Nurseta Satria Karangtirta ; Bagian 51


Akan tetapi Woro Sumarni bersikap dingin saja, menggeleng kepalanya dan berkata,
"Tidak apa-apa, Mbakayu Gayatri."
"Ha-ha-ha, Gayatri, ternyata isteriku tercinta ini lebih tenang daripada kamu. Duduklah dan mari kita mulai dengan perjamuan makan yang kami adakan untuk menyambut kalian berdua sebagai tamu kehormatan." Kemudian Dibya Krendasakti memberi isarat kepada para pelayan wanita yang kini berjumlah empat orang itu.
"Hayo isi cangkir kami dengan minuman!"

Empat orang pelayan itu dengan cekatan lalu menuangkan minuman berwarna kuning dan dari baunya dapat diketahui bahwa minuman itu terbuat dari perasan jeruk ke dalam cangkir-cangkir kosong yang berada di atas meja di depan Ki Dibya Krendasakti, Nini Bumigarbo, dan Niken Harni. Di depan wanita cantik itu tidak terdapat gelas kosong dan anehnya, pelayan yang tadi membawa baki terisi tengkorak itu lalu menuangkan minuman ke dalam... tengkorak melalui lubang yang berada di bagian ubun-ubun kepala tengkorak itu! Agaknya lubang-lubang di bagian bawah telah ditambal sehingga minuman itu berada di dalam tengkorak, tidak mengalir keluar.
"Mari kita minum untuk menyambut pertemuan yang menggembirakan ini!" kata Dibya Krendasakti sambil mengangkat cangkirnya.
Minuman yang terbuat dari perasan jeruk itu tampak segar dan baunya juga sedap menimbulkan selera. Niken Harni dan Nini Bumigarbo juga sudah mengangkat cangkir masing-masing akan tetapi Woro Sumarni diam saja, dan melihat ini, dua orang tamu itu memandang penuh rasa heran. Di depan Nyonya rumah itu tidak terdapat cangkir air jeruk.
"Mari, Diajeng, isteriku yang tercinta, isteriku yang ayu manis merak ati, mari kita minum!" Suara Dibya Krendasakti tampak lembut membujuk dan mesra, namun ada tekanan pada akhir kalimat yang mengandung kekerasan.
Niken Harni memandang Woro Sumarni dengan penuh perhatian, ia tidak mengerti apa maksud Ki Dibya dengan ucapannya kepada isterinya itu. Sejak wanita itu datang dan melihat tengkorak itu ditaruh di atas meja, berhadapan dengannya, Niken Harni sudah merasa tidak suka dan muak. Woro Sumarni, tanpa memandang siapa pun, menggunakan kedua tangannya mengambil tengkorak itu, dihadapkan kepadanya, lalu mendekatkan tengkorak itu dan.... mulutnya dirapatkan pada mulut tengkorak yang ditundukkan. Ia minum minuman itu yang keluar dari mulut tengkorak dan tampak tentu saja seperti orang berciuman!
"Gayatri dan Niken, mari kita minum, ha-ha-ha!" Dibya Krendasakti berkata lalu minun dari cangkirnya.
Nini Bumigarbo agaknya sama sekali tidak peduli akan perbuatan Woro Sumarni. Ia Juga minum sampai minuman itu habis. Akan tetapi Niken Harni merasa muak dan tidak mau minum, bahkan lalu menaruh kembali cangkir minuman itu di atas meja. Seperti juga Nini Bumigarbo, Ki Dibya menghabiskan minumannya. Bahkan Woro Sumarni juga menghabiskan minumannya, minum melalui mulut tengkorak, lalu seperti menaruh cangkir kosong, ia meletakkan kembali tengkorak itu ke atas meja.
Melihat Niken Harni tidak mau minum, Ki Dibya berkata,
"Niken Harni, minumlah air jeruk yang segar itu, dan rnari kita makan bersama dengan gembira."
Niken Harni marah sekali, ia sudah muak dan rasanya mau muntah, ia bangkit berdiri dengan kasar dan sebelum membentak nyaring ia menggebrak meja sehingga mangkuk piring di atas meja berloncatan.
"Brakkl! Aku tidak suka makan minum bersama manusia iblis macam kamu! Bibi Gayatri, mengapa Bibi diam saja melihat laki-laki iblis jahanam ini menghina dan menyiksa isterinya, yang sahabat Bibi sendiri, seperti ini? Iblis ini sudah sepatutnya dibasmi dari permukaan bumi!"
Nini Bumigarbo adalah seorang datuk aneh yang sama sekali tidak tersentuh perasaannya oleh peristiwa apa pun juga. Juga Ki Dibya Krendasakti juga seorang datuk yang luar biasa, biar dimaki seperti itu, malah tertawa terkekeh-kekeh.
"Aku menghina dan menyiksa isteriku yang amat kucinta ini? Heh-heh-heh, Diajeng Woro Sumarni, isteriku sayang, pujaan hatiku, tolong ceritakan kepada perawan cantik yang kewat (genit) ini, siapakah yang kejam? Ceritakan semuanya agar sahabatmu Gayatri ini juga mendengar dan mengerti."

