Nurseta Satria Karangtirta ; Bagian 45


"Kakangmas....!" Endang Sawitri menjerit dan meronta dengan sekuatnya sehingga terlepas dari rangkulan Gandarwo. Ia segera melompat keluar dari dalam kereta, lalu membantu suaminya bangkit berdiri. Dharmaguna tidak terluka parah, hanya lecet-lecet karena terjatuh keluar kereta dan mukanya menyeringai karena perutnya terasa nyeri oleh tendangan tadi.

Kereta dihentikan dan rombongan itu menahan kuda mereka ketika melihat dua orang suami isteri itu keluar dari kereta. Ki Gandarwo marah sekali. Dia yang bertugas menjaga suami isteri itu di dalam kereta, tentu saja merasa malu kepada para prajurit, terutama kepada Resi Bajrasakti, karena suami isteri itu keluar dari kereta seolah dia tidak mampu menahan mereka. Dia pun melompat keluar menghampiri Ki Dharmaguna yang bangkit dibantu isterinya. Melihat Gandarwo menghampiri mereka, Nyi Endang Sawitri yang mengira suaminya akan diganggu, menyambut dengan serangan nekat!
Akan tetapi, pukulan tangan wanita itu ditangkis dan pertemuan kedua tangan itu membuat Nyi Endang Sawitri yang jauh kalah kuat itu terpelanting. Pada saat itu, Ki Dharmaguna cepat menghampiri isterinya untuk menolongnya, akan tetapi Gandarwo yang sudah marah sekali, maju dan menampar dengan tangannya ke arah kepala Dharmaguna.
"Plakk!" Tangan Gandarwo yang menampar itu bertemu dengan tangan Resi Bajrasakti yang menangkisnya.
"Anakmas Gandarwo, apakah Andika hendak merusak rencana kita? Suami isteri ini harus ditawan, bukan dibunuh!"
Resi Bajrasakti menegur dan Gandarwo menyadari kesalahannya yang tadi terdorong oleh kemarahan. Gandarwo mengangguk dengan muka berubah merah.
"Saya mengerti, Paman. Saya tidak ingin membunuhnya, hanya memberi hajaran agar mereka jangan banyak tingkah!"
Tiba-tiba berkelebat sesosok bayangan dan tahu-tahu seorang gadis cantik telah berdiri menghalang di depan Gandarwo yang agaknya hendak memberi "hajaran" kepada suami isteri itu.
"Gandarwo keparat busuk! Di mana-mana engkau menyebar kejahatan!" bentak gadis itu.
“Puspa Dewi....!" Gandarwo terkejut dan wajahnya berubah pucat karena gentar. Akan tetapi hanya sebentar karena dia ingat bahwa dia ditemani Resi Bajrasaktl dan dua lusin orang prajurit pengawal sehingga keberanian dan kesombongannya muncul dengan cepat, membuat mukanya menjadi merah karena marah. Tanpa banyak cakap lagi dia menerjang maju, tangan kanannya yang disaluri tenaga sakti sepenuhnya menampar ke arah kepala Puspa Dewil Puspa Dewi sudah tahu akan kekuatan Gandarwo. Senopati Muda Wura-Wuri ini pernah mengeroyoknya bersama Cekel Aksomolo dan tiga orang senopati Wura-Wuri lain, yaitu Tri Kala. Maka, melihat serangan tangan Gandarwo yang menamparnya, ia menangkis dan sekaligus mendorong.
"Wuuuuttt.... desss....!" Tubuh Gandarwo terlempar ke belakang sekitar dua tombak dan jatuh terjengkang, terbanting ke atas tanah sampai terdengar suara berdebuk dan debu mengebul. Dia bangkit duduk sambil mengelus pantatnya dan meringis kesakitan, malu, dan marah. Resi Bajrasakti melompat ke depan dan berhadapan dengan Puspa Dewi.
"Heh-heh-heh!" Kakek tinggi besar itu terkekeh sambil menatap wajah Puspa Dewi.
"Kiranya Andika. Bukankah Andika ini Puspa Dewi, Sekar Kedaton Wura-Wuri, murid dan anak angkat Nyi Dewi Durgakumala permaisuri Wura-Wuri? Andika yang mengkhianati Wura-Wuri dan berbalik membantu keturunan Mataram, Kerajaan Kahuripan yang dipimpin Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama?"
"Resi Bajrasakti, ternyata sejak dulu sampai sekarang Andika tetap menjadi seorang datuk sesat yang jahat. Dulu Andika pernah menculik aku, dan sekarang Andika menculik Paman dan Bibi ini. Dari dulu sampai sekarang Andika tukang menculik orang, betapa rendahnya perbuatanmu. Aku bukan Sekar Kedaton Wura-Wuri, juga bukan anak Dewi Durgakumala yang pernah menjadi guruku. Karena melihat Wura-Wuri dan sekutunya semua jahat dan angkara-murka, maka aku tidak sudi membantu. Aku lebih suka membela Kahuripan, karena aku kawula Kahuripan dan lebih suka membantu Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama yang bijaksana."

