Kalau wajah nenek berpakaian hitam itu masih tampak tenang dan biasa saja, sebaliknya wajah gadis itu berkilau basah oleh keringatnya sendiri dan pernapasannya agak terengah. Namun dengan nekat ia berlari terus, tidak mau tertinggal oleh nenek yang berlari di depannya, dalam jarak sekitar tiga tombak saja! Nenek itu berusia sekitar lima puluh satu tahun. Wajahnya masih membayangkan bekas wajah wanita cantik, namun wajah itu dingin dan tampak bengis, terutama sinar matanya. Pakaiannya yang serba hitam menambah seram penampilannya. Sebaliknya, gadis berusia sekitar delapan belas tahun lebih itu cantik jelita dan lincah. Mereka adalah Nini Bumigarbo, nenek yang amat sakti mandraguna itu bersama muridnya yang baru, yaitu Niken Harni. Seperti kita ketahui, Niken Harni diselamatkan Nini Bumigarbo dan tertarik oleh watak Niken Harni yang lincah pemberani, nenek itu mengambilnya sebagai murid. Sekali ini Nini Bumigarbo mengambil murid bukan dengan maksud agar muridnya ini memusuhi Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama. Ia tahu bahwa Niken Harni adalah gadis bangsawan Kahuripan, maka tidak dapat diharapkan akan memusuhi Sang Prabu Erlangga. Ia mempunyai maksud dan niat lain. Gadis ini akan dijadikan murid untuk melampiaskan sakit hatinya terhadap Bhagawan Ekadenta. Bukan langsung memusuhi Bhagawan Ekadenta yang kesaktiannya tak pernah dapat ditandihginya itu, melainkan kepada semua laki-laki! Niken Harni yang cantik jelita pasti akan memikat hati banyak laki-laki dan ia menghendaki agar murid barunya ini kelak menghancurkan kebahagiaan banyak laki-laki dengan mematahkan cinta dan harapan para laki-laki yang tergila-gila kepadanya!
"Bibi
Gayatri, masih jauhkah perjalanan kita?" Niken Harni berseru kepada Nini
Bumigarbo sambil terengah-engah, akan tetapi ia tetap nekat berlari cepat agar
tidak tertinggal jauh.
Nini Bumigarbo
terkekeh dan menghentikan larinya. Niken Harni tiba di dekatnya dan gadis ini
baru menjatuhkan dirinya duduk di atas batu, mengatur pernapasan dan menyusut
keringat yang membasahi leher dan mukanya.
"Heh-heh,
engkau telah memperoleh kemajuan pesat sekali, Niken. Aku senang melihatnya.
Ternyata benar dugaanku, engkau murid yang amat berbakat."
"Masih
jauh perjalanan kita?"
"Lihat
itu. Laut Kidul sudah tampak dari sini, sudah dekat!" kata nenek itu
sambil menuding ke selatan.
Niken Harni
bangkit berdiri dan memandang. Benar saja, dari bukit kapur itu tampak laut
membentang luas, tidak jauh lagi.
"Kita
akan ke manakah, Bibi?"
"Lihat di
sana itu, yang tampak menghitam di tengah laut! Kita akan ke sana!"
Niken Harni
melihat sebuah pulau menghitam cukup jauh dari pantai.
"Ke pulau
Itu?"
"Benar,
itulah Pulau Nusa Barung yang akan kita kunjungi."
"Akan
tetapi, siapa yang tinggal di sana dan mau apa kita ke sana, Bibi
Gayatri?"
"Kita
mengunjungi seorang kawanku, kawan baik di waktu ia masih muda. Sahabatku itu
menikah dengan seorang datuk terkenal bernama Dibya Krendasakti, juragan yang
berkuasa di pulau itu. Sejak Woro Sumarni menikah dengan Dibya Krendasakti, aku
tidak pernah bertemu lagi dengannya."
