Akan tetapi Woro Sumarni bersikap dingin saja, menggeleng kepalanya dan berkata,
"Tidak
apa-apa, Mbakayu Gayatri."
"Ha-ha-ha,
Gayatri, ternyata isteriku tercinta ini lebih tenang daripada kamu. Duduklah
dan mari kita mulai dengan perjamuan makan yang kami adakan untuk menyambut
kalian berdua sebagai tamu kehormatan." Kemudian Dibya Krendasakti memberi
isarat kepada para pelayan wanita yang kini berjumlah empat orang itu.
"Hayo isi
cangkir kami dengan minuman!"
Empat orang
pelayan itu dengan cekatan lalu menuangkan minuman berwarna kuning dan dari
baunya dapat diketahui bahwa minuman itu terbuat dari perasan jeruk ke dalam
cangkir-cangkir kosong yang berada di atas meja di depan Ki Dibya Krendasakti,
Nini Bumigarbo, dan Niken Harni. Di depan wanita cantik itu tidak terdapat
gelas kosong dan anehnya, pelayan yang tadi membawa baki terisi tengkorak itu
lalu menuangkan minuman ke dalam... tengkorak melalui lubang yang berada di
bagian ubun-ubun kepala tengkorak itu! Agaknya lubang-lubang di bagian bawah
telah ditambal sehingga minuman itu berada di dalam tengkorak, tidak mengalir
keluar.
"Mari
kita minum untuk menyambut pertemuan yang menggembirakan ini!" kata Dibya
Krendasakti sambil mengangkat cangkirnya.
Minuman yang
terbuat dari perasan jeruk itu tampak segar dan baunya juga sedap menimbulkan
selera. Niken Harni dan Nini Bumigarbo juga sudah mengangkat cangkir
masing-masing akan tetapi Woro Sumarni diam saja, dan melihat ini, dua orang
tamu itu memandang penuh rasa heran. Di depan Nyonya rumah itu tidak terdapat
cangkir air jeruk.
"Mari,
Diajeng, isteriku yang tercinta, isteriku yang ayu manis merak ati, mari kita
minum!" Suara Dibya Krendasakti tampak lembut membujuk dan mesra, namun
ada tekanan pada akhir kalimat yang mengandung kekerasan.
Niken Harni
memandang Woro Sumarni dengan penuh perhatian, ia tidak mengerti apa maksud Ki
Dibya dengan ucapannya kepada isterinya itu. Sejak wanita itu datang dan
melihat tengkorak itu ditaruh di atas meja, berhadapan dengannya, Niken Harni
sudah merasa tidak suka dan muak. Woro Sumarni, tanpa memandang siapa pun,
menggunakan kedua tangannya mengambil tengkorak itu, dihadapkan kepadanya, lalu
mendekatkan tengkorak itu dan.... mulutnya dirapatkan pada mulut tengkorak yang
ditundukkan. Ia minum minuman itu yang keluar dari mulut tengkorak dan tampak
tentu saja seperti orang berciuman!
"Gayatri
dan Niken, mari kita minum, ha-ha-ha!" Dibya Krendasakti berkata lalu
minun dari cangkirnya.
Nini Bumigarbo
agaknya sama sekali tidak peduli akan perbuatan Woro Sumarni. Ia Juga minum
sampai minuman itu habis. Akan tetapi Niken Harni merasa muak dan tidak mau
minum, bahkan lalu menaruh kembali cangkir minuman itu di atas meja. Seperti
juga Nini Bumigarbo, Ki Dibya menghabiskan minumannya. Bahkan Woro Sumarni juga
menghabiskan minumannya, minum melalui mulut tengkorak, lalu seperti menaruh
cangkir kosong, ia meletakkan kembali tengkorak itu ke atas meja.
Melihat Niken
Harni tidak mau minum, Ki Dibya berkata,
"Niken
Harni, minumlah air jeruk yang segar itu, dan rnari kita makan bersama dengan
gembira."
Niken Harni
marah sekali, ia sudah muak dan rasanya mau muntah, ia bangkit berdiri dengan
kasar dan sebelum membentak nyaring ia menggebrak meja sehingga mangkuk piring
di atas meja berloncatan.