Selagi Resi Bajrasakti dan Puspa Dewi bicara, diam-diam Gandarwo menyuruh seorang prajurit untuk cepat pergi mencari bala bantuan dan empat orang lain yang memiliki kedigdayaan cukup, dia suruh menyergap dan menangkap Dharmaguna dan Endang Sawitri. Kemudian, sambil mencabut pedangnya dan memberi aba-aba kepada sembilan belas prajurit yang lain dia berseru nyaring.
"Bunuh pengkhianat Wura-Wuri ini”
Akan tetapi Resi Bajrasakti mempunyai pendapat lain. Kalau dia dapat menangkap hidup-hidup gadis ini dan menyerahkannya kepada Nyi Dewi Durgakumala, tentu permaisuri Wura-Wuri itu akan senang sekali dan berterima kasih sehingga hal ini akan mempererat hubungan antara Wura-Wuri dan Wengker.
"Anakmas Gandarwo, jangan bunuh Puspa Dewi. Kita memerlukan ia hidup-hidup!" katanya dengan suara yang berpengaruh.
Mendengar bentakan Itu, Ki Gandarwo teringat bahwa Puspa Dewi adalah murid dan anak angkat Permaisuri Dewi Durgakumala yang telah memberontak terhadap Wura-Wuri, maka kalau dapat menangkapnya hidup-hidup dan menyeretnya ke depan kaki permaisuri itu, tentu akan menyenangkan hatinya. Biar permaisuri sendiri yang akan menghukum gadis pengkhianat ini. Maka dia pun memberi aba-aba baru.
“Tangkap pengkhianat ini hidup-hidup!"
Resi Bajrasakti mulai dengan serangan yang mengandung kekuatan sihir. Dia membentak dan bentakan ini menggelegar, mengandung getaran yang amat kuat, yang khusus ditujukan kepada Puspa Dewi. Datuk Wengker yang sakti mandraguna ini agaknya memandang rendah kepada Puspa Dewi karena menganggap bahwa gadis itu hanya murid Nyi Dewi Durgakumala. Kalau gurunya hanya setingkat dengan dia, maka muridnya tentulah merupakan lawan yang lunak, begitu pikirnya maka ia menyerang dengan kekuatan sihirnya untuk melumpuhkan lawan.
"Puspa Dewi, menyerah dan berlututlah engkau!"
Akan tetapi Resi Bajrasakti salah perhitungan. Nyi Dewi Durgakumaja telah menurunkan seluruh ilmunya kepada Puspa Dewi yang amat disayangnya dan karena Puspa Dewi berbadan bersih tidak seperti Nyi Dewi Durgakumala yang menjadi hamba nafsunya sendiri, juga karena Puspa Dewi jauh lebih muda. Karena itu, tidaklah mengherankan apabila setelah tamat belajar dari Nyi Dewi Durgakumala, tingkat gadis itu sudah melebihi tingkat gurunya. Apalagi ia bertemu dengan Sang Maha Resi Satyadharma dan digembleng oleh guru Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama ini selama tiga bulan. Tentu saja tingkat kepandaian gadis itu sudah melonjak tinggi, jauh melampaui tingkat Nyi Dewi Durgakumala. Sebelum digembleng Maha Resi Satyadharma ia telah memiliki kekuatan sihir dari ajaran Nyi Dewi Durgakumala yang dapat menandingi kekuatan sihir Resi Bajrasakti. Maha Resi Satyadharma sama sekali tidak mengajarkan jlmu sihir yang dianggap ilmu yang berbahaya dan condong menyeret pemiliknya ke arah perbuatan jahat. Dia hanya memberi pelajaran menghimpun tenaga sakti yang datang sebagai anugerah Sang Hyang Widhi dan kekuatan ini mampu menghalau segala macam kekuatan sihir yang menyerangnya. Karena itu, ketika Resi Bajrasakti menyerangnya dengan sihir, Puspa Dewi sama sekali tidak terpengaruh. Gelombang kekuatan sihir yang menerpanya itu tidak lebih dari angin semilir lalu saja.