Mereka
melanjutkan perjalanan dan karena Niken Harni sudah mengaso, perjalanan dapat
dilakukan cepat dan akhirnya mereka tiba di pantai Laut Kidul. Mereka menemukan
bagian pantai yang landai dan di situ terdapat belasan buah perahu nelayan,
sebagian sudah berada di lautan, akan tetapi ada dua buah perahu yang masih
berada di pantai, sedang bersiap-siap untuk berangkat menyusul kawan-kawan
mereka mencari ikan. Nini Bumlgarbo menghampiri seorang nelayan. Nelayan ini
berusia sekitar empat puluh tahun, tubuhnya hanya mengenakan celana hitam
sebetis, dadanya yang telanjang tampak kokoh dan kulitnya menghitam terbakar
sinar matahari. Melihat seorang nenek dan seorang gadis cantik menghampiri, dia
memandang heran.
"Kisanak,
antarkan kami ke tengah laut!" kata Nini Bumigarbo.
Nelayan itu
memandang heran.
"Ke
tengah lautan? Andika berdua mau apa ke sana? Aku hendak mencari ikan, tidak
sempat mengantar Andika...."
"Aku
tidak peduli. Mau atau tidak engkau harus mengantar kami!" Nini Bumigarbo
menghardik.
Nelayan itu
marah, akan tetapi sebelum dia mengeluarkan kata-kata, Niken Harni sudah maju
dan menyodorkan sebuah cincin emas kepadanya.
"Kisanak,
Andika turuti saja keinginan Bibiku ini. Cincin ini kalau Andika jual, hasilnya
lebih besar daripada hasil tangkapan ikan selama satu bulan. Terimalah, cincin
ini untuk menyewa perahumu!"
Nelayan itu
bengong, akan tetapi matanya bersinar gembira. Tanpa bicara dia lalu menerima
cincin itu dan dengan tangannya mempersilakan dua orang wanita itu naik ke
perahunya dan duduk di atas papan yang melintang di tengah perahu. Nelayan
mendayung perahunya ke tengah. Sebagai seorang ahli naik perahu, dengan cekatan
dia mendayung perahu melewati gulungan ombak yang menepi sampai dia berhasil
melewati susunan ombak dan berada di atas air yang tenang.
"Ke mana
kita akan pergi, Nona?" tanya nelayan itu.
"Ke sana,
ke pulau itu." kata Niken Harni sambil menunjuk ke arah pulau.
Nelayan itu
terbelalak.
"Pulau
Nusa Barung....?" bisiknya.
"Benar."
"Ah,
tidak.... tidak bisa, aku tidak berani...." katanya.
"Hemm,
takut apa? Jangan takut! Teruskan ke sana!" Nini Bumigarbo membentak.
“Tidak....
Tidak....! Apa artinya aku menerima upah besar kalau setibanya di sana aku
mati?"
"Mengapa,
Kisanak? Mengapa mati? Siapa yang akan membunuhmu?" tanya Niken Harni
terheran.
"Siluman....
siluman akan membunuhku. Kami semua tidak ada yang berani mendekati pulau
siluman itu..."
"Cukup!
Jangan banyak bicara! Hayo cepat pasang layar dan kita menuju ke sana!"
Nini Bumigarbo menghardik.
"Tidak...,
aku tidak mau mati...." Nelayan itu lalu memutar perahunya dan hendak
kembali ke pantai. Akan tetapi ia berteriak mengaduh ketika tangan Nini
Bumigarbo memegang pundaknya. Rasanya pundak itu seperti dijepit baja yang
keras dan panas.
"Masih
hendak membantah? Apakah engkau ingin kuhancurkan pundakmu?"
Nelayan yang
bertubuh kuat itu mengerahkan tenaga dan berusaha meronta untuk melepaskan
tangan nenek yang mencengkeram pundaknya. Akan tetapi makin kuat dia
mengerahkan tenaga meronta, semakin nyeri rasa pundaknya sehingga akhirnya dia
menjadi lemas dan menghentikan perlawanannya.
