Nurseta Satria Karangtirta ; Bagian 49


Kalau wajah nenek berpakaian hitam itu masih tampak tenang dan biasa saja, sebaliknya wajah gadis itu berkilau basah oleh keringatnya sendiri dan pernapasannya agak terengah. Namun dengan nekat ia berlari terus, tidak mau tertinggal oleh nenek yang berlari di depannya, dalam jarak sekitar tiga tombak saja! Nenek itu berusia sekitar lima puluh satu tahun. Wajahnya masih membayangkan bekas wajah wanita cantik, namun wajah itu dingin dan tampak bengis, terutama sinar matanya. Pakaiannya yang serba hitam menambah seram penampilannya. Sebaliknya, gadis berusia sekitar delapan belas tahun lebih itu cantik jelita dan lincah. Mereka adalah Nini Bumigarbo, nenek yang amat sakti mandraguna itu bersama muridnya yang baru, yaitu Niken Harni. Seperti kita ketahui, Niken Harni diselamatkan Nini Bumigarbo dan tertarik oleh watak Niken Harni yang lincah pemberani, nenek itu mengambilnya sebagai murid. Sekali ini Nini Bumigarbo mengambil murid bukan dengan maksud agar muridnya ini memusuhi Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama. Ia tahu bahwa Niken Harni adalah gadis bangsawan Kahuripan, maka tidak dapat diharapkan akan memusuhi Sang Prabu Erlangga. Ia mempunyai maksud dan niat lain. Gadis ini akan dijadikan murid untuk melampiaskan sakit hatinya terhadap Bhagawan Ekadenta. Bukan langsung memusuhi Bhagawan Ekadenta yang kesaktiannya tak pernah dapat ditandihginya itu, melainkan kepada semua laki-laki! Niken Harni yang cantik jelita pasti akan memikat hati banyak laki-laki dan ia menghendaki agar murid barunya ini kelak menghancurkan kebahagiaan banyak laki-laki dengan mematahkan cinta dan harapan para laki-laki yang tergila-gila kepadanya!
"Bibi Gayatri, masih jauhkah perjalanan kita?" Niken Harni berseru kepada Nini Bumigarbo sambil terengah-engah, akan tetapi ia tetap nekat berlari cepat agar tidak tertinggal jauh.
Nini Bumigarbo terkekeh dan menghentikan larinya. Niken Harni tiba di dekatnya dan gadis ini baru menjatuhkan dirinya duduk di atas batu, mengatur pernapasan dan menyusut keringat yang membasahi leher dan mukanya.
"Heh-heh, engkau telah memperoleh kemajuan pesat sekali, Niken. Aku senang melihatnya. Ternyata benar dugaanku, engkau murid yang amat berbakat."
"Masih jauh perjalanan kita?"
"Lihat itu. Laut Kidul sudah tampak dari sini, sudah dekat!" kata nenek itu sambil menuding ke selatan.
Niken Harni bangkit berdiri dan memandang. Benar saja, dari bukit kapur itu tampak laut membentang luas, tidak jauh lagi.
"Kita akan ke manakah, Bibi?"
"Lihat di sana itu, yang tampak menghitam di tengah laut! Kita akan ke sana!"
Niken Harni melihat sebuah pulau menghitam cukup jauh dari pantai.
"Ke pulau Itu?"
"Benar, itulah Pulau Nusa Barung yang akan kita kunjungi."
"Akan tetapi, siapa yang tinggal di sana dan mau apa kita ke sana, Bibi Gayatri?"
"Kita mengunjungi seorang kawanku, kawan baik di waktu ia masih muda. Sahabatku itu menikah dengan seorang datuk terkenal bernama Dibya Krendasakti, juragan yang berkuasa di pulau itu. Sejak Woro Sumarni menikah dengan Dibya Krendasakti, aku tidak pernah bertemu lagi dengannya."

