Nurseta Satria Karangtirta ; Bagian 50


"Kamu Iblis Tua! Beginikah menyambut seorang sahabat yang bertamu?"
Teguran itu membuat kakek yang bernama Dibya Krendasakti itu menghentikan tawanya. Niken Harni membuka matanya dan bangkit berdiri lagi. Nelayan itu juga bangkit duduk dan dari kedua telinganya mengalir darah.
"Heh, sampah itu tidak layak berada di sini!" kata Kakek itu menuding kepada nelayan.
"Dia nelayan yang mengantar kami ke sini!" kata Nini Bumigarbo.
"Dan dia akan mengantar kami kembali ke darat sana."
"Hemm, Gayatri, engkau kira aku ini orang apa? Aku pun dapat menjadi seorang tuan rumah yang pantas. Aku punya banyak perahu dan orang-orangku dapat mengantar engkau pulang. Suruh dia pergi dari sini sekarang juga atau aku akan lempar dia ke laut menjadi makanan ikan!"
Nini Bumigarbo menoleh kepada nelayan itu dan berkata,
"Pergilah engkau dari sini!"

Nelayan itu tampak girang sekali. Dia menyembah dan mendorong perahunya ke air, lalu mendayungnya sekuat tenaga, tidak memperduiikan kedua telinganya yang terasa nyeri.
Menyaksikan semua ini, timbul rasa penasaran dalam hati Niken Harni.
"Bibi Gayatri, mengapa Andika membiarkan saja orang tua ini berbuat kejam dan sewenang-wenang memamerkan kesaktiannya mencelakai orang lain yang sama sekali tidak bersalah kepadanya?"
"Niken, pulau yang kita injak ini adalah Nusa Barung dan Dibya Krendasakti adalah pemilik dan penguasa di sini. Dia boleh berbuat sekehendak hatinya di pulaunya sendiri."
"Akan tetapi kalau kita disambut seburuk ini, untuk apa kita bertamu di sini?"
"Hoa-ha-ha! Perawan cilik kemethik! Bicaramu penuh teguran kepadaku. Ha-ha-ha, baru ini aku ditegur bocah kemarin sore yang ubun-ubun kepalanya masih berbau brambang (bawang merah). Gayatri, siapa sih bocah lucu namun kemethak (layak dipukul) ini?"
"Ini muridku yang baru, Niken Harni."
"Aha, pantas menjadi muridmu. Sama kewat (genit) dan cerewetnya dengan kamu waktu muda dulu! Hemm, ia juga berbakat baik. Eh, Niken Harni, tadi aku sengaja hendak menguji kalian. Kalau engkau ingin melihat sambutanku sebagai tuan rumah yang baik, mari, kalian ikut aku!"
Nini Bumigarbo dan Niken Harni mengikuti Dibya Krendasakti menuju ke tengah pulau. Ketika melewati mayat dua orang anak buahnya, Dibya Krendasakti mengomel.
"Huh, orang-orang ini tolol sekali berani menyerangmu dengan panah, Gayatri."
Nini Bumigarbo tersenyum.
"Hemm, mereka sudah kuperingatkan namun nekat. Agaknya memang mereka sudah bosan hidup, Dibya. Akan tetapi aku tidak minta maaf kepadamu, lho!"
"Hoa-ha-ha, di antara kita apakah perlu bermaaf-maafan? Kita sudah saling mengenal watak masing-masing." Raksasa yang gagah itu tertawa dan Niken yang memperhatikan sekeliling melihat orang-orang yang sedang mengerjakan sawah ladang. Begitu melihat Dibya Krendasakti, mereka cepat memberi hormat dengan membungkuk dalam-dalam.
Kiranya mereka itu adalah anak buah penguasa Nusa Barung ini. Dari percakapan dua orang tua itu dalam perjalanan menuju perkampungan tempat tinggal Dibya Krendasakti, Niken mengetahui bahwa raksasa itu mempunyai anak buah sebanyak seratus orang yang tinggal di pulau itu. Sebagian dari mereka adalah murid-muridnya. Di Nusa Barung, Dibya Krendasakti hidup bersama isterinya yang bernama Woro Sumarni yang ketika gadis dulu menjadi sahabat Gayatri yang kini menjadi Bumigarbo.
"Huh, setelah engkau menjadi raja kecil di pulau ini, tentu hidupmu seperti raja. Kaya-raya, dipuja dan ditaati banyak anak buah, dan terutama sekali, punya banyak isterl!" kata Nini Bumigarbo dengan nada mengejek.
"Engkau menuduh secara membuta, Gayatri. Aku sejak dulu hanya mempunyai seorang isteri, yaitu Woro Sumarni!"
"Huh, mulut laki-laki! Siapa percaya?"
"Aku tidak bohong, Gayatri. Aku terlalu mencinta Woro Sumarni!" kata Kakek itu, akan tetapi suaranya mengandung kesedihan.
Hal ini terasa benar oleh Niken Harni, akan tetapi agaknya tidak terasa oleh Nini Bumigarbo.
"Aku tetap tidak percaya kalau tidak melihat buktinya dan mendengar pengakuan Woro Sumarni sendiri." kata Nenek itu.
"Kalau begitu, nanti akan kau saksikan dan kau dengar."