"Brakkl!
Aku tidak suka makan minum bersama manusia iblis macam kamu! Bibi Gayatri,
mengapa Bibi diam saja melihat laki-laki iblis jahanam ini menghina dan
menyiksa isterinya, yang sahabat Bibi sendiri, seperti ini? Iblis ini sudah
sepatutnya dibasmi dari permukaan bumi!"
Nini Bumigarbo
adalah seorang datuk aneh yang sama sekali tidak tersentuh perasaannya oleh
peristiwa apa pun juga. Juga Ki Dibya Krendasakti juga seorang datuk yang luar
biasa, biar dimaki seperti itu, malah tertawa terkekeh-kekeh.
"Aku
menghina dan menyiksa isteriku yang amat kucinta ini? Heh-heh-heh, Diajeng Woro
Sumarni, isteriku sayang, pujaan hatiku, tolong ceritakan kepada perawan cantik
yang kewat (genit) ini, siapakah yang kejam? Ceritakan semuanya agar sahabatmu
Gayatri ini juga mendengar dan mengerti."
Ucapan itu
lembut dan manis, namun terasa ada kekerasan yang mengancam oleh Niken Harni.
Woro Sumarni menghela napas panjang, mengangkat muka memandang suaminya,
kemudian menoleh dan memandang ke arah tengkorak itu, dan akhirnya ia
menghadapkan mukanya kepada Niken Harni dan Nini Bumigarbo yang duduk
berhadapan dengannya, di seberang meja. Setelah menghela napas panjang sekali
lagi, ia lalu bicara, suaranya lembut halus, mengandung penyesalan dan
kedukaan.
"Sesungguhnyalah,
Kakangmas Dibya Krendasakti tidak bersalah, tidak kejam dan tidak menyiksaku,
melainkan dia amat mencintaku. Akulah yang bersalah kepadanya, akulah yang
kejam dan telah menyiksa batinnya."
Niken Harni terheran-heran
mendengar ucapan wanita itu. Nini Bumigarbo sambil minum lagi minuman yang
sudah diisi ke dalam cangkirnya oleh pelayan, memandang sahabatnya itu dan
berkata.
"Marni,
tadi aku mendengar suamimu mengatakan bahwa engkau boleh menceritakan semuanya
agar aku dan muridku dapat mendengar dan mengerti keadaanmu. Nah, sekarang
ceritakan kepada kami apa kesalahanmu kepada Dibya Krendasakti. Kekejaman dan
penyiksaan batin apakah yang telah kaulakukan kepadanya."
Wanita itu
mengarahkan pandang matanya kepada suaminya dan Dibya Krendasakti tersenyum dan
mengangguk, kemudian dia menoleh ke belakang dan berseru galak kepada empat
orang pelayan wanita itu.
"Kalian
berempat keluar dari ruangan ini dan tutupkan daun pintunya. Awas, kalau ada
yang mengintai dan mendengarkan pasti akan kulemparkan ke sarang ikan
hiu!" Ancaman itu agaknya bukan gertak sambal karena empat orang pelayan
itu menjadi pucat dan segera keluar dari ruangan makan itu. Agaknya sudah
pernah atau bahkan sering ada anak buah yang melakukan kesalahan dan
benar-benar dilempar ke laut dan menjadi makanan gerombolan ikan hiu yang ganas
dan buas. Setelah menghela napas lagi, Woro Sumarni mulai bercerita dengan
suara lirih, lembut dan datar.
"Terjadinya
sekitar dua puluh lima tahun yang lalu, Mbakayu Gayatri. Setahun setelah aku
menjadi isteri Kakangmas Dibya Krendasakti, kami pindah ke Pulau Nusa Barung
ini dan kami hidup berbahagia. Kami saling mencinta, terutama suamiku amat
mencintaku. Lalu.... Kakangmas Kunarpo datang berkunjung ke sini...."
"Hemm,
Kunarpo adik seperguruan Dibya?"
"Benar,
Mbakayu. Mungkin engkau masih ingat, dia seorang pemuda tampan, ketika itu
berusia sekitar dua puluh lima tahun dan aku berusia dua puluh tiga
tahun..."