Ucapan itu lembut dan manis, namun terasa ada kekerasan yang mengancam oleh Niken Harni. Woro Sumarni menghela napas panjang, mengangkat muka memandang suaminya, kemudian menoleh dan memandang ke arah tengkorak itu, dan akhirnya ia menghadapkan mukanya kepada Niken Harni dan Nini Bumigarbo yang duduk berhadapan dengannya, di seberang meja. Setelah menghela napas panjang sekali lagi, ia lalu bicara, suaranya lembut halus, mengandung penyesalan dan kedukaan.
"Sesungguhnyalah, Kakangmas Dibya Krendasakti tidak bersalah, tidak kejam dan tidak menyiksaku, melainkan dia amat mencintaku. Akulah yang bersalah kepadanya, akulah yang kejam dan telah menyiksa batinnya."
Niken Harni terheran-heran mendengar ucapan wanita itu. Nini Bumigarbo sambil minum lagi minuman yang sudah diisi ke dalam cangkirnya oleh pelayan, memandang sahabatnya itu dan berkata.
"Marni, tadi aku mendengar suamimu mengatakan bahwa engkau boleh menceritakan semuanya agar aku dan muridku dapat mendengar dan mengerti keadaanmu. Nah, sekarang ceritakan kepada kami apa kesalahanmu kepada Dibya Krendasakti. Kekejaman dan penyiksaan batin apakah yang telah kaulakukan kepadanya."
Wanita itu mengarahkan pandang matanya kepada suaminya dan Dibya Krendasakti tersenyum dan mengangguk, kemudian dia menoleh ke belakang dan berseru galak kepada empat orang pelayan wanita itu.
"Kalian berempat keluar dari ruangan ini dan tutupkan daun pintunya. Awas, kalau ada yang mengintai dan mendengarkan pasti akan kulemparkan ke sarang ikan hiu!" Ancaman itu agaknya bukan gertak sambal karena empat orang pelayan itu menjadi pucat dan segera keluar dari ruangan makan itu. Agaknya sudah pernah atau bahkan sering ada anak buah yang melakukan kesalahan dan benar-benar dilempar ke laut dan menjadi makanan gerombolan ikan hiu yang ganas dan buas. Setelah menghela napas lagi, Woro Sumarni mulai bercerita dengan suara lirih, lembut dan datar.
"Terjadinya sekitar dua puluh lima tahun yang lalu, Mbakayu Gayatri. Setahun setelah aku menjadi isteri Kakangmas Dibya Krendasakti, kami pindah ke Pulau Nusa Barung ini dan kami hidup berbahagia. Kami saling mencinta, terutama suamiku amat mencintaku. Lalu.... Kakangmas Kunarpo datang berkunjung ke sini...."
"Hemm, Kunarpo adik seperguruan Dibya?"
"Benar, Mbakayu. Mungkin engkau masih ingat, dia seorang pemuda tampan, ketika itu berusia sekitar dua puluh lima tahun dan aku berusia dua puluh tiga tahun..."
"Dan aku sudah tiga puluh lima tahun, jauh lebih tua, ha-haha!" potong Dibya Krendasakti.
"Semula tidak terjadi sesuatu, Mbakayu Gayatri. Akan tetapi, Kakangmas Kunarpo dan aku masih muda dan dia memang memiliki pribadi yang menarik dan tentu saja, dia jatuh cinta kepada aku, Kakak iparnya sendiri. Lebih lagi Kakangmas Dibya Krendasakti terlalu memanjakan aku dan mempercaya kami berdua sehingga kami berdua seringkali ditinggalkan karena dia sibuk membangun pulau ini. Terkadang sampai dua tiga hari dia tidak pulang dan kami tinggal berdua saja dalam rumah. Kami tidak mampu menahan godaan nafsu maka terjadilah.... hubungan cinta di antara kami."
Gayatri atau Nini Bumigarbo mengerutkan alisnya. Hatinya tidak senang mendengar betapa lemahnya sahabatnya itu. Padahal, menurut pendapatnya, yang lemah dalam kesetiaan cinta adalah kaum pria, sedangkan wanita, seperti ia sendiri, tetap setia kepada cintanya sehingga ia sendiri begitu berpisah dari Ekadenta tidak mau berdekatan lagi dengan pria!
