Nurseta Satria Karangtirta ; Bagian 48


"wah, Anakmas Dharmaguna, senang dapat berkenalan dengan Andika. Andika berdua Endang adalah orang tua yang berbahagia, mempunyai putera seperti Nurseta yang sakti mandraguna dan berjasa besar terhadap Kahuripan! Kalau begitu, sebentar, aku harus mengundang keluargaku untuk bertemu dan berkenalan dengan kalian Kami sekeluarga juga mempunyai kejutan untukmu, Kakang Senopati."
"Benarkah?" Senopati tersenyum. Sebetulnya dia telah mendengar akan "kejutan" yang hendak dipamerkan sahabatnya itu, ialah bahwa Puspa Dewi yang terkenal itu adalah cucunya, walaupun hanya cucu tiri dan bahwa Ibu kandung Puspa Dewi, Nyi Lasmi, kini telah tinggal bersama keluarganya di tumenggungan itu. Akan tetapi dia pura-pura tidak tahu agar tidak mengurangi rasa bangga dan gembira sahabatnya.
Tumenggung Jayatanu masuk ke dalam dan tak lama kemudian dia keluar lagi diikuti Nyi Tumenggung, Senopati Yudajaya dan dua orang isterinya, yaitu Nyi Lasmi dan Dyah Mularsih. Begitu saling pandang, Dyah Mularsih dan Endang saling menghampiri
"Mbakayu Endang....!!"
"Kau.... Dyah Mularsih!" Dua orang wanita itu saling berpelukan. Dulu mereka memang menjadi sahabat baik, sungguhpun Endang Sawitri lebih tua sekitar empat tahun. Setelah saling berpelukan dan berciuman, Endang Sawitri memandang ke arah Nyi Lasmi yang juga memandangnya dengan mata dilebarkan. Mereka saling pandang, saling senyum, lalu keduanya saling menghampiri.
"Lasmi.... Andika Lasmi yang pernah tinggal di Karang Tirta?"
Nyi Lasmi tersenyum.
"Mbakayu Endang Sawitri! Tidak kusangka kita akan dapat saling bertemu di sini!" kedua orang wanita ini saling berpegang tangan.
"Wah, kalian sudah saling mengenai?" tegur Tumenggung Jayatanu heran.
"Paman Tumenggung, Adik Lasmi ini dulu menjadi tetangga saya ketika kami sama-sama tinggal di Karang Tirta."
Ki Tumenggung Jayatanu lalu memperkenalkan mantunya, Prasetyo atau Senopati Yudajaya kepada Dharamaguna dan Endang Sawitri. Kemudian dua keluarga itu bercakap-cakap diruangan dalam sambil menikmati hidangan yang disuguhkan Nyi Tumenggung.

