang pusakanya
Cadrasa Langking, pemberian guru pertamanya yang juga merupakan ibu angkatnya,
yaitu Nyi Dewi Durgakumala. Kini terjadilah perkelahian hebat. Setelah mereka
semua memegang golok, sebelas orang perajurit pengawal itu menjadi berani dan
mereka mengepung dan menyerang Puspa Dewi secara bertubi-tubi dengan cara
menyerang lalu melompat menjauh. Yang bertanding dengan seru melawan Puspa Dewi
adalah Resi Bajrasakti dan Ki Gandarwo. Resi Bajrasakti sekarang baru menyadari
bahwa Puspa Dewi telah menjadi seorang wanita muda yang luar biasa, sakti
mandraguna dan pemberani. Karena sekarang dia melihat betapa gadis ini harus
dirobohkan kalau terpaksa dibunuh, maka selain menggunakan cambuknya untuk
menyerang, dia juga mempergunakan berbagai aji kesaktiannya untuk merobohkan
gadis yang amat tangguh itu. Mula-mula dia menyelingi serangan cambuknya dengan
menyambitkan senjata rahasia pasir sakti Bramara Sewu. Pasir itu seolah berubah
menjadi sekawanan lebah yang menyerang seluruh tubuh bagian depan Puspa Dewi.
Akan tetapi, pedang Candrasa Langlang yang membentuk perisai gulungan sinar
hitam meruntuhkan semua pasir sakti itu. Melihat serangan pasir saktinya gagal,
berturut-turut Resi Bajrasakti mengerah-kan berbagal aji pukulannya yang ampuh.
Dengan tangan kirinya dia menyelingi sambaran cambuknya dengan Aji Wisa
Langking. Tangannya mengeluarkan hawa pukulan yang mengandung racun hitam,
namun uap hitam yang menyambar ke arah Puspa Dewi itu ambyar (pecah berantakan)
ketika disambar hawa pukulan tangan kiri Puspa Dewi. Berturut-turut Resi
Bajrasakti menyerang dengan Aji Pukulan Gelap Sewu dan Sihung Naga, namun semua
itu tidak berhasil karena dapat dihadang oleh dorongan tangan kiri Puspa Dewi
yang mengandung Aji Guntur Geni yang sudah dipoles gemblengan Maha Resi
Satyadharma.
No comments:
Post a Comment