"wah, Anakmas Dharmaguna, senang dapat berkenalan dengan Andika. Andika berdua Endang adalah orang tua yang berbahagia, mempunyai putera seperti Nurseta yang sakti mandraguna dan berjasa besar terhadap Kahuripan! Kalau begitu, sebentar, aku harus mengundang keluargaku untuk bertemu dan berkenalan dengan kalian Kami sekeluarga juga mempunyai kejutan untukmu, Kakang Senopati."
"Benarkah?"
Senopati tersenyum. Sebetulnya dia telah mendengar akan "kejutan"
yang hendak dipamerkan sahabatnya itu, ialah bahwa Puspa Dewi yang terkenal itu
adalah cucunya, walaupun hanya cucu tiri dan bahwa Ibu kandung Puspa Dewi, Nyi
Lasmi, kini telah tinggal bersama keluarganya di tumenggungan itu. Akan tetapi
dia pura-pura tidak tahu agar tidak mengurangi rasa bangga dan gembira
sahabatnya.
Tumenggung
Jayatanu masuk ke dalam dan tak lama kemudian dia keluar lagi diikuti Nyi
Tumenggung, Senopati Yudajaya dan dua orang isterinya, yaitu Nyi Lasmi dan Dyah
Mularsih. Begitu saling pandang, Dyah Mularsih dan Endang saling menghampiri
"Mbakayu
Endang....!!"
"Kau....
Dyah Mularsih!" Dua orang wanita itu saling berpelukan. Dulu mereka memang
menjadi sahabat baik, sungguhpun Endang Sawitri lebih tua sekitar empat tahun.
Setelah saling berpelukan dan berciuman, Endang Sawitri memandang ke arah Nyi
Lasmi yang juga memandangnya dengan mata dilebarkan. Mereka saling pandang,
saling senyum, lalu keduanya saling menghampiri.
"Lasmi....
Andika Lasmi yang pernah tinggal di Karang Tirta?"
Nyi Lasmi
tersenyum.
"Mbakayu
Endang Sawitri! Tidak kusangka kita akan dapat saling bertemu di sini!"
kedua orang wanita ini saling berpegang tangan.
"Wah,
kalian sudah saling mengenai?" tegur Tumenggung Jayatanu heran.
"Paman
Tumenggung, Adik Lasmi ini dulu menjadi tetangga saya ketika kami sama-sama
tinggal di Karang Tirta."
Ki Tumenggung
Jayatanu lalu memperkenalkan mantunya, Prasetyo atau Senopati Yudajaya kepada
Dharamaguna dan Endang Sawitri. Kemudian dua keluarga itu bercakap-cakap
diruangan dalam sambil menikmati hidangan yang disuguhkan Nyi Tumenggung.
Setelah
selesai makan, Endang Sawitri mengajak Nyi Lasmi dan Dyah Mularsih untuk bicara
bertiga di ruangan terpisah. Nyi Tumenggung juga ikut setelah berkata sambil
tertawa.
“Ai, aku pun
ikut dengan kalian bertiga. Biarlah kita para wanita bicara di dalam dan para
pria bercakap-cakap di sini!"
Maka masuklah
mereka berempat ke dalam, sedangkan Tumenggung Jayatanu dan mantunya, Senopati
Yudajaya mengajak dua orang tamunya, Senopati Sindukerta dan mantunya,
Dharmaguna, bercakap-cakap di ruang tamu. Dalam percakapan yang santai dan
akrab, Endang Sawitri secara ramah menyatakan pendapatnya, setelah mereka
saling menceritakan tentang anak masing-masing. Lasmi bercerita tentang
puterinya, Puspa Dewi, sedangkan Endang Sawitri bercerita tentang Nurseta.
