"Kamu Iblis Tua! Beginikah menyambut seorang sahabat yang bertamu?"
Teguran itu
membuat kakek yang bernama Dibya Krendasakti itu menghentikan tawanya. Niken
Harni membuka matanya dan bangkit berdiri lagi. Nelayan itu juga bangkit duduk
dan dari kedua telinganya mengalir darah.
"Heh,
sampah itu tidak layak berada di sini!" kata Kakek itu menuding kepada
nelayan.
"Dia
nelayan yang mengantar kami ke sini!" kata Nini Bumigarbo.
"Dan dia
akan mengantar kami kembali ke darat sana."
"Hemm,
Gayatri, engkau kira aku ini orang apa? Aku pun dapat menjadi seorang tuan
rumah yang pantas. Aku punya banyak perahu dan orang-orangku dapat mengantar
engkau pulang. Suruh dia pergi dari sini sekarang juga atau aku akan lempar dia
ke laut menjadi makanan ikan!"
Nini Bumigarbo
menoleh kepada nelayan itu dan berkata,
"Pergilah
engkau dari sini!"
Nelayan itu
tampak girang sekali. Dia menyembah dan mendorong perahunya ke air, lalu
mendayungnya sekuat tenaga, tidak memperduiikan kedua telinganya yang terasa
nyeri.
Menyaksikan
semua ini, timbul rasa penasaran dalam hati Niken Harni.
"Bibi
Gayatri, mengapa Andika membiarkan saja orang tua ini berbuat kejam dan
sewenang-wenang memamerkan kesaktiannya mencelakai orang lain yang sama sekali
tidak bersalah kepadanya?"
"Niken,
pulau yang kita injak ini adalah Nusa Barung dan Dibya Krendasakti adalah
pemilik dan penguasa di sini. Dia boleh berbuat sekehendak hatinya di pulaunya
sendiri."
"Akan
tetapi kalau kita disambut seburuk ini, untuk apa kita bertamu di sini?"
"Hoa-ha-ha!
Perawan cilik kemethik! Bicaramu penuh teguran kepadaku. Ha-ha-ha, baru ini aku
ditegur bocah kemarin sore yang ubun-ubun kepalanya masih berbau brambang (bawang
merah). Gayatri, siapa sih bocah lucu namun kemethak (layak dipukul) ini?"
"Ini
muridku yang baru, Niken Harni."
"Aha,
pantas menjadi muridmu. Sama kewat (genit) dan cerewetnya dengan kamu waktu
muda dulu! Hemm, ia juga berbakat baik. Eh, Niken Harni, tadi aku sengaja
hendak menguji kalian. Kalau engkau ingin melihat sambutanku sebagai tuan rumah
yang baik, mari, kalian ikut aku!"
Nini Bumigarbo
dan Niken Harni mengikuti Dibya Krendasakti menuju ke tengah pulau. Ketika
melewati mayat dua orang anak buahnya, Dibya Krendasakti mengomel.
"Huh,
orang-orang ini tolol sekali berani menyerangmu dengan panah, Gayatri."
Nini Bumigarbo
tersenyum.
"Hemm,
mereka sudah kuperingatkan namun nekat. Agaknya memang mereka sudah bosan
hidup, Dibya. Akan tetapi aku tidak minta maaf kepadamu, lho!"
"Hoa-ha-ha,
di antara kita apakah perlu bermaaf-maafan? Kita sudah saling mengenal watak
masing-masing." Raksasa yang gagah itu tertawa dan Niken yang
memperhatikan sekeliling melihat orang-orang yang sedang mengerjakan sawah
ladang. Begitu melihat Dibya Krendasakti, mereka cepat memberi hormat dengan
membungkuk dalam-dalam.
