Akhirnya, Resi Bajrasakti mencurahkan semua perhatian dan mengerahkan seluruh tenaganya untuk menyerang dengan cambuknya yang memainkan Aji Pecut Tatit Geni.
Ki Gandarwo
juga mengirim serangan-serangan maut dengan pedangnya, dibantu sebelas orang
prajurit dengan golok mereka. Delapan orang prajurit yang terluka dan tidak
mampu mengeroyok lagi kini sudah menjauhi tempat perkelahian. Dikeroyok demikian
banyaknya orang, Puspa Dewi tidak merasa kerepotan. Akan tetapi karena ia tidak
ingin membunuh orang, maka pedangnya hanya ia pergunakan untuk melindungi
tubuhnya dari hujan serangan senjata itu. Ia bagaikan seekor harimau betina
yang dikeroyok segerombolan srigala.
Sementara itu,
ketika kereta yang membawa Dharmaguna dan Endang Sawitri belum jauh dilarikan
empat orang prajurit Wura-Wuri, tiba-tiba berkelebat bayangan orang dan
tampaklah seorang pemuda menghadang di depan kereta. Dua ekor kuda penarik kereta
terkejut dan meringkik sambil mengangkat kedua kaki depan ke atas, akan tetapi
pemuda itu dengan sigap menangkap kendali dua ekor kuda dan menariknya ke
bawah. Dua ekor kuda itu berdiri, tidak mampu meronta lagi, tubuh mereka
gemetaran seperti ketakutan. Prajurit yang menjadi kusir terkejut dan segera
membentak marah.
"Hei,
siapa engkau berani menahan kuda kami? Lepaskan kuda kami, atau akan
kuhancurkan kepalamu dengan cambuk ini!"
Pemuda itu
bukan lain adalah Nurseta. Seperti kita ketahui, Nurseta melakukan perjalanan
menuju ke dusun Singojajar untuk mencari orang tuanya. Setelah tiba di
Singojajar, dia mendengar bahwa baru saja Ki Dharmaguna dan Nyi Endang Sawitri
diculik pasukan Wura-Wuri, dan pembantu mereka bernama Pakem terbunuh.
Mendengar ini, Nurseta cepat berlari melakukan pengejaran. Dia melihat seorang
gadis perkasa yang dikenalnya sebagai Puspa Dewi sedang dikeroyok banyak orang.
Ketika dia terjun ke dalam pertempuran hendak membantu, Puspa Dewi berseru.
"Jangan
bantu aku, cepat tolong mereka yang dilarikan dengan kereta!"
Mendengar ini,
Nurseta meninggalkan tempat itu dan melakukan pengejaran. Dia tadi di
Singojajar memang mendengar bahwa suami isteri itu diculik dan dilarikan dengan
sebuah kereta. Karena dia melakukan pengejaran dengan Aji Bayu Sakti, maka
sebentar saja dia sudah dapat menyusul dan melompat ke depan kereta menahan dua
ekor kuda penariknya. Ketika kusir kereta itu membentak dan mengancamnya dengan
cambuk, Nurseta berkata.
"Turunlah
engkau dari kereta! Kalian menculik orang-orang yang tidak bersalah!"
Perajurit itu
marah dan pada saat itu, tiga orang prajurit lain yang tadi berada dalam kereta
sudah berlompatan keluar. Prajurit yang menjadi kusir menggerakkan cambuknya,
dipukulkan ke arah pemuda yang berada di depan kereta.
"Tarrr...!"
Ujung cambuk menyambar ke arah kepala Nurseta. Pemuda itu dengan tenang
menangkap ujung cambuk dan dengan sentakan kuat dia membuat kusir yang memegang
cambuk tertarik dan terjungkal dari atas kereta, jatuh berdebuk di atas tanah.
Kusir itu menyeringai kesakitan karena tulang pinggulnya terasa nyeri sekali.