"Nurseta
dan Puspa Dewi juga sudah saling mengenal dengan baik. Keduanya berjasa besar
terhadap Kahuripan. Keduanya sama-sama murid orang-orang sakti mandraguna. Aku
sendiri bersama suamiku telah diselamatkan oleh Puspa Dewi, dan kami berterima
kasih sekali. Kami berdua juga melihat betapa serasinya dua orang Anak kita
itu, Adik Lasmi. Alangkah baiknya dan alangkah akan berbahagia hati kami kalau
saja Anak kami Nurseta dapat dijodohkan dengan puterimu Puspa Dewi! Bagaimana
pendapatmu?"
Nyi Lasmi
tersenyum dan wajahnya berseri, akan tetapi ia lalu menoleh dan memandang
kepada ibu mertuanya.
"Wah,
Mbakayu Endang Sawitri, aku pribadi merasa senang dan setuju saja. Akan tetapi
hal ini tidak dapat kuputuskan sendiri. Harus lebih dulu mendapat persetujuan
dari Puspa Dewi sendiri, lalu dari Ayahnya, juga tentu saja restu Kanjeng Ibu
dan Kanjeng Rama Tumenggung!"
"Aku juga
setuju!" tiba-tiba Dyah Mularsih berkata sambil tersenyum.
"Kalau
Anakku Puspa Dewi menjadi mantu Mbakayu Endang, berarti kita berbesan dengan
Mbakayu Endang, dan ini menyenangkan sekali, Mbakayu Lasmi!"
Nyi Tumenggung
berkata tenang.
"Lasmi
tadi berkata benar. Sebelum keputusan diambil, hal ini harus mendapat
persetujuan Puspa Dewi sendiri, juga Ayahnya dan Eyangnya. Kalau aku sih
menurut dan setuju saja atas pendapat suamiku."
"Terima
kasih, Bibi Tumenggung! Hati saya sudah merasa bahagia sekali mendengar bahwa
Paduka setuju dan kedua Adik yang menjadi Ibu Puspa Dewi ini juga setuju. Akan
tetapi tentu saja harus mendapatkan persetujuan Ayah dan Eyang Puspa Dewi,
terutama dari ia sendiri. Yang saya kemukakan ini pun bukan lamaran resmi,
hanya menyatakan hasrat hati saya."
"Mbakayu
Endang, apakah Andika sudah membicarakan hal ini kepada suami Andika dan kepada
Paman Senopati Sindukerta?"
Endang Sawitri
mengangguk.
"Mereka
juga amat setuju dengan usulku ini."
"Juga
sudah disetujui Nurseta?" tanya Nyi Lasmi.
"Wah,
kalau ini beluml Aku belum mengajak Nurseta bicara tentang hal ini. Akan tetapi
setelah pulang, aku akan mengajak dia bicara tentang perjodohannya."
"Sayang
sekali, Puspa Dewi masih belum pulang sehingga tidak dapat kami ajak bicara
tentang hal ini." kata Lasmi.
Setelah
beramah-tamah, para tamu itu pulang dengan hati senang. Setelah tiba di gedung
tempat tinggalnya, malam itu juga Endang Sawitri dan suaminya, Ki Dharmaguna,
mengajak Ki Senopati Sindukerta dan isterinya, membicarakan tentang usul
perjodohan itu dengan Nurseta. Sehabis makan malam bersama, keluarga itu lalu
bercakap-cakap di ruangan dalam dan Endang Sawitri membuka percakapan tentang
perjodohan itu.
"Anakku
Nurseta, ingatkah engkau berapa usiamu sekarang?"
Mendengar
pertanyaan Ibunya, Nurseta menatap wajah Ibunya dan tersenyum.
"Kalau
tidak keliru, umur saya dua puluh dua tahun, Ibu. Mengapa Ibu bertanya tentang
usia?"
"Nurseta,
maksud Ibumu, seorang pemuda berusia dua puluh dua tahun seperti engkau ini
sudah sepantasnya kalau menikah" kata Dharmaguna membantu isterinya.
"Benar
sekali itu!" sambung Nyi Sindukerta. "Aku pun sudah ingin sekali
menimang seorang cucu. Eyang Kakungmu juga begitu, Nurseta!"