Kiranya mereka
itu adalah anak buah penguasa Nusa Barung ini. Dari percakapan dua orang tua
itu dalam perjalanan menuju perkampungan tempat tinggal Dibya Krendasakti,
Niken mengetahui bahwa raksasa itu mempunyai anak buah sebanyak seratus orang
yang tinggal di pulau itu. Sebagian dari mereka adalah murid-muridnya. Di Nusa
Barung, Dibya Krendasakti hidup bersama isterinya yang bernama Woro Sumarni
yang ketika gadis dulu menjadi sahabat Gayatri yang kini menjadi Bumigarbo.
"Huh,
setelah engkau menjadi raja kecil di pulau ini, tentu hidupmu seperti raja.
Kaya-raya, dipuja dan ditaati banyak anak buah, dan terutama sekali, punya
banyak isterl!" kata Nini Bumigarbo dengan nada mengejek.
"Engkau
menuduh secara membuta, Gayatri. Aku sejak dulu hanya mempunyai seorang isteri,
yaitu Woro Sumarni!"
"Huh,
mulut laki-laki! Siapa percaya?"
"Aku
tidak bohong, Gayatri. Aku terlalu mencinta Woro Sumarni!" kata Kakek itu,
akan tetapi suaranya mengandung kesedihan.
Hal ini terasa
benar oleh Niken Harni, akan tetapi agaknya tidak terasa oleh Nini Bumigarbo.
"Aku
tetap tidak percaya kalau tidak melihat buktinya dan mendengar pengakuan Woro
Sumarni sendiri." kata Nenek itu.
"Kalau
begitu, nanti akan kau saksikan dan kau dengar."
Kini mereka
tiba di perkampungan di mana terdapat banyak rumah-rumah dari kayu yang kokoh
dan cukup baik. Akan tetapi yang paling besar dan indah terdapat di tengah
perkampungan dan inilah rumah Dibya Krendasakti. Begitu memasuki pekarangan,
tiga orang murid yang bertubuh kekar menyambut dengan penghormatan mereka. Tiga
orang murid ini yang bertugas jaga di depan rumah pada saat itu. Setelah
memasuki pendapa rumah, lima orang wanita berpakaian pelayan menyambut dengan
sembah penghormatan mereka.
"Perintahkan
ke dapur untuk mempersiapkan pesta meriah menyambut tamu-tamu kehormatan ini.
Cepat!" kata Dibya Krendasakti kepada para pelayan itu yang segera berlari
kecil masuk ke dalam rumah.
"Mari,
kita duduk di ruangan tamu." Dibya Krendasakti mengajak kedua orang
tamunya.
Setelah duduk
berhadapan terhalang meja besar di ruangan tamu yang luas itu, dua orang tua
sakti itu bercakap-cakap, sedangkan Niken Harni hanya duduk diam mendengarkan.
"Aku
mendengar kabar angin bahwa gadis jelita Gayatri itu telah menjadi Nini
Bumigarbo yang tersohor! Ha-ha-ha, siapa sangka hari ini Nini Bumigarbo datang
berkunjung. Eh, Gayatri, bagaimana kabarnya dengan Adi Ekadenta, Kakak
seperguruanmu yang juga pacarmu yang ganteng itu? Tentu kalian telah menjadi
suami isteri!"
"Cukup!
Jangan bicara tentang dia, jangan sebut namanya!" Nini Bumigarbo memotong
dengan ketus dan wajahnya berubah kemerahan.
"Lhadalah!
Hubungan mesra itu gagal dan terputus, ya? Ha-ha-ha-ha! Kebahagiaan tidak
selamanya singgah pada wajah-wajah yang cantik! Baiklah, aku tidak akan bicara
tentang dia."
"Mana
sahabatku Woro Sumarni? Panggil ia keluar menemuiku. Aku sudah kangen (rindu)
padanya." kata Nini Bumigarbo.
"Gayatri,
kita tidak bicara tentang Adi Ekadenta maka kita tidak bicara pula tentang Woro
Sumarni. Akan tetapi ia akan menemani kita makan-makan nanti. Engkau pasti akan
bertemu dengannya. Sekarang yang penting, katakan, apa yang membawamu datang
berkunjung? Aku tidak percaya kalau hanya karena kangen kepada Woro Sumarni.