Melihat serangan dengan sihir itu tidak mempengaruhi Puspa Dewi, Resi Bajrasakti menjadi penasaran. Dia lalu mengerahkan Aji Panglimutan. Dengan pengerahan aji kesaktian ini, biasanya dia dapat menghilang, atau tidak tampak oleh lawan sehingga dia akan dapat dengan mudah meringkus gadis itu. Setelah mengerahkan Aji Panglimutan, Resi Bajrasakti lalu menubruk dan hendak meringkus tubuh Puspa Dewi. Akan tetapi Puspa Dewi menggerakkan tangannya, menampar kakek yang maju hendak meringkusnya itu. Ternyata Aji Panglimutan itu pun tidak dapat mempengaruhinya dan ia tetap dapat melihat lawan yang hendak meringkusnya itu, maka ia menyambut dengan tamparan. Resi Bajrasakti terkejut dan cepat dia menggerakkan tangan menangkis tamparan yang mendatangkan angin pukulan dahsyat itu.
"Wuuuttt.... dukkk!" Tubuh Resi Bajrasakti terhuyung karena ketika lengan mereka beradu, dia merasa betapa kuatnya tenaga yang keluar dari tangan gadis itu!
Melihat betapa Resi Bajrasakti terhuyung, Ki Gandarwo berseru kepada sembilan belas orang perajurit.
"Kepung, tangkap gadis ini!"
Puspa Dewi dikeroyok. Tangan-tangan yang besar berbulu itu seolah berlomba untuk menangkap dan meringkusnya. Puspa Dewi menggerakkan kaki tangannya dengan cepat sekali. Tubuhnya berkelebatan seolah berubah menjadi bayang-bayang dan ke manapun kaki atau tangannya mencuat, tentu seorang pengeroyok telah dapat ia robohkan. Teriakan demi teriakan terdengar disusul tubuh para pengeroyok berpelantingan. Biarpun Puspa Dewi tidak memberi pukulan maut kepada mereka, namun mereka menderita patah tulang dan juga kehilangan nyali, tidak berani lagi berdiri dan hanya mendekam dan merintih memegangi bagian tubuh yang terkena tamparan atau tendangan yang dahsyat, bagaikan petir menyambar. Dalam waktu singkat delapan orang prajurit telah roboh dan sisanya yang sebelas orang menjadi jerih untuk mendekati gadis sakti mandraguna itu.
Pada saat itu prajurit yang diutus Gandarwo mencari balabantuan sudah pergi jauh dan empat orang prajurit yang diutus "mengamankan" Ki Dharmaguna dan Nyi Endang Sawitri sudah cepat turun tangan meringkus suami isteri itu. Percuma saja Nyi Endang Sawitri melawan. Ia tidak dapat menandingi empat orang perajurit yang rata-rata memiliki tenaga kuat itu dan sebentar saja suami isteri itu telah dapat diringkus, dinaikkan kereta yang segera dilarikan cepat meninggalkan tempat itu.
Puspa Dewi yang sedang dikepung dan dikeroyok banyak orang tidak melihat hal ini. Pula, ia memang tidak mengenal suami isteri itu. Kalau tadi ia turun tangan, adalah karena melihat suami isteri itu diperlakukan kasar. Ketika Ki Dharmaguna dan Nyi Endang Sawitri tinggal di Karang Tirta, ia sendiri masih kecil. Bahkan ketika suami isteri itu diam-diam meninggalkan Karang Tirta, ia baru berusia sekitar enam atau tujuh tahun, sehingga tentu saja ia tidak mengenal suami isteri itu.