"Aduh....
ampun..., akan tetapi... aku akan mati di sana...."
"jangan
khawatir. Andika hanya mengantar kami dan Bibiku ini yang akan menanggung bahwa
Andika tidak akan diganggu siluman di sana." kata Niken Harni.
Terpaksa
nelayan itu lalu memasang dan mengembangkan layarnya yang tidak berapa
besarnya. Perahunya meluncur cepat menuju ke-pulau yang tampak menghitam. Jelas
tampak nelayan itu ketakutan. Wajahnya pucat, matanya jelalatan (liar)
memandang ke arah pulau dan kedua tangannya yang mengendalikan perahu gemetar.
"Aduh
celaka....!" Tiba-tiba dia berkata dengan suara gemetar.
"Ada
apa?" tanya Niken Harni.
"Itu....
di sana... ikan hiu besar dan ganas...!" nelayan itu menunjuk ke sebelah
kanan perahu.
Niken Harni
melihat sirip-sirip besar meluncur tak jauh dari perahu. Sirip hitam runcing
dan lebar. Ada dua buah meluncur ke arah perahu.
"Jangan
takut!" Tiba-tiba Nini Bumigarbo membentak dan wanita itu bangkit berdiri.
Kemudian terjadilah hal yang bukan saja membuat nelayan itu terbelalak, bahkan
Niken Harni juga terbelalak, hampir tak percaya akan apa yang dilihatnya. Ia
tahu benar bahwa Nini Bumigarbo seorang yang sakti mandraguna, akan tetapi
tidak pernah menduga akan sehebat itu kesaktiannya. Nenek itu ternyata melompat
keluar dari perahu, kakinya tiba di atas air dekat dua ekor ikan hiu yang
tampak siripnya itu. Dua kali tangannya membuat gerakan menghantam ke arah dua
ekor sirip itu. Air muncrat bergelombang dan ketika Nini Bumigarbo melompat
kembali ke perahu, dua ekor ikan hiu yang lebih besar dari tubuh manusia itu
terapung di atas air dengan perut mereka yang putih di atas, sudah mati! Dapat
dibayangkan betapa hebatnya aji pukulan yang digunakan Nini Bumigarbo itu dan
betapa hebatnya ilmunya meringankan tubuh sehingga ia mampu berdiri di atas air
ketika menyerang dua ekor ikan hiu itu! Memang, Nini Bumigarbo yang dulu
bernama Ni Gayatri ini merupakan seorang di antara murid-murid Sang Maha Resi
Dewakaton yang dulu bertapa di puncak Gunung Semeru. Tingkat kepandaiannya
hanya di bawah tingkat Sang Bhagawan Ekadenta atau Sang Bhagawan Jitendriya
yang merupakan kakak seperguruannya.
Melihat
kesaktian nenek itu, Si Nelayan kini tidak berani banyak cakap lagi, tidak
berani membantah dan dia melayarkan perahunya menuju Pulau Nusa Barung. Setelah
tiba di pantai pulau itu, tampak ada lima orang laki-laki berdiri di pantai dan
menyambut perahu itu dengan luncuran anak panah! Nini Bumigarbo mendengus dan
sekali tangannya bergerak dikibaskan, empat batang anak panah yang meluncur ke
arah tubuhnya dan tubuh nelayan, dapat dipukul runtuh oleh angin pukulannya.
Sementara sebatang anak panah yang meluncur ke arah Niken Harni, dapat
ditangkap oleh gadis itu!
"Heii,
apakah kalian ini orang-orang gila yang bermata buta? Laporkan kepada Dibya
Krendasakti bahwa aku Nini Bumigarbo Gayatri datang berkunjung! Kalau kalian
menyerang sekali lagi, kalian akan mampus oleh anak panah kalian sendiri!"
