"Bagaimana
dengan Kanjeng Rama dan Kanjeng Ibu? Ceritakan tentang mereka,
Nurseta....!" Nyi Endang Sawitri mendesak puteranya. Akan tetapi Nurseta
membimbing ayah ibunya untuk bangkit berdiri dan berkata.
"Nanti
dulu, Ayah dan Ibu. Kita tidak boleh melupakan gadis ini yang tadi telah
menyelamatkan Ayah dan Ibu." Nurseta mengingatkan.
Suami isteri
itu baru menyadari bahwa tadi mereka sama sekali melupakan gadis yang telah
menyelamatkan nyawa mereka itu. Nyi Endang Sawitri lalu menghampiri Puspa Dewi
dan memegang tangan gadis itu.
"Ah,
maafkan kami, Nakayu. Saking gembira kami bertemu dengan Anak kami yang selama
belasan tahun berpisah, baru sekarang dapat saling berjumpa. Maafkan kami telah
melupakan Andikal"
Sejak tadi
Puspa Dewi menyaksikan pertemuan mengharukan itu dan ia teringat akan
pertemuannya sendiri dengan ayah kandungya. Ia ikut merasa terharu.
"Tidak
mengapa. Bibi. Aku ikut merasa gembira melihat Anak dan orang tuanya dapat
bertemu kembali."
"Ayah dan
Ibu tentu mengenal gadis ini. Ia adalah puteri Bibi Lasmi yang dulu juga
tinggal di Karang Tirta." Kata Nurseta memperkenalkan.
"Aehh....
Nyi Lasmi janda yang cantik itu? Kalau begitu Andika ini.... eh, kalau tidak
salah namamu Puspa Dewi, bukan?" kata Nyi Endang Sawitri yang dulu kenal
baik dengan Nyi Lasmi.
"Benar,
Bibi." kata Puspa Dewi.
"Ahh,
tentu saja kami lupa. Engkau kini telah menjadi seorang gadis yang cantik
jelita. Ya, engkau mirip sekali dengan Nyi Lasmi! Sekarang aku ingat. Engkau
telah menjadi seorang gadis cantik jelita, sakti mandaraguna dan baik
budi!" Nyi Endang Sawitri memandang kagum.
"Paman
Dharmaguna, Bibi Endang Sawitri, dan engkau Nurseta, aku tidak mau mengganggu kalian
sekeluarga yang baru saja berjumpa dan berkumpul kembali. Aku ingin melanjutkan
perjalananku. Tadi secara kebetulan saja aku melihat Paman dan Bibi dianiaya
penjahat-penjahat itu maka aku turun tangan menolong."
"Puspa
Dewi, engkau hendak pergi ke manakah? Engkau berada di daerah Wura-Wuri, apakah
engkau... kini telah kembali ke Wura-Wuri sebagai Sekar Kedaton (Bunga
Istana)?" tanya Nurseta sambil mengerutkan alisnya.
"Hemm,
jangan menyangka dengan ngawur (sembarangan), Nurseta! Aku sudah tidak mempunyai
hubungan apa pun dengan Wura-Wuri. Aku sedang mencari Adikku. Sudahlah, aku
pergi. Paman dan Bibi, mohon pamit!" Setelah berkata demikian, Puspa Dewi
meloncat jauh pergi dengan cepat seperti terbang.
"Gadis
yang hebat!" Endang Sawitri memuji kagum.
"Engkau
mengenalnya dengan baik, Nurseta?"
Nurseta
mengangguk. Dia masih merasa heran mendengar Puspa Dewi mengatakan tidak
mempunyai hubungan apa pun dengan Wura-Wuri! Padahal Dewi Durgakumala amat
sayang padanya!
"Ah,
kalau saja...." Endang Sawitri tidak melanjutkan.
"Mengapa,
Ibu?" Nurseta bertanya.
Sebetulnya,
Endang Sawitri hendak mengatakan
"Kalau
saja Puspa Dewi dapat menjadi isterimu!" akan tetapi ia menahan diri dan
menjawab.
"Sekarang
ceritakan tentang Eyang Kakung dan Eyang Puteri, Nurseta."