Kini mereka tiba di perkampungan di mana terdapat banyak rumah-rumah dari kayu yang kokoh dan cukup baik. Akan tetapi yang paling besar dan indah terdapat di tengah perkampungan dan inilah rumah Dibya Krendasakti. Begitu memasuki pekarangan, tiga orang murid yang bertubuh kekar menyambut dengan penghormatan mereka. Tiga orang murid ini yang bertugas jaga di depan rumah pada saat itu. Setelah memasuki pendapa rumah, lima orang wanita berpakaian pelayan menyambut dengan sembah penghormatan mereka.
"Perintahkan ke dapur untuk mempersiapkan pesta meriah menyambut tamu-tamu kehormatan ini. Cepat!" kata Dibya Krendasakti kepada para pelayan itu yang segera berlari kecil masuk ke dalam rumah.
"Mari, kita duduk di ruangan tamu." Dibya Krendasakti mengajak kedua orang tamunya.
Setelah duduk berhadapan terhalang meja besar di ruangan tamu yang luas itu, dua orang tua sakti itu bercakap-cakap, sedangkan Niken Harni hanya duduk diam mendengarkan.
"Aku mendengar kabar angin bahwa gadis jelita Gayatri itu telah menjadi Nini Bumigarbo yang tersohor! Ha-ha-ha, siapa sangka hari ini Nini Bumigarbo datang berkunjung. Eh, Gayatri, bagaimana kabarnya dengan Adi Ekadenta, Kakak seperguruanmu yang juga pacarmu yang ganteng itu? Tentu kalian telah menjadi suami isteri!"
"Cukup! Jangan bicara tentang dia, jangan sebut namanya!" Nini Bumigarbo memotong dengan ketus dan wajahnya berubah kemerahan.
"Lhadalah! Hubungan mesra itu gagal dan terputus, ya? Ha-ha-ha-ha! Kebahagiaan tidak selamanya singgah pada wajah-wajah yang cantik! Baiklah, aku tidak akan bicara tentang dia."
"Mana sahabatku Woro Sumarni? Panggil ia keluar menemuiku. Aku sudah kangen (rindu) padanya." kata Nini Bumigarbo.
"Gayatri, kita tidak bicara tentang Adi Ekadenta maka kita tidak bicara pula tentang Woro Sumarni. Akan tetapi ia akan menemani kita makan-makan nanti. Engkau pasti akan bertemu dengannya. Sekarang yang penting, katakan, apa yang membawamu datang berkunjung? Aku tidak percaya kalau hanya karena kangen kepada Woro Sumarni. Apa yang kau inginkan dariku?"
"Aku sedang membutuhkan pertolongan dan mengingat akan kemampuanmu dan bahwa engkau adalah seorang sahabatku, maka aku datang berkunjung ini untuk minta bantuanmu, Dibya!"
"Heh-heh-heh, Nini Bumigarbo yang tersohor itu masih membutuhkan bantuan orang lain? Aneh sekali! Coba katakan, bantuan apa yang dapat kuberikan padamu?"
"Aku minta bantuan agar engkau suka mencuri Cupu Manik Maya dari gedung pusaka milik Sang Prabu Erlangga di Istana Kahuripan."