Apa yang kau inginkan dariku?"
"Aku
sedang membutuhkan pertolongan dan mengingat akan kemampuanmu dan bahwa engkau
adalah seorang sahabatku, maka aku datang berkunjung ini untuk minta bantuanmu,
Dibya!"
"Heh-heh-heh,
Nini Bumigarbo yang tersohor itu masih membutuhkan bantuan orang lain? Aneh
sekali! Coba katakan, bantuan apa yang dapat kuberikan padamu?"
"Aku
minta bantuan agar engkau suka mencuri Cupu Manik Maya dari gedung pusaka milik
Sang Prabu Erlangga di Istana Kahuripan."
Sepasang mata
yang lebar itu terbelalak heran.
"Hemm,
aneh sekali! Bukankah Cupu Manik Maya itu merupakan sebuah di antara pusaka
wahyu kraton yang menjadi ciri kekuasaan raja? Untuk apa engkau menginginkan
benda pusaka itu, Gayatri? Apakah engkau bercita-cita menjadi ratu?"
"Tidak,
Dibya. Kalau engkau berhasil mengambil benda pusaka itu, engkau boleh
memilikinya karena engkaulah yang kini bahkan menjadi raja kecil di Nusa
Barung. Aku tidak membutuhkan pusaka itu."
"Hemm,
kalau engkau tidak membutuhkan pusaka itu, lalu mengapa engkau menyuruh aku
mencurinya?"
"Aku
hanya ingin agar Sang Prabu Erlangga gelisah dan susah karena kehilangan benda
pusaka yang penting itu. Aku ingin agar kekuasaan Sang Prabu Erlangga menjadi
lemah dan akhirnya hancur. Aku benci kepadanya dan ingin melihat dia sengsara
dan jatuh dari kedudukannya sebagai raja besar!"
"Lho!
Mengapa begitu?"
"Aku
benci padanya! Aku benci kepada Sang Prabu Erlangga dan Patih Narotama. Aku
ingin keduanya hancur, Kerajaan Kahuripan jatuh. Aku benci!!"
"Wah,
kalau engkau membenci mereka dan ingin agar benda pusaka itu dicuri, mengapa
tidak kau lakukan saja sendiri, Gayatri? Aku yakin kalau engkau mau, akan mudah
bagimu untuk mencuri benda pusaka itu!"
Nini Bumigarbo
cemberut.
"Kalau
aku bisa melakukannya, apa kau kira aku akan datang ke sini dan minta tolong
kepadamu?"
"Lho!
Mengapa tidak bisa, Gayatri? Apa engkau takut terhadap raja yang masih muda
itu? Menggelikan!"
"Siapa
yang takut?" Nini Bumigarbo menghardik.
"Aku
tidak takut, akan tetapi aku tidak bisa melakukannya sendiri karena aku sudah
berjanji untuk tidak mengganggu mereka dengan tanganku sendiri!"
"Eh?
Kepada siapa engkau berjanji itu, Gayatri?"
"Hemm,
sudahlah, tak perlu engkau banyak bertanya. Sekarang jawab saja, maukah engkau
membantuku melakukan pencurian benda pusaka Cupu Manik Maya?"
"Hemm....
entahlah.... akan kupikirkan dulu, Gayatri. Nanti kujawab sehabis kita
makan."
Pada saat itu,
pelayan datang memberitahu bahwa hidangan telah dipersiapkan di ruang makan.
"Ha-ha-ha,
bagus! mari, Gayatri dan engkau juga, Niken Harni, mari kita makan bersama
dalam ruang makan." Ki Dibya Krendasakti tampak gembira sekali.
Nini Bumigarbo
dan Niken Harni mengikutinya meninggalkan ruang tamu menuju ke ruang makan yang
ternyata juga cukup luas dan perabotannya mewah. Sebuah meja makan persegi yang
besar berada di tengah ruangan. Lima buah kursi berada di seputar meja. Belasan
macam masakan berada di atas meja, dan masih mengepulkan uap. Tiga orang
pelayan wanita berdiri di dekat dinding, dengan sikap hormat dan siap melayani.