"Ya, ceritakanlah,
Nurseta. Apakah beliau masih marah kepada kami?" tanya puia Dharmaguna.
"Sama
sekali tidak, Ayah dan Ibu. Agaknya terjadi kesalah pahaman antara Ayah dan Ibu
dan Eyang Senopati. Beliau memang selalu mengerahkan prajurit untuk mencari
Ayah Ibu, akan tetapi sama sekali bukan untuk menghukum. Sudah lama beliau
memaafkan Ayah Ibu dan merasa kehilangan, merasa rindu dan ingin mengajak Ayah
Ibu pulang dan tinggal di Kahuripan. Bahkan Eyang Puterl selalu menangis kalau
teringat kepada Ibu."
"Aduh, Kanjeng
Ibu.... ampunkan saya ...." Nyi Endang Sawitri menangis.
"Ah,
siapa mengira bahwa kami dicari untuk diajak pulang dan dimaafkan?" kata
Ki Dharmaguna.
"Kami
selalu melarikan diri karena takut kalau dipaksa saling berpisah dan
mendapatkan hukuman. Kalau saja kami tahu, tentu kami tidak akan selalu
berpindah-pindah tempat dan melarikan diri, bahkan terpaksa melarikan diri dan
tinggal di dusun Singojajar yang termasuk wilayah Wura-Wuri untuk menghindarkan
pengejaran."
"Sudahlah,
Ayah dan Ibu, hal yang sudah lalu tidak perlu disesalkan lagi. Sekarang semua
penderitaan itu telah berakhir, baik penderitaan bagi Ayah Ibu maupun bagi
Eyang Kakung dan Eyang Puteri. Mari Ayah Ibu saya antarkan pulang ke Kahuripan
di mana Eyang Senopati sudah menunggu dengan penuh kerinduan. Kita pergunakan
kereta Ini."
Dengan wajah
berseri penuh kebahagiaan dan harapan, suami isteri itu naik ke dalam kereta
dan Nurseta mengusirinya. Kereta dilarikan menuju Kahuripan. Di sepanjang
perjalanan, Ki Dharmaguna dan Nyi Endang Sawitri menghujani Nurseta dengan
pertanyaan. Terpaksa Nurseta menceritakan semua pengalamannya sejak dia
ditinggalkan mereka di Karang Tirta kurang lebih dua belas tahun yang lalu.
Betapa dia menjadi kuli dan tukang kuda bekerja pada Ki Lurah Suramenggala
sampai pada usia enam belas tahun dia diambil murid mendiang Empu Dewamurti,
kemudian digembleng Bhagawan Ekadenta selama beberapa bulan. Dia menceritakan
pengalamannya ketika membela Kahuripan dari ancaman pemberontakan Pangeran
Hendratama yang didukung oleh empat Kerajaan Wura-Wuri, Wengker, Parang
Siluman, dan Siluman Laut Kidul. Tentang pertemuannya dengan Senopati
Sindukerta dan akhirnya dia mencari keterangan ke Karang Tirta.
"Saya
mencari keterangan kepada Ki Tejomoyo yang menceritakan bahwa belum lama ini Ayah
Ibu menyuruh seorang pembantu untuk mencari keterangan tentang diri saya kepada
Ki Tejomoyo pula. Dialah yang memberi tahu kepada saya bahwa Ayah Ibu kini
tinggal di dusun Singojajar, maka saya lalu pergi ke dusun itu. Di sana saya
mendapat keterangan bahwa Ayah Ibu dilarikan pasukan Wura-Wuri dan Ki Pakem,
pembantu Ayah Ibu, terbunuh. Maka saya lalu cepat melakukan pengejaran dan kita
beruntung bahwa Puspa Dewi sudah lebih dulu menolong Ayah Ibu sehingga
memudahkan saya untuk menyelamatkan Ayah Ibu dari tangan mereka."
Suami isteri
itu merasa kagum mendengar pengalaman anak tunggal mereka. Mereka menghaturkan
puji syukur kepada Sang Hyang Widhi yang telah mengakhiri semua penderitaan
mereka dengan pertemuan yang membahagiakan ini, apalagi mendengar bahwa
Senopati Sindukerta berdua telah lama memaafkan mereka dan bahkan merindukan
mereka untuk dapat berkumpul kembali di Kahurlpan.