"Dan aku
sudah tiga puluh lima tahun, jauh lebih tua, ha-haha!" potong Dibya
Krendasakti.
"Semula
tidak terjadi sesuatu, Mbakayu Gayatri. Akan tetapi, Kakangmas Kunarpo dan aku
masih muda dan dia memang memiliki pribadi yang menarik dan tentu saja, dia
jatuh cinta kepada aku, Kakak iparnya sendiri. Lebih lagi Kakangmas Dibya
Krendasakti terlalu memanjakan aku dan mempercaya kami berdua sehingga kami
berdua seringkali ditinggalkan karena dia sibuk membangun pulau ini. Terkadang
sampai dua tiga hari dia tidak pulang dan kami tinggal berdua saja dalam rumah.
Kami tidak mampu menahan godaan nafsu maka terjadilah.... hubungan cinta di
antara kami."
Gayatri atau
Nini Bumigarbo mengerutkan alisnya. Hatinya tidak senang mendengar betapa
lemahnya sahabatnya itu. Padahal, menurut pendapatnya, yang lemah dalam
kesetiaan cinta adalah kaum pria, sedangkan wanita, seperti ia sendiri, tetap
setia kepada cintanya sehingga ia sendiri begitu berpisah dari Ekadenta tidak
mau berdekatan lagi dengan pria!
"Huh,
memalukan sekali, Marni!" kata Nini Bumigarbo dan kembali ia menenggak
minuman dari cangkirnya yang ia isi sendiri karena semua pelayan telah pergi.
"Bibi
Gayatri biarkan Bibi Woro Sumarni melanjutkan ceritanya!" kata Niken Harni
yang merasa iba kepada wanita yang lemah lembut tutur bahasanya itu.
"Lanjutkanlah,
Bibi Woro Sumarni."
"Akhirnya
hubungan kami diketahui Kakangmas Dibya Krendasakti. Tentu saja dia marah
sekali kepada Kakangmas Kunarpo dan menantangnya untuk bertanding sampai mati
memperebutkan diriku...."
"Huh, kau
dengar itu, Niken? Laki-laki memang biadab, memperebutkan wanita yang dianggap
sebagai permainan belaka!" kata Nini Bumigarbo.
"Teruskanlah
ceritamu, Bibi Woro Sumarni." kata Niken.
"Mereka
bertanding dan Kakangmas Kunarpo tewas dalam pertandingan itu."
"Heh-heh-heh,
dia mengalah. Adi Kunarpo sengaja mengalah dan rela mati untuk Diajeng Woro
Sumarni. Hemm, dia amat mencinta Diajeng Woro Sumarni, akan tetapi aku lebih
mencintanya!"
"Lanjutkanlah,
Bibi Woro Sumarni!" desak Niken Harni sambil mengerling kepada Dibya
Krendasakti dengan mata mencorong karena tak senang.
"Setelah
Kakangmas Kunarpo tewas.... Kakangmas Dibya Krendasakti mengatakan bahwa
Kakangmas Kunarpo berhak untuk terus merasakan cintaku dan harus terus
berdampingan dengan aku. Maka, Kakangmas Dibya Krendasakti membiarkan Kakangmas
Kunarpo selalu bersanding denganku, katanya agar aku tidak rindu setelah
ditinggal mati kekasihku..."
"Ahh!
Jadi.... tengkorak ini adalah tengkoraknya?" Niken Harni berseru nyaring
dan memandang tengkorak itu dengan mata terbelalak.
"Benar.
Ini adalah tengkorak Kakangmas Kunarpo yang sengaja dipenggal dan dikeringkan.
Aku diharuskan minum dari mulut tengkorak untuk menyatakan cintaku kepada
Kakangmas Kunarpo, dan tidak pernah berpisah. Bahkan kalau malam, tengkorak ini
ditaruh di pembaringanku dan Kakangmas Dibya Krendasakti membiarkan tengkorak
ini menjadi saksi ketika dia membelaiku, bercinta dan menggauli aku...."
"Wah,
keparat jahanam!!" Niken Harni kini bangkit berdiri dan memandang kepada
tuan rumah dengan muka merah dan mata mencorong penuh kemarahan.