Sepasang mata yang lebar itu terbelalak heran.
"Hemm, aneh sekali! Bukankah Cupu Manik Maya itu merupakan sebuah di antara pusaka wahyu kraton yang menjadi ciri kekuasaan raja? Untuk apa engkau menginginkan benda pusaka itu, Gayatri? Apakah engkau bercita-cita menjadi ratu?"
"Tidak, Dibya. Kalau engkau berhasil mengambil benda pusaka itu, engkau boleh memilikinya karena engkaulah yang kini bahkan menjadi raja kecil di Nusa Barung. Aku tidak membutuhkan pusaka itu."
"Hemm, kalau engkau tidak membutuhkan pusaka itu, lalu mengapa engkau menyuruh aku mencurinya?"
"Aku hanya ingin agar Sang Prabu Erlangga gelisah dan susah karena kehilangan benda pusaka yang penting itu. Aku ingin agar kekuasaan Sang Prabu Erlangga menjadi lemah dan akhirnya hancur. Aku benci kepadanya dan ingin melihat dia sengsara dan jatuh dari kedudukannya sebagai raja besar!"
"Lho! Mengapa begitu?"
"Aku benci padanya! Aku benci kepada Sang Prabu Erlangga dan Patih Narotama. Aku ingin keduanya hancur, Kerajaan Kahuripan jatuh. Aku benci!!"
"Wah, kalau engkau membenci mereka dan ingin agar benda pusaka itu dicuri, mengapa tidak kau lakukan saja sendiri, Gayatri? Aku yakin kalau engkau mau, akan mudah bagimu untuk mencuri benda pusaka itu!"
Nini Bumigarbo cemberut.
"Kalau aku bisa melakukannya, apa kau kira aku akan datang ke sini dan minta tolong kepadamu?"
"Lho! Mengapa tidak bisa, Gayatri? Apa engkau takut terhadap raja yang masih muda itu? Menggelikan!"
"Siapa yang takut?" Nini Bumigarbo menghardik.
"Aku tidak takut, akan tetapi aku tidak bisa melakukannya sendiri karena aku sudah berjanji untuk tidak mengganggu mereka dengan tanganku sendiri!"
"Eh? Kepada siapa engkau berjanji itu, Gayatri?"
"Hemm, sudahlah, tak perlu engkau banyak bertanya. Sekarang jawab saja, maukah engkau membantuku melakukan pencurian benda pusaka Cupu Manik Maya?"
"Hemm.... entahlah.... akan kupikirkan dulu, Gayatri. Nanti kujawab sehabis kita makan."
Pada saat itu, pelayan datang memberitahu bahwa hidangan telah dipersiapkan di ruang makan.
"Ha-ha-ha, bagus! mari, Gayatri dan engkau juga, Niken Harni, mari kita makan bersama dalam ruang makan." Ki Dibya Krendasakti tampak gembira sekali.