"Ha-ha,
duduklah, Gayatri dan Niken. Kalian berdua duduk di sini." Dia menunjuk
dua buah kursi yang berjajar. Di seberang meja, berhadapan dengan mereka,
terdapat dua buah kursi yang berjajar pula, sedangkan Ki Dibya Krendasakti
sendiri duduk di kepala meja. Diam-diam Nini Bumigarbo merasa heran mengapa ada
dua buah kursi kosong di depannya. Siapa yang akan duduk disitu? Akan tetapi ia
tidak menyinggung hal itu ketika bertanya.
"Dibya,
di mana sahabatku Woro Sumarni? Aku ingin bertemu dengannya dan kau bilang tadi
ia akan hadir dalam perjamuan ini."
"Sabar,
Gayatri, sebentar juga ia akan datang." Ki Dibya lalu berkata kepada
seorang pelayan.
“Cepat kamu
mohon Bendoro Puteri untuk hadir sekarang!" Pelayan itu membungkuk lalu
pergi.
Tak lama
kemudian, muncullah orang yang dinanti-nanti Nini Bumigarbo. Niken Harni ikut
memandang dan ia merasa kagum. Seorang wanita, usianya sekitar empat puluh
delapan tahun, masih cantik dan tubuhnya ramping padat, kulitnya kuning, namun
wajahnya pucat dan matanya suram tanpa gairah, mulutnya yang manis bentuknya
itupun menunjukkan hati yang penuh duka. Pakaiannya mewah, bersih dan rapi,
dari sutera mahal. Rambutnya masih hitam, panjang dan digelung rapi, dihias
tusuk sanggul dari emas permata. Sungguh seorang wanita yang anggun dan cantik.
Namun ia pucat dan tak bersemangat, bahkan seperti mayat hidup. Ki Dibya
Krendasakti cepat bangkit dari duduknya dan menarik dua buah kursi yang
berjajar di depan Niken dan Nini Bumigarbo.
"Diajeng,
duduklah."
Wanita itu
duduk dengan lesu. Yang membuat Niken Harni terbelalak adalah ketika ia melihat
seorang pelayan wanita yang tadi berjalan di belakang wanita cantik itu,
membawa sebuah baki kecil hitam yang tertutup sehelai kain kuning. Pelayan itu
kini meletakkan baki di atas meja, di depan kursi kosong yang berada di sebelah
kiri wanita cantik Itu. Kemudian dengan perlahan dan hati-hati la membuka kain
kuning yang menutup baki. Niken Harni terbelalak dan menahan seruan kagetnya
ketika melihat bahwa di atas baki itu terdapat sebuah tengkorak. Tulang itu
putih bersih dengan lubang-lubang ternganga pada kedua mata, hidung dan
mulutnya. Yang mengerikan adalah mulut tengkorak itu. Masih tampak deretan gigi
berbaris rapi pada mulut yang setengah terbuka itu sehingga tengkorak itu
seolah menyeringai mentertawakan!
"Diajeng
Woro Sumarni, lihat siapa yang datang mengunjungi kita ini!" kata pula
Dibya Krendasakti kepada isterinya yang sejak tadi hanya menundukkan muka dan
sama sekali tidak melihat ke arah Nini Bumigarbo dan Niken Harni.
"Woro!
Engkau kenapa? Ini aku, Gayatri!" kata Nini Bumigarbo sambil bangkit dari
kursinya dan menghampiri wanita itu.
Woro Sumarni
mengangkat mukanya memandang, sikapnya dingin saja ketika la berkata.
"Ah,
engkaukah yang datang, Mbakayu Gayatri?" Setelah berkata demikian, ia menunduk
kembali.
Nini Bumigarbo
merangkul Woro Sumarni yang dulu ketika masih sama-sama muda menjadi sahabat
baiknya.
"Marni...,
engkau kenapakah....?"
No comments:
Post a Comment