"Huh, memalukan sekali, Marni!" kata Nini Bumigarbo dan kembali ia menenggak minuman dari cangkirnya yang ia isi sendiri karena semua pelayan telah pergi.
"Bibi Gayatri biarkan Bibi Woro Sumarni melanjutkan ceritanya!" kata Niken Harni yang merasa iba kepada wanita yang lemah lembut tutur bahasanya itu.
"Lanjutkanlah, Bibi Woro Sumarni."
"Akhirnya hubungan kami diketahui Kakangmas Dibya Krendasakti. Tentu saja dia marah sekali kepada Kakangmas Kunarpo dan menantangnya untuk bertanding sampai mati memperebutkan diriku...."
"Huh, kau dengar itu, Niken? Laki-laki memang biadab, memperebutkan wanita yang dianggap sebagai permainan belaka!" kata Nini Bumigarbo.
"Teruskanlah ceritamu, Bibi Woro Sumarni." kata Niken.
"Mereka bertanding dan Kakangmas Kunarpo tewas dalam pertandingan itu."
"Heh-heh-heh, dia mengalah. Adi Kunarpo sengaja mengalah dan rela mati untuk Diajeng Woro Sumarni. Hemm, dia amat mencinta Diajeng Woro Sumarni, akan tetapi aku lebih mencintanya!"
"Lanjutkanlah, Bibi Woro Sumarni!" desak Niken Harni sambil mengerling kepada Dibya Krendasakti dengan mata mencorong karena tak senang.
"Setelah Kakangmas Kunarpo tewas.... Kakangmas Dibya Krendasakti mengatakan bahwa Kakangmas Kunarpo berhak untuk terus merasakan cintaku dan harus terus berdampingan dengan aku. Maka, Kakangmas Dibya Krendasakti membiarkan Kakangmas Kunarpo selalu bersanding denganku, katanya agar aku tidak rindu setelah ditinggal mati kekasihku..."
"Ahh! Jadi.... tengkorak ini adalah tengkoraknya?" Niken Harni berseru nyaring dan memandang tengkorak itu dengan mata terbelalak.
"Benar. Ini adalah tengkorak Kakangmas Kunarpo yang sengaja dipenggal dan dikeringkan. Aku diharuskan minum dari mulut tengkorak untuk menyatakan cintaku kepada Kakangmas Kunarpo, dan tidak pernah berpisah. Bahkan kalau malam, tengkorak ini ditaruh di pembaringanku dan Kakangmas Dibya Krendasakti membiarkan tengkorak ini menjadi saksi ketika dia membelaiku, bercinta dan menggauli aku...."
"Wah, keparat jahanam!!" Niken Harni kini bangkit berdiri dan memandang kepada tuan rumah dengan muka merah dan mata mencorong penuh kemarahan.
"Heh-heh, Diajeng Woro Sumarni, katakanlah, apakah selama dua puluh lima tahun ini aku tidak memperlihatkan cintaku kepadamu yang berlimpahan? Pernahkah aku menyiksamu, atau memakimu, atau memukul dan menghinamu?"
"Tidak, Kakangmas Dibya Krendasakti bersikap amat mencintaku, bahkan berlebihan, seolah hendak pamer kepada tengkorak Kakangmas Kunarpo bahwa dia memang benar-benar amat menyayangku, amat mencintaku dan tetap mencintaku biarpun aku telah mengkhianatinya dan menyeleweng. Dia tidak mau mempunyai selir seorang pun, dia hanya mencinta aku seorang dan aku.... aku memang layak menerima hukuman derita batin ini...."
"Bohong! Dia masih gila karena dendam dan cemburu! Dia pada lahirnya bilang cinta, akan tetapi sesungguhnya pada batinnya penuh dendam kebencian dan cemburu! Dia menyiksamu dengan kejam sekali, Bibi Woro Sumarni! Dan Bibi menderita hebat! Siapa yang tidak tahu akan hal ini? Bibi menjadi seperti mayat hidup, semangat dan kebahagiaan Bibi telah mati, yang ada hanya kepedihan hati dan derita!" Niken Harni berteriak lantang.