Setelah selesai makan, Endang Sawitri mengajak Nyi Lasmi dan Dyah Mularsih untuk bicara bertiga di ruangan terpisah. Nyi Tumenggung juga ikut setelah berkata sambil tertawa.
“Ai, aku pun ikut dengan kalian bertiga. Biarlah kita para wanita bicara di dalam dan para pria bercakap-cakap di sini!"
Maka masuklah mereka berempat ke dalam, sedangkan Tumenggung Jayatanu dan mantunya, Senopati Yudajaya mengajak dua orang tamunya, Senopati Sindukerta dan mantunya, Dharmaguna, bercakap-cakap di ruang tamu. Dalam percakapan yang santai dan akrab, Endang Sawitri secara ramah menyatakan pendapatnya, setelah mereka saling menceritakan tentang anak masing-masing. Lasmi bercerita tentang puterinya, Puspa Dewi, sedangkan Endang Sawitri bercerita tentang Nurseta.
"Nurseta dan Puspa Dewi juga sudah saling mengenal dengan baik. Keduanya berjasa besar terhadap Kahuripan. Keduanya sama-sama murid orang-orang sakti mandraguna. Aku sendiri bersama suamiku telah diselamatkan oleh Puspa Dewi, dan kami berterima kasih sekali. Kami berdua juga melihat betapa serasinya dua orang Anak kita itu, Adik Lasmi. Alangkah baiknya dan alangkah akan berbahagia hati kami kalau saja Anak kami Nurseta dapat dijodohkan dengan puterimu Puspa Dewi! Bagaimana pendapatmu?"
Nyi Lasmi tersenyum dan wajahnya berseri, akan tetapi ia lalu menoleh dan memandang kepada ibu mertuanya.
"Wah, Mbakayu Endang Sawitri, aku pribadi merasa senang dan setuju saja. Akan tetapi hal ini tidak dapat kuputuskan sendiri. Harus lebih dulu mendapat persetujuan dari Puspa Dewi sendiri, lalu dari Ayahnya, juga tentu saja restu Kanjeng Ibu dan Kanjeng Rama Tumenggung!"
"Aku juga setuju!" tiba-tiba Dyah Mularsih berkata sambil tersenyum.
"Kalau Anakku Puspa Dewi menjadi mantu Mbakayu Endang, berarti kita berbesan dengan Mbakayu Endang, dan ini menyenangkan sekali, Mbakayu Lasmi!"
Nyi Tumenggung berkata tenang.
"Lasmi tadi berkata benar. Sebelum keputusan diambil, hal ini harus mendapat persetujuan Puspa Dewi sendiri, juga Ayahnya dan Eyangnya. Kalau aku sih menurut dan setuju saja atas pendapat suamiku."
"Terima kasih, Bibi Tumenggung! Hati saya sudah merasa bahagia sekali mendengar bahwa Paduka setuju dan kedua Adik yang menjadi Ibu Puspa Dewi ini juga setuju. Akan tetapi tentu saja harus mendapatkan persetujuan Ayah dan Eyang Puspa Dewi, terutama dari ia sendiri. Yang saya kemukakan ini pun bukan lamaran resmi, hanya menyatakan hasrat hati saya."
"Mbakayu Endang, apakah Andika sudah membicarakan hal ini kepada suami Andika dan kepada Paman Senopati Sindukerta?"
Endang Sawitri mengangguk.
"Mereka juga amat setuju dengan usulku ini."
"Juga sudah disetujui Nurseta?" tanya Nyi Lasmi.
"Wah, kalau ini beluml Aku belum mengajak Nurseta bicara tentang hal ini. Akan tetapi setelah pulang, aku akan mengajak dia bicara tentang perjodohannya."
"Sayang sekali, Puspa Dewi masih belum pulang sehingga tidak dapat kami ajak bicara tentang hal ini." kata Lasmi.

Setelah beramah-tamah, para tamu itu pulang dengan hati senang. Setelah tiba di gedung tempat tinggalnya, malam itu juga Endang Sawitri dan suaminya, Ki Dharmaguna, mengajak Ki Senopati Sindukerta dan isterinya, membicarakan tentang usul perjodohan itu dengan Nurseta. Sehabis makan malam bersama, keluarga itu lalu bercakap-cakap di ruangan dalam dan Endang Sawitri membuka percakapan tentang perjodohan itu.
"Anakku Nurseta, ingatkah engkau berapa usiamu sekarang?"
Mendengar pertanyaan Ibunya, Nurseta menatap wajah Ibunya dan tersenyum.
"Kalau tidak keliru, umur saya dua puluh dua tahun, Ibu. Mengapa Ibu bertanya tentang usia?"
"Nurseta, maksud Ibumu, seorang pemuda berusia dua puluh dua tahun seperti engkau ini sudah sepantasnya kalau menikah" kata Dharmaguna membantu isterinya.
"Benar sekali itu!" sambung Nyi Sindukerta. "Aku pun sudah ingin sekali menimang seorang cucu. Eyang Kakungmu juga begitu, Nurseta!"
"Ha-ha-ha!" Senopati Sindukerta tertawa.
"Nurseta, sekarang engkau didesak Ayah Ibu dan Eyang puterimu. Nah, katakan, apakah engkau telah mempunyai pilihan hati, seorang gadis yang engkau ingin menjadi jodohmu?"
Nurseta tertegun. Sama sekali tidak disangkanya bahwa orang-orang tua itu secara serentak mendesaknya mengenai urusan perjodohan!
"Akan tetapi.... sama sekali saya belum pernah memikirkan tentang perjodohan...!' katanya agak tergagap.
"Nah, kalau begitu sekarang engkau harus mulai memikirkan, Nurseta!" kata Endang Sawitri.
"Katakanlah, siapa gadis yang hendak kau pilih? Kami yang mengajukan pinangan!"
Nurseta menggeleng kepalanya.
"Tidak ada, Ibu. Saya belum pernah memilih, belum pernah memikirkan hal itu...."