Lima orang itu
agaknya meragu dan berunding, lalu tiga orang di antara mereka memutar tubuh
lari meninggalkan pantai. Akan tetapi yang dua orang lagi mementang busur
mereka dan dua batang anak panah meluncur ke arah dada Nini Bumigarbo,
"Singggg!
Singggg!!" Nini Bumigarbo menggerakkan kedua tangan dan ia sudah menangkap
dua batang anak panah itu, lalu kedua tangannya bergerak menyambitkan senjata
itu ke arah penyerangnya yang berdiri di tepi pantai.
Dua orang itu
menjerit dan roboh terjengkang, dua batang anak panah itu dengan tepat menembus
leher mereka sehingga mereka tewas seketika! Perahu sudah menggulung layar dan
nelayan mendayung perahunya mendarat. Dia menggigil ketakutan melihat peristiwa
penyerangan tadi.
Setelah perahu
ditarik ke atas pasir dan dua orang penumpangnya turun, nelayan itu tak berani
bergerak, akan tetapi dengan suara gemetar dia bertanya kepada Niken Harni.
"Den
Roro.... bolehkah saya sekarang pergi?"
"Tunggu!
Jangan pergi sebelum kuperintah. Kalau melanggar, kamu akan mampus!"
bentak Nini Bumigarbo dan nelayan itu menjadi pucat, lalu duduk mendeprok di
atas pasir, di dekat perahunya.
Tak lama
kemudian, terdengar suara tawa yang menggelegar, datangnya dari tengah pulau,
makin lama semakin kuat suara tawa itu dan akhirnya muncullah seorang laki-laki
yang menyeramkan. Laki-laki itu berusia sekitar enam puluh tahun, tubuhnya
tinggi besar dan kokoh seperti raksasa, rambutnya masih hitam digelung ke atas
dan diikat dengan kain sutera merah. Pakaiannya mewah dan sebatang gendewa
(busur) besar panjang tergantung di pundaknya. Tempat anak panah dengan belasan
batang anak panah tersembul di belakang punggungnya. Setelah tiba di depan Nini
Bumigarbo dan Niken Harni, laki-laki itu berhenti melangkah, berdiri memandang
kedua orang wanita itu dan menghentikan suara tawanya yang membuat nelayan tadi
menelungkup sambil menutupi kedua telinganya yang rasanya seperti ditusuk-tusuk
mendengar suara tawa yang mengandung kekuatan sihir tadi. Niken Harni sendiri
harus mengerahkan tenaga sakti untuk melawan gelombang suara yang amat kuat
itu. Kini kakek itu memandang kepada Nini Bumigarbo dengan alis berkerut, lalu
berkata, suaranya dalam dan parau.
"Gayatri?
Andika Gayatri yang kini terkenal sebagai Nini Bumigarbo? Hemm, aku masih
mengenal wajahmu Gayatri. Masih cantik, akan tetapi Andika tampak tua!"
Nini Bumigarbo
mendengus.
"Huh,
tengoklah mukamu sendiri, Dibya Krendasakti! Engkau juga sudah menjadi kakek
tua bangka!"
Kembali
terdengar suara tawa bergelak-gelak. Kakek itu berdiri dengan kedua kaki
terpentang lebar, mukanya menengadah, mulutnya terbuka lebar, dadanya membusung
dan suara tawa itu semakin bergelombang, bergetar dan terkadang seperti
halilintar menggeledek. Niken Harni tak dapat bertahan lagi. Terpaksa ia lalu
duduk bersila dan memejamkan kedua matanya, melindungi dirinya dengan himpunan
kekuatan batinnya, tenaga saktinya menjaga pendengarannya. Akan tetapi nelayan
itu kini jatuh bergulingan sambil menutupi telinganya dengan tangan,
mengaduh-aduh, mukanya sepucat mayat. Akan tetapi Nini Bumigarbo tetap berdiri
tenang, kemudian berkata dengan suaranya yang tinggi melengking.
No comments:
Post a Comment