Sementara itu, Resi Bajrasakti dan Ki Gandarwo terkejut bukan main melihat betapa sebagian anak buah mereka berpelantingan dihajar tendangan dan tamparan gadis perkasa itu. Merasa bahwa sekarang malah pihak mereka yang terancam bahaya, Resi Bajrasakti lalu berseru,
"Pergunakan senjata! Bunuh gadis ini!" Dia sendiri sudah mencabut senjatanya yang istimewa, yaitu sebatang cambuk bergagang gading.
"Tar-tar-tarr....ll" Resi Bajrasakti memutar-mutar cambuk itu di atas kepalanya dan terdengar bunyi ledakan-ledakan ketika ujung cambuk itu melecut-lecut dan mengeluarkan asap.
Melihat rekannya sudah mengeluarkan senjata, Ki Gandarwo juga mencabut pedangnya. Demikian pula, sisa prajurit yang masih ada sebelas orang itu mencabut senjata golok mereka dan mengepung Puspa Dewi.
Puspa Dewi maklum bahwa kini ia menghadapi lawan yang cukup berat. Kalau berkelahi dengan mereka hanya menggunakan tangan kosong, ia masih, dapat mengandaikan kecepatan gerakan dan kekuatan tenaga saktinya. Akan tetapi semua orang itu memegang senjata, apalagi Resi Bajrasakti amat berbahaya dengan cambuknya dan Ki Gandarwo juga bukan lawan ringan kalau sudah menggunakan pedangnya. Untuk dapat menjaga dan membela diri dengan baik, Puspa Dewi lalu menggerakkan tangannya ke arah punggung dan begitu ia mencabut, tampak sinar hitam dari pedang pusakanya Cadrasa Langking, pemberian guru pertamanya yang juga merupakan ibu angkatnya, yaitu Nyi Dewi Durgakumala. Kini terjadilah perkelahian hebat. Setelah mereka semua memegang golok, sebelas orang perajurit pengawal itu menjadi berani dan mereka mengepung dan menyerang Puspa Dewi secara bertubi-tubi dengan cara menyerang lalu melompat menjauh. Yang bertanding dengan seru melawan Puspa Dewi adalah Resi Bajrasakti dan Ki Gandarwo. Resi Bajrasakti sekarang baru menyadari bahwa Puspa Dewi telah menjadi seorang wanita muda yang luar biasa, sakti mandraguna dan pemberani. Karena sekarang dia melihat betapa gadis ini harus dirobohkan kalau terpaksa dibunuh, maka selain menggunakan cambuknya untuk menyerang, dia juga mempergunakan berbagai aji kesaktiannya untuk merobohkan gadis yang amat tangguh itu. Mula-mula dia menyelingi serangan cambuknya dengan menyambitkan senjata rahasia pasir sakti Bramara Sewu. Pasir itu seolah berubah menjadi sekawanan lebah yang menyerang seluruh tubuh bagian depan Puspa Dewi. Akan tetapi, pedang Candrasa Langlang yang membentuk perisai gulungan sinar hitam meruntuhkan semua pasir sakti itu. Melihat serangan pasir saktinya gagal, berturut-turut Resi Bajrasakti mengerah-kan berbagal aji pukulannya yang ampuh. Dengan tangan kirinya dia menyelingi sambaran cambuknya dengan Aji Wisa Langking. Tangannya mengeluarkan hawa pukulan yang mengandung racun hitam, namun uap hitam yang menyambar ke arah Puspa Dewi itu ambyar (pecah berantakan) ketika disambar hawa pukulan tangan kiri Puspa Dewi. Berturut-turut Resi Bajrasakti menyerang dengan Aji Pukulan Gelap Sewu dan Sihung Naga, namun semua itu tidak berhasil karena dapat dihadang oleh dorongan tangan kiri Puspa Dewi yang mengandung Aji Guntur Geni yang sudah dipoles gemblengan Maha Resi Satyadharma.

<<< Bagian 44                                                                                         Bagian 46 >>>

No comments:

Post a Comment