"Heh-heh,
Diajeng Woro Sumarni, katakanlah, apakah selama dua puluh lima tahun ini aku
tidak memperlihatkan cintaku kepadamu yang berlimpahan? Pernahkah aku
menyiksamu, atau memakimu, atau memukul dan menghinamu?"
"Tidak,
Kakangmas Dibya Krendasakti bersikap amat mencintaku, bahkan berlebihan, seolah
hendak pamer kepada tengkorak Kakangmas Kunarpo bahwa dia memang benar-benar
amat menyayangku, amat mencintaku dan tetap mencintaku biarpun aku telah
mengkhianatinya dan menyeleweng. Dia tidak mau mempunyai selir seorang pun, dia
hanya mencinta aku seorang dan aku.... aku memang layak menerima hukuman derita
batin ini...."
"Bohong!
Dia masih gila karena dendam dan cemburu! Dia pada lahirnya bilang cinta, akan
tetapi sesungguhnya pada batinnya penuh dendam kebencian dan cemburu! Dia
menyiksamu dengan kejam sekali, Bibi Woro Sumarni! Dan Bibi menderita hebat!
Siapa yang tidak tahu akan hal ini? Bibi menjadi seperti mayat hidup, semangat
dan kebahagiaan Bibi telah mati, yang ada hanya kepedihan hati dan
derita!" Niken Harni berteriak lantang.
Tiba-tiba Woro
Sumarni menutup mukanya dengan kedua tangannya. Tidak mengeluarkan suara, akan
tetapi jelas ia menangis sedih. Air matanya menetes keluar dari celah-celah
jari tangannya, pundaknya terguncang-guncang.
"Ah,
Diajeng Woro Sumarni, isteriku sayang. Mengapa engkau menangis? Bukankah aku
selalu mencintamu dan engkau tidak kekurangan sesuatu di sini, hidup berbahagia
sebagai isteriku?" Dibya Krendasakti membujuk dengan lembut dan mengelus
pundak isterinya.
"Dibya
Krendasakti, engkau manusia berwatak iblis! Engkau menyiksa hati Bibi Woro
Sumarni dengan kejam! Lebih kejam dari pembunuhan. Selama dua puluh lima tahun
engkau menyiksanya seperti ini, menghinanya dan menghancurkan semua harapan dan
kebahagiaannya! Engkau jahat! Bibi Gayatri, buat apa kita menjadi tamu manusia
iblis seperti dia ini?" Niken Harni membentak-bentak saking marahnya.
"Ha-ha-ha,
Niken Harnii Engkau memang pantas menjadi murid Gayatri. Engkau kewat dan galak
seperti Gayatri di waktu muda Nah, Cah ayu ( Anak cantik), sekarang katakan,
apa yang kau ingin aku lakukan? Apakah aku harus mengubah cintaku terhadap
isteriku?"
"Dibya
Krendasakti! Engkau harus membebaskan Bibi Woro Sumarni dari siksaan ini.
Tengkorak itu harus dikubur dan engkau harus memberi kebebasan kepada isterimu!"
"Kalau
aku menolak?"
"Terpaksa
aku akan menghajarmu!" Niken Harni berseru galak.
"Ha-ha-ha-heh-heh!"
Dibya Krendasakti tertawa bergelak dan terkekeh-kekeh, tidak marah, melainkan
geli bahkan gembira.
"Bocah
ayu, engkau akan menghajarku? Begini saja, kita bertanding. Kalau aku kalah,
aku akan menaati perintahmu, akan tetapi kalau engkau kalah, engkau menjadi
isteriku yang ke dua. Baru sekali ini aku tertarik kepada seorang gadis
lain!"
"Keparat!
Siapa sudi menjadi isterimu? Kalau aku kalah, lebih baik aku mati daripada
menjadi isteri seorang laki-laki yang kejam seperti iblis macam kamu!"
"Wah,
Dibya, engkau tua bangka menantang muridku? Tak tahu malu! Kalau sudah gatal
tanganmu dan ingin bertanding, akulah musuhmu.
No comments:
Post a Comment