Nurseta Satria Karangtirta ; Bagian 47


"Bagaimana dengan Kanjeng Rama dan Kanjeng Ibu? Ceritakan tentang mereka, Nurseta....!" Nyi Endang Sawitri mendesak puteranya. Akan tetapi Nurseta membimbing ayah ibunya untuk bangkit berdiri dan berkata.
"Nanti dulu, Ayah dan Ibu. Kita tidak boleh melupakan gadis ini yang tadi telah menyelamatkan Ayah dan Ibu." Nurseta mengingatkan.
Suami isteri itu baru menyadari bahwa tadi mereka sama sekali melupakan gadis yang telah menyelamatkan nyawa mereka itu. Nyi Endang Sawitri lalu menghampiri Puspa Dewi dan memegang tangan gadis itu.
"Ah, maafkan kami, Nakayu. Saking gembira kami bertemu dengan Anak kami yang selama belasan tahun berpisah, baru sekarang dapat saling berjumpa. Maafkan kami telah melupakan Andikal"
Sejak tadi Puspa Dewi menyaksikan pertemuan mengharukan itu dan ia teringat akan pertemuannya sendiri dengan ayah kandungya. Ia ikut merasa terharu.
"Tidak mengapa. Bibi. Aku ikut merasa gembira melihat Anak dan orang tuanya dapat bertemu kembali."
"Ayah dan Ibu tentu mengenal gadis ini. Ia adalah puteri Bibi Lasmi yang dulu juga tinggal di Karang Tirta." Kata Nurseta memperkenalkan.
"Aehh.... Nyi Lasmi janda yang cantik itu? Kalau begitu Andika ini.... eh, kalau tidak salah namamu Puspa Dewi, bukan?" kata Nyi Endang Sawitri yang dulu kenal baik dengan Nyi Lasmi.
"Benar, Bibi." kata Puspa Dewi.
"Ahh, tentu saja kami lupa. Engkau kini telah menjadi seorang gadis yang cantik jelita. Ya, engkau mirip sekali dengan Nyi Lasmi! Sekarang aku ingat. Engkau telah menjadi seorang gadis cantik jelita, sakti mandaraguna dan baik budi!" Nyi Endang Sawitri memandang kagum.
"Paman Dharmaguna, Bibi Endang Sawitri, dan engkau Nurseta, aku tidak mau mengganggu kalian sekeluarga yang baru saja berjumpa dan berkumpul kembali. Aku ingin melanjutkan perjalananku. Tadi secara kebetulan saja aku melihat Paman dan Bibi dianiaya penjahat-penjahat itu maka aku turun tangan menolong."
"Puspa Dewi, engkau hendak pergi ke manakah? Engkau berada di daerah Wura-Wuri, apakah engkau... kini telah kembali ke Wura-Wuri sebagai Sekar Kedaton (Bunga Istana)?" tanya Nurseta sambil mengerutkan alisnya.
"Hemm, jangan menyangka dengan ngawur (sembarangan), Nurseta! Aku sudah tidak mempunyai hubungan apa pun dengan Wura-Wuri. Aku sedang mencari Adikku. Sudahlah, aku pergi. Paman dan Bibi, mohon pamit!" Setelah berkata demikian, Puspa Dewi meloncat jauh pergi dengan cepat seperti terbang.
"Gadis yang hebat!" Endang Sawitri memuji kagum.
"Engkau mengenalnya dengan baik, Nurseta?"
Nurseta mengangguk. Dia masih merasa heran mendengar Puspa Dewi mengatakan tidak mempunyai hubungan apa pun dengan Wura-Wuri! Padahal Dewi Durgakumala amat sayang padanya!
"Ah, kalau saja...." Endang Sawitri tidak melanjutkan.
"Mengapa, Ibu?" Nurseta bertanya.
Sebetulnya, Endang Sawitri hendak mengatakan
"Kalau saja Puspa Dewi dapat menjadi isterimu!" akan tetapi ia menahan diri dan menjawab.
"Sekarang ceritakan tentang Eyang Kakung dan Eyang Puteri, Nurseta."
"Ya, ceritakanlah, Nurseta. Apakah beliau masih marah kepada kami?" tanya puia Dharmaguna.
"Sama sekali tidak, Ayah dan Ibu. Agaknya terjadi kesalah pahaman antara Ayah dan Ibu dan Eyang Senopati. Beliau memang selalu mengerahkan prajurit untuk mencari Ayah Ibu, akan tetapi sama sekali bukan untuk menghukum. Sudah lama beliau memaafkan Ayah Ibu dan merasa kehilangan, merasa rindu dan ingin mengajak Ayah Ibu pulang dan tinggal di Kahuripan. Bahkan Eyang Puterl selalu menangis kalau teringat kepada Ibu."
"Aduh, Kanjeng Ibu.... ampunkan saya ...." Nyi Endang Sawitri menangis.
"Ah, siapa mengira bahwa kami dicari untuk diajak pulang dan dimaafkan?" kata Ki Dharmaguna.
"Kami selalu melarikan diri karena takut kalau dipaksa saling berpisah dan mendapatkan hukuman. Kalau saja kami tahu, tentu kami tidak akan selalu berpindah-pindah tempat dan melarikan diri, bahkan terpaksa melarikan diri dan tinggal di dusun Singojajar yang termasuk wilayah Wura-Wuri untuk menghindarkan pengejaran."
"Sudahlah, Ayah dan Ibu, hal yang sudah lalu tidak perlu disesalkan lagi. Sekarang semua penderitaan itu telah berakhir, baik penderitaan bagi Ayah Ibu maupun bagi Eyang Kakung dan Eyang Puteri. Mari Ayah Ibu saya antarkan pulang ke Kahuripan di mana Eyang Senopati sudah menunggu dengan penuh kerinduan. Kita pergunakan kereta Ini."