Nini Bumigarbo dan Niken Harni mengikutinya meninggalkan ruang tamu menuju ke ruang makan yang ternyata juga cukup luas dan perabotannya mewah. Sebuah meja makan persegi yang besar berada di tengah ruangan. Lima buah kursi berada di seputar meja. Belasan macam masakan berada di atas meja, dan masih mengepulkan uap. Tiga orang pelayan wanita berdiri di dekat dinding, dengan sikap hormat dan siap melayani.
"Ha-ha, duduklah, Gayatri dan Niken. Kalian berdua duduk di sini." Dia menunjuk dua buah kursi yang berjajar. Di seberang meja, berhadapan dengan mereka, terdapat dua buah kursi yang berjajar pula, sedangkan Ki Dibya Krendasakti sendiri duduk di kepala meja. Diam-diam Nini Bumigarbo merasa heran mengapa ada dua buah kursi kosong di depannya. Siapa yang akan duduk disitu? Akan tetapi ia tidak menyinggung hal itu ketika bertanya.
"Dibya, di mana sahabatku Woro Sumarni? Aku ingin bertemu dengannya dan kau bilang tadi ia akan hadir dalam perjamuan ini."
"Sabar, Gayatri, sebentar juga ia akan datang." Ki Dibya lalu berkata kepada seorang pelayan.
“Cepat kamu mohon Bendoro Puteri untuk hadir sekarang!" Pelayan itu membungkuk lalu pergi.
Tak lama kemudian, muncullah orang yang dinanti-nanti Nini Bumigarbo. Niken Harni ikut memandang dan ia merasa kagum. Seorang wanita, usianya sekitar empat puluh delapan tahun, masih cantik dan tubuhnya ramping padat, kulitnya kuning, namun wajahnya pucat dan matanya suram tanpa gairah, mulutnya yang manis bentuknya itupun menunjukkan hati yang penuh duka. Pakaiannya mewah, bersih dan rapi, dari sutera mahal. Rambutnya masih hitam, panjang dan digelung rapi, dihias tusuk sanggul dari emas permata. Sungguh seorang wanita yang anggun dan cantik. Namun ia pucat dan tak bersemangat, bahkan seperti mayat hidup. Ki Dibya Krendasakti cepat bangkit dari duduknya dan menarik dua buah kursi yang berjajar di depan Niken dan Nini Bumigarbo.
"Diajeng, duduklah."
Wanita itu duduk dengan lesu. Yang membuat Niken Harni terbelalak adalah ketika ia melihat seorang pelayan wanita yang tadi berjalan di belakang wanita cantik itu, membawa sebuah baki kecil hitam yang tertutup sehelai kain kuning. Pelayan itu kini meletakkan baki di atas meja, di depan kursi kosong yang berada di sebelah kiri wanita cantik Itu. Kemudian dengan perlahan dan hati-hati la membuka kain kuning yang menutup baki. Niken Harni terbelalak dan menahan seruan kagetnya ketika melihat bahwa di atas baki itu terdapat sebuah tengkorak. Tulang itu putih bersih dengan lubang-lubang ternganga pada kedua mata, hidung dan mulutnya. Yang mengerikan adalah mulut tengkorak itu. Masih tampak deretan gigi berbaris rapi pada mulut yang setengah terbuka itu sehingga tengkorak itu seolah menyeringai mentertawakan!
"Diajeng Woro Sumarni, lihat siapa yang datang mengunjungi kita ini!" kata pula Dibya Krendasakti kepada isterinya yang sejak tadi hanya menundukkan muka dan sama sekali tidak melihat ke arah Nini Bumigarbo dan Niken Harni.
"Woro! Engkau kenapa? Ini aku, Gayatri!" kata Nini Bumigarbo sambil bangkit dari kursinya dan menghampiri wanita itu.
Woro Sumarni mengangkat mukanya memandang, sikapnya dingin saja ketika la berkata.
"Ah, engkaukah yang datang, Mbakayu Gayatri?" Setelah berkata demikian, ia menunduk kembali.
Nini Bumigarbo merangkul Woro Sumarni yang dulu ketika masih sama-sama muda menjadi sahabat baiknya.
"Marni..., engkau kenapakah....?"

<<< Bagian 49                                                                                          Bagian 51 >>>

No comments:

Post a Comment