Kereta
dijalankan cepat dan langsung menuju Kahuripan. Ketika suami Isteri itu
mengajak Nurseta singgah dulu di dusun Singojajar, pemuda ini tidak setuju,
mengatakan bahwa mungkin kini pasukan Wura-Wuri sudah menghadang di sana dan
kalau mereka ke sana hanya akan menghadapi bahaya. Pula, mereka akan kembali ke
gedung Senopati Sindukerta di mana segala kebutuhan mereka telah tersedia, maka
semua harta milik mereka di Singojajar yang tidak seberapa itu tidak perlu
dibawa.
Setelah
memasuki kota raja Kahuripan, Nurseta menjalankan keretanya langsung menuju
gedung tempat tinggal kakeknya. Suami isteri yang berada di dalam kereta itu merasa
betapa jantung mereka berdebar tegang. Mulut terasa kering. Ketegangan dan
keharuan membuat tubuh mereka rasanya gemetar, apalagi ketika kereta memasuki
halaman gedung yang luas itu. Bahkan Endang Sawitri sudah tidak dapat menahan
turunnya air matanya melihat halaman gedung yang amat dikenalnya itu, tempat di
mana ia dilahirkan dan dibesarkan! Ketika Nurseta menghentikan kereta di depan
pendopo, beberapa orang prajurit penjaga dan pelayan segera menyambut. Ada yang
memegangi kendali kuda, dan ada pula yang segera masuk untuk melapor kepada
Senopati Sepuh Sindukerta. Nurseta menggandeng ibunya yang tampak lemas,
bersama ayahnya mendaki anak tangga pendopo yang luas. Lalu terdengar jerit
tangis dari dalam gedung dan Senopati Sindukerta bersama isterinya tampak
keluar dan berlari-lari menyambut.
"Endang....
ah, Endang anakku....!"
"Kanjeng
Ibu....!" Dua orang wanita itu sudah saling tubruk, saling rangkul sambil
bertangisan.
"Kanjeng
Ibu.... ah, Kanjeng Ibu....!" Endang Sawitri menjerit ketika tiba-tiba ibunya
terkulai lemas dalam rangkulannya. Wanita tua itu jatuh pingsan saking hebatnya
guncangan hati yang bahagia dan terharu itu.
Nurseta segera
memondong tubuh neneknya dan mereka semua memasuki gedung. Sebentar saja isteri
Senopati Sindukerta siuman kembali dan ia menangis saking gembiranya, menciumi
puterinya. Endang Sawitri bersama Dharmaguna lalu berlutut merangkul kaki dan
menyembah kepada Senopati Sindukerta dan isterinya.
"Kanjeng
Rama, Kanjeng Ibu, hamba Dharmaguna mohon beribu ampun telah membuat Paduka
berdua mengalami kedukaan." kata Dharmaguna.
Ki Senopati
dan Nyi Senopati mengangkat bangun suami Isteri itu.
"Sudahlah,
sudah lama kami maafkan kalian. Kami sendiri juga merasa bersalah telah membuat
kailan menderita. Untung Cucu kami Nurseta ini datang mencari kami. Kami sudah
hampir putus asa untuk dapat berkumpul kembali dengan kalian."
Seluruh
penghuni gedung senopaten itu, termasuk para prajurit pengawal dan para abdi,
bergembira. Senopati Sindukerta bahkan mengadakan pesta sekeluarga dan para pembantu
untuk menyambut kembalinya puteri dan mantu mereka. Sambil berpesta, Nurseta
harus menceritakan pengalamannya ketika menemukan orang tuanya. Kemudian
Dharmaguna dan Endang Sawitri mendapat giliran menceritakan semua pengalaman
mereka selama dua puluh tiga tahun menjadi orang-orang pelarian itu. Untuk
melepaskan kerinduan, mulai hari itu, Senopati Sindukerta melarang puteri,
mantu, dan cucunya pergi meninggalkan dia dan isterinya. Setiap hari mereka
berbincang-bincang dan tiada habisnya pengalaman yang dapat diceritakan.