Dengan wajah berseri penuh kebahagiaan dan harapan, suami isteri itu naik ke dalam kereta dan Nurseta mengusirinya. Kereta dilarikan menuju Kahuripan. Di sepanjang perjalanan, Ki Dharmaguna dan Nyi Endang Sawitri menghujani Nurseta dengan pertanyaan. Terpaksa Nurseta menceritakan semua pengalamannya sejak dia ditinggalkan mereka di Karang Tirta kurang lebih dua belas tahun yang lalu. Betapa dia menjadi kuli dan tukang kuda bekerja pada Ki Lurah Suramenggala sampai pada usia enam belas tahun dia diambil murid mendiang Empu Dewamurti, kemudian digembleng Bhagawan Ekadenta selama beberapa bulan. Dia menceritakan pengalamannya ketika membela Kahuripan dari ancaman pemberontakan Pangeran Hendratama yang didukung oleh empat Kerajaan Wura-Wuri, Wengker, Parang Siluman, dan Siluman Laut Kidul. Tentang pertemuannya dengan Senopati Sindukerta dan akhirnya dia mencari keterangan ke Karang Tirta.
"Saya mencari keterangan kepada Ki Tejomoyo yang menceritakan bahwa belum lama ini Ayah Ibu menyuruh seorang pembantu untuk mencari keterangan tentang diri saya kepada Ki Tejomoyo pula. Dialah yang memberi tahu kepada saya bahwa Ayah Ibu kini tinggal di dusun Singojajar, maka saya lalu pergi ke dusun itu. Di sana saya mendapat keterangan bahwa Ayah Ibu dilarikan pasukan Wura-Wuri dan Ki Pakem, pembantu Ayah Ibu, terbunuh. Maka saya lalu cepat melakukan pengejaran dan kita beruntung bahwa Puspa Dewi sudah lebih dulu menolong Ayah Ibu sehingga memudahkan saya untuk menyelamatkan Ayah Ibu dari tangan mereka."
Suami isteri itu merasa kagum mendengar pengalaman anak tunggal mereka. Mereka menghaturkan puji syukur kepada Sang Hyang Widhi yang telah mengakhiri semua penderitaan mereka dengan pertemuan yang membahagiakan ini, apalagi mendengar bahwa Senopati Sindukerta berdua telah lama memaafkan mereka dan bahkan merindukan mereka untuk dapat berkumpul kembali di Kahurlpan.
Kereta dijalankan cepat dan langsung menuju Kahuripan. Ketika suami Isteri itu mengajak Nurseta singgah dulu di dusun Singojajar, pemuda ini tidak setuju, mengatakan bahwa mungkin kini pasukan Wura-Wuri sudah menghadang di sana dan kalau mereka ke sana hanya akan menghadapi bahaya. Pula, mereka akan kembali ke gedung Senopati Sindukerta di mana segala kebutuhan mereka telah tersedia, maka semua harta milik mereka di Singojajar yang tidak seberapa itu tidak perlu dibawa.