Ketika mengatakan hal itu, dalam ingatan Nurseta terbayanglah wajah-wajah gadis yang pernah dia jumpai semenjak dia dewasa. Yang pertama adalah Puspa Dewi, yang bukan saja telah dikenalnya sejak dia remaja dan tinggal di Karang Tirta, kemudian dia berjumpa lagi dengan Puspa Dewi setelah mereka sama sama dewasa, bahkan sama-sama menjadi orang muda yang digdaya dan sama-sama pula membela Kahuripan. Kemudian dia bertemu dengan tiga orang selir Pangeran Hendratama dan terutama sekali selir termuda bernama Widarti yang tampaknya menaruh cinta kepadanya dan gadis itu kini telah tewas. Kemudian, ketika menolong penduduk Karang Sari dan gangguan perampok, dia hendak diambil mantu Ki Lurah Warsita, Lurah Karang Sari untuk dijodohkan dengan anak gadisnya, yaitu Kartiyah yang hitam manis, namun ditolaknya. Banyak pula dia bertemu gadis gadis cantik yang tidak mempunyai persoalan apa pun dengan dirinya, akan tetapi selama ini dia belum pernah tertarik kepada seorang di antara mereka. Maka ketika kini ayah ibunya dan kakek neneknya mendesaknya, dia menjadi bingung.
"Nurseta, engkau mengenal Puspa Dewi, bukan?"
Nurseta menatap wajah Ibunya.
"Puspa Dewi? Tentu saja, Ibu. Saya mengenalnya sejak remaja di Karang Tirta dulu."
"Bagaimana pendapatmu tentang gadis itu?" desak Ibunya.
"Pendapat saya mengenai apanya, Ibu?" Nurseta bertanya, belum dapat menangkap apa yang tersirat dalam pertanyaan ibunya itu.
"Segalanya tentang Puspa Dewi. Kecantikannya, kedigdayaannya, wataknya." Endang Sawitri mengejar.
"Ahh.... itu? Hemm, ia seorang gadis yang cantik. Ia pun digdaya, berilmu tinggi walaupun agak ganas.... akan tetapi saya kira sekarang sudah tidak begitu ganas lagi. Dan ia gagah dan baik, berjasa besar membela Kahuripan, Ibu."
"Jadi engkau menganggap ia seorang gadis yang baik?"
"Benar, Ibu."
"Pendapatmu itu benar! Dan lebih dari itu, Puspa Dewi adalah cucu Paman Tumenggung Jayatanu yang terkenal gagah perkasa dan setia kepada Kahuripan, Ayahnya adalah Senopati Yudajaya dan Ibunya adalah Nyi Lasmi yang dulu menjadi sahabatku ketika kita tinggal di Karang Tirta. Nah, ia sungguh cocok untuk menjadi cucu mantu Eyangmu, tepat untuk menjadi mantu kami, dan serasi sekali untuk menjadi Isterimu!"
"Ah, Ibu....!" Wajah Nurseta berubah kemerahan.
Pernyataan ini sungguh terlalu tiba-tiba datangnya dan sama sekali tidak pernah diduganya, membuat dia merasa malu, sungkan, dan salah tingkah.
"Ibumu benar, Nurseta! Puspa Dewi akan merupakan seorang isterl yang cocok sekali bagimu." kata Senopati Sindukerta.
”Tidak usah malu-malu, Nurseta. Katakan bahwa engkau setuju dan kami akan segera mengajukan pinangan." kata Ki Dharmaguna.
Melihat puteranya masih menundukkan muka dan diam saja, Endang Sawitrl mendesak.
"Jawablah, Nurseta, agar kami dapat segera mengajukan pinangan. Aku khawatir kalau didahului orang karena Puspa Dewi juga sudah dewasa."
"Ibu, kalau sampai pinangan ditolak, saya akan merasa malu sekali...."
"Jangan khawatir! Aku sudah membicarakan dengan Nyi Lasmi, Dyah Mularsih, dan Bibi Tumenggung dan mereka bertiga setuju sekali!"
"Akan tetapi bagaimana kalau Puspa Dewi menolak? Ia seorang gadis yang cantik, pandai, bangsawan dan angkuh, sedangkan aku...."
"Hushh, jangan merendahkan diri sendiri. Engkau memiliki banyak kelebihan, Nurseta. Jadi engkau setuju kalau kami meminang Puspa Dewi untuk menjadi jodohmu?"