Dharmaguna dan
Endang Sawitri menguak tirai kereta dan memandang keluar, heran, kagum dan juga
khawatir melihat betapa tiga orang prajurit itu dengan golok di tangan kini
menerjang dan menyerang pemuda itu dengan buas. Akan tetapi tubuh pemuda itu
berkelebatan dengan gesit bagaikan seekor burung garuda menyambar-nyambar dan
berturut-turut tiga orang prajurit itu berpelantingan dan mengaduh-aduh tanpa
mampu bangkit kembali.
Nurseta
menghampiri kereta, akan tetapi Endang Sawitri berkata,
"Anakmas,
cepat Andika bantu gadis yang tadi menolong kami karena ia dikeroyok banyak
orang jahat."
"Tapi...."
Nurseta menengok ke arah tiga orang yang telah dirobohkannya itu.
"Jangan
khawatir, mereka bertiga tidak akan dapat mengganggu kami lagi!" kata
Endang Sawitri dan dengan cekatan ia lalu mengambil sebatang golok milik
prajurit yang tadi terlepas dari tangannya. Dengan golok di tangan, wanita itu
menghampiri tiga orang perajurit dan siap untuk menyerang kalau mereka berani
bangkit berdiri. Melihat gerakan wanita itu, maklumlah Nurseta bahwa ia boleh
diandalkan. Dia masih sangsi walaupun hatinya menduga bahwa mereka adalah ayah
ibunya.
Dia teringat
akan keadaan Puspa Dewi yang dikeroyok banyak orang tadi, maka dia lalu berlari
cepat ke tempat pertempuran tadi. Setelah dekat dia melihat kenyataan bahwa,
gadis itu hanya mempertahankan dan melindungi diri saja. Agaknya Puspa Dewi
tidak ingin membunuh para pengeroyoknya. Hal ini membuat Nurseta merasa heran.
Dahulu dia mengenal Puspa Dewi sebagai seorang gadis yang baik, akan tetapi
berwatak keras. Mengapa sekarang, gadis itu seolah tidak mau membunuh para
pengeroyoknya? Apakah karena para pengeroyoknya itu orang Wura-Wuri? Akan
tetapi Nurseta mengenal Resi Bajrasakti dan dia semakin heran. Resi Bajrasakti
adalah tokoh Wengker.
Melihat Puspa
Dewi sibuk juga menghadapi serangan dua puluh satu orang itu, terutama serangan
cambuk Resi Bajrasakti dan pedang di tangan Gandarwo, Nurseta tidak sabar lagi
dan dia segera menerjang para pengeroyok yang berada di bagian luar pengepungan
itu. Begitu kedua tangannya digerakkan menampar ke kanan kiri, empat orang
pengeroyok terpelanting roboh. Tentu saja pengeroyokan itu menjadi kacau dan
Resi Bajrasakti dan Gandarwo terkejut. Ki Gandarwo yang memang memiliki watak
jumawa dan selalu memandang rendah orang lain, menjadi marah dan dia melompat
ke arah Nurseta sambil menggerakkan pedangnya, menyerang dahsyat. Pedangnya
menyambar ke arah leher Nurseta yang tidak memegang senjata. Melihat sambaran
pedang, Nurseta dengan tenang menyambut dengan ayunan tangan kanannya
menyambut. Tangannya menyambar ke depan, dengan miring seperti dibacokkan.
"Wuuttt....
singgg.... krakkkl" Pedang itu patah menjadi tiga potong dan Ki Gandarwo
terhuyung ke belakang, mukanya pucat.
"Kita
pergi....!" Tiba-tiba Resi Bajrasakti berseru dan Ki Gandarwo cepat
melompat dan lari mengejar kawannya yang telah melarikan diri lebih dulu itu.
Sisa anak buah
mereka juga melarikan diri. Mereka berlompatan di atas kuda dan melarikan diri
secepatnya, meninggalkan belasan ekor kuda yang tadi ditunggangi para perajurit
yang kini menderita patah tulang dan masih berada di situ.
"Nurseta!
Bagaimana dengan suami isteri yang mereka tangkap tadi?" tanya Puspa Dewi.