"Ha-ha-ha!"
Senopati Sindukerta tertawa.
"Nurseta,
sekarang engkau didesak Ayah Ibu dan Eyang puterimu. Nah, katakan, apakah
engkau telah mempunyai pilihan hati, seorang gadis yang engkau ingin menjadi
jodohmu?"
Nurseta
tertegun. Sama sekali tidak disangkanya bahwa orang-orang tua itu secara
serentak mendesaknya mengenai urusan perjodohan!
"Akan
tetapi.... sama sekali saya belum pernah memikirkan tentang perjodohan...!'
katanya agak tergagap.
"Nah,
kalau begitu sekarang engkau harus mulai memikirkan, Nurseta!" kata Endang
Sawitri.
"Katakanlah,
siapa gadis yang hendak kau pilih? Kami yang mengajukan pinangan!"
Nurseta
menggeleng kepalanya.
"Tidak ada,
Ibu. Saya belum pernah memilih, belum pernah memikirkan hal itu...."
Ketika
mengatakan hal itu, dalam ingatan Nurseta terbayanglah wajah-wajah gadis yang
pernah dia jumpai semenjak dia dewasa. Yang pertama adalah Puspa Dewi, yang
bukan saja telah dikenalnya sejak dia remaja dan tinggal di Karang Tirta,
kemudian dia berjumpa lagi dengan Puspa Dewi setelah mereka sama sama dewasa,
bahkan sama-sama menjadi orang muda yang digdaya dan sama-sama pula membela
Kahuripan. Kemudian dia bertemu dengan tiga orang selir Pangeran Hendratama dan
terutama sekali selir termuda bernama Widarti yang tampaknya menaruh cinta
kepadanya dan gadis itu kini telah tewas. Kemudian, ketika menolong penduduk
Karang Sari dan gangguan perampok, dia hendak diambil mantu Ki Lurah Warsita,
Lurah Karang Sari untuk dijodohkan dengan anak gadisnya, yaitu Kartiyah yang
hitam manis, namun ditolaknya. Banyak pula dia bertemu gadis gadis cantik yang
tidak mempunyai persoalan apa pun dengan dirinya, akan tetapi selama ini dia
belum pernah tertarik kepada seorang di antara mereka. Maka ketika kini ayah
ibunya dan kakek neneknya mendesaknya, dia menjadi bingung.
"Nurseta,
engkau mengenal Puspa Dewi, bukan?"
Nurseta
menatap wajah Ibunya.
"Puspa
Dewi? Tentu saja, Ibu. Saya mengenalnya sejak remaja di Karang Tirta
dulu."
"Bagaimana
pendapatmu tentang gadis itu?" desak Ibunya.
"Pendapat
saya mengenai apanya, Ibu?" Nurseta bertanya, belum dapat menangkap apa
yang tersirat dalam pertanyaan ibunya itu.
"Segalanya
tentang Puspa Dewi. Kecantikannya, kedigdayaannya, wataknya." Endang
Sawitri mengejar.
"Ahh....
itu? Hemm, ia seorang gadis yang cantik. Ia pun digdaya, berilmu tinggi
walaupun agak ganas.... akan tetapi saya kira sekarang sudah tidak begitu ganas
lagi. Dan ia gagah dan baik, berjasa besar membela Kahuripan, Ibu."
"Jadi
engkau menganggap ia seorang gadis yang baik?"
"Benar,
Ibu."
"Pendapatmu
itu benar! Dan lebih dari itu, Puspa Dewi adalah cucu Paman Tumenggung Jayatanu
yang terkenal gagah perkasa dan setia kepada Kahuripan, Ayahnya adalah Senopati
Yudajaya dan Ibunya adalah Nyi Lasmi yang dulu menjadi sahabatku ketika kita
tinggal di Karang Tirta. Nah, ia sungguh cocok untuk menjadi cucu mantu
Eyangmu, tepat untuk menjadi mantu kami, dan serasi sekali untuk menjadi
Isterimu!"