Setelah memasuki kota raja Kahuripan, Nurseta menjalankan keretanya langsung menuju gedung tempat tinggal kakeknya. Suami isteri yang berada di dalam kereta itu merasa betapa jantung mereka berdebar tegang. Mulut terasa kering. Ketegangan dan keharuan membuat tubuh mereka rasanya gemetar, apalagi ketika kereta memasuki halaman gedung yang luas itu. Bahkan Endang Sawitri sudah tidak dapat menahan turunnya air matanya melihat halaman gedung yang amat dikenalnya itu, tempat di mana ia dilahirkan dan dibesarkan! Ketika Nurseta menghentikan kereta di depan pendopo, beberapa orang prajurit penjaga dan pelayan segera menyambut. Ada yang memegangi kendali kuda, dan ada pula yang segera masuk untuk melapor kepada Senopati Sepuh Sindukerta. Nurseta menggandeng ibunya yang tampak lemas, bersama ayahnya mendaki anak tangga pendopo yang luas. Lalu terdengar jerit tangis dari dalam gedung dan Senopati Sindukerta bersama isterinya tampak keluar dan berlari-lari menyambut.
"Endang.... ah, Endang anakku....!"
"Kanjeng Ibu....!" Dua orang wanita itu sudah saling tubruk, saling rangkul sambil bertangisan.
"Kanjeng Ibu.... ah, Kanjeng Ibu....!" Endang Sawitri menjerit ketika tiba-tiba ibunya terkulai lemas dalam rangkulannya. Wanita tua itu jatuh pingsan saking hebatnya guncangan hati yang bahagia dan terharu itu.
Nurseta segera memondong tubuh neneknya dan mereka semua memasuki gedung. Sebentar saja isteri Senopati Sindukerta siuman kembali dan ia menangis saking gembiranya, menciumi puterinya. Endang Sawitri bersama Dharmaguna lalu berlutut merangkul kaki dan menyembah kepada Senopati Sindukerta dan isterinya.
"Kanjeng Rama, Kanjeng Ibu, hamba Dharmaguna mohon beribu ampun telah membuat Paduka berdua mengalami kedukaan." kata Dharmaguna.
Ki Senopati dan Nyi Senopati mengangkat bangun suami Isteri itu.
"Sudahlah, sudah lama kami maafkan kalian. Kami sendiri juga merasa bersalah telah membuat kailan menderita. Untung Cucu kami Nurseta ini datang mencari kami. Kami sudah hampir putus asa untuk dapat berkumpul kembali dengan kalian."
Seluruh penghuni gedung senopaten itu, termasuk para prajurit pengawal dan para abdi, bergembira. Senopati Sindukerta bahkan mengadakan pesta sekeluarga dan para pembantu untuk menyambut kembalinya puteri dan mantu mereka. Sambil berpesta, Nurseta harus menceritakan pengalamannya ketika menemukan orang tuanya. Kemudian Dharmaguna dan Endang Sawitri mendapat giliran menceritakan semua pengalaman mereka selama dua puluh tiga tahun menjadi orang-orang pelarian itu. Untuk melepaskan kerinduan, mulai hari itu, Senopati Sindukerta melarang puteri, mantu, dan cucunya pergi meninggalkan dia dan isterinya. Setiap hari mereka berbincang-bincang dan tiada habisnya pengalaman yang dapat diceritakan.
Nurseta sendiri baru sekali ini merasakan kebahagiaan berkumpul dengan ayah, ibu, kakek, dan neneknya. Ketika mendengar akan pertolongan yang diberikan Puspa Dewi kepada puteri dan mantunya, Senopati Sindukerta berkata.
"Ah, gadis itu memang hebat! Bahkan Gusti Sinuhun dan Gusti Patih sendiri berkenan menerimanya dan Sang Prabu Erlangga berkenan memberi hadiah patrem pusaka Sang Cundrik Arum kepada Puspa Dewi! Dan ternyata bahwa Puspa Dewi adalah puteri kandung Anakmas Senopati Muda Yudajaya, putera mantu Adi Tumenggung Jayatanu sahabat lamakul"
"Akan tetapi, Kanjeng Rama, bukankah Puspa Dewi itu puteri Nyi Lasmi, janda yang dulu tinggal di Karang Tirta?" tanya Endang Sawitri dengan heran.
"Benar!" Senopati Sindukerta mengangguk-angguk.
"Nyi Lasmi itu adalah isteri pertama Anakmas Senopati Yudajaya yang dulu entah mengapa berpisah dari suaminya. Akan tetapi belum lama ini ia sudah diboyong kembali ke Tumenggungan dimana Senopati Yudajaya tinggal bersama isterinya yang kedua, yaitu puteri Adi Tumenggung Oayatanu."
"Ah, kalau begitu-sekali waktu saya ingin mengunjungi Nyi Lasmi, karena dulu saya pernah tinggal sedusun dan mengenalnya dengan baik." kata Endang Sawitri.