"Mereka
di sana!" kata Nurseta sambil lari menuju ke tempat di mana kereta dan
suami isteri tadi ditinggalkan.
Puspa Dewi
melompat dan mengejar. Sebentar saja mereka berdua tiba di tempat itu dan
ternyata empat orang prajurit yang tadi dirobohkan Nurseta telah pergi. Suami isteri
itu masih berada di dekat kereta.
Tadi ketika
Nurseta menolong mereka dan pemuda itu lalu berlari cepat untuk membantu Puspa
Dewi, Dharmaguna dan Endang Sawitri yang menjaga empat orang prajurit yang
terluka dengan golok di tangan saling pandang dan wajah mereka membayangkan
ketegangan. Empat orang prajurit itu ketakutan karena mereka telah dalam
keadaan terluka dan Endang Sawitri kini memegang golok. Selain itu mereka sudah
merasa gentar terhadap pemuda yang sakti tadi. Maka perlahan-lahan mereka merangkak
menjauhi suami isteri itu, kemudian bangkit dan saling bantu meninggalkan
tempat itu. Endang Sawitri mendiamkan saja karena ia pun hanya berjaga-jaga
kalau mereka itu hendak mengganggu ia dan suaminya.
"Kakangmas,
apakah engkau melihat apa yang kulihat tadi?" tanya Endang Sawitri kepada
suaminya.
"Melihat
apa?"
"Pemuda
yang menolong kita tadi....!"
Mereka saling
pandang dan pandang mata mereka yang mewakili suara hati mereka. Dharmaguna
mengangguk.
"Rasanya
aku mengenal pemuda itu, Diajeng, wajahnya tidak asing bagiku."
"Ah,
Kakangmas! Biarpun dia seorang pemuda dewasa yang sakti mandaraguna, akan
tetapi matanya itu....! Mata itu akan selalu kukenal, Kakangmas, mata.... Anak
kita”
"Nurseta?
Dia.... Nurseta....?"
Endang Sawitri
mengangguk.
"Tapi....,
mengapa dia diam saja dan meninggalkan kita?"
"Gadis
penolong kita itu perlu dibantu, Kakangmas. Selain itu.... aku pun merasa bahwa
sudah sepatutnya dia tidak mempedulikan kita.... ah, kalau kuingat betapa kita
telah meninggalkan anak. kita di Karang Tirta...."
Melihat
isterinya menangis, Dharmaguna menghiburnya.
"Akan
tetapi, engkau tahu, Diajeng bahwa kita meninggalkan dia demi kebaikan dia
sendiri. Kita tidak ingin anak kita ikut menjadi buruan dan terancam
keselamatannya. Akan tetapi, kalau benar dugaanmu bahwa dia itu Nurseta,
bagaimana mungkin dia menjadi seorang yang demikian digdaya?"
Endang Sawitri
menghapus air matanya dan menghela napas panjang.
"Mungkin
aku salah duga dan dia bukan Anak kita, Kakangmas.... ah, itu dia datang
bersama gadis panolong kita tadi."
Dharmaguna
menoleh dan benar saja. Dia melihat pemuda dan gadis yang menolong mereka tadi
datang dengan cepat sekali. Seperti terbang saja mereka itu datang dan sebentar
kemudian sudah berada di depan mereka.
Nurseta
mengamati wajah suami isteri itu, jantungnya berdebar penuh ketegangan. Tadi
pun, sekali pandang saja dia tidak pangling (lupa). Mereka inilah Ayah Ibunya!
Memang agak lebih tua, namun dia mengenal betul wajah mereka. Terutama Ibunya!
Memang, wajah orang dewasa tidak banyak berubah dua belas tahun kemudian, akan
tetapi dia yang ditinggalkan mereka dalam usia sepuluh tahun, masih seorang
kanak-kanak, kini menjadi seorang pemuda dewasa tentu banyak berubah. Kalau
tadi setelah menolong suami isteri itu dari empat orang perajurit yang
melarikan mereka lalu dia meninggalkan mereka adalah karena dia ingin membantu
Puspa Dewi dan juga dia merasa terlalu tegang untuk segera memperkenalkan diri
kepada orang tuanya. Empat orang itu sejenak saling pandang seperti terpukau
dan tidak mengeluarkan kata-kata. Akhirnya Endang Sawitri mendahului berkata
kepada dua orang muda itu.