Nurseta
sendiri baru sekali ini merasakan kebahagiaan berkumpul dengan ayah, ibu,
kakek, dan neneknya. Ketika mendengar akan pertolongan yang diberikan Puspa
Dewi kepada puteri dan mantunya, Senopati Sindukerta berkata.
"Ah,
gadis itu memang hebat! Bahkan Gusti Sinuhun dan Gusti Patih sendiri berkenan
menerimanya dan Sang Prabu Erlangga berkenan memberi hadiah patrem pusaka Sang
Cundrik Arum kepada Puspa Dewi! Dan ternyata bahwa Puspa Dewi adalah puteri
kandung Anakmas Senopati Muda Yudajaya, putera mantu Adi Tumenggung Jayatanu
sahabat lamakul"
"Akan
tetapi, Kanjeng Rama, bukankah Puspa Dewi itu puteri Nyi Lasmi, janda yang dulu
tinggal di Karang Tirta?" tanya Endang Sawitri dengan heran.
"Benar!"
Senopati Sindukerta mengangguk-angguk.
"Nyi
Lasmi itu adalah isteri pertama Anakmas Senopati Yudajaya yang dulu entah
mengapa berpisah dari suaminya. Akan tetapi belum lama ini ia sudah diboyong
kembali ke Tumenggungan dimana Senopati Yudajaya tinggal bersama isterinya yang
kedua, yaitu puteri Adi Tumenggung Oayatanu."
"Ah,
kalau begitu-sekali waktu saya ingin mengunjungi Nyi Lasmi, karena dulu saya
pernah tinggal sedusun dan mengenalnya dengan baik." kata Endang Sawitri.
Dua pekan
kemudian, keinginan Endang Sawitri terkabul. Bahkan Senopati Sindukerta sendiri
yang mengantar Endang Sawitri bersama suaminya, berkunjung ke gedung
tumenggungan. Nurseta tidak ikut pergi karena pemuda ini selain tidak mempunyai
urusan dengan keluarga Tumenggung Jayatanu, juga ingin berjalan-jalan di kota
raja. Kunjungan Senopati Sindukerta bersama anak dan mantunya menggunakan
kereta itu disambut oleh sahabatnya, Tumenggung Jayatanu sekeluarga dengan
gembira sekali. Memang dua orang tua ini merupakan panglima-panglima yang setia
dan besar jasanya, dan di antara mereka terdapat tali persahabatan yang karib.
"Kakang
Senopati Sindukerta, selamat datang! Kami merasa terhormat sekali menerima
kunjungan Andika!" sambut Tumenggung Jayatanu sambil mempersilakan tiga
orang tamunya masuk ke ruangan tamu yang luas.
"Adi
Tumenggung Jayatanu, aku ingin menguji kekuatan ingatan dan ketajaman
pandanganmu. Nah, coba lihat siapa wanita yang kuajak datang berkunjung
ini!" kata Senopati Sindukerta sambil menunjuk kepada Endang Sawitri yang
tersenyum-senyum dan duduk dengan anggunnya di samping suaminya.
Tumenggung
Jayatanu mengamati wajah Endang Sawitri, tampak ragu. Melihat ini, Endang
Sawitri merasa kasihan dan membantu orang tua yang dulu sudah dikenalnya dengan
baik sebagai sahabat karib ayahnya.
"Paman
Tumenggung, benarkah Paman telah lupa kepada saya?"
Melihat senyum
itu, Tumenggung Jayatanu melebarkan matanya dan menepuk dahinya.
"Ah,
Endang Sawitri! Bukankah engkau Endang?"
"Benar,
Paman."
"Ha-ha-ha,
kiranya engkau sudah pulang! Wah, Ayah Ibumu setengah mati mengharapkan engkau
pulang! Syukurlah, aku merasa ikut berbahagia dengan kepulanganmu!"
"Adi
Tumenggung, ini adalah mantu kami, Dharmaguna." Senopati Sindukerta
memperkenalkan mantunya, Dharmaguna lalu merangkap kedua tangan ke depan hidung
sebagal sembah penghormatan.
No comments:
Post a Comment