Mereka melanjutkan perjalanan dan karena Niken Harni sudah mengaso, perjalanan dapat dilakukan cepat dan akhirnya mereka tiba di pantai Laut Kidul. Mereka menemukan bagian pantai yang landai dan di situ terdapat belasan buah perahu nelayan, sebagian sudah berada di lautan, akan tetapi ada dua buah perahu yang masih berada di pantai, sedang bersiap-siap untuk berangkat menyusul kawan-kawan mereka mencari ikan. Nini Bumlgarbo menghampiri seorang nelayan. Nelayan ini berusia sekitar empat puluh tahun, tubuhnya hanya mengenakan celana hitam sebetis, dadanya yang telanjang tampak kokoh dan kulitnya menghitam terbakar sinar matahari. Melihat seorang nenek dan seorang gadis cantik menghampiri, dia memandang heran.
"Kisanak, antarkan kami ke tengah laut!" kata Nini Bumigarbo.
Nelayan itu memandang heran.
"Ke tengah lautan? Andika berdua mau apa ke sana? Aku hendak mencari ikan, tidak sempat mengantar Andika...."
"Aku tidak peduli. Mau atau tidak engkau harus mengantar kami!" Nini Bumigarbo menghardik.
Nelayan itu marah, akan tetapi sebelum dia mengeluarkan kata-kata, Niken Harni sudah maju dan menyodorkan sebuah cincin emas kepadanya.
"Kisanak, Andika turuti saja keinginan Bibiku ini. Cincin ini kalau Andika jual, hasilnya lebih besar daripada hasil tangkapan ikan selama satu bulan. Terimalah, cincin ini untuk menyewa perahumu!"
Nelayan itu bengong, akan tetapi matanya bersinar gembira. Tanpa bicara dia lalu menerima cincin itu dan dengan tangannya mempersilakan dua orang wanita itu naik ke perahunya dan duduk di atas papan yang melintang di tengah perahu. Nelayan mendayung perahunya ke tengah. Sebagai seorang ahli naik perahu, dengan cekatan dia mendayung perahu melewati gulungan ombak yang menepi sampai dia berhasil melewati susunan ombak dan berada di atas air yang tenang.
"Ke mana kita akan pergi, Nona?" tanya nelayan itu.
"Ke sana, ke pulau itu." kata Niken Harni sambil menunjuk ke arah pulau.
Nelayan itu terbelalak.
"Pulau Nusa Barung....?" bisiknya.
"Benar."
"Ah, tidak.... tidak bisa, aku tidak berani...." katanya.
"Hemm, takut apa? Jangan takut! Teruskan ke sana!" Nini Bumigarbo membentak.
“Tidak.... Tidak....! Apa artinya aku menerima upah besar kalau setibanya di sana aku mati?"
"Mengapa, Kisanak? Mengapa mati? Siapa yang akan membunuhmu?" tanya Niken Harni terheran.
"Siluman.... siluman akan membunuhku. Kami semua tidak ada yang berani mendekati pulau siluman itu..."
"Cukup! Jangan banyak bicara! Hayo cepat pasang layar dan kita menuju ke sana!" Nini Bumigarbo menghardik.
"Tidak..., aku tidak mau mati...." Nelayan itu lalu memutar perahunya dan hendak kembali ke pantai. Akan tetapi ia berteriak mengaduh ketika tangan Nini Bumigarbo memegang pundaknya. Rasanya pundak itu seperti dijepit baja yang keras dan panas.
"Masih hendak membantah? Apakah engkau ingin kuhancurkan pundakmu?"
Nelayan yang bertubuh kuat itu mengerahkan tenaga dan berusaha meronta untuk melepaskan tangan nenek yang mencengkeram pundaknya. Akan tetapi makin kuat dia mengerahkan tenaga meronta, semakin nyeri rasa pundaknya sehingga akhirnya dia menjadi lemas dan menghentikan perlawanannya.
"Aduh.... ampun..., akan tetapi... aku akan mati di sana...."
"jangan khawatir. Andika hanya mengantar kami dan Bibiku ini yang akan menanggung bahwa Andika tidak akan diganggu siluman di sana." kata Niken Harni.

Terpaksa nelayan itu lalu memasang dan mengembangkan layarnya yang tidak berapa besarnya. Perahunya meluncur cepat menuju ke-pulau yang tampak menghitam. Jelas tampak nelayan itu ketakutan. Wajahnya pucat, matanya jelalatan (liar) memandang ke arah pulau dan kedua tangannya yang mengendalikan perahu gemetar.
"Aduh celaka....!" Tiba-tiba dia berkata dengan suara gemetar.
"Ada apa?" tanya Niken Harni.
"Itu.... di sana... ikan hiu besar dan ganas...!" nelayan itu menunjuk ke sebelah kanan perahu.
Niken Harni melihat sirip-sirip besar meluncur tak jauh dari perahu. Sirip hitam runcing dan lebar. Ada dua buah meluncur ke arah perahu.
"Jangan takut!" Tiba-tiba Nini Bumigarbo membentak dan wanita itu bangkit berdiri. Kemudian terjadilah hal yang bukan saja membuat nelayan itu terbelalak, bahkan Niken Harni juga terbelalak, hampir tak percaya akan apa yang dilihatnya. Ia tahu benar bahwa Nini Bumigarbo seorang yang sakti mandraguna, akan tetapi tidak pernah menduga akan sehebat itu kesaktiannya. Nenek itu ternyata melompat keluar dari perahu, kakinya tiba di atas air dekat dua ekor ikan hiu yang tampak siripnya itu. Dua kali tangannya membuat gerakan menghantam ke arah dua ekor sirip itu. Air muncrat bergelombang dan ketika Nini Bumigarbo melompat kembali ke perahu, dua ekor ikan hiu yang lebih besar dari tubuh manusia itu terapung di atas air dengan perut mereka yang putih di atas, sudah mati! Dapat dibayangkan betapa hebatnya aji pukulan yang digunakan Nini Bumigarbo itu dan betapa hebatnya ilmunya meringankan tubuh sehingga ia mampu berdiri di atas air ketika menyerang dua ekor ikan hiu itu! Memang, Nini Bumigarbo yang dulu bernama Ni Gayatri ini merupakan seorang di antara murid-murid Sang Maha Resi Dewakaton yang dulu bertapa di puncak Gunung Semeru. Tingkat kepandaiannya hanya di bawah tingkat Sang Bhagawan Ekadenta atau Sang Bhagawan Jitendriya yang merupakan kakak seperguruannya.