"Kami
berdua berterima kasih kepada Nakayu dan Nakmas yang telah menolong dan
menyelamatkan kami. Budi Andika berdua sungguh besar dan selamanya tidak akan
pernah kami lupakan."
"Ah,
tidak perlu berterima kasih, Bibi. Sudah sewajarnya kalau saya menghajar
orang-orang jahat yang bertindak sewenang-wenang itu. Akan tetapi siapakah
Paman berdua dan mengapa pula menjadi tawanan orang-orang jahat tadi?"
kata Puspa Dewi.
Sejak tadi
Nurseta semakin yakin bahwa suami isteri itu adalah Ayah Ibunya. Suara Ibunya
masih seperti dulu, bahasanya halus dan suaranya lembut. Hatinya tergetar dan
terharu sehingga dia merasa betapa kedua matanya panas dan berair. Suaranya
terdengar agak gemetar ketika dia menyambung ucapan Puspa Dewi.
"Apakah
Andika berdua yang tinggal di dusun Singojajar, bernama KI Dharmaguna dan Nyi
Endang Sawitri?”
"Benar....
benar sekali....! Anakmas.... siapakah....!" Nyi Endang Sawitri bertanya
dengan suara gemetar dan ia menatap wajah Nurseta dengan penuh selidik. Sambil
menahan getaran perasaannya, Nurseta menatap wajah wanita itu lalu berkata.
"Benar-benarkah
Andika tidak mengenal saya?"
Endang Sawitri
terbelalak, mengembangkan kedua lengannya dan melangkah maju mendekati Nurseta.
"Engkau....
engkau.... Nurseta....??"
Nurseta tidak
tega membiarkan Ibunya meragu lebih lama lagi. Hatinya sendiri merasa sangat
terharu dan dia pun menjatuhkan dirinya berlutut menyembah.
"Kanjeng
Ibu....!"
"Duh
Gusti.... Hyang Widhi.... engkau benar-benar Nurseta! Nurseta.... Anakku.
..." Nyi Endang Sawitri menjerit dan menubruk pemuda itu, merangkul dan
terkulai dalam rangkulan Nurseta, menangis tersedu-sedu. Ki Dharmaguna juga
menghampiri, berlutut merangkul Nurseta.
"Nurseta....
aduh, Anakku.... maafkan Ayah Ibumu yang telah meninggalkanmu hidup seorang
diri ketika engkau masih kecil...." Dharmaguna juga menitikkan air mata
karena merasa menyesal dan berdosa.
"Angger....
Nurseta... Ibumu minta maaf.... kami berdua telah bertindak kejam.... kami
meninggalkanmu seorang diri di Karang Tirta.... ketika engkau.... baru berusia
sepuluh tahun...."
"Ayah dan
Ibu tidak bersalah. Kepergian itu justru menyelamatkan saya.... agar saya tidak
terbawa-bawa menjadi buronan."
"Ah,
engkau sudah tahu, Anakku....?"
"Saya
sudah mendengar semua dari Eyang Senopati Sindukerta, Ibu."
"Aduh....,
engkau sudah bertemu dengan Kanjeng Rama? Nurseta, bagaimana.... kabarnya
dengan Kanjeng Ibu....?"
"Eyang
Senopati berdua sehat-sehat saja, Ibu. Hanya Eyang Puteri selalu berduka dan
sering menangis karena merindukan Ibu...."
"Aduh....
aku anak durhaka.... anak tidak berbakti...." Nyi Endang Sawitri menangis
sesenggukan. Akan tetapi ia menahan tangisnya ketika dihibur Nurseta.
No comments:
Post a Comment