Dua pekan kemudian, keinginan Endang Sawitri terkabul. Bahkan Senopati Sindukerta sendiri yang mengantar Endang Sawitri bersama suaminya, berkunjung ke gedung tumenggungan. Nurseta tidak ikut pergi karena pemuda ini selain tidak mempunyai urusan dengan keluarga Tumenggung Jayatanu, juga ingin berjalan-jalan di kota raja. Kunjungan Senopati Sindukerta bersama anak dan mantunya menggunakan kereta itu disambut oleh sahabatnya, Tumenggung Jayatanu sekeluarga dengan gembira sekali. Memang dua orang tua ini merupakan panglima-panglima yang setia dan besar jasanya, dan di antara mereka terdapat tali persahabatan yang karib.
"Kakang Senopati Sindukerta, selamat datang! Kami merasa terhormat sekali menerima kunjungan Andika!" sambut Tumenggung Jayatanu sambil mempersilakan tiga orang tamunya masuk ke ruangan tamu yang luas.
"Adi Tumenggung Jayatanu, aku ingin menguji kekuatan ingatan dan ketajaman pandanganmu. Nah, coba lihat siapa wanita yang kuajak datang berkunjung ini!" kata Senopati Sindukerta sambil menunjuk kepada Endang Sawitri yang tersenyum-senyum dan duduk dengan anggunnya di samping suaminya.
Tumenggung Jayatanu mengamati wajah Endang Sawitri, tampak ragu. Melihat ini, Endang Sawitri merasa kasihan dan membantu orang tua yang dulu sudah dikenalnya dengan baik sebagai sahabat karib ayahnya.
"Paman Tumenggung, benarkah Paman telah lupa kepada saya?"
Melihat senyum itu, Tumenggung Jayatanu melebarkan matanya dan menepuk dahinya.
"Ah, Endang Sawitri! Bukankah engkau Endang?"
"Benar, Paman."
"Ha-ha-ha, kiranya engkau sudah pulang! Wah, Ayah Ibumu setengah mati mengharapkan engkau pulang! Syukurlah, aku merasa ikut berbahagia dengan kepulanganmu!"
"Adi Tumenggung, ini adalah mantu kami, Dharmaguna." Senopati Sindukerta memperkenalkan mantunya, Dharmaguna lalu merangkap kedua tangan ke depan hidung sebagal sembah penghormatan.

<<< Bagian 46                                                                                         Bagian 48 >>>

No comments:

Post a Comment