Nurseta dapat menangkap harapan dan hasrat yang besar dan kuat sekali dalam ucapan ibunya, dan dia melihat pula sikap ayahnya, kakek dan neneknya semua mendukung niat itu dengan sangat, maka dia merasa tidak enak kalau menolak begitu saja. Pula, dia harus mengakui bahwa mendapatkan jodoh seorang gadis seperti Puspa Dewi merupakan hal yang luar biasa sekali. Tidak mudah mendapatkan gadis sehebat Puspa Dewi. Cantik jelita, sakti mandraguna, berdarah bangsawan, baik budi yang dibuktikannya bahwa ia tidak membela gurunya yang juga ibu angkatnya, Nyi Dewi Durgakumala yang jahat, melainkan membalik dan membela Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama. Dia memang tidak atau belum tahu apakah dia jatuh cinta kepada Puspa Dewi. Yang terasa olehnya hanyalah kekaguman terhadap gadis itu. Akan tetapi dia pun tidak tega membuat kecewa ayah ibunya dan kakek neneknya, maka dia mengangguk dan menghela napas panjang.
"Ibu, saya hanya menyerahkan keputusannya kepada Ayah Ibu dan kedua Eyang saja."
Tentu saja para orang tua itu tidak dapat menyelami perasaan Nurseta karena pemuda ini sudah mampu mengendapkan semua perasaan hatinya sehingga wajahnya tidak membayangkan perasaannya. Mereka mengira bahwa pemuda itu setuju sepenuhnya namun merasa malu untuk mengakuinya.
Akan tetapi karena mendengar bahwa Puspa Dewi belum pulang, Ki Dharmaguna dan Endang Sawitri masih menunggu. Mereka tidak akan mengajukan pinangan resmi sebelum gadis itu pulang karena mereka tahu bahwa jawaban pihak keluarga Tumenggung Jayatanu terhadap pinangan itu tergantung dari keputusan Puspa Dewi.

Nenek berpakaian serba hitam itu berlari seperti terbang cepatnya ke arah selatan. Gadis jelita itu juga berlari cepat mengikuti di belakangnya. Rambutnya yang hitam tebal dan panjang itu terurai lepas dari sanggulnya, berkibar di belakang kepalanya seperti sehelai bendera hitam.

<<< Bagian 47                                                                                         Bagian 49 >>>

No comments:

Post a Comment