"Ah,
Ibu....!" Wajah Nurseta berubah kemerahan.
Pernyataan ini
sungguh terlalu tiba-tiba datangnya dan sama sekali tidak pernah diduganya,
membuat dia merasa malu, sungkan, dan salah tingkah.
"Ibumu
benar, Nurseta! Puspa Dewi akan merupakan seorang isterl yang cocok sekali
bagimu." kata Senopati Sindukerta.
”Tidak usah
malu-malu, Nurseta. Katakan bahwa engkau setuju dan kami akan segera mengajukan
pinangan." kata Ki Dharmaguna.
Melihat
puteranya masih menundukkan muka dan diam saja, Endang Sawitrl mendesak.
"Jawablah,
Nurseta, agar kami dapat segera mengajukan pinangan. Aku khawatir kalau
didahului orang karena Puspa Dewi juga sudah dewasa."
"Ibu,
kalau sampai pinangan ditolak, saya akan merasa malu sekali...."
"Jangan
khawatir! Aku sudah membicarakan dengan Nyi Lasmi, Dyah Mularsih, dan Bibi
Tumenggung dan mereka bertiga setuju sekali!"
"Akan
tetapi bagaimana kalau Puspa Dewi menolak? Ia seorang gadis yang cantik,
pandai, bangsawan dan angkuh, sedangkan aku...."
"Hushh,
jangan merendahkan diri sendiri. Engkau memiliki banyak kelebihan, Nurseta.
Jadi engkau setuju kalau kami meminang Puspa Dewi untuk menjadi jodohmu?"
Nurseta dapat
menangkap harapan dan hasrat yang besar dan kuat sekali dalam ucapan ibunya,
dan dia melihat pula sikap ayahnya, kakek dan neneknya semua mendukung niat itu
dengan sangat, maka dia merasa tidak enak kalau menolak begitu saja. Pula, dia
harus mengakui bahwa mendapatkan jodoh seorang gadis seperti Puspa Dewi
merupakan hal yang luar biasa sekali. Tidak mudah mendapatkan gadis sehebat
Puspa Dewi. Cantik jelita, sakti mandraguna, berdarah bangsawan, baik budi yang
dibuktikannya bahwa ia tidak membela gurunya yang juga ibu angkatnya, Nyi Dewi
Durgakumala yang jahat, melainkan membalik dan membela Sang Prabu Erlangga dan
Ki Patih Narotama. Dia memang tidak atau belum tahu apakah dia jatuh cinta
kepada Puspa Dewi. Yang terasa olehnya hanyalah kekaguman terhadap gadis itu.
Akan tetapi dia pun tidak tega membuat kecewa ayah ibunya dan kakek neneknya,
maka dia mengangguk dan menghela napas panjang.
"Ibu,
saya hanya menyerahkan keputusannya kepada Ayah Ibu dan kedua Eyang saja."
Tentu saja para
orang tua itu tidak dapat menyelami perasaan Nurseta karena pemuda ini sudah
mampu mengendapkan semua perasaan hatinya sehingga wajahnya tidak membayangkan
perasaannya. Mereka mengira bahwa pemuda itu setuju sepenuhnya namun merasa
malu untuk mengakuinya.
Akan tetapi
karena mendengar bahwa Puspa Dewi belum pulang, Ki Dharmaguna dan Endang
Sawitri masih menunggu. Mereka tidak akan mengajukan pinangan resmi sebelum
gadis itu pulang karena mereka tahu bahwa jawaban pihak keluarga Tumenggung
Jayatanu terhadap pinangan itu tergantung dari keputusan Puspa Dewi.
Nenek
berpakaian serba hitam itu berlari seperti terbang cepatnya ke arah selatan.
Gadis jelita itu juga berlari cepat mengikuti di belakangnya. Rambutnya yang
hitam tebal dan panjang itu terurai lepas dari sanggulnya, berkibar di belakang
kepalanya seperti sehelai bendera hitam.
No comments:
Post a Comment