Melihat kesaktian nenek itu, Si Nelayan kini tidak berani banyak cakap lagi, tidak berani membantah dan dia melayarkan perahunya menuju Pulau Nusa Barung. Setelah tiba di pantai pulau itu, tampak ada lima orang laki-laki berdiri di pantai dan menyambut perahu itu dengan luncuran anak panah! Nini Bumigarbo mendengus dan sekali tangannya bergerak dikibaskan, empat batang anak panah yang meluncur ke arah tubuhnya dan tubuh nelayan, dapat dipukul runtuh oleh angin pukulannya. Sementara sebatang anak panah yang meluncur ke arah Niken Harni, dapat ditangkap oleh gadis itu!
"Heii, apakah kalian ini orang-orang gila yang bermata buta? Laporkan kepada Dibya Krendasakti bahwa aku Nini Bumigarbo Gayatri datang berkunjung! Kalau kalian menyerang sekali lagi, kalian akan mampus oleh anak panah kalian sendiri!"
Lima orang itu agaknya meragu dan berunding, lalu tiga orang di antara mereka memutar tubuh lari meninggalkan pantai. Akan tetapi yang dua orang lagi mementang busur mereka dan dua batang anak panah meluncur ke arah dada Nini Bumigarbo,
"Singggg! Singggg!!" Nini Bumigarbo menggerakkan kedua tangan dan ia sudah menangkap dua batang anak panah itu, lalu kedua tangannya bergerak menyambitkan senjata itu ke arah penyerangnya yang berdiri di tepi pantai.
Dua orang itu menjerit dan roboh terjengkang, dua batang anak panah itu dengan tepat menembus leher mereka sehingga mereka tewas seketika! Perahu sudah menggulung layar dan nelayan mendayung perahunya mendarat. Dia menggigil ketakutan melihat peristiwa penyerangan tadi.
Setelah perahu ditarik ke atas pasir dan dua orang penumpangnya turun, nelayan itu tak berani bergerak, akan tetapi dengan suara gemetar dia bertanya kepada Niken Harni.
"Den Roro.... bolehkah saya sekarang pergi?"
"Tunggu! Jangan pergi sebelum kuperintah. Kalau melanggar, kamu akan mampus!" bentak Nini Bumigarbo dan nelayan itu menjadi pucat, lalu duduk mendeprok di atas pasir, di dekat perahunya.

Tak lama kemudian, terdengar suara tawa yang menggelegar, datangnya dari tengah pulau, makin lama semakin kuat suara tawa itu dan akhirnya muncullah seorang laki-laki yang menyeramkan. Laki-laki itu berusia sekitar enam puluh tahun, tubuhnya tinggi besar dan kokoh seperti raksasa, rambutnya masih hitam digelung ke atas dan diikat dengan kain sutera merah. Pakaiannya mewah dan sebatang gendewa (busur) besar panjang tergantung di pundaknya. Tempat anak panah dengan belasan batang anak panah tersembul di belakang punggungnya. Setelah tiba di depan Nini Bumigarbo dan Niken Harni, laki-laki itu berhenti melangkah, berdiri memandang kedua orang wanita itu dan menghentikan suara tawanya yang membuat nelayan tadi menelungkup sambil menutupi kedua telinganya yang rasanya seperti ditusuk-tusuk mendengar suara tawa yang mengandung kekuatan sihir tadi. Niken Harni sendiri harus mengerahkan tenaga sakti untuk melawan gelombang suara yang amat kuat itu. Kini kakek itu memandang kepada Nini Bumigarbo dengan alis berkerut, lalu berkata, suaranya dalam dan parau.
"Gayatri? Andika Gayatri yang kini terkenal sebagai Nini Bumigarbo? Hemm, aku masih mengenal wajahmu Gayatri. Masih cantik, akan tetapi Andika tampak tua!"
Nini Bumigarbo mendengus.
"Huh, tengoklah mukamu sendiri, Dibya Krendasakti! Engkau juga sudah menjadi kakek tua bangka!"
Kembali terdengar suara tawa bergelak-gelak. Kakek itu berdiri dengan kedua kaki terpentang lebar, mukanya menengadah, mulutnya terbuka lebar, dadanya membusung dan suara tawa itu semakin bergelombang, bergetar dan terkadang seperti halilintar menggeledek. Niken Harni tak dapat bertahan lagi. Terpaksa ia lalu duduk bersila dan memejamkan kedua matanya, melindungi dirinya dengan himpunan kekuatan batinnya, tenaga saktinya menjaga pendengarannya. Akan tetapi nelayan itu kini jatuh bergulingan sambil menutupi telinganya dengan tangan, mengaduh-aduh, mukanya sepucat mayat. Akan tetapi Nini Bumigarbo tetap berdiri tenang, kemudian berkata dengan suaranya yang tinggi melengking.

<<< Bagian 48                                                                                         Bagian 50 >>>

No comments:

Post a Comment