Tiba-tiba Woro Sumarni menutup mukanya dengan kedua tangannya. Tidak mengeluarkan suara, akan tetapi jelas ia menangis sedih. Air matanya menetes keluar dari celah-celah jari tangannya, pundaknya terguncang-guncang.
"Ah, Diajeng Woro Sumarni, isteriku sayang. Mengapa engkau menangis? Bukankah aku selalu mencintamu dan engkau tidak kekurangan sesuatu di sini, hidup berbahagia sebagai isteriku?" Dibya Krendasakti membujuk dengan lembut dan mengelus pundak isterinya.
"Dibya Krendasakti, engkau manusia berwatak iblis! Engkau menyiksa hati Bibi Woro Sumarni dengan kejam! Lebih kejam dari pembunuhan. Selama dua puluh lima tahun engkau menyiksanya seperti ini, menghinanya dan menghancurkan semua harapan dan kebahagiaannya! Engkau jahat! Bibi Gayatri, buat apa kita menjadi tamu manusia iblis seperti dia ini?" Niken Harni membentak-bentak saking marahnya.
"Ha-ha-ha, Niken Harnii Engkau memang pantas menjadi murid Gayatri. Engkau kewat dan galak seperti Gayatri di waktu muda Nah, Cah ayu ( Anak cantik), sekarang katakan, apa yang kau ingin aku lakukan? Apakah aku harus mengubah cintaku terhadap isteriku?"
"Dibya Krendasakti! Engkau harus membebaskan Bibi Woro Sumarni dari siksaan ini. Tengkorak itu harus dikubur dan engkau harus memberi kebebasan kepada isterimu!"
"Kalau aku menolak?"
"Terpaksa aku akan menghajarmu!" Niken Harni berseru galak.
"Ha-ha-ha-heh-heh!" Dibya Krendasakti tertawa bergelak dan terkekeh-kekeh, tidak marah, melainkan geli bahkan gembira.
"Bocah ayu, engkau akan menghajarku? Begini saja, kita bertanding. Kalau aku kalah, aku akan menaati perintahmu, akan tetapi kalau engkau kalah, engkau menjadi isteriku yang ke dua. Baru sekali ini aku tertarik kepada seorang gadis lain!"
"Keparat! Siapa sudi menjadi isterimu? Kalau aku kalah, lebih baik aku mati daripada menjadi isteri seorang laki-laki yang kejam seperti iblis macam kamu!"
"Wah, Dibya, engkau tua bangka menantang muridku? Tak tahu malu! Kalau sudah gatal tanganmu dan ingin bertanding, akulah musuhmu.

<<< Bagian 50                                                                                         Bagian 52 >>>

No